Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 9300 | 18 Dec 2024
Klinis : Laki-laki, usia 70 tahun, sesak napas. Data pengkajian: composmentis, TD 200/140 mmHg, frekuensi nadi 110 x/menit, RR 28 x/menit, SpO2 95%, dan ada edema di ekstremitas.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data yang diberikan, pasien laki-laki usia 70 tahun dengan keluhan utama sesak napas, memiliki kondisi sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI):
Pola Napas Tidak Efektif
2. Penjelasan singkat:
Pola Napas Tidak Efektif: Ketidakmampuan untuk memelihara pola napas yang memberikan ventilasi adekuat.
3. Standar Luaran Keperawatan (SLKI):
- Pola Napas
- Saturasi Oksigen
4. Standar Intervensi Keperawatan (SIKI):
- Manajemen Jalan Napas
- Manajemen Oksigenasi
- Manajemen Hipertensi
Penjelasan dari seorang pakar keperawatan:
Pasien ini mengalami sesak napas dengan tanda-tanda vital yang tidak stabil, yaitu tekanan darah tinggi, nadi yang cepat, frekuensi napas yang cepat, dan saturasi oksigen yang masih dalam batas normal. Hal ini mengindikasikan adanya gangguan pada pola napas yang tidak efektif. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah "Pola Napas Tidak Efektif".
Standar Luaran Keperawatan (SLKI) yang terkait adalah Pola Napas dan Saturasi Oksigen, yang perlu dipantau dan ditingkatkan untuk memastikan ventilasi yang adekuat. Sedangkan Standar Intervensi Keperawatan (SIKI) yang dapat dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas, Manajemen Oksigenasi, dan Manajemen Hipertensi. Intervensi-intervensi ini bertujuan untuk mempertahankan dan memperbaiki pola napas, memastikan oksigenasi yang adekuat, serta mengendalikan tekanan darah tinggi.
Pemantauan dan intervensi keperawatan yang tepat berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI sangat penting untuk mengelola kondisi pasien ini secara komprehensif dan mencapai hasil perawatan yang optimal. -
Article No. 9301 | 18 Dec 2024
Klinis : Gangguan Mobilitas Fisik b.d nyeri d.d nyeri saat bergerak
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi "Gangguan Mobilitas Fisik b.d nyeri d.d nyeri saat bergerak" adalah:
Diagnosa Keperawatan: Gangguan Mobilitas Fisik
Definisi: Keterbatasan dalam pergerakan bebas dan terkoordinasi dari satu atau lebih ekstremitas.
Penyebab: Nyeri
Penjelasan: Pasien mengalami keterbatasan dalam pergerakan bebas dan terkoordinasi yang disebabkan oleh nyeri saat bergerak. Nyeri dapat menghambat kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, sehingga dapat mengganggu mobilitas fisik.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Tingkat Nyeri Terkontrol
Definisi: Tingkat pengurangan nyeri yang dialami pasien.
Kriteria Hasil:
a. Pasien melaporkan nyeri berkurang.
b. Pasien menunjukkan perilaku yang mengindikasikan penurunan nyeri.
c. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa hambatan akibat nyeri.
2. Mobilitas Fisik Membaik
Definisi: Kemampuan untuk bergerak secara bebas dan terkoordinasi.
Kriteria Hasil:
a. Pasien dapat menggerakkan anggota tubuh dengan lebih mudah.
b. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih mandiri.
c. Pasien menunjukkan peningkatan dalam kemampuan berpindah tempat.
Penjelasan: Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat merasakan penurunan tingkat nyeri sehingga dapat meningkatkan mobilitas fisiknya. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah dan mandiri.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Nyeri
a. Identifikasi karakteristik nyeri (lokasi, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas)
b. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri
c. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (misalnya terapi panas/dingin, posisi yang nyaman)
d. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian analgesik sesuai kebutuhan
2. Peningkatan Mobilitas
a. Bantu pasien melakukan latihan rentang gerak (ROM) secara bertahap
b. Latih pasien melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri sesuai kemampuannya
c. Evaluasi kemajuan mobilitas pasien dan identifikasi hambatan yang mungkin terjadi
d. Kolaborasi dengan fisioterapis untuk rencana rehabilitasi yang komprehensif
Penjelasan: Intervensi keperawatan yang diberikan bertujuan untuk mengelola nyeri yang dialami pasien serta meningkatkan mobilitas fisiknya. Manajemen nyeri dilakukan untuk mengurangi intensitas nyeri, sedangkan peningkatan mobilitas bertujuan untuk memulihkan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain juga diperlukan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan yang optimal.
Saya harap penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memahami diagnosa keperawatan, luaran/output, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi "Gangguan Mobilitas Fisik b.d nyeri d.d nyeri saat bergerak". Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 9302 | 18 Dec 2024
Klinis : Nyeri Akut b.d Agen pencedera fisik (luka bakar) d.d keluhan nyeri pada luka dengan skala nyeri 6.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci terkait diagnosis keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi nyeri akut yang disebabkan oleh luka bakar.
Diagnosis Keperawatan SDKI:
Diagnosis keperawatan yang sesuai untuk kondisi tersebut adalah "Nyeri Akut" yang berhubungan dengan agen pencedera fisik (luka bakar) yang ditandai dengan keluhan nyeri pada luka dengan skala nyeri 6. Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau dijelaskan dalam istilah kerusakan tersebut.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Tingkat nyeri menurun: Pasien melaporkan penurunan skala nyeri dari 6 menjadi 2-3 dalam waktu 24 jam.
2. Pasien dapat mengenali dan menggunakan metode nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri.
3. Pasien dapat beristirahat dan tidur dengan cukup.
4. Pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri sesuai kemampuan.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
1. Manajemen Nyeri:
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri.
- Berikan analgesik sesuai instruksi medis untuk mengendalikan nyeri.
- Ajarkan pasien teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, seperti relaksasi, distraksi, dan terapi dingin/hangat.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya untuk memaksimalkan penatalaksanaan nyeri.
2. Perawatan Luka:
- Lakukan perawatan luka secara aseptik sesuai prosedur.
- Berikan perawatan luka yang tepat, seperti pemberian salep, perban, dan perlindungan terhadap trauma.
- Pantau tanda-tanda infeksi dan lakukan tindakan pencegahan.
- Ajarkan pasien dan keluarga tentang perawatan luka yang benar.
3. Manajemen Istirahat dan Tidur:
- Kaji pola tidur dan istirahat pasien.
- Berikan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk mendukung istirahat dan tidur pasien.
- Ajarkan teknik relaksasi dan manajemen stres untuk memfasilitasi tidur.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya untuk mengatasi gangguan tidur, jika perlu.
4. Dukungan Aktivitas Perawatan Diri:
- Lakukan pengkajian kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas perawatan diri.
- Berikan bantuan dan asisten dalam melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan pasien.
- Ajarkan dan dorong pasien untuk melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri sesuai kemampuan.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya untuk memaksimalkan kemandirian pasien dalam perawatan diri.
Penjelasan di atas menggambarkan diagnosis keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk menangani kondisi nyeri akut yang disebabkan oleh luka bakar. Sebagai perawat, saya akan berusaha memberikan perawatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien untuk mencapai hasil yang diharapkan. -
Article No. 9303 | 18 Dec 2024
Klinis : Risiko Infeksi b.d kerusakan integritas kulit d.d hasil laboratorium (neutrofil tinggi dan monosit rendah)
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan nada akademis dan persona dokter atau perekam medis, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang sesuai dengan kondisi yang Anda berikan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R68.0
- Deskripsi: Risiko infeksi terkait dengan kerusakan integritas kulit, ditandai dengan hasil laboratorium berupa peningkatan jumlah neutrofil dan penurunan jumlah monosit.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Tidak ada kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang spesifik untuk kondisi ini. Penanganan akan tergantung pada penyebab dan gejala yang menyertai, dan dapat mencakup intervensi seperti perawatan luka, antibiotik, atau tindakan lainnya yang sesuai dengan kondisi pasien.
Penjelasan:
- Kode ICD-10 R68.0 mengacu pada "Risiko infeksi" yang terkait dengan "kerusakan integritas kulit", yang ditandai dengan hasil laboratorium berupa peningkatan jumlah neutrofil dan penurunan jumlah monosit. Kode ini digunakan untuk mengidentifikasi kondisi ini secara diagnostik.
- Tidak ada kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang spesifik untuk kondisi ini, karena penanganannya akan bergantung pada penyebab dan gejala yang menyertai. Tindakan yang mungkin dilakukan dapat meliputi perawatan luka, pemberian antibiotik, atau intervensi lainnya yang sesuai dengan kondisi pasien. -
Article No. 9304 | 18 Dec 2024
Klinis : Risiko Infeksi b.d kerusakan integritas kulit d.d hasil laboratorium (neutrofil tinggi dan monosit rendah)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Risiko Infeksi b.d kerusakan integritas kulit d.d hasil laboratorium (neutrofil tinggi dan monosit rendah).
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Infeksi b.d kerusakan integritas kulit d.d hasil laboratorium (neutrofil tinggi dan monosit rendah)
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Risiko Infeksi: Kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat mengganggu kesehatan.
- Kerusakan Integritas Kulit: Perubahan struktur dan fungsi kulit yang normal.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Pencegahan Infeksi: Tindakan untuk mencegah terjadinya infeksi.
- Integritas Kulit: Kondisi kulit yang utuh dan berfungsi normal.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen Risiko Infeksi: Tindakan untuk mengidentifikasi, mencegah, dan mengendalikan risiko infeksi.
- Perawatan Luka: Tindakan untuk memelihara dan memperbaiki kerusakan integritas kulit.
Berdasarkan kondisi pasien dengan hasil laboratorium menunjukkan neutrofil tinggi dan monosit rendah, perawat perlu melakukan intervensi keperawatan yang berfokus pada pencegahan infeksi dan perawatan luka untuk mempertahankan integritas kulit dan mencegah terjadinya infeksi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan outcome pasien dan mencegah komplikasi yang dapat terjadi. -
Article No. 9305 | 18 Dec 2024
Klinis : Risiko Infeksi b.d kerusakan integritas kulit d.d hasil laboratorium (neutrofil tinggi dan monosit rendah)
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Saya akan memberikan penjelasan rinci dan terperinci terkait diagnosa keperawatan, luaran (output), dan intervensi keperawatan untuk kondisi "Risiko Infeksi b.d kerusakan integritas kulit d.d hasil laboratorium (neutrofil tinggi dan monosit rendah)".
1. Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa Keperawatan yang sesuai untuk kondisi ini adalah "Risiko Infeksi" berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Risiko Infeksi didefinisikan sebagai "Peningkatan risiko terpapar oleh agen patogen".
Dalam kasus ini, pasien memiliki risiko infeksi yang disebabkan oleh kerusakan integritas kulit yang ditunjukkan oleh hasil laboratorium dengan peningkatan neutrofil (indikasi adanya infeksi) dan penurunan monosit (menurunnya kemampuan sistem imun untuk mengatasi infeksi).
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Luaran/Output yang diharapkan setelah pemberian Asuhan Keperawatan adalah:
a. Kontrol Infeksi: Pasien mampu mengenali tanda dan gejala infeksi dan mencegah terjadinya infeksi.
b. Integritas Kulit: Integritas kulit pasien terjaga dan tidak terjadi kerusakan lebih lanjut.
c. Respon Imun: Nilai laboratorium pasien (neutrofil dan monosit) menunjukkan peningkatan status imun.
Pencapaian luaran/output ini akan menunjukkan bahwa risiko infeksi pada pasien dapat diminimalkan dan dikelola dengan baik melalui Asuhan Keperawatan yang tepat.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Berikut adalah intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai luaran/output yang diharapkan:
a. Pemantauan Tanda Vital: Melakukan pemantauan tanda-tanda vital secara berkala untuk mendeteksi tanda-tanda infeksi.
b. Perawatan Luka: Melakukan perawatan luka dengan teknik aseptik untuk mencegah terjadinya infeksi.
c. Edukasi Pencegahan Infeksi: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang cara mencegah infeksi, seperti cuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, dan mengenali tanda-tanda infeksi.
d. Pemberian Nutrisi yang Adekuat: Memastikan pasien mendapatkan nutrisi yang seimbang dan cukup untuk mendukung proses penyembuhan dan peningkatan sistem imun.
e. Kolaborasi dengan Tenaga Kesehatan Lain: Berkolaborasi dengan dokter, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lainnya untuk mengevaluasi hasil laboratorium dan mengoptimalkan penanganan risiko infeksi.
Melalui intervensi keperawatan yang komprehensif dan kolaboratif, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output yang diharapkan, yaitu kontrol infeksi yang baik, integritas kulit yang terjaga, dan peningkatan status imun. Hal ini akan membantu meminimalkan risiko infeksi dan mempercepat proses penyembuhan. -
Article No. 9306 | 18 Dec 2024
Klinis : Nyeri Akut b.d Agen pencedera fisik (luka bakar) d.d keluhan nyeri pada luka dengan skala nyeri 6.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi nyeri akut akibat luka bakar.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi ini adalah "Nyeri Akut b.d Agen pencedera fisik (luka bakar) d.d keluhan nyeri pada luka dengan skala nyeri 6". Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti itu (klasifikasi NANDA-I). Dalam kasus ini, nyeri akut disebabkan oleh agen pencedera fisik berupa luka bakar, dengan keluhan pasien mengenai nyeri pada luka dengan skala nyeri 6 dari 10.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Pasien akan melaporkan penurunan skala nyeri menjadi 3 atau kurang dalam waktu 30 menit setelah intervensi keperawatan.
2. Pasien akan mendemonstrasikan penggunaan teknik manajemen nyeri yang efektif.
3. Pasien akan menunjukkan peningkatan kemampuan untuk beraktivitas sehari-hari tanpa mengalami peningkatan nyeri.
Penjelasan:
Luaran pertama bertujuan untuk mengurangi persepsi subjektif pasien terhadap nyeri, sehingga pasien dapat merasakan nyeri yang lebih rendah. Luaran kedua bertujuan agar pasien dapat mengelola nyerinya secara mandiri menggunakan teknik-teknik yang efektif. Luaran ketiga bertujuan agar pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami peningkatan nyeri, sehingga dapat mencapai kemandirian dan kualitas hidup yang optimal.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Nyeri
- Kaji karakteristik nyeri (lokasi, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/skala nyeri)
- Identifikasi faktor-faktor yang memperberat atau memperingan nyeri
- Berikan analgesik sesuai indikasi dan monitor efektivitasnya
- Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri (misalnya relaksasi, distraksi, kompres hangat/dingin)
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk pengelolaan nyeri yang optimal
2. Perawatan Luka
- Lakukan perawatan luka secara aseptik dan sesuai prosedur
- Berikan balutan luka yang sesuai untuk mencegah infeksi dan mengurangi nyeri
- Anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan dan kelembapan luka
3. Edukasi Kesehatan
- Jelaskan penyebab dan proses terjadinya nyeri akibat luka bakar
- Ajarkan teknik manajemen nyeri yang dapat dilakukan oleh pasien
- Berikan informasi mengenai perawatan luka yang tepat
Penjelasan:
Intervensi keperawatan di atas bertujuan untuk mengelola nyeri akut yang dialami pasien, merawat luka bakar, serta memberikan edukasi yang komprehensif agar pasien dapat berpartisipasi aktif dalam proses penyembuhannya. Manajemen nyeri yang efektif, perawatan luka yang adekuat, serta pemahaman pasien mengenai kondisinya akan membantu mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 9307 | 18 Dec 2024
Klinis : hipertensi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi hipertensi.
Diagnosa Keperawatan:
Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiovaskular
Penjelasan:
Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiovaskular adalah keadaan di mana individu mengalami penurunan sirkulasi darah ke jaringan jantung dan pembuluh darah, yang dapat disebabkan oleh hipertensi. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan/atau diastolik yang melebihi nilai normal, yang dapat menyebabkan stres pada jantung dan pembuluh darah serta memicu kerusakan organ lain.
SDKI:
Definisi: Pengurangan aliran oksigen dan nutrisi ke jaringan jantung dan pembuluh darah yang tidak mencukupi kebutuhan metabolik.
Faktor Risiko: Hipertensi, penyakit jantung, diabetes, dislipidemia, merokok, obesitas, dan stres.
Gejala dan Tanda: Nyeri dada, mual, muntah, sesak napas, palpitasi, kelelahan, kelemahan, kebingungan, dan perubahan perfusi perifer.
SLKI:
Luaran yang diharapkan:
1. Tekanan darah terkontrol
2. Perfusi jaringan kardiovaskular membaik
3. Gejala terkait hipertensi berkurang
SIKI:
Intervensi Keperawatan:
1. Manajemen hipertensi: Monitor tekanan darah, identifikasi penyebab, dan berikan terapi antihipertensi sesuai indikasi.
2. Manajemen aktivitas: Atur aktivitas dan istirahat pasien untuk mencegah kelelahan.
3. Edukasi kesehatan: Ajarkan pasien tentang pola makan sehat, aktivitas fisik, dan manajemen stres untuk mengendalikan hipertensi.
Dengan penerapan diagnosa, luaran, dan intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan dapat membantu pasien dengan hipertensi untuk mengelola kondisinya secara efektif dan mencegah komplikasi lebih lanjut. -
Article No. 9118 | 17 Dec 2024
Klinis : a. Pola napas tidak efektif b. Perfusi Perifer Tidak Efektif c. Penurunan curah jantung d. Hipervolemia e. Defisit nutrisi f. Intoleransi Aktifitas g. Defisit Pengetahuan h. Resiko Infeksi mohon data pengertian, etiologi, data subjektif dan obyektif dari diagnosa keperawatan masing-masningnya diatas dengan kondisi pasien dewasa syndroma nefrotik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan penjelasan singkat tentang diagnosa keperawatan dan standar SDKI-SLKI-SIKI yang sesuai dengan kondisi pasien dewasa dengan sindroma nefrotik yang Anda sampaikan.
a. Diagnosa Keperawatan: Pola Napas Tidak Efektif
Pengertian: Ketidakmampuan untuk mempertahankan pola napas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan oksigen.
Etiologi: Edema paru, efusi pleura, ascites, kelemahan otot pernapasan.
Data Subjektif: Pasien melaporkan sulit bernapas, napas dangkal, napas cuping hidung.
Data Objektif: Frekuensi napas meningkat, penggunaan otot bantu pernapasan, hipoksemia, edema paru.
b. Diagnosa Keperawatan: Perfusi Perifer Tidak Efektif
Pengertian: Ketidakmampuan untuk mempertahankan sirkulasi darah perifer yang memadai untuk memenuhi kebutuhan jaringan.
Etiologi: Hipovolemia, penurunan curah jantung, vasokonstriksi perifer.
Data Subjektif: Pasien melaporkan ekstremitas dingin, pucat, kulit kering.
Data Objektif: Nadi perifer lemah, akral dingin, sianosis, turgor kulit buruk.
c. Diagnosa Keperawatan: Penurunan Curah Jantung
Pengertian: Ketidakmampuan jantung untuk memompa darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Etiologi: Edema, kelebihan volume cairan, gangguan fungsi ventrikel.
Data Subjektif: Pasien melaporkan lelah, lemah, sesak napas.
Data Objektif: Peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah, edema, distensi vena leher.
d. Diagnosa Keperawatan: Hipervolemia
Pengertian: Kelebihan volume cairan yang melampaui kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Etiologi: Retensi cairan, asupan cairan berlebihan, gangguan fungsi ginjal.
Data Subjektif: Pasien melaporkan edema, peningkatan berat badan.
Data Objektif: Edema perifer, ascites, distensi vena leher, hipertensi.
e. Diagnosa Keperawatan: Defisit Nutrisi
Pengertian: Asupan nutrisi yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Etiologi: Anoreksia, malabsorpsi, kehilangan protein.
Data Subjektif: Pasien melaporkan penurunan berat badan, anoreksia, mual, muntah.
Data Objektif: Berat badan menurun, edema, kadar albumin rendah.
f. Diagnosa Keperawatan: Intoleransi Aktivitas
Pengertian: Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap aktivitas fisik.
Etiologi: Kelemahan, kelelahan, disfungsi kardiovaskular.
Data Subjektif: Pasien melaporkan kelelahan, sesak napas, nyeri.
Data Objektif: Frekuensi napas meningkat, takikardi, penurunan kekuatan otot.
g. Diagnosa Keperawatan: Defisit Pengetahuan
Pengertian: Kekurangan informasi kognitif yang berkaitan dengan topik yang spesifik.
Etiologi: Kurangnya paparan, kurangnya minat, gangguan kognitif.
Data Subjektif: Pasien melaporkan tidak memahami penyakitnya, pengobatannya, atau perawatannya.
Data Objektif: Pasien tidak dapat menjelaskan penyakitnya, pengobatannya, atau perawatannya.
h. Diagnosa Keperawatan: Risiko Infeksi
Pengertian: Peningkatan risiko terinfeksi oleh organisme patogen.
Etiologi: Penurunan sistem imun, prosedur invasif, paparan lingkungan.
Data Subjektif: Pasien melaporkan riwayat infeksi sebelumnya.
Data Objektif: Penurunan hitung sel darah putih, peningkatan suhu tubuh.
Semoga penjelasan ini membantu Anda dalam memahami diagnosa keperawatan dan standar SDKI-SLKI-SIKI untuk pasien dewasa dengan sindroma nefrotik. Jika ada pertanyaan lain, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 9119 | 17 Dec 2024
Klinis : Kunjungan keluarga pada keluarga dengan kasus paliatif, didapatkan keluarga memiliki beban rawat yang tinggi dan mengakibatkan sering Kelelahan serta ketidakstabilan emosi (menangis jika merasa Lelah dan membentak yang sakit kalau tidak menurut dan saat stress). Tujuan dilakukannya intervensi masalah keperawatan kasus tersebut pada TUK 3 adalah? Select one: a. Keluarga memahami asal stress dan koping adaptif b. Keluarga mampu mengakses layanan konseling saat stres c. Keluarga mengetahui bagaimana merawat pasien sakit d. Keluarga dapat melakukan strategi koping adaptif e. Keluarga mengetahui manajemen stress di rumah
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sangat baik, saya akan memberikan analisis yang rinci dan terperinci berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa keperawatan yang paling tepat berdasarkan kondisi yang Anda paparkan adalah "Risiko Kelelahan Keluarga". Hal ini didasarkan pada adanya beban perawatan yang tinggi pada keluarga, sehingga mengakibatkan kelelahan dan ketidakstabilan emosi.
Tujuan Intervensi (TUK 3):
Tujuan utama intervensi keperawatan pada kasus ini adalah agar "Keluarga dapat melakukan strategi koping adaptif". Hal ini dikarenakan keluarga membutuhkan kemampuan untuk mengelola stres dan beban perawatan yang dihadapi, sehingga dapat menjalankan peran perawat dengan lebih baik.
Luaran/Output yang diharapkan (SLKI):
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, luaran yang diharapkan adalah:
1. Keluarga mampu mengidentifikasi sumber stres dan koping yang adaptif.
2. Keluarga dapat mengakses layanan konseling atau dukungan psikologis saat mengalami stres.
3. Keluarga dapat menerapkan teknik manajemen stres di rumah secara mandiri.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
Untuk mencapai tujuan dan luaran yang diharapkan, intervensi keperawatan yang perlu dilakukan antara lain:
1. Identifikasi sumber stres dan koping keluarga saat ini.
2. Berikan edukasi tentang strategi koping yang adaptif, seperti teknik relaksasi, melakukan aktivitas menyenangkan, dan meminta bantuan.
3. Fasilitasi keluarga untuk mengakses layanan konseling atau dukungan psikologis, baik dari tenaga kesehatan maupun kelompok dukungan keluarga.
4. Ajarkan teknik manajemen stres di rumah, seperti manajemen waktu, komunikasi efektif, dan pembagian tugas perawatan.
5. Lakukan evaluasi berkala terhadap kemampuan koping keluarga dan berikan umpan balik yang konstruktif.
Dengan intervensi yang komprehensif dan berfokus pada pemberdayaan keluarga, diharapkan keluarga dapat mengelola stres dan beban perawatan dengan lebih baik, sehingga dapat memberikan perawatan yang optimal bagi anggota keluarga yang sakit.