Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 8864 | 13 Dec 2024
Klinis : manajemen stress
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI), dan Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI) dengan tone akademis dan persona pakar, nurse.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi manajemen stres:
Diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai adalah "Koping tidak efektif". Diagnosa ini didefinisikan sebagai "Respon individu yang tidak konstitusional untuk mengatasi stresor atau perubahan yang signifikan dalam kehidupan yang mengganggu aktivitas sehari-hari". Pasien dengan manajemen stres yang tidak efektif cenderung menunjukkan gejala-gejala seperti ketegangan otot, iritabilitas, sulit berkonsentrasi, dan perubahan pola tidur.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Manajemen stres efektif
- Pasien mampu mengidentifikasi sumber stres
- Pasien mampu menggunakan strategi manajemen stres yang efektif
- Pasien menunjukkan tanda-tanda penurunan respons stres fisiologis (misalnya, denyut jantung normal, tekanan darah normal, otot relaks)
- Pasien mampu mempertahankan aktivitas sehari-hari
2. Koping efektif
- Pasien mampu mengidentifikasi strategi koping yang efektif
- Pasien mampu menerapkan strategi koping yang efektif dalam menghadapi situasi stres
- Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengatasi situasi sulit
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen stres
- Bantu pasien mengidentifikasi sumber stres
- Ajarkan teknik relaksasi (misalnya, pernapasan dalam, visualisasi, terapi musik)
- Dorong pasien untuk melakukan aktivitas fisik secara teratur
- Ajarkan teknik manajemen waktu dan pengambilan keputusan
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (misalnya, psikolog, konselor) jika diperlukan
2. Peningkatan koping
- Identifikasi strategi koping yang efektif yang dapat digunakan pasien
- Ajarkan teknik koping yang efektif (misalnya, problem-focused coping, emotion-focused coping)
- Dorong pasien untuk mengembangkan dukungan sosial
- Berikan umpan balik positif terhadap upaya koping yang efektif
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (misalnya, psikolog, konselor) jika diperlukan
Melalui intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu manajemen stres yang efektif dan koping yang efektif. Hal ini akan membantu pasien dalam beradaptasi dan mengatasi situasi stres sehingga dapat mempertahankan aktivitas sehari-hari dengan baik. -
Article No. 8865 | 13 Dec 2024
Klinis : tampak abses pada telapak kaki kanan, tidak nyeri, luas abses 1 cm, tampak merah keunguan dan ada pes terjadi pada pasien DM
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, diagnosis keperawatan yang sesuai adalah:
Diagnosis Keperawatan:
Risiko Infeksi
Definisi (SDKI):
Kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen, yang dapat membahayakan kesehatan.
Faktor Risiko (SDKI):
1. Integritas kulit yang terganggu (abses pada telapak kaki kanan)
2. Penyakit kronis (Diabetes Melitus)
Tanda dan Gejala (SDKI):
1. Perubahan warna kulit (tampak merah keunguan)
2. Kerusakan jaringan (abses)
Rencana Keperawatan (SLKI):
1. Pantau tanda-tanda infeksi (suhu, karakteristik luka, dll.)
2. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan abses (pemberian antibiotik, perawatan luka, dll.)
3. Edukasi pasien dan keluarga tentang pencegahan infeksi dan perawatan luka
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Perawatan luka: Membersihkan dan merawat luka abses
2. Manajemen infeksi: Memantau dan menangani tanda-tanda infeksi
3. Edukasi kesehatan: Memberikan edukasi tentang pencegahan infeksi dan perawatan luka
Dengan pendekatan SDKI-SLKI-SIKI, rencana asuhan keperawatan dapat disusun secara komprehensif untuk mengelola risiko infeksi pada pasien dengan abses pada telapak kaki kanan dan Diabetes Melitus. -
Article No. 8866 | 13 Dec 2024
Klinis : Mohon buatkan DS dan DO pasien DM terkena abses
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Infeksi (NANDA-I)
Definisi: Peningkatan risiko terkena organisme patogen
Etiologi:
- Penurunan imunitas akibat Diabetes Mellitus
- Adanya luka/abses pada kulit
Gejala Subjektif (DS):
- Keluhan nyeri pada area abses
- Perasaan tidak nyaman dan cemas terkait kondisi abses
Gejala Objektif (DO):
- Tampak abses pada kulit
- Kemerahan, pembengkakan, dan peningkatan suhu di area abses
- Hasil pemeriksaan laboratorium: peningkatan kadar gula darah, leukositosis
Rencana Intervensi Keperawatan (SLKI-SIKI):
- Manajemen Infeksi (7820)
- Perawatan Luka (3660)
- Kontrol Glukosa Darah (2120)
- Terapi Cairan (4120)
Penjelasan Singkat:
Pasien dengan Diabetes Mellitus memiliki risiko tinggi terkena infeksi, termasuk abses pada kulit, akibat penurunan imunitas. Hal ini ditandai dengan gejala nyeri, kemerahan, pembengkakan, dan peningkatan suhu di area abses. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen infeksi, perawatan luka, kontrol glukosa darah, dan terapi cairan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. -
Article No. 8867 | 13 Dec 2024
Klinis : a. Riwayat Kesehatan Sekarang Pasien mengatakan sering merasa pusing, lemas, demam, berat badan menurun tanpa sebab sariawan tidak kunjung sembuh, sering mengalami perdarahan pada gusi pada tiap beberapa jam sekali. b. Riwayat Kesehatan Dahulu Pasien mengatakan bahwa pernah dirawat di rumah sakit lebih kurang 2 tahun yang lalu dirawat selama 2 minggu akibat sakit maag. Keluarga klien mengatakan sebelumnya tidak ada riwayat leukemia pada klien.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan mempertimbangkan riwayat kesehatan sekarang dan masa lalu yang anda sampaikan, saya sebagai perawat profesional memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat sesuai standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia sebagai berikut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
2. Perdarahan
3. Risiko Infeksi
Penjelasan singkat:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- Penyebab: Penurunan berat badan, anoreksia, mual, dan demam.
- Gejala: Pusing, lemah, dan penurunan berat badan.
2. Perdarahan
- Definisi: Kehilangan darah dari pembuluh darah, baik internal maupun eksternal, dalam jumlah yang melebihi normal.
- Penyebab: Gangguan sistem pembekuan darah.
- Gejala: Perdarahan pada gusi yang sering terjadi.
3. Risiko Infeksi
- Definisi: Rentan terhadap masuknya organisme patogen yang dapat menimbulkan penyakit.
- Penyebab: Penurunan sistem imun, malnutrisi, dan sariawan yang tidak kunjung sembuh.
- Gejala: Demam, sariawan, dan rentan terhadap infeksi.
Berdasarkan diagnosa keperawatan di atas, pasien perlu mendapatkan evaluasi medis lebih lanjut untuk menentukan diagnosis penyakitnya. Penatalaksanaan keperawatan yang mungkin diperlukan adalah pemantauan tanda vital, asupan nutrisi, pencegahan perdarahan dan infeksi, serta edukasi kesehatan bagi pasien dan keluarga. -
Article No. 8868 | 13 Dec 2024
Klinis : a. Riwayat Kesehatan Sekarang Pasien mengatakan sering merasa pusing, lemas, demam, berat badan menurun tanpa sebab sariawan tidak kunjung sembuh, sering mengalami perdarahan pada gusi pada tiap beberapa jam sekali. b. Riwayat Kesehatan Dahulu Pasien mengatakan bahwa pernah dirawat di rumah sakit lebih kurang 2 tahun yang lalu dirawat selama 2 minggu akibat sakit maag. Keluarga klien mengatakan sebelumnya tidak ada riwayat leukemia pada klien.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan keterangan yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa pasien ini kemungkinan mengalami kondisi medis terkait dengan keluhan sering pusing, lemas, demam, berat badan menurun, sariawan tidak kembuh, dan perdarahan pada gusi. Setelah menelaah informasi yang ada, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang mungkin sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R53.1
- Deskripsi: Kelemahan (asthenia)
2. Kode ICD-10:
- Kode: R50.9
- Deskripsi: Demam, tak-terklasifikasi
3. Kode ICD-10:
- Kode: R63.4
- Deskripsi: Penurunan berat badan abnormal
4. Kode ICD-10:
- Kode: K12.0
- Deskripsi: Stomatitis aphtosa
5. Kode ICD-10:
- Kode: K06.1
- Deskripsi: Perdarahan gingiva
Terkait dengan riwayat kesehatan dahulu, pasien pernah dirawat di rumah sakit akibat sakit maag sekitar 2 tahun yang lalu. Untuk kondisi ini, dapat digunakan kode ICD-10 sebagai berikut:
6. Kode ICD-10:
- Kode: K29.7
- Deskripsi: Gastritis, tak-terklasifikasi
Tidak ditemukan informasi spesifik mengenai prosedur/tindakan medis yang dilakukan pada pasien, sehingga tidak ada kode ICD-9-CM yang dapat digunakan.
Perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosis yang tepat dan menentukan tindakan/prosedur medis yang sesuai. -
Article No. 8869 | 13 Dec 2024
Klinis : a. Riwayat Kesehatan Sekarang Pasien mengatakan sering merasa pusing, lemas, demam, berat badan menurun tanpa sebab sariawan tidak kunjung sembuh, sering mengalami perdarahan pada gusi pada tiap beberapa jam sekali. b. Riwayat Kesehatan Dahulu Pasien mengatakan bahwa pernah dirawat di rumah sakit lebih kurang 2 tahun yang lalu dirawat selama 2 minggu akibat sakit maag. Keluarga klien mengatakan sebelumnya tidak ada riwayat leukemia pada klien.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan mempertimbangkan riwayat kesehatan pasien yang Anda paparkan, maka dapat diberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat sesuai dengan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang dikeluarkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko perubahan perfusi jaringan b.d. penurunan sel darah (trombosit, leukosit, eritrosit)
Penjelasan:
Risiko perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan sel darah yang ditandai dengan gejala sering pusing, lemas, demam, penurunan berat badan, sariawan tidak kunjung sembuh, dan perdarahan pada gusi. Kondisi ini dapat mengindikasikan adanya kelainan pada sistem hematologi, seperti kemungkinan leukemia.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Perfusi jaringan: Sirkulasi
2. Perdarahan
3. Integritas jaringan
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Pemantauan tanda-tanda vital
2. Pemantauan perdarahan
3. Manajemen nutrisi
4. Edukasi tentang tanda dan gejala perubahan perfusi jaringan
5. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk pemeriksaan diagnostik dan penanganan lebih lanjut
Kesimpulannya, diagnosa keperawatan yang paling sesuai dengan kondisi pasien adalah "Risiko perubahan perfusi jaringan b.d. penurunan sel darah (trombosit, leukosit, eritrosit)". Intervensi keperawatan yang dapat diberikan berfokus pada pemantauan, manajemen nutrisi, edukasi, dan kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk penanganan lebih lanjut. -
Article No. 8870 | 13 Dec 2024
Klinis : a. Riwayat Kesehatan Sekarang Pasien mengatakan sering merasa pusing, lemas, demam, berat badan menurun tanpa sebab sariawan tidak kunjung sembuh, sering mengalami perdarahan pada gusi pada tiap beberapa jam sekali. b. Riwayat Kesehatan Dahulu Pasien mengatakan bahwa pernah dirawat di rumah sakit lebih kurang 2 tahun yang lalu dirawat selama 2 minggu akibat sakit maag. Keluarga klien mengatakan sebelumnya tidak ada riwayat leukemia pada klien.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan riwayat kesehatan yang diberikan, kemungkinan besar pasien mengalami kondisi yang sesuai dengan Diagnosa Keperawatan "Risiko Perdarahan" menurut Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI).
Penjelasan singkat:
a. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Risiko Perdarahan adalah kerentanan terhadap pengurangan volume darah yang dapat mengancam kesehatan.
- Gejala dan tanda yang muncul pada pasien, seperti sering merasa pusing, lemas, demam, berat badan menurun, sariawan tidak kunjung sembuh, dan sering mengalami perdarahan pada gusi, sesuai dengan karakteristik definisi diagnosis keperawatan Risiko Perdarahan.
b. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran keperawatan yang diharapkan untuk diagnosis Risiko Perdarahan adalah Pemeliharaan Integritas Jaringan, di mana pasien menunjukkan integritas jaringan yang terpelihara.
c. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain Monitoring Perdarahan, Manajemen Perdarahan, dan Edukasi Kesehatan terkait faktor-faktor risiko perdarahan.
Sebagai perawat, saya akan melakukan pengkajian lebih lanjut, pemantauan status klinis, serta memberikan intervensi yang sesuai untuk mengelola risiko perdarahan pada pasien. Tujuannya adalah untuk mempertahankan integritas jaringan dan mencegah komplikasi yang lebih serius. -
Article No. 8871 | 13 Dec 2024
Klinis : a. Riwayat Kesehatan Sekarang Pasien mengatakan sering merasa pusing, lemas, demam, berat badan menurun tanpa sebab sariawan tidak kunjung sembuh, sering mengalami perdarahan pada gusi pada tiap beberapa jam sekali.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan bahasa akademis dan persona sebagai seorang pakar perawat, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat dari SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien yang Anda paparkan:
Diagnosa Keperawatan:
Penurunan Volume Cairan Tubuh (SDKI: Imbalance of Fluid Volume)
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Kondisi di mana individu mengalami pengurangan cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intrasellular.
- Gejala dan tanda: Pasien mengeluhkan sering merasa pusing, lemas, demam, berat badan menurun, sariawan yang tidak kunjung sembuh, dan sering mengalami perdarahan pada gusi.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Pasien dapat mempertahankan volume cairan tubuh yang adekuat.
- Kriteria hasil: Tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak ada tanda-tanda dehidrasi, dan tidak ada keluhan terkait penurunan volume cairan.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan: Pemantauan status cairan, pemberian cairan intravena, edukasi tentang asupan cairan yang adekuat, serta pemantauan tanda-tanda vital dan tanda-tanda dehidrasi.
Dengan diagnosa keperawatan Penurunan Volume Cairan Tubuh, perawat dapat melakukan intervensi yang sesuai untuk mempertahankan volume cairan pasien dan mencegah komplikasi lebih lanjut. -
Article No. 8704 | 12 Dec 2024
Klinis : Pada tanggal 9 Desember 2024 terjadi gempa bumi, guncangannya sangat terasa di rumah sakit lantai 2,3,4. Pada saat terjadi guncangan, seluruh karyawan melakukan drop, hold dan cover. Perawat yang bertugas di masing-masing lantai berjumlah 4 perawat pelaksana, 1 ketua tim dan 1 kepala ruangan dengan jumlah pasien 8-10 orang. Setelah gempa berhenti, tim K3 menginformasikan di grup skala MMI gempa yang terjadi, petugas security menghubungi komandan bencana RS dan menginformasikan kondisi bangunan. Komandan bencana segera memerintahkan kepada tim security untuk memeriksa apakah ada korban di seluruh lantai, tim IPSRS memeriksa bangunan seluruh lantai, kepala ruangan cek kondisi pasien dan menelepon operator untuk membunyikan code green. Pasien lantai 4 berteriak kebakaran di ruangannya, api muncul akibat konsleting listrik dan menyambar dokumen sehingga menyebabkan smoke detector berbunyi, perawat segera datang dan membantu mengevakuasi pasien, petugas operator menyampaikan code red di lantai 4, kepala ruangan segera membagi tugas kepada tim code red (petugas helm merah, helm biru, dan helm kuning). Gempa kembali terjadi, komandan bencana meminta operator mengaktifkan code purple. Gempa susulan ini mengakibatkan gedung area kantin RS roboh yang menyebabkan beberapa korban. Adapun rincian korban : 5 orang luka ringan. Satu orang perempuan usia 37 tahun, GCS E2M2V2, TD : 70/45 mmhg, frekuensi nadi= 74x/mnt, dispnea, terdengar snoring, palpitasi, bradikardi, perdarahan dari area ankle, retraksi intercostea, S 35,3ºC, akral dingin dengan cyanosis, laserasi pada temporal dextra, racoon eyes, Seorang laki-laki, usia 52 tahun terdapat open fraktur femoral sinistra, GCS E3 M4 V3, terdapat perdarahan pada daerah luka, deformitas, crepitasi pada os tibia sinistra, laserasi klavikula sinistra. Cyanosis dan akral dingin pada daerah ekstermitas, CRT > 3 detik. Tekanan Darah 100/70 mmhg, frekuensi nadi 122x/mnt, frekuensi napas 32x/mnt, suhu = 35,3ºC.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Cedera Fisik Berhubungan Dengan Bencana Alam (Gempa Bumi)
- SDKI: Definisi - Kerentanan terhadap potensi cedera fisik akibat faktor eksternal yang bersumber dari situasi bencana alam.
- SLKI: Kriteria Hasil - Bebas dari cedera fisik selama bencana alam, Kemampuan penanganan saat bencana alam, Kesiapan dalam menghadapi bencana alam.
- SIKI: Intervensi Keperawatan - Manajemen Bencana, Promosi Keselamatan, Pemberian Obat.
2. Gangguan Pola Napas Berhubungan Dengan Trauma Fisik
- SDKI: Definisi - Ketidakmampuan untuk bernapas secara normal.
- SLKI: Kriteria Hasil - Frekuensi napas normal, Irama napas normal, Kedalaman napas normal.
- SIKI: Intervensi Keperawatan - Manajemen Jalan Napas, Oksigenasi, Observasi Tanda Vital.
3. Risiko Perdarahan Berhubungan Dengan Trauma Fisik
- SDKI: Definisi - Kerentanan terhadap kehilangan darah yang berlebihan dari pembuluh darah.
- SLKI: Kriteria Hasil - Tidak ada perdarahan aktif, Tanda vital stabil, Jumlah darah dalam batas normal.
- SIKI: Intervensi Keperawatan - Manajemen Perdarahan, Pemberian Cairan Intravena, Pemantauan Tanda Vital.
4. Risiko Syok Berhubungan Dengan Trauma Fisik
- SDKI: Definisi - Kerentanan terhadap penurunan curah jantung yang dapat mengancam kehidupan.
- SLKI: Kriteria Hasil - Hemodinamik stabil, Perfusi jaringan adekuat, Tidak ada tanda-tanda syok.
- SIKI: Intervensi Keperawatan - Manajemen Syok, Manajemen Cairan, Pemantauan Tanda Vital.
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang mengidentifikasi masalah kesehatan pasien. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) menetapkan kriteria hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) menjelaskan intervensi yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 8705 | 12 Dec 2024
Klinis : Kasus 2: Pasien perempuan, 60 tahun, mengeluh sakit kepala hebat, pusing, dan mual. Sakit kepala dirasakan sejak tadi malam. Pasien memiliki riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan menunjukkan pasien tampak menringis, skala nyeri 8/10, Tekanan darah: 180/100 mmHg, HR: 80 x/menit, Pernapasan: 22 x/menit, Suhu: 36,7°C, Saturasi oksigen: 98%, hasil pemeriksaan Diagnostik menunjukkan Tidak ada kelainan struktural pada CT scan kepala.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis keperawatan yang sesuai untuk kasus ini adalah:
1. Nyeri akut
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
- Etiologi: Hipertensi, penyebab tidak jelas.
- Gejala dan tanda: Pasien mengeluh sakit kepala hebat, pusing, dan mual. Pasien tampak meringis dengan skala nyeri 8/10.
2. Intoleransi aktivitas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas rutin akibat kelelahan yang dirasakan.
- Etiologi: Nyeri akut.
- Gejala dan tanda: Pasien tampak kelelahan dan tidak mampu melakukan aktivitas rutin.
3. Risiko perubahan perfusi serebral
- Definisi: Berisiko mengalami penurunan aliran darah ke otak, yang dapat mengancam kesehatan dan kelangsungan hidup.
- Etiologi: Hipertensi.
- Gejala dan tanda: Pasien memiliki riwayat hipertensi dan tekanan darah yang tinggi (180/100 mmHg).
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Nyeri akut: Kode Dx - 00132
2. Intoleransi aktivitas: Kode Dx - 00092
3. Risiko perubahan perfusi serebral: Kode Dx - 00236
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Nyeri akut: Kode LO - 00132 "Kontrol Nyeri"
2. Intoleransi aktivitas: Kode LO - 00092 "Toleransi Aktivitas"
3. Risiko perubahan perfusi serebral: Kode LO - 00236 "Perfusi Serebral"
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Nyeri akut: Kode IP - 00132 "Manajemen Nyeri"
2. Intoleransi aktivitas: Kode IP - 00092 "Peningkatan Toleransi Aktivitas"
3. Risiko perubahan perfusi serebral: Kode IP - 00236 "Manajemen Perfusi Serebral"
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus mengacu pada Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk memastikan kualitas dan keseragaman praktik keperawatan di Indonesia.