Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 11846 | 04 Feb 2025
Klinis : Pasien hamil anak ke 1 uk 9 bulan mengatakan kenceng2 sejak kemarin malam jam 01.00 WIB. Pembukaan di PKM tidak bertambah
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, berikut adalah kode ICD-10 dan ICD-9-CM terkait:
1. Kode ICD-10:
- Kode: O48
- Deskripsi: Kehamilan melewati tanggal perkiraan kelahiran
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 73.1
- Deskripsi: Pemeriksaan dalam vagina, tidak disertai deskripsi lebih lanjut
Penjelasan:
Pasien yang hamil anak pertama dengan usia kehamilan 9 bulan dan mengalami kontraksi sejak semalam, namun pembukaan di Puskesmas (PKM) tidak bertambah, dapat didiagnosis dengan kode ICD-10 O48 - Kehamilan melewati tanggal perkiraan kelahiran. Hal ini mengindikasikan bahwa kehamilan pasien telah melewati tanggal perkiraan kelahiran, namun belum terjadi persalinan.
Dalam penatalaksanaan kasus ini, dapat dilakukan pemeriksaan dalam vagina (kode ICD-9-CM 73.1) untuk mengevaluasi status serviks dan kemajuan persalinan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hambatan dalam proses persalinan atau adanya indikasi yang memerlukan intervensi lebih lanjut.
Sebagai dokter atau perekam medis, penting untuk memahami kode diagnosis dan prosedur yang tepat dalam mencatat dan mengelola informasi medis pasien. Dokumentasi yang akurat dan terstruktur akan membantu dalam perawatan pasien, serta memenuhi persyaratan medis dan administrasi yang berlaku. -
Article No. 11847 | 04 Feb 2025
Klinis : Seorang wanita, Ny. S, 27 tahun, datang ke IGD dengan keluhan nyeri perut bawah yang semakin memberat sejak 4 hari terakhir. Nyeri dirasakan konstan, tumpul, dan menyebar ke punggung bawah serta kedua paha. Pasien juga mengeluhkan keputihan berwarna kuning kehijauan dengan bau tidak sedap, serta demam yang tidak kunjung turun sejak 3 hari terakhir. Dari anamnesis, diketahui bahwa Ny. S sudah menikah selama 3 tahun dan belum memiliki anak, la mengaku sering mengalami dispareunia dan haidnya tidak teratur. Siklus terakhir haidnya terjadi 6 minggu yang lalu. Pasien memiliki riwayat abortus 8 bulan yang lalu dan menjalani kuretase di klinik swasta dengan prosedur yang tidak jelas. la juga mengaku pernah mengalami ISK berulang. Hasil pemeriksaan fisik terdapat nyeri tekan di regio hipogastrium, turgor kulit sedikit menurun, Pemeriksaan dalam: Nyeri goyang pada serviks (cervical motion tenderness), nyeri tekan pada kedua adneksa, keputihan purulen keluar dari kanalis servikalis. TTV TD 100/70 mmHg, Nadi 110x/menit, RR 24x/menit, Suhu 38,9°C. Hasil laboratorium Hb: 11,2 g/dL, Leukosit: 15.500/mm², CRP: meningkat, HCG: negative, Urinalisis: Leukosit positif (+) nitrit positif (+).
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi Ny. S adalah:
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses infeksi panggul
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial di area panggul.
2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur kuretase yang tidak jelas
Definisi: Rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia akibat nyeri perut
Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses infeksi panggul:
- Pasien melaporkan nyeri berkurang
- Pasien dapat beraktivitas tanpa mengeluhkan nyeri
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur kuretase yang tidak jelas:
- Tidak terjadi komplikasi infeksi lebih lanjut
- Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi
- Hasil pemeriksaan penunjang dalam batas normal
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia akibat nyeri perut:
- Berat badan pasien stabil atau meningkat
- Pasien dapat mengkonsumsi makanan dan cairan yang cukup
- Laboratorium menunjukkan nilai-nilai dalam batas normal
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses infeksi panggul:
- Lakukan pengkajian nyeri komprehensif
- Berikan analgesik sesuai indikasi
- Ajarkan teknik manajemen nyeri non-farmakologis
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk mengatasi penyebab nyeri
2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur kuretase yang tidak jelas:
- Lakukan pengkajian tanda dan gejala infeksi
- Berikan antibiotik sesuai indikasi
- Ajarkan pasien dan keluarga tentang pencegahan infeksi
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk monitoring dan tindak lanjut
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia akibat nyeri perut:
- Lakukan pengkajian nutrisi komprehensif
- Berikan makanan dan cairan sesuai kebutuhan
- Ajarkan pasien dan keluarga tentang diet yang tepat
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk mengevaluasi kebutuhan nutrisi
Penjelasan di atas disusun secara rinci dan terperinci berdasarkan kondisi Ny. S, dengan tone akademis dan persona pakar perawat. -
Article No. 11848 | 04 Feb 2025
Klinis : Ny. T, 30 tahun, datang ke poliklinik kebidanan pada usia kehamilan 32 minggu dengan keluhan pusing, pandangan kabur, dan bengkak pada kedua kakinya sejak 1 minggu terakhir. Ia juga merasa tidak nyaman karena berat badannya naik cukup banyak dalam waktu singkat (+3 kg dalam 2 minggu). Riwayat kesehatan sebelumnya menunjukkan bahwa Ny. T tidak memiliki hipertensi sebelum kehamilan, namun ayah pasien memiliki riwayat hipertensi. Ini adalah kehamilan pertama. TTV menunjukkan TD 150/100mmHg, nadi 90x/menit, suhu 36,7C, pernapasan 20x/menit. Hasil pemeriksaan terdapat edema (+2) di kedua kaki, pasien mengeluh nyeri kepala, proteinuria (+1), asam urat 5,2 mg/dL. Pasien pernah mendengar air kelapa bisa menurunkan tekanan darah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda jelaskan pada Ny. T, usia kehamilan 32 minggu dengan keluhan pusing, pandangan kabur, bengkak pada kedua kaki, kenaikan berat badan yang cepat, hipertensi, dan adanya proteinuria, maka dapat diidentifikasi beberapa Diagnosa Keperawatan, yaitu:
1. Risiko Ketidakstabilan Hemodinamik berhubungan dengan preeklampsia
- SDKI: Risiko Ketidakstabilan Hemodinamik
- SLKI: Hemodinamik
- SIKI: Pemantauan Tanda-Tanda Vital
2. Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme homeostasis cairan
- SDKI: Kelebihan Volume Cairan
- SLKI: Keseimbangan Cairan
- SIKI: Pengaturan Cairan
3. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial
- SDKI: Nyeri Akut
- SLKI: Pengelolaan Nyeri
- SIKI: Penatalaksanaan Nyeri
Penjelasan singkat masing-masing diagnosa:
1. Risiko Ketidakstabilan Hemodinamik berhubungan dengan preeklampsia
- SDKI: Risiko Ketidakstabilan Hemodinamik adalah keadaan berisiko terjadinya perubahan nilai-nilai hemodinamik yang tidak stabil, seperti perubahan tekanan darah, nadi, dan curah jantung.
- SLKI: Hemodinamik adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankan stabilitas sirkulasi darah.
- SIKI: Pemantauan Tanda-Tanda Vital adalah tindakan pemantauan secara terus-menerus terhadap fungsi kardiovaskular dan respirasi untuk mendeteksi perubahan status kesehatan.
2. Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme homeostasis cairan
- SDKI: Kelebihan Volume Cairan adalah kondisi di mana terdapat peningkatan cairan intravaskular, interstisial, atau intrasellular yang melebihi kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan cairan.
- SLKI: Keseimbangan Cairan adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankan volume dan komposisi cairan tubuh dalam rentang normal.
- SIKI: Pengaturan Cairan adalah tindakan untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh agar tetap dalam batas normal.
3. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial
- SDKI: Nyeri Akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
- SLKI: Pengelolaan Nyeri adalah kemampuan individu untuk mengendalikan nyeri yang dirasakan.
- SIKI: Penatalaksanaan Nyeri adalah tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri yang dirasakan.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) telah mengembangkan standar dokumentasi keperawatan, yaitu SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk memastikan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan. -
Article No. 11849 | 04 Feb 2025
Klinis : Seorang laki-laki usia 50 tahun memiliki dua anak, bekerja sebagai karyawan swasta. Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan utama berupa nyeri pada tenggorokan, sulit menelan (disfagia). hidung tersumbat, dan penurunan berat badan secara signifikan dalam waktu 2 bulan terakhir. la juga melaporkan adanya pembengkakan pada leher kanan. yang semakin besar. Pasien mengaku pernah mengalami mimisan beberapa kalidalam 3 bulan terakhir, dan suara yang serak serta sering batuk keringRiwayat keluarga tdak ada yang terdiagnosis dengan kanker. Tidak ada riwayat kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol yang signifikan Pemeriksaan Fisik: ○ TTV (Tanda-tanda Vital): Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi80 kaliper menit, suhu 37°C, perapasan 20 kali per menit. ○ Pembengkakan pada leher kanan (limfadenopat) Pemeriksaan rongga mulut dan tenggorokan menunjukkan adanya pembengkakan pada orofaring Pemeriksaan endoskopi menunjukkan adanya massa pada nasofaring. Pasien didiagnosis kanker nasofaring (CA Nasofaring) stadium ll berdasarkan hasil biopsi dan pemeriksaan radiologi. Rencana Pengobatan: Kemoterapi dan radioterapi kombinasi, Evaluasi lanjutan setelah 3 bulan pengobatan untuk menilai respons terhadap terapi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Akut berhubungan dengan proses penyakit kanker nasofaring.
2. Disfagia berhubungan dengan pembengkakan dan kerusakan pada struktur orofaring.
3. Perubahan Pola Napas berhubungan dengan obstruksi saluran napas atas.
4. Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan disfagia dan penurunan berat badan.
5. Ansietas berhubungan dengan diagnosis penyakit kanker dan rencana pengobatan.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Diagnosis keperawatan disusun berdasarkan SDKI, yang merupakan panduan standar untuk menentukan diagnosis keperawatan berdasarkan data yang dikumpulkan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
SLKI memberikan panduan standar untuk menentukan luaran atau hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan yang diberikan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
SIKI menyediakan panduan standar untuk menentukan intervensi keperawatan yang sesuai dengan diagnosis keperawatan dan diharapkan dapat mencapai luaran yang diinginkan.
Dalam kasus ini, diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi yang sesuai dengan SDKI, SLKI, dan SIKI akan membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstandar untuk pasien dengan kanker nasofaring. -
Article No. 11850 | 04 Feb 2025
Klinis : Seorang laki-laki usia 50 tahun memiliki dua anak, bekerja sebagai karyawan swasta. Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan utama berupa nyeri pada tenggorokan, sulit menelan (disfagia). hidung tersumbat, dan penurunan berat badan secara signifikan dalam waktu 2 bulan terakhir. la juga melaporkan adanya pembengkakan pada leher kanan. yang semakin besar. Pasien mengaku pernah mengalami mimisan beberapa kalidalam 3 bulan terakhir, dan suara yang serak serta sering batuk keringRiwayat keluarga tdak ada yang terdiagnosis dengan kanker. Tidak ada riwayat kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol yang signifikan Pemeriksaan Fisik: ○ TTV (Tanda-tanda Vital): Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi80 kaliper menit, suhu 37°C, perapasan 20 kali per menit. ○ Pembengkakan pada leher kanan (limfadenopat) Pemeriksaan rongga mulut dan tenggorokan menunjukkan adanya pembengkakan pada orofaring Pemeriksaan endoskopi menunjukkan adanya massa pada nasofaring. Pasien didiagnosis kanker nasofaring (CA Nasofaring) stadium ll berdasarkan hasil biopsi dan pemeriksaan radiologi. Rencana Pengobatan: Kemoterapi dan radioterapi kombinasi, Evaluasi lanjutan setelah 3 bulan pengobatan untuk menilai respons terhadap terapi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa pasien ini mengalami kondisi Kanker Nasofaring stadium II. Berikut adalah Diagnosa Keperawatan, penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI, serta rencana asuhan keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien:
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Akut berhubungan dengan proses penyakit (Kanker Nasofaring)
2. Gangguan Menelan berhubungan dengan pembengkakan pada orofaring
3. Penurunan Berat Badan berhubungan dengan penurunan asupan makanan akibat disfagia
4. Risiko Perdarahan berhubungan dengan adanya massa pada nasofaring
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Nyeri Akut: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
2. Gangguan Menelan: Ketidakmampuan untuk menelan makanan, cairan, atau ludah dengan aman dan efektif.
3. Penurunan Berat Badan: Penurunan berat badan yang tidak disengaja dan tidak diinginkan.
4. Risiko Perdarahan: Rentan mengalami kehilangan darah yang melebihi batas normal.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Kontrol Nyeri: Kemampuan untuk mengendalikan nyeri.
2. Kemampuan Menelan: Kemampuan untuk menelan makanan, cairan, dan ludah dengan aman dan efektif.
3. Status Gizi: Keadaan kesehatan yang dipengaruhi oleh asupan dan penggunaan zat gizi.
4. Integritas Jaringan: Keutuhan struktur dan fungsi jaringan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Nyeri: Tindakan untuk mengendalikan nyeri pasien.
2. Manajemen Disfagia: Tindakan untuk memfasilitasi kemampuan menelan pasien.
3. Manajemen Nutrisi: Tindakan untuk mempertahankan atau meningkatkan status gizi pasien.
4. Pencegahan Perdarahan: Tindakan untuk mencegah kehilangan darah yang berlebih.
Rencana Asuhan Keperawatan:
1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, dan berikan intervensi manajemen nyeri yang sesuai.
2. Bantu pasien dalam mempertahankan kemampuan menelan, seperti pengaturan posisi makan, pemberian makanan lunak, dan kolaborasi dengan ahli gizi.
3. Pantau status nutrisi pasien, berikan edukasi tentang pentingnya nutrisi, dan kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan intervensi nutrisi yang adekuat.
4. Lakukan pemantauan tanda-tanda perdarahan, berikan intervensi pencegahan perdarahan, dan kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan jika terjadi perdarahan.
Evaluasi dan revisi rencana asuhan keperawatan akan dilakukan sesuai dengan perkembangan kondisi pasien selama menjalani pengobatan kemoterapi dan radioterapi. -
Article No. 11851 | 04 Feb 2025
Klinis : Sejak 1 hari smrs os demam (+) nyeri ulu hati (+) bab hitam (+) muntah (+) batuk (-) sesak nafas (-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko perdarahan gastrointestinal berhubungan dengan adanya gejala-gejala seperti demam, nyeri ulu hati, bab hitam, dan muntah.
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko perdarahan gastrointestinal adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami kehilangan darah dari saluran pencernaan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Tidak terjadi perdarahan gastrointestinal
2. Tanda-tanda vital normal
3. Tidak ada keluhan nyeri atau tidak nyaman di perut
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Pemantauan tanda-tanda vital secara berkala
2. Pemantauan tanda-tanda perdarahan gastrointestinal
3. Pemberian antiasida atau obat-obatan untuk mengurangi asam lambung
4. Edukasi tentang diet yang tepat untuk mencegah perdarahan
Persona: Sebagai seorang pakar keperawatan, saya menyarankan Anda segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan yang sesuai. Gejala-gejala yang Anda alami, seperti demam, nyeri ulu hati, bab hitam, dan muntah, dapat mengindikasikan adanya risiko perdarahan gastrointestinal yang membutuhkan penanganan segera. Saya akan terus memantau perkembangan kondisi Anda dan memberikan rekomendasi perawatan yang diperlukan. -
Article No. 11852 | 04 Feb 2025
Klinis : mata merah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat berdasarkan SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi mata merah.
Diagnosa Keperawatan:
Intoleransi Aktivitas
Penjelasan:
Intoleransi Aktivitas adalah ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan, akibat keterbatasan fisik dan/atau psikologis.
Kriteria Diagnostik:
- Adanya laporan pasien tentang kelelahan yang berlebihan setelah melakukan aktivitas
- Adanya tanda-tanda fisik kelelahan, seperti mata merah, nadi cepat, dan perubahan tekanan darah
Luaran Keperawatan (SLKI):
1. Toleransi Aktivitas Meningkat
2. Kelelahan Menurun
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Energi
2. Pembatasan Aktivitas
3. Edukasi Manajemen Energi
Penjelasan Singkat:
Pasien dengan mata merah dapat mengalami intoleransi aktivitas, di mana pasien merasa kelelahan yang berlebihan setelah melakukan aktivitas. Hal ini dapat disebabkan oleh keterbatasan fisik maupun psikologis. Tujuan keperawatan adalah meningkatkan toleransi aktivitas dan menurunkan kelelahan pasien. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen energi, pembatasan aktivitas, dan edukasi manajemen energi. -
Article No. 11853 | 04 Feb 2025
Klinis : sesek
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan kondisi sesak napas, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Pola Napas Tidak Efektif
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Pola napas tidak efektif didefinisikan sebagai perubahan dalam frekuensi, kedalaman, atau irama pernapasan yang dapat mengganggu ventilasi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Pasien dapat menunjukkan pola napas yang efektif.
2. Pasien dapat melaporkan peningkatan kemampuan bernapas.
3. Pasien dapat mendemonstrasikan teknik pernapasan yang efektif.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Pantau pola napas dan oksigenasi.
2. Ajarkan teknik pernapasan yang efektif.
3. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penatalaksanaan terapi oksigen atau ventilasi mekanik, jika diperlukan.
Sebagai seorang perawat, saya akan melakukan pengkajian yang komprehensif untuk mengidentifikasi penyebab sesak napas, menerapkan intervensi keperawatan yang sesuai, dan melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan yang optimal. Tujuannya adalah membantu pasien mencapai pola napas yang efektif dan meningkatkan kualitas hidup. -
Article No. 11854 | 04 Feb 2025
Klinis : Hasil Trombosit 19.000
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Risiko Perdarahan Berat
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Perdarahan Berat adalah kondisi di mana individu berisiko mengalami kehilangan darah yang berlebihan dari sistem tubuh, yang dapat mengancam jiwa.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari kondisi ini adalah:
1. Pasien bebas dari perdarahan aktif.
2. Pasien menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil.
3. Pasien menunjukkan kadar trombosit yang meningkat.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Pemantauan tanda-tanda vital secara teratur.
2. Pemberian produk darah sesuai indikasi.
3. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan medis.
4. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang risiko perdarahan dan pencegahannya.
Sebagai perawat, saya akan melakukan pemantauan yang ketat terhadap kondisi pasien, memastikan penanganan medis yang tepat, dan memberikan edukasi kepada pasien serta keluarga untuk mengelola risiko perdarahan berat yang dihadapi. -
Article No. 11855 | 04 Feb 2025
Klinis : Klien mengatakan pusing dan badannya tiba tiba lemas saat kontrol ke poli jantung Tekanan darah : 112/71 N : 82 x/ menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, yaitu klien mengeluhkan pusing dan badan tiba-tiba lemas saat kontrol ke poli jantung dengan hasil pemeriksaan tekanan darah 112/71 mmHg dan nadi 82 kali per menit, maka dapat diberikan diagnosis keperawatan sebagai berikut:
Diagnosis Keperawatan (SDKI):
1. Intoleransi Aktivitas
Penjelasan:
Intoleransi Aktivitas adalah ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan, yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Dalam kasus ini, keluhan pusing dan badan lemas saat kontrol ke poli jantung mengindikasikan adanya ketidakmampuan tubuh untuk mentolerir aktivitas fisik, yang mungkin disebabkan oleh kondisi kardiovaskular.
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
a. Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan, yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
b. Karakteristik Utama: Keluhan kelelahan, pusing, sesak napas, dan/atau nyeri dada saat aktivitas.
c. Faktor Berhubungan: Gangguan kardiovaskular, neuromuskular, atau pernapasan.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
a. Luaran: Toleransi Aktivitas
b. Indikator: Mampu melakukan aktivitas sehari-hari, tingkat kelelahan, dan tanda-tanda vital stabil saat aktivitas.
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
a. Intervensi: Manajemen Intoleransi Aktivitas
b. Aktivitas: Identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi intoleransi aktivitas, monitor tanda-tanda vital saat aktivitas, atur ulang jadwal aktivitas, dan berikan edukasi mengenai manajemen energi.
Dengan pendekatan SDKI-SLKI-SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstruktur untuk mengatasi masalah intoleransi aktivitas yang dialami oleh klien.