Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 9918 | 27 Dec 2024
Klinis : gangguan eliminasi urine
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi gangguan eliminasi urine.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Eliminasi Urine
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Gangguan Eliminasi Urine didefinisikan sebagai perubahan pola berkemih yang tidak normal, yang ditandai dengan frekuensi, volume, atau karakteristik urine yang tidak sesuai.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan Gangguan Eliminasi Urine adalah pasien dapat mempertahankan pola eliminasi urine yang normal, dengan indikator seperti frekuensi berkemih, volume urine, dan karakteristik urine yang sesuai.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi Gangguan Eliminasi Urine antara lain:
1. Observasi pola dan karakteristik urine
2. Pengaturan asupan cairan
3. Teknik relaksasi dan latihan berkemih
4. Perawatan kateter urin, jika diperlukan
5. Edukasi dan konseling terkait manajemen eliminasi urine
Secara umum, penanganan Gangguan Eliminasi Urine bertujuan untuk memulihkan pola eliminasi urine yang normal, mengurangi risiko komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. -
Article No. 9920 | 27 Dec 2024
Klinis : gangguan eliminasi urine
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi gangguan eliminasi urine.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Eliminasi Urin
Penjelasan Singkat:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Gangguan Eliminasi Urin adalah kondisi di mana individu mengalami perubahan pola atau fungsi berkemih yang berbeda dari normal. Tanda dan gejala dapat meliputi inkontinensia, retensi urin, disuria, polakiuria, dan nokturia.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan gangguan eliminasi urin adalah pasien dapat mempertahankan pola eliminasi urin yang normal, tidak terjadi komplikasi, dan pasien dapat mandiri dalam melakukan perawatan diri terkait eliminasi urin.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan eliminasi urin meliputi:
a. Manajemen eliminasi urin: mengkaji pola eliminasi, memantau intake dan output cairan, mengatur jadwal berkemih, dan memberikan bantuan atau alat bantu eliminasi urin jika diperlukan.
b. Edukasi dan konseling: memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya pola eliminasi urin yang normal, serta melatih pasien untuk melakukan perawatan diri terkait eliminasi urin.
c. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain: berkoordinasi dengan dokter atau ahli lain untuk menentukan penyebab dan penanganan lebih lanjut.
Secara umum, pendekatan keperawatan yang berpusat pada pasien, komprehensif, dan kolaboratif diperlukan untuk menangani gangguan eliminasi urin secara efektif. Pemantauan dan evaluasi yang teratur sangat penting untuk memastikan tercapainya luaran yang diharapkan. -
Article No. 9921 | 27 Dec 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan sakit kepala, hidung tersumbat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan kondisi pasien yang datang dengan keluhan sakit kepala dan hidung tersumbat, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI yang sesuai dengan standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Kepala Berhubungan Dengan Sinus Tersumbat
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Nyeri kepala adalah perasaan tidak nyaman di daerah kepala, leher, atau kulit kepala.
- Sinus tersumbat dapat menyebabkan peningkatan tekanan di dalam sinus, sehingga menimbulkan rasa nyeri.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Pasien mengalami penurunan intensitas nyeri kepala.
- Pasien dapat mengenali faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri kepala.
- Pasien dapat melakukan manajemen nyeri yang efektif.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen Nyeri: Mengkaji nyeri secara komprehensif, memberikan intervensi farmakologi dan non-farmakologi untuk mengurangi nyeri.
- Peningkatan Sirkulasi Sinus: Mengajarkan teknik relaksasi, kompres hangat, dan hidrasi yang adekuat untuk memperlancar aliran sinus.
Tone: Akademis, penjelasan disajikan secara terstruktur dan informatif.
Persona: Pakar, menyampaikan diagnosa dan penjelasan dengan wawasan keperawatan yang komprehensif. -
Article No. 9922 | 27 Dec 2024
Klinis : pasien datang ingin mengontrol luka, luka masih bengkak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Integritas Kulit Terganggu
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Integritas Kulit Terganggu didefinisikan sebagai kerusakan atau perubahan pada kulit dan/atau membran mukosa.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari Integritas Kulit Terganggu adalah:
1. Luka memperlihatkan tanda-tanda penyembuhan
2. Tidak terjadi komplikasi
3. Pasien menunjukkan perilaku untuk mempertahankan integritas kulit
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi Integritas Kulit Terganggu antara lain:
1. Perawatan Luka
2. Manajemen Nyeri
3. Edukasi Perawatan Luka
Berdasarkan kondisi pasien yang datang dengan keluhan luka yang masih bengkak, diagnosa keperawatan yang paling sesuai adalah Integritas Kulit Terganggu. Perawat perlu melakukan intervensi perawatan luka, manajemen nyeri, dan edukasi perawatan luka agar luka dapat segera memperlihatkan tanda-tanda penyembuhan dan tidak terjadi komplikasi. -
Article No. 9923 | 27 Dec 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan demam, batuk, pilek sudah 2 hari
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang datang dengan keluhan demam, batuk, dan pilek selama 2 hari, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menurut SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan ventilasi yang adekuat.
- Penyebab: Peningkatan produksi sekret, kelemahan batuk, dan obstruksi jalan napas.
Luaran Keperawatan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas
- Indikator: Pasien dapat membatukkan sekret dengan efektif, frekuensi napas dalam batas normal, tidak ada obstruksi jalan napas.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Jalan Napas
- Tujuan: Mempertahankan jalan napas yang bersih dan bebas hambatan.
- Tindakan: Identifikasi sumber obstruksi, auskultasi suara napas, monitor pola napas, berikan oksigen, lakukan hidrasi, berikan humidifikasi, lakukan suction jika perlu.
Penjelasan Singkat:
Pasien datang dengan keluhan demam, batuk, dan pilek selama 2 hari, yang dapat menyebabkan bersihan jalan napas tidak efektif. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif. Luaran yang diharapkan adalah Bersihan Jalan Napas, dengan indikator pasien dapat membatukkan sekret dengan efektif, frekuensi napas dalam batas normal, dan tidak ada obstruksi jalan napas. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas, dengan tujuan mempertahankan jalan napas yang bersih dan bebas hambatan, melalui identifikasi sumber obstruksi, auskultasi suara napas, monitor pola napas, pemberian oksigen, hidrasi, humidifikasi, dan suction jika perlu. -
Article No. 9924 | 27 Dec 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan demam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien dengan keluhan demam.
Diagnosa Keperawatan:
1. Hipertermia
- Penjelasan: Hipertermia adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan suhu tubuh di atas 37,5°C (99,5°F) yang disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi, dehidrasi, atau kondisi medis lainnya.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas 37,5°C (99,5°F) yang disebabkan oleh berbagai faktor.
- Penyebab: Infeksi, dehidrasi, kondisi medis lainnya.
- Tanda dan Gejala: Suhu tubuh meningkat, kulit hangat, wajah kemerahan, menggigil, sakit kepala, kelelahan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Suhu tubuh kembali normal, pasien tidak lagi menggigil, kulit tidak lagi hangat, wajah tidak lagi kemerahan.
- Intervensi Keperawatan: Memantau suhu tubuh, mengompres dingin, memberikan cairan, memakai pakaian tipis, menjaga lingkungan sejuk.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Hipertermia, yang meliputi pemantauan suhu tubuh, pemberian kompres dingin, pemberian cairan, pengaturan lingkungan, dan pemberian obat penurun demam jika diperlukan.
Sebagai perawat, saya akan melakukan penilaian komprehensif terhadap pasien, memantau tanda-tanda vital, dan memberikan intervensi keperawatan yang sesuai untuk mengatasi hipertermia yang dialami pasien. Tujuan utamanya adalah membantu pasien mencapai suhu tubuh normal dan meningkatkan kenyamanannya. -
Article No. 9926 | 27 Dec 2024
Klinis : DS: suami px mengatakan pasien sering mengeluh lelah saat melakukan aktivitas dan pasien mempunyai riwayat DM DO: Badan lemas sejak 3 hari mulai siang penurunan kesadaran,tidak ada batuk tidak ada demam TD : 80/50 mmhg Suhu :36 derajat celcius Spo2 : 100% Pernafasan 22 kali per menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan data subjektif dan data objektif yang diberikan, saya dapat memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi ini.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko hipovolemia berhubungan dengan penurunan intake cairan.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko hipovolemia adalah keadaan ketidakseimbangan antara volume cairan tubuh yang tersedia dan volume cairan yang dibutuhkan untuk perfusi jaringan yang adekuat.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Setelah intervensi keperawatan, pasien akan menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil, tidak ada penurunan kesadaran, dan tidak ada tanda-tanda dehidrasi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat dilakukan adalah:
- Memantau tanda-tanda vital secara berkala
- Menyediakan akses intravena dan memberikan cairan sesuai indikasi
- Memantau intake dan output cairan
- Mengidentifikasi penyebab penurunan volume cairan
- Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya asupan cairan yang adekuat.
Dengan penerapan SDKI, SLKI, dan SIKI, diharapkan pasien dapat mengatasi risiko hipovolemia dan mencapai kondisi yang stabil. -
Article No. 9927 | 27 Dec 2024
Klinis : klien dengan riwayat mentruasi lebih dari 21 hari, umur 14 tahun, susah minum obat trutama obat oral,sudah mengetahui terkait obat tambah darah tetapi tidak bisa di minum selalu di keluarkan lagi, diagnosa medisnya anemia.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI berdasarkan kondisi klien yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Manajemen Regimen Terapeutik Sendiri
- Definisi: Ketidakmampuan klien untuk memodifikasi gaya hidup dan/atau perilaku kesehatan untuk meningkatkan atau mempertahankan kesehatan.
- Faktor yang berhubungan: Ketidakmampuan mengikuti regimen terapeutik yang telah direkomendasikan, seperti kesulitan minum obat.
2. Kelelahan
- Definisi: Pengalaman subjektif yang tidak menyenangkan yang dikarakteristikkan oleh perasaan lelah, tidak mampu, dan tidak berdaya untuk melakukan aktivitas.
- Faktor yang berhubungan: Anemia, yang dapat menyebabkan kelelahan pada klien.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Ketidakefektifan Manajemen Regimen Terapeutik Sendiri
- Definisi: Klien menunjukkan ketidakmampuan untuk memodifikasi gaya hidup dan/atau perilaku kesehatan untuk meningkatkan atau mempertahankan kesehatan.
- Kriteria Diagnostik: Klien menunjukkan ketidakmampuan untuk mengikuti regimen terapeutik yang direkomendasikan, seperti kesulitan minum obat.
- Kelelahan
- Definisi: Klien mengalami pengalaman subjektif yang tidak menyenangkan yang dikarakteristikkan oleh perasaan lelah, tidak mampu, dan tidak berdaya untuk melakukan aktivitas.
- Kriteria Diagnostik: Klien mengeluhkan merasa lelah, kurang energi, dan sulit melakukan aktivitas.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Manajemen Regimen Terapeutik Sendiri: Kemampuan klien untuk memodifikasi gaya hidup dan/atau perilaku kesehatan untuk meningkatkan atau mempertahankan kesehatan.
- Tingkat Energi: Kemampuan klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen Regimen Terapeutik: Membantu klien untuk mengikuti regimen terapeutik yang direkomendasikan, seperti minum obat secara teratur.
- Manajemen Energi: Membantu klien untuk meningkatkan dan mempertahankan energi tubuh.
Dalam kasus ini, perawat akan bekerja sama dengan klien untuk mengatasi masalah terkait ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik sendiri dan kelelahan akibat anemia. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi edukasi terkait pentingnya minum obat, pengaturan aktivitas, dan strategi untuk mengelola kelelahan. -
Article No. 9928 | 27 Dec 2024
Klinis : pasien datang riwayat mentruasi lebih dari 21 hari, umur 14 tahun,mengekuh lemas dan mudah lelah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan menggunakan kerangka SDKI - SLKI - SIKI, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkatnya untuk kondisi yang Anda deskripsikan:
Diagnosa Keperawatan (SDKI):
Perdarahan Uterus Abnormal
Penjelasan:
- Perdarahan Uterus Abnormal adalah keadaan di mana terjadi perdarahan vagina yang tidak normal, yang dapat meliputi menstruasi yang berkepanjangan, perdarahan antara menstruasi, atau perdarahan yang berlebihan pada saat menstruasi.
- Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti gangguan hormonal, masalah pada uterus atau organ reproduksi, atau kondisi medis lainnya.
- Tanda dan gejala yang dialami pasien, seperti menstruasi lebih dari 21 hari dan keluhan lemas serta mudah lelah, sesuai dengan kriteria diagnostik Perdarahan Uterus Abnormal.
Luaran Keperawatan (SLKI):
1. Pemulihan Perdarahan
2. Keseimbangan Cairan
3. Kontrol Gejala
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Perdarahan
- Evaluasi jumlah, durasi, dan karakteristik perdarahan
- Identifikasi faktor penyebab perdarahan
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan medis yang tepat
2. Manajemen Cairan
- Pantau asupan dan output cairan
- Identifikasi tanda-tanda dehidrasi
- Berikan cairan sesuai kebutuhan
3. Manajemen Gejala
- Identifikasi gejala yang dialami, seperti lemas dan mudah lelah
- Ajarkan teknik manajemen gejala, seperti istirahat yang cukup
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan gejala yang efektif
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat perlu bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain, seperti dokter, untuk memastikan penanganan yang komprehensif dan sesuai dengan kondisi pasien. -
Article No. 9929 | 27 Dec 2024
Klinis : pasien datang riwayat mentruasi lebih dari 21 hari, umur 14 tahun,mengekuh lemas dan mudah lelah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, pasien mengalami masalah kesehatan yang dapat diatasi dengan berpedoman pada Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Penjelasan:
Pasien mengalami keluhan lemas dan mudah lelah, yang dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan nutrisi. Riwayat menstruasi yang lebih dari 21 hari menunjukkan adanya kemungkinan kondisi anemia, yang dapat menyebabkan kurangnya asupan nutrisi bagi tubuh.
SDKI:
Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh adalah kondisi di mana asupan nutrisi tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
SLKI:
Sesuai dengan SLKI, luaran yang diharapkan adalah Keseimbangan Nutrisi, di mana pasien dapat mencapai dan mempertahankan asupan nutrisi yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
SIKI:
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Identifikasi faktor risiko malnutrisi.
2. Kaji status nutrisi pasien.
3. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan diet yang sesuai.
4. Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan nutrisi yang seimbang.
5. Monitoring status nutrisi dan perkembangan pasien secara berkala.
Dengan pendekatan yang komprehensif berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI, diharapkan masalah kesehatan pasien dapat diatasi secara efektif.