Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23844 | 29 Jan 2026
Klinis : Gangguan menelan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Menelan (Disfagia)
Kode SDKI: 00005
Deskripsi Singkat: Gangguan menelan adalah kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan atau ketidakmampuan untuk memindahkan makanan, cairan, atau saliva dari mulut ke lambung secara aman dan efektif. Ini bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala dari berbagai kondisi medis yang mendasarinya. Gangguan ini dapat terjadi pada fase oral (mengunyah dan membentuk bolus), fase faringeal (refleks menelan yang memindahkan makanan ke esofagus sambil melindungi jalan napas), atau fase esofageal (peristaltik yang mendorong makanan ke lambung). Risiko utama dari gangguan menelan adalah aspirasi, yaitu masuknya material ke dalam saluran napas bawah, yang dapat menyebabkan pneumonia aspirasi, malnutrisi, dehidrasi, penurunan kualitas hidup, dan bahkan kematian. Diagnosis keperawatan ini difokuskan pada respons individu terhadap kondisi tersebut dan memerlukan intervensi untuk meminimalkan risiko dan mempertahankan asupan nutrisi serta hidrasi yang adekuat.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Manajemen Aspirasi. Tujuan utama dari SLKI ini adalah untuk mencegah terjadinya aspirasi pada pasien dengan gangguan menelan. Intervensi yang tercakup meliputi: memposisikan pasien dalam posisi duduk tegak (90 derajat) atau setengah duduk (minimal 45-60 derajat) selama makan dan minimal 30 menit setelah makan; melakukan penilaian kemampuan menelan secara berkala sebelum pemberian makan/minum; menyesuaikan konsistensi makanan dan cairan (seperti menggunakan makanan lunak, cincang, atau puree serta cairan kental) sesuai hasil penilaian; memastikan lingkungan makan yang tenang dan bebas gangguan untuk memfokuskan perhatian pasien; memberikan instruksi untuk makan dengan porsi kecil dan kunyah secara perlahan serta telan sebelum mengambil suapan berikutnya; memeriksa sisa makanan di mulut setelah menelan; serta melakukan perawatan kebersihan mulut sebelum dan sesudah makan untuk mengurangi residu makanan dan bakteri. Evaluasi keberhasilan ditandai dengan tidak adanya tanda-tanda aspirasi seperti batuk, tersedak, suara basah, atau perubahan saturasi oksigen selama dan setelah proses makan-minum.
Kode SIKI: 3201
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. SIKI ini berfokus pada upaya memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi pasien yang mengalami gangguan menelan, untuk mencegah komplikasi malnutrisi dan dehidrasi. Intervensi spesifik meliputi: berkolaborasi dengan ahli gizi dan terapis wicara untuk menentukan jenis diet dan konsistensi yang paling aman dan sesuai; memantau dan mencatat asupan makanan dan cairan setiap hari; mengukur berat badan secara teratur; memberikan makanan dengan porsi kecil tetapi frekuensi yang lebih sering (small frequent feeding); memastikan suplemen nutrisi yang diberikan sesuai resep; memodifikasi lingkungan makan agar nyaman; memberikan bantuan makan sesuai kebutuhan kemampuan pasien; serta memantau tanda-tanda dehidrasi (seperti turgor kulit menurun, mukosa kering) dan malnutrisi (seperti kelemahan, penurunan berat badan). Evaluasi kriteria hasil adalah tercapainya asupan nutrisi dan cairan yang adekuat sesuai kebutuhan metabolik pasien, yang ditunjukkan dengan status hidrasi yang baik, berat badan stabil atau sesuai target, serta tidak adanya tanda-tanda defisiensi nutrisi.
-
Article No. 23845 | 29 Jan 2026
Klinis : Gangguan menelan sudah terpasang ngt
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Menelan (Disfagia) dengan Pemasangan NGT
Kode SDKI: B.3.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko aspirasi adalah keadaan dimana individu rentan mengalami masuknya sekret, cairan, atau benda padat (makanan, cairan lambung) ke dalam trakea dan paru-paru, yang dapat mengakibatkan komplikasi kesehatan.
Kode SLKI: B.3.1.1.1
Deskripsi : Aspirasi dicegah. Indikator: 1) Suara napas bersih/bebas dari suara tambahan, 2) Tidak ada tanda-tanda distress pernapasan, 3) Tidak ada batuk atau tersedak saat pemberian nutrisi/obat, 4) Tidak terjadi pneumonia aspirasi, 5) Saluran napas tetap paten.
Kode SIKI: B.3.1.1.1.1 s.d. B.3.1.1.1.11
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mencegah aspirasi pada pasien dengan NGT meliputi serangkaian tindakan sistematis. Pertama, pastikan posisi kepala tempat tidur ditinggikan minimal 30-45 derajat selama pemberian nutrisi enteral dan hingga 30-60 menit setelahnya untuk memanfaatkan gravitasi mencegah refluks. Kedua, lakukan konfirmasi posisi selang NGT sebelum setiap pemberian dengan mengukur pH aspirat lambung (pH asam ≤5.5) sebagai metode terbaik, atau dengan insuflasi udara dan auskultasi epigastrium jika aspirat tidak didapat. Ketiga, periksa sisa lambung (residual) secara berkala sesuai protokol (biasanya setiap 4 jam). Jika volume residual melebihi batas yang ditentukan (misalnya 200-250 ml atau sesuai kebijakan), hentikan pemberian sementara dan konsultasikan dengan tim klinis. Keempat, atur kecepatan pemberian nutrisi sesuai resep, hindari pemberian bolus yang terlalu cepat yang dapat memicu distensi lambung dan muntah. Kelima, lakukan perawatan kebersihan mulut dan hidung secara rutin untuk mengurangi kolonisasi bakteri dan risiko pneumonia aspirasi. Keenam, pertahankan balon cuff pada tekanan yang tepat (20-30 cmH2O) jika pasien juga menggunakan tube trakeostomi atau endotrakeal. Ketujuh, kaji tanda-tanda aspirasi dini seperti batuk mendadak, suara napas basah (ronkhi/ wheezing), sianosis, atau distress pernapasan. Kedelapan, berikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya posisi, tanda bahaya, dan larangan untuk memberikan sesuatu secara oral jika ada gangguan menelan berat. Kesembilan, pastikan fiksasi NGT aman untuk mencegah pergeseran. Kesepuluh, kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jenis formula dan kekentalan yang tepat. Kesebelas, lakukan fisioterapi dada jika diperlukan untuk membantu membersihkan sekret. Semua intervensi ini didokumentasikan dengan baik untuk memantau efektivitas dan kesinambungan asuhan.
-
Article No. 23846 | 29 Jan 2026
Klinis : Diare
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diare
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan frekuensi dan/atau penurunan konsistensi buang air besar dari biasanya.
Kode SLKI: L.03120
Deskripsi : Manajemen Diare. Intervensi keperawatan untuk mengontrol diare, memulihkan keseimbangan cairan dan elektrolit, serta mencegah komplikasi. Tindakan ini meliputi pemantauan frekuensi, volume, dan karakteristik feses; pemantauan tanda-tanda dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit; pemberian cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan (oral atau parenteral); kolaborasi pemberian obat antidiare atau antibiotik sesuai indikasi; edukasi pasien dan keluarga tentang diet yang tepat (misalnya diet BRAT: Banana, Rice, Applesauce, Toast atau diet rendah serat, hindari makanan pedas, berlemak, dan susu); edukasi pentingnya kebersihan perorangan dan lingkungan (cuci tangan dengan sabun) untuk mencegah penularan; serta memantau integritas kulit perianal dan memberikan perawatan kulit untuk mencegah iritasi dan ekskoriasi. Tujuan akhirnya adalah frekuensi dan konsistensi feses kembali normal, tanda-tanda dehidrasi teratasi, dan pasien serta keluarga memahami tindakan pencegahan serta penatalaksanaan di rumah.
Kode SIKI: I.03120
Deskripsi : Kriteria hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan untuk masalah diare. Kriteria ini meliputi: (1) Fisiologis: Frekuensi buang air besar menurun dan konsistensi feses membaik/mengental mendekati normal. Tanda-tanda dehidrasi (seperti turgor kulit menurun, mata cekung, membran mukosa kering, oliguria) tidak ada atau teratasi. Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai, ditandai dengan tanda vital stabil, output urin adekuat (>30 ml/jam), dan hasil laboratorium elektrolit dalam batas normal. Tidak ada tanda-tanda syok hipovolemik. Integritas kulit perianal terjaga, tidak terdapat kemerahan, lecet, atau ekskoriasi. (2) Pengetahuan dan Perilaku: Pasien dan keluarga dapat menyebutkan penyebab diare dan faktor risikonya. Pasien dan keluarga mendemonstrasikan perilaku cuci tangan yang benar dengan sabun dan air mengalir. Pasien dan keluarga memahami dan menerapkan anjuran diet yang diberikan (seperti memilih makanan yang mudah dicerna, menghindari pemicu). Pasien dan keluarga mengetahui tanda-tanda dehidrasi yang perlu dilaporkan segera kepada tenaga kesehatan. (3) Eliminasi: Pola eliminasi usus kembali ke pola normal individu tersebut. Pasien melaporkan tidak adanya urgensi atau inkontinensia fekal. Kriteria hasil ini bersifat holistik, mengukur tidak hanya penyelesaian gejala tetapi juga pemahaman, kemampuan perawatan mandiri, dan pencegahan kekambuhan.
-
Article No. 23847 | 29 Jan 2026
Klinis : Gangguan mobilitas fisik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: 00085
Deskripsi Singkat: Keterbatasan gerakan fisik yang independen dan bertujuan.
Kode SLKI: 0400
Deskripsi : Mobilitas fisik pasien membaik. SLKI ini terdiri dari serangkaian kriteria hasil yang diharapkan, termasuk: (1) Pasien mempertahankan posisi tubuh yang diinginkan dengan atau tanpa bantuan. (2) Pasien melakukan aktivitas dengan bantuan sesuai kebutuhan. (3) Pasien menunjukkan penggunaan alat bantu mobilitas secara aman dan tepat. (4) Pasien berpartisipasi dalam aktivitas rentang gerak (ROM). (5) Kekuatan dan tonus otot membaik atau mempertahankan fungsi optimal. (6) Koordinasi dan keseimbangan tubuh membaik. (7) Pasien mempertahankan integritas kulit. (8) Pasien bebas dari kontraktur. Tujuan akhirnya adalah memaksimalkan kemandirian pasien dalam bergerak, mencegah komplikasi imobilisasi seperti atrofi otot, kontraktur sendi, dekubitus, dan pneumonia, serta meningkatkan kualitas hidup dan partisipasi dalam aktivitas sehari-hari.
Kode SIKI: 4150
Deskripsi : Terapi Latihan: Mobilisasi. Intervensi keperawatan ini berfokus pada membantu pasien untuk bergerak atau mengubah posisi. Penjelasannya mencakup: (1) Monitor status fisik, neurologis, dan kognitif pasien sebelum dan selama mobilisasi. (2) Ajarkan dan bantu pasien dengan teknik mengubah posisi dan transfer yang aman. (3) Gunakan alat bantu mobilitas (seperti kursi roda, walker, kruk) dan alat bantu transfer (seperti sabuk transfer, matras geser) sesuai kebutuhan. (4) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan dan mobilisasi yang terstruktur. (5) Lakukan latihan rentang gerak (ROM) aktif, pasif, atau aktif asistif secara rutin. (6) Bantu dan ajarkan latihan penguatan otot. (7) Atur lingkungan yang aman untuk mencegah jatuh dan memudahkan mobilitas. (8) Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya mobilisasi, teknik yang aman, dan penggunaan alat bantu. (9) Motivasi dan dukung pasien untuk berpartisipasi sesuai kemampuan, meningkatkan kepercayaan diri. (10) Dokumentasi respons pasien, tingkat bantuan yang dibutuhkan, dan kemajuan mobilitas. Intervensi ini bersifat dinamis dan disesuaikan dengan kemampuan pasien, bertahap dari posisi di tempat tidur, duduk, berdiri, hingga berjalan, dengan prinsip keselamatan dan pencegahan cedera bagi pasien maupun perawat.
-
Article No. 23848 | 29 Jan 2026
Klinis : Gangguan mobilitas fisik pasien stroke
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: 00085
Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik mandiri yang disengaja dalam lingkungan.
Kode SLKI: 0404
Deskripsi : Peningkatan Mobilitas. Kriteria hasil: 1) Pergerakan sendi aktif sesuai rentang gerak (ROM). 2) Kekuatan otot meningkat. 3) Koordinasi gerak meningkat. 4) Keseimbangan tubuh meningkat. 5) Melakukan aktivitas fisik secara mandiri. 6) Menggunakan alat bantu mobilitas dengan tepat.
Kode SIKI: 0820
Deskripsi : Latihan Rentang Gerak (ROM). Tindakan keperawatan: 1) Monitor kemampuan mobilitas pasien (kekuatan otot, ROM, koordinasi, keseimbangan, dan toleransi aktivitas). 2) Lakukan latihan ROM aktif, aktif asistif, atau pasif sesuai kondisi pasien. 3) Anjurkan dan bantu pasien untuk menggerakkan sendi secara perlahan dan penuh hingga titik nyeri. 4) Dukung dan bantu posisi tubuh yang tepat selama latihan. 5) Ajarkan keluarga cara melakukan latihan ROM. 6) Kolaborasi dengan fisioterapis dalam program latihan.
-
Article No. 23849 | 29 Jan 2026
Klinis : gangguan jalan nafas
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gangguan Jalan Napas
Kode ICD-10: J98.8
Deskripsi Singkat : Gangguan jalan napas (J98.8) diklasifikasikan di bawah "Penyakit lain pada sistem pernapasan" dalam ICD-10. Kode ini digunakan untuk mendokumentasikan adanya obstruksi, penyempitan, atau disfungsi pada saluran pernapasan yang tidak spesifik atau tidak termasuk dalam kategori diagnosis yang lebih tepat seperti asma, PPOK, atau bronkiektasis. Gangguan ini dapat terjadi di saluran napas atas (seperti hidung, faring, laring) atau saluran napas bawah (trakea, bronkus). Penyebabnya beragam, mulai dari edema, sekresi berlebihan, benda asing, kelainan struktural, hingga kompresi dari luar. Gejala umum meliputi sesak napas (dispnea), mengi (wheezing), stridor, batuk, dan suara napas tambahan. Kode J98.8 bersifat nonspesifik dan sering digunakan sebagai kode sementara saat menunggu diagnosis yang lebih pasti atau ketika penyebab gangguan jalan napas bersifat iatrogenik atau pasca-trauma. Penggunaan kode ini menekankan pentingnya pencatatan klinis yang detail untuk mengidentifikasi etiologi yang mendasari, yang nantinya mungkin memerlukan kode ICD-10 yang lebih spesifik.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23850 | 29 Jan 2026
Klinis : gangguan jalan nafas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Jalan Napas
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : Pemeliharaan Jalan Napas. Deskripsi: Tujuan keperawatan adalah jalan napas pasien tetap paten. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Bunyi napas bersih (vesikuler) di seluruh lapang paru; 2) Tidak ada suara napas tambahan (ronkhi, wheezing, stridor); 3) Laju, irama, dan kedalaman napas dalam rentang normal sesuai usia; 4) Tidak ada sianosis atau tanda hipoksia lainnya; 5) Pasien mampu batuk efektif dan mengeluarkan sekresi (jika sadar); 6) Nilai saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal; 7) Jalan napas buatan (seperti endotracheal tube atau trakeostomi) tetap bersih, aman, dan berfungsi baik jika terpasang.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Deskripsi: Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk memastikan jalan napas paten dan pertukaran gas yang adekuat. Intervensi ini meliputi: 1) **Pemantauan**: Mengkaji bunyi napas, laju, irama, kedalaman, dan usaha napas secara berkala. Memantau status oksigenasi melalui SpO2 dan tanda klinis (warna kulit, tingkat kesadaran). Mengobservasi karakteristik sekresi (warna, jumlah, konsistensi). 2) **Posisi**: Menempatkan pasien pada posisi yang memudahkan ventilasi, seperti semi-Fowler atau Fowler tinggi, serta melakukan reposisi secara teratur. Pada pasien dengan penurunan kesadaran, posisi lateral atau recovery position dapat mencegah aspirasi. 3) **Teknik Bantuan Batuk**: Mengajarkan dan mendorong batuk dalam dan efektif. Melakukan latihan napas dalam dan penggunaan spirometer insentif. Memberikan bantuan dengan "splinting" menggunakan bantal atau tangan saat pasien batuk pasca operasi. 4) **Manajemen Sekresi**: Melakukan fisioterapi dada (chest physiotherapy) seperti perkusi, vibrasi, dan postural drainage sesuai indikasi dan kondisi pasien. Melakukan suction jalan napas (orofaringeal, nasofaringeal, atau endotrakeal) dengan teknik steril untuk mengangkat sekresi yang tidak dapat dikeluarkan pasien sendiri. Mempertahankan kelembaban udara dengan humidifier atau nebulizer untuk mengencerkan sekresi. 5) **Manajemen Alat Bantu Jalan Napas**: Merawat dan mengamankan jalan napas buatan (ETT, trakeostomi) dengan fiksasi yang tepat. Melakukan suction pada tube secara steril. Membersihkan dan menggangi kanul trakeostomi atau stoma sesuai protokol. Memastikan cuff pressure pada ETT dalam rentang aman. 6) **Pemberian Oksigen**: Memberikan terapi oksigen sesuai dengan resep dan protokol untuk mempertahankan saturasi yang adekuat. 7) **Edukasi**: Mengajarkan pada pasien dan keluarga tanda-tanda gangguan jalan napas serta kapan harus mencari bantuan. Mengajarkan teknik batuk dan latihan napas yang benar untuk dilakukan secara mandiri. 8) **Kolaborasi**: Berkolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat bronkodilator, mukolitik, atau antibiotik sesuai resep. Merujuk ke fisioterapis untuk latihan pernapasan lebih lanjut. Intervensi ini bersifat dinamis dan harus disesuaikan dengan penyebab gangguan jalan napas (misalnya: sekresi berlebihan, bronkospasme, edema, obstruksi benda asing, atau depresi pusat pernapasan) serta kondisi spesifik pasien.
-
Article No. 23851 | 29 Jan 2026
Klinis : pusing dan diare
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gastroenteritis dan Akibat Dehidrasi
Kode ICD-10: A09.9
Deskripsi Singkat : Kombinasi gejala pusing dan diare sangat mengarah pada gastroenteritis (radang lambung dan usus) yang sering disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau parasit, dengan komplikasi dehidrasi ringan. Pusing dalam konteks ini biasanya merupakan tanda awal dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit dari diare. Kode ICD-10 A09.9 termasuk dalam bab "Penyakit tertentu yang menular dan parasit", tepatnya di bawah kategori "Diare dan gastroenteritis yang diduga berasal dari infeksi". Kode ini digunakan untuk kasus diare dan gastroenteritis yang diduga bersifat infeksius tetapi agen penyebab pastinya tidak ditentukan (tidak spesifik). Penggunaan kode ini memerlukan pertimbangan klinis karena gejala serupa dapat disebabkan oleh kondisi non-infeksi seperti intoleransi makanan atau sindrom iritasi usus. Dalam praktik pengkodean resmi, dokter harus menegakkan diagnosis yang lebih spesifik jika memungkinkan berdasarkan pemeriksaan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23852 | 29 Jan 2026
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Hipertermia terkait Proses Penyakit Infeksi Virus Campak
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana individu rentan terhadap patogen yang dapat mengganggu kesehatan. Pada kasus campak, risiko infeksi sekunder (seperti pneumonia, otitis media, diare) sangat tinggi karena virus melemahkan sistem imun dan merusak epitel saluran pernapasan serta usus. Selain itu, kondisi pasien juga menunjukkan manifestasi langsung dari infeksi virus, yaitu Hipertermia (SDKI 00007).
Kode SLKI: 0410 & 0710
Deskripsi : SLKI 0410: Pengendalian Infeksi. Tujuan keperawatan adalah mencegah terjadinya infeksi sekunder dan penyebaran penyakit. Hasil yang diharapkan meliputi: tanda-tanda infeksi sekunder (seperti sesak napas, diare hebat, nyeri telinga) dapat dideteksi dini dan ditangani; tidak terjadi komplikasi infeksi bakteri; dan penularan ke orang lain diminimalkan. SLKI 0710: Pengaturan Suhu. Tujuan keperawatan adalah suhu tubuh kembali normal dan pasien merasa nyaman. Hasil yang diharapkan meliputi: suhu tubuh dalam rentang normal (36,5°C - 37,5°C), tidak ada kejang demam, tanda-tanda vital stabil, dan pasien menunjukkan perilaku termoregulasi yang adekuat (misalnya, tidak menggigil).
Kode SIKI: 0410 & 0710
Deskripsi : SIKI 0410: Intervensi Pengendalian Infeksi. Perawat melakukan: 1) Isolasi droplet dan udara: menempatkan pasien di ruang tersendiri atau berventilasi baik, menggunakan masker bagi pasien dan petugas, membatasi pengunjung. 2) Meningkatkan pertahanan tubuh: memastikan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat meski nafsu makan menurun, memberikan makanan lunak dan hangat. 3) Memantau tanda-tanda komplikasi: mengobservasi frekuensi dan karakter pernapasan, mendengarkan keluhan nyeri telinga atau perut, memeriksa konsistensi feses. 4) Edukasi keluarga tentang pentingnya isolasi, cara menutup mulut saat batuk/bersin, serta kebersihan tangan dengan sabun dan air mengalir. 5) Kolaborasi pemberian suplementasi vitamin A sesuai protokol karena terbukti mengurangi keparahan campak. SIKI 0710: Intervensi Pengaturan Suhu. Perawat melakukan: 1) Memantau suhu tubuh secara teratur (setiap 2-4 jam) dan tanda vital lainnya. 2) Memberikan terapi kompres hangat di aksila dan lipat paha, hindari kompres dingin atau alkohol karena dapat menyebabkan menggigil dan vasokonstriksi. 3) Meningkatkan hilang panas konduksi dengan menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat, serta sprei yang tidak tebal. 4) Memenuhi kebutuhan cairan untuk mengganti kehilangan cairan insensible melalui penguapan dengan memberikan minum sedikit-sedikit tapi sering. 5) Mengatur lingkungan yang nyaman: suhu ruangan sejuk, sirkulasi udara baik. 6) Kolaborasi pemberian antipiretik sesuai resep (seperti parasetamol) dengan mempertimbangkan dosis berat badan. 7) Mengobservasi tanda kejang demam, terutama pada anak dengan riwayat kejang sebelumnya. Intervensi-intervensi ini dilakukan secara holistik, karena pemenuhan cairan dan nutrisi juga mendukung pengendalian infeksi dan penurunan suhu tubuh. Fokus utama adalah memberikan perawatan suportif, mencegah komplikasi, dan memberikan edukasi kepada keluarga untuk perawatan di rumah serta kewaspadaan terhadap tanda bahaya yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut.
-
Article No. 23853 | 29 Jan 2026
Klinis : bab bercampur darah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bab Bercampur Darah (Hematochezia/Melena)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Perdarahan
Kode SLKI: L.15002
Deskripsi : Perdarahan dapat dicegah
Kode SIKI: I.15001
Deskripsi : Pantau tanda dan gejala perdarahan
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosis Keperawatan (SDKI - D.0016 Risiko Perdarahan): Diagnosis keperawatan ini ditetapkan karena pasien menunjukkan manifestasi klinis aktif berupa bab bercampur darah (hematochezia jika darah segar berwarna merah, atau melena jika darah hitam seperti aspal). "Risiko" dalam konteks ini bukan berarti kemungkinan, tetapi sudah menjadi masalah aktual dimana perdarahan sedang terjadi. Definisi dari SDKI D.0016 adalah "Keadaan dimana individu berisiko mengalami kehilangan darah dalam jumlah yang dapat mengganggu kesehatan". Pada pasien ini, risiko tersebut telah termanifestasi. Bab berdarah menunjukkan adanya gangguan integritas mukosa atau pembuluh darah pada saluran pencernaan bagian bawah (seperti hemoroid, fisura ani, divertikulitis, kolitis, polip, atau keganasan) atau bagian atas jika darah telah mengalami proses pencernaan (melena). Tujuan diagnosis ini adalah untuk mengarahkan intervensi guna menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi (seperti syok hipovolemik), dan mengidentifikasi serta menangani penyebab dasarnya.
Luaran Keperawatan (SLKI - L.15002 Perdarahan dapat dicegah): Luaran ini merupakan kondisi yang diharapkan setelah intervensi keperawatan diberikan. Kriteria luaran ini mencakup: (1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang diharapkan (tekanan darah, nadi, pernapasan stabil), (2) Tidak ada bukti perdarahan lebih lanjut (seperti bab tidak lagi mengandung darah, atau warna feses kembali normal), (3) Nilai laboratorium terkait perdarahan (seperti hemoglobin, hematokrit, dan hitung trombosit) stabil atau membaik, dan (4) Pasien menunjukkan pemahaman tentang faktor risiko dan tindakan pencegahan. Dalam konteks bab berdarah, "dapat dicegah" berarti episode perdarahan akut telah teratasi dan strategi telah diterapkan untuk mencegah kekambuhan, seperti modifikasi diet, manajemen konstipasi, atau kepatuhan terhadap terapi medis untuk kondisi yang mendasarinya. Perawat akan memantau kemajuan pasien menuju kriteria luaran ini melalui pengamatan dan pemeriksaan berkala.
Intervensi Keperawatan (SIKI - I.15001 Pantau tanda dan gejala perdarahan): Ini adalah intervensi utama dan kritis untuk kondisi pasien. Intervensi ini tidak hanya sekadar mengamati, tetapi merupakan proses sistematis dan berkelanjutan yang meliputi: (1) Pengawasan Ketat Tanda Vital: Memantau tekanan darah, nadi (perhatikan takikardia sebagai tanda kompensasi awal hipovolemia), pernapasan, dan suhu secara berkala. Hipotensi ortostatik dapat menjadi indikator signifikan kehilangan volume. (2) Penilaian Sumber dan Karakteristik Perdarahan: Mengobservasi frekuensi, volume, warna darah (merah terang, gelap, atau kehitaman), serta konsistensi feses. Melakukan pemeriksaan tinja samar jika diperlukan. (3) Penilaian Status Hemodinamik dan Oksigenasi: Memantau warna kulit, kelembaban, pengisian kapiler, dan tingkat kesadaran. Gejala seperti pucat, lembab, dingin, penurunan kesadaran, atau gelisah adalah tanda syok yang mengancam jiwa. (4) Pemantauan Hasil Laboratorium: Memeriksa kadar hemoglobin, hematokrit, trombosit, dan waktu protrombin untuk menilai tingkat kehilangan darah dan fungsi koagulasi. (5) Edukasi dan Pelaporan: Mengajarkan pasien dan keluarga untuk mengenali tanda perdarahan berulang (seperti pusing, lemas, atau perubahan warna feses) dan segera melaporkan. Intervensi ini juga mencakup kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi cairan, transfusi darah, atau tindakan endoskopi jika diperlukan. Tindakan pemantauan yang komprehensif ini bertujuan untuk mendeteksi deteriorasi kondisi secara dini, mengevaluasi efektivitas terapi, dan memastikan keselamatan pasien.