Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 8778 | 12 Dec 2024
Klinis : Seorang perempuan berusia 23 tahun dengan cedera sengatan listrik dirujuk ke RS pusat luka bakar. Pasien tidak memiliki riwayat medis apapun. Saat kejadian, pasien sedang memegang pengisian daya smartphone di tangan kanannya saat akan mandi di bath tub. Tidak sengaja pasien tersengat listrik. Setelah mendengar teriakan keras, ibu dari pasien memutuskan listrik dari meteran listrik dan segera membawa putrinya keluar dari kamar mandi.Menurut sang ibu, pasien langsung tidak sadar dan menunjukkan kontraksi otot seperti kejang. Seorang tetangga yang mendengar teriakan segera datang dan membantu ibu pasien melakukan RJP pada pasien. Setelah itu pasien menjadi responsif lagi. Pasien langsung dibawa ke RS.Setelah penanganan di UGD, pasien dirawat di ruang HCU. Pemeriksaan fisik lebih lanjut menunjukkan dua luka bakar yang dalam: (1) lesi berbentuk oval yang dibatasi sekitar 1 × 1 cm, dengan zona tengah pucat di sisi palmar tangan antara ibu jari dan jari telunjuk, dan (2) stripe Laserasi -berbentuk kulit sekitar 1 × 12 cm, di perut, dekat daerah epigastrik, dikelilingi oleh zona hiperemia. Total luas permukaan tubuh pasien yang dibakar kurang dari 0,5%. Pemeriksaan darah: Level serum kreatinin kinase (CK) pasien adalah 1294 U/L (sangat meningkat). Tidak ada kelainan yang terlihat pada elektrokardiogram. Pasien dirawat di bangsal perawatan luka bakar untuk observasi dan survei tersier. Sehari setelah masuk, level CK -nya sedikit meningkat menjadi 1400 U/L. Urinnya diuji untuk mioglobinuria tetapi tidak menunjukkan tanda -tanda rhabdomyolysis. Selain itu, pasien tidak memiliki keluhan atau kelainan lain pada survei tersier dan karena itu pasien dipulangkan pada hari ke-2 paska luka bakar. Karena amnesia, pasien gagal memberikan rekonstruksi rinci tentang cedera. Kekakuan otot, keparahan luka bakar, dan pembusukan otot (peningkatan level CK) menunjukkan bahwa pasien terkena arus listrik. Mungkin tangan pasien tidak sengaja menyentuh bagian logam dari pengisi daya sehingga terjadi konduktansi langsung antara tangan pasien dengan sumber listrik. Atau kemungkinan ada arus mengalir di sisi luar kabel pengisian, sementara tangan pasien lembab akibat mandi. Awalnya, luka bakar diperlakukan secara konservatif dengan krim silver sulfadiazin, yang diubah menjadi krim asam fusida setelah 1 minggu. Perawatan ini memadai untuk luka terbakar di tangan dan menunjukkan penyembuhan. Namun, setelah 21 hari, luka bakar di perut perut tidak cukup menunjukkan penyembuhan. Oleh karena itu, dilakukan reseksi bedah dan transposisi kulit dilakukan dilakukan. Ini mengakibatkan penyembuhan yang memuaskan dengan hanya sedikit bekas luka.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi seorang perempuan berusia 23 tahun dengan cedera sengatan listrik:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Kerusakan Integritas Kulit (SDKI)
Definisi: Rentan terhadap perubahan epidermis dan/atau dermis yang dapat mengganggu fungsi kulit sebagai pelindung.
Etiologi: Sengatan listrik, luka bakar.
2. Risiko Gangguan Perfusi Jaringan (SDKI)
Definisi: Rentan terhadap penurunan sirkulasi darah ke jaringan tubuh yang dapat mengancam kesehatan.
Etiologi: Sengatan listrik, luka bakar.
3. Risiko Gangguan Metabolisme (SDKI)
Definisi: Rentan terhadap perubahan proses kimiawi dalam tubuh yang dapat mengganggu pertumbuhan, perbaikan, dan pemeliharaan sel.
Etiologi: Peningkatan enzim kreatinin kinase (CK) akibat sengatan listrik.
Rencana Keperawatan (SLKI):
1. Perawatan Luka Bakar (SIKI)
Intervensi: Pembersihan luka, aplikasi salep/krim, dan perawatan luka bakar.
2. Manajemen Risiko (SIKI)
Intervensi: Identifikasi faktor risiko, intervensi untuk mencegah komplikasi, dan monitoring kesehatan pasien.
3. Manajemen Cairan (SIKI)
Intervensi: Pemantauan intake dan output cairan, serta status hidrasi pasien.
Implementasi Keperawatan (SIKI):
1. Melakukan perawatan luka bakar dengan pembersihan, aplikasi salep/krim, dan penggantian balutan secara teratur.
2. Memantau tanda-tanda vital, status perfusi, dan gejala gangguan metabolisme seperti peningkatan enzim CK.
3. Mengevaluasi intake dan output cairan pasien, serta mempertahankan status hidrasi yang optimal.
4. Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai perawatan luka bakar, pencegahan komplikasi, dan tanda-tanda perburukan kondisi.
Dalam kasus ini, manajemen keperawatan yang komprehensif diperlukan untuk mengatasi risiko kerusakan integritas kulit, gangguan perfusi jaringan, dan gangguan metabolisme akibat cedera sengatan listrik. Perawatan luka bakar, manajemen risiko, dan manajemen cairan menjadi fokus utama dalam asuhan keperawatan pasien. -
Article No. 8779 | 12 Dec 2024
Klinis : Seorang perempuan berusia 23 tahun dengan cedera sengatan listrik dirujuk ke RS pusat luka bakar. Pasien tidak memiliki riwayat medis apapun. Saat kejadian, pasien sedang memegang pengisian daya smartphone di tangan kanannya saat akan mandi di bath tub. Tidak sengaja pasien tersengat listrik. Setelah mendengar teriakan keras, ibu dari pasien memutuskan listrik dari meteran listrik dan segera membawa putrinya keluar dari kamar mandi.Menurut sang ibu, pasien langsung tidak sadar dan menunjukkan kontraksi otot seperti kejang. Seorang tetangga yang mendengar teriakan segera datang dan membantu ibu pasien melakukan RJP pada pasien. Setelah itu pasien menjadi responsif lagi. Pasien langsung dibawa ke RS.Setelah penanganan di UGD, pasien dirawat di ruang HCU. Pemeriksaan fisik lebih lanjut menunjukkan dua luka bakar yang dalam: (1) lesi berbentuk oval yang dibatasi sekitar 1 × 1 cm, dengan zona tengah pucat di sisi palmar tangan antara ibu jari dan jari telunjuk, dan (2) stripe Laserasi -berbentuk kulit sekitar 1 × 12 cm, di perut, dekat daerah epigastrik, dikelilingi oleh zona hiperemia. Total luas permukaan tubuh pasien yang dibakar kurang dari 0,5%. Pemeriksaan darah: Level serum kreatinin kinase (CK) pasien adalah 1294 U/L (sangat meningkat). Tidak ada kelainan yang terlihat pada elektrokardiogram. Pasien dirawat di bangsal perawatan luka bakar untuk observasi dan survei tersier. Sehari setelah masuk, level CK -nya sedikit meningkat menjadi 1400 U/L. Urinnya diuji untuk mioglobinuria tetapi tidak menunjukkan tanda -tanda rhabdomyolysis. Selain itu, pasien tidak memiliki keluhan atau kelainan lain pada survei tersier dan karena itu pasien dipulangkan pada hari ke-2 paska luka bakar. Karena amnesia, pasien gagal memberikan rekonstruksi rinci tentang cedera. Kekakuan otot, keparahan luka bakar, dan pembusukan otot (peningkatan level CK) menunjukkan bahwa pasien terkena arus listrik. Mungkin tangan pasien tidak sengaja menyentuh bagian logam dari pengisi daya sehingga terjadi konduktansi langsung antara tangan pasien dengan sumber listrik. Atau kemungkinan ada arus mengalir di sisi luar kabel pengisian, sementara tangan pasien lembab akibat mandi. Awalnya, luka bakar diperlakukan secara konservatif dengan krim silver sulfadiazin, yang diubah menjadi krim asam fusida setelah 1 minggu. Perawatan ini memadai untuk luka terbakar di tangan dan menunjukkan penyembuhan. Namun, setelah 21 hari, luka bakar di perut perut tidak cukup menunjukkan penyembuhan. Oleh karena itu, dilakukan reseksi bedah dan transposisi kulit dilakukan dilakukan. Ini mengakibatkan penyembuhan yang memuaskan dengan hanya sedikit bekas luka.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah analisis diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Risiko Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan cedera sengatan listrik
Penjelasan: Pasien mengalami cedera sengatan listrik yang menyebabkan luka bakar pada tangan dan perut. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya kerusakan pada integritas kulit.
2. Risiko Ketidakseimbangan Cairan berhubungan dengan cedera sengatan listrik
Penjelasan: Cedera sengatan listrik dapat menyebabkan gangguan keseimbangan cairan tubuh, seperti rhabdomyolisis yang ditandai dengan peningkatan kadar kreatinin kinase (CK) dalam darah.
3. Risiko Gangguan Perfusi Jaringan berhubungan dengan cedera sengatan listrik
Penjelasan: Cedera sengatan listrik dapat menyebabkan gangguan pada perfusi jaringan, seperti kontraksi otot yang terjadi saat pasien mengalami kejang.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Integritas Kulit: Luka Bakar
- Indikator: Luas luka, Kedalaman luka, Tanda-tanda infeksi, Penyembuhan luka
- Tujuan: Luka bakar membaik dan sembuh tanpa komplikasi.
2. Status Cairan
- Indikator: Intake dan output cairan, Kadar elektrolit, Berat badan
- Tujuan: Tercapai keseimbangan cairan yang adekuat.
3. Perfusi Jaringan: Perifer
- Indikator: Tekanan darah, Denyut nadi, Kapiler refill, Suhu ekstremitas
- Tujuan: Perfusi jaringan perifer membaik.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Luka Bakar
- Pengkajian luka bakar
- Perawatan luka bakar (debridemen, aplikasi salep, penutupan luka)
- Pencegahan komplikasi luka bakar (infeksi, kehilangan cairan, dll.)
2. Manajemen Cairan
- Pemantauan intake dan output cairan
- Pemberian cairan intravena sesuai kebutuhan
- Pemantauan elektrolit dan parameter laboratorium
3. Manajemen Perfusi
- Pemantauan tanda-tanda vital
- Pemberian oksigen sesuai indikasi
- Terapi farmakologis untuk memfasilitasi perfusi (vasopressor, dll.)
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan yang dirumuskan berdasarkan kondisi pasien meliputi risiko kerusakan integritas kulit, risiko ketidakseimbangan cairan, dan risiko gangguan perfusi jaringan, semuanya berhubungan dengan cedera sengatan listrik yang dialami pasien. Luaran/output yang diharapkan adalah perbaikan integritas kulit, keseimbangan cairan yang adekuat, dan peningkatan perfusi jaringan perifer. Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup manajemen luka bakar, manajemen cairan, dan manajemen perfusi, dengan tindakan-tindakan spesifik untuk mencapai tujuan yang diharapkan. -
Article No. 8780 | 12 Dec 2024
Klinis : pasien mengalami mual, pusing, lemas, dibantu untuk mobilitas, tidak nafsu makan, kepala cenut cenut, pegel,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Mual
2. Pusing
3. Fatigue
Penjelasan singkat:
1. Mual
- SDKI: Mual adalah sensasi tidak nyaman di perut yang dapat menyebabkan keinginan untuk muntah.
- SLKI: Kontrol Mual, yaitu kemampuan untuk mengendalikan atau mengurangi mual.
- SIKI: Manajemen Mual, yaitu intervensi untuk membantu pasien mengendalikan atau mengurangi mual.
2. Pusing
- SDKI: Pusing adalah sensasi tidak stabil atau berputar pada kepala yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan.
- SLKI: Kontrol Pusing, yaitu kemampuan untuk mengendalikan atau mengurangi pusing.
- SIKI: Manajemen Pusing, yaitu intervensi untuk membantu pasien mengendalikan atau mengurangi pusing.
3. Fatigue
- SDKI: Fatigue adalah sensasi kelelahan fisik, emosional, dan/atau kognitif yang berkelanjutan dan memengaruhi kemampuan untuk berfungsi secara normal.
- SLKI: Toleransi Aktivitas, yaitu kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan yang berlebihan.
- SIKI: Manajemen Energi, yaitu intervensi untuk membantu pasien mengatur energi dan mencegah kelelahan.
Dengan demikian, berdasarkan kondisi pasien yang Anda deskripsikan, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Mual, Pusing, dan Fatigue. Saya telah memberikan penjelasan singkat mengenai masing-masing diagnosa keperawatan tersebut sesuai dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia. -
Article No. 8781 | 12 Dec 2024
Klinis : pasien mengalami mual, pusing, lemas, dibantu untuk mobilitas, tidak nafsu makan, kepala cenut cenut, pegal, riwayat penyakit DM
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Selamat siang. Sebagai perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda paparkan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan penurunan energi, ditandai dengan pasien membutuhkan bantuan untuk mobilitas, lemas, dan pegal-pegal.
2. Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan anoreksia, ditandai dengan pasien tidak nafsu makan.
3. Nyeri Kepala berhubungan dengan kondisi medis, ditandai dengan pasien mengalami pusing dan kepala cenut-cenut.
4. Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah berhubungan dengan Diabetes Mellitus, ditandai dengan pasien mengalami mual.
Penjelasan Singkat:
1. Intoleransi Aktivitas:
- SDKI: Keterbatasan pada kemampuan melakukan atau menyelesaikan aktivitas harian yang diinginkan atau dibutuhkan secara mandiri.
- SLKI: Membantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan kemampuannya.
- SIKI: Intervensi keperawatan untuk memfasilitasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri sesuai dengan kemampuannya.
2. Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
- SDKI: Asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- SLKI: Membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan nutrisi sesuai dengan kondisinya.
- SIKI: Intervensi keperawatan untuk memfasilitasi pasien dalam memenuhi kebutuhan nutrisi.
3. Nyeri Kepala:
- SDKI: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan aktual atau potensial di kepala.
- SLKI: Membantu pasien dalam mengelola nyeri kepala sesuai dengan kondisinya.
- SIKI: Intervensi keperawatan untuk memfasilitasi pasien dalam mengelola nyeri kepala.
4. Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah:
- SDKI: Variasi kadar glukosa darah di luar rentang normal.
- SLKI: Membantu pasien dalam memantau dan menjaga stabilitas kadar glukosa darah sesuai dengan kondisinya.
- SIKI: Intervensi keperawatan untuk memfasilitasi pasien dalam memantau dan menjaga stabilitas kadar glukosa darah.
Sebagai perawat, saya akan melakukan pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi keperawatan yang berpedoman pada SDKI, SLKI, dan SIKI untuk mengatasi kondisi pasien secara komprehensif. Saya akan bekerja sama dengan tim kesehatan lainnya untuk memastikan pasien mendapatkan perawatan yang optimal. -
Article No. 8782 | 12 Dec 2024
Klinis : Seorang wanita berusia 37 tahun dengan berat badan 130 kg masuk ke ruang ICU dengan sesak napas, Post SCTP Cito Ai Preeklampsia berat, Desaturasi ec asma attack, Edema paru dan Obesitas morbid. Pasien memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan obesitas. Tekanan darah tinggi diketahui sejak usia kehamilan 1 bulan dan rutin mengonsumsi obat anti hipertensi (metildopa). Saat ini pasien terintubasi, kesadaran composmentis, komunikasi terbatas, tidak ada keluhan pusing, nyeri, pandangan kabur, mual dan muntah. Sebelumnya pasien mengatakan merasa sesak napas jika tidur telentang. Pasien terpasang NGT dengan residu 20 cc. Pasien terpasang DC urine dengan produksi urin 3100 cc berwarna kuning jernih. Pasien juga terpasang CVC pada v. subclavila dextra. Keadaan umum pasien saat ini tampak lemah, kesadaran composmentis terpasang ETT pada Ventilator mekanik dengan mode PC BIPAP RR: 10, PEEP 24, PIP 15, PS 14 Fio2 85%, pasien terpasang infus perifer Ringer Laktat 20cc/jam, pasien terpasang syringe pump NTG 3 mg/jam. Furosemide 10 mg/jam, dan morfin 0,5 mg/jam. Status hemodinamik saat ini TD : 115/69 (MAP 98) on NTG, HR : 98x/menit, RR : 18x/menit, Suhu : 37,2 C, SpO2 100%. Hasil Lab BGA meliputi pH 7,510, pC02 38,9. PO2 162,1, Calculated temp 38,1, FIO2 80, pH(T) 7,493, PCO2(T) 41,7, PO2(T) 168,6, HCO3- 31,1, TCO2 32,3, BEecf 8, BE(B) 7,5, SO2c 99,2, A-aDO2 352,1, RI 2,1
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat disusun beberapa diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Pola Napas Berhubungan dengan Obstruksi Jalan Napas Sekunder Edema Paru dan Asma.
- SDKI: Pola Napas Tidak Efektif
- SLKI: Pemantauan Respirasi
- SIKI: Manajemen Jalan Napas
2. Diagnosa Keperawatan: Intoleransi Aktivitas Berhubungan dengan Penurunan Kekuatan Otot Sekunder Obesitas Morbid.
- SDKI: Intoleransi Aktivitas
- SLKI: Peningkatan Toleransi Aktivitas
- SIKI: Manajemen Aktivitas
3. Diagnosa Keperawatan: Kelebihan Volume Cairan Berhubungan dengan Gangguan Mekanisme Regulasi Cairan Sekunder Preeklampsia Berat.
- SDKI: Kelebihan Volume Cairan
- SLKI: Keseimbangan Cairan
- SIKI: Manajemen Cairan
4. Diagnosa Keperawatan: Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Berhubungan dengan Penurunan Curah Jantung Sekunder Obesitas Morbid.
- SDKI: Perfusi Perifer Tidak Efektif
- SLKI: Pemantauan Sirkulasi
- SIKI: Manajemen Sirkulasi
5. Diagnosa Keperawatan: Risiko Kerusakan Integritas Kulit Berhubungan dengan Penurunan Mobilitas Sekunder Obesitas Morbid.
- SDKI: Risiko Kerusakan Integritas Kulit
- SLKI: Peningkatan Integritas Kulit
- SIKI: Perawatan Kulit
Penjelasan singkat:
1. Gangguan Pola Napas Berhubungan dengan Obstruksi Jalan Napas Sekunder Edema Paru dan Asma: Pasien mengalami sesak napas, desaturasi, dan membutuhkan bantuan ventilator mekanik akibat edema paru dan asma.
2. Intoleransi Aktivitas Berhubungan dengan Penurunan Kekuatan Otot Sekunder Obesitas Morbid: Pasien mengalami kelemahan umum akibat obesitas morbid yang menyebabkan penurunan kekuatan otot.
3. Kelebihan Volume Cairan Berhubungan dengan Gangguan Mekanisme Regulasi Cairan Sekunder Preeklampsia Berat: Pasien mengalami kelebihan cairan akibat gangguan regulasi cairan yang disebabkan oleh preeklampsia berat.
4. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Berhubungan dengan Penurunan Curah Jantung Sekunder Obesitas Morbid: Pasien mengalami penurunan perfusi jaringan akibat penurunan curah jantung yang disebabkan oleh obesitas morbid.
5. Risiko Kerusakan Integritas Kulit Berhubungan dengan Penurunan Mobilitas Sekunder Obesitas Morbid: Pasien berisiko mengalami kerusakan integritas kulit akibat penurunan mobilitas yang disebabkan oleh obesitas morbid. -
Article No. 8783 | 12 Dec 2024
Klinis : Seorang wanita berusia 37 tahun dengan berat badan 130 kg masuk ke ruang ICU dengan sesak napas, Post SCTP Cito Ai Preeklampsia berat, Desaturasi ec asma attack, Edema paru dan Obesitas morbid. Pasien memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan obesitas. Tekanan darah tinggi diketahui sejak usia kehamilan 1 bulan dan rutin mengonsumsi obat anti hipertensi (metildopa). Saat ini pasien terintubasi, kesadaran composmentis, komunikasi terbatas, tidak ada keluhan pusing, nyeri, pandangan kabur, mual dan muntah. Sebelumnya pasien mengatakan merasa sesak napas jika tidur telentang. Pasien terpasang NGT dengan residu 20 cc. Pasien terpasang DC urine dengan produksi urin 3100 cc berwarna kuning jernih. Pasien juga terpasang CVC pada v. subclavila dextra. Keadaan umum pasien saat ini tampak lemah, kesadaran composmentis terpasang ETT pada Ventilator mekanik dengan mode PC BIPAP RR: 10, PEEP 24, PIP 15, PS 14 Fio2 85%, pasien terpasang infus perifer Ringer Laktat 20cc/jam, pasien terpasang syringe pump NTG 3 mg/jam. Furosemide 10 mg/jam, dan morfin 0,5 mg/jam. Status hemodinamik saat ini TD : 115/69 (MAP 98) on NTG, HR : 98x/menit, RR : 18x/menit, Suhu : 37,2 C, SpO2 100%. Hasil Lab BGA meliputi pH 7,510, pC02 38,9. PO2 162,1, Calculated temp 38,1, FIO2 80, pH(T) 7,493, PCO2(T) 41,7, PO2(T) 168,6, HCO3- 31,1, TCO2 32,3, BEecf 8, BE(B) 7,5, SO2c 99,2, A-aDO2 352,1, RI 2,1
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan analisa dan rekomendasi yang rinci untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Pola Napas Tidak Efektif
Berhubungan dengan obstruksi jalan napas, kelebihan cairan, dan kelemahan otot pernapasan yang terkait dengan obesitas morbid, edema paru, dan asma.
2. Kelebihan Volume Cairan
Berhubungan dengan retensi cairan sekunder akibat preeklampsia berat dan gagal jantung.
3. Intoleransi Aktivitas
Berhubungan dengan penurunan kapasitas fungsional, kelemahan, dan kelelahan yang terkait dengan obesitas morbid, edema paru, dan asma.
4. Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif
Berhubungan dengan perubahan hemodinamik dan hipoksia yang terkait dengan edema paru dan asma.
5. Risiko Infeksi
Berhubungan dengan prosedur invasif (intubasi, CVC, DC) dan kondisi imunokompromais akibat stres.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Pola Napas Efektif
Kriteria hasil: Frekuensi napas dalam rentang normal, tidak ada tanda-tanda distres pernapasan, oksigenasi adekuat (SpO2 ≥ 95%).
2. Keseimbangan Cairan
Kriteria hasil: Berat badan stabil, edema minimal, produksi urin dalam rentang normal, tidak ada tanda-tanda kelebihan cairan.
3. Toleransi Aktivitas Meningkat
Kriteria hasil: Pasien dapat berpartisipasi dalam perawatan diri dengan bantuan minimal, tidak ada tanda-tanda kelelahan yang berlebihan.
4. Perfusi Jaringan Serebral Efektif
Kriteria hasil: Fungsi kognitif membaik, tidak ada tanda-tanda hipoksia serebral.
5. Bebas Infeksi
Kriteria hasil: Tidak ada tanda-tanda infeksi, hasil kultur negatif, dan tidak ada peningkatan tanda vital.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Pola Napas Tidak Efektif:
a. Monitor respirasi dan oksigenasi (SpO2, ABG)
b. Atur posisi semi-fowler atau elevasi kepala untuk memfasilitasi ventilasi
c. Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan
d. Kolaborasi pemberian bronkodilator, kortikosteroid, dan diuretik
e. Lakukan fisioterapi dada dan latihan pernapasan
f. Pantau tanda-tanda distres pernapasan
2. Kelebihan Volume Cairan:
a. Monitor masukan dan pengeluaran cairan
b. Kolaborasi pemberian diuretik dan vasodilator
c. Batasi asupan cairan dan natrium
d. Pantau tanda-tanda overload cairan (edema, berat badan, JVP)
e. Kolaborasi dengan tim medis untuk manajemen cairan
3. Intoleransi Aktivitas:
a. Evaluasi kapasitas fungsional pasien
b. Anjurkan aktivitas bertahap sesuai toleransi
c. Berikan bantuan dalam perawatan diri jika diperlukan
d. Kolaborasi pemberian terapi oksigen dan bronkodilator
e. Pantau tanda-tanda kelelahan dan dukung istirahat yang cukup
4. Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif:
a. Monitor status hemodinamik (TD, HR, MAP)
b. Kolaborasi pemberian vasoaktif dan antikoagulan
c. Atur posisi semi-fowler untuk meningkatkan aliran darah serebral
d. Pantau tanda-tanda hipoksia serebral (penurunan kesadaran, tremor)
5. Risiko Infeksi:
a. Terapkan prosedur aseptik saat perawatan invasif
b. Monitor tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, hasil kultur)
c. Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis
d. Edukasi pasien dan keluarga tentang pencegahan infeksi
Penjelasan yang lebih rinci dapat diberikan jika diperlukan. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda. -
Article No. 8784 | 12 Dec 2024
Klinis : Buatkan saya SDKI (Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standart Luaran keperawatan Indonesia) dan SIKI (Standart Intervensi Keperawatan Indonesia) kasus pasien ini : Pasien datang ke UGD tgl 12/12/2024 pkl 14.30 wita dengn keluhan lemas sejak sekitar 1 minggu yang lalu dan memberat saat ini. Lemas dikatakan di seluruh tubuh. Makan dan minum dikatakan masih biasa, BAK dan BAB dikatakan masih normal GCS: 15, Tekanan darah : 80/0 mmHg, Nadi : 70 x/mnt, Suhu : 36 C, RR : 20 x/mnt, Saturasi O2: 98% Hb : 8,4 Natrium : 127 WBC : 14,92
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang Anda berikan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan, SDKI, SLKI, dan SIKI yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan:
Penurunan Volume Cairan
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Penurunan Volume Cairan
Definisi: Pengurangan cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraseluler.
Penyebab: Kehilangan cairan yang berlebihan (misalnya, diare, muntah, perdarahan, demam tinggi), intake cairan yang tidak adekuat.
Gejala dan Tanda: Lemas, takikardi, hipotensi, mukosa kering, turgor kulit menurun, oliguria.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Keseimbangan Cairan
2. Perfusi Jaringan
3. Hemodinamik
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Cairan
2. Pemantauan Tanda-tanda Vital
3. Manajemen Perubahan Hemodinamik
Penjelasan Singkat:
- Penurunan Volume Cairan adalah kondisi di mana terjadi pengurangan cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraseluler, yang dapat disebabkan oleh kehilangan cairan yang berlebihan atau intake cairan yang tidak adekuat.
- SDKI mencakup definisi, penyebab, serta gejala dan tanda dari Penurunan Volume Cairan.
- SLKI mencakup luaran yang diharapkan, seperti Keseimbangan Cairan, Perfusi Jaringan, dan Hemodinamik.
- SIKI mencakup intervensi keperawatan yang dapat dilakukan, seperti Manajemen Cairan, Pemantauan Tanda-tanda Vital, dan Manajemen Perubahan Hemodinamik. -
Article No. 8785 | 12 Dec 2024
Klinis : Buatkan saya SDKI (Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standart Luaran keperawatan Indonesia) dan SIKI (Standart Intervensi Keperawatan Indonesia) kasus pasien ini : Pasien datang ke UGD tgl 12/12/2024 pkl 14.30 wita dengn keluhan lemas sejak sekitar 1 minggu yang lalu dan memberat saat ini. Lemas dikatakan di seluruh tubuh. Makan dan minum dikatakan masih biasa, BAK dan BAB dikatakan masih normal GCS: 15, Tekanan darah : 80/0 mmHg, Nadi : 70 x/mnt, Suhu : 36 C, RR : 20 x/mnt, Saturasi O2: 98% Hb : 8,4 Natrium : 127 WBC : 14,92
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- Faktor yang Berhubungan: Anoreksia, makan tidak adekuat.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Keseimbangan Cairan
- Indikator:
1. Mempertahankan Volume Cairan Tubuh dalam Batas Normal
2. Mempertahankan Elektrolit dalam Batas Normal
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Cairan
- Intervensi:
1. Monitor intake dan output cairan
2. Monitor tanda-tanda vital (Tekanan darah, nadi, respirasi, suhu)
3. Monitor kadar elektrolit (natrium, kalium, klorida)
4. Berikan cairan infus sesuai kebutuhan
5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan dan elektrolit
2. Manajemen Nutrisi
- Intervensi:
1. Kaji status nutrisi pasien
2. Berikan makanan dan minuman sesuai kebutuhan
3. Monitor asupan makanan dan minuman
4. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penentuan diet
Penjelasan:
Pasien datang dengan keluhan lemas yang memberat sejak 1 minggu terakhir. Hasil pemeriksaan menunjukkan tanda-tanda ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, yaitu tekanan darah rendah, kadar natrium rendah, serta penurunan kadar hemoglobin. Hal ini mengindikasikan adanya ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
Tujuan asuhan keperawatan adalah untuk mempertahankan volume cairan tubuh dan elektrolit dalam batas normal. Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi manajemen cairan (monitor intake-output, tanda vital, elektrolit) dan manajemen nutrisi (kaji status nutrisi, berikan asupan sesuai kebutuhan, monitor asupan).
Dengan intervensi yang tepat, diharapkan pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, serta mencukupi kebutuhan nutrisinya sehingga dapat mengatasi kondisi lemas yang dialami. -
Article No. 8786 | 12 Dec 2024
Klinis : Buatkan saya SDKI (Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standart Luaran keperawatan Indonesia) dan SIKI (Standart Intervensi Keperawatan Indonesia) kasus pasien ini : Pasien datang ke UGD tgl 12/12/2024 pkl 14.30 wita dengn keluhan lemas sejak sekitar 1 minggu yang lalu dan memberat saat ini. Lemas dikatakan di seluruh tubuh. Makan dan minum dikatakan masih biasa, BAK dan BAB dikatakan masih normal GCS: 15, Tekanan darah : 80/0 mmHg, Nadi : 70 x/mnt, Suhu : 36 C, RR : 20 x/mnt, Saturasi O2: 98% Hb : 8,4 Natrium : 127 WBC : 14,92
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang dipaparkan, dapat ditentukan diagnosis keperawatan SDKI yang sesuai, beserta SLKI dan SIKI yang diperlukan.
Diagnosis Keperawatan SDKI:
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keterbatasan fisik yang ditandai dengan lemas di seluruh tubuh.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Toleransi Aktivitas Meningkat
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan yang berlebihan.
- Pasien dapat mempertahankan saturasi oksigen yang adekuat selama aktivitas.
- Pasien dapat mempertahankan tanda-tanda vital yang stabil selama aktivitas.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Aktivitas
- Kaji kemampuan fisik dan psikologis pasien dalam melakukan aktivitas.
- Bantu pasien dalam menyusun rencana aktivitas harian yang realistis.
- Ajarkan teknik manajemen energi seperti istirahat yang cukup dan pengaturan aktivitas.
- Pantau tanda-tanda vital pasien selama aktivitas.
- Berikan dukungan emosional dan pujian atas upaya pasien.
2. Manajemen Hipovolemia
- Kaji tanda dan gejala hipovolemia, seperti tekanan darah rendah, nadi cepat, dan saturasi oksigen rendah.
- Berikan cairan intravena untuk mengatasi hipovolemia.
- Pantau input dan output cairan pasien.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan hipovolemia.
Penjelasan Rinci:
1. Diagnosis Keperawatan SDKI: Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keterbatasan fisik yang ditandai dengan lemas di seluruh tubuh.
- Pasien mengalami lemas di seluruh tubuh, yang menunjukkan adanya keterbatasan fisik yang menyebabkan intoleransi aktivitas.
2. SLKI (Toleransi Aktivitas Meningkat):
- Tujuan luaran ini adalah agar pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan yang berlebihan, mempertahankan saturasi oksigen yang adekuat, dan mempertahankan tanda-tanda vital yang stabil selama aktivitas.
3. SIKI (Manajemen Aktivitas dan Manajemen Hipovolemia):
- Manajemen Aktivitas bertujuan untuk membantu pasien dalam menyusun rencana aktivitas harian yang realistis, mengajarkan teknik manajemen energi, dan memberikan dukungan emosional.
- Manajemen Hipovolemia bertujuan untuk mengatasi hipovolemia yang ditandai dengan tekanan darah rendah, nadi cepat, dan saturasi oksigen rendah. Intervensi utama adalah pemberian cairan intravena dan pemantauan input-output cairan.
Keseluruhan intervensi ini bertujuan untuk memulihkan kondisi pasien dan meningkatkan toleransi aktivitas, sehingga pasien dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari secara optimal. -
Article No. 8787 | 12 Dec 2024
Klinis : Buatkan saya SDKI (Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standart Luaran keperawatan Indonesia) dan SIKI (Standart Intervensi Keperawatan Indonesia) kasus pasien ini : Pasien datang ke UGD tgl 12/12/2024 pkl 14.30 wita dengn keluhan lemas sejak sekitar 1 minggu yang lalu dan memberat saat ini. Lemas dikatakan di seluruh tubuh. Makan dan minum dikatakan masih biasa, BAK dan BAB dikatakan masih normal GCS: 15, Tekanan darah : 80/0 mmHg, Nadi : 70 x/mnt, Suhu : 36 C, RR : 20 x/mnt, Saturasi O2: 98% Hb : 8,4 Natrium : 127 WBC : 14,92
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah SDKI, SLKI, dan SIKI yang sesuai untuk kasus pasien tersebut:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
1. Diagnosa Keperawatan: Risiko Ketidakstabilan Hemodinamik
Definisi: Berisiko mengalami perubahan yang tidak terkontrol pada sirkulasi darah dan/atau tekanan darah.
Faktor yang Berhubungan: Penurunan volume cairan, Penurunan hemoglobin.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Luaran Keperawatan: Stabilitas Hemodinamik
Definisi: Kemampuan mempertahankan fungsi kardiovaskular yang adekuat.
Kriteria Hasil:
a. Tekanan darah dalam batas normal.
b. Nadi dalam batas normal.
c. Perfusi perifer adekuat.
d. Tidak ada tanda-tanda syok.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Intervensi Keperawatan: Manajemen Cairan
Definisi: Mengatur asupan dan kehilangan cairan untuk mempertahankan keseimbangan cairan.
Aktivitas:
a. Kaji status cairan pasien, termasuk intake dan output.
b. Monitor tanda-tanda vital secara berkala.
c. Berikan cairan intravena sesuai kebutuhan untuk mempertahankan stabilitas hemodinamik.
d. Pantau tanda-tanda ketidakstabilan hemodinamik.
e. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk manajemen cairan yang adekuat.
Penjelasan Rinci:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Diagnosa keperawatan "Risiko Ketidakstabilan Hemodinamik" dipilih karena pasien datang dengan keluhan lemas dan tekanan darah rendah, yang merupakan tanda-tanda ketidakstabilan hemodinamik. Faktor yang berhubungan adalah penurunan volume cairan dan penurunan hemoglobin, yang dapat menyebabkan perubahan tidak terkontrol pada sirkulasi darah dan tekanan darah.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran keperawatan "Stabilitas Hemodinamik" dipilih karena tujuan utama asuhan keperawatan adalah mempertahankan fungsi kardiovaskular yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan adalah tekanan darah dan nadi dalam batas normal, perfusi perifer yang adekuat, serta tidak ada tanda-tanda syok.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan "Manajemen Cairan" dipilih karena pasien mengalami penurunan volume cairan dan hemoglobin, yang dapat menyebabkan ketidakstabilan hemodinamik. Aktivitas keperawatan yang dilakukan meliputi pengkajian status cairan, pemantauan tanda-tanda vital, pemberian cairan intravena, pemantauan tanda-tanda ketidakstabilan hemodinamik, dan kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk manajemen cairan yang adekuat.
Diharapkan setelah dilakukan asuhan keperawatan yang berfokus pada manajemen cairan, pasien dapat mencapai stabilitas hemodinamik yang ditandai dengan tekanan darah dan nadi dalam batas normal, perfusi perifer yang adekuat, serta tidak ada tanda-tanda syok.