Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 8585 | 11 Dec 2024
Klinis : pasien mengeluh pusing, mual, mulut terasa pahit, leukosit 4,2 , MCV 77, Eosinafil 0,0 , Monosit 14,9
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi berikut: pasien mengeluh pusing, mual, mulut terasa pahit, leukosit 4,2, MCV 77, Eosinafil 0,0, Monosit 14,9.
Berdasarkan gejala yang dialami oleh pasien, yaitu pusing, mual, dan mulut terasa pahit, serta hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan adanya penurunan jumlah leukosit, penurunan nilai MCV, penurunan eosinofil, dan peningkatan monosit, maka diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai adalah:
a. Ketidakseimbangan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan asupan makanan akibat mual, pusing, dan mulut terasa pahit.
Diagnosa ini dipilih karena gejala yang dialami pasien, seperti mual, pusing, dan mulut terasa pahit, dapat menyebabkan penurunan asupan makanan, sehingga terjadi ketidakseimbangan nutrisi.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI).
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output sebagai berikut:
a. Peningkatan Nafsu Makan
Tujuannya adalah agar pasien dapat meningkatkan asupan makanan dan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh.
b. Peningkatan Status Nutrisi
Tujuannya adalah agar pasien dapat mempertahankan status nutrisi yang optimal, seiring dengan peningkatan asupan makanan.
c. Kontrol Mual
Tujuannya adalah agar pasien dapat mengendalikan rasa mual yang dialami sehingga dapat meningkatkan asupan makanan.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI).
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, berikut intervensi keperawatan yang diperlukan:
a. Manajemen Nutrisi
1) Kaji status nutrisi pasien, termasuk riwayat asupan makanan, berat badan, dan pemeriksaan laboratorium.
2) Identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi asupan makanan, seperti mual, pusing, dan rasa pahit di mulut.
3) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana pemberian nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan pasien.
4) Motivasi pasien untuk meningkatkan asupan makanan dan zat gizi.
5) Pantau dan dokumentasikan asupan makanan dan zat gizi pasien.
b. Manajemen Mual
1) Kaji penyebab dan karakteristik mual yang dialami pasien.
2) Ajarkan teknik manajemen mual, seperti pernafasan dalam dan distraksi.
3) Berikan obat-obatan antiemetik sesuai dengan resep dokter.
4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk mengatur pola makan yang dapat mengurangi mual.
5) Pantau dan dokumentasikan frekuensi dan tingkat keparahan mual yang dialami pasien.
c. Edukasi Kesehatan
1) Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga terkait pentingnya asupan nutrisi yang adekuat.
2) Ajarkan pasien dan keluarga tentang manajemen mual dan cara meningkatkan nafsu makan.
3) Libatkan pasien dan keluarga dalam perencanaan dan evaluasi asuhan keperawatan.
Dengan melaksanakan intervensi keperawatan yang komprehensif dan terpadu, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output yang diharapkan, yaitu peningkatan nafsu makan, peningkatan status nutrisi, dan kontrol mual. -
Article No. 8586 | 11 Dec 2024
Klinis : nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Nyeri Akut
Penjelasan singkat:
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
Nyeri Akut didefinisikan sebagai pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau dijelaskan dalam istilah tersebut. Nyeri akut biasanya memiliki onset tiba-tiba, durasi terbatas, dan intensitas bervariasi.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
Tujuan utama dari penanganan nyeri akut adalah mengurangi nyeri dan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengatasi nyeri. Indikator luaran yang dapat digunakan antara lain:
1. Pasien melaporkan nyeri terkontrol
2. Pasien menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal
3. Pasien menunjukkan perilaku koping yang efektif terhadap nyeri
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri akut meliputi:
1. Manajemen nyeri: Identifikasi karakteristik nyeri, kolaborasi pemberian analgesik, dan penggunaan teknik nonfarmakologis.
2. Pemberian kenyamanan: Pengaturan posisi, kompres hangat/dingin, dan distraksi.
3. Edukasi: Informasi mengenai penyebab, faktor yang memengaruhi, dan strategi penanganan nyeri.
Penerapan standar SDKI, SLKI, dan SIKI ini membantu perawat dalam melakukan pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi asuhan keperawatan yang komprehensif dan berkualitas bagi pasien dengan nyeri akut. -
Article No. 8587 | 11 Dec 2024
Klinis : Kasus: Seorang pria berusia 87 tahun yang tinggal di rumah dan mandiri dalam aktivitas sehari-harinya mengunjungi rumah sakit dengan keluhan anoreksia. Tiga bulan sebelumnya, pasien mengunjungi rumah sakit dengan keluhan dispnea dan didiagnosis mengalami gagal jantung kongestif. Pasien dipulangkan pada hari ke-14 setelah dirawat dengan perbaikan gejala setelah pemberian furosemid oral dosis 40 mg per hari selama satu minggu. Selama perawatan, pasien mengalami pansitopenia, antibodi antinuklear (nukleus) sebesar 80 kali lipat, dan kadar imunoglobulin G sebesar 2.077 mg/dL; oleh karena itu, pasien diikuti lebih lanjut untuk kecurigaan hepatitis autoimun. Pemeriksaan antibodi antiribonukleoprotein, anti-Sm, dan anti-double-stranded deoxyribonucleic acid menunjukkan hasil negatif. Satu bulan sebelum kunjungan terakhir, pasien dirawat di rumah sakit dengan keluhan anoreksia dan didiagnosis pneumonia bakteri. Pasien diobati dengan seftriakson untuk pneumonia; namun, demam tetap bertahan dan anoreksia tidak membaik. Setelah memeriksa secara menyeluruh kemungkinan penyebab lain dari gejalanya, dicurigai adanya vaskulitis yang dimediasi imun. Pengobatan dimulai dengan prednisolon dosis 50 mg karena kadar komplemen yang rendah dan peningkatan protein urin (C3: 85 mg/dL, C4: 13 mg/dL, estimasi protein urin harian: 15,1 g/1,73 m²). Demam pasien mereda, dan ia dapat makan dengan baik; oleh karena itu, dosis prednisolon diturunkan menjadi 25 mg, dan pasien dipulangkan pada hari ke-13 perawatan. Dosis prednisolon kemudian dikurangi menjadi 10 mg; namun, pasien kembali ke rumah sakit satu minggu kemudian karena asupan makanannya menurun. Riwayat medis pasien meliputi emboli serebral kardiogenik sisi kanan, fibrilasi atrium, gastrektomi karena ulkus lambung, penyakit ginjal kronis, dan aneurisma aorta asendens. Obat-obatan yang digunakan termasuk edoksaban (30 mg/hari), silodosin (4 mg/hari), empagliflozin (10 mg/hari), spironolakton (25 mg/hari), dan prednisolon (10 mg/hari). Saat tiba di rumah sakit, tanda-tanda vital pasien adalah sebagai berikut: kesadaran sedikit somnolen, suhu 36,3°C, tekanan darah 137/107 mmHg, frekuensi napas 22 kali/menit, denyut nadi 101 kali/menit tidak teratur, dan saturasi oksigen (SpO2) sebesar 95% (udara ruangan). Pemeriksaan fisik tidak menunjukkan kekakuan leher; namun, konjungtiva kelopak mata tampak sedikit pucat, dan vena jugularis tampak distensi. Suara napas berkurang pada sisi dorsal kanan, tetapi tidak ada mengi atau bising jantung. Abdomen datar dan lunak, dengan nyeri tekan pada hipokondrium kanan. Tidak ditemukan edema tungkai, ruam kulit, atau pembengkakan sendi; namun, ditemukan dingin pada ekstremitas perifer. Pemeriksaan darah menunjukkan disfungsi hati dan ginjal serta peningkatan signifikan kadar brain natriuretic peptide (Tabel 1). Tabel 1. Hasil Laboratorium Parameters Level Reference range White blood cells 10.30 3.5–9.1 × 103/μL Neutrophils 93.2 44.0–72.0% Lymphocytes 1.5 18.0–59.0% Monocytes 3.6 0.0–12.0% Eosinophils 0.0 0.0–10.0% Basophils 1.7 0.0–3.0% Red blood cells 4.45 3.76–5.50 × 106/μL Hemoglobin 14.1 11.3–15.2 g/dL Hematocrit 42.7 33.4–44.9% Mean corpuscular volume 95.9 79.0–100.0 fL Platelets 14.4 13.0–36.9 × 104/μL Total protein 6.4 6.5–8.3 g/dL Albumin 3.0 3.8–5.3 g/dL Total bilirubin 2.5 0.2–1.2 mg/dL Direct bilirubin 1.7 0.0–0.4 mg/dL Aspartate aminotransferase 424 8–38 IU/L Alanine aminotransferase 430 4–43 IU/L Alkaline phosphatase 141 106–322 U/L γ-Glutamyl transpeptidase 62 <48 IU/L Lactate dehydrogenase 645 121–245 U/L Blood urea nitrogen 73.6 8–20 mg/dL Creatinine 2.43 0.40–1.10 mg/dL eGFR 20.3 >60.0 mL/min/L Serum Na 130 135–150 mEq/L Serum K 6.0 3.5–5.3 mEq/L Serum Cl 99 98–110 mEq/L Serum Ca 9.4 8.8–10.2 mg/dL CK 85 56–244 U/L CK-MB 3 <5 mg/mL CRP 0.80 <0.30 mg/dL Serum glucose 159 70–110 mg/dL TSH 3.00 0.35–4.94 μIU/mL Free T4 0.9 0.70–1.48 ng/dL Troponin I 0.111 0.000–0.029 ng/mL Brain natriuretic hormone 1360.5 <18.4 Lupus anticoagulant (Silica clotting time ratio) 0.51 <1.16 Anti-cardiolipin antibody <0.4 <12.3 U/mL Urine test Leukocyte Negative Negative Nitrite Negative Negative Protein 2+ Negative Glucose 4+ Negative Urobilinogen Negative Negative Bilirubin Negative Negative Ketone Negative Negative Blood 3+ Negative pH 5.5 5.0–7.5 Pleural effusion pH 7.326 Total protein 1.3 g/dL Lactate dehydrogenase 87 U/L Glucose 125 mg/dL Adenosine deaminase 13.7 U/L Radiografi toraks menunjukkan rasio kardiotoraks sebesar 57%, tanda-tanda kongesti paru, dan permeabilitas paru kanan yang menurun. Ekokardiografi transtorasik menunjukkan fraksi ejeksi ventrikel kiri sekitar 10%, hipokinesis difus, regurgitasi mitral ringan, dan regurgitasi trikuspid, tetapi tidak ditemukan efusi perikardial, stenosis katup aorta, atau bentuk D-shape. Diameter vena cava inferior tampak membesar, tetapi tidak ditemukan perubahan pernapasan. Computed tomography (CT) torakoabdominal menunjukkan efusi pleura bilateral dan sedikit asites, tetapi tidak ditemukan penebalan pleura atau perikardium (Gambar 1). Gambar 1. Computed tomography (CT) torakoabdominal menunjukkan efusi pleura bilateral tanpa adanya penebalan pleura atau perikardium (panah putih). Aorta asendens memiliki diameter pendek 55 mm dan membesar. Tidak ditemukan penebalan atau pembesaran dinding kantong empedu maupun peningkatan densitas jaringan lemak di sekitar kantong empedu, meskipun terdapat batu empedu di dalamnya. Temuan ini menunjukkan diagnosis gagal jantung kongestif berdasarkan kardiomegali, distensi vena jugularis, dan efusi pleura. Tanda-tanda vital pasien stabil, tetapi sirkulasi perifer terasa dingin, dan kadar laktat serum meningkat. Pasien didiagnosis mengalami kegagalan sirkulasi perifer dan syok kardiogenik akibat penurunan tajam pada output jantung. Peningkatan kadar enzim hati dan memburuknya fungsi ginjal dikaitkan dengan kongesti sistem jantung kanan dan gangguan sirkulasi. Dobutamin diberikan untuk meningkatkan output jantung, furosemid untuk kontrol cairan, dan nicardipine digunakan karena tekanan darah yang terus meningkat. Pasien juga memiliki batu empedu dan nyeri pada kuadrisep kanan, sehingga kemungkinan sepsis akibat kolesistitis tidak dapat dikesampingkan; oleh karena itu, tazobactam/piperacillin diberikan. Ekokardiografi dan pengukuran laktat serum dilakukan untuk memantau fraksi ejeksi ventrikel kiri dan kegagalan sirkulasi perifer, serta dosis dobutamin diturunkan pada hari berikutnya. Terapi antimikroba dihentikan pada hari ketujuh setelah kultur darah menunjukkan hasil negatif. Pada hari kedelapan perawatan, dosis prednisolon dikurangi menjadi 7,5 mg; namun, pada hari berikutnya, asupan makanan pasien kembali menurun, dan respons inflamasi meningkat. Kami mempertimbangkan kemungkinan bahwa keadaan vaskulitis kompleks imun yang responsif terhadap steroid menjadi penyebab gejala umum pasien dan meninjau hasil laboratorium sebelumnya. Tes darah sebelum masuk rumah sakit menunjukkan peningkatan 80 kali lipat antibodi antinuklear (nukleolar), leukopenia <4.000/μL, trombositopenia <100.000/μL, protein urin >0,5 g/hari, serta penurunan C3 dan C4, yang memberikan skor 15 poin berdasarkan kriteria klasifikasi European League Against Rheumatism/American College of Rheumatology (EULAR/ACR) 2019. Karena pasien berusia lebih dari 50 tahun dan didiagnosis dengan SLE onset lambat, pada hari ke-16 perawatan, dosis prednisolon dinaikkan menjadi 30 mg. Kadar protein urin dan C-reactive protein (CRP) pasien menurun, dan pengobatan SLE berlangsung tanpa komplikasi. Pasien menjalani terapi nutrisi untuk menangani penurunan asupan makanan dan rehabilitasi untuk mempertahankan serta meningkatkan tingkat aktivitasnya. Pada hari ke-31, pasien dipulangkan ke panti jompo. Buatkan askep sesuai kasus di atas (format sesuai yang diajarkan saat kuliah)
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi di atas:
1. Intoleransi Aktivitas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diinginkan atau dibutuhkan.
- Penyebab: Kondisi fisik, seperti penurunan fungsi kardiovaskular.
2. Perubahan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- Definisi: Asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- Penyebab: Anoreksia, gastroparesis, dan kondisi medis lainnya yang menyebabkan penurunan nafsu makan.
3. Ketidakseimbangan Cairan
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan keseimbangan cairan tubuh.
- Penyebab: Gangguan fungsi ginjal, gagal jantung, dan penyebab lainnya yang menyebabkan ketidakseimbangan cairan.
4. Resiko Perubahan Perfusi Jaringan
- Definisi: Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke organ atau jaringan tubuh.
- Penyebab: Gagal jantung, hipotensi, dan kondisi lain yang dapat menyebabkan penurunan perfusi jaringan.
Luaran/Output yang Diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Intoleransi Aktivitas:
- Aktivitas Toleransi: Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan minimal.
- Pemulihan Fisik: Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan fisik untuk beraktivitas.
2. Perubahan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
- Intake Nutrisi: Pasien menunjukkan peningkatan asupan nutrisi.
- Status Gizi: Pasien menunjukkan peningkatan status gizi.
3. Ketidakseimbangan Cairan:
- Keseimbangan Cairan: Pasien mencapai keseimbangan cairan yang adekuat.
- Perfusi Jaringan: Pasien menunjukkan perbaikan perfusi jaringan.
4. Resiko Perubahan Perfusi Jaringan:
- Perfusi Jaringan: Pasien menunjukkan perbaikan perfusi jaringan.
- Hemodinamik: Pasien menunjukkan stabilitas hemodinamik.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Intoleransi Aktivitas:
- Manajemen Aktivitas
- Terapi Latihan
- Monitoring Tanda-Tanda Vital
2. Perubahan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
- Manajemen Nutrisi
- Terapi Nutrisi Enteral
- Konseling Gizi
3. Ketidakseimbangan Cairan:
- Manajemen Cairan
- Monitoring Intake dan Output
- Manajemen Edema
4. Resiko Perubahan Perfusi Jaringan:
- Manajemen Hemodinamik
- Manajemen Oksigenasi
- Manajemen Sirkulasi
Penjelasan rinci:
Pasien ini mengalami kondisi yang kompleks, termasuk gagal jantung kongestif, vaskulitis yang dimediasi imun, dan penyakit penyerta lainnya. Intervensi keperawatan yang komprehensif diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi pasien.
Intervensi terkait intoleransi aktivitas bertujuan untuk meningkatkan toleransi dan kemampuan fisik pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Terapi latihan dan monitoring tanda-tanda vital dapat membantu pasien meningkatkan kapasitas fungsionalnya.
Intervensi terkait perubahan nutrisi bertujuan untuk meningkatkan asupan nutrisi dan status gizi pasien. Manajemen nutrisi, terapi nutrisi enteral, dan konseling gizi dapat membantu mengatasi anoreksia dan memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.
Intervensi terkait ketidakseimbangan cairan bertujuan untuk mencapai keseimbangan cairan yang adekuat dan memperbaiki perfusi jaringan. Manajemen cairan, monitoring intake dan output, serta manajemen edema dapat membantu mengatasi masalah-masalah terkait keseimbangan cairan.
Intervensi terkait risiko perubahan perfusi jaringan bertujuan untuk memperbaiki perfusi jaringan dan stabilitas hemodinamik pasien. Manajemen hemodinamik, manajemen oksigenasi, dan manajemen sirkulasi dapat membantu mengatasi gangguan perfusi jaringan akibat gagal jantung kongestif.
Melalui intervensi keperawatan yang komprehensif dan terintegrasi, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu peningkatan toleransi aktivitas, perbaikan status nutrisi, keseimbangan cairan, dan perbaikan perfusi jaringan, sehingga dapat mempertahankan dan meningkatkan tingkat aktivitasnya. -
Article No. 8588 | 11 Dec 2024
Klinis : Kasus: Seorang pria berusia 87 tahun yang tinggal di rumah dan mandiri dalam aktivitas sehari-harinya mengunjungi rumah sakit dengan keluhan anoreksia. Tiga bulan sebelumnya, pasien mengunjungi rumah sakit dengan keluhan dispnea dan didiagnosis mengalami gagal jantung kongestif. Pasien dipulangkan pada hari ke-14 setelah dirawat dengan perbaikan gejala setelah pemberian furosemid oral dosis 40 mg per hari selama satu minggu. Selama perawatan, pasien mengalami pansitopenia, antibodi antinuklear (nukleus) sebesar 80 kali lipat, dan kadar imunoglobulin G sebesar 2.077 mg/dL; oleh karena itu, pasien diikuti lebih lanjut untuk kecurigaan hepatitis autoimun. Pemeriksaan antibodi antiribonukleoprotein, anti-Sm, dan anti-double-stranded deoxyribonucleic acid menunjukkan hasil negatif. Satu bulan sebelum kunjungan terakhir, pasien dirawat di rumah sakit dengan keluhan anoreksia dan didiagnosis pneumonia bakteri. Pasien diobati dengan seftriakson untuk pneumonia; namun, demam tetap bertahan dan anoreksia tidak membaik. Setelah memeriksa secara menyeluruh kemungkinan penyebab lain dari gejalanya, dicurigai adanya vaskulitis yang dimediasi imun. Pengobatan dimulai dengan prednisolon dosis 50 mg karena kadar komplemen yang rendah dan peningkatan protein urin (C3: 85 mg/dL, C4: 13 mg/dL, estimasi protein urin harian: 15,1 g/1,73 m²). Demam pasien mereda, dan ia dapat makan dengan baik; oleh karena itu, dosis prednisolon diturunkan menjadi 25 mg, dan pasien dipulangkan pada hari ke-13 perawatan. Dosis prednisolon kemudian dikurangi menjadi 10 mg; namun, pasien kembali ke rumah sakit satu minggu kemudian karena asupan makanannya menurun. Riwayat medis pasien meliputi emboli serebral kardiogenik sisi kanan, fibrilasi atrium, gastrektomi karena ulkus lambung, penyakit ginjal kronis, dan aneurisma aorta asendens. Obat-obatan yang digunakan termasuk edoksaban (30 mg/hari), silodosin (4 mg/hari), empagliflozin (10 mg/hari), spironolakton (25 mg/hari), dan prednisolon (10 mg/hari). Saat tiba di rumah sakit, tanda-tanda vital pasien adalah sebagai berikut: kesadaran sedikit somnolen, suhu 36,3°C, tekanan darah 137/107 mmHg, frekuensi napas 22 kali/menit, denyut nadi 101 kali/menit tidak teratur, dan saturasi oksigen (SpO2) sebesar 95% (udara ruangan). Pemeriksaan fisik tidak menunjukkan kekakuan leher; namun, konjungtiva kelopak mata tampak sedikit pucat, dan vena jugularis tampak distensi. Suara napas berkurang pada sisi dorsal kanan, tetapi tidak ada mengi atau bising jantung. Abdomen datar dan lunak, dengan nyeri tekan pada hipokondrium kanan. Tidak ditemukan edema tungkai, ruam kulit, atau pembengkakan sendi; namun, ditemukan dingin pada ekstremitas perifer. Pemeriksaan darah menunjukkan disfungsi hati dan ginjal serta peningkatan signifikan kadar brain natriuretic peptide (Tabel 1). Tabel 1. Hasil Laboratorium Parameters Level Reference range White blood cells 10.30 3.5–9.1 × 103/μL Neutrophils 93.2 44.0–72.0% Lymphocytes 1.5 18.0–59.0% Monocytes 3.6 0.0–12.0% Eosinophils 0.0 0.0–10.0% Basophils 1.7 0.0–3.0% Red blood cells 4.45 3.76–5.50 × 106/μL Hemoglobin 14.1 11.3–15.2 g/dL Hematocrit 42.7 33.4–44.9% Mean corpuscular volume 95.9 79.0–100.0 fL Platelets 14.4 13.0–36.9 × 104/μL Total protein 6.4 6.5–8.3 g/dL Albumin 3.0 3.8–5.3 g/dL Total bilirubin 2.5 0.2–1.2 mg/dL Direct bilirubin 1.7 0.0–0.4 mg/dL Aspartate aminotransferase 424 8–38 IU/L Alanine aminotransferase 430 4–43 IU/L Alkaline phosphatase 141 106–322 U/L γ-Glutamyl transpeptidase 62 <48 IU/L Lactate dehydrogenase 645 121–245 U/L Blood urea nitrogen 73.6 8–20 mg/dL Creatinine 2.43 0.40–1.10 mg/dL eGFR 20.3 >60.0 mL/min/L Serum Na 130 135–150 mEq/L Serum K 6.0 3.5–5.3 mEq/L Serum Cl 99 98–110 mEq/L Serum Ca 9.4 8.8–10.2 mg/dL CK 85 56–244 U/L CK-MB 3 <5 mg/mL CRP 0.80 <0.30 mg/dL Serum glucose 159 70–110 mg/dL TSH 3.00 0.35–4.94 μIU/mL Free T4 0.9 0.70–1.48 ng/dL Troponin I 0.111 0.000–0.029 ng/mL Brain natriuretic hormone 1360.5 <18.4 Lupus anticoagulant (Silica clotting time ratio) 0.51 <1.16 Anti-cardiolipin antibody <0.4 <12.3 U/mL Urine test Leukocyte Negative Negative Nitrite Negative Negative Protein 2+ Negative Glucose 4+ Negative Urobilinogen Negative Negative Bilirubin Negative Negative Ketone Negative Negative Blood 3+ Negative pH 5.5 5.0–7.5 Pleural effusion pH 7.326 Total protein 1.3 g/dL Lactate dehydrogenase 87 U/L Glucose 125 mg/dL Adenosine deaminase 13.7 U/L Radiografi toraks menunjukkan rasio kardiotoraks sebesar 57%, tanda-tanda kongesti paru, dan permeabilitas paru kanan yang menurun. Ekokardiografi transtorasik menunjukkan fraksi ejeksi ventrikel kiri sekitar 10%, hipokinesis difus, regurgitasi mitral ringan, dan regurgitasi trikuspid, tetapi tidak ditemukan efusi perikardial, stenosis katup aorta, atau bentuk D-shape. Diameter vena cava inferior tampak membesar, tetapi tidak ditemukan perubahan pernapasan. Computed tomography (CT) torakoabdominal menunjukkan efusi pleura bilateral dan sedikit asites, tetapi tidak ditemukan penebalan pleura atau perikardium (Gambar 1). Gambar 1. Computed tomography (CT) torakoabdominal menunjukkan efusi pleura bilateral tanpa adanya penebalan pleura atau perikardium (panah putih). Aorta asendens memiliki diameter pendek 55 mm dan membesar. Tidak ditemukan penebalan atau pembesaran dinding kantong empedu maupun peningkatan densitas jaringan lemak di sekitar kantong empedu, meskipun terdapat batu empedu di dalamnya. Temuan ini menunjukkan diagnosis gagal jantung kongestif berdasarkan kardiomegali, distensi vena jugularis, dan efusi pleura. Tanda-tanda vital pasien stabil, tetapi sirkulasi perifer terasa dingin, dan kadar laktat serum meningkat. Pasien didiagnosis mengalami kegagalan sirkulasi perifer dan syok kardiogenik akibat penurunan tajam pada output jantung. Peningkatan kadar enzim hati dan memburuknya fungsi ginjal dikaitkan dengan kongesti sistem jantung kanan dan gangguan sirkulasi. Dobutamin diberikan untuk meningkatkan output jantung, furosemid untuk kontrol cairan, dan nicardipine digunakan karena tekanan darah yang terus meningkat. Pasien juga memiliki batu empedu dan nyeri pada kuadrisep kanan, sehingga kemungkinan sepsis akibat kolesistitis tidak dapat dikesampingkan; oleh karena itu, tazobactam/piperacillin diberikan. Ekokardiografi dan pengukuran laktat serum dilakukan untuk memantau fraksi ejeksi ventrikel kiri dan kegagalan sirkulasi perifer, serta dosis dobutamin diturunkan pada hari berikutnya. Terapi antimikroba dihentikan pada hari ketujuh setelah kultur darah menunjukkan hasil negatif. Pada hari kedelapan perawatan, dosis prednisolon dikurangi menjadi 7,5 mg; namun, pada hari berikutnya, asupan makanan pasien kembali menurun, dan respons inflamasi meningkat. Kami mempertimbangkan kemungkinan bahwa keadaan vaskulitis kompleks imun yang responsif terhadap steroid menjadi penyebab gejala umum pasien dan meninjau hasil laboratorium sebelumnya. Tes darah sebelum masuk rumah sakit menunjukkan peningkatan 80 kali lipat antibodi antinuklear (nukleolar), leukopenia <4.000/μL, trombositopenia <100.000/μL, protein urin >0,5 g/hari, serta penurunan C3 dan C4, yang memberikan skor 15 poin berdasarkan kriteria klasifikasi European League Against Rheumatism/American College of Rheumatology (EULAR/ACR) 2019. Karena pasien berusia lebih dari 50 tahun dan didiagnosis dengan SLE onset lambat, pada hari ke-16 perawatan, dosis prednisolon dinaikkan menjadi 30 mg. Kadar protein urin dan C-reactive protein (CRP) pasien menurun, dan pengobatan SLE berlangsung tanpa komplikasi. Pasien menjalani terapi nutrisi untuk menangani penurunan asupan makanan dan rehabilitasi untuk mempertahankan serta meningkatkan tingkat aktivitasnya. Pada hari ke-31, pasien dipulangkan ke panti jompo. Buatkan askep sesuai kasus di atas (format sesuai yang diajarkan saat kuliah)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang diuraikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan penurunan fungsi kardiovaskular dan vaskuler, serta anemia.
2. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer berhubungan dengan penurunan curah jantung, vasokonstriksi perifer, dan penyakit pembuluh darah.
3. Malnutrisi berhubungan dengan anoreksia, gangguan gastrointestinal, dan peningkatan kebutuhan metabolik.
4. Risiko Infeksi berhubungan dengan penurunan sistem imun, obat imunosupresif, dan prosedur invasif.
Penjelasan Singkat:
1. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan penurunan fungsi kardiovaskular dan vaskuler, serta anemia.
- SDKI: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau dibutuhkan karena adanya keterbatasan kapasitas fisik.
- SLKI: Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan yang berlebihan.
- SIKI: Manajemen Aktivitas, Manajemen Energi, Manajemen Kardiovaskular.
2. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer berhubungan dengan penurunan curah jantung, vasokonstriksi perifer, dan penyakit pembuluh darah.
- SDKI: Kekurangan suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan perifer yang dapat mengancam kesehatan.
- SLKI: Pasien dapat mempertahankan perfusi jaringan perifer yang adekuat.
- SIKI: Manajemen Hemodinamik, Manajemen Sirkulasi, Manajemen Rasa Dingin.
3. Malnutrisi berhubungan dengan anoreksia, gangguan gastrointestinal, dan peningkatan kebutuhan metabolik.
- SDKI: Intake nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- SLKI: Pasien dapat mempertahankan status gizi yang optimal.
- SIKI: Manajemen Nutrisi, Manajemen Obat, Manajemen Mual.
4. Risiko Infeksi berhubungan dengan penurunan sistem imun, obat imunosupresif, dan prosedur invasif.
- SDKI: Peningkatan risiko tertular atau terkena agen infeksi.
- SLKI: Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi.
- SIKI: Manajemen Infeksi, Manajemen Impulsivitas, Manajemen Imunitas.
Sebagai perawat, saya akan menggunakan pendekatan holistik dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan pasien, dengan mempertimbangkan aspek fisik, mental, emosional, dan spiritual. Tujuan utama adalah membantu pasien mencapai status kesehatan yang optimal dan mempertahankan kualitas hidup yang baik. -
Article No. 8589 | 11 Dec 2024
Klinis : Kasus: Seorang pria berusia 87 tahun yang tinggal di rumah dan mandiri dalam aktivitas sehari-harinya mengunjungi rumah sakit dengan keluhan anoreksia. Tiga bulan sebelumnya, pasien mengunjungi rumah sakit dengan keluhan dispnea dan didiagnosis mengalami gagal jantung kongestif. Pasien dipulangkan pada hari ke-14 setelah dirawat dengan perbaikan gejala setelah pemberian furosemid oral dosis 40 mg per hari selama satu minggu. Selama perawatan, pasien mengalami pansitopenia, antibodi antinuklear (nukleus) sebesar 80 kali lipat, dan kadar imunoglobulin G sebesar 2.077 mg/dL; oleh karena itu, pasien diikuti lebih lanjut untuk kecurigaan hepatitis autoimun. Pemeriksaan antibodi antiribonukleoprotein, anti-Sm, dan anti-double-stranded deoxyribonucleic acid menunjukkan hasil negatif. Satu bulan sebelum kunjungan terakhir, pasien dirawat di rumah sakit dengan keluhan anoreksia dan didiagnosis pneumonia bakteri. Pasien diobati dengan seftriakson untuk pneumonia; namun, demam tetap bertahan dan anoreksia tidak membaik. Setelah memeriksa secara menyeluruh kemungkinan penyebab lain dari gejalanya, dicurigai adanya vaskulitis yang dimediasi imun. Pengobatan dimulai dengan prednisolon dosis 50 mg karena kadar komplemen yang rendah dan peningkatan protein urin (C3: 85 mg/dL, C4: 13 mg/dL, estimasi protein urin harian: 15,1 g/1,73 m²). Demam pasien mereda, dan ia dapat makan dengan baik; oleh karena itu, dosis prednisolon diturunkan menjadi 25 mg, dan pasien dipulangkan pada hari ke-13 perawatan. Dosis prednisolon kemudian dikurangi menjadi 10 mg; namun, pasien kembali ke rumah sakit satu minggu kemudian karena asupan makanannya menurun. Riwayat medis pasien meliputi emboli serebral kardiogenik sisi kanan, fibrilasi atrium, gastrektomi karena ulkus lambung, penyakit ginjal kronis, dan aneurisma aorta asendens. Obat-obatan yang digunakan termasuk edoksaban (30 mg/hari), silodosin (4 mg/hari), empagliflozin (10 mg/hari), spironolakton (25 mg/hari), dan prednisolon (10 mg/hari). Saat tiba di rumah sakit, tanda-tanda vital pasien adalah sebagai berikut: kesadaran sedikit somnolen, suhu 36,3°C, tekanan darah 137/107 mmHg, frekuensi napas 22 kali/menit, denyut nadi 101 kali/menit tidak teratur, dan saturasi oksigen (SpO2) sebesar 95% (udara ruangan). Pemeriksaan fisik tidak menunjukkan kekakuan leher; namun, konjungtiva kelopak mata tampak sedikit pucat, dan vena jugularis tampak distensi. Suara napas berkurang pada sisi dorsal kanan, tetapi tidak ada mengi atau bising jantung. Abdomen datar dan lunak, dengan nyeri tekan pada hipokondrium kanan. Tidak ditemukan edema tungkai, ruam kulit, atau pembengkakan sendi; namun, ditemukan dingin pada ekstremitas perifer. Pemeriksaan darah menunjukkan disfungsi hati dan ginjal serta peningkatan signifikan kadar brain natriuretic peptide (Tabel 1). Tabel 1. Hasil Laboratorium Parameters Level Reference range White blood cells 10.30 3.5–9.1 × 103/μL Neutrophils 93.2 44.0–72.0% Lymphocytes 1.5 18.0–59.0% Monocytes 3.6 0.0–12.0% Eosinophils 0.0 0.0–10.0% Basophils 1.7 0.0–3.0% Red blood cells 4.45 3.76–5.50 × 106/μL Hemoglobin 14.1 11.3–15.2 g/dL Hematocrit 42.7 33.4–44.9% Mean corpuscular volume 95.9 79.0–100.0 fL Platelets 14.4 13.0–36.9 × 104/μL Total protein 6.4 6.5–8.3 g/dL Albumin 3.0 3.8–5.3 g/dL Total bilirubin 2.5 0.2–1.2 mg/dL Direct bilirubin 1.7 0.0–0.4 mg/dL Aspartate aminotransferase 424 8–38 IU/L Alanine aminotransferase 430 4–43 IU/L Alkaline phosphatase 141 106–322 U/L γ-Glutamyl transpeptidase 62 <48 IU/L Lactate dehydrogenase 645 121–245 U/L Blood urea nitrogen 73.6 8–20 mg/dL Creatinine 2.43 0.40–1.10 mg/dL eGFR 20.3 >60.0 mL/min/L Serum Na 130 135–150 mEq/L Serum K 6.0 3.5–5.3 mEq/L Serum Cl 99 98–110 mEq/L Serum Ca 9.4 8.8–10.2 mg/dL CK 85 56–244 U/L CK-MB 3 <5 mg/mL CRP 0.80 <0.30 mg/dL Serum glucose 159 70–110 mg/dL TSH 3.00 0.35–4.94 μIU/mL Free T4 0.9 0.70–1.48 ng/dL Troponin I 0.111 0.000–0.029 ng/mL Brain natriuretic hormone 1360.5 <18.4 Lupus anticoagulant (Silica clotting time ratio) 0.51 <1.16 Anti-cardiolipin antibody <0.4 <12.3 U/mL Urine test Leukocyte Negative Negative Nitrite Negative Negative Protein 2+ Negative Glucose 4+ Negative Urobilinogen Negative Negative Bilirubin Negative Negative Ketone Negative Negative Blood 3+ Negative pH 5.5 5.0–7.5 Pleural effusion pH 7.326 Total protein 1.3 g/dL Lactate dehydrogenase 87 U/L Glucose 125 mg/dL Adenosine deaminase 13.7 U/L Radiografi toraks menunjukkan rasio kardiotoraks sebesar 57%, tanda-tanda kongesti paru, dan permeabilitas paru kanan yang menurun. Ekokardiografi transtorasik menunjukkan fraksi ejeksi ventrikel kiri sekitar 10%, hipokinesis difus, regurgitasi mitral ringan, dan regurgitasi trikuspid, tetapi tidak ditemukan efusi perikardial, stenosis katup aorta, atau bentuk D-shape. Diameter vena cava inferior tampak membesar, tetapi tidak ditemukan perubahan pernapasan. Computed tomography (CT) torakoabdominal menunjukkan efusi pleura bilateral dan sedikit asites, tetapi tidak ditemukan penebalan pleura atau perikardium (Gambar 1). Gambar 1. Computed tomography (CT) torakoabdominal menunjukkan efusi pleura bilateral tanpa adanya penebalan pleura atau perikardium (panah putih). Aorta asendens memiliki diameter pendek 55 mm dan membesar. Tidak ditemukan penebalan atau pembesaran dinding kantong empedu maupun peningkatan densitas jaringan lemak di sekitar kantong empedu, meskipun terdapat batu empedu di dalamnya. Temuan ini menunjukkan diagnosis gagal jantung kongestif berdasarkan kardiomegali, distensi vena jugularis, dan efusi pleura. Tanda-tanda vital pasien stabil, tetapi sirkulasi perifer terasa dingin, dan kadar laktat serum meningkat. Pasien didiagnosis mengalami kegagalan sirkulasi perifer dan syok kardiogenik akibat penurunan tajam pada output jantung. Peningkatan kadar enzim hati dan memburuknya fungsi ginjal dikaitkan dengan kongesti sistem jantung kanan dan gangguan sirkulasi. Dobutamin diberikan untuk meningkatkan output jantung, furosemid untuk kontrol cairan, dan nicardipine digunakan karena tekanan darah yang terus meningkat. Pasien juga memiliki batu empedu dan nyeri pada kuadrisep kanan, sehingga kemungkinan sepsis akibat kolesistitis tidak dapat dikesampingkan; oleh karena itu, tazobactam/piperacillin diberikan. Ekokardiografi dan pengukuran laktat serum dilakukan untuk memantau fraksi ejeksi ventrikel kiri dan kegagalan sirkulasi perifer, serta dosis dobutamin diturunkan pada hari berikutnya. Terapi antimikroba dihentikan pada hari ketujuh setelah kultur darah menunjukkan hasil negatif. Pada hari kedelapan perawatan, dosis prednisolon dikurangi menjadi 7,5 mg; namun, pada hari berikutnya, asupan makanan pasien kembali menurun, dan respons inflamasi meningkat. Kami mempertimbangkan kemungkinan bahwa keadaan vaskulitis kompleks imun yang responsif terhadap steroid menjadi penyebab gejala umum pasien dan meninjau hasil laboratorium sebelumnya. Tes darah sebelum masuk rumah sakit menunjukkan peningkatan 80 kali lipat antibodi antinuklear (nukleolar), leukopenia <4.000/μL, trombositopenia <100.000/μL, protein urin >0,5 g/hari, serta penurunan C3 dan C4, yang memberikan skor 15 poin berdasarkan kriteria klasifikasi European League Against Rheumatism/American College of Rheumatology (EULAR/ACR) 2019. Karena pasien berusia lebih dari 50 tahun dan didiagnosis dengan SLE onset lambat, pada hari ke-16 perawatan, dosis prednisolon dinaikkan menjadi 30 mg. Kadar protein urin dan C-reactive protein (CRP) pasien menurun, dan pengobatan SLE berlangsung tanpa komplikasi. Pasien menjalani terapi nutrisi untuk menangani penurunan asupan makanan dan rehabilitasi untuk mempertahankan serta meningkatkan tingkat aktivitasnya. Pada hari ke-31, pasien dipulangkan ke panti jompo. Buatkan askep sesuai kasus di atas (format sesuai yang diajarkan saat kuliah)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus di atas, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan curah jantung dan disfungsi hati dan ginjal, sebagaimana ditunjukkan oleh anoreksia, peningkatan enzim hati, peningkatan kadar nitrogen urea darah, dan penurunan laju filtrasi glomerulus.
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan fungsi pernapasan, sebagaimana ditunjukkan oleh dispnea, efusi pleura bilateral, dan hipoksemia.
3. Kurang volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler dan penurunan intake, sebagaimana ditunjukkan oleh hipoproteinemia, edema perifer, dan distensi vena jugularis.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Intoleransi aktivitas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau yang diperlukan pada tingkat yang diharapkan
- Faktor yang berhubungan: Perubahan fisiologis (penurunan curah jantung, gangguan fungsi hati dan ginjal)
- Karakteristik mayor: Anoreksia, kelelahan, peningkatan enzim hati, peningkatan nitrogen urea darah, penurunan laju filtrasi glomerulus
2. Ketidakefektifan pola napas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk bernapas dengan mudah yang dapat mengakibatkan ketidakseimbangan oksigen atau karbon dioksida
- Faktor yang berhubungan: Penurunan fungsi pernapasan
- Karakteristik mayor: Dispnea, efusi pleura bilateral, hipoksemia
3. Kurang volume cairan
- Definisi: Penurunan volume cairan intravaskular, interstisial, atau intrasellular
- Faktor yang berhubungan: Peningkatan permeabilitas kapiler, penurunan intake
- Karakteristik mayor: Hipoproteinemia, edema perifer, distensi vena jugularis
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Toleransi aktivitas
- Luaran: Tingkat toleransi aktivitas
- Indikator: Kemampuan melakukan aktivitas rutin, tingkat kelelahan, tingkat energi
2. Status pernapasan
- Luaran: Efektivitas pola napas
- Indikator: Kecukupan ventilasi, tingkat dispnea, saturasi oksigen
3. Volume cairan
- Luaran: Keseimbangan cairan
- Indikator: Hidrasi jaringan, tingkat edema, tekanan darah
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen aktivitas
- Intervensi: Memantau toleransi aktivitas, memfasilitasi aktivitas, membantu aktivitas sehari-hari
- Tujuan: Meningkatkan toleransi aktivitas
2. Manajemen jalan napas
- Intervensi: Memantau pola napas, memberikan oksigen, memposisikan pasien
- Tujuan: Mempertahankan jalan napas yang efektif
3. Manajemen cairan
- Intervensi: Memantau intake dan output cairan, mengelola pemberian cairan, memantau tanda-tanda dehidrasi
- Tujuan: Mempertahankan keseimbangan cairan
Secara keseluruhan, tujuan utama perawatan pada kasus ini adalah untuk meningkatkan toleransi aktivitas, mempertahankan pola napas yang efektif, dan mempertahankan keseimbangan cairan pasien, mengingat kondisi gagal jantung kongestif yang disertai dengan disfungsi hati dan ginjal. Intervensi keperawatan yang dilakukan akan berfokus pada pemantauan dan manajemen kondisi klinis pasien untuk mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 8590 | 11 Dec 2024
Klinis : Kasus: Seorang pria berusia 87 tahun yang tinggal di rumah dan mandiri dalam aktivitas sehari-harinya mengunjungi rumah sakit dengan keluhan anoreksia. Tiga bulan sebelumnya, pasien mengunjungi rumah sakit dengan keluhan dispnea dan didiagnosis mengalami gagal jantung kongestif. Pasien dipulangkan pada hari ke-14 setelah dirawat dengan perbaikan gejala setelah pemberian furosemid oral dosis 40 mg per hari selama satu minggu. Selama perawatan, pasien mengalami pansitopenia, antibodi antinuklear (nukleus) sebesar 80 kali lipat, dan kadar imunoglobulin G sebesar 2.077 mg/dL; oleh karena itu, pasien diikuti lebih lanjut untuk kecurigaan hepatitis autoimun. Pemeriksaan antibodi antiribonukleoprotein, anti-Sm, dan anti-double-stranded deoxyribonucleic acid menunjukkan hasil negatif. Satu bulan sebelum kunjungan terakhir, pasien dirawat di rumah sakit dengan keluhan anoreksia dan didiagnosis pneumonia bakteri. Pasien diobati dengan seftriakson untuk pneumonia; namun, demam tetap bertahan dan anoreksia tidak membaik. Setelah memeriksa secara menyeluruh kemungkinan penyebab lain dari gejalanya, dicurigai adanya vaskulitis yang dimediasi imun. Pengobatan dimulai dengan prednisolon dosis 50 mg karena kadar komplemen yang rendah dan peningkatan protein urin (C3: 85 mg/dL, C4: 13 mg/dL, estimasi protein urin harian: 15,1 g/1,73 m²). Demam pasien mereda, dan ia dapat makan dengan baik; oleh karena itu, dosis prednisolon diturunkan menjadi 25 mg, dan pasien dipulangkan pada hari ke-13 perawatan. Dosis prednisolon kemudian dikurangi menjadi 10 mg; namun, pasien kembali ke rumah sakit satu minggu kemudian karena asupan makanannya menurun. Riwayat medis pasien meliputi emboli serebral kardiogenik sisi kanan, fibrilasi atrium, gastrektomi karena ulkus lambung, penyakit ginjal kronis, dan aneurisma aorta asendens. Obat-obatan yang digunakan termasuk edoksaban (30 mg/hari), silodosin (4 mg/hari), empagliflozin (10 mg/hari), spironolakton (25 mg/hari), dan prednisolon (10 mg/hari). Saat tiba di rumah sakit, tanda-tanda vital pasien adalah sebagai berikut: kesadaran sedikit somnolen, suhu 36,3°C, tekanan darah 137/107 mmHg, frekuensi napas 22 kali/menit, denyut nadi 101 kali/menit tidak teratur, dan saturasi oksigen (SpO2) sebesar 95% (udara ruangan). Pemeriksaan fisik tidak menunjukkan kekakuan leher; namun, konjungtiva kelopak mata tampak sedikit pucat, dan vena jugularis tampak distensi. Suara napas berkurang pada sisi dorsal kanan, tetapi tidak ada mengi atau bising jantung. Abdomen datar dan lunak, dengan nyeri tekan pada hipokondrium kanan. Tidak ditemukan edema tungkai, ruam kulit, atau pembengkakan sendi; namun, ditemukan dingin pada ekstremitas perifer. Pemeriksaan darah menunjukkan disfungsi hati dan ginjal serta peningkatan signifikan kadar brain natriuretic peptide (Tabel 1). Tabel 1. Hasil Laboratorium Parameters Level Reference range White blood cells 10.30 3.5–9.1 × 103/μL Neutrophils 93.2 44.0–72.0% Lymphocytes 1.5 18.0–59.0% Monocytes 3.6 0.0–12.0% Eosinophils 0.0 0.0–10.0% Basophils 1.7 0.0–3.0% Red blood cells 4.45 3.76–5.50 × 106/μL Hemoglobin 14.1 11.3–15.2 g/dL Hematocrit 42.7 33.4–44.9% Mean corpuscular volume 95.9 79.0–100.0 fL Platelets 14.4 13.0–36.9 × 104/μL Total protein 6.4 6.5–8.3 g/dL Albumin 3.0 3.8–5.3 g/dL Total bilirubin 2.5 0.2–1.2 mg/dL Direct bilirubin 1.7 0.0–0.4 mg/dL Aspartate aminotransferase 424 8–38 IU/L Alanine aminotransferase 430 4–43 IU/L Alkaline phosphatase 141 106–322 U/L γ-Glutamyl transpeptidase 62 <48 IU/L Lactate dehydrogenase 645 121–245 U/L Blood urea nitrogen 73.6 8–20 mg/dL Creatinine 2.43 0.40–1.10 mg/dL eGFR 20.3 >60.0 mL/min/L Serum Na 130 135–150 mEq/L Serum K 6.0 3.5–5.3 mEq/L Serum Cl 99 98–110 mEq/L Serum Ca 9.4 8.8–10.2 mg/dL CK 85 56–244 U/L CK-MB 3 <5 mg/mL CRP 0.80 <0.30 mg/dL Serum glucose 159 70–110 mg/dL TSH 3.00 0.35–4.94 μIU/mL Free T4 0.9 0.70–1.48 ng/dL Troponin I 0.111 0.000–0.029 ng/mL Brain natriuretic hormone 1360.5 <18.4 Lupus anticoagulant (Silica clotting time ratio) 0.51 <1.16 Anti-cardiolipin antibody <0.4 <12.3 U/mL Urine test Leukocyte Negative Negative Nitrite Negative Negative Protein 2+ Negative Glucose 4+ Negative Urobilinogen Negative Negative Bilirubin Negative Negative Ketone Negative Negative Blood 3+ Negative pH 5.5 5.0–7.5 Pleural effusion pH 7.326 Total protein 1.3 g/dL Lactate dehydrogenase 87 U/L Glucose 125 mg/dL Adenosine deaminase 13.7 U/L Radiografi toraks menunjukkan rasio kardiotoraks sebesar 57%, tanda-tanda kongesti paru, dan permeabilitas paru kanan yang menurun. Ekokardiografi transtorasik menunjukkan fraksi ejeksi ventrikel kiri sekitar 10%, hipokinesis difus, regurgitasi mitral ringan, dan regurgitasi trikuspid, tetapi tidak ditemukan efusi perikardial, stenosis katup aorta, atau bentuk D-shape. Diameter vena cava inferior tampak membesar, tetapi tidak ditemukan perubahan pernapasan. Computed tomography (CT) torakoabdominal menunjukkan efusi pleura bilateral dan sedikit asites, tetapi tidak ditemukan penebalan pleura atau perikardium (Gambar 1). Gambar 1. Computed tomography (CT) torakoabdominal menunjukkan efusi pleura bilateral tanpa adanya penebalan pleura atau perikardium (panah putih). Aorta asendens memiliki diameter pendek 55 mm dan membesar. Tidak ditemukan penebalan atau pembesaran dinding kantong empedu maupun peningkatan densitas jaringan lemak di sekitar kantong empedu, meskipun terdapat batu empedu di dalamnya. Temuan ini menunjukkan diagnosis gagal jantung kongestif berdasarkan kardiomegali, distensi vena jugularis, dan efusi pleura. Tanda-tanda vital pasien stabil, tetapi sirkulasi perifer terasa dingin, dan kadar laktat serum meningkat. Pasien didiagnosis mengalami kegagalan sirkulasi perifer dan syok kardiogenik akibat penurunan tajam pada output jantung. Peningkatan kadar enzim hati dan memburuknya fungsi ginjal dikaitkan dengan kongesti sistem jantung kanan dan gangguan sirkulasi. Dobutamin diberikan untuk meningkatkan output jantung, furosemid untuk kontrol cairan, dan nicardipine digunakan karena tekanan darah yang terus meningkat. Pasien juga memiliki batu empedu dan nyeri pada kuadrisep kanan, sehingga kemungkinan sepsis akibat kolesistitis tidak dapat dikesampingkan; oleh karena itu, tazobactam/piperacillin diberikan. Ekokardiografi dan pengukuran laktat serum dilakukan untuk memantau fraksi ejeksi ventrikel kiri dan kegagalan sirkulasi perifer, serta dosis dobutamin diturunkan pada hari berikutnya. Terapi antimikroba dihentikan pada hari ketujuh setelah kultur darah menunjukkan hasil negatif. Pada hari kedelapan perawatan, dosis prednisolon dikurangi menjadi 7,5 mg; namun, pada hari berikutnya, asupan makanan pasien kembali menurun, dan respons inflamasi meningkat. Kami mempertimbangkan kemungkinan bahwa keadaan vaskulitis kompleks imun yang responsif terhadap steroid menjadi penyebab gejala umum pasien dan meninjau hasil laboratorium sebelumnya. Tes darah sebelum masuk rumah sakit menunjukkan peningkatan 80 kali lipat antibodi antinuklear (nukleolar), leukopenia <4.000/μL, trombositopenia <100.000/μL, protein urin >0,5 g/hari, serta penurunan C3 dan C4, yang memberikan skor 15 poin berdasarkan kriteria klasifikasi European League Against Rheumatism/American College of Rheumatology (EULAR/ACR) 2019. Karena pasien berusia lebih dari 50 tahun dan didiagnosis dengan SLE onset lambat, pada hari ke-16 perawatan, dosis prednisolon dinaikkan menjadi 30 mg. Kadar protein urin dan C-reactive protein (CRP) pasien menurun, dan pengobatan SLE berlangsung tanpa komplikasi. Pasien menjalani terapi nutrisi untuk menangani penurunan asupan makanan dan rehabilitasi untuk mempertahankan serta meningkatkan tingkat aktivitasnya. Pada hari ke-31, pasien dipulangkan ke panti jompo. Buatkan askep sesuai kasus di atas (format sesuai yang diajarkan saat kuliah)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus di atas, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan fungsi kardiovaskular ditandai dengan dispnea, saturasi oksigen menurun, dan suara napas berkurang pada sisi dorsal kanan.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan fungsi kardiovaskular ditandai dengan kelelahan, lemah, dan dingin pada ekstremitas perifer.
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia dan asupan makanan menurun.
4. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gagal jantung kongestif ditandai dengan distensi vena jugularis, efusi pleura, dan asites.
5. Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan sistem imun ditandai dengan peningkatan kadar CRP, leukopenia, dan trombositopenia.
6. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan kegagalan sirkulasi perifer dan syok kardiogenik ditandai dengan penurunan saturasi oksigen, peningkatan laktat darah, dan dingin pada ekstremitas perifer.
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi, karakteristik, faktor berhubungan, dan intervensi keperawatan yang sesuai dengan masing-masing diagnosis keperawatan.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Hasil yang diharapkan dan kriteria hasil untuk mengevaluasi efektivitas intervensi keperawatan.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Rencana tindakan keperawatan yang komprehensif untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Contoh penjelasan singkat:
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan fungsi kardiovaskular
- SDKI: Definisi, karakteristik (dispnea, suara napas menurun, dll.), faktor berhubungan (gagal jantung kongestif), dan intervensi keperawatan (manajemen oksigenasi, manajemen ventilasi, dll.).
- SLKI: Hasil yang diharapkan (pasien menunjukkan pola napas efektif) dan kriteria hasil (frekuensi napas normal, tidak ada retraksi dinding dada, dll.).
- SIKI: Intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi ketidakefektifan pola napas (pemberian oksigen, posisi semifowler, dll.).
Hal serupa dapat dijelaskan untuk diagnosis keperawatan lainnya sesuai dengan kasus yang diberikan. -
Article No. 8591 | 11 Dec 2024
Klinis : akses layanan jauh
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosis keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi dengan akses layanan yang jauh.
Diagnosis Keperawatan:
1. Risiko Kekurangan Volume Cairan Berhubungan dengan Akses Layanan Kesehatan yang Jauh
- Penjelasan: Pasien berisiko mengalami kekurangan volume cairan akibat keterbatasan akses untuk mendapatkan layanan kesehatan yang memadai. Hal ini dapat terjadi karena pasien tidak dapat segera menerima perawatan dan pengobatan yang dibutuhkan.
2. Risiko Infeksi Berhubungan dengan Akses Layanan Kesehatan yang Jauh
- Penjelasan: Pasien berisiko mengalami infeksi akibat keterbatasan akses untuk mendapatkan layanan kesehatan yang tepat. Hal ini dapat terjadi karena pasien tidak dapat segera mendapatkan penanganan dan pengobatan yang sesuai untuk mencegah atau mengatasi infeksi.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
SDKI merupakan panduan yang digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan berdasarkan tanda dan gejala yang ditemukan pada pasien. SDKI mencakup definisi, penyebab, gejala, dan kriteria diagnostik untuk setiap diagnosis keperawatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
SLKI adalah panduan yang digunakan untuk menentukan luaran atau hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan. SLKI mencakup definisi, indikator, dan kriteria hasil yang dapat digunakan untuk mengukur efektivitas intervensi keperawatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
SIKI adalah panduan yang digunakan untuk menentukan intervensi keperawatan yang sesuai dengan diagnosis keperawatan dan luaran yang diharapkan. SIKI mencakup definisi, aktivitas, dan kriteria intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Dalam kondisi dengan akses layanan kesehatan yang jauh, perawat perlu mempertimbangkan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan secara jarak jauh, seperti konsultasi telemedis, pemantauan jarak jauh, dan edukasi kesehatan melalui media elektronik. Selain itu, perawat juga perlu memastikan bahwa pasien memiliki akses dan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi tersebut. -
Article No. 8592 | 11 Dec 2024
Klinis : Pasangan remaja berusia 17 tahun yang masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas bernama Ny. W dan Tn. R, berlatar belakang pendidikan tamat Sekolah Menengah Pertama, mempunyai anak dari hasil pernikahannya bernama An. N berusia kurang dari satu minggu yang sedang dirawat di RS Citra Bayu Semarang, karena mengalami kelainan fisik yang parah dengan gangguan perkembangan. Mereka tinggal satu rumah dengan orang tua Ny. W, yaitu Ny. A berusia 36 tahun dan Tn. D berusia 41 tahun, keluarga ini adalah keluarga yang paham akan agama. Suatu ketika dipagi hari saat sedang sarapan bersama keluarga, Ny. W merasa mual muntah lalu dia berlari ke kamar mandi, kejadian ini tidak hanya terjadi sekali namun sudah terjadi berkali-kali dalam beberapa hari belakangan. Orang tua Ny. W tidak menyimpan rasa curiga hanya menganggap bahwa itu adalah penyakit magh biasa, karena kebetulan Ny. W mempunyai riwayat penyakit magh. Selang tiga minggu setelahnya saat Ny. A sedang membersihkan kamar anaknya, Ny. A justru mendapati tes kehamilan yang bergaris dua ditempat sampah, dengan rasa yang cemas dan panik Ny. A langsung memanggil Tn. D yang sedang membersihkan halaman depan rumahnya, mendengar panggilan istrinya Tn. D langsung menghampiri istrinya yang duduk lemas diruang tamu, dengan keadaan shok Ny. A memperlihatkan tes kehamilan itu kesuaminya dan mencritakan awal mula menemukan tes kehamilan itu. Tidak berselang lama Ny. W pulang dari sekolah dan langsung ditanya banyak hal oleh orang tuanya tentang tes kehamilan itu, dengan keadaan menangis Ny. W lalu menjelaskan dan menceritakan bahwa itu adalah miliknya, dia melakukannya dengan pacarnya yaitu Tn. R, dia juga menceritakan bahwa dia terjerumus ke pergaulan bebas. Ny. W langsung dibawa ke Rumah Sakit untuk memastikan dia hamil atau tidak, ternyata hasilnya adalah Ny. W hamil sudah hampir empat minggu atau satu bulan. Mendapati anaknya hamil orang tua Ny. W tidak terima dan meminta pertanggung jawab an ke keluarga Tn. R, tidak berselang lama acara pernikahan sederhana pun dilakukan. Setelah sembilan bulan akhirnya Ny. W melahirkan anak pertamanya yaitu An. N dan Dokter mendiagnosis bahwa An. N mengalami kelainan fisik dan gangguan perkembangan. Lalu perawat V menyarankan kekeluarga An. N, agar mereferensikan anak ke fisioterapi dan program terapi yang akan membantu anak untuk menjadi lebih mandiri kedepannya, namun keluarga An. N menolak dan mengatakan itu tugas mereka untuk merawat anaknya, keluarga juga menganggap bahwa kondisi anaknya adalah hukuman dari Allah SWT karena telah dikandung sebelum orang tuanya menikah. Perawat V merasa kesal dan merasa bahwa keluarga tidak memberikan hal yang terbaik untuk anaknya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang disampaikan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidaksiapan orang tua mengasuh anak dengan gangguan perkembangan
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Ketidaksiapan orang tua mengasuh anak dengan gangguan perkembangan: Keadaan dimana orang tua tidak memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya yang diperlukan untuk merawat anak dengan gangguan perkembangan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Peningkatan kesiapan orang tua mengasuh anak dengan gangguan perkembangan
- Peningkatan kemampuan orang tua dalam merawat anak dengan gangguan perkembangan
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Edukasi orang tua tentang perawatan anak dengan gangguan perkembangan
- Konseling orang tua untuk menerima kondisi anak
- Fasilitasi akses ke sumber dukungan (fisioterapi, terapi okupasi, dll)
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk perawatan anak
Penjelasan:
Pasangan remaja Ny. W dan Tn. R menghadapi situasi yang sangat sulit dengan kelahiran anak mereka, An. N, yang mengalami kelainan fisik dan gangguan perkembangan. Sebagai orang tua muda, mereka belum siap secara fisik, mental, maupun ekonomi untuk merawat anak dengan kebutuhan khusus. Selain itu, adanya penolakan dari keluarga Ny. W terhadap kondisi anak juga menjadi tantangan tersendiri.
Perawat berperan penting dalam memberikan edukasi, konseling, dan memfasilitasi akses ke sumber dukungan terkait perawatan anak dengan gangguan perkembangan. Tujuannya adalah meningkatkan kesiapan dan kemampuan orang tua dalam merawat An. N secara optimal, sehingga dapat memaksimalkan potensi perkembangannya di masa depan. -
Article No. 8593 | 11 Dec 2024
Klinis : Pasangan remaja berusia 17 tahun yang masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas bernama Ny. W dan Tn. R, berlatar belakang pendidikan tamat Sekolah Menengah Pertama, mempunyai anak dari hasil pernikahannya bernama An. N berusia kurang dari satu minggu yang sedang dirawat di RS Citra Bayu Semarang, karena mengalami kelainan fisik yang parah dengan gangguan perkembangan. Mereka tinggal satu rumah dengan orang tua Ny. W, yaitu Ny. A berusia 36 tahun dan Tn. D berusia 41 tahun, keluarga ini adalah keluarga yang paham akan agama. Suatu ketika dipagi hari saat sedang sarapan bersama keluarga, Ny. W merasa mual muntah lalu dia berlari ke kamar mandi, kejadian ini tidak hanya terjadi sekali namun sudah terjadi berkali-kali dalam beberapa hari belakangan. Orang tua Ny. W tidak menyimpan rasa curiga hanya menganggap bahwa itu adalah penyakit magh biasa, karena kebetulan Ny. W mempunyai riwayat penyakit magh. Selang tiga minggu setelahnya saat Ny. A sedang membersihkan kamar anaknya, Ny. A justru mendapati tes kehamilan yang bergaris dua ditempat sampah, dengan rasa yang cemas dan panik Ny. A langsung memanggil Tn. D yang sedang membersihkan halaman depan rumahnya, mendengar panggilan istrinya Tn. D langsung menghampiri istrinya yang duduk lemas diruang tamu, dengan keadaan shok Ny. A memperlihatkan tes kehamilan itu kesuaminya dan mencritakan awal mula menemukan tes kehamilan itu. Tidak berselang lama Ny. W pulang dari sekolah dan langsung ditanya banyak hal oleh orang tuanya tentang tes kehamilan itu, dengan keadaan menangis Ny. W lalu menjelaskan dan menceritakan bahwa itu adalah miliknya, dia melakukannya dengan pacarnya yaitu Tn. R, dia juga menceritakan bahwa dia terjerumus ke pergaulan bebas. Ny. W langsung dibawa ke Rumah Sakit untuk memastikan dia hamil atau tidak, ternyata hasilnya adalah Ny. W hamil sudah hampir empat minggu atau satu bulan. Mendapati anaknya hamil orang tua Ny. W tidak terima dan meminta pertanggung jawab an ke keluarga Tn. R, tidak berselang lama acara pernikahan sederhana pun dilakukan. Setelah sembilan bulan akhirnya Ny. W melahirkan anak pertamanya yaitu An. N dan Dokter mendiagnosis bahwa An. N mengalami kelainan fisik dan gangguan perkembangan. Lalu perawat V menyarankan kekeluarga An. N, agar mereferensikan anak ke fisioterapi dan program terapi yang akan membantu anak untuk menjadi lebih mandiri kedepannya, namun keluarga An. N menolak dan mengatakan itu tugas mereka untuk merawat anaknya, keluarga juga menganggap bahwa kondisi anaknya adalah hukuman dari Allah SWT karena telah dikandung sebelum orang tuanya menikah. Perawat V merasa kesal dan merasa bahwa keluarga tidak memberikan hal yang terbaik untuk anaknya.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan mempertimbangkan kondisi yang diberikan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan SDKI, Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI), dan Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Koping Keluarga Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan keluarga untuk melakukan tindakan yang sesuai dalam menanggapi masalah atau kebutuhan kesehatan anggota keluarga.
Penyebab: Situasi krisis, kurangnya dukungan sosial, pengalaman keluarga yang tidak menyenangkan, keterampilan pemecahan masalah yang tidak memadai.
2. Risiko Perilaku Seksual Tidak Sehat
Definisi: Risiko terjadinya perilaku seksual yang dapat membahayakan kesehatan fisik, mental, dan sosial.
Penyebab: Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, kurangnya dukungan dan bimbingan orang tua, pengaruh teman sebaya.
3. Resiko Kecemasan
Definisi: Risiko mengalami kekhawatiran yang tidak dapat dijelaskan dan mengurangi kemampuan untuk mengatasi masalah.
Penyebab: Perubahan status kesehatan, krisis perkembangan, pengalaman yang tidak menyenangkan.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Koping Keluarga Efektif
Definisi: Keluarga dapat melakukan tindakan yang sesuai dalam menanggapi masalah atau kebutuhan kesehatan anggota keluarga.
Kriteria Hasil:
- Keluarga mampu mengidentifikasi masalah dan kebutuhan kesehatan anggota keluarga.
- Keluarga dapat memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mengatasi masalah.
- Keluarga mampu membuat rencana dan melaksanakan tindakan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan anggota keluarga.
2. Perilaku Seksual Sehat
Definisi: Perilaku seksual yang tidak membahayakan kesehatan fisik, mental, dan sosial.
Kriteria Hasil:
- Pasangan remaja memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan reproduksi.
- Pasangan remaja memiliki sikap yang positif terhadap perilaku seksual.
- Pasangan remaja dapat mengambil keputusan yang sehat terkait perilaku seksualnya.
3. Tingkat Kecemasan Terkendali
Definisi: Kondisi di mana individu atau keluarga dapat mengelola rasa khawatir yang dialami.
Kriteria Hasil:
- Keluarga dapat mengidentifikasi penyebab kecemasan.
- Keluarga mampu menggunakan strategi koping yang efektif untuk mengurangi kecemasan.
- Keluarga menunjukkan tanda-tanda fisik dan emosional yang terkendali.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Koping Keluarga Tidak Efektif:
- Identifikasi kemampuan dan sumber daya keluarga dalam mengatasi masalah.
- Berikan edukasi tentang peran dan tanggung jawab anggota keluarga dalam perawatan anak.
- Fasilitasi diskusi keluarga untuk mengidentifikasi masalah dan merumuskan rencana tindakan.
- Bimbing keluarga dalam menggunakan strategi koping yang efektif.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (fisioterapis, psikolog, dll.) untuk memberikan intervensi yang sesuai.
2. Risiko Perilaku Seksual Tidak Sehat:
- Berikan edukasi tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual yang sehat.
- Fasilitasi diskusi dengan pasangan remaja untuk membahas nilai-nilai dan harapan terkait perilaku seksual.
- Kolaborasi dengan konselor/konselor sebaya untuk memberikan bimbingan dan konseling.
- Dorong pasangan remaja untuk mengambil keputusan yang sehat terkait perilaku seksualnya.
3. Risiko Kecemasan:
- Identifikasi penyebab dan tanda-tanda kecemasan pada keluarga.
- Berikan edukasi tentang strategi koping untuk mengurangi kecemasan.
- Fasilitasi keluarga dalam mengembangkan rencana tindakan untuk mengatasi kecemasan.
- Bantu keluarga untuk mengakses dukungan sosial yang sesuai.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan mental (psikolog, psikiater) untuk intervensi yang lebih komprehensif.
Dengan pendekatan holistik dan berpusat pada keluarga, diharapkan asuhan keperawatan yang diberikan dapat membantu keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi, sehingga tercapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 8594 | 11 Dec 2024
Klinis : Pasangan remaja berusia 17 tahun yang masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas bernama Ny. W dan Tn. R, berlatar belakang pendidikan tamat Sekolah Menengah Pertama, mempunyai anak dari hasil pernikahannya bernama An. N berusia kurang dari satu minggu yang sedang dirawat di RS Citra Bayu Semarang, karena mengalami kelainan fisik yang parah dengan gangguan perkembangan. Mereka tinggal satu rumah dengan orang tua Ny. W, yaitu Ny. A berusia 36 tahun dan Tn. D berusia 41 tahun, keluarga ini adalah keluarga yang paham akan agama. Suatu ketika dipagi hari saat sedang sarapan bersama keluarga, Ny. W merasa mual muntah lalu dia berlari ke kamar mandi, kejadian ini tidak hanya terjadi sekali namun sudah terjadi berkali-kali dalam beberapa hari belakangan. Orang tua Ny. W tidak menyimpan rasa curiga hanya menganggap bahwa itu adalah penyakit magh biasa, karena kebetulan Ny. W mempunyai riwayat penyakit magh. Selang tiga minggu setelahnya saat Ny. A sedang membersihkan kamar anaknya, Ny. A justru mendapati tes kehamilan yang bergaris dua ditempat sampah, dengan rasa yang cemas dan panik Ny. A langsung memanggil Tn. D yang sedang membersihkan halaman depan rumahnya, mendengar panggilan istrinya Tn. D langsung menghampiri istrinya yang duduk lemas diruang tamu, dengan keadaan shok Ny. A memperlihatkan tes kehamilan itu kesuaminya dan mencritakan awal mula menemukan tes kehamilan itu. Tidak berselang lama Ny. W pulang dari sekolah dan langsung ditanya banyak hal oleh orang tuanya tentang tes kehamilan itu, dengan keadaan menangis Ny. W lalu menjelaskan dan menceritakan bahwa itu adalah miliknya, dia melakukannya dengan pacarnya yaitu Tn. R, dia juga menceritakan bahwa dia terjerumus ke pergaulan bebas. Ny. W langsung dibawa ke Rumah Sakit untuk memastikan dia hamil atau tidak, ternyata hasilnya adalah Ny. W hamil sudah hampir empat minggu atau satu bulan. Mendapati anaknya hamil orang tua Ny. W tidak terima dan meminta pertanggung jawab an ke keluarga Tn. R, tidak berselang lama acara pernikahan sederhana pun dilakukan. Setelah sembilan bulan akhirnya Ny. W melahirkan anak pertamanya yaitu An. N dan Dokter mendiagnosis bahwa An. N mengalami kelainan fisik dan gangguan perkembangan. Lalu perawat V menyarankan kekeluarga An. N, agar mereferensikan anak ke fisioterapi dan program terapi yang akan membantu anak untuk menjadi lebih mandiri kedepannya, namun keluarga An. N menolak dan mengatakan itu tugas mereka untuk merawat anaknya, keluarga juga menganggap bahwa kondisi anaknya adalah hukuman dari Allah SWT karena telah dikandung sebelum orang tuanya menikah. Perawat V merasa kesal dan merasa bahwa keluarga tidak memberikan hal yang terbaik untuk anaknya.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Ketidaksiapan orang tua (SDKI)
- Definisi: Kurangnya kesiapan orang tua untuk mengasuh dan memberikan perawatan pada anak.
- Faktor Berhubungan: Pernikahan dini, kehamilan remaja, kurangnya pengetahuan dan dukungan keluarga.
2. Distress keluarga (SDKI)
- Definisi: Pengalaman yang menekan atau membebani anggota keluarga, yang dapat mengganggu fungsi dan proses keluarga.
- Faktor Berhubungan: Anak dengan kondisi kesehatan yang kompleks, masalah pernikahan dini, konflik keluarga.
3. Koping keluarga terganggu (SDKI)
- Definisi: Kemampuan keluarga yang tidak efektif dalam beradaptasi dan mengelola stresor.
- Faktor Berhubungan: Masalah komunikasi, kurangnya dukungan sosial, kondisi kesehatan anak yang kompleks.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Kesiapan orang tua
- Definisi: Kemampuan orang tua untuk mengasuh dan memberikan perawatan pada anak.
- Kriteria Hasil:
- Orang tua menunjukkan pemahaman tentang tugas perkembangan anak.
- Orang tua menunjukkan kemampuan dalam merawat anak.
- Orang tua menunjukkan minat dan partisipasi dalam perawatan anak.
2. Fungsi keluarga
- Definisi: Kemampuan keluarga dalam menjalankan peran dan tugas keluarga secara efektif.
- Kriteria Hasil:
- Keluarga menunjukkan komunikasi yang efektif.
- Keluarga menunjukkan kemampuan dalam menyelesaikan masalah.
- Keluarga menunjukkan dukungan emosional yang memadai.
3. Koping keluarga efektif
- Definisi: Kemampuan keluarga dalam beradaptasi dan mengelola stresor secara efektif.
- Kriteria Hasil:
- Keluarga menunjukkan kemampuan dalam mengatasi stres.
- Keluarga menunjukkan kemampuan dalam mengambil keputusan.
- Keluarga menunjukkan kemampuan dalam mencari dan menerima dukungan.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
1. Edukasi Orang Tua
- Tujuan: Membantu orang tua meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam merawat anak.
- Aktivitas:
- Memberikan informasi tentang tahap perkembangan anak.
- Mengajarkan teknik perawatan anak.
- Mendiskusikan harapan dan peran orang tua dalam perawatan anak.
2. Konseling Keluarga
- Tujuan: Membantu keluarga mengatasi masalah dan meningkatkan fungsi keluarga.
- Aktivitas:
- Mengidentifikasi masalah dan sumber daya keluarga.
- Memfasilitasi komunikasi efektif antar anggota keluarga.
- Membantu keluarga dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.
3. Terapi Kognitif-Perilaku Keluarga
- Tujuan: Membantu keluarga mengembangkan strategi koping yang efektif.
- Aktivitas:
- Mengidentifikasi pola pikir dan perilaku maladaptif dalam keluarga.
- Membantu keluarga mengembangkan kemampuan pemecahan masalah.
- Mendorong keluarga untuk mencari dan menerima dukungan sosial.
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan kolaboratif, diharapkan dapat membantu keluarga dalam meningkatkan kesiapan orang tua, fungsi keluarga, dan koping keluarga yang efektif, sehingga dapat memberikan perawatan terbaik bagi anak dengan kondisi kesehatan yang kompleks.