Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23605 | 13 Jan 2026
Klinis : pasien syok hipovolemi, tekanan darah 90/50, nadi 55 kali per menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Syok Hipovolemik
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan penurunan volume intravaskular.
Kode SLKI: L.03104
Deskripsi : Curah jantung memadai. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah sistolik dalam rentang normal untuk usia, 2) Tekanan darah diastolik dalam rentang normal untuk usia, 3) Denyut nadi dalam rentang normal untuk usia, 4) Kualitas denyut nadi perifer kuat dan sama, 5) Warna kulit dan membran mukosa normal, 6) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 7) Haluaran urine memadai (0,5-1 mL/kgBB/jam pada dewasa), 8) Status mental normal, 9) Tidak ada dispnea atau ortopnea, 10) Tidak ada edema paru.
Kode SIKI: I.08024
Deskripsi : Manajemen Syok. Intervensi: 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) setiap 15 menit atau sesuai kondisi pasien. 2) Monitor status hemodinamik (tekanan vena sentral/CVP, tekanan arteri rata-rata/MAP) jika terpasang. 3) Monitor status perfusi perifer (warna, suhu, kelembaban kulit, pengisian kapiler, denyut nadi perifer). 4) Monitor status neurologis (tingkat kesadaran, orientasi, respon motorik dan sensorik). 5) Monitor haluaran urine setiap jam. 6) Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan. 7) Pertahankan kepatenan jalan napas. 8) Atur posisi pasien sesuai kondisi (misalnya, posisi Trendelenburg modifikasi/tungkai ditinggikan 30-45 derajat, kepala datar, kecuali kontraindikasi). 9) Lakukan pemasangan dua jalur intravena dengan kanula ukuran besar. 10) Berikan resusitasi cairan sesuai protokol (kristaloid, koloid, atau darah dan produk darah). 11) Berikan obat-obatan sesuai instruksi (vasopresor, inotropik, kortikosteroid). 12) Pantau hasil pemeriksaan laboratorium (elektrolit, hemoglobin, hematokrit, analisis gas darah, fungsi koagulasi). 13) Jaga keseimbangan cairan dan elektrolit. 14) Berikan kehangatan pada pasien. 15) Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan lebih lanjut.
-
Article No. 23606 | 13 Jan 2026
Klinis : post op appendiktomi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Post Operasi Appendiktomi
Kode SDKI: 0207
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 2008
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Perawatan Luka
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Infeksi (Kode 0207)
Definisi: Keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi oleh patogen. Pada pasien post operasi appendiktomi, risiko ini sangat nyata karena adanya intervensi bedah yang menembus pertahanan kulit dan mukosa tubuh. Luka insisi bedah menjadi portal masuk utama bagi mikroorganisme. Faktor risiko spesifik meliputi prosedur bedah itu sendiri (kontaminasi intraoperatif), lamanya prosedur, teknik aseptik yang kurang optimal, serta kondisi pasien seperti status nutrisi, usia, dan adanya komorbid seperti diabetes yang dapat mempengaruhi penyembuhan. Tujuan utama diagnosa ini adalah untuk mencegah terjadinya infeksi luka operasi atau infeksi sistemik dengan mengidentifikasi faktor risiko dan menerapkan tindakan pencegahan secara komprehensif sejak periode pra-operatif hingga pasca-operatif.
Luaran Keperawatan (SLKI): Pengendalian Infeksi (Kode 2008)
Definisi: Tindakan untuk mencegah atau mengurangi risiko infeksi. Luaran ini menjadi tujuan dari intervensi yang dilakukan untuk diagnosa risiko infeksi. Kriteria luaran yang diharapkan pada pasien post appendiktomi meliputi: (1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal (tidak ada demam/takikardia yang mengindikasikan infeksi), (2) Luka bersih, kering, tanpa tanda inflamasi (seperti kemerahan, bengkak, hangat, nyeri, atau pus), (3) Hasil laboratorium dalam batas normal (hitung leukosit normal), (4) Melaporkan pemahaman tentang tanda dan gejala infeksi, dan (5) Mendemonstrasikan perilaku untuk mencegah infeksi seperti mencuci tangan dan merawat luka dengan benar. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa risiko infeksi telah berhasil dikelola dan pasien berada dalam kondisi penyembuhan yang aman.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Perawatan Luka (Kode 4410)
Definisi: Tindakan untuk membersihkan, merawat, dan melindungi luka. Intervensi ini adalah tindakan spesifik dan kritis untuk mencapai luaran pengendalian infeksi pada pasien bedah. Aktivitas keperawatan yang dilakukan meliputi: (1) Pengkajian luka secara sistematis setiap kali perawatan, meliputi lokasi, ukuran, kedalaman, karakteristik jaringan (granulasi, nekrotik, epitelisasi), karakteristik drainase (jumlah, warna, konsistensi, bau), serta keadaan kulit sekitarnya. (2) Melakukan perawatan luka dengan teknik aseptik ketat, termasuk mencuci tangan sebelum dan sesudah, menggunakan alat steril (kassa, pinset), dan membuka balutan dengan hati-hati. (3) Membersihkan luka menggunakan larutan antiseptik yang sesuai (seperti NaCl 0,9%) dengan teknik dari area yang paling bersih ke yang kurang bersih. (4) Memberikan balutan steril yang sesuai dengan kondisi luka (misalnya, kassa steril untuk luka kering dan tertutup) dan memastikan balutan tetap kering dan bersih. (5) Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan luka, tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai (seperti demam, nyeri bertambah, kemerahan, atau nanah), dan cara melindungi luka selama aktivitas. (6) Kolaborasi dalam pemberian antibiotik profilaksis atau terapi sesuai instruksi dokter. Perawatan luka yang optimal secara langsung mencegah kolonisasi bakteri, mendukung proses penyembuhan alami, dan meminimalkan risiko komplikasi infeksi pasca operasi.
-
Article No. 23607 | 13 Jan 2026
Klinis : BPH
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)
Kode SDKI: D.0007
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakefektifan Eliminasi Urin
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Eliminasi Urin: Pasien menunjukkan kemampuan untuk mengeluarkan urine secara efektif dan lengkap, ditandai dengan: 1) Pola berkemih yang teratur dan dapat diprediksi. 2) Volume urine yang keluar sesuai dengan asupan cairan. 3) Tidak ada keluhan urgensi, nokturia, atau disuria. 4) Aliran urine kuat dan kontinu tanpa menetes. 5) Kandung kemih teraba kosong setelah berkemih. 6) Tidak terdapat retensi urine atau residu post-voiding yang signifikan.
Kode SIKI: I.05239
Deskripsi : Manajemen Eliminasi Urin: Intervensi untuk memfasilitasi pengeluaran urine dan meminimalkan komplikasi retensi. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Memantau pola, frekuensi, volume, dan karakteristik urine (warna, kejernihan, bau). 2) Mengkaji keluhan disuria, urgensi, nokturia, dan sensasi pengosongan tidak tuntas. 3) Memeriksa distensi kandung kemih melalui palpasi dan perkusi. 4) Mengukur residu urine post-voiding (jika diperlukan). 5) Menganjurkan asupan cairan yang adekuat (2.5-3 liter/hari) dengan membatasi di malam hari. 6) Melatih pasien untuk teknik berkemih efektif: posisi duduk/berdiri yang rileks, memberikan privasi, dan tidak terburu-buru. 7) Menerapkan manuver Crede atau Valsalva yang aman sesuai kondisi pasien. 8) Melatih senam Kegel untuk memperkuat otot dasar panggul. 9) Mengajarkan teknik distraksi atau relaksasi untuk mengurangi urgensi. 10) Memantau dan mengelola efek samping obat (seperti alpha-blocker atau 5-ARI) seperti hipotensi ortostatik. 11) Melakukan kateterisasi urine intermittent atau indwelling sesuai indikasi dan protokol. 12) Memberikan pendidikan kesehatan tentang tanda-tanda retensi urine akut (nyeri hebat, tidak bisa berkemih sama sekali) yang memerlukan penanganan darurat. 13) Berkolaborasi dengan tim medis untuk terapi farmakologi atau persiapan tindakan pembedahan (seperti TURP). 14) Mendokumentasikan semua temuan dan intervensi secara akurat.
-
Article No. 23608 | 13 Jan 2026
Klinis : bph
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)
Kode SDKI: 0015
Deskripsi Singkat: Risiko Gangguan Eliminasi Urin
Kode SLKI: 0910
Deskripsi : Manajemen Eliminasi Urin
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Pemantauan Eliminasi Urin
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Gangguan Eliminasi Urin (Kode 0015)
Definisi SDKI: Kondisi di mana individu berisiko mengalami gangguan dalam proses pengeluaran urine. Pada pasien Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), risiko ini sangat nyata karena pembesaran kelenjar prostat yang jinak menekan uretra (saluran kemih), menghambat aliran urine dari kandung kemih. Gangguan ini bukan hanya sekadar kesulitan buang air kecil, tetapi mencakup spektrum masalah seperti retensi urine (ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih sepenuhnya), urgensi (keinginan kuat tiba-tiba untuk berkemih), frekuensi (berkemih lebih sering dari biasanya), nokturia (bangun tidur untuk berkemih), dan pengosongan tidak tuntas. Dasar pemilihan diagnosa ini adalah patofisiologi BPH itu sendiri, di mana pertumbuhan jaringan prostat menyebabkan obstruksi mekanis. Faktor risiko utama meliputi usia lanjut, ukuran prostat, kadar hormon, dan komorbiditas seperti diabetes. Tujuan diagnosa ini adalah untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko sebelum komplikasi serius seperti infeksi saluran kemih, kerusakan ginjal, atau retensi urine akut terjadi, sehingga intervensi preventif dan manajemen gejala dapat segera dilakukan.
Luaran Keperawatan (SLKI): Manajemen Eliminasi Urin (Kode 0910)
Definisi SLKI: Tindakan untuk mengoptimalkan pengeluaran urine. Luaran ini adalah tujuan yang ingin dicapai dari intervensi keperawatan pada pasien BPH. Indikator keberhasilannya meliputi: (1) Pola berkemih yang normal atau membaik, ditandai dengan berkurangnya frekuensi, urgensi, dan nokturia. (2) Aliran urine yang kuat dan lancar tanpa mengejan berlebihan. (3) Pengosongan kandung kemih yang tuntas, yang dapat dinilai dari residu urine pasca berkemih yang minimal (diukur melalui ultrasonografi). (4) Pasien melaporkan peningkatan kenyamanan dan penurunan distress akibat gejala saluran kemih bawah (LUTS). (5) Tidak terjadi komplikasi seperti infeksi saluran kemih atau retensi urine akut. Pencapaian luaran ini bersifat bertahap, bergantung pada keparahan BPH dan modalitas terapi yang dijalani pasien (obat, operasi, atau konservatif). Perawat berperan dalam memantau kemajuan pasien menuju luaran ini melalui edukasi, dukungan, dan evaluasi berkala terhadap gejala yang dialami.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Pemantauan Eliminasi Urin (Kode 3410)
Definisi SIKI: Pengumpulan dan analisis informasi tentang pola dan karakteristik berkemih pasien. Intervensi ini adalah tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk mencapai luaran SLKI 0910 (Manajemen Eliminasi Urin). Aktivitasnya sangat komprehensif dan meliputi: (1) Pengkajian Mendalam: Meliputi riwayat gejala (menggunakan kuesioner IPSS/International Prostate Symptom Score), pola asupan cairan, kebiasaan berkemih, dan obat-obatan yang dikonsumsi. (2) Pemantauan Pola Berkembang: Mencatat frekuensi, volume (bila memungkinkan), urgensi, nokturia, serta karakteristik aliran urine (lemah, terputus, menetes). (3) Pemeriksaan Fisik dan Penunjang: Melakukan palpasi kandung kemih untuk mendeteksi distensi (penuh), memantau hasil pemeriksaan residu urine pasca berkemih (post-void residual urine), dan memahami hasil pemeriksaan uroflowmetry (kecepatan aliran urine). (4) Pemantauan Tanda Komplikasi: Mengobservasi tanda-tanda infeksi (demam, nyeri, urine keruh) dan retensi urine akut (nyeri hebat di perut bawah, ketidakmampuan mutlak untuk berkemih). (5) Edukasi dan Pemberdayaan Pasien: Mengajarkan teknik berkemih efektif (misalnya, double voiding/mengejan lembut kedua kali), manajemen cairan (membatasi di malam hari), menghindari zat yang mengiritasi (kafein, alkohol), dan pentingnya kepatuhan minum obat jika diresepkan. (6) Kolaborasi: Melaporkan temuan abnormal kepada dokter, berkolaborasi dalam pemberian terapi obat, dan mempersiapkan pasien untuk tindakan invasif seperti kateterisasi atau operasi jika diperlukan. Intervensi ini bersifat dinamis dan berkelanjutan, disesuaikan dengan respons dan perkembangan kondisi pasien.
Keterkaitan (Linkage): Pada pasien BPH, ketiganya membentuk satu siklus asuhan keperawatan yang koheren. SDKI 0015 (Risiko Gangguan Eliminasi Urin) menegaskan masalah atau risiko yang dihadapi pasien. Dari diagnosa tersebut, ditetapkan SLKI 0910 (Manajemen Eliminasi Urin) sebagai tujuan atau luaran yang diharapkan, yaitu terkendalinya gejala dan fungsi berkemih yang optimal. Untuk mencapai luaran tersebut, perawat melaksanakan serangkaian tindakan terencana yang tercakup dalam SIKI 3410 (Pemantauan Eliminasi Urin). Dengan demikian, SIKI adalah jembatan yang menghubungkan diagnosa (SDKI) dengan luaran yang diharapkan (SLKI). Penerapan SIKI yang teliti dan holistik akan memungkinkan evaluasi objektif terhadap pencapaian SLKI dan pada akhirnya mengatasi atau meminimalisasi risiko yang diidentifikasi dalam SDKI.
-
Article No. 23609 | 13 Jan 2026
Klinis : SOAL KASUS SGD 2 SYSTEM KARDIOVASKULER Ny. S, usia 67 tahun, datang ke IGD dengan keluhan sesak napas meningkat sejak 3 hari terakhir, terutama saat beraktivitas. Sesak memburuk saat pasien berbaring (orthopnea), sehingga pasien tidur dengan 3 bantal. Keluhan disertai batuk berdahak putih berbuih, cepat lelah, dan bengkak ringan di pergelangan kaki. Riwayat Penyakit & Faktor Risiko Hipertensi tidak terkontrol selama 10 tahun Riwayat infark miokard 2 tahun lalu Diabetes melitus tipe 2 Konsumsi garam tinggi Kepatuhan minum obat kurang baik Pengkajian Fisik Keadaan umum: tampak sesak, menggunakan otot bantu napas Kesadaran: compos mentis TD: 168/98 mmHg Nadi: 112 x/menit, reguler RR: 30 x/menit Suhu: 36,9°C SpO₂: 89% RA Kulit: dingin, lembab JVP: normal Paru: ronki basah halus di kedua basal paru (crackles) Jantung: S3 gallop terdengar Ekstremitas: edema pitting (+/+) Data Penunjang 1. Laboratorium NT-proBNP: 2.100 pg/mL (↑) Hgb: 11,2 g/dL Natrium: 132 mmol/L Kalium: 3,4 mmol/L GDS: 210 mg/dL Kreatinin: 1,3 mg/dL 2. EKG Takikardi sinus Gelombang Q lama pada V1–V3 (riwayat MI) 3. Foto Thorax Kardiomegali Congestion paru Kerley B lines 4. Ekokardiografi EF 35% (reduced ejection fraction) Hipokinesia anterior Dilatasi ventrikel kiri Terapi yang Diberikan di IGD Oksigen nasal 3 L/menit Diuretik IV (Furosemid 20 mg/IV) ACE inhibitor (Captopril 12,5 mg) Beta-blocker (Bisoprolol 1,25 mg) — diberikan setelah kondisi stabil Nitrat jika ada nyeri dada Pembatasan cairan 1–1,5 L/hari Monitoring urine output Posisi semi-Fowler ANALISIS DATA DAN DIAGNOSIS 1. Do Ds Ds: Klien mengeluh sesak napas terutama saat beraktivitas, orthopnea Do: RR 30 x/menit, SpO₂ 89% RA, ronki basah basal, NT-proBNP 2.100↑, congestion paru 2. etiologi (belom) 3. masalah keperawatan: Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) 1. Do Ds Ds: Klien sesak bertambah saat aktivitas Do: SpO₂ 89%, cepat lelah 2. etiologi 3. masalah keperawatan: Intoleransi Aktivitas D.0056 Diagnosa Keperawatan 1. D.0003 Gangguan pertukaran gas bd edema paru akibat gagal jantung dd RR 30 x/menit, SpO₂ 89% RA, ronki basah bilateral basal, NT-proBNP 2.100 pg/mL 2. D.0056 Intoleransi aktivitas bd hipoksemia dd SpO₂ 89%, cepat lelah, RR 30 x/menit setelah aktivitas, EF 35% Apa diagnosa keperawatan 1 lagi pada kasus di atas dengan buku sdki dan no berapa
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0026
Deskripsi Singkat: Curah jantung tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: SLKI.2.1.1.1.1
Deskripsi : Curah jantung membaik. Deskripsi ini mencakup pencapaian curah jantung yang adekuat untuk mendukung perfusi jaringan dan memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Perawat memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, frekuensi napas) dalam rentang yang dapat diterima untuk pasien, mengevaluasi status mental (compos mentis, tidak gelisah), memantau keluaran urine yang adekuat (>0,5 mL/kgBB/jam) sebagai indikator perfusi ginjal, serta mengobservasi warna dan kehangatan kulit (tidak pucat, hangat, kering). Peningkatan saturasi oksigen (SpO₂) dan berkurangnya gejala distress pernapasan juga menjadi indikator penting. Pada kasus Ny. S, targetnya adalah menurunkan tekanan darah menuju normal, menurunkan frekuensi jantung dan pernapasan, menghilangkan ronki basah di paru, mengurangi edema, dan meningkatkan saturasi oksigen di atas 92%. Intervensi seperti pemberian obat inotropik, diuretik, vasodilator, serta pembatasan cairan dan natrium bertujuan mencapai tujuan ini.
Kode SIKI: SIKI.2.1.1.1.1
Deskripsi : Manajemen Curah Jantung. Deskripsi ini merujuk pada serangkaian intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mengoptimalkan curah jantung. Pada kasus Ny. S, intervensi dimulai dengan pemantauan ketat tanda-tanda vital, status pernapasan, dan oksigenasi (memantau SpO₂, memberikan terapi oksigen sesuai order). Posisi semi-Fowler atau tinggi kepala tempat tidur dipertahankan untuk mengurangi preload dan memfasilitasi pernapasan. Pemberian terapi farmakologi seperti diuretik (Furosemid) diawasi dengan ketat untuk memantau respons (pengurangan sesak, berkurangnya ronki) dan efek samping (misalnya, hipokalemia yang sudah ada pada pasien). Pemberian ACE inhibitor (Captopril) dan Beta-blocker (Bisoprolol) diawasi untuk memantau efek hipotensi dan penurunan denyut jantung. Pembatasan asupan cairan (1-1,5 L/hari) dan edukasi pembatasan garam sangat penting untuk mengurangi retensi cairan. Pemantauan keseimbangan cairan (balance cairan) dengan mencatat asupan dan haluaran urine secara akurat dilakukan. Perawat juga memantau elektrolit (terutama natrium dan kalium) mengingat hasil laboratorium yang abnormal. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya kepatuhan pengobatan, diet, dan pemantauan gejala juga merupakan bagian integral dari intervensi ini untuk mencegah eksaserbasi ulang.
-
Article No. 23610 | 13 Jan 2026
Klinis : SOAL KASUS SGD 2 SYSTEM KARDIOVASKULER Ny. S, usia 67 tahun, datang ke IGD dengan keluhan sesak napas meningkat sejak 3 hari terakhir, terutama saat beraktivitas. Sesak memburuk saat pasien berbaring (orthopnea), sehingga pasien tidur dengan 3 bantal. Keluhan disertai batuk berdahak putih berbuih, cepat lelah, dan bengkak ringan di pergelangan kaki. Riwayat Penyakit & Faktor Risiko Hipertensi tidak terkontrol selama 10 tahun Riwayat infark miokard 2 tahun lalu Diabetes melitus tipe 2 Konsumsi garam tinggi Kepatuhan minum obat kurang baik Pengkajian Fisik Keadaan umum: tampak sesak, menggunakan otot bantu napas Kesadaran: compos mentis TD: 168/98 mmHg Nadi: 112 x/menit, reguler RR: 30 x/menit Suhu: 36,9°C SpO₂: 89% RA Kulit: dingin, lembab JVP: normal Paru: ronki basah halus di kedua basal paru (crackles) Jantung: S3 gallop terdengar Ekstremitas: edema pitting (+/+) Data Penunjang 1. Laboratorium NT-proBNP: 2.100 pg/mL (↑) Hgb: 11,2 g/dL Natrium: 132 mmol/L Kalium: 3,4 mmol/L GDS: 210 mg/dL Kreatinin: 1,3 mg/dL 2. EKG Takikardi sinus Gelombang Q lama pada V1–V3 (riwayat MI) 3. Foto Thorax Kardiomegali Congestion paru Kerley B lines 4. Ekokardiografi EF 35% (reduced ejection fraction) Hipokinesia anterior Dilatasi ventrikel kiri Terapi yang Diberikan di IGD Oksigen nasal 3 L/menit Diuretik IV (Furosemid 20 mg/IV) ACE inhibitor (Captopril 12,5 mg) Beta-blocker (Bisoprolol 1,25 mg) — diberikan setelah kondisi stabil Nitrat jika ada nyeri dada Pembatasan cairan 1–1,5 L/hari Monitoring urine output Posisi semi-Fowler Diagnosa Keperawatan 1. D.0003 Gangguan pertukaran gas bd edema paru akibat gagal jantung dd RR 30 x/menit, SpO₂ 89% RA, ronki basah bilateral basal, NT-proBNP 2.100 pg/mL
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu mengalami penurunan kemampuan untuk melakukan pertukaran oksigen dan/atau karbon dioksida antara alveoli dan sistem vaskular paru, yang dapat mengakibatkan hipoksemia dan/atau hiperkapnia.
Kode SLKI: L.03101
Deskripsi : Peningkatan pertukaran gas. Kriteria hasil: 1) Pola napas dalam rentang normal, 2) Tidak ada sianosis, 3) Tidak ada dispnea atau ortopnea, 4) Bunyi napas bersih, 5) Nilai analisis gas darah dalam rentang normal, 6) Saturasi oksigen dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.05279
Deskripsi : Manajemen pertukaran gas. Tindakan: 1) Kaji frekuensi, irama, kedalaman pernapasan dan penggunaan otot bantu napas, 2) Auskultasi bunyi napas, 3) Pantau tanda-tanda hipoksia (gelisah, cemas, pusing, perubahan kesadaran, sianosis), 4) Pantau saturasi oksigen (SpO₂) secara berkala, 5) Kolaborasi pemberian oksigen sesuai program, 6) Atur posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru, 7) Anjurkan napas dalam efektif dan batuk efektif jika memungkinkan, 8) Lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan, 9) Kolaborasi pemberian obat sesuai program (seperti diuretik, bronkodilator), 10) Monitor hasil analisis gas darah, 11) Berikan pendidikan kesehatan tentang tanda dan gejala gangguan pernapasan yang perlu dilaporkan.
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana volume darah yang dipompa oleh jantung per menit tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Pemeliharaan curah jantung. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah dalam rentang normal yang diharapkan, 2) Denyut nadi dalam rentang normal yang diharapkan, 3) Irama jantung reguler, 4) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 5) Tidak ada edema, 6) Haluaran urine adekuat (0,5-1 mL/kgBB/jam), 7) Kulit hangat dan kering.
Kode SIKI: I.05001
Deskripsi : Manajemen penurunan curah jantung. Tindakan: 1) Monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) secara teratur, 2) Auskultasi bunyi jantung (mendeteksi S3 gallop) dan bunyi napas (ronki), 3) Kaji status hemodinamik (pengisian kapiler, warna dan suhu kulit, nadi perifer), 4) Pantau keseimbangan cairan (intake-output, berat badan harian, adanya edema), 5) Kolaborasi pemberian terapi obat sesuai program (seperti diuretik, ACE inhibitor, beta-blocker), 6) Implementasikan pembatasan cairan sesuai program, 7) Anjurkan tirah baring atau aktivitas terbatas untuk mengurangi beban kerja jantung, 8) Bantu pasien dalam aktivitas untuk menghemat energi, 9) Atur posisi semi-Fowler untuk memudahkan pernapasan dan mengurangi preload, 10) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (seperti elektrolit, NT-proBNP, kreatinin), 11) Berikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya kepatuhan pengobatan, diet rendah garam, dan pembatasan cairan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0028
<>Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu mengalami ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.09005
Deskripsi : Peningkatan toleransi aktivitas. Kriteria hasil: 1) Melaporkan peningkatan energi, 2) Melakukan aktivitas sesuai tingkat kemampuan, 3) Tanda vital dalam rentang normal selama dan setelah aktivitas, 4) Tidak mengalami sesak napas, kelelahan berlebihan, atau nyeri dada selama dan setelah aktivitas.
Kode SIKI: I.08005
Deskripsi : Manajemen intoleransi aktivitas. Tindakan: 1) Kaji respons fisiologis terhadap aktivitas (perubahan tanda vital, sesak napas, kelelahan, nyeri dada), 2) Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas yang dapat memicu kelelahan, 3) Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan setelah aktivitas, 4) Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan, 5) Anjurkan teknik penghematan energi (duduk saat melakukan aktivitas, menghindari gerakan terburu-buru), 6) Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi dan kondisi klinis, 7) Kolaborasi dengan tim rehabilitasi jantung jika diperlukan, 8) Berikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya menyeimbangan aktivitas dan istirahat, serta mengenali tanda kelelahan yang perlu diwaspadai.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu mengalami peningkatan retensi cairan dan natrium.
Kode SLKI: L.06003
Deskripsi : Keseimbangan cairan. Kriteria hasil: 1) Tidak ada edema, 2) Berat badan stabil sesuai target, 3) Keseimbangan intake dan output cairan, 4) Tekanan darah dalam rentang normal, 5) Denyut nadi dalam rentang normal, 6) Bunyi napas bersih.
Kode SIKI: I.05106
Deskripsi : Manajemen kelebihan volume cairan. Tindakan: 1) Monitor tanda vital dan status pernapasan, 2) Kaji adanya edema (lokasi, derajat pitting), 3) Timbang berat badan harian dengan timbangan dan waktu yang sama, 4) Pantau keseimbangan cairan intake dan output secara ketat, 5) Auskultasi bunyi napas (ronki), 6) Implementasikan pembatasan cairan sesuai program (1-1,5 L/hari), 7) Anjurkan diet rendah garam, 8) Kolaborasi pemberian terapi diuretik dan monitor efeknya (peningkatan output urine, penurunan edema), 9) Monitor kadar elektrolit serum (terutama natrium dan kalium) akibat terapi diuretik, 10) Atur posisi semi-Fowler untuk memfasilitasi pernapasan dan mengurangi edema paru, 11) Berikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya pembatasan cairan dan garam, serta cara memantau tanda kelebihan cairan (kenaikan berat badan mendadak, edema, sesak napas).
-
Article No. 23611 | 13 Jan 2026
Klinis : mengatakan nyeri seperti di tekan diperut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah cedera tersebut (International Association for the Study of Pain); onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diperkirakan dan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI L.08001 adalah "Kontrol Nyeri". Tujuan utama dari luaran keperawatan ini adalah agar nyeri klien dapat dikontrol. Indikator pencapaiannya meliputi: 1) Klien melaporkan nyeri dapat dikontrol, 2) Menunjukkan perilaku untuk mengontrol nyeri (misalnya istirahat, teknik relaksasi), 3) Tingkat nyeri menurun sesuai skala yang ditetapkan, 4) Tanda-tanda vital dalam rentang normal, dan 5) Ekspresi wajah rileks. Pada kasus pasien dengan keluhan nyeri seperti ditekan di perut, tujuan intervensi keperawatan adalah mencapai luaran ini, di mana pasien mampu melaporkan penurunan intensitas nyeri, menunjukkan teknik koping yang efektif, serta memiliki tanda vital yang stabil dan ekspresi yang tidak lagi menunjukkan penderitaan.
Kode SIKI: I.08041
Deskripsi : SIKI I.08041 adalah "Manajemen Nyeri". Intervensi ini didefinisikan sebagai tindakan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat kenyamanan yang dapat diterima oleh klien. Aktivitas keperawatan yang harus dilakukan meliputi: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/skala, dan faktor pencetus/peringan), 2) Observasi tanda-tanda nonverbal dari ketidaknyamanan atau nyeri (misalnya ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah), 3) Tentukan dampak pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup (tidur, nafsu makan, aktivitas), 4) Kolaborasi pemberian farmakologi (analgesik) sesuai indikasi dan pertimbangkan intervensi nonfarmakologi, 5) Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri (misalnya distraksi, relaksasi napas dalam, imajinasi terbimbing), 6) Evaluasi efektivitas tindakan pengontrolan nyeri, 7) Berikan informasi tentang nyeri dan penanganannya kepada klien/keluarga, dan 8) Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri. Pada pasien dengan nyeri perut seperti ditekan, perawat harus terlebih dahulu mengkaji secara detail karakteristik nyeri tersebut, memantau tanda vital dan ekspresi wajah, kemudian melakukan intervensi seperti reposisi, teknik relaksasi, serta berkolaborasi untuk pemberian obat sesuai resep, sambil terus mengevaluasi respons pasien.
-
Article No. 23612 | 13 Jan 2026
Klinis : NUTRISI KURANG DARI KEBUTUHAN
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Nutrisi Kurang dari Kebutuhan
Kode ICD-10: E46
Deskripsi Singkat : Kode E46 mengacu pada 'Malnutrisi protein-energi yang tidak tergolongkan' (Unspecified protein-energy malnutrition). Kondisi ini menggambarkan keadaan di mana asupan nutrisi, khususnya protein dan energi (kalori), secara konsisten tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Ini bukan diagnosis spesifik seperti marasmus atau kwashiorkor, tetapi kategori untuk kekurangan gizi yang signifikan yang belum diklasifikasikan lebih lanjut. Kondisi ini dapat terjadi akibat asupan makanan yang tidak memadai, penyerapan nutrisi yang buruk, atau peningkatan kebutuhan metabolik akibat penyakit. Gejalanya dapat mencakup penurunan berat badan yang tidak diinginkan, kelelahan, penurunan massa otot, penurunan fungsi kekebalan tubuh, dan penyembuhan luka yang lambat. Kode ini digunakan dalam rekam medis untuk mendokumentasikan status gizi yang buruk yang berdampak pada kesehatan pasien, sering kali terlihat pada lansia, pasien dengan penyakit kronis, atau mereka yang mengalami kesulitan sosial-ekonomi. Penting untuk mencatat penyebab yang mendasarinya jika diketahui, karena kode tambahan mungkin diperlukan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23614 | 13 Jan 2026
Klinis : Ibu pasien mengatakan anaknya demam 3 hari, mual, nafsu makan kurang
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gastroenteritis Akut dan Demam, Tidak Ditentukan
Kode ICD-10: A09.0 & R50.9
Deskripsi Singkat : Kondisi ini mengacu pada dugaan gastroenteritis akut (radang saluran pencernaan) yang disertai demam. Gejala demam selama 3 hari, mual, dan penurunan nafsu makan sangat konsisten dengan infeksi saluran cerna, sering kali disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit. Kode A09.0 (Diare dan gastroenteritis yang diduga infeksius) digunakan untuk mencatat diagnosis utama gangguan pencernaan yang bersifat akut dan diduga infeksius. Kode R50.9 (Demam, tidak spesifik) ditambahkan sebagai kode sekunder atau gejala penyerta untuk mendokumentasikan demam yang menjadi keluhan utama. Penggunaan kedua kode ini memberikan gambaran klinis yang lebih lengkap dalam rekam medis. Penting untuk dicatat bahwa ini adalah diagnosis kerja berdasarkan anamnesis awal; pemeriksaan fisik dan penunjang mungkin diperlukan untuk menentukan penyebab pasti (misalnya, rotavirus, E. coli) dan mengecualikan kondisi lain seperti infeksi saluran kemih atau demam tifoid. Kode ICD-10 memungkinkan pencatatan yang sistematis untuk keperluan pelayanan kesehatan, statistik, dan pembiayaan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23615 | 13 Jan 2026
Klinis : Ibu pasien mengatakan anaknya demam 3 hari, mual, nafsu makan kurang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 00027
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan atau mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh pasien. Indikator yang dapat diamati meliputi: membran mukosa lembab, turgor kulit baik (kembali dalam waktu kurang dari 2 detik setelah dicubit), asupan dan haluaran cairan seimbang dalam 24 jam, berat badan stabil (tidak ada perubahan signifikan yang mendadak), tanda-tanda vital (terutama nadi dan tekanan darah) dalam rentang normal untuk usia, serta tidak ada tanda dehidrasi seperti mata cekung, fontanel cekung (pada bayi), atau penurunan produksi urin. Perawat akan memantau tanda-tanda ini secara ketat sebagai evaluasi keberhasilan intervensi.
Kode SIKI: 2001
Deskripsi : Manajemen Cairan. Intervensi keperawatan ini berfokus pada pemberian, pemantauan, dan pengaturan cairan serta elektrolit untuk mempertahankan homeostasis. Pada kasus anak dengan demam, mual, dan nafsu makan kurang, intervensi spesifik meliputi: (1) Memantau tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah) secara teratur, minimal setiap 4 jam atau lebih sering jika kondisi memburuk, untuk mendeteksi dini tanda syok atau dehidrasi. (2) Memantau asupan dan haluaran cairan (intake-output) secara akurat, mencatat semua yang masuk (minum, infus) dan keluar (urin, muntah, diare jika ada). (3) Memantau tanda-tanda klinis dehidrasi seperti turgor kulit, kelembaban membran mukosa mulut, mata, dan pada bayi fontanel. (4) Mendorong asupan cairan per oral secara bertahap dan sering dalam jumlah kecil (misalnya dengan sendok atau gelas kecil) untuk menghindari mual, menggunakan cairan yang disukai anak dan sesuai anjuran (seperti oralit). (5) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi cairan intravena jika asupan oral tidak mencukupi atau tanda dehidrasi sudah nyata. (6) Mengatur lingkungan yang nyaman (suhu ruangan sejuk) untuk mengurangi kehilangan cairan melalui keringat. (7) Memberikan edukasi kepada ibu tentang pentingnya pemberian cairan, cara mengenali tanda dehidrasi (seperti anak lemas, mata cekung, jarang buang air kecil), dan cara mencatat asupan cairan di rumah. (8) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium (seperti hematokrit, elektrolit) jika tersedia. Intervensi ini dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan hingga tanda-tanda risiko ketidakseimbangan volume cairan dapat dikontrol atau dieliminasi.