Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 9408 | 19 Dec 2024
Klinis : pasien dengan inkontinensia urine pada lansia yang berobat kepuskesmas
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi pasien dengan inkontinensia urine pada lansia yang berobat ke puskesmas, dengan format yang terstruktur dan penjelasan yang detail.
1. Kode ICD-10:
- Kode: R39.81
- Deskripsi: Inkontinensia urine, tidak terspesifikasi
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 88.71
- Deskripsi: Pemasangan kateter urin permanen
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 R39.81 (Inkontinensia urine, tidak terspesifikasi) merupakan kode yang sesuai untuk menggambarkan kondisi inkontinensia urine pada pasien lansia yang berobat ke puskesmas. Kode ini digunakan ketika tidak ada informasi spesifik tentang jenis inkontinensia urine yang dialami oleh pasien.
2. Kode ICD-9-CM 88.71 (Pemasangan kateter urin permanen) adalah kode prosedur yang mungkin digunakan jika tindakan pemasangan kateter urin permanen dilakukan pada pasien dengan inkontinensia urine. Pemasangan kateter urin permanen merupakan salah satu intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi inkontinensia urine pada pasien lansia.
Dalam kasus ini, pasien dengan inkontinensia urine pada lansia yang berobat ke puskesmas memerlukan evaluasi dan penanganan yang sesuai. Dokter atau perekam medis dapat menggunakan kode ICD-10 R39.81 untuk mendokumentasikan diagnosis utama, dan jika dilakukan tindakan pemasangan kateter urin permanen, kode ICD-9-CM 88.71 dapat digunakan untuk mendokumentasikan prosedur yang dilakukan. -
Article No. 9409 | 19 Dec 2024
Klinis : Awal bulan November 2024 yang tidak akan pernah terlupakan. Suatu malam sepulang kerja tiba-tiba dada terasa sangat berat dengan sesak yang bertambah parah, setelah kurasakan gejala ini sejak hampir 1 bulan lalu. Sesak nafas disertai nyeri dengan batuk berdahak berwarna kehijauan, kini disertai juga dengan rasa demam mengigil. Malam itu sudah tak terhankan lagi, sesak nafas yangbertambah berat bahkan saat akan naik tangga menuju kamarpun rasanya tak mampu lagi disertai malaise hebat. Akhirnya dengan bantuan seorang teman, kumerasakan dinginnya bangsal IGD RS terdekat malam itu. Setelah seorang perawat memeriksaku ternyata didapatkan hasil Keluhan Sesakdengan skala 3 (MRC Dyspneu Scale 0-5) dan saat ini aku merasa nyaman jika berbaring dengan 3– 4 bantal ditumpuk karena rasa sesak ini membuat ku tak bisa tidur akibat mucul orthopneu. Pernafasan cuping hidung/PCH (+), terdapat Hiperventilasi bentuk dada Barel Chest, Frekuensi nafas 28x/menit, retraksi costa (+) dan terdengar suara nafas tambahan wheezing (+), ronchi (+) dengan hasil pemeriksaan oksimetri: SaO2 96%. Saat itu juga perawat mengajarkan Teknik pernafasan Pursed Lip Breathing dan kemudian memasang Simple Mask 5 lpm. Riwayat merokok sejak usia remaja, adanya Riwayat Bronkitis ditambah dengan polusi udara ditempat kerja memperparah kondisi kesehatanku sekarang menurut perawat yang memeriksa. Hasil Rontgen Thorax: Hiperinflasi Paru dan hasil CT-Scan: Emfisema Sentrilobule. Dan menunjukan derajat: FEV1 ≥ 80%: Ringan (GOLD 1). Saat ini aku mendapatkan terapi Nebulizer dengan bronkodilator: Combivent, Aminophilin serta obat obat Ceftazidim, Dexamethasone.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang Anda berikan, dapat disimpulkan bahwa Anda mengalami kondisi yang mengarah pada Diagnosa Keperawatan *Pola Napas Tidak Efektif* menurut SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia).
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Pola Napas Tidak Efektif: Ketidakmampuan untuk bernapas yang mengakibatkan oksigenasi tidak adekuat.
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan pola napas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan oksigen.
- Faktor yang berhubungan: Gangguan neuromuskuler, gangguan mekanik, keletihan otot pernapasan.
- Gejala dan Tanda: Takipnea, dispnea, penggunaan otot bantu napas, ortopnea, sianosis, dan lain-lain.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Pola napas efektif, pertukaran gas adekuat, dan fungsi pernapasan membaik.
- Indikator: Frekuensi napas dalam rentang normal, tidak ada tanda-tanda kegagalan napas, saturasi oksigen meningkat, dan lain-lain.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi: Manajemen jalan napas, manajemen oksigenasi, manajemen ventilasi, dan terapi farmakologis.
- Contoh intervensi: Lakukan teknik pernapasan pursed lip breathing, berikan oksigen sesuai kebutuhan, pantau tanda-tanda vital, kolaborasi dalam pemberian terapi farmakologis, dan lain-lain.
Berdasarkan kondisi yang Anda alami, perawat telah melakukan tindakan yang tepat, yaitu memberikan oksigen melalui masker sederhana, mengajarkan teknik pernapasan pursed lip breathing, serta memberikan terapi farmakologis sesuai indikasi. Hal ini sejalan dengan intervensi keperawatan untuk mengatasi Pola Napas Tidak Efektif. -
Article No. 9410 | 19 Dec 2024
Klinis : Pasien POD 3 kolostomi, khawatir orang lain merasa jijik dan mencium bau tidak enak sata didekatnya. Area stoma pasien berwarna kemerahan, sedikit basah dan mengandung pus disertai area iritasi disekitar stoma. Setalah OP pasien anorexia, belum pernah mandi dan ibadah pun tidak karena takut kantung kolostominya bocor. Sebelumnya pasien mengeluh sulit eliminasi fecal disertai adanya rectal bleeding dan abdominal pain yang hilang timbul.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai
1. Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengan perubahan fisik akibat kolostomi, ditandai dengan pasien khawatir orang lain merasa jijik dan mencium bau tidak enak saat didekatnya.
2. Risiko Infeksi berhubungan dengan kondisi stoma yang merah, sedikit basah, dan mengandung nanah serta iritasi area sekitar stoma.
3. Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan penurunan motivasi setelah operasi kolostomi, ditandai dengan pasien belum pernah mandi dan tidak melakukan ibadah karena takut kantung kolostominya bocor.
4. Konstipasi berhubungan dengan perubahan pola eliminasi feses, ditandai dengan pasien mengeluh sulit eliminasi feses disertai adanya rektal bleeding dan nyeri abdominal.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI)
1. Citra Tubuh: Pasien mampu menerima perubahan fisik akibat kolostomi dan merasa nyaman dengan kondisi stoma.
2. Kontrol Infeksi: Pasien tidak mengalami infeksi pada area stoma dan sekitarnya.
3. Perawatan Diri: Pasien dapat melakukan perawatan diri secara mandiri, termasuk mandi dan beribadah tanpa takut kantung kolostomi bocor.
4. Eliminasi: Pasien dapat melakukan eliminasi feses secara lancar tanpa adanya perdarahan atau nyeri abdominal.
Intervensi Keperawatan (SIKI)
1. Gangguan Citra Tubuh:
a. Identifikasi persepsi pasien tentang perubahan citra tubuh akibat kolostomi.
b. Berikan dukungan emosional dan informasi terkait penerimaan diri.
c. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (psikolog, terapi okupasi) untuk membantu pasien menerima perubahan citra tubuh.
d. Ajarkan teknik-teknik untuk meningkatkan penampilan dan rasa percaya diri.
2. Risiko Infeksi:
a. Observasi tanda-tanda infeksi pada area stoma dan sekitarnya.
b. Berikan perawatan stoma yang tepat sesuai prosedur.
c. Ajarkan pasien dan keluarga cara perawatan stoma yang benar.
d. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (dokter, stoma terapis) untuk penanganan infeksi.
3. Defisit Perawatan Diri:
a. Identifikasi hambatan pasien dalam melakukan perawatan diri.
b. Ajarkan dan bantu pasien melakukan perawatan diri secara bertahap, termasuk mandi dan beribadah.
c. Libatkan keluarga dalam memotivasi dan membantu pasien dalam perawatan diri.
d. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (fisioterapis, terapi okupasi) untuk meningkatkan kemandirian pasien.
4. Konstipasi:
a. Identifikasi penyebab dan faktor risiko konstipasi pada pasien.
b. Berikan edukasi tentang manajemen konstipasi, termasuk diet, cairan, dan latihan.
c. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (dokter, ahli gizi) untuk penanganan konstipasi.
d. Monitor pola eliminasi feses dan berikan intervensi sesuai kebutuhan.
Penjelasan di atas mencakup diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mengatasi kondisi pasien pasca operasi kolostomi dengan komplikasi yang terjadi. Tone yang digunakan adalah akademis, dengan persona pakar/perawat. -
Article No. 9411 | 19 Dec 2024
Klinis : Nama: Tn. Sakiman Usia: 70 tahun Jenis kelamin: Laki-laki Status: Menikah Alamat: Boyolali No. RM: 00141558 Tanggal masuk: 14 Desember 2024 Keluhan utama : Nyeri perut RPS: Pasien datang ke IGD RSUNS dengan keluhan nyeri perut di seluruh lapang perut sejak 10 jam SMRS. Nyeri perut diakui semakin memberat. Pasien mengeluhkan dada terasa panas dan nyeri saat menelan. Pasien juga mengalami penurunan nafsu makan sejak 1 minggu SMRS karena mual ketika hendak makan. Hari ini pasien muntah sebanyak 3 kali berisi air dan makanan. Pasien juga mengeluhkan pusing sejak tadi pagi. Pusing dirasakan tidak berputar, terasa di seluruh kepala. Pasien juga mengeluhkan BAK sulit. BAK berwarna merah dan terasa sakit. Sebelumnya pasien pernah dilakukan USG dan didiagnosis BPH. Pasien juga mengeluhkan BAB berwarna merah kecoklatan. RPD - Keluhan serupa: disangkal - Alergi: disangkal - Peny. jantung: disangkal - Peny. paru : disangkal - Peny. liver: disangkal - Peny. ginjal: disangal - Hipertensi: diakui, terkontrol Amlodipin - DM: diakui, terkontrol obat Glimepirid - Asma: disangkal - Keganasan: Disangkal - Mondok: disangkal - Kontrol: diakui, di Puskesmas - Transfusi: disangkal - Operasi: Post op kolelitiasis 26/11/24 di RS UNS - Peny. lain : BPH RPK - Keluhan serupa: disangkal - Alergi: disangkal - Peny. jantung: disangkal - Peny. liver: disangkal - Peny. ginjal: disangkal - Peny. paru: disangkal - Hipertensi: disangkal - DM : diakui - Asma: disangkal - Keganasan: disangkal RSEK - Pekerjaan: Petani - Asuransi: BPJS Kesehatan - Rokok: diakui, hingga sekarang. Sehari 1 bungkus rokok - Alkohol: disangkal - Olahraga: jarang - Makan dan minum: napsu makan minum berkurang. sering minum kopi hitam tiap hari. PEMERIKSAAN FISIK • KU: Sakit sedang • GCS: E4V5M6 • TD: 135/76 mmHg • HR: 68x/menit • RR: 20x/menit • T: 36.4 • SpO2: 99% on room air Antropometri • BB : 46 kg • TB : 156 cm • IMT : 18.93 kg/m2 (underweight) Kepala: Normocephal, jejas (-) Mata : conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya (+/+), ukuran pupil 3mm/3mm, lensa jernih, mata cowong (-/-) Hidung: Nafas cuping hidung (-/-), epistaksis (-), sekret (-/-) Mulut : Mukosa kering (+), bibir sianosis (-) Leher: JVP 5+2 cm, pembesaran KGB (-) Thorax: Cor Inspeksi: Iktus kordis tak tampak Palpasi: Iktus cordis tak kuat angkat Perkusi: batas jantung kanan: SIC IV linea sternalis dekstra batas pinggang jantung : SIC III linea parasternalis sinistra batas jantung kiri : SIC V linea midclavicularis sinistra Batas jantung tidak melebar Auskultasi: S1 & S2 reguler, tidak ada bunyi jantung tambahan, murmur (-), gallop (-), pulsus defisit (-) Pulmo Inspeksi : Normochest, simetris kanan kiri, retraksi (-), barrel chest (-) Palpasi : Fremitus taktil kanan dan kiri simetris, nyeri tekan (-), massa (-) Perkusi: sonor/sonor Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), RBH (-/-), RBK (-/-), wheezing (-/-) Abdomen Inspeksi: Dinding perut sejajar dengan dinding dada, distended (-), tampak jahitan post op kolelitiasis Auskultasi : Bising usus (+) 18x/menit Perkusi: Timpani di seluruh lapang perut Palpasi: supel di seluruh lapang abdomen, Nyeri tekan (+) regio epigastrium, hepatomegali (-), splenomegali (-), Murphy Sign (-), Mc Burney sign (-), Rebound tenderness (-) Integumen: ikterik (-), sianosis (-), turgor kulit menurun (-), petekie (-), ruam kemerahan (-) Ekstremitas: CRT<2 detik, akral hangat (+/+/+/+), pitting edema (-/-/-/-) PEMERIKSAAN PENUNJANG Lab Darah (14/12/2024) * DAFTAR MASALAH * Abdominal pain ec gastritis dd GERD * Dehidrasi ringan sedang ec vomitus frequent * Melena * ISK ec BPH * Geriatric low intake
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, Tn. Sakiman. Sebagai perawat, saya akan membantu Anda dengan memberikan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda saat ini. Berdasarkan informasi yang Anda berikan, berikut adalah analisa saya:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit (gastritis/GERD) ditandai dengan keluhan nyeri perut di seluruh abdomen.
2. Risiko dehidrasi berhubungan dengan penurunan asupan cairan dan muntah frequent.
3. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan BPH ditandai dengan keluhan BAK sulit dan berwarna merah.
4. Risiko malnutrisi berhubungan dengan penurunan nafsu makan.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Nyeri Akut:
- Pasien melaporkan nyeri berkurang dari skala 8 menjadi skala 3.
- Pasien dapat mengidentifikasi faktor pencetus dan strategi penanganan nyeri.
- Vital sign pasien stabil.
2. Risiko Dehidrasi:
- Pasien menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil.
- Turgor kulit membaik, mulut dan membran mukosa lembab.
- Pasien dapat mempertahankan intake cairan yang adekuat.
3. Perubahan Eliminasi Urine:
- Pasien dapat berkemih dengan lancar tanpa rasa sakit.
- Hasil pemeriksaan urin menunjukkan perbaikan.
- Pasien dapat mengidentifikasi faktor yang memengaruhi pola berkemih.
4. Risiko Malnutrisi:
- Pasien dapat mengkonsumsi makanan dan minuman yang sesuai dengan kebutuhan.
- Berat badan pasien stabil atau mengalami peningkatan.
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Nyeri Akut:
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
- Berikan analgetik sesuai resep dokter.
- Ajarkan teknik manajemen nyeri non-farmakologis.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk mengatasi penyebab nyeri.
2. Risiko Dehidrasi:
- Monitor intake dan output cairan pasien.
- Berikan cairan IV sesuai indikasi dan perhitungan kebutuhan.
- Anjurkan pasien untuk meningkatkan asupan cairan oral.
- Lakukan tindakan untuk mengatasi mual dan muntah.
3. Perubahan Eliminasi Urine:
- Kaji pola dan karakteristik urinasi pasien.
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan penunjang (misalnya USG).
- Berikan terapi farmakologis sesuai resep dokter.
- Ajarkan latihan Kegel untuk meningkatkan kontrol berkemih.
4. Risiko Malnutrisi:
- Kaji status nutrisi dan pola makan pasien.
- Berikan makanan dan minuman yang sesuai dengan kebutuhan pasien.
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan diet yang tepat.
- Dorong pasien untuk meningkatkan asupan makanan dan minuman.
Saya berharap informasi ini dapat membantu Anda dan tim kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif. Jika ada pertanyaan atau hal lain yang perlu didiskusikan, jangan ragu untuk menghubungi saya. Semoga Tn. Sakiman segera pulih dan kembali sehat. -
Article No. 9412 | 19 Dec 2024
Klinis : Gangguan proses pikir berhubungan dengan perubahan biokimia otak
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi "Gangguan proses pikir berhubungan dengan perubahan biokimia otak" adalah "Perubahan Proses Pikir". Perubahan proses pikir didefinisikan sebagai gangguan dalam kemampuan mental untuk mengorganisir pemikiran, persepsi, pengambilan keputusan, dan perilaku yang disebabkan oleh perubahan biokimia di otak. Karakteristik utama dari diagnosa ini meliputi gangguan dalam kemampuan berpikir logis, kesulitan dalam memproses informasi, dan perubahan dalam persepsi realitas.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah dilakukan asuhan keperawatan yang komprehensif, diharapkan pasien dapat menunjukkan luaran/output yang sesuai, yaitu:
1. Proses Pikir Membaik: Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengorganisir pemikiran, persepsi, dan pengambilan keputusan yang mendekati normal.
2. Orientasi Membaik: Pasien menunjukkan peningkatan orientasi terhadap waktu, tempat, dan orang.
3. Perilaku Adaptif: Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam beradaptasi dengan lingkungan dan melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
4. Kemampuan Komunikasi Membaik: Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
Untuk mencapai tujuan luaran yang diharapkan, berikut adalah beberapa intervensi keperawatan yang diperlukan:
1. Monitor Fungsi Kognitif: Melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala terhadap fungsi kognitif pasien, termasuk orientasi, daya ingat, bahasa, dan kemampuan berpikir.
2. Manajemen Terapeutik: Memberikan terapi farmakologis dan non-farmakologis yang sesuai untuk mengatasi perubahan biokimia di otak, seperti obat-obatan, terapi elektrokonvulsif, dan stimulasi kognitif.
3. Bina Hubungan Terapeutik: Membangun hubungan terapeutik yang positif dengan pasien untuk meningkatkan kepercayaan dan keterlibatan dalam proses pengobatan.
4. Educate Pasien dan Keluarga: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang proses perubahan proses pikir, manajemen gejala, dan strategi dukungan yang dapat dilakukan.
5. Fasilitasi Aktivitas Harian: Memfasilitasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri atau dengan bantuan, untuk meningkatkan kemandirian dan adaptasi dengan lingkungan.
6. Kolaborasi Interprofesional: Berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya, seperti dokter, terapis, dan psikolog, untuk memberikan pendekatan holistik dalam penanganan pasien.
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif dan terkoordinasi, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diinginkan dan mengalami perbaikan dalam proses pikir, orientasi, perilaku adaptif, dan kemampuan komunikasi. -
Article No. 9413 | 19 Dec 2024
Klinis : Isolasi sosial berhubungan dengan ketakutan yang irasional atau stigma.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait dengan kondisi isolasi sosial yang berhubungan dengan ketakutan yang irasional atau stigma.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi tersebut adalah "Isolasi Sosial". Isolasi sosial merupakan suatu kondisi di mana individu mengalami keterbatasan dalam berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain di sekitarnya. Dalam kasus ini, isolasi sosial terjadi karena adanya ketakutan yang irasional atau stigma yang dirasakan oleh individu.
Luaran/Output SLKI:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan yang komprehensif, diharapkan luaran/output yang dapat dicapai adalah:
1. Klien mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
2. Klien menunjukkan peningkatan interaksi sosial.
3. Klien mampu mengidentifikasi dan mengatasi ketakutan atau stigma yang irasional.
4. Klien menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dalam berinteraksi.
5. Klien mampu mengembangkan strategi koping yang efektif untuk mengatasi isolasi sosial.
Intervensi Keperawatan SIKI:
Untuk mencapai tujuan luaran yang telah diidentifikasi, berikut adalah beberapa intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
1. Menciptakan lingkungan yang nyaman dan mendukung untuk interaksi sosial.
2. Memberikan edukasi kepada klien dan keluarga terkait isolasi sosial dan cara mengatasi ketakutan atau stigma yang irasional.
3. Melakukan terapi kognitif-behavioral untuk membantu klien mengidentifikasi dan mengubah pemikiran negatif yang mengarah pada isolasi sosial.
4. Memfasilitasi klien untuk terlibat dalam aktivitas kelompok atau komunitas yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.
5. Mengajarkan klien teknik-teknik relaksasi dan manajemen stres untuk mengatasi kecemasan atau ketakutan yang menghambat interaksi sosial.
6. Melakukan konseling dan pendampingan untuk membantu klien mengembangkan strategi koping yang efektif dalam menghadapi situasi yang menimbulkan isolasi sosial.
7. Melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, seperti psikolog atau terapis, untuk memberikan intervensi yang komprehensif.
Melalui penerapan intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan klien dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu mampu bersosialisasi dengan lingkungan, mengatasi ketakutan atau stigma yang irasional, serta meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan beradaptasi dalam berinteraksi sosial. -
Article No. 9414 | 19 Dec 2024
Klinis : • Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan disorganisasi pikiran
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati, saya akan memberikan informasi yang relevan terkait kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa keperawatan yang tepat untuk kondisi "Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan disorganisasi pikiran" adalah "Komunikasi Verbal Terganggu" (00051). Diagnosa ini didefinisikan sebagai "Kemampuan untuk menyampaikan atau menerima pesan verbal yang terbatas atau tidak efektif".
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai beberapa luaran/output, antara lain:
1. Komunikasi verbal: Pasien dapat menyampaikan pesan verbal secara efektif (Kode: 0902).
2. Proses Pikir: Pasien menunjukkan proses pikir yang terorganisir (Kode: 0912).
3. Kemampuan Berbahasa: Pasien dapat menggunakan bahasa secara efektif (Kode: 0907).
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, beberapa intervensi keperawatan yang dapat dilakukan, antara lain:
1. Terapi Komunikasi (Kode: 4976)
- Memfasilitasi komunikasi verbal pasien dengan menggunakan teknik komunikasi terapeutik seperti penggunaan bahasa yang sederhana, pertanyaan terbuka, dan umpan balik yang konstruktif.
- Mendorong pasien untuk menyampaikan perasaan, pikiran, dan kebutuhannya secara verbal.
- Mengidentifikasi dan mengatasi hambatan komunikasi, seperti kecemasan atau kebingungan.
2. Manajemen Perilaku (Kode: 4510)
- Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi disorganisasi pikiran pasien, seperti stres, kelelahan, atau efek obat-obatan.
- Membantu pasien mengembangkan strategi untuk mengelola perilaku yang terkait dengan disorganisasi pikiran, misalnya memberikan lingkungan yang tenang dan mendukung.
- Melibatkan keluarga atau orang terdekat dalam proses perawatan untuk memberikan dukungan dan menciptakan lingkungan yang kondusif.
3. Terapi Aktivitas (Kode: 4310)
- Memfasilitasi aktivitas yang dapat membantu pasien mengorganisir pikirannya, seperti kegiatan kreatif, pengaturan jadwal harian, atau latihan kognitif.
- Mendorong pasien untuk terlibat dalam aktivitas yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan pemrosesan informasi.
Penjelasan yang rinci untuk setiap poin di atas:
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai merupakan identifikasi masalah keperawatan utama yang dialami pasien berdasarkan pengkajian keperawatan. Dalam kasus ini, "Komunikasi Verbal Terganggu" adalah diagnosa yang tepat karena pasien mengalami gangguan dalam menyampaikan atau menerima pesan verbal akibat disorganisasi pikiran.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI) mencakup tujuan-tujuan yang ingin dicapai setelah intervensi keperawatan dilakukan. Tujuan-tujuan tersebut meliputi peningkatan kemampuan komunikasi verbal, organisasi pikir, dan penggunaan bahasa yang efektif.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI) merupakan tindakan-tindakan keperawatan yang dirancang untuk mengatasi masalah komunikasi verbal dan disorganisasi pikiran pasien. Intervensi ini mencakup terapi komunikasi, manajemen perilaku, dan terapi aktivitas, yang bertujuan untuk memfasilitasi komunikasi, mengelola faktor-faktor yang mempengaruhi disorganisasi pikiran, dan meningkatkan kemampuan pemrosesan informasi pasien.
Penerapan intervensi-intervensi ini secara komprehensif dan kolaboratif dengan tim kesehatan lainnya diharapkan dapat membantu pasien mencapai luaran/output yang diinginkan dan meningkatkan kualitas hidup. -
Article No. 9415 | 19 Dec 2024
Klinis : Perubahan penglihatan dan penggunaan kacamata
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci sesuai dengan permintaan Anda.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi "Perubahan penglihatan dan penggunaan kacamata":
Diagnosa Keperawatan SDKI yang paling sesuai untuk kondisi tersebut adalah "Gangguan Penglihatan". Gangguan Penglihatan didefinisikan sebagai perubahan pada fungsi penglihatan yang menimbulkan keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini dapat disebabkan oleh faktor usia, penyakit, atau cedera yang memengaruhi organ penglihatan, seperti mata, saraf, atau pusat penglihatan di otak.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan untuk kondisi "Gangguan Penglihatan" adalah:
a. Pemulihan Penglihatan: Pasien dapat menunjukkan peningkatan dalam fungsi penglihatan dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang berkaitan dengan penglihatan.
b. Adaptasi Terhadap Keterbatasan Penglihatan: Pasien dapat menunjukkan strategi yang efektif untuk beradaptasi dengan keterbatasan penglihatan, seperti penggunaan alat bantu, penyesuaian lingkungan, dan modifikasi aktivitas.
c. Manajemen Penglihatan: Pasien dapat menunjukkan pemahaman dan kemampuan untuk mengelola kondisi penglihatan, termasuk penggunaan kacamata, perawatan mata, dan pengobatan yang diperlukan.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SLKI) dalam menangani "Gangguan Penglihatan" meliputi:
a. Asesmen Penglihatan: Melakukan asesmen komprehensif terhadap fungsi penglihatan pasien, termasuk visus, lapang pandang, adaptasi terhadap cahaya, dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang berkaitan dengan penglihatan.
b. Edukasi dan Konseling: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai kondisi penglihatan, pentingnya penggunaan kacamata, dan strategi adaptasi untuk mengatasi keterbatasan penglihatan.
c. Manajemen Lingkungan: Mengidentifikasi dan mengubah lingkungan fisik untuk mendukung keamanan dan kemandirian pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seperti penyediaan pencahayaan yang cukup, kontras warna, dan penanda visual yang jelas.
d. Kolaborasi dengan Profesional Kesehatan Lain: Berkolaborasi dengan ahli oftalmologi, optometris, atau ahli rehabilitasi visual untuk menentukan intervensi yang tepat, seperti penentuan resep kacamata, terapi okupasi, atau pelatihan penggunaan alat bantu.
e. Monitoring dan Evaluasi: Melakukan monitoring terhadap perkembangan penglihatan pasien dan mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan, serta melakukan penyesuaian intervensi sesuai dengan kebutuhan pasien.
Dalam memberikan Asuhan Keperawatan untuk kondisi "Gangguan Penglihatan", perawat harus mempertimbangkan keunikan setiap pasien, membangun kolaborasi yang erat dengan pasien dan keluarga, serta memastikan bahwa intervensi yang diberikan sesuai dengan tujuan Luaran (SLKI) yang telah ditetapkan. -
Article No. 9216 | 18 Dec 2024
Klinis : Pada anamnesis didapatkan pasien mengeluh nyeri dada sejak sejam yang lalu dengan skala 8 dirasakan pada area dada kiri menjalar ke bahu dan lengan kiri, nyeri dada dirasakan seperti tertusuk-tusuk dan terasa tertimpa batu berat dan terus menerus walaupun pasien sudah beristirahat. Keluhan lain Pasien sesak napas sedang, pasien riwayat merokok dua bungkus sehari, makan makanan dengan kolesterol tinggi, merasa lekas lelah dan dada berdebar-debar. Hasil pemeriksaan laboratorium satu minggu yang lalu kolesterol 125–200 mg/dL TD 100/60 MmHg, nadi 50 x/menit suhu 39 oC, nafas 26 x menit.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat disusun diagnosis keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI sebagai berikut:
Diagnosis Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi jantung (angina pektoris)
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Nyeri akut: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain)
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Tingkat nyeri menurun
2. Ekspresi nyeri menurun
3. Kemampuan mengendalikan nyeri meningkat
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen nyeri
2. Terapi relaksasi
3. Terapi modalitas
Penjelasan Singkat:
Pasien mengalami nyeri dada yang dirasakan seperti tertusuk-tusuk dan terasa tertimpa batu berat. Hal ini dapat disebabkan oleh inflamasi jantung atau angina pektoris. Angina pektoris adalah rasa nyeri atau ketidaknyamanan di dada yang terjadi ketika otot jantung kekurangan oksigen. Faktor risiko yang dimiliki pasien adalah merokok, pola makan tidak sehat, dan kolesterol tinggi.
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen nyeri (misalnya pemberian analgesik), terapi relaksasi (misalnya teknik pernapasan), dan terapi modalitas (misalnya kompres hangat). Tujuannya adalah untuk menurunkan tingkat nyeri, mengurangi ekspresi nyeri, dan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengendalikan nyeri. -
Article No. 9217 | 18 Dec 2024
Klinis : Pola napas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Pola Napas Tidak Efektif
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Pola napas tidak efektif didefinisikan sebagai keadaan di mana individu mengalami perubahan dalam kedalaman dan/atau irama pernapasan yang dapat mengganggu ventilasi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari pola napas tidak efektif adalah pasien dapat mempertahankan pola napas yang efektif. Indikator luaran dapat meliputi: frekuensi napas dalam batas normal, kedalaman napas dalam batas normal, dan tidak ada retraksi otot bantu pernapasan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat diberikan untuk mengatasi pola napas tidak efektif antara lain: memantau pola napas, mengatur posisi pasien, memberikan oksigen, melakukan fisioterapi dada, dan mengajarkan teknik pernapasan.
Dengan tone akademis dan persona pakar/perawat, penjelasan ini dapat disajikan dalam bahasa yang lebih formal dan terperinci sesuai dengan standar profesi keperawatan di Indonesia.