Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26657 | 16 Aug 2026
Klinis : pasien mual dan muntah, makan sedikit setelah kemoterapi, pusing, tidak bisa tidur, merasa cemas sebelum operasi stoma, merasa nyeri pada bagian yang setelah dioperasi pada saat batuk atau besin
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual dan muntah, makan sedikit setelah kemoterapi, pusing, tidak bisa tidur, cemas sebelum operasi stoma, nyeri pada area operasi saat batuk atau bersin
Kode SDKI: D.0021 (Mual) ; D.0022 (Muntah) ; D.0077 (Nyeri Akut) ; D.0080 (Ansietas) ; D.0006 (Gangguan Pola Tidur) ; D.0019 (Defisit Nutrisi)
Deskripsi Singkat: Kondisi pasien pasca kemoterapi dan pra-operasi stoma menunjukkan kompleksitas gejala yang saling terkait. Mual dan muntah (D.0021, D.0022) merupakan efek samping paling umum dari agen kemoteraupetik yang merangsang kemoreseptor trigger zone (CTZ) di medula oblongata dan saluran gastrointestinal, menyebabkan peningkatan motilitas usus dan refluks. Makan sedikit (D.0019) terjadi karena anoreksia sekunder akibat mual, perubahan rasa (disgeusia), dan rasa penuh dini. Pusing dapat disebabkan oleh dehidrasi ringan, anemia akibat kemoterapi, atau hipotensi ortostatik. Tidak bisa tidur (D.0006) sering dipicu oleh kombinasi nyeri, cemas, dan efek steroid yang diberikan bersamaan dengan kemoterapi. Ansietas (D.0080) muncul sebagai respons terhadap ancaman integritas tubuh (operasi stoma) yang mengubah citra diri dan pola eliminasi. Nyeri akut (D.0077) pada area operasi saat batuk/bersin disebabkan oleh tekanan intra-abdomen yang meningkat, meregangkan jaringan yang baru diinsisi, dan aktivasi nosiseptor somatik di kulit, otot, dan fasia. Kelima diagnosis ini saling memengaruhi: nyeri memperburuk mual, mual menghambat asupan nutrisi, ansietas memperburuk insomnia, dan insomnia menurunkan toleransi nyeri. Oleh karena itu, penatalaksanaan harus holistik dengan prioritas pada manajemen nyeri dan mual terlebih dahulu, diikuti intervensi psikologis untuk ansietas, serta edukasi nutrisi dan tidur.
Kode SLKI: L.08077 (Tingkat Mual) ; L.08078 (Tingkat Muntah) ; L.08066 (Tingkat Nyeri) ; L.09093 (Tingkat Ansietas) ; L.05045 (Pola Tidur) ; L.03030 (Status Nutrisi)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah: 1) Tingkat Mual (L.08077) membaik dengan kriteria: keluhan mual menurun (skala 1-2 dari 0-10), frekuensi muntah menurun dari >5 kali/hari menjadi ≤2 kali/hari, nafsu makan meningkat, dan kemampuan beraktivitas meningkat. 2) Tingkat Muntah (L.08078) membaik dengan indikator: tidak ada muntah proyektil, turgor kulit normal, membran mukosa lembab, dan intake oral adekuat. 3) Tingkat Nyeri (L.08066) menurun dengan kriteria: skala nyeri 0-3 (dari 0-10), ekspresi wajah rileks, tidak ada meringis, pasien mampu menarik napas dalam saat batuk tanpa mengeluh nyeri berlebih, dan tanda vital dalam rentang normal (TD 100-130/60-80 mmHg, N 60-100 x/menit, RR 16-20 x/menit). 4) Tingkat Ansietas (L.09093) menurun dengan kriteria: pasien mengungkapkan perasaan cemas berkurang, mampu menyebutkan strategi koping yang digunakan, kontak mata baik, dan tidak menunjukkan perilaku gelisah. 5) Pola Tidur (L.05045) membaik dengan indikator: total jam tidur meningkat (≥6 jam per malam), pasien mengaku tidur nyenyak, tidak terbangun tengah malam lebih dari 2 kali, dan perasaan segar saat bangun. 6) Status Nutrisi (L.03030) membaik dengan kriteria: asupan makanan per oral meningkat (≥75% dari kebutuhan), berat badan stabil atau meningkat 0,5-1 kg/minggu, albumin serum normal (3,5-5,0 g/dL), dan pasien tidak mengalami penurunan berat badan signifikan. Semua luaran ini diukur dalam rentang waktu 1x24 jam untuk nyeri dan mual akut, 3x24 jam untuk ansietas dan pola tidur, serta 7x24 jam untuk status nutrisi.
Kode SIKI: I.08093 (Manajemen Mual) ; I.08094 (Manajemen Muntah) ; I.08238 (Manajemen Nyeri) ; I.09326 (Reduksi Ansietas) ; I.05174 (Dukungan Tidur) ; I.03115 (Manajemen Nutrisi)
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan berdasarkan bukti ilmiah adalah sebagai berikut: 1) Manajemen Mual (I.08093): Kaji skala mual menggunakan visual analog scale setiap 4 jam, monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, output urine), berikan antiemetik sesuai program medis (misalnya ondansetron 30 menit sebelum kemoterapi), anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering (6-8 kali sehari), hindari makanan berbau menyengat, berikan makanan dingin atau suhu ruangan karena lebih dapat ditoleransi, ajarkan teknik relaksasi napas dalam (teknik 4-7-8: hirup 4 detik, tahan 7 detik, hembuskan 8 detik) saat merasa mual, serta berikan akupresur pada titik P6 (Neiguan) yang terletak 3 jari di atas pergelangan tangan bagian dalam, dengan tekanan selama 2-3 menit setiap 4 jam. 2) Manajemen Muntah (I.08094): Monitor frekuensi, volume, dan karakteristik muntah, posisikan pasien setengah duduk (semi-Fowler) selama 1 jam setelah makan untuk mencegah refluks, berikan cairan intravena jika intake oral tidak adekuat untuk mencegah hipovolemia, kaji keseimbangan cairan dan elektrolit (kalium, natrium), serta kolaborasi pemberian metoklopramid atau antagonis 5-HT3 sesuai indikasi. 3) Manajemen Nyeri (I.08238): Identifikasi skala, kualitas, dan durasi nyeri menggunakan PQRST (Provokatif, Quality, Region, Severity, Time), berikan analgetik (parasetamol atau opioid ringan) 30 menit sebelum aktivitas yang memicu nyeri (batuk, bersin, mobilisasi), ajarkan teknik distraksi dengan musik atau visualisasi, anjurkan pasien menopang area insisi dengan bantal saat batuk atau bersin (splinting), berikan kompres dingin pada area sekitar luka operasi selama 15-20 menit setiap 4 jam untuk mengurangi edema dan nyeri, serta ajarkan teknik relaksasi progresif (menegangkan dan melemaskan kelompok otot secara berurutan dari kaki ke wajah). 4) Reduksi Ansietas (I.09326): Kaji tingkat ansietas menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), berikan informasi yang jelas dan jujur tentang prosedur operasi stoma termasuk perubahan fungsi tubuh yang akan terjadi, ajarkan teknik relaksasi guided imagery (membayangkan tempat yang menyenangkan) selama 10-15 menit sebelum tidur, libatkan keluarga dalam memberikan dukungan emosional, fasilitasi komunikasi dengan pasien yang telah menjalani stoma (peer support) jika tersedia, serta kolaborasi dengan psikolog atau psikiater jika ansietas berat (skor HARS >30). 5) Dukungan Tidur (I.05174): Identifikasi pola tidur pasien (jam tidur, kesulitan memulai tidur, frekuensi terbangun), ciptakan lingkungan tidur yang nyaman (kurangi kebisingan, atur pencahayaan redup, pertahankan suhu ruangan 20-22°C), batasi tidur siang maksimal 30 menit, anjurkan mandi air hangat 1 jam sebelum tidur, berikan susu hangat atau teh kamomil yang mengandung triptofan dan memiliki efek sedatif ringan, ajarkan teknik relaksasi otot progresif sebelum tidur, serta hindari kafein dan nikotin minimal 4 jam sebelum tidur. 6) Manajemen Nutrisi (I.03115): Kaji status nutrisi menggunakan Mini Nutritional Assessment (MNA), hitung kebutuhan kalori basal dengan rumus Harris-Benedict (laki-laki: 66,5 + 13,7xBB + 5xTB - 6,8xU; perempuan: 655 + 9,6xBB + 1,8xTB - 4,7xU), berikan makanan tinggi protein dan kalori dalam porsi kecil, tambahkan suplemen nutrisi oral (misalnya Ensure atau Nutren) 2-3 kali sehari, gunakan alat bantu makan jika diperlukan, ciptakan suasana makan yang menyenangkan (makan bersama keluarga), berikan makanan yang disukai pasien namun tetap memperhatikan nilai gizi, serta kolaborasi dengan ahli gizi untuk merancang menu yang sesuai dengan toleransi pasien (hindari makanan pedas, asam, atau berlemak tinggi yang dapat memicu mual). Semua intervensi ini didokumentasikan dalam catatan keperawatan dan dievaluasi setiap shift untuk menilai respons pasien terhadap terapi.
-
Article No. 26639 | 15 Aug 2026
Klinis : Tn. A, laki-laki, usia 42 tahun, datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah ditemukan oleh keluarganya di halaman rumah pada dini hari setelah kehujanan selama kurang lebih 2 jam. Saat ditemukan, pasien tampak menggigil hebat, lemah, dan sulit berbicara dengan jelas. Keluarga mengatakan sebelum kejadian pasien sedang melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor. Di tengah perjalanan turun hujan deras dan pasien tidak menggunakan jas hujan. Pasien kemudian berhenti dan berteduh di tempat terbuka. Setelah sekitar 2 jam terpapar udara dingin dan pakaian basah, pasien mulai merasa sangat dingin dan menggigil. Saat tiba di IGD, pasien tampak pucat, menggigil, dan berbicara dengan suara pelan. Pasien mengatakan, "Saya merasa sangat dingin dan tubuh saya gemetar." Pasien juga mengeluh lemas, pusing, dan kedua tangan serta kakinya terasa sangat dingin. Hasil pemeriksaan: Kesadaran: compos mentis, tetapi pasien tampak lambat dalam memberikan respons, suhu tubuh: 34,2°C, tekanan darah: 100/65 mmHg, frekuensi nadi: 58 x/menit, frekuensi napas: 18 x/menit, SpO₂: 97%, kulit tampak pucat dan teraba dingin, ekstremitas dingin, pasien menggigil, pengisian kapiler (CRT): 3 detik, pasien tampak lemah, pakaian pasien masih dalam keadaan basah, tidak terdapat luka terbuka, tidak terdapat riwayat penyakit kronis yang diketahui, pasien tidak mengonsumsi obat secara rutin.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hipotermia ringan (accidental hypothermia) dengan manifestasi klinis menggigil, takikardia paradoks (bradikardia), dan gangguan fungsi motorik halus.
Kode ICD-10: T68
Deskripsi Singkat: T68 adalah kode ICD-10 untuk hipotermia, yang didefinisikan sebagai penurunan suhu inti tubuh di bawah 35°C akibat paparan lingkungan dingin yang berkepanjangan. Pada kasus ini, suhu tubuh Tn. A tercatat 34,2°C, yang masuk kategori hipotermia ringan (32-35°C). Kondisi ini terjadi karena paparan hujan deras dan angin selama ±2 jam tanpa pakaian pelindung, menyebabkan kehilangan panas tubuh melalui konduksi (pakaian basah) dan konveksi (angin). Gejala yang muncul, seperti menggigil hebat (upaya tubuh menghasilkan panas melalui kontraksi otot), bradikardia (denyut nadi 58x/menit), pucat, ekstremitas dingin, serta respons lambat (perlambatan fungsi neurologis), sesuai dengan gambaran klinis hipotermia ringan. Mekanisme patofisiologi meliputi vasokonstriksi perifer untuk mempertahankan panas inti, penurunan metabolisme basal, dan gangguan konduksi saraf. Kode T68 mencakup hipotermia akibat kecelakaan (accidental) yang tidak disebabkan oleh kondisi medis lain. Penting untuk membedakan dari hipotermia akibat penyakit endokrin (E03.5 untuk miksedema) atau trauma. Penanganan segera meliputi pemanasan aktif eksternal (selimut hangat, cairan intravena hangat), penggantian pakaian basah, dan monitoring tanda vital. Kode ini tidak termasuk hipotermia pada bayi baru lahir (P80) atau hipotermia akibat anestesi (T88.5). Dokumentasi harus mencakup penyebab eksternal (paparan cuaca) untuk pengkodean lengkap, namun kode utama diagnosis adalah T68.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 26640 | 15 Aug 2026
Klinis : Tn. A, laki-laki, usia 42 tahun, datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah ditemukan oleh keluarganya di halaman rumah pada dini hari setelah kehujanan selama kurang lebih 2 jam. Saat ditemukan, pasien tampak menggigil hebat, lemah, dan sulit berbicara dengan jelas. Keluarga mengatakan sebelum kejadian pasien sedang melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor. Di tengah perjalanan turun hujan deras dan pasien tidak menggunakan jas hujan. Pasien kemudian berhenti dan berteduh di tempat terbuka. Setelah sekitar 2 jam terpapar udara dingin dan pakaian basah, pasien mulai merasa sangat dingin dan menggigil. Saat tiba di IGD, pasien tampak pucat, menggigil, dan berbicara dengan suara pelan. Pasien mengatakan, "Saya merasa sangat dingin dan tubuh saya gemetar." Pasien juga mengeluh lemas, pusing, dan kedua tangan serta kakinya terasa sangat dingin. Hasil pemeriksaan: Kesadaran: compos mentis, tetapi pasien tampak lambat dalam memberikan respons, suhu tubuh: 34,2°C, tekanan darah: 100/65 mmHg, frekuensi nadi: 58 x/menit, frekuensi napas: 18 x/menit, SpO₂: 97%, kulit tampak pucat dan teraba dingin, ekstremitas dingin, pasien menggigil, pengisian kapiler (CRT): 3 detik, pasien tampak lemah, pakaian pasien masih dalam keadaan basah, tidak terdapat luka terbuka, tidak terdapat riwayat penyakit kronis yang diketahui, pasien tidak mengonsumsi obat secara rutin. Diagnosa minimal 2
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hipotermia ringan (accidental hypothermia) dengan gejala menggigil hebat, bradikardia, dan ekstremitas dingin
Kode ICD-10: T68 (Hipotermia, tidak spesifik) ; R50.9 (Demam, tidak spesifik - untuk menggigil sebagai gejala penyerta)
Deskripsi Singkat : Hipotermia adalah kondisi darurat medis di mana suhu inti tubuh turun di bawah 35°C akibat paparan lingkungan dingin yang berkepanjangan. Pada kasus Tn. A, paparan hujan deras dan pakaian basah selama ±2 jam menyebabkan kehilangan panas tubuh secara konduksi dan konveksi, sehingga suhu inti turun ke 34,2°C (hipotermia ringan). Gejala yang muncul sesuai dengan fase hipotermia ringan: menggigil hebat sebagai mekanisme kompensasi tubuh untuk menghasilkan panas, bradikardia (nadi 58x/menit), vasokonstriksi perifer (ekstremitas dingin, kulit pucat, CRT 3 detik), serta penurunan fungsi neurologis ringan (bicara lambat, respons lambat). Tidak ada tanda trauma atau penyakit kronis yang mendasari, sehingga diagnosis utama adalah accidental hypothermia akibat paparan lingkungan. Kode T68 digunakan untuk hipotermia yang tidak spesifik penyebabnya (non-iatrogenik). Kode R50.9 dapat ditambahkan sebagai diagnosis sekunder untuk menggambarkan gejala menggigil yang menonjol, meskipun menggigil sebenarnya merupakan bagian dari respons fisiologis hipotermia. Penatalaksanaan segera meliputi penghangatan pasif (selimut, pakaian kering), penghangatan aktif eksternal (kompres hangat), dan monitoring ketat tanda vital serta kadar glukosa darah. Kondisi ini reversibel jika ditangani cepat, tetapi berisiko aritmia jika suhu turun lebih lanjut.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 26641 | 15 Aug 2026
Klinis : Tn. A, laki-laki, usia 42 tahun, datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah ditemukan oleh keluarganya di halaman rumah pada dini hari setelah kehujanan selama kurang lebih 2 jam. Saat ditemukan, pasien tampak menggigil hebat, lemah, dan sulit berbicara dengan jelas. Keluarga mengatakan sebelum kejadian pasien sedang melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor. Di tengah perjalanan turun hujan deras dan pasien tidak menggunakan jas hujan. Pasien kemudian berhenti dan berteduh di tempat terbuka. Setelah sekitar 2 jam terpapar udara dingin dan pakaian basah, pasien mulai merasa sangat dingin dan menggigil. Saat tiba di IGD, pasien tampak pucat, menggigil, dan berbicara dengan suara pelan. Pasien mengatakan, "Saya merasa sangat dingin dan tubuh saya gemetar." Pasien juga mengeluh lemas, pusing, dan kedua tangan serta kakinya terasa sangat dingin. Hasil pemeriksaan: Kesadaran: compos mentis, tetapi pasien tampak lambat dalam memberikan respons, suhu tubuh: 34,2°C, tekanan darah: 100/65 mmHg, frekuensi nadi: 58 x/menit, frekuensi napas: 18 x/menit, SpO₂: 97%, kulit tampak pucat dan teraba dingin, ekstremitas dingin, pasien menggigil, pengisian kapiler (CRT): 3 detik, pasien tampak lemah, pakaian pasien masih dalam keadaan basah, tidak terdapat luka terbuka, tidak terdapat riwayat penyakit kronis yang diketahui, pasien tidak mengonsumsi obat secara rutin. Diagnosa minimal 2
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hipotermia ringan (akibat paparan lingkungan dingin/kehujanan)
Kode ICD-10: T68
Deskripsi Singkat : Hipotermia adalah kondisi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35°C akibat paparan lingkungan dingin yang berkepanjangan. Pada kasus ini, Tn. A terpapar udara dingin dan pakaian basah selama ±2 jam setelah kehujanan, menyebabkan suhu tubuhnya turun hingga 34,2°C. Gejala yang dialami (menggigil hebat, lemah, bicara pelan, ekstremitas dingin, bradikardia, CRT memanjang) sesuai dengan hipotermia ringan (32–35°C). Kode T68 digunakan untuk hipotermia yang tidak disebabkan oleh kondisi medis lain, melainkan oleh faktor lingkungan eksternal. Penanganan meliputi pemanasan aktif, penggantian pakaian basah, dan monitoring tanda vital.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 26642 | 15 Aug 2026
Klinis : Tn. A, laki-laki, usia 42 tahun, datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah ditemukan oleh keluarganya di halaman rumah pada dini hari setelah kehujanan selama kurang lebih 2 jam. Saat ditemukan, pasien tampak menggigil hebat, lemah, dan sulit berbicara dengan jelas. Keluarga mengatakan sebelum kejadian pasien sedang melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor. Di tengah perjalanan turun hujan deras dan pasien tidak menggunakan jas hujan. Pasien kemudian berhenti dan berteduh di tempat terbuka. Setelah sekitar 2 jam terpapar udara dingin dan pakaian basah, pasien mulai merasa sangat dingin dan menggigil. Saat tiba di IGD, pasien tampak pucat, menggigil, dan berbicara dengan suara pelan. Pasien mengatakan, "Saya merasa sangat dingin dan tubuh saya gemetar." Pasien juga mengeluh lemas, pusing, dan kedua tangan serta kakinya terasa sangat dingin. Hasil pemeriksaan: Kesadaran: compos mentis, tetapi pasien tampak lambat dalam memberikan respons, suhu tubuh: 34,2°C, tekanan darah: 100/65 mmHg, frekuensi nadi: 58 x/menit, frekuensi napas: 18 x/menit, SpO₂: 97%, kulit tampak pucat dan teraba dingin, ekstremitas dingin, pasien menggigil, pengisian kapiler (CRT): 3 detik, pasien tampak lemah, pakaian pasien masih dalam keadaan basah, tidak terdapat luka terbuka, tidak terdapat riwayat penyakit kronis yang diketahui, pasien tidak mengonsumsi obat secara rutin.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipotermia (Suhu Tubuh 34,2°C)
Kode SDKI: D.0133 (Hipotermia)
Deskripsi Singkat: Hipotermia adalah kondisi di mana suhu inti tubuh turun di bawah 35°C akibat kegagalan mekanisme termoregulasi tubuh untuk mengimbangi paparan dingin yang berkepanjangan. Pada Tn. A, diagnosis ini ditegakkan berdasarkan temuan objektif: suhu tubuh 34,2°C (hipotermia ringan-sedang), menggigil hebat sebagai upaya tubuh menghasilkan panas melalui kontraksi otot, kulit pucat dan teraba dingin, ekstremitas dingin, CRT 3 detik (vasokonstriksi perifer), bradikardia (nadi 58x/menit), serta penurunan respons dan bicara pelan yang menunjukkan perlambatan metabolisme seluler. Faktor risikonya jelas: terpapar udara dingin dan hujan selama ±2 jam dengan pakaian basah tanpa jas hujan. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan segera untuk mencegah penurunan suhu lebih lanjut yang dapat menyebabkan disritmia fatal, koagulopati, atau henti jantung. Diagnosis ini menjadi prioritas utama karena mengancam kehidupan dan memengaruhi seluruh sistem organ. Intervensi keperawatan harus difokuskan pada peningkatan suhu tubuh secara bertahap, penghentian kehilangan panas, dan pemberian kenyamanan termal. Pengkajian berkelanjutan diperlukan untuk memantau tren suhu, tanda-tanda syok, dan respons terhadap rewarming. Hipotermia pada Tn. A juga berpotensi menyebabkan komplikasi seperti asidosis metabolik, penurunan kesadaran, dan gangguan koagulasi, sehingga pemantauan ketat tanda-tanda vital dan neurologis sangat penting dilakukan oleh perawat di IGD.
Kode SLKI: L.01049 (Termoregulasi)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah diberikan intervensi keperawatan adalah Termoregulasi membaik dengan kriteria hasil yang terukur. Indikator utamanya meliputi: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5°C - 37,5°C) – diharapkan meningkat dari 34,2°C ke rentang normal secara bertahap, dengan target peningkatan 0,5°C - 1°C per jam untuk menghindari afterdrop (penurunan suhu inti yang paradoksal saat rewarming). (2) Menggigil menurun atau hilang – pada skala 1 (berat) menjadi skala 4 (ringan) atau 5 (tidak ada), menunjukkan bahwa mekanisme kompensasi tubuh sudah tidak diperlukan karena suhu telah stabil. (3) Kulit hangat dan tidak pucat – perfusi perifer membaik, CRT kembali < 2 detik, ekstremitas teraba hangat. (4) Frekuensi nadi kembali normal (60-100 x/menit) – bradikardia membaik karena aktivitas metabolisme dan konduksi listrik jantung meningkat. (5) Kesadaran kembali penuh dan respons verbal cepat – pasien tidak lagi lambat dalam menjawab, bicara jelas dan lantang. (6) Pasien tidak mengeluh kedinginan atau gemetar – indikator subjektif yang menunjukkan kenyamanan termal. (7) Tekanan darah stabil (sistole 100-120 mmHg) – tidak terjadi hipotensi lanjut. Target luaran ini diharapkan tercapai dalam waktu 1x24 jam setelah penanganan rewarming aktif dan pasif. Skala penilaian menggunakan skala 1 (berat/ buruk) hingga 5 (tidak ada/ membaik). Keberhasilan luaran ini menjadi indikator bahwa intervensi keperawatan efektif dan pasien aman dari komplikasi hipotermia.
Kode SIKI: I.01437 (Manajemen Hipotermia)
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama yang dilakukan adalah Manajemen Hipotermia dengan tujuan mengembalikan suhu tubuh ke rentang normal dan mencegah komplikasi. Tindakan yang dilakukan perawat di IGD meliputi: (1) Observasi: Monitor suhu tubuh setiap 15-30 menit selama proses rewarming aktif hingga suhu mencapai 35°C, kemudian setiap 1 jam hingga normal. Pantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, SpO₂) secara kontinu, terutama irama jantung karena risiko disritmia. Awasi tanda-tanda afterdrop (penurunan suhu inti yang tiba-tiba), menggigil yang tidak terkendali, perubahan tingkat kesadaran, dan CRT. (2) Terapeutik: Segera lepaskan pakaian basah dan keringkan tubuh pasien dengan handuk bersih. Ganti dengan pakaian kering dan selimuti dengan selimut tebal atau gunakan selimut hangat (blanket warmer). Pasang alat penghangat eksternal seperti selimut udara hangat (forced-air warming) atau berikan kompres hangat pada area tubuh yang memiliki pembuluh darah besar (aksila, inguinal, leher) – hindari memanaskan ekstremitas secara langsung untuk mencegah vasodilatasi perifer yang dapat menyebabkan afterdrop. Berikan cairan intravena hangat (dipanaskan hingga 37°C-42°C) melalui infus untuk rewarming internal. Pertimbangkan untuk memberikan oksigen hangat dan lembab jika pasien membutuhkan terapi oksigen. (3) Edukasi: Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang proses hipotermia, pentingnya menjaga kehangatan, dan tanda-tanda bahaya yang perlu dilaporkan (menggigil berlebihan, kebingungan, nyeri dada). Anjurkan pasien untuk istirahat total dan menghindari aktivitas fisik yang berlebihan selama masa pemulihan. (4) Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik jika menggigil menyebabkan nyeri otot, atau obat-obatan untuk mengatasi disritmia jika diperlukan. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian nutrisi hangat dan tinggi kalori karena metabolisme meningkat selama proses rewarming. (5) Perawatan lingkungan: Pastikan lingkungan ruangan hangat (suhu ruangan ≥ 25°C), hindari paparan angin, dan gunakan sekat ruangan untuk mempertahankan panas tubuh pasien. Evaluasi efektivitas intervensi setelah 1-2 jam pertama rewarming; jika suhu tidak meningkat, evaluasi ulang teknik rewarming dan laporkan ke dokter. Intervensi ini dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan hingga suhu tubuh pasien stabil dan gejala menggigil hilang.
-
Article No. 26643 | 15 Aug 2026
Klinis : perfusi perifer tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perfusi Perifer Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0009 (Diagnosis Keperawatan: Perfusi Perifer Tidak Efektif)
Deskripsi Singkat: Perfusi perifer tidak efektif adalah penurunan sirkulasi darah ke kapiler yang dapat mengganggu kelangsungan hidup sel, jaringan, atau organ pada ekstremitas. Kondisi ini ditandai dengan perubahan suhu kulit (dingin), perubahan warna kulit (pucat atau sianosis), nyeri pada ekstremitas (klaudikasi intermiten), penurunan denyut nadi perifer, edema, keterlambatan pengisian kapiler (>3 detik), serta penurunan sensasi atau kesemutan. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh nyeri, baal, atau kelemahan anggota gerak) dan data objektif (hasil pemeriksaan fisik dan penunjang seperti ankle-brachial index <0,9, doppler ultrasonografi menunjukkan stenosis, atau oksimetri nadi perifer rendah). Faktor-faktor yang berkontribusi meliputi diabetes melitus, hipertensi, hiperkolesterolemia, merokok, usia lanjut, immobilisasi berkepanjangan, dan penyakit vaskular perifer (aterosklerosis, tromboangitis obliterans, penyakit Raynaud). Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti ulkus kaki diabetik, gangren, nekrosis jaringan, dan bahkan amputasi jika tidak ditangani secara adekuat. Intervensi keperawatan harus komprehensif, meliputi pemantauan tanda-tanda vital, penilaian sirkulasi perifer secara berkala, manajemen nyeri, pemberian posisi yang tepat, edukasi perawatan kaki, kolaborasi pemberian obat vasodilator atau antiplatelet, serta rujukan untuk tindakan revaskularisasi jika diperlukan.
Kode SLKI: L.02011 (Luaran Keperawatan: Perfusi Perifer Membaik)
Deskripsi : Luaran keperawatan "Perfusi Perifer Membaik" didefinisikan sebagai peningkatan sirkulasi darah ke kapiler perifer yang ditandai dengan membaiknya status oksigenasi jaringan dan fungsi ekstremitas. Kriteria luaran ini diukur melalui indikator-indikator yang dapat dievaluasi secara kuantitatif dan kualitatif, antara lain: (1) Kekuatan nadi perifer meningkat dari skala lemah/tidak teraba menjadi teraba kuat dan teratur; (2) Pengisian kapiler membaik, yaitu <3 detik; (3) Suhu kulit ekstremitas menghangat (tidak lagi dingin); (4) Warna kulit kembali normal (tidak pucat atau sianosis); (5) Edema perifer berkurang (skala pitting edema menurun); (6) Nyeri ekstremitas menurun (skala nyeri 0-10 menurun); (7) Sensasi ekstremitas membaik (tidak baal atau kesemutan); (8) Akral teraba hangat; (9) Nilai ankle-brachial index (ABI) meningkat mendekati normal (0,9-1,3); (10) Tidak ada tanda-tanda ulkus atau gangren baru. Skala luaran ini diukur menggunakan skala Likert dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik). Target yang diharapkan adalah mencapai skala 4-5 dalam waktu 3x24 jam hingga 7x24 jam tergantung keparahan kondisi. Luaran ini menjadi acuan dalam mengevaluasi efektivitas intervensi keperawatan yang diberikan. Jika kriteria belum tercapai, maka rencana intervensi perlu dikaji ulang dan dimodifikasi. Luaran ini juga berkaitan dengan luaran lain seperti status nyaman (nyeri menurun), integritas kulit (tidak ada kerusakan), dan mobilitas fisik (peningkatan kemampuan beraktivitas). Dokumentasi luaran ini harus dilakukan secara berkala (setiap shift atau setiap 6 jam) untuk memantau perkembangan pasien secara akurat.
Kode SIKI: I.02068 (Intervensi Keperawatan: Perawatan Sirkulasi Perifer)
Deskripsi : Intervensi keperawatan "Perawatan Sirkulasi Perifer" adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk meningkatkan aliran darah ke ekstremitas dan mengoptimalkan perfusi jaringan. Intervensi ini mencakup tindakan observasi, terapeutik, dan edukasi yang dilakukan secara sistematis. Berikut rincian tindakan berdasarkan standar SIKI:
1. Observasi: (a) Periksa sirkulasi perifer (nadi perifer, pengisian kapiler, suhu, warna, dan kelembaban kulit ekstremitas) setiap 2-4 jam atau sesuai kondisi pasien; (b) Identifikasi faktor risiko gangguan sirkulasi (diabetes, hipertensi, merokok, riwayat penyakit vaskular); (c) Monitor nyeri, sensasi, dan kekuatan otot ekstremitas; (d) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, denyut jantung, respirasi, saturasi oksigen); (e) Periksa nilai ankle-brachial index (ABI) jika tersedia; (f) Monitor tanda-tanda komplikasi (ulkus, gangren, tromboflebitis).
2. Terapeutik: (a) Berikan posisi ekstremitas lebih rendah dari jantung (posisi dependent) untuk meningkatkan aliran darah arteri, namun hindari posisi yang menekan pembuluh darah; (b) Anjurkan pasien untuk melakukan gerakan aktif/pasif pada ekstremitas (fleksi, ekstensi, rotasi) untuk merangsang pompa otot; (c) Lakukan perawatan kaki secara teratur (cuci dengan air hangat, keringkan dengan lembut, berikan pelembap, potong kuku dengan hati-hati); (d) Berikan kompres hangat pada area yang dingin (jika tidak ada kontraindikasi) untuk vasodilatasi; (e) Hindari pemasangan infus atau pengambilan darah pada ekstremitas yang bermasalah; (f) Gunakan alas kaki yang sesuai dan longgar untuk mencegah tekanan; (g) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obatan (vasodilator seperti pentoxifylline, antiplatelet seperti aspirin atau clopidogrel, atau antikoagulan sesuai indikasi); (h) Kolaborasi untuk terapi oksigen hiperbarik jika diperlukan pada kasus ulkus iskemik; (i) Rujuk untuk tindakan revaskularisasi (angioplasti, bypass) jika perfusi tidak membaik.
3. Edukasi: (a) Jelaskan tanda dan gejala gangguan perfusi perifer yang perlu dilaporkan (nyeri baru, perubahan warna, dingin ekstremitas, luka yang tidak sembuh); (b) Ajarkan pasien cara memeriksa kaki setiap hari menggunakan cermin (periksa warna, suhu, luka, retak kulit); (c) Edukasi tentang pentingnya berhenti merokok dan menghindari paparan dingin yang ekstrem; (d) Ajarkan teknik manajemen nyeri nonfarmakologis (relaksasi, distraksi); (e) Anjurkan diet rendah lemak, rendah garam, dan tinggi serat untuk mengontrol kolesterol dan tekanan darah; (f) Anjurkan kontrol gula darah yang ketat untuk pasien diabetes; (g) Ajarkan cara merawat kaki yang benar (tidak merendam terlalu lama, gunakan air hangat bukan panas, keringkan sela-sela jari).
4. Kolaborasi: (a) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk terapi diet yang sesuai; (b) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk latihan mobilitas dan kekuatan otot; (c) Kolaborasi dengan dokter spesialis bedah vaskular untuk evaluasi lanjutan dan tindakan invasif jika diperlukan.
Intervensi ini dilakukan dengan frekuensi yang disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisi pasien. Pada kondisi akut, tindakan observasi dilakukan setiap 1-2 jam, sedangkan pada kondisi kronis dapat dilakukan setiap 4-8 jam. Evaluasi hasil intervensi dilakukan dengan mengacu pada luaran SLKI yang telah ditetapkan. Jika tidak ada perbaikan dalam 48-72 jam, maka intervensi harus dievaluasi ulang dan ditingkatkan intensitasnya atau dilakukan kolaborasi tambahan. Dokumentasi intervensi harus mencakup tanggal, jam, tindakan yang dilakukan, respons pasien, dan tanda tangan perawat. Standar ini sesuai dengan panduan PPNI (2021) yang mengacu pada NANDA-I, NOC, dan NIC yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan disesuaikan dengan konteks praktik keperawatan di Indonesia.
-
Article No. 26644 | 15 Aug 2026
Klinis : Ny. R, perempuan, usia 35 tahun, datang ke Instalasi GawatDarurat (IGD) dengan keluhan demam sejak 2 hari yang lalu. Pasien mengatakan tubuh terasa panas, lemas, sakitkepala, dan banyak berkeringat. Sejak pagi hari pasien juga mengeluh nafsu makan menurun dan merasa haus. Menurut keluarga, sejak 2 hari sebelumnya pasienmengalami demam yang naik turun disertai menggigil. Pasien sudah mengonsumsi obat penurun panas yang dibelisendiri sebanyak satu kali, tetapi demam kembali meningkatbeberapa jam kemudian. Pasien mengatakan sejak pagi hanya minum sekitar 3 gelasair karena tidak nafsu makan dan merasa mual. Pasien juga mengatakan urine yang dikeluarkan lebih sedikitdibandingkan biasanya. Saat tiba di IGD, pasien tampak lemah, wajah kemerahan, kulit terasa panas dan lembap karena berkeringat. Pasientampak tidak nyaman dan beberapa kali meminta minum. hasil pemeriksaan kesadaran: compos mentis, suhu tubuh: 39,2°c, tekanan darah: 105/70 mmhg, nadi: 104 x/menit, frekuensi napas: 22 x/menit, SpO₂: 98%, kulit teraba panasdan lembap, wajah tampak kemerahan, pasien tampaklemah, pasien mengeluh haus, mukosa bibir tampak agakkering, urine berwarna kuning pekat dengan jumlah lebihsedikit dari biasanya, pasien mengatakan sakit kepaladengan skala 4/10, tidak terdapat kejang atau penurunankesadaran.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah keadaan di mana suhu tubuh seseorang meningkat melebihi kisaran normal (lebih dari 37,5°C) akibat kegagalan mekanisme pengaturan panas di hipotalamus atau peningkatan produksi panas yang berlebihan. Pada kondisi Ny. R, demam sejak 2 hari yang lalu dengan suhu tubuh saat pemeriksaan mencapai 39,2°C, tubuh terasa panas, wajah kemerahan, kulit teraba panas dan lembap, serta pasien mengeluh banyak berkeringat dan menggigil. Peningkatan suhu ini disebabkan oleh proses infeksi yang memicu respon imun tubuh melepaskan pirogen endogen (seperti interleukin-1 dan tumor necrosis factor) yang kemudian mengaktifkan prostaglandin di hipotalamus, sehingga set point suhu tubuh meningkat. Pasien juga mengonsumsi obat penurun panas yang dibeli sendiri, namun demam kembali meningkat beberapa jam kemudian, menunjukkan bahwa pengobatan belum efektif dan hipertermia masih berlanjut. Kondisi ini perlu segera ditangani untuk mencegah komplikasi seperti dehidrasi, kejang demam, atau kerusakan organ akibat suhu yang terlalu tinggi.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Termoregulasi (tingkat hipertermia menurun). SLKI untuk hipertermia adalah "Termoregulasi" dengan kriteria hasil yang diharapkan: suhu tubuh pasien dalam rentang normal (36,5-37,5°C), pasien tidak menggigil, kulit tidak teraba panas, wajah tidak kemerahan, pasien tidak mengeluh haus yang berlebihan, tanda-tanda vital dalam batas normal (nadi 60-100 x/menit, pernapasan 16-20 x/menit, tekanan darah normal), serta pasien merasa nyaman dan tidak lemas. Luaran utama yang ingin dicapai adalah menurunnya suhu tubuh ke arah normal, dengan luaran tambahan seperti berkurangnya rasa haus, membaiknya nafsu makan, dan meningkatnya asupan cairan. Indikator yang dapat diukur meliputi: suhu tubuh, frekuensi nadi, frekuensi napas, warna kulit, kelembapan kulit, tingkat kesadaran, dan rasa nyaman. Target yang realistis untuk Ny. R adalah dalam waktu 3x8 jam suhu tubuh turun menjadi <37,5°C, pasien tidak menggigil, dan asupan cairan meningkat minimal 1500 ml/hari.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Manajemen Hipertermia (Observasi, Terapeutik, Edukasi, dan Kolaborasi). Intervensi utama untuk hipertermia meliputi: (1) Observasi: identifikasi penyebab hipertermia, monitor suhu tubuh (setiap 2-4 jam atau sesuai kondisi), monitor warna dan suhu kulit, monitor tanda-tanda vital (nadi, napas, tekanan darah), monitor asupan dan haluaran cairan, serta monitor tanda-tanda dehidrasi seperti turgor kulit menurun, mukosa bibir kering, dan urine pekat. (2) Terapeutik: berikan kompres hangat pada lipatan tubuh (leher, ketiak, selangkangan) selama 15-20 menit, berikan cairan oral yang cukup (minimal 2000 ml/hari sesuai toleransi), anjurkan pasien untuk banyak minum air putih, gunakan selimut tipis, atur suhu ruangan agar tetap sejuk (20-23°C), berikan ventilasi yang baik, dan ganti pakaian jika basah karena keringat. (3) Edukasi: jelaskan tentang penyebab demam, pentingnya asupan cairan yang cukup, cara melakukan kompres hangat yang benar, tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai (seperti kejang, penurunan kesadaran, atau suhu tidak turun setelah 3 hari), dan anjurkan untuk tidak menggunakan selimut tebal saat demam. (4) Kolaborasi: berikan antipiretik sesuai indikasi medis (misalnya parasetamol 500-1000 mg setiap 4-6 jam), pertimbangkan pemberian cairan intravena jika asupan oral tidak adekuat, dan kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, kultur darah, atau pemeriksaan malaria jika dicurigai) untuk menentukan penyebab infeksi. Evaluasi intervensi dilakukan setiap 8 jam untuk menilai perkembangan suhu tubuh dan respon pasien terhadap terapi.
Kondisi: Defisit Nutrisi
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Defisit nutrisi adalah kondisi di mana asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Pada Ny. R, nafsu makan menurun sejak pagi hari, pasien merasa mual, dan hanya minum sekitar 3 gelas air sejak pagi. Hal ini menyebabkan asupan makanan dan cairan yang tidak adekuat. Pasien juga mengeluh lemas dan tampak lemah saat tiba di IGD. Penurunan nafsu makan dapat disebabkan oleh demam yang meningkatkan metabolisme basal, sehingga kebutuhan energi meningkat, namun pasien tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut karena mual dan tidak nafsu makan. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan berat badan, gangguan keseimbangan elektrolit, dan memperlambat proses penyembuhan. Pasien juga mengalami peningkatan kebutuhan cairan karena demam dan banyak berkeringat, namun asupan cairan hanya sekitar 450-500 ml (3 gelas) sejak pagi, yang tidak mencukupi kebutuhan harian normal (sekitar 2000-2500 ml). Hal ini diperparah dengan adanya mual yang membuat pasien enggan makan dan minum.
Kode SLKI: L.03030
Deskripsi : Status Nutrisi (membaik). SLKI untuk defisit nutrisi adalah "Status Nutrisi" dengan kriteria hasil yang diharapkan: nafsu makan membaik, asupan makanan oral meningkat, asupan cairan oral meningkat, berat badan stabil atau meningkat, tidak ada mual, pasien tidak tampak lemah, turgor kulit baik, mukosa bibir lembap, dan pasien mampu menghabiskan porsi makan yang disediakan. Luaran utama yang ingin dicapai adalah meningkatnya asupan nutrisi dan cairan sesuai kebutuhan. Indikator yang dapat diukur meliputi: frekuensi makan per hari, porsi makanan yang dihabiskan, jumlah cairan yang diminum per hari, perubahan berat badan, tingkat energi, dan keluhan mual. Target yang realistis untuk Ny. R adalah dalam waktu 3x8 jam pasien mampu menghabiskan minimal 50% porsi makan, asupan cairan meningkat menjadi minimal 1500 ml/hari, mual berkurang, dan pasien merasa lebih bertenaga.
Kode SIKI: I.03115
Deskripsi : Manajemen Nutrisi (Observasi, Terapeutik, Edukasi, dan Kolaborasi). Intervensi utama untuk defisit nutrisi meliputi: (1) Observasi: identifikasi penyebab penurunan nafsu makan (seperti mual, demam, atau faktor psikologis), monitor asupan makanan dan cairan harian, monitor berat badan secara rutin, monitor tanda-tanda malnutrisi (rambut kusam, kulit kering, penurunan massa otot), dan monitor mual serta muntah. (2) Terapeutik: berikan makanan dalam porsi kecil tetapi sering (misalnya 5-6 kali sehari dengan porsi kecil), sajikan makanan dalam keadaan hangat dan menarik, tawarkan makanan yang mudah dicerna dan tinggi kalori (seperti bubur, sup, atau jus buah), berikan minuman hangat atau air putih yang cukup di antara waktu makan, dan kurangi bau-bauan yang dapat memicu mual. (3) Edukasi: jelaskan pentingnya asupan nutrisi yang adekuat untuk mendukung pemulihan, anjurkan pasien untuk makan sedikit demi sedikit namun sering, anjurkan minum air putih minimal 8 gelas per hari, dan ajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi mual (seperti menarik napas dalam). (4) Kolaborasi: kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antiemetik (seperti ondansetron atau metoklopramid) jika mual berat, pertimbangkan pemberian suplemen nutrisi oral (seperti susu tinggi kalori atau enteral nutrition), dan kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan diet yang sesuai dengan kondisi pasien. Evaluasi intervensi dilakukan setiap 8 jam untuk menilai peningkatan asupan makanan dan cairan pasien.
Kondisi: Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Defisit volume cairan adalah kondisi di mana tubuh mengalami kekurangan cairan ekstraseluler dan/atau intraseluler akibat asupan cairan yang tidak adekuat atau kehilangan cairan yang berlebihan. Pada Ny. R, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan defisit volume cairan: (1) Asupan cairan yang tidak adekuat karena hanya minum sekitar 3 gelas air sejak pagi akibat mual dan tidak nafsu makan; (2) Kehilangan cairan yang berlebihan melalui keringat karena demam tinggi (39,2°C) dan banyak berkeringat; (3) Peningkatan suhu tubuh meningkatkan penguapan cairan melalui kulit dan pernapasan. Tanda-tanda yang menunjukkan defisit volume cairan pada pasien antara lain: pasien mengeluh haus, mukosa bibir tampak agak kering, urine yang dikeluarkan lebih sedikit dari biasanya dan berwarna kuning pekat, pasien tampak lemah, dan tekanan darah 105/70 mmHg (cenderung rendah) dengan nadi 104 x/menit (tachycardia sebagai kompensasi). Jika tidak segera diatasi, defisit volume cairan dapat menyebabkan hipovolemia, gangguan elektrolit, penurunan perfusi organ, dan syok hipovolemik.
Kode SLKI: L.03028
Deskripsi : Keseimbangan Cairan (membaik). SLKI untuk defis
Article No. 26645 | 15 Aug 2026
Klinis : hipovolemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipovolemia
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Hipovolemia adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Kondisi ini mengacu pada dehidrasi serta kehilangan cairan dan elektrolit secara bersamaan. Pada pasien dengan hipovolemia, terjadi ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran cairan, yang menyebabkan perfusi jaringan menurun. Jika tidak ditangani, hipovolemia dapat berkembang menjadi syok hipovolemik yang mengancam jiwa. Diagnosis ini ditetapkan berdasarkan tanda-tanda klinis seperti penurunan turgor kulit, membran mukosa kering, peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah, dan penurunan output urin. Faktor-faktor yang sering berhubungan meliputi perdarahan, diare, muntah, luka bakar, penggunaan diuretik, dan asupan cairan yang tidak adekuat. Gejala yang muncul dapat bervariasi dari ringan hingga berat, tergantung pada derajat kehilangan cairan. Pada kondisi ringan, pasien mungkin hanya mengalami haus dan kelelahan. Pada kondisi sedang, terjadi takikardia, hipotensi ortostatik, dan penurunan pengisian vena. Pada kondisi berat, terjadi penurunan kesadaran, oliguria, dan asidosis metabolik. Diagnosis ini sangat penting untuk ditegakkan secara akurat karena menjadi dasar intervensi keperawatan yang tepat dan cepat. Penegakan diagnosis dilakukan melalui pengkajian menyeluruh meliputi riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan pemantauan tanda-tanda vital. Data penunjang seperti hematokrit, kadar elektrolit, dan osmolalitas serum juga diperlukan untuk mengonfirmasi diagnosis. Perawat harus mampu membedakan hipovolemia dengan kondisi lain yang memiliki gejala serupa, seperti hipervolemia atau gagal jantung, karena penanganannya sangat berbeda. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) ini menjadi acuan resmi dalam praktik keperawatan di Indonesia. Diagnosis ini memiliki karakteristik utama dan minor yang membantu perawat dalam mengidentifikasi kondisi pasien secara objektif. Karakteristik utama meliputi penurunan tekanan darah, penurunan nadi perifer, dan pengisian vena yang lambat. Karakteristik minor meliputi peningkatan denyut nadi, penurunan turgor kulit, mukosa kering, rasa haus, dan penurunan output urin. Dengan memahami SDKI ini, perawat dapat melakukan dokumentasi yang akurat dan berkomunikasi efektif dengan tenaga kesehatan lain. Diagnosis hipovolemia juga memerlukan pertimbangan faktor risiko dan kondisi komorbid yang dapat memperberat keadaan. Oleh karena itu, pengkajian yang komprehensif dan berkelanjutan sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat pemulihan pasien.
Kode SLKI: L.03028
Deskripsi: SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) untuk diagnosis hipovolemia adalah "Keseimbangan Cairan" yang didefinisikan sebagai terpenuhinya kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh, ditandai dengan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan intraseluler yang adekuat. Luaran ini memiliki lima kriteria utama yang digunakan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi keperawatan. Kriteria tersebut meliputi: (1) Membran mukosa lembab, yang menunjukkan hidrasi yang baik pada jaringan; (2) Turgor kulit elastis, yang mengindikasikan cairan interstisial yang cukup; (3) Tekanan darah dalam rentang normal, yang mencerminkan volume intravaskuler yang adekuat; (4) Denyut nadi perifer kuat dan teraba, yang menunjukkan perfusi jaringan yang baik; (5) Output urin adekuat (≥0,5 ml/kg/jam), yang menandakan fungsi ginjal dan perfusi ginjal yang normal. Selain itu, terdapat kriteria tambahan seperti berat badan stabil, tidak ada rasa haus berlebihan, dan kadar elektrolit serum dalam batas normal. Setiap kriteria dinilai menggunakan skala dari 1 (sangat buruk) hingga 5 (sangat baik). Target luaran ditetapkan berdasarkan kondisi awal pasien, misalnya meningkat dari skala 2 menjadi skala 4 dalam waktu 3x24 jam. Luaran ini juga mencakup aspek pengetahuan dan perilaku pasien. Kriteria pengetahuan meliputi kemampuan pasien menjelaskan penyebab hipovolemia, tanda-tanda kekurangan cairan, dan cara mencegahnya. Kriteria perilaku meliputi kepatuhan pasien dalam memenuhi kebutuhan cairan sesuai anjuran, serta melaporkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. SLKI ini digunakan sebagai panduan dalam menetapkan tujuan keperawatan yang spesifik, terukur, dapat dicapai, realistis, dan tepat waktu (SMART). Dengan menggunakan SLKI, perawat dapat memantau perkembangan pasien secara objektif dan melakukan evaluasi berkala. Jika kriteria belum mencapai target, perawat harus mengkaji ulang rencana intervensi dan memodifikasinya. SLKI juga membantu dalam komunikasi antarprofesi karena memberikan bahasa yang standar dan terukur. Penerapan SLKI dalam praktik klinis meningkatkan kualitas dokumentasi keperawatan dan akuntabilitas profesional. Luaran ini juga selaras dengan indikator kualitas pelayanan keperawatan, seperti penurunan kejadian syok hipovolemik dan perbaikan status hemodinamik. Dalam konteks pasien hipovolemia, luaran keseimbangan cairan menjadi tujuan utama yang harus dicapai sebelum pasien dipulangkan. Perawat perlu mengedukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga asupan cairan, mengenali tanda dehidrasi, dan kapan harus mencari bantuan medis. Dengan demikian, SLKI tidak hanya berfokus pada aspek fisik tetapi juga pada pemberdayaan pasien untuk mandiri dalam perawatan.
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi: SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk diagnosis hipovolemia adalah "Manajemen Hipovolemia" yang didefinisikan sebagai serangkaian tindakan keperawatan untuk mengidentifikasi dan mengatasi kekurangan cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler, serta mencegah komplikasi. Intervensi ini bersifat komprehensif dan terdiri dari tiga kategori utama: observasi, terapeutik, dan edukasi. Kategori observasi meliputi: (1) Memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, denyut nadi, frekuensi napas, suhu) setiap 15-30 menit atau sesuai kondisi; (2) Memantau intake dan output cairan (balance cairan) secara ketat setiap jam; (3) Memantau tanda-tanda dehidrasi seperti turgor kulit, membran mukosa, dan rasa haus; (4) Memantau berat badan harian; (5) Memantau hasil laboratorium seperti hematokrit, hemoglobin, elektrolit, dan osmolalitas serum; (6) Memantau tingkat kesadaran dan status mental pasien. Kategori terapeutik meliputi: (1) Memberikan asupan cairan oral sesuai toleransi, dengan jumlah yang dihitung berdasarkan kebutuhan harian (biasanya 30-50 ml/kgBB/hari); (2) Memberikan terapi cairan intravena sesuai program medis, seperti NaCl 0,9% atau Ringer Laktat, dengan kecepatan infus yang tepat; (3) Mengganti kehilangan cairan yang sedang berlangsung (misalnya, mengganti volume darah yang hilang pada perdarahan); (4) Memberikan elektrolit pengganti jika terjadi ketidakseimbangan, seperti kalium atau natrium; (5) Mengatur posisi pasien, seperti posisi Trendelenburg atau kaki ditinggikan untuk meningkatkan aliran darah ke organ vital; (6) Menggunakan kompres hangat atau dingin untuk menstabilkan suhu tubuh jika diperlukan; (7) Mengelola pemberian obat-obatan seperti vasopresor (norepinefrin, dopamin) jika terjadi syok, sesuai indikasi; (8) Melakukan perawatan luka atau balut tekan pada sumber perdarahan jika ada. Kategori edukasi meliputi: (1) Menjelaskan penyebab hipovolemia dan pentingnya menjaga asupan cairan; (2) Mengajarkan pasien dan keluarga cara memantau tanda-tanda dehidrasi; (3) Menganjurkan pasien untuk minum air secara teratur, terutama saat cuaca panas atau setelah aktivitas fisik; (4) Mengajarkan teknik untuk mengurangi kehilangan cairan, seperti menghindari diare dengan higienitas makanan; (5) Menginformasikan tentang efek samping obat diuretik dan pentingnya pengawasan medis. Intervensi ini juga mencakup kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi medis dan dengan ahli gizi untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan. Selain itu, perawat harus melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap respon pasien terhadap intervensi, seperti perbaikan tekanan darah, peningkatan output urin, dan perbaikan turgor kulit. Jika tidak ada perbaikan dalam waktu yang ditentukan, perawat harus melaporkan kepada dokter dan memodifikasi rencana tindakan. Manajemen hipovolemia juga menekankan pada pencegahan cedera akibat jatuh karena pasien dengan hipovolemia sering mengalami kelemahan dan pusing. Perawat harus memastikan lingkungan yang aman, seperti memasang pegangan di kamar mandi dan membantu pasien saat berjalan. Intervensi ini dilakukan secara holistik dengan mempertimbangkan aspek fisik, psikologis, dan sosial pasien. Dukungan emosional juga penting karena kondisi hipovolemia dapat menyebabkan kecemasan dan ketakutan pada pasien. Perawat perlu memberikan informasi yang jelas dan menenangkan pasien serta keluarga. Dengan penerapan SIKI yang tepat, diharapkan pasien dapat mencapai keseimbangan cairan yang optimal, mencegah komplikasi seperti gagal ginjal akut atau syok, dan mempercepat proses penyembuhan. Standar ini menjadi acuan wajib bagi perawat di Indonesia dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas dan berbasis bukti.
Article No. 26646 | 15 Aug 2026
Klinis : manajemen hipovolemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Manajemen Hipovolemia (Risiko Defisit Volume Cairan)
Kode SDKI: D.0023 (Defisit Volume Cairan) / D.0024 (Risiko Defisit Volume Cairan)
Deskripsi Singkat: Defisit volume cairan adalah kondisi ketika seorang individu mengalami atau berisiko mengalami penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Kondisi ini mengacu pada dehidrasi yang terjadi akibat kehilangan cairan aktif (misalnya perdarahan, diare, muntah, luka bakar luas, penggunaan diuretik) atau pergeseran cairan (shift) dari ruang intravaskuler ke ruang interstisial atau ruang ketiga (misalnya pada sepsis, sirosis, sindrom nefrotik). Pada pasien dengan manajemen hipovolemia, fokus utama adalah mengidentifikasi tanda-tanda kekurangan volume cairan seperti penurunan turgor kulit, membran mukosa kering, peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah ortostatik, penurunan output urine (< 30 ml/jam), kelemahan, haus, dan perubahan status mental. Defisit volume cairan dibedakan menjadi tiga tingkatan: ringan (kehilangan 5-10% berat badan), sedang (10-15%), dan berat (>15%). Pada kondisi kronis atau akut, jika tidak ditangani, dapat menyebabkan syok hipovolemik, gangguan elektrolit, asidosis metabolik, hingga kegagalan organ multipel. Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh haus, lemah) dan data objektif (tanda vital abnormal, pemeriksaan fisik menunjukkan tanda dehidrasi). Penegakan diagnosis yang akurat sangat penting untuk menentukan intervensi yang tepat, termasuk pemberian cairan parenteral, pemantauan ketat intake-output, dan edukasi pada pasien dan keluarga.
Kode SLKI: L.03028 (Keseimbangan Cairan) / L.03029 (Status Cairan)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah dilakukan asuhan keperawatan adalah tercapainya keseimbangan cairan yang optimal. Secara spesifik, kriteria hasil yang dapat diukur meliputi: (1) Keseimbangan intake dan output cairan dalam 24 jam (intake ≈ output); (2) Tanda vital dalam rentang normal: tekanan darah sistolik 90-120 mmHg, diastolik 60-80 mmHg, denyut nadi 60-100 x/menit, frekuensi napas 16-20 x/menit, suhu 36-37°C; (3) Tidak ada tanda dehidrasi: turgor kulit elastis kembali dalam < 2 detik, membran mukosa lembab, mata tidak cekung, urine jernih dengan berat jenis 1.010-1.030; (4) Output urine adekuat ≥ 30 ml/jam atau ≥ 0,5-1 ml/kgBB/jam; (5) Berat badan stabil (tidak turun > 2% dalam 24 jam); (6) Elektrolit serum dalam batas normal (Natrium 135-145 mEq/L, Kalium 3,5-5,0 mEq/L, Klorida 98-106 mEq/L); (7) Hematokrit dan hemoglobin normal; (8) Pasien tidak merasa haus berlebihan; (9) Tingkat kesadaran compos mentis (GCS 15); (10) Capillary refill time < 2 detik. Skala luaran menggunakan skala Likert: 1 = memburuk, 2 = cukup memburuk, 3 = sedang, 4 = cukup membaik, 5 = membaik. Target minimal adalah skala 4 (cukup membaik) atau 5 (membaik) setelah 3x24 jam intervensi. Luaran ini berfokus pada pemulihan homeostasis tubuh dan pencegahan komplikasi lebih lanjut.
Kode SIKI: I.03116 (Manajemen Cairan) / I.03117 (Pemantauan Cairan) / I.03118 (Terapi Intravena)
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi defisit volume cairan meliputi tiga pendekatan utama: manajemen cairan, pemantauan cairan, dan terapi intravena. Secara rinci, tindakan yang dilakukan adalah:
1. Manajemen Cairan (I.03116): Observasi: (a) Periksa tanda dan gejala dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, rasa haus, mata cekung); (b) Monitor berat badan harian; (c) Monitor status hemodinamik (nadi, tekanan darah, MAP, CVP jika tersedia); (d) Monitor intake dan output cairan setiap 4 jam; (e) Monitor tanda-tanda syok hipovolemik (gelisah, akral dingin, nadi lemah, tekanan darah turun). Terapeutik: (a) Berikan asupan cairan oral sesuai kebutuhan (2-3 liter/hari atau sesuai kondisi jantung/ginjal); (b) Berikan cairan intravena (NaCl 0,9%, Ringer Laktat, atau koloid) sesuai program medis dengan kecepatan tepat; (c) Gunakan alat infus pump untuk ketepatan pemberian; (d) Berikan cairan hangat untuk mencegah hipotermia; (e) Pertahankan akses IV yang paten; (f) Atur posisi pasien semi-Fowler untuk memudahkan pernapasan. Edukasi: (a) Jelaskan pentingnya minum air putih yang cukup; (b) Anjurkan pasien melaporkan jika merasa haus, pusing, atau mulut kering; (c) Ajarkan keluarga cara mengukur intake dan output sederhana; (d) Jelaskan tanda dehidrasi yang harus diwaspadai. Kolaborasi: (a) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan dan elektrolit; (b) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk diet cairan/ makanan yang mengandung elektrolit.
2. Pemantauan Cairan (I.03117): Observasi: (a) Monitor frekuensi dan kekuatan nadi; (b) Monitor tekanan darah ortostatik (berbaring-duduk-berdiri); (c) Monitor suhu tubuh; (d) Monitor hasil laboratorium (elektrolit, BUN, kreatinin, hematokrit); (e) Monitor berat jenis urine dan osmolalitas; (f) Monitor capillary refill time; (g) Catat intake dan output secara akurat (termasuk cairan dari makanan, minuman, infus, urine, feses, keringat, drainase). Terapeutik: (a) Lakukan penimbangan berat badan setiap hari dengan alat yang sama dan waktu yang sama; (b) Pertahankan catatan intake-output yang ketat; (c) Gunakan urine collection bag untuk mengukur output urine secara tepat; (d) Ganti linen jika basah karena keringat atau tumpahan cairan. Edukasi: (a) Jelaskan tujuan pemantauan cairan kepada pasien dan keluarga; (b) Anjurkan keluarga untuk melaporkan jumlah minum dan buang air kecil pasien. Kolaborasi: (a) Kolaborasi dengan tim medis dalam interpretasi nilai laboratorium; (b) Kolaborasi untuk pemberian diuretik atau obat lain jika diperlukan.
3. Terapi Intravena (I.03118): Observasi: (a) Monitor tanda-tanda infiltrasi (bengkak, nyeri, kemerahan di lokasi infus); (b) Monitor tanda-tanda flebitis (nyeri, kemerahan, hangat di sepanjang vena); (c) Monitor kecepatan tetesan infus (tetes/menit) sesuai order; (d) Monitor kompatibilitas obat dan cairan. Terapeutik: (a) Lakukan pemasangan infus menggunakan teknik aseptik; (b) Gunakan jarum yang sesuai (18-22 gauge untuk dewasa); (c) Fiksasi infus dengan baik menggunakan plester transparan; (d) Beri label pada botol infus (tanggal, waktu, jenis cairan, kecepatan); (e) Ganti set infus setiap 72 jam atau sesuai protokol; (f) Ganti lokasi infus setiap 72-96 jam; (g) Pertahankan tinggi botol infus ± 100 cm di atas lokasi infus; (h) Bilas dengan NaCl 0,9% sebelum dan sesudah pemberian obat intravena. Edukasi: (a) Jelaskan tujuan terapi intravena dan jenis cairan yang diberikan; (b) Anjurkan pasien untuk tidak mengubah kecepatan tetesan sendiri; (c) Anjurkan pasien melaporkan jika terasa nyeri, bengkak, atau cairan infus habis; (d) Ajarkan pasien dan keluarga untuk menjaga posisi infus agar tidak terlipat. Kolaborasi: (a) Kolaborasi dengan dokter untuk menentukan jenis dan jumlah cairan; (b) Kolaborasi dengan apoteker untuk penyiapan cairan yang mengandung elektrolit tambahan (misalnya KCl).
Semua intervensi ini dilakukan secara berkesinambungan dengan evaluasi berkala setiap 4-6 jam untuk menilai respons pasien terhadap terapi cairan. Dokumentasi yang akurat mengenai intake-output, tanda vital, dan hasil pemeriksaan fisik sangat penting untuk menilai efektivitas intervensi dan menyesuaikan rencana tindakan selanjutnya. Tujuan akhirnya adalah mencegah komplikasi seperti syok hipovolemik, edema paru akibat overhidrasi, atau gangguan elektrolit berat.
Article No. 26647 | 15 Aug 2026
Klinis : hipovolemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipovolemia
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Hipovolemia adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan penurunan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraseluler. Kondisi ini mengacu pada dehidrasi serta kehilangan cairan dan elektrolit secara bersamaan. Pada pasien dengan hipovolemia, terjadi ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran cairan, yang mengakibatkan penurunan volume darah yang bersirkulasi. Hal ini dapat menyebabkan penurunan perfusi jaringan, hipoksia seluler, dan jika tidak ditangani dapat berlanjut menjadi syok hipovolemik. Diagnosis ini memiliki karakteristik utama berupa penurunan turgor kulit, pengisian kapiler >3 detik, tekanan darah menurun, nadi teraba lemah dan cepat, membran mukosa kering, serta volume urine menurun (<0,5 ml/kg/jam). Faktor-faktor yang sering berhubungan meliputi kehilangan cairan aktif (perdarahan, diare, luka bakar), penurunan asupan cairan (mual, kesulitan menelan), serta perpindahan cairan (edema, asites). Penegakan diagnosis ini memerlukan pengkajian yang komprehensif meliputi tanda-tanda vital, status hemodinamik, keseimbangan cairan, dan faktor risiko yang mendasari. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menetapkan kode D.0023 untuk diagnosis ini, yang digunakan sebagai acuan resmi dalam dokumentasi asuhan keperawatan di Indonesia.
Kode SLKI: L.03028
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan pada pasien hipovolemia adalah tercapainya keseimbangan cairan. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) menetapkan kode L.03028 untuk luaran "Keseimbangan Cairan" yang menjadi indikator keberhasilan asuhan keperawatan. Luaran ini didefinisikan sebagai kondisi homeostasis cairan tubuh yang terjaga, ditandai dengan tidak adanya tanda-tanda dehidrasi maupun overhidrasi. Kriteria hasil yang dapat diukur meliputi: 1) Mempertahankan intake cairan yang adekuat sesuai kebutuhan (biasanya 1500-2500 ml/hari tergantung kondisi); 2) Output urine normal dalam batas 0,5-1,5 ml/kg/jam dengan warna jernih atau kuning pucat; 3) Tanda-tanda vital stabil (tekanan darah dalam rentang normal, nadi 60-100 kali/menit, suhu normal); 4) Turgor kulit kembali elastis dalam waktu <2 detik setelah dicubit; 5) Membran mukosa lembab dan tidak kering; 6) Berat badan stabil atau sesuai target; 7) Elektrolit serum dalam rentang normal; 8) Hematokrit dan hemoglobin dalam batas normal; 9) Tidak ada tanda-tanda syok (kesadaran baik, capillary refill <2 detik, urine output adekuat). Skala penilaian luaran menggunakan skala Likert 1-5, dengan target minimal mencapai skala 4 (cukup meningkat) atau 5 (meningkat). Penilaian dilakukan secara berkala, biasanya setiap shift atau sesuai kondisi pasien, untuk memantau progres pemulihan keseimbangan cairan. Luaran ini menjadi acuan dalam mengevaluasi efektivitas intervensi keperawatan yang diberikan.
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama untuk mengatasi hipovolemia adalah "Manajemen Hipovolemia" dengan kode I.03116 menurut SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia). Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit, serta mencegah komplikasi akibat kekurangan volume cairan. Tindakan yang dilakukan meliputi beberapa kategori: 1) Observasi: memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, suhu) setiap 15-30 menit atau sesuai kondisi; memantau input dan output cairan secara akurat setiap shift; memantau tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, pengisian kapiler); memantau kadar elektrolit dan hematokrit sesuai hasil laboratorium; memantau berat badan harian; mengkaji faktor risiko kehilangan cairan (perdarahan, diare, muntah, luka bakar). 2) Terapeutik: memberikan cairan intravena sesuai program terapi (cairan kristaloid seperti NaCl 0,9% atau Ringer Laktat, atau koloid sesuai indikasi); menghitung kebutuhan cairan harian (rumus Holliday-Segar untuk anak atau rumus dewasa 30-50 ml/kgBB/hari); memberikan suplemen oral sesuai indikasi; mengatur posisi pasien (trenelenburg atau supine) untuk meningkatkan aliran darah ke organ vital; membantu pemenuhan kebutuhan cairan oral jika pasien mampu. 3) Edukasi: menjelaskan pentingnya asupan cairan yang adekuat; mengajarkan pasien dan keluarga untuk memantau tanda-tanda dehidrasi; memberikan informasi tentang sumber cairan yang tepat dan makanan yang mengandung elektrolit; menganjurkan untuk segera melaporkan tanda-tanda kehilangan cairan berlebih. 4) Kolaborasi: berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi cairan dan obat-obatan (seperti vasopresor jika diperlukan); berkolaborasi dengan ahli gizi untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan; merujuk pada tim medis lain jika terdapat komplikasi. Intervensi ini dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan sampai tujuan luaran tercapai, dengan evaluasi berkala terhadap respons pasien terhadap terapi cairan.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595