Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 9978 | 28 Dec 2024
Klinis : Seorang perempuan berusia 47 tahun datang ke poli bedah dengan keluhan nyeri dan kaku pada persendian kaki akan tetapi sudah mampu menangani nyeri. Hasil pengkajian sekala nyeri 4 bertambah saat pagi, kesulitan saat bergerak, sendi bengkak dan rentang gerak menurun, pasien juga mengeluh penyakitnya tidak sembuh-sembuh. Apakah masalah utama pada kasus tersebut?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat profesional, saya dapat memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai standar SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
Masalah utama pada kasus ini adalah Nyeri Kronik yang ditandai dengan keluhan nyeri dan kaku pada persendian kaki, skala nyeri 4 yang bertambah saat pagi, kesulitan saat bergerak, sendi bengkak, serta rentang gerak yang menurun.
Penjelasan Singkat Berdasarkan Standar SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Nyeri Kronik adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial yang berlangsung lebih dari 3 bulan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat melaporkan penurunan nyeri, meningkatnya kemampuan mobilitas sendi, serta berkurangnya bengkak pada sendi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain pemberian analgesik, terapi panas-dingin, latihan rentang gerak, edukasi manajemen nyeri, serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya untuk penanganan komprehensif.
Sebagai seorang perawat, saya akan menyusun rencana asuhan keperawatan yang berpusat pada pasien untuk mengatasi masalah nyeri kronik yang dialami. Pendekatan holistik dan kolaboratif sangat penting untuk membantu pasien mencapai hasil yang optimal. -
Article No. 9979 | 28 Dec 2024
Klinis : Seorang laki-laki umur 60 tahun dirawat di ruang penyakit bedah sejak tujuh hari yang lalu, hasil pengkajian didapatkan data ekstremitas atas dan bawah tidak dapat digerakkan secara aktif, kulit disekitar area penonjolan tulang tampak kemerahan, klien tampak lemas.Hasil pengkajian Tekanan Darah 160/100 mmHg, Nadi 88 x/menit, Suhu 37,2°C, pernafasan 20x/menit. apakah intervensi untuk meningkatkan kenyamanan pada klien ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan penurunan kekuatan otot dan keterbatasan pergerakan.
Penjelasan Singkat:
Intoleransi Aktivitas adalah ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin akibat keterbatasan fisik dan/atau psikologis. Dalam kasus ini, klien mengalami keterbatasan pergerakan ekstremitas atas dan bawah serta terlihat lemas, menunjukkan adanya penurunan kekuatan otot yang menyebabkan intoleransi aktivitas.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Intoleransi Aktivitas: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin akibat keterbatasan fisik dan/atau psikologis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Toleransi Aktivitas: Kemampuan individu untuk melakukan aktivitas rutin tanpa keluhan kelelahan yang berlebihan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Manajemen Intoleransi Aktivitas: Intervensi untuk membantu klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari dengan mempertahankan atau meningkatkan kapasitas fungsional.
Intervensi untuk Meningkatkan Kenyamanan Klien:
1. Manajemen Aktivitas: Mengatur aktivitas klien sesuai dengan kemampuannya, seperti mengatur jadwal istirahat yang cukup dan membatasi aktivitas yang melelahkan.
2. Manajemen Nyeri: Mengkaji nyeri yang dirasakan klien dan memberikan intervensi yang sesuai, seperti pemberian analgesik atau kompres hangat.
3. Perawatan Kulit: Melakukan perawatan kulit pada area yang mengalami kemerahan atau luka, termasuk mencegah terjadinya luka tekan.
4. Dukungan Psikologis: Memberikan dukungan emosional dan bantuan untuk mengelola stres atau kecemasan yang mungkin dialami klien akibat keterbatasan pergerakan.
Dengan pendekatan keperawatan yang komprehensif, diharapkan klien dapat meningkatkan toleransi aktivitas dan mencapai kenyamanan yang optimal. -
Article No. 9980 | 28 Dec 2024
Klinis : Seorang perempuan berusia 36 tahun, dirawat di ruang bedah dengan fraktur tibia tertutup 1/3 proksimal dextra 12 jam yang lalu. Perawat melakukan pengkajian untuk mengidentifikasi adanya Compartemen syndromE.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda jelaskan.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Sindrom Kompartemen
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Sindrom Kompartemen adalah diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan peningkatan tekanan dalam ruang kompartemen suatu ekstremitas yang dapat mengakibatkan penurunan aliran darah dan iskemia jaringan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Perfusi jaringan membaik
2. Tanda-tanda sindrom kompartemen berkurang
3. Risiko komplikasi berkurang
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Observasi tanda-tanda sindrom kompartemen (nyeri, parestesia, paralisis, pulsasi menurun, warna kulit yang tidak normal)
2. Pantau tanda-tanda vital dan sirkulasi ekstremitas
3. Pertahankan posisi ekstremitas yang tepat
4. Kolaborasi dengan dokter untuk penanganan segera jika terjadi sindrom kompartemen
Sebagai seorang perawat, saya akan melakukan pengkajian secara komprehensif untuk mengidentifikasi adanya tanda-tanda sindrom kompartemen pada pasien dengan fraktur tibia tertutup. Pemantauan yang ketat terhadap kondisi pasien sangat penting untuk mencegah komplikasi yang dapat terjadi. Segera melaporkan setiap perubahan kondisi pasien kepada dokter untuk penanganan yang tepat. -
Article No. 9981 | 28 Dec 2024
Klinis : Pasien datang dengan keadaan lemas dan mudah lelah, pasien mengalami mentruasi lebih dari 21 hari, pasein wanita usia 12 tahun
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, kondisi pasien dapat didiagnosis dengan:
Diagnosa Keperawatan:
1. Kelelahan (Fatigue)
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Kelelahan adalah pengalaman subjektif melemahnya kemampuan fisik dan mental yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pengeluaran dan pasokan energi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Tingkat energi meningkat
2. Aktivitas sehari-hari dapat dilakukan
3. Tingkat kelelahan menurun
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen energi
2. Peningkatan tidur
3. Manajemen nyeri
Penjelasan:
Pasien datang dengan keluhan lemas dan mudah lelah, yang dapat disebabkan oleh menstruasi yang berlangsung lebih dari 21 hari. Kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan akibat kehilangan banyak darah dan nutrisi. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen energi untuk meningkatkan tingkat energi, peningkatan tidur untuk memulihkan tenaga, serta manajemen nyeri jika ada nyeri yang menyertai.
Catatan: Sebagai seorang pakar, diharapkan dapat memberikan penjelasan lebih rinci dan komprehensif mengenai diagnosa dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk pasien ini. -
Article No. 9982 | 28 Dec 2024
Klinis : Pasien datang dengan keadaan lemas dan mudah lelah, pasien mengalami mentruasi lebih dari 21 hari, pasein wanita usia 12 tahun
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang disebutkan, yaitu pasien datang dengan keadaan lemas dan mudah lelah, pasien mengalami menstruasi lebih dari 21 hari, dan pasien wanita usia 12 tahun, maka dapat diberikan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: N92.0
- Deskripsi: Menstruasi berlebihan dengan siklus teratur
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 69.2
- Deskripsi: Kuretase dan aspirasi uterus, dilakukan sebagai tindakan terapeutik.
Penjelasan:
Kode ICD-10 N92.0 (Menstruasi berlebihan dengan siklus teratur) sesuai dengan kondisi pasien yang mengalami menstruasi lebih dari 21 hari. Kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti gangguan hormonal, kelainan anatomis, atau kondisi medis lainnya.
Pada kasus ini, pasien wanita usia 12 tahun mengalami gangguan menstruasi yang berlebihan. Hal ini dapat menjadi indikasi adanya masalah kesehatan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dan penanganan yang sesuai.
Jika diperlukan tindakan medis, kode ICD-9-CM 69.2 (Kuretase dan aspirasi uterus, dilakukan sebagai tindakan terapeutik) dapat dipertimbangkan. Prosedur ini dapat digunakan untuk menghentikan perdarahan uterus yang berlebihan dan mengevaluasi penyebabnya.
Pemeriksaan lebih lanjut, seperti anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, diperlukan untuk menentukan diagnosis yang tepat dan rencana penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien. -
Article No. 9983 | 28 Dec 2024
Klinis : Klien, Ny. E, berusia 35 tahun, dibawa ke UGD salah satu rumah sakit. Ny. E mengeluh sesak napas dan telah batuk selama 3 bulan tanpa sembuh. Ia merasa lelah dan lesu karena tidurnya tidak nyenyak, sering terbangun akibat batuk dan sesak napas. Ny. E tampak gelisah, kesulitan bernapas, terlihat sputum berlebihan, dan terdengar bunyi napas tambahan berupa wheezing. Kulit, bibir, dan kuku tampak membiru. Pengukuran tanda vital menunjukkan: TD 140/90mmHg. N 102x/mnt, S 36C, RR 30x/menit
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan keterangan yang diberikan, diagnosis yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: J45.1
- Deskripsi: Asma persisten moderat
Penjelasan:
- Ny. E mengalami gejala sesak napas dan batuk yang berkepanjangan selama 3 bulan, serta tidur tidak nyenyak akibat batuk dan sesak napas. Hal ini menunjukkan adanya kondisi asma persisten.
- Dari pemeriksaan fisik, ditemukan gejala klinis asma seperti wheezing, sputum berlebihan, dan sianosis (pembiru-an pada kulit, bibir, dan kuku), yang sesuai dengan asma persisten moderat.
- Pengukuran tanda vital menunjukkan takikardia (denyut nadi 102 x/menit) dan takipnea (laju napas 30 x/menit), yang juga mendukung diagnosis asma persisten moderat.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.08
- Deskripsi: Pemberian obat pernapasan, lainnya
Penjelasan:
- Pada kasus ini, kemungkinan besar akan dilakukan pemberian obat pernapasan, seperti bronkodilator atau kortikosteroid inhalasi, untuk mengatasi gejala sesak napas dan wheezing.
- Kode ICD-9-CM 93.08 mencakup pemberian obat pernapasan lainnya, yang sesuai dengan penatalaksanaan asma persisten moderat pada Ny. E. -
Article No. 9874 | 27 Dec 2024
Klinis : Kesiapan peningkatan menjadi orang fua
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Kesiapan peningkatan menjadi orang tua
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kesiapan peningkatan menjadi orang tua adalah kemampuan individu untuk mempersiapkan diri secara fisik, mental, emosional, dan sosial dalam menghadapi peran dan tanggung jawab baru sebagai orang tua.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah individu dapat menunjukkan kesiapan fisik, mental, emosional, dan sosial untuk menjalankan peran dan tanggung jawab baru sebagai orang tua.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Beberapa intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Edukasi tentang perubahan fisik, psikologis, dan sosial selama kehamilan dan periode postpartum.
2. Fasilitasi diskusi tentang ekspektasi dan peran baru sebagai orang tua.
3. Dukungan emosional dan psikologis selama masa transisi menjadi orang tua.
4. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (obgyn, psikolog, dll) untuk memastikan kesiapan individu.
Dengan tone akademis dan persona sebagai pakar/perawat, penjelasan ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi terkait kesiapan peningkatan menjadi orang tua. -
Article No. 9875 | 27 Dec 2024
Klinis : Kesiapan peningkatan menjadi orang fua
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, yakni "Kesiapan peningkatan menjadi orang tua", berikut adalah kode ICD-10 yang sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: Z64.0
- Deskripsi: Masalah yang terkait dengan kehamilan yang tidak diinginkan
Penjelasan:
Kode ICD-10 Z64.0 mengacu pada masalah yang terkait dengan kehamilan yang tidak diinginkan. Dalam konteks "Kesiapan peningkatan menjadi orang tua", ini dapat mencakup situasi di mana individu atau pasangan merasa belum siap atau belum mempersiapkan diri secara emosional, finansial, atau praktis untuk menjadi orang tua. Kondisi ini dapat mencakup perencanaan kehamilan, pengaturan kehidupan, dan persiapan untuk peran baru sebagai orang tua.
Sayangnya, tidak ada kode ICD-9-CM yang secara khusus sesuai dengan kondisi ini, karena kode-kode ICD-9-CM lebih fokus pada prosedur dan tindakan medis, bukan pada kondisi psikososial atau persiapan untuk peran orang tua. -
Article No. 9876 | 27 Dec 2024
Klinis : Kesiapan peningkatan menjadi orang fua
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Kesiapan Peningkatan Menjadi Orang Tua
Definisi:
Pola hidup yang menunjukkan kesiapan dan kemampuan untuk menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai orang tua.
Penjelasan Singkat SDKI, SLKI, SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi diagnosis keperawatan yang menggambarkan kondisi terkait kesiapan individu atau keluarga untuk menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai orang tua.
- Contoh faktor yang mempengaruhi: pengetahuan, keterampilan, sikap, dukungan sosial, dan pengalaman.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan terkait kesiapan menjadi orang tua, misalnya: pemahaman tentang peran dan tanggung jawab orang tua, kemampuan merawat bayi/anak, dan terciptanya lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk membantu individu atau keluarga meningkatkan kesiapan menjadi orang tua, seperti: edukasi, konseling, latihan keterampilan, dan pemberian dukungan sosial.
Dengan tone akademis dan persona pakar/perawat, penjelasan ini dapat memberikan pemahaman yang komprehensif tentang standar asuhan keperawatan terkait kesiapan menjadi orang tua berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI. -
Article No. 9877 | 27 Dec 2024
Klinis : harga diri rendah kronis
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi harga diri rendah kronis berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah:
"Harga Diri Rendah Kronis"
Definisi:
Perasaan negatif yang berlangsung lama terhadap diri sendiri atau kemampuan diri.
Karakteristik Definisi:
1. Ekspresi verbal negatif tentang diri sendiri
2. Perilaku menarik diri dari hubungan sosial
3. Penampilan fisik yang tidak terawat
4. Ungkapan putus asa
5. Sikap pasif
6. Penerimaan yang rendah terhadap pujian
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output sebagai berikut:
1. Harga Diri
- Pasien dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dirinya
- Pasien dapat mengungkapkan perasaan positif tentang dirinya
- Pasien dapat menunjukkan perilaku yang mencerminkan harga diri yang positif
2. Kemampuan Sosialisasi
- Pasien dapat berpartisipasi dalam kegiatan sosial
- Pasien dapat mengembangkan hubungan interpersonal yang positif
- Pasien dapat menerima dukungan sosial dari lingkungan sekitar
3. Perawatan Diri
- Pasien dapat memelihara penampilan fisik yang rapi dan bersih
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri
- Pasien dapat mengekspresikan rasa percaya diri dalam merawat dirinya
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang diperlukan berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
1. Peningkatan Harga Diri
- Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri pasien
- Bantu pasien untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dirinya
- Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan dan emosi secara terbuka
- Berikan umpan balik positif dan pujian yang realistis untuk meningkatkan harga diri pasien
- Libatkan pasien dalam pengambilan keputusan terkait perawatannya
2. Fasilitasi Sosialisasi
- Bantu pasien untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial di lingkungan sekitar
- Dorong pasien untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang positif
- Libatkan keluarga dan orang terdekat untuk memberikan dukungan sosial
- Ajarkan pasien keterampilan komunikasi dan kemampuan berinteraksi sosial
3. Peningkatan Perawatan Diri
- Ajarkan kepada pasien cara merawat diri secara mandiri
- Dorong pasien untuk memelihara penampilan fisik yang rapi dan bersih
- Bantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan kemampuannya
- Berikan pujian dan dukungan positif saat pasien melakukan perawatan diri dengan baik
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien, diharapkan dapat membantu pasien dengan harga diri rendah kronis untuk meningkatkan harga dirinya, kemampuan sosialisasi, dan perawatan diri, sehingga tercapai luaran yang diharapkan.