Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24988 | 09 Apr 2026
Klinis : Penurunan kesadaran RPS: lemah anggota gerak kanan, tidak bisa diajak komunikasi. saat diberi minum pasien terbatuk2, bicara terasa berat. KU lemah, GCS E2V2M3 TD : 141/75 mmhg HR : 78 x/mnt RR : 20 x/mnt S : 37 C SpO2 : 93% Mata : CA -/- SI -/- refleks cahaya (+/+) Mulut : dbn leher: dbn Thorax : Simetris ka/ki BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : SDV +/+ rbh -/- rbk -/- whz -/- Abdomen :supel, BU (+) , NT (-) Genitalia : tidak ada kelainan Ekstremitas Superior: akral hangat +/+, CRT <2 detik Ekstremitas Inferior : akral hangat +/+, CRT <2 detik Status Neurologis Sensorik sulit dievaluasi Lateralisasi - Refleks fisiologis: +3/+3// +3/+3 Refleks patologis: (-/-//-/-) Nistagmus: (-) Parese NC. XII (-) Parese NC. VII (-) Hasil Lab Darah Rutin (01/04/26) Hemoglobin 15.09 Eritrosit 4.53 Hematokrit 43.0 Lekosit 6.21 Trombosit 120 Golongan Darah B Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 142 Fungsi Ginjal Ureum 27.8 Profil Lipid (05/04/26) Kreatinin 1.11 Cholesterol total 126 Cholesterol HDL 35 Cholesterol LDL 68 Trigliserida 85 Asam Urat 4.0 Elektrolit (07/03/26) Natrium (Na) : 138 mmol/L Kalium (K) : 4.3 mmol/L Chlorida (Cl) : 104 mmol/L Calsium (Ca2+) : 1.1 mmol/L (L) pH : 7.50 (H) Hemostasis INR 1.33 GDS = 330 mg/dL Hasil CT scan kepala non-kontras (01/04/26) Kesan : - Lacunar infark cerebri di capsula externa sinistra - Atrophy cerebri - Sinusitis sphenoidales dextra et sinistra
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Aspirasi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko masuknya sekret, cairan, atau benda asing ke dalam trakea dan paru-paru.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Pencegahan Aspirasi. Tujuan: Pasien bebas dari tanda dan gejala aspirasi. Kriteria hasil: 1) Saluran napas pasien bersih/paten. 2) Suara napas vesikuler/tidak ada suara tambahan. 3) Tidak ada sianosis. 4) Saturasi oksigen dalam rentang normal. 5) Tidak ada batuk/batuk efektif saat minum/makan. 6) Tidak ada keluhan sesak napas. 7) Refleks batuk dan menelan efektif.
Kode SIKI: 3510
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Tindakan: 1) Identifikasi faktor risiko aspirasi (penurunan kesadaran, gangguan menelan, dll.). 2) Posisikan pasien semi Fowler atau lateral sesuai kondisi dan keamanan. 3) Lakukan penghisapan lendir jalan napas atas dan bawah sesuai indikasi. 4) Bantu latihan batuk efektif jika pasien kooperatif. 5) Ajarkan keluarga untuk mengenali tanda bahaya aspirasi (batuk mendadak, sianosis, sesak). 6) Kolaborasi pemberian oksigen sesuai kebutuhan. 7) Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, suara napas, saturasi oksigen). 8) Anjurkan pemberian nutrisi dengan tekstur dan cara yang aman (misal: NGT).
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan patensi jalan napas.
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Pemeliharaan Bersihan Jalan Napas. Tujuan: Jalan napas pasien bersih/paten. Kriteria hasil: 1) Laju dan irama pernapasan dalam rentang normal. 2) Suara napas vesikuler. 3) Tidak ada sianosis. 4) Tidak ada penggunaan otot bantu napas. 5) Pasien mampu mengeluarkan sekret secara efektif atau sekret dapat dikeluarkan dengan bantuan. 6) Saturasi oksigen dalam rentang normal.
Kode SIKI: 3180
Deskripsi : Manajemen Pernapasan. Tindakan: 1) Kaji status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, suara napas, penggunaan otot bantu). 2) Monitor tanda hipoksia (gelisah, sianosis, penurunan kesadaran). 3) Posisikan untuk memaksimalkan ventilasi (semi Fowler, perubahan posisi). 4) Lakukan fisioterapi dada dan penghisapan lendir sesuai kebutuhan dan protokol. 5) Ajarkan dan bantu latihan napas dalam dan batuk efektif jika memungkinkan. 6) Kolaborasi pemberian oksigen dan nebulisasi sesuai program. 7) Berikan cairan yang adekuat untuk mengencerkan sekret (jika tidak ada kontraindikasi). 8) Lakukan penghisapan jalan napas secara steril.
Kondisi: Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: 0020
Deskripsi Singkat: Penurunan suplai darah ke otak yang dapat mengakibatkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan metabolisme otak.
Kode SLKI: 1602
Deskripsi : Pemeliharaan Perfusi Serebral. Tujuan: Perfusi serebral adekuat. Kriteria hasil: 1) Tingkat kesadaran sesuai kemampuan. 2) Tanda vital dalam rentang normal/ dapat ditoleransi. 3) Tidak ada/tidak memberatnya defisit neurologis fokal (motorik, sensorik, bicara). 4) Fungsi kognitif sesuai tingkat kesadaran.
Kode SIKI: 4090
Deskripsi : Pemantauan Neurologis. Tindakan: 1) Monitor dan catat status neurologis secara berkala (GCS, pupil, kekuatan motorik, bicara, tanda-tanda peningkatan TIK). 2) Monitor dan kestabilkan tanda vital (TD, Nadi, RR, Suhu). 3) Pertahankan posisi kepala sedikit elevasi (30 derajat) dan netral, hindari fleksi/ekstensi leher. 4) Hindari manuver valsava (mengedan, batuk kuat). 5) Berikan lingkungan tenang, hindari stimulasi berlebihan. 6) Kolaborasi dalam pemberian terapi medikasi sesuai program (misal: pengontrol tekanan darah, neuroprotektor). 7) Monitor keseimbangan cairan dan elektrolit. 8) Lakukan pengkajian nyeri dan manajemen nyeri untuk mencegah respons stres yang meningkatkan TIK.
Kondisi: Gangguan Komunikasi Verbal
Kode SDKI: 0009
Deskripsi Singkat: Penurunan, hambatan, atau kehilangan kemampuan untuk menggunakan atau memahami bahasa dalam berinteraksi.
Kode SLKI: 1102
Deskripsi : Komunikasi: Penerimaan Pesan. Tujuan: Pasien dapat menerima dan memahami pesan yang disampaikan. Kriteria hasil: 1) Pasien memberikan respons terhadap pesan yang disampaikan (verbal/non-verbal). 2) Pasien mengikuti instruksi sederhana yang diberikan. 3) Pasien menunjukkan pemahaman melalui ekspresi wajah atau gerakan tubuh.
Kode SIKI: 4970
Deskripsi : Peningkatan Komunikasi. Tindakan: 1) Identifikasi kemampuan komunikasi dan hambatan yang ada. 2) Gunakan alat bantu komunikasi (gambar, papan tulis, isyarat) sesuai kebutuhan. 3) Berbicara dengan jelas, lambat, dan gunakan kalimat sederhana. 4) Tanyakan satu pertanyaan dalam satu waktu, beri waktu untuk merespons. 5) Validasi pemahaman pasien dengan memintanya mengulang atau menunjukkan. 6) Libatkan keluarga dalam metode komunikasi yang efektif dengan pasien. 7) Pertahankan kontak mata dan sentuhan yang tepat saat berkomunikasi. 8) Berikan reinforcement positif untuk setiap upaya komunikasi yang dilakukan pasien.
Kondisi: Risiko Disfungsi Neurovaskuler Perifer
Kode SDKI: 0440
Deskripsi Singkat: Risiko gangguan pada sirkulasi, sensasi, atau mobilitas ekstremitas.
Kode SLKI: 1607
Deskripsi : Pemeliharaan Fungsi Neurovaskuler. Tujuan: Fungsi neurovaskuler perifer tetap terjaga. Kriteria hasil: 1) Warna, kehangatan, dan kelembaban kulit ekstremitas normal. 2) Denyut nadi perifer teraba. 3) Sensasi (sentuhan, nyeri) utuh. 4) Gerakan aktif/pasif ekstremitas dalam rentang gerak normal. 5) Tidak ada edema, nyeri, atau kesemutan.
Kode SIKI: 4150
Deskripsi : Pemeliharaan Mobilitas. Tindakan: 1) Kaji warna, suhu, kapiler refill time, denyut nadi, sensasi, dan gerak (CSWGD) ekstremitas yang lemah (kanan) dan bandingkan dengan sisi sehat. 2) Lakukan latihan rentang gerak (ROM) pasif/aktif pada ekstremitas yang lemah. 3) Posisikan ekstremitas dengan posisi anatomi/fungsional, gunasi bantal untuk penyangga. 4) Ubah posisi pasien secara teratur (setiap 2 jam). 5) Hindari tekanan langsung pada area tonjolan tulang. 6) Anjurkan dan bantu mobilisasi bertahap sesuai kemampuan dan izin dokter. 7) Monitor tanda-tanda komplikasi imobilisasi (trombosis, kontraktur). 8) Kolaborasi dalam penggunaan alat bantu (splint) jika diperlukan.
-
Article No. 24989 | 09 Apr 2026
Klinis : Pasien makan tidak terlalu banyak habis hanya 1/4 bb pasien sekitar 45 kg dengan tinggi sekitar 150an. Pasien menderita diabetes mellitus. Conjunctiva anemis, bibir tampak pucat dan kering pecah pecah. Pasien terpasang nasal kanul 3l/menit. Bernapas menggunakan mulut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: B.1.1.1
Deskripsi : Status nutrisi membaik. Indikator: 1) Menyatakan peningkatan nafsu makan. 2) Berat badan meningkat sesuai target. 3) Nilai laboratorium terkait nutrisi dalam batas normal (misalnya, kadar albumin, hemoglobin). 4) Menunjukkan pengetahuan tentang pemilihan makanan yang sesuai. 5) Tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi lebih lanjut.
Kode SIKI: B.1.1.1.1 - B.1.1.1.11
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengatasi nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh meliputi serangkaian tindakan yang komprehensif. Pertama, lakukan pengkajian nutrisi yang mendalam termasuk pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, IMT), asupan makanan dengan metode recall 24 jam atau food diary, dan pemeriksaan klinis (seperti konjungtiva anemis, kondisi bibir kering dan pecah-pecah, kekuatan otot, dan kehilangan lemak subkutan). Pada pasien dengan diabetes, pengkajian juga harus mencakup pemantauan kadar glukosa darah untuk menyesuaikan intervensi nutrisi. Kedua, kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet individual yang memenuhi kebutuhan kalori dan protein, sekaligus sesuai dengan pola makan diabetes (prinsip 3J: Jumlah, Jadwal, Jenis) untuk mencapai kontrol glikemik yang optimal. Ketiga, berikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi, pilihan makanan sumber protein dan zat besi (mengingat konjungtiva anemis), serta teknik modifikasi makanan untuk meningkatkan asupan pada pasien dengan nafsu makan rendah. Keempat, atur lingkungan makan yang nyaman, bebas dari bau yang tidak sedap, dan dukung pasien untuk makan dalam porsi kecil namun sering (misalnya 6 kali sehari: 3 kali makan utama dan 3 kali selingan) untuk mengatasi cepat kenyang. Kelima, lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan (dengan larutan yang sesuai) untuk meningkatkan kenyamanan dan nafsu makan, mengingat kondisi bibir yang kering dan pecah-pecah. Keenam, pantau dan catat asupan makanan serta cairan setiap hari. Ketujuh, timbang berat badan secara teratur (misalnya 2x seminggu) untuk mengevaluasi tren. Kedelapan, kolaborasi pemberian suplemen nutrisi oral atau terapi medis seperti transfusi darah jika anemia cukup berat berdasarkan hasil laboratorium. Intervensi harus dilakukan secara holistik, mempertimbangkan kondisi diabetes dan kebutuhan oksigen (nasal kanul), serta memastikan bahwa peningkatan asupan nutrisi tidak menyebabkan hiperglikemia yang tidak terkontrol.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: C.1.1
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: C.1.1.1
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif. Indikator: 1) Jalan napas paten. 2) Suara napas bersih/tidak ada ronki. 3) Mampu mengeluarkan sekret secara efektif. 4) Frekuensi dan irama napas dalam rentang normal. 5) Tidak dispnea atau sianosis.
Kode SIKI: C.1.1.1.1 - C.1.1.1.12
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengatasi bersihan jalan napas tidak efektif difokuskan pada mempertahankan patensi jalan napas dan memfasilitasi pertukaran gas yang adekuat. Mengingat pasien bernapas melalui mulut dan terpasang nasal kanul, sekresi dapat mengental dan sulit dikeluarkan. Tindakan pertama adalah lakukan pengkajian pola pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman), penggunaan otot bantu napas, serta suara napas (adanya ronki, wheezing) secara berkala. Kedua, atur posisi pasien semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk memudahkan ekspansi dada dan memanfaatkan gravitasi dalam mempertahankan jalan napas. Ketiga, ajarkan dan bantu latihan napas dalam dan batuk efektif. Jika pasien lemah, dapat dilakukan batuk dibantu atau suction untuk mengangkat sekret. Keempat, lakukan fisioterapi dada seperti perkusi dan vibrasi jika diperlukan dan sesuai indikasi, untuk membantu mobilisasi sekret. Kelima, pastikan terapi oksigen melalui nasal kanul 3 L/menit berjalan dengan baik, humidifikasi dapat dipertimbangkan untuk melembabkan saluran napas dan mengencerkan sekret, terutama karena pasien bernapas melalui mulut yang dapat menyebabkan pengeringan mukosa. Keenam, anjurkan dan bantu peningkatan asupan cairan yang adekuat (jika tidak ada kontraindikasi dari kondisi lain) untuk membantu mengencerkan sekret. Ketujuh, lakukan perawatan mulut dan hidung secara teratur untuk menjaga kebersihan dan kelembaban, mencegah infeksi, serta meningkatkan kenyamanan. Kedelapan, monitor saturasi oksigen (SpO2) dan tanda-tanda vital pernapasan secara berkala. Kesembilan, kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat bronkodilator atau mukolitik jika diperlukan. Intervensi ini harus terintegrasi dengan manajemen nutrisi, karena status nutrisi yang buruk dapat melemahkan otot pernapasan dan menurunkan imunitas, memperburuk masalah jalan napas.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: L.1.1
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk memenuhi atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat. Indikator: 1) Mampu melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuan. 2) Tanda vital stabil selama dan setelah aktivitas. 3) Menyatakan peningkatan energi. 4) Tidak mengalami kelelahan yang berlebihan. 5) Partisipasi dalam aktivitas secara bertahap meningkat.
Kode SIKI: L.1.1.1.1 - L.1.1.1.10
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk intoleransi aktivitas ditujukan untuk menghemat energi pasien sekaligus meningkatkan kapasitas fungsionalnya secara bertahap. Dasar intervensi ini adalah kondisi pasien yang mengalami malnutrisi (energi tidak cukup) dan kemungkinan anemia (konjungtiva anemis) yang menyebabkan kelemahan dan mudah lelah, diperberat oleh kondisi pernapasan yang mungkin tidak optimal. Pertama, kaji tingkat kelemahan dan respons fisiologis terhadap aktivitas (seperti peningkatan denyut nadi, tekanan darah, frekuensi napas, dan keluhan sesak atau lelah) sebelum, selama, dan setelah aktivitas. Kedua, rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas yang melelahkan, seperti mandi atau makan. Ketiga, bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan, namun tetap dorong kemandirian sebatas kemampuan untuk mencegah deconditioning. Keempat, ajarkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat melakukan aktivitas, menyebar tugas sepanjang hari, dan menghindari gerakan terburu-buru. Kelima, buat jadwal aktivitas harian yang terstruktur dengan menyisipkan waktu istirahat. Keenam, lakukan mobilisasi bertahap dimulai dari latihan rentang gerak di tempat tidur, duduk di tepi tempat tidur, berdiri, hingga berjalan jarak pendek dengan pengawasan dan bantuan sesuai kebutuhan. Ketujuh, pastikan kebutuhan oksigen terpenuhi selama aktivitas, mungkin perlu penyesuaian flow oksigen sementara waktu sesuai instruksi dokter. Kedelapan, kolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan asupan kalori dan protein yang cukup sebagai sumber energi untuk aktivitas. Kesembilan, monitor respons pasien terhadap peningkatan aktivitas dan sesuaikan rencana intervensi. Intervensi ini sangat terkait dengan diagnosa nutrisi, karena peningkatan toleransi aktivitas tidak akan tercapai tanpa perbaikan status nutrisi yang menjadi sumber energi utama.
-
Article No. 24990 | 09 Apr 2026
Klinis : Demam sejak 4 hari yang lalu. Demam dirasakan lebih tinggi saat malam hari, menggigil +. Terdapat mual tapi tidak muntah. Nyeri ulu hati+. Nafsu makan sangat menurun. Lemas+ Nyeri kepala+. Terdapat bintik-bintik kecil kemerahan pada kedua tangan. Sempat berobat ke DPM. namun masih belum membaik. Tidak ada mimisan- gusi berdarah-. BAB BAK dalam batas normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Berhubungan dengan Proses Penyakit (Demam Dengue)
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan. Kondisi pasien dengan demam tinggi menggigil, ruam petekie (bintik merah kecil pada tangan), mual, dan nyeri kepala yang berlangsung 4 hari tanpa perbaikan setelah pengobatan awal, sangat mengarah pada infeksi virus seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) fase demam. Data ini menunjukkan tubuh sedang berjuang melawan patogen, sehingga risiko untuk berkembang menjadi infeksi yang lebih berat atau komplikasi seperti syok (pada DBD) sangat nyata. Diagnosa ini tepat karena fokus pada pencegahan komplikasi dan pemantauan ketat terhadap perkembangan infeksi.
Kode SLKI: 2001
Deskripsi : SLKI 2001: Kontrol Infeksi. Tujuan utama adalah mencegah penyebaran infeksi dan mengendalikan perkembangan penyakit pada pasien. Intervensi keperawatan diarahkan untuk memantau tanda-tanda infeksi secara ketat, memastikan tirah baring yang adekuat untuk menghemat energi pasien, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya pencegahan penularan (misalnya, menghindari gigitan nyamuk untuk kasus DBD). Perawat akan memonitor suhu tubuh secara berkala, karakteristik demam (misalnya pola bifasik pada dengue), dan tanda-tanda perdarahan lebih lanjut (walaupun saat ini mimisan dan gusi berdarah negatif, petekie sudah merupakan tanda perdarahan kulit). Pemantauan tanda-tanda bahaya seperti nyeri perakut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan spontan, atau penurunan kesadaran menjadi prioritas. Selain itu, lingkungan sekitar pasien dijaga kebersihannya untuk mencegah infeksi nosokomial.
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : SIKI 3401: Pemantauan Tanda-Tanda Infeksi. Ini adalah intervensi spesifik dan terukur dari SLKI 2001. Perawat akan melakukan pengukuran suhu tubuh setiap 2-4 jam dan mendokumentasikan pola demam. Memantau karakteristik ruam kulit (petekie): apakah jumlahnya bertambah, menyebar, atau berubah menjadi purpura. Melakukan observasi ketat terhadap tanda-tanda perdarahan lain dengan pemeriksaan uji tourniquet (Rumple Leede) secara berkala dan memeriksa mukosa mulut, konjungtiva, serta adanya memar spontan. Memantau asupan dan haluaran cairan (BAB dan BAK) untuk mendeteksi dini kebocoran plasma yang ditandai dengan penurunan produksi urin. Mengobservasi tanda-tanda syok seperti nadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun, kulit dingin dan lembab, serta gelisah. Mendokumentasikan semua temuan secara akurat dan melaporkan setiap perubahan status atau kemunculan tanda bahaya kepada dokter secara cepat. Edukasi kepada keluarga untuk segera melaporkan jika pasien mengalami muntah hebat, nyeri perut, mimisan, atau tampak sangat lemah.
-
Article No. 24991 | 09 Apr 2026
Klinis : Demam sejak 4 hari yang lalu. Demam dirasakan lebih tinggi saat malam hari, menggigil +. Terdapat mual tapi tidak muntah. Nyeri ulu hati+. Nafsu makan sangat menurun. Lemas+ Nyeri kepala+. Terdapat bintik-bintik kecil kemerahan pada kedua tangan. Sempat berobat ke DPM. namun masih belum membaik. Tidak ada mimisan- gusi berdarah-. BAB BAK dalam batas normal
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Demam Tifoid (Tifus Abdominalis)
Kode ICD-10: A01.0
Deskripsi Singkat : Demam tifoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi, ditandai dengan demam tinggi yang meningkat secara bertahap (sering lebih tinggi pada malam hari), gejala konstitusional seperti sakit kepala, lemas, dan anoreksia, serta gejala gastrointestinal seperti mual dan nyeri perut (ulu hati). Manifestasi klinis pada kasus ini sangat sesuai, termasuk demam >3 hari dengan pola step-ladder, menggigil, gangguan pencernaan, dan kemungkinan rose spots (bintik-bintik kemerahan pada tangan). Tidak adanya tanda perdarahan spontan (mimisan, gusi berdarah) menunjukkan fase awal atau kasus tanpa komplikasi hemoragik. Kode ICD-10 A01.0 secara spesifik mengklasifikasikan demam tifoid yang disebabkan oleh Salmonella typhi, membedakannya dari infeksi Salmonella lainnya. Kode ini digunakan untuk pencatatan rekam medis, pelaporan epidemiologi, dan penagihan asuransi terkait penyakit infeksi menular melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Diagnosis pasti memerlukan konfirmasi laboratorium (kultur darah atau Widal), dan penatalaksanaan melibatkan terapi antibiotik, suportif, serta pencegahan penularan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24992 | 09 Apr 2026
Klinis : nyeri
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: NOS (Not Otherwise Specified)
Kode ICD-10: R52
Deskripsi Singkat : Kode R52 dalam ICD-10 mengklasifikasikan nyeri yang tidak dapat dikategorikan lebih spesifik sebagai nyeri akut atau kronis, dan tidak terlokalisasi pada bagian tubuh tertentu yang memiliki kode tersendiri. Istilah "NOS" (Not Otherwise Specified) menunjukkan bahwa deskripsi gejala hanya berupa "nyeri" tanpa informasi tambahan mengenai durasi (akut atau kronis), karakteristik (seperti tajam, tumpul, berdenyut), atau lokalisasi yang lebih rinci (misalnya nyeri kepala, nyeri punggung). Kode ini digunakan dalam situasi sementara atau awal ketika dokumentasi klinis belum lengkap. Penggunaan kode ini menekankan pentingnya dokumentasi medis yang detail dan akurat, karena nyeri adalah gejala dari berbagai kondisi yang mendasarinya. Kodifikasi yang tepat memerlukan spesifikasi lebih lanjut untuk memastikan perawatan yang akurat, penagihan yang benar, dan analisis data kesehatan yang bermakna.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24993 | 09 Apr 2026
Klinis : perfusi perifer tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perfusi Perifer Tidak Efektif
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Penurunan nutrisi dan oksigenasi pada tingkat jaringan perifer akibat penurunan suplai darah.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik. Tujuan akhir dari SLKI ini adalah pasien menunjukkan tanda-tanda perfusi perifer yang adekuat, yang ditandai dengan: kulit hangat dan kering, warna kulit normal (tidak pucat, sianosis, atau kemerahan), pengisian kapiler kurang dari 3 detik, denyut nadi perifer teraba kuat dan simetris, tidak ada keluhan nyeri, kesemutan, atau baal, serta ekstremitas tidak edema. Perawat akan memantau tanda-tanda vital, khususnya tekanan darah dan denyut nadi, menilai warna, suhu, kelembaban, dan turgor kulit, serta memeriksa pengisian kapiler dan denyut nadi perifer. Selain itu, perawat akan mendorong mobilisasi bertahap sesuai toleransi untuk meningkatkan sirkulasi, menjaga posisi ekstremitas yang tidak menekan pembuluh darah, dan memastikan lingkungan yang hangat untuk mencegah vasokonstriksi. Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai tanda-tanda gangguan perfusi dan pentingnya menghindari posisi yang menghambat aliran darah juga merupakan intervensi kunci untuk mencapai hasil ini.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen Perfusi Perifer. Intervensi keperawatan ini merupakan serangkaian tindakan sistematis untuk meningkatkan atau mempertahankan aliran darah ke ekstremitas. Intervensi dimulai dengan pengkajian komprehensif yang meliputi: memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan), menilai karakteristik nadi perifer (kuat/lemah, ritmis/tidak), mengobservasi warna, suhu, kelembaban, dan turgor kulit pada ekstremitas, memeriksa pengisian kapiler, serta mengevaluasi ada tidaknya nyeri, kesemutan, mati rasa, atau edema. Perawat akan memposisikan pasien untuk optimalisasi aliran darah, misalnya dengan meninggikan ekstremitas yang edema atau menghindari posisi yang menekan pembuluh darah (seperti menyilangkan kaki). Tindakan untuk menjaga kehangatan lingkungan dan menghindari paparan dingin langsung dilakukan untuk mencegah vasokonstriksi. Perawat akan mendorong dan membantu mobilisasi aktif atau pasif sesuai kondisi pasien untuk memanfaatkan pompa otot dalam meningkatkan venous return. Jika diperlukan, kolaborasi dalam pemberian terapi obat-obatan seperti vasodilator, antikoagulan, atau analgesik dilakukan sesuai resep. Edukasi pasien dan keluarga merupakan bagian integral, meliputi pentingnya berhenti merokok (karena nikotin menyebabkan vasokonstriksi), perawatan kaki yang hati-hati untuk mencegah cedera, mengenali tanda-tanda memburuknya perfusi (seperti kulit menjadi dingin, biru, nyeri hebat), serta pentingnya kontrol penyakit penyebab (seperti diabetes mellitus atau hipertensi). Dokumentasi yang akurat tentang semua temuan dan tindakan dilakukan untuk evaluasi berkelanjutan. Intervensi ini bersifat dinamis dan disesuaikan dengan respons pasien serta etiologi dari gangguan perfusi yang mendasarinya.
-
Article No. 24994 | 09 Apr 2026
Klinis : demam
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Demam
Kode ICD-10: R50.9
Deskripsi Singkat : Demam, yang dikodekan sebagai R50.9, adalah peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal (biasanya di atas 38°C). Ini merupakan gejala umum dari berbagai kondisi, terutama infeksi (bakteri, virus, parasit), penyakit inflamasi, reaksi terhadap obat, atau keganasan. Kode R50.9 termasuk dalam Bab XVIII (Gejala, Tanda dan Temuan Klinis serta Laboratorium yang Abnormal, Tidak Diklasifikasikan di Tempat Lain) dan lebih spesifik berada di bawah kategori R50 (Demam yang Tidak Dijelaskan Asalnya). Kode ini digunakan ketika demam tidak memiliki karakteristik spesifik yang memungkinkan penempatan kode yang lebih tepat, seperti demam periodik (R50.0) atau demam pasca-prosedur (R50.82). Penggunaan kode ini dalam rekam medis menandakan bahwa demam adalah gejala utama yang dilaporkan, namun penyebab pastinya belum ditentukan atau tidak disebutkan dalam diagnosis saat itu. Oleh karena itu, kode ini sering bersifat sementara dan memerlukan investigasi lebih lanjut untuk menemukan penyebab yang mendasarinya dan mengalihkannya ke kode diagnosis yang lebih definitif.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24995 | 09 Apr 2026
Klinis : demam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Demam
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal.
Kode SIKI: 3510
Deskripsi : Pemantauan tanda-tanda vital. 3610: Manajemen lingkungan terapeutik: termoregulasi. 3820: Manajemen medikasi.
Penjelasan Lengkap: Diagnosa Keperawatan "Demam" dengan kode SDKI 00007 didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang merupakan respons fisiologis terhadap proses patologis, paling sering disebabkan oleh infeksi, inflamasi, atau kondisi lain yang mengganggu set point termoregulasi di hipotalamus. Demam bukanlah penyakit, melainkan mekanisme pertahanan tubuh untuk meningkatkan respons imun dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Rentang suhu normal tubuh bervariasi, tetapi umumnya demam dianggap ketika pengukuran suhu oral melebihi 38°C atau suhu rektal melebihi 38.3°C. Manifestasinya dapat meliputi perasaan panas atau dingin (menggigil), berkeringat, sakit kepala, mialgia, dan malaise. Pada pasien, kondisi ini memerlukan asesmen menyeluruh untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya, memantau pola demam (misalnya kontinyu, intermiten, atau remiten), serta menilai dampaknya terhadap status hidrasi, kenyamanan, dan status mental.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang ditetapkan untuk diagnosa ini adalah kode 1401: "Suhu tubuh dalam rentang normal". Luaran ini menjadi tujuan utama dari intervensi keperawatan. Pencapaian luaran ini ditandai dengan parameter evaluasi seperti suhu tubuh terukur antara 36,5°C – 37,5°C (dengan variasi tergantung lokasi pengukuran), tidak adanya menggigil atau perasaan panas yang berlebihan, kulit teraba hangat dan kering, serta denyut nadi dan pernapasan dalam rentang normal sesuai usia. Perawat akan memantau parameter ini secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan perkembangan kondisi pasien. Penting untuk dicapai bahwa normalisasi suhu tubuh harus diiringi dengan penanganan penyebab yang mendasari.
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang relevan untuk menangani demam mencakup beberapa intervensi kunci. Pertama, SIKI 3510: Pemantauan Tanda-Tanda Vital, yang melibatkan pengukuran suhu tubuh secara teratur dan akurat dengan metode yang tepat (oral, aksila, timpani, atau rektal), serta memantau denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah. Pemantauan ini penting untuk menentukan pola demam, respons terhadap terapi, dan mendeteksi dini komplikasi seperti takikardia atau dehidrasi. Kedua, SIKI 3610: Manajemen Lingkungan Terapeutik: Termoregulasi. Intervensi ini berfokus pada upaya untuk memfasilitasi tubuh dalam mengembalikan set point suhu ke normal. Tindakannya meliputi memberikan lingkungan yang nyaman (ruangan berventilasi baik, suhu ruangan sejuk), menggunakan pakaian dan selimut yang tipis dan menyerap keringat, serta melakukan tindakan pendinginan fisik seperti kompres hangat (bukan dingin) di daerah lipatan tubuh (aksila, lipat paha) atau mandi air hangat. Kompres hangat memungkinkan pembuluh darah perifer melebar sehingga memfasilitasi pelepasan panas tanpa memicu respons menggigil yang justru meningkatkan produksi panas. Pemberian cairan yang adekuat juga merupakan bagian integral dari manajemen termoregulasi untuk mengganti kehilangan cairan melalui evaporasi dan berkeringat. Ketiga, SIKI 3820: Manajemen Medikasi. Intervensi ini melibatkan pemberian obat antipiretik (seperti parasetamol atau ibuprofen) sesuai resep dokter dengan tepat, termasuk memperhatikan dosis, interval pemberian, dan rute pemberian. Perawat harus memiliki pengetahuan tentang mekanisme kerja, efek yang diharapkan (penurunan suhu dalam 1-2 jam), serta efek samping potensial dari obat tersebut. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang tujuan pemberian obat, cara pemberian, dan pentingnya tidak menggabungkan antipiretik tanpa konsultasi juga termasuk dalam intervensi ini. Selain ketiga intervensi utama, intervensi pendukung seperti SIKI 4410: Manajemen Cairan untuk mencegah atau menangani dehidrasi dan SIKI 1340: Edukasi Kesehatan untuk menjelaskan proses demam dan perawatan di rumah juga sangat penting dalam penatalaksanaan yang komprehensif. Pendekatan holistik dengan menggabungkan pemantauan, tindakan fisik non-farmakologis, dan terapi farmakologis yang tepat merupakan kunci dalam menangani diagnosa keperawatan demam secara efektif.
-
Article No. 24996 | 09 Apr 2026
Klinis : Di sebuah Sekolah Dasar (SD) "Y” seorang perawat komunitas melakukan pengkajian kesehatan pada 100 siswa kelas 4-6. Hasil pengkajian menunjukkan data sebagai berikut: 60% siswa jarang mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. 50% siswa sering membeli jajanan di luar sekolah yang terbuka dan banyak lalat. 70% siswa tidak membawa bekal dari rumah. Hasil wawancara dengan guru: "Hampir setiap bulan terdapat laporan siswa yang izin tidak masuk karena diare atau sakit perut". Kondisi kantin sekolah tidak memiliki tempat cuci tangan (wastafel) yang memadai dan tempat sampah terbuka.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap invasi oleh patogen yang dapat mengganggu kesehatan.
Kode SLKI: 1801
Deskripsi : Perilaku pencegahan infeksi dipertahankan.
Kode SIKI: 6730
Deskripsi : Edukasi pencegahan infeksi.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan.
Kode SLKI: 2101
Deskripsi : Perilaku pencegahan cedera dipertahankan.
Kode SIKI: 6540
Deskripsi : Pengawasan lingkungan.
Kondisi: Ketidakefektifan Perilaku Kesehatan
Kode SDKI: 0009
Deskripsi Singkat: Pola perilaku atau tindakan yang tidak mampu mengidentifikasi, mengelola, dan/atau mencari bantuan untuk mempertahankan kesehatan.
Kode SLKI: 0902
Deskripsi : Perilaku hidup sehat dipertahankan.
Kode SIKI: 5510
Deskripsi : Edukasi kesehatan.
-
Article No. 24997 | 09 Apr 2026
Klinis : Di sebuah Sekolah Dasar (SD) "Y” seorang perawat komunitas melakukan pengkajian kesehatan pada 100 siswa kelas 4-6. Hasil pengkajian menunjukkan data sebagai berikut: 60% siswa jarang mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. 50% siswa sering membeli jajanan di luar sekolah yang terbuka dan banyak lalat. 70% siswa tidak membawa bekal dari rumah. Hasil wawancara dengan guru: "Hampir setiap bulan terdapat laporan siswa yang izin tidak masuk karena diare atau sakit perut". Kondisi kantin sekolah tidak memiliki tempat cuci tangan (wastafel) yang memadai dan tempat sampah terbuka.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Risiko Wabah Penyakit Diare dan Keracunan Makanan di Lingkungan Sekolah
Kode ICD-10: A09.9
Deskripsi Singkat : Berdasarkan data pengkajian, terdapat kumpulan faktor risiko yang signifikan untuk kejadian diare dan penyakit lain yang ditularkan melalui makanan (foodborne diseases) di lingkungan sekolah. Kode A09.9 mengacu pada "Gastroenteritis dan kolitis yang tidak diketahui asalnya," yang merupakan kategori untuk mencatat kasus diare atau sakit perut tanpa identifikasi patogen spesifik. Situasi di SD "Y" menunjukkan potensi wabah dengan temuan: perilaku higiene yang buruk (jarang cuci tangan pakai sabun), paparan terhadap makanan jajanan yang tidak higienis (terbuka, banyak lalat), ketergantungan pada makanan dari luar, serta dukungan lingkungan yang tidak memadai (tidak ada wastafel, tempat sampah terbuka). Kombinasi faktor perilaku dan lingkungan ini menciptakan siklus penularan penyakit, sebagaimana dilaporkan guru mengenai seringnya siswa izin sakit. Kode ini merepresentasikan sindrom klinis (diare/sakit perut) yang kemungkinan besar disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus dari makanan/air terkontaminasi atau penularan fecal-oral akibat kebersihan tangan yang buruk, dalam sebuah setting komunitas (sekolah).
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***