Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 10675 | 10 Jan 2025
Klinis : risiko cidera
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memaparkan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi risiko cedera.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Cidera
Definisi:
Risiko Cidera adalah kerentanan individu untuk mengalami cedera fisik akibat interaksi dengan lingkungan atau karena ketidakadekuatan mekanisme perlindungan.
Faktor Risiko:
1. Penurunan fungsi kognitif
2. Keterbatasan fisik
3. Riwayat jatuh sebelumnya
4. Lingkungan yang tidak aman
5. Penggunaan obat-obatan
Tujuan Keperawatan:
1. Klien tidak mengalami cedera selama perawatan
2. Klien mampu mengidentifikasi faktor risiko dan strategi pencegahan cedera
3. Klien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas secara mandiri dan aman
Intervensi Keperawatan:
1. Kaji faktor risiko cedera pada klien
2. Identifikasi tingkat risiko cedera klien
3. Lakukan tindakan pencegahan cedera sesuai dengan tingkat risiko
4. Edukasi klien dan keluarga tentang pencegahan cedera
5. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk intervensi yang komprehensif
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
SDKI merupakan standar yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien dan membuat diagnosa keperawatan yang spesifik, akurat, dan komprehensif.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
SLKI adalah standar yang digunakan untuk menetapkan hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
SIKI adalah standar yang digunakan untuk menentukan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan sesuai dengan diagnosa keperawatan.
Penerapan SDKI, SLKI, dan SIKI dalam praktik keperawatan dapat membantu perawat memberikan asuhan keperawatan yang terstandar, sistematis, dan berkualitas. -
Article No. 10676 | 10 Jan 2025
Klinis : diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada penderita juvenille dermatomyositis
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan untuk kondisi juvenille dermatomyositis.
Diagnosa Keperawatan SDKI untuk Juvenille Dermatomyositis:
1. Intoleransi Aktivitas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas harian yang diinginkan, disebabkan oleh keterbatasan fisik.
- Faktor yang Berhubungan: Kelemahan otot, keterbatasan gerak sendi, kelelahan yang mudah timbul.
2. Nyeri Akut
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau dijelaskan dalam istilah kerusakan tersebut.
- Faktor yang Berhubungan: Inflamasi otot, kerusakan kulit.
3. Risiko Infeksi
- Definisi: Rentan terhadap invasi dan perbanyakan organisme patogen yang dapat menimbulkan kerusakan sel, jaringan, organ, dan sistem.
- Faktor yang Berhubungan: Sistem imun yang terganggu, terapi imunosupresan.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Peningkatan Toleransi Aktivitas
- Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan minimal.
- Klien dapat mempertahankan tingkat energi yang adekuat.
- Klien dapat meminimalkan kelelahan saat beraktivitas.
2. Penurunan Nyeri
- Klien melaporkan pengurangan nyeri.
- Klien dapat beraktivitas dengan nyeri minimal.
- Klien menunjukkan ekspresi wajah yang rileks.
3. Tidak Terjadi Infeksi
- Klien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
- Hasil pemeriksaan laboratorium dalam batas normal.
- Klien dapat mempertahankan sistem pertahanan tubuh yang optimal.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Peningkatan Toleransi Aktivitas:
- Identifikasi kemampuan dan keterbatasan klien dalam beraktivitas.
- Kembangkan rencana aktivitas yang aman dan bertahap sesuai toleransi klien.
- Ajarkan teknik konservasi energi dan manajemen kelelahan.
- Berikan dukungan emosional dan edukasi terkait pentingnya aktivitas.
2. Pengelolaan Nyeri:
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgesik yang sesuai.
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti relaksasi dan distraksi.
- Berikan dukungan emosional dan edukasi terkait manajemen nyeri.
3. Pencegahan Infeksi:
- Identifikasi faktor-faktor risiko infeksi pada klien.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi imunosupresan yang sesuai.
- Implementasikan tindakan pencegahan infeksi, seperti cuci tangan dan penggunaan alat pelindung diri.
- Pantau tanda-tanda infeksi dan lakukan tindakan yang sesuai jika ditemukan.
- Berikan edukasi kepada klien dan keluarga terkait pencegahan infeksi.
Harapan saya, informasi yang saya berikan dapat membantu Anda dalam memahami dan memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif bagi klien dengan kondisi juvenille dermatomyositis. Jangan ragu untuk menanyakan hal-hal lebih lanjut jika diperlukan. -
Article No. 10677 | 10 Jan 2025
Klinis : eorang laki-laki usia 30 tahun dirawat di ruang perawatan dengan diagnosis HIV-AIDS. Klien mengalami diare kronis. Hasil pengkajian ditemukan luka lecet pada daerah anal dan pinggang, kulit dan membran mukosa kering. Hasil TTV: TD; 100/60 mmHg, N; 105 x/i, RR: 28 x/i, S: 38,70C. Turgor kulit jelek dan klien tampak kotor dan bau.Apakah masalah keperawatan utama pada pasien tersebut?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, masalah keperawatan utama pada pasien tersebut adalah:
Diagnosa Keperawatan Utama:
Ketidakseimbangan Cairan (NAND-00025)
Definisi:
Kehilangan cairan tubuh yang melebihi jumlah yang masuk, yang dapat mengakibatkan dehidrasi.
Penjelasan Singkat:
- Pasien mengalami diare kronis yang dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan.
- Tanda-tanda dehidrasi yang tampak adalah kulit dan membran mukosa yang kering, turgor kulit yang jelek, dan tanda-tanda vital seperti nadi yang cepat (105 x/i) dan tekanan darah rendah (100/60 mmHg).
- Kehilangan cairan juga dapat menyebabkan pasien tampak kotor dan bau, karena kebersihan diri yang buruk akibat ketidakmampuan untuk melakukan perawatan diri.
Standar SDKI, SLKI, dan SIKI:
- SDKI: Ketidakseimbangan Cairan (NAND-00025)
- SLKI: Pemantauan Cairan (K-0102)
- SIKI: Manajemen Cairan (I-0105)
Jadi, masalah keperawatan utama pada pasien ini adalah Ketidakseimbangan Cairan yang disebabkan oleh diare kronis akibat infeksi HIV-AIDS. Penatalaksanaan keperawatan yang diprioritaskan adalah pemantauan dan manajemen cairan untuk mengatasi dehidrasi. -
Article No. 10678 | 10 Jan 2025
Klinis : 8. Tn. Z berusia 75 Tahun dirawat dengan diagnosis stroke haemoragic. Klien mengalami penurunan kesadaran (GCS 10). Hasil TTV: TD; 200/140 mmHg, N: 98 x/i, RR; 18 x/i, S: 38,50C. Klien mengalami paralisis, kesulitan mengunyah dan menelan serta bicara pelo. Apakah intervensi keperawatan prioritas yang harus dilakukan?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk Tn. Z:
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
SDKI: Ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekret/benda asing dari saluran napas untuk mempertahankan patensi jalan napas.
SLKI: Manajemen Jalan Napas
SIKI: Manajemen Jalan Napas
2. Gangguan Mobilitas Fisik
SDKI: Keterbatasan dalam gerakan fisik yang disebabkan oleh penurunan kekuatan, ketahanan, atau fleksibilitas otot.
SLKI: Terapigerak
SIKI: Terapi Gerak
3. Risiko Aspirasi
SDKI: Kerentanan untuk masuknya cairan, makanan, kuman, atau benda asing ke dalam saluran napas.
SLKI: Manajemen Nutrisi
SIKI: Manajemen Nutrisi
Intervensi Keperawatan Prioritas:
1. Manajemen Jalan Napas:
- Pemantauan status pernapasan
- Penghisapan jalan napas
- Pemberian oksigen
2. Terapi Gerak:
- Mobilisasi dini
- Latihan rentang gerak
- Pencegahan kontraktur
3. Manajemen Nutrisi:
- Pemberian nutrisi enteral (melalui selang nasogastrik)
- Pencegahan aspirasi
- Pemantauan intake dan output cairan
Penjelasan:
Kondisi Tn. Z dengan diagnosa stroke hemoragik, penurunan kesadaran, serta gangguan neurologis seperti paralisis, kesulitan mengunyah dan menelan, serta bicara pelo memerlukan prioritas intervensi keperawatan pada manajemen jalan napas, terapi gerak, dan manajemen nutrisi. Hal ini untuk mencegah komplikasi, mempertahankan fungsi tubuh, dan mendukung pemulihan kondisi pasien. -
Article No. 10679 | 10 Jan 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis awal untuk pasien pria berusia 45 tahun dengan keluhan batuk berdahak, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan, serta pemeriksaan yang menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas dan lesi di paru, adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.0
- Deskripsi: Tuberkulosis paru dengan konfirmasi secara bakteriologis atau histologis
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 87.44
- Deskripsi: Pencitraan diagnostik paru, termasuk tomografi komputer (CT) dada
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 A15.0 untuk Tuberkulosis paru dengan konfirmasi secara bakteriologis atau histologis digunakan karena pasien memiliki gejala-gejala yang khas untuk tuberkulosis paru, seperti batuk berdahak, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan, serta pemeriksaan fisik dan radiologis yang mendukung diagnosis tuberkulosis.
2. Kode ICD-9-CM 87.44 untuk Pencitraan diagnostik paru, termasuk tomografi komputer (CT) dada, digunakan karena pemeriksaan radiologis, seperti foto rontgen, dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis paru. Prosedur pencitraan lanjutan, seperti CT dada, mungkin akan dilakukan untuk mengevaluasi lesi di paru dan membantu dalam perencanaan tatalaksana.
Catatan: Kode ICD-10 dan ICD-9-CM yang diberikan di sini adalah berdasarkan informasi yang tersedia dalam pertanyaan. Pemastian diagnosis dan penegakan kode yang tepat akan memerlukan evaluasi klinis dan pemeriksaan penunjang yang lebih lengkap oleh tenaga kesehatan yang berwenang. -
Article No. 10680 | 10 Jan 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas berhubungan dengan produksi sekret yang berlebihan, ditandai dengan batuk berdahak, sesak napas, dan suara napas bronkial di paru kanan atas.
Penjelasan:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mempertahankan jalan napas yang paten, mengurangi produksi sekret, dan meningkatkan kemampuan batuk efektif.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen jalan napas, terapi oksigen, postural drainage, dan pemberian obat-obatan seperti bronkodilator dan mukolitik.
2. Gangguan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan anoreksia, ditandai dengan kehilangan nafsu makan.
Penjelasan:
- SDKI: Gangguan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh didefinisikan sebagai asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- SLKI: Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mempertahankan berat badan yang optimal, tidak mengalami penurunan berat badan, dan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah pengkajian nutrisi, pemberian makanan dengan kalori dan protein yang cukup, serta konseling gizi.
Fokus utama dalam penanganan pasien ini adalah mengatasi ketidakefektifan bersihan jalan napas dan gangguan nutrisi untuk mendukung proses pemulihan dari tuberkulosis paru. -
Article No. 10681 | 10 Jan 2025
Klinis : Seorang pasien wanita usia 60 tahun dengan diagnosa medis gagal jantung kiri sedang dirawat di ruang penyakit dalam. Saat dikaji pasien masih mengeluh kaki terasa kebas dan pegal akibat oedem di kedua kaki, pitting oedem positif 3, akral hangat. Apa tindakan yang tepat untuk mengurangi keluhan pasien?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai perawat, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Edema perifer berhubungan dengan gagal jantung kiri.
Penjelasan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Edema perifer didefinisikan sebagai akumulasi cairan pada ruang interstisial yang menyebabkan pembengkakan di ekstremitas. Pada kasus ini, edema perifer disebabkan oleh gagal jantung kiri yang menyebabkan cairan menumpuk di ekstremitas bawah.
Penjelasan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan pada pasien dengan edema perifer adalah pengurangan edema, peningkatan mobilitas, dan perbaikan perfusi jaringan. Indikator keberhasilannya dapat berupa penurunan pitting edema, peningkatan suhu akral, dan peningkatan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Penjelasan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi keluhan pasien dengan edema perifer akibat gagal jantung kiri antara lain:
1. Manajemen cairan: mengatur asupan dan keluaran cairan, memantau berat badan harian, serta mengatur posisi elevasi ekstremitas.
2. Terapi kompresi: penggunaan stoking kompresi atau perendaman ekstremitas dalam air hangat untuk meningkatkan drainase vena.
3. Edukasi: memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai manajemen cairan, diet rendah garam, dan aktivitas fisik yang dapat membantu mengurangi edema.
Dengan penerapan tindakan keperawatan yang tepat berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI, diharapkan dapat mengurangi keluhan pasien dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan gagal jantung kiri. -
Article No. 10682 | 10 Jan 2025
Klinis : n. M (35_ tahun mengeluh kehilangan nafsu makan dan berat badannya turun sebanyak 15 kg dalam waktu 2 bulan tanpa penyebab yang jelas. Pasien menyatakan sulit BAB dan terdapat darah saat BAB. hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 8,5 MgdL, pasien mengalami Iron Deficiency Anemia. Apakah prioritas diagnosis keperawatan pada kasus tersebut ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan kondisi yang telah Anda deskripsikan, prioritas diagnosis keperawatan yang dapat ditegakkan adalah:
Diagnosis Keperawatan: Defisit Nutrisi
Definisi: Asupan nutrisi yang tidak adekuat dibandingkan dengan kebutuhan tubuh.
Penyebab:
- Anoreksia
- Mual dan muntah
- Diare
- Malabsorbsi
Gejala dan Tanda:
- Penurunan berat badan
- Kehilangan nafsu makan
- Kelelahan
- Anemia
Rencana Keperawatan (SDKI-SLKI-SIKI):
- Kaji status nutrisi pasien
- Lakukan monitoring intake dan output cairan
- Berikan informasi tentang pentingnya nutrisi yang adekuat
- Kolaborasi dengan tim gizi untuk meningkatkan asupan nutrisi
- Pantau kadar hemoglobin dan parameter laboratorium terkait
Evaluasi:
- Pasien dapat mempertahankan berat badan
- Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan
- Kadar hemoglobin dalam batas normal
Diagnosis keperawatan lain yang juga perlu diperhatikan adalah Konstipasi terkait diet dan aktivitas yang terbatas. Hal ini juga perlu ditangani untuk mengatasi gejala yang dialami pasien.
Penerapan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dalam proses keperawatan akan membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstandarisasi sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia. -
Article No. 10683 | 10 Jan 2025
Klinis : ada saat melakukan pengkajian terhadap Ny. R 34 tahun, didapatkan tanda inflamasi pada kelenjar parotis.Ny. R mengeluh tidak biasa makan karena sakit dan perih yang dirasakan saat menggerakan lidah serta rongga mulutnya. Apakah tindakan keperawatan yang tepat untuk kasus diatas ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan mempertimbangkan kondisi yang dialami oleh Ny. R, 34 tahun, yang mengeluhkan tanda inflamasi pada kelenjar parotis serta rasa sakit dan perih saat makan dan menggerakkan lidah serta rongga mulut, maka dapat ditegakkan diagnosis keperawatan sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan: Nyeri Akut
Definisi: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah-istilah kerusakan tersebut.
2. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
a. Definisi: Nyeri yang dirasakan secara tiba-tiba dan dalam jangka waktu tertentu, yang disebabkan oleh stimulus spesifik, dapat diatasi, dan memiliki ancaman pada fungsi.
b. Karakteristik Utama: Keluhan nyeri, ekspresi wajah yang menunjukkan nyeri, perilaku protektif terhadap area yang nyeri.
3. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
a. Luaran yang diharapkan: Klien dapat melaporkan berkurangnya rasa nyeri dan mampu mengontrol nyeri.
b. Indikator: Klien melaporkan nyeri berkurang, klien dapat beraktivitas sesuai kemampuan, ekspresi wajah klien menunjukkan relaksasi.
4. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
a. Intervensi Keperawatan:
i. Manajemen Nyeri
- Identifikasi karakteristik nyeri (lokasi, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas)
- Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi
- Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri (seperti kompres dingin, relaksasi)
ii. Perawatan Mulut
- Bersihkan rongga mulut secara lembut
- Aplikasikan agen pelembab pada bibir dan mukosa mulut
- Anjurkan makan makanan dan minuman lembut yang tidak mengiritasi
Berdasarkan kondisi Ny. R, tindakan keperawatan yang tepat adalah:
1. Melakukan pengkajian yang komprehensif untuk mengidentifikasi karakteristik nyeri yang dirasakan Ny. R.
2. Berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter) untuk pemberian analgesik yang sesuai untuk mengurangi nyeri.
3. Mengajarkan Ny. R teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti kompres dingin dan teknik relaksasi.
4. Melakukan perawatan mulut secara lembut, seperti membersihkan rongga mulut dan mengaplikasikan agen pelembab pada bibir dan mukosa mulut.
5. Memberikan edukasi kepada Ny. R untuk mengonsumsi makanan dan minuman lembut yang tidak mengiritasi.
Dengan penerapan tindakan keperawatan yang tepat dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, diharapkan Ny. R dapat melaporkan berkurangnya rasa nyeri dan mampu beraktivitas sesuai kemampuan. -
Article No. 10684 | 10 Jan 2025
Klinis : Nn. M (17 tahun) diantar ke UGD RSUD dengan keluhan mual muntah sejak 2 hari yang lalu. Diketahui bahwa Nn. R mempunyai riwayat gastritis kronis. Saat dilakukan pemeriksaan fisik, nampak lemah, mata cekung, dan konjungtiva anemis. TTV : TD 100/80 mmHg, N : 60 kali/menit, RR : 20 x/menit, S : 38 derajat celcius. Apakah diagnosa yang mungkin muncul pada kasus terebut?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, sebagai perawat profesional saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kasus Nn. M.
Berdasarkan informasi yang diberikan, terdapat beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul, antara lain:
1. Diagnosa Keperawatan: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
- Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- Faktor yang berhubungan: Mual dan muntah yang menyebabkan penurunan asupan nutrisi.
- Karakteristik mayor: Lemah, mata cekung, konjungtiva anemis.
2. Diagnosa Keperawatan: Intoleransi aktivitas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk menoleransi atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari.
- Faktor yang berhubungan: Penurunan energi dan kondisi fisik akibat mual dan muntah.
- Karakteristik mayor: Lemah.
3. Diagnosa Keperawatan: Hipertermia
- Definisi: Suhu tubuh di atas batas normal.
- Faktor yang berhubungan: Infeksi atau proses peradangan.
- Karakteristik mayor: Suhu tubuh 38 derajat Celsius.
Terkait SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. SDKI: merupakan standar yang digunakan untuk mengidentifikasi dan merumuskan diagnosa keperawatan berdasarkan respons pasien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan.
2. SLKI: merupakan standar yang digunakan untuk menetapkan hasil atau luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan yang diberikan.
3. SIKI: merupakan standar yang digunakan untuk menentukan dan mendeskripsikan intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan.
Penggunaan standar-standar tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien secara sistematis, terstandar, dan berdasarkan bukti ilmiah.
Semoga penjelasan ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menanyakannya. Terima kasih.