Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 10407 | 06 Jan 2025
Klinis : gangguan mobilitas fisik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi gangguan mobilitas fisik.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Mobilitas Fisik
Definisi:
Gangguan Mobilitas Fisik adalah keterbatasan dalam pergerakan secara mandiri dan terarah pada satu atau lebih ekstremitas.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Keterbatasan Aktivitas Fisik
2. Keterbatasan Kemampuan Gerak Sendi
3. Risiko Cidera
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Mobilitas Fisik
2. Kemampuan Gerak Sendi
3. Integritas Jaringan
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Peningkatan Mobilitas Fisik
2. Peningkatan Kemampuan Gerak Sendi
3. Pencegahan Cidera
Penjelasan Singkat:
Gangguan Mobilitas Fisik dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penyakit, cedera, atau kondisi kesehatan lainnya. Hal ini dapat menyebabkan keterbatasan dalam pergerakan, kemampuan gerak sendi, dan risiko cidera. Perawat berperan penting dalam mengatasi masalah ini melalui intervensi yang terencana dan terstruktur, seperti peningkatan mobilitas fisik, peningkatan kemampuan gerak sendi, dan pencegahan cidera. Tujuannya adalah untuk membantu pasien mencapai kemandirian dalam aktivitas sehari-hari dan meningkatkan kualitas hidup. -
Article No. 10408 | 06 Jan 2025
Klinis : pola napas tidak efektif berhubungan dengan GERD disertai batuk.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Pola napas tidak efektif berhubungan dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) disertai batuk.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Pola Napas Tidak Efektif didefinisikan sebagai kondisi di mana individu mengalami perubahan dalam frekuensi, kedalaman, atau irama pernapasan yang mengganggu ventilasi yang adekuat.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah pasien dapat mempertahankan pola napas yang efektif, ditandai dengan frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan yang normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Monitor pola napas
2. Ajarkan teknik relaksasi pernapasan
3. Kolaborasi pemberian terapi oksigen jika diperlukan
4. Kolaborasi penatalaksanaan GERD, seperti pemberian obat antasida atau prokinetik
5. Edukasi pasien dan keluarga mengenai manajemen GERD dan batuk
Dengan pendekatan holistik dan kolaboratif, perawat berperan penting dalam membantu pasien mencapai pola napas yang efektif dan mengelola kondisi GERD yang mendasarinya. -
Article No. 10409 | 06 Jan 2025
Klinis : tindakan keperawatan pada pasien pola napas tidak efektif berhubungan dengan GERD disertai batuk.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat dengan pengetahuan dan pengalaman yang luas, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien dengan pola napas tidak efektif yang berhubungan dengan GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) disertai batuk.
Diagnosa Keperawatan:
Pola Napas Tidak Efektif berhubungan dengan GERD disertai batuk
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Ketidakmampuan untuk bernapas dengan lancar yang menyebabkan ketidakefektifan ventilasi.
- Faktor yang Berhubungan: GERD yang menyebabkan refleks batuk dan mengganggu pola napas.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang Diharapkan: Pasien dapat mempertahankan pola napas yang efektif.
- Kriteria Hasil: Frekuensi napas dalam rentang normal, irama napas teratur, tidak ada tanda-tanda distress pernapasan.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan:
a. Monitor pola napas, kedalaman, dan irama.
b. Identifikasi penyebab pola napas tidak efektif (GERD).
c. Ajarkan teknik pengendalian batuk dan relaksasi pernafasan.
d. Kolaborasi pemberian obat-obatan untuk mengatasi GERD.
e. Kolaborasi pemberian oksigen jika diperlukan.
f. Posisikan pasien untuk memfasilitasi ventilasi.
g. Edukasi pasien dan keluarga tentang manajemen GERD dan pola napas.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus berpedoman pada standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia agar dapat memberikan intervensi yang komprehensif dan efektif dalam mengatasi masalah pola napas tidak efektif pada pasien dengan GERD disertai batuk. -
Article No. 10410 | 06 Jan 2025
Klinis : pasien dengan diagnosa medis stroke tidak bisa berkomunikasi dengan baik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien dengan diagnosa medis stroke yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik.
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Komunikasi Verbal
Penjelasan singkat:
Gangguan Komunikasi Verbal adalah ketidakmampuan atau keterbatasan individu dalam mengekspresikan ide, perasaan, atau kebutuhan secara lisan. Pada pasien dengan stroke, gangguan komunikasi verbal dapat terjadi akibat kerusakan pada area otak yang bertanggung jawab untuk fungsi bahasa dan bicara.
Standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Gangguan Komunikasi Verbal ditandai dengan kriteria seperti kesulitan mengekspresikan keinginan, kesulitan berbicara, kesulitan memahami pembicaraan orang lain, dan kesulitan membaca atau menulis.
Standar SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan Gangguan Komunikasi Verbal adalah peningkatan kemampuan komunikasi verbal pasien, termasuk kemampuan untuk mengekspresikan diri, memahami pembicaraan orang lain, serta kemampuan membaca dan menulis.
Standar SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi Gangguan Komunikasi Verbal meliputi terapi wicara, penggunaan alat bantu komunikasi, serta pelatihan untuk mengoptimalkan sisa kemampuan komunikasi pasien.
Dengan penerapan standar SDKI, SLKI, dan SIKI, diharapkan perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstruktur untuk membantu pasien stroke dalam mengatasi gangguan komunikasi verbal yang dialaminya. -
Article No. 10411 | 06 Jan 2025
Klinis : Nyeri tenggorokan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi nyeri tenggorokan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: J02.9
- Deskripsi: Faringitis akut, tidak spesifik
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 98.01
- Deskripsi: Pemeriksaan tenggorokan.
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 J02.9 (Faringitis akut, tidak spesifik) merupakan diagnosis yang sesuai untuk kondisi nyeri tenggorokan. Kode ini mencakup inflamasi akut dari faring atau tenggorokan, tanpa penyebab yang spesifik.
2. Kode ICD-9-CM 98.01 (Pemeriksaan tenggorokan) dapat digunakan untuk prosedur atau tindakan medis yang dilakukan untuk mengevaluasi dan menangani kondisi nyeri tenggorokan. Pemeriksaan tenggorokan ini dapat mencakup visualisasi langsung atau penggunaan alat bantu untuk memeriksa dan menilai kondisi tenggorokan.
Dalam praktik klinis, dokter atau perekam medis akan mempertimbangkan riwayat, gejala, dan temuan klinis lainnya untuk menentukan diagnosis yang paling tepat dan tindakan medis yang sesuai untuk menangani kondisi nyeri tenggorokan pada pasien. -
Article No. 10412 | 06 Jan 2025
Klinis : PERUT TERASA PEDIH DAN TIDAK ENAK
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan senang hati, saya akan memberikan informasi kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang sesuai dengan kondisi "PERUT TERASA PEDIH DAN TIDAK ENAK" dengan format yang rapi dan terstruktur.
1. Kode ICD-10:
- Kode: R10.13
- Deskripsi: Nyeri perut bagian bawah
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 44.43
- Deskripsi: Endoskopi lambung dengan biopsi
Penjelasan:
Kode ICD-10 R10.13 (Nyeri perut bagian bawah) sesuai dengan kondisi "PERUT TERASA PEDIH DAN TIDAK ENAK" karena gejala tersebut dapat menunjukkan adanya keluhan di area perut bagian bawah atau perut bagian bawah.
Jika diperlukan tindakan medis, kode ICD-9-CM 44.43 (Endoskopi lambung dengan biopsi) dapat digunakan. Prosedur ini melibatkan pemeriksaan endoskopik lambung dan pengambilan sampel jaringan (biopsi) untuk analisis lebih lanjut, yang dapat membantu dalam menentukan penyebab keluhan perut yang dirasakan.
Pemeriksaan endoskopik lambung dan pengambilan biopsi dapat dilakukan untuk mengevaluasi kondisi seperti gastritis, ulkus peptikum, atau kondisi lain yang dapat menyebabkan rasa pedih dan tidak nyaman di perut. -
Article No. 10413 | 06 Jan 2025
Klinis : PERUT TERASA PEDIH DAN TIDAK ENAK KEMBUNG TERASA INGIN MUNTAH
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan mengacu pada gejala yang Anda sampaikan, yaitu "PERUT TERASA PEDIH DAN TIDAK ENAK KEMBUNG TERASA INGIN MUNTAH", berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis yang sesuai, serta kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang mungkin dilakukan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R12
- Deskripsi: Dispepsia
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 43.11 atau 43.19
- Deskripsi: Gastroenterostomi atau prosedur lain pada lambung, jika diperlukan untuk mengatasi kondisi dispepsia yang tidak membaik dengan pengobatan konservatif.
Penjelasan:
Gejala "PERUT TERASA PEDIH DAN TIDAK ENAK KEMBUNG TERASA INGIN MUNTAH" mengarah pada diagnosis dispepsia, yang merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan rasa tidak nyaman atau nyeri di area perut bagian atas. Dispepsia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti gangguan fungsi lambung, infeksi bakteri Helicobacter pylori, atau kondisi lainnya.
Dalam penatalaksanaan dispepsia, langkah pertama biasanya adalah pengobatan konservatif, seperti penggunaan obat-obatan untuk mengurangi gejala, perubahan gaya hidup, dan pengaturan pola makan. Namun, jika gejala tidak membaik dengan pengobatan konservatif, dapat dipertimbangkan untuk melakukan prosedur diagnostik atau tindakan medis lebih lanjut, seperti gastroenterostomi atau tindakan lain pada lambung, untuk mengatasi penyebab yang mendasari kondisi dispepsia.
Kode ICD-9-CM yang disarankan untuk prosedur atau tindakan medis tersebut adalah 43.11 (Gastroenterostomi) atau 43.19 (Prosedur lain pada lambung), yang dapat dilakukan jika diperlukan sesuai dengan kondisi pasien dan rekomendasi dokter yang merawat. -
Article No. 10414 | 06 Jan 2025
Klinis : nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Terima kasih atas permintaan Anda. Sebagai seorang pakar perawat, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi nyeri.
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Akut
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Nyeri akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan aktual atau potensial, atau yang dirasakan seperti kerusakan. Nyeri akut biasanya terjadi secara tiba-tiba, dengan intensitas ringan hingga berat, dan bersifat sementara.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan nyeri akut adalah pasien dapat melaporkan pengurangan nyeri, menunjukkan perilaku mengatasi nyeri yang efektif, dan dapat beraktivitas sesuai dengan kemampuannya.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan untuk mengatasi nyeri akut mencakup:
a. Manajemen nyeri, seperti pemberian analgesik, terapi komplementer, dan teknik relaksasi.
b. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang nyeri, penyebab, dan strategi penanganannya.
c. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, seperti dokter, untuk memberikan penanganan yang komprehensif.
Penerapan SDKI, SLKI, dan SIKI ini bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan yang terstandar dan berkualitas dalam mengatasi masalah nyeri akut pada pasien. -
Article No. 10415 | 06 Jan 2025
Klinis : batuk tak berdahak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
Penjelasan Singkat:
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka. Dalam kasus batuk tak berdahak, pasien mengalami kesulitan dalam mengeluarkan sekresi dari saluran pernapasan, sehingga dapat menyebabkan penurunan aliran udara dan risiko infeksi.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang terkait dengan diagnosa ini mencakup:
1. Bersihan Jalan Napas
2. Permeabilitas Jalan Napas
3. Status Respirasi
Sementara itu, Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang dapat diterapkan meliputi:
1. Manajemen Jalan Napas
2. Terapi Inhalasi
3. Manajemen Batuk
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas pada kasus batuk tak berdahak ini dapat mencakup upaya membuka jalan napas, memfasilitasi ekspektorasi, serta mengurangi gejala batuk melalui terapi inhalasi dan pengelolaan batuk. -
Article No. 10416 | 06 Jan 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan darah tinngi
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baiklah, saya akan memberikan penjelasan rinci terkait kondisi pasien dengan keluhan tekanan darah tinggi.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk pasien dengan keluhan tekanan darah tinggi adalah "Penurunan Curah Jantung" (Decreased Cardiac Output). Ini merupakan diagnosa keperawatan yang mencerminkan kondisi pasien dengan peningkatan tekanan darah yang dapat berdampak pada penurunan kemampuan jantung untuk memompa darah secara efektif.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, luaran yang diharapkan adalah:
1. Stabilitas Hemodinamik: Pasien menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil, dengan tekanan darah yang terkontrol dalam rentang normal.
2. Perfusi Jaringan yang Memadai: Pasien menunjukkan tanda-tanda perfusi jaringan yang adekuat, seperti ekstremitas hangat, pengisian kapiler yang baik, dan urin yang cukup.
3. Pengetahuan Manajemen Kesehatan: Pasien menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang manajemen hipertensi, termasuk penggunaan obat-obatan, diet, aktivitas, dan gaya hidup sehat.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
1. Pemantauan Tanda-Tanda Vital:
- Memantau tekanan darah, denyut nadi, frekuensi napas, dan suhu tubuh secara rutin.
- Mengidentifikasi tren atau perubahan dalam tanda-tanda vital yang dapat menunjukkan perkembangan kondisi pasien.
2. Manajemen Farmakoterapi:
- Memantau efektivitas dan efek samping obat-obatan antihipertensi yang diberikan.
- Memastikan pasien mematuhi regimen pengobatan yang ditetapkan.
- Mengkaji interaksi obat dan menyesuaikan pengobatan jika diperlukan.
3. Edukasi Gaya Hidup Sehat:
- Memberikan edukasi tentang diet rendah garam, aktivitas fisik, dan manajemen stres.
- Mendorong pasien untuk menerapkan gaya hidup sehat yang dapat membantu mengontrol tekanan darah.
- Melibatkan keluarga dalam proses edukasi untuk mendukung perubahan gaya hidup pasien.
4. Pemantauan Perfusi Jaringan:
- Mengkaji tanda-tanda perfusi jaringan, seperti warna kulit, pengisian kapiler, dan suhu ekstremitas.
- Memantau output urin dan karakteristiknya untuk menilai perfusi ginjal.
- Mengidentifikasi dan mengelola faktor-faktor yang dapat memengaruhi perfusi jaringan.
5. Kolaborasi dengan Tim Kesehatan:
- Berkoordinasi dengan dokter dan tim kesehatan lainnya untuk menyesuaikan rencana perawatan sesuai dengan kondisi pasien.
- Memastikan komunikasi yang efektif dan kolaborasi yang optimal dalam pengelolaan hipertensi pasien.
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien, diharapkan pasien dapat mencapai stabilitas hemodinamik, perfusi jaringan yang memadai, dan peningkatan pengetahuan dalam manajemen hipertensi, sehingga dapat mencapai luaran yang diharapkan.