Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 10991 | 16 Jan 2025
Klinis : terlambat haid, pp test positif, mual muntah dan pusing
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Risiko Kehamilan tidak Diinginkan
Penjelasan:
Berdasarkan gejala yang Anda sampaikan, yaitu terlambat haid, hasil pemeriksaan kehamilan (tes urine) positif, serta keluhan mual, muntah, dan pusing, dapat disimpulkan bahwa Anda mengalami kondisi yang mengarah pada risiko kehamilan tidak diinginkan.
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
Risiko Kehamilan tidak Diinginkan didefinisikan sebagai "Risiko kondisi di mana wanita hamil tanpa rencana atau keinginan".
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
Terkait dengan kondisi ini, beberapa luaran keperawatan yang dapat diharapkan adalah:
1. Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Meningkat
2. Kesiapan untuk Kehamilan Meningkat
3. Kecemasan Berkurang
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Edukasi Kesehatan Reproduksi
2. Manajemen Kecemasan
3. Dukungan Keluarga
4. Konseling Prekonsepi
Sebagai perawat, saya akan berusaha memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk membantu Anda mengatasi risiko kehamilan tidak diinginkan ini. Saya akan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk memastikan Anda mendapatkan penanganan yang tepat. -
Article No. 10992 | 16 Jan 2025
Klinis : terlambat haid, pp test positif, mual muntah dan pusing
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi tersebut.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Berdasarkan gejala yang dipaparkan, yaitu terlambat haid, tes kehamilan positif, serta mual, muntah, dan pusing, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Definisi: Berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Etiologi: Mual, muntah, anoreksia.
Luaran/Output SLKI:
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat:
1. Mencapai keseimbangan nutrisi yang adekuat
Indikator:
- Pasien menunjukkan peningkatan berat badan sesuai usia kehamilan
- Pasien menunjukkan peningkatan kadar albumin dan hemoglobin dalam batas normal
- Pasien tidak mengalami komplikasi akibat malnutrisi (anemia, edema, dll)
Intervensi Keperawatan SIKI:
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah:
1. Manajemen Nutrisi
- Kaji status nutrisi pasien (asupan makanan, berat badan, tanda-tanda malnutrisi)
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun perencanaan diet yang sesuai dengan usia kehamilan
- Anjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering, hindari makanan yang dapat memicu mual
- Pantau masukan dan keluaran cairan, serta tanda-tanda dehidrasi
- Berikan dukungan emosional dan edukasi terkait pentingnya nutrisi yang adekuat selama kehamilan
2. Manajemen Mual dan Muntah
- Kaji penyebab, frekuensi, durasi, dan intensitas mual dan muntah
- Berikan antiemetik sesuai indikasi dan kolaborasi dengan dokter
- Anjurkan pasien untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang dapat mengurangi mual
- Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi untuk mengurangi mual
Penjelasan Rinci:
Diagnosa keperawatan "Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh" dipilih karena pasien mengalami gejala-gejala yang dapat menyebabkan asupan nutrisi tidak adekuat, seperti mual, muntah, dan anoreksia. Hal ini berisiko menyebabkan malnutrisi yang dapat berdampak buruk bagi ibu dan janin.
Luaran/output yang diharapkan adalah pasien dapat mencapai keseimbangan nutrisi yang adekuat, yang ditandai dengan peningkatan berat badan, kadar albumin dan hemoglobin dalam batas normal, serta tidak mengalami komplikasi akibat malnutrisi. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi manajemen nutrisi dan manajemen mual serta muntah, dengan tujuan untuk memastikan asupan nutrisi pasien terpenuhi dan mencegah komplikasi yang mungkin timbul. -
Article No. 10993 | 16 Jan 2025
Klinis : konsultasi sehat
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut kode ICD-10 dan ICD-9-CM untuk kondisi "konsultasi sehat":
1. Kode ICD-10:
- Kode: Z00.0
- Deskripsi: Pemeriksaan kesehatan rutin anak
Dalam hal ini, kondisi "konsultasi sehat" merujuk pada pemeriksaan kesehatan rutin yang dilakukan pada anak. Kode ICD-10 Z00.0 menggambarkan pemeriksaan komprehensif yang dilakukan pada anak untuk mengevaluasi kondisi kesehatannya secara umum, memantau pertumbuhan dan perkembangannya, serta mengidentifikasi potensi masalah kesehatan.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.9
- Deskripsi: Konsultasi medis, tidak diklasifikasikan di tempat lain
Dalam kasus ini, tidak ada kode prosedur ICD-9-CM yang spesifik untuk "konsultasi sehat", karena kondisi ini merupakan konsultasi medis rutin yang tidak termasuk dalam kategori prosedur medis yang terdefinisi secara spesifik. Kode 99.9 digunakan untuk mencatat konsultasi medis yang tidak diklasifikasikan di tempat lain.
Secara umum, "konsultasi sehat" merujuk pada kunjungan rutin pasien ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan dan evaluasi kondisi kesehatan secara komprehensif, tanpa adanya keluhan atau diagnosa spesifik yang perlu ditangani. Kode ICD-10 Z00.0 dan ICD-9-CM 99.9 digunakan untuk mendokumentasikan hal tersebut dalam rekam medis pasien. -
Article No. 10994 | 16 Jan 2025
Klinis : Z00.6
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan hormat, berikut adalah informasi yang Anda minta:
1. Kode ICD-10:
- Kode: Z00.6
- Deskripsi: Pemeriksaan kesehatan rutin anak sehat
Penjelasan:
Kode ICD-10 Z00.6 digunakan untuk mengkodekan pemeriksaan kesehatan rutin pada anak yang sehat, tanpa adanya keluhan atau penyakit tertentu. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak, serta memastikan bahwa anak berada dalam kondisi yang baik secara keseluruhan.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: Tidak ada kode ICD-9-CM spesifik yang terkait dengan pemeriksaan kesehatan rutin anak sehat.
- Deskripsi: Tidak ada prosedur atau tindakan medis yang dikodekan dalam ICD-9-CM untuk pemeriksaan kesehatan rutin anak sehat.
Pemeriksaan kesehatan rutin anak sehat biasanya meliputi pengukuran vital signs, pemeriksaan fisik, penilaian perkembangan, konsultasi, dan pemberian nasihat atau edukasi kepada orang tua. Tindakan-tindakan tersebut tidak memiliki kode prosedur yang spesifik dalam ICD-9-CM, tetapi dapat dicatat dalam rekam medis pasien menggunakan istilah yang sesuai. -
Article No. 10995 | 16 Jan 2025
Klinis : terlambat haid, pp test positif, mual muntah, pusing
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Resiko kehamilan tidak diinginkan
Penjelasan:
Berdasarkan gejala yang Anda sampaikan, yaitu terlambat haid, hasil tes kehamilan positif, serta mual, muntah, dan pusing, dapat disimpulkan bahwa terdapat indikasi kehamilan. Dalam konteks ini, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Resiko kehamilan tidak diinginkan.
Menurut Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Resiko kehamilan tidak diinginkan didefinisikan sebagai "Rentan terhadap kehamilan yang tidak diharapkan atau tidak direncanakan oleh individu/pasangan." Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti penggunaan kontrasepsi yang tidak efektif, kurangnya pengetahuan tentang fertilitas dan kontrasepsi, serta masalah dalam pengambilan keputusan terkait kehamilan.
Selanjutnya, Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) mengidentifikasi beberapa luaran yang dapat dicapai, seperti Perilaku pencegahan kehamilan, Pengetahuan tentang kehamilan dan kontrasepsi, serta Kemampuan pengambilan keputusan terkait kehamilan. Sedangkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) merekomendasikan intervensi-intervensi seperti Konseling kesehatan reproduksi, Edukasi kontrasepsi, dan Fasilitasi pengambilan keputusan terkait kehamilan.
Sebagai perawat, saya akan bekerja sama dengan Anda untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko, memberikan edukasi yang komprehensif, serta memfasilitasi pengambilan keputusan yang tepat sesuai dengan nilai-nilai dan preferensi Anda. Tujuannya adalah untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan memastikan kesejahteraan Anda. -
Article No. 10996 | 16 Jan 2025
Klinis : pusing, sakit pada saat haid
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Menstruasi (Dismenore)
Penjelasan singkat:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Nyeri menstruasi (dismenore) didefinisikan sebagai rasa nyeri atau tidak nyaman yang terjadi selama atau sebelum menstruasi.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Tujuan keperawatan yang diharapkan adalah pasien dapat mengelola nyeri menstruasi secara efektif.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi pengkajian nyeri, pemberian analgesik, teknik relaksasi, kompres hangat, dan edukasi tentang manajemen nyeri menstruasi.
Diagnosa Keperawatan:
2. Pusing (Vertigo)
Penjelasan singkat:
- SDKI: Pusing (vertigo) didefinisikan sebagai sensasi berputar, tidak seimbang, atau linglung yang dirasakan pasien.
- SLKI: Tujuan keperawatan yang diharapkan adalah pasien dapat mengendalikan gejala vertigo secara efektif.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi pengkajian pusing, pemberian antivertigo, manajemen lingkungan, dan edukasi tentang manajemen pusing.
Catatan:
- Standar-standar tersebut mengacu pada Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai organisasi profesi perawat di Indonesia.
- Diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat yang diberikan didasarkan pada kondisi pusing dan sakit saat haid yang disampaikan dalam pertanyaan. -
Article No. 10997 | 16 Jan 2025
Klinis : Penglihatan kabur
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosis Keperawatan:
Gangguan Penglihatan
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Gangguan Penglihatan adalah keadaan dimana individu mengalami penurunan atau perubahan kemampuan melihat yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosis keperawatan Gangguan Penglihatan adalah pasien dapat mempertahankan atau meningkatkan fungsi penglihatan, serta dapat beradaptasi dengan perubahan penglihatan.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi Gangguan Penglihatan antara lain:
a. Pemeriksaan status penglihatan
b. Perawatan mata
c. Edukasi tentang perawatan mata dan penggunaan alat bantu penglihatan
d. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (misalnya dokter mata) untuk penanganan lebih lanjut.
Secara akademis, diagnosis keperawatan Gangguan Penglihatan didasarkan pada penurunan atau perubahan kemampuan melihat yang dialami oleh pasien, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti penyakit, cedera, atau proses penuaan. Sebagai seorang perawat profesional, saya akan melakukan assessment yang komprehensif, memberikan intervensi yang tepat, serta berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk membantu pasien mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 10998 | 16 Jan 2025
Klinis : pembekakan, Fraktur metatarsal, nyeri skala 9,T T V normal
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi yang Anda berikan adalah "Nyeri Akut" (SDKI). Pembekakan, fraktur metatarsal, dan nyeri skala 9 menunjukkan adanya nyeri akut yang dirasakan oleh pasien. Tanda-tanda vital normal mengindikasikan bahwa kondisi hemodinamik pasien stabil.
Nyeri akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau dijelaskan dalam istilah kerusakan tersebut (NANDA-I, 2018). Karakteristik definisi ini sesuai dengan kondisi pasien yang mengalami fraktur metatarsal dan pembekakan yang menyebabkan nyeri akut.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, luaran/output yang diharapkan adalah:
1. Pasien melaporkan nyeri berkurang dengan skala 3 atau kurang.
2. Pasien mendemonstrasikan penggunaan teknik manajemen nyeri yang efektif.
3. Pasien menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal.
4. Pasien menunjukkan mobilitas dan aktivitas fisik yang meningkat.
Penjelasan:
1. Pengurangan skala nyeri dari 9 menjadi 3 atau kurang menunjukkan keberhasilan manajemen nyeri yang dilakukan.
2. Pasien dapat menerapkan teknik manajemen nyeri seperti relaksasi, distraksi, atau terapi kompres dingin/hangat untuk mengurangi nyeri.
3. Tanda-tanda vital normal mengindikasikan bahwa kondisi hemodinamik pasien stabil dan tidak ada komplikasi yang terjadi.
4. Peningkatan mobilitas dan aktivitas fisik menunjukkan pemulihan pasien dari fraktur metatarsal.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan (SIKI):
1. Manajemen Nyeri
a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi nyeri.
b. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian analgesik sesuai indikasi.
c. Ajarkan pasien teknik manajemen nyeri non-farmakologis, seperti relaksasi, distraksi, kompres dingin/hangat.
d. Evaluasi efektivitas intervensi dan lakukan penyesuaian jika diperlukan.
2. Perawatan Ekstremitas
a. Immobilisasi ekstremitas dengan alat bantu (misalnya brace, fiksasi) untuk mencegah pergerakan dan mengurangi nyeri.
b. Lakukan perawatan luka dan dressing sesuai indikasi.
c. Ajarkan pasien dan keluarga teknik perawatan ekstremitas yang tepat.
d. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (ortopedi, fisioterapi) untuk rencana perawatan selanjutnya.
3. Manajemen Aktivitas
a. Evaluasi toleransi pasien terhadap aktivitas dan tingkat mobilisasi yang dapat dilakukan.
b. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan kemampuannya.
c. Ajarkan teknik-teknik mobilisasi yang aman dan adaptif.
d. Kolaborasi dengan fisioterapi untuk membantu rehabilitasi pasien.
Penjelasan:
Intervensi keperawatan di atas ditujukan untuk mengurangi nyeri, mencegah komplikasi, dan memfasilitasi pemulihan pasien. Manajemen nyeri farmakologis dan non-farmakologis, perawatan ekstremitas, dan manajemen aktivitas merupakan intervensi kunci yang perlu dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan.
Saya berharap penjelasan ini dapat memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi yang sesuai untuk kondisi pasien yang Anda berikan. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 10999 | 16 Jan 2025
Klinis : terlambat haid, pp test positif, mual muntah setiap pagi, pusing, menikah, kehamilan yang direncanakan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Kehamilan
Definisi: Kondisi di mana terjadi pembuahan dan perkembangan janin di dalam rahim seorang wanita.
Karakteristik Mayor: Terlambat haid, hasil tes kehamilan positif, mual muntah di pagi hari, pusing.
Faktor Terkait: Kehamilan yang direncanakan, menikah.
Penjelasan Singkat:
SDKI: Diagnosa keperawatan "Kehamilan" mengindikasikan adanya proses pembuahan dan perkembangan janin di dalam rahim seorang wanita. Karakteristik mayor yang ditemukan adalah terlambat haid, hasil tes kehamilan positif, mual muntah di pagi hari, dan pusing. Faktor terkait yang ditemukan adalah kehamilan yang direncanakan dan status menikah.
SLKI: Luaran keperawatan yang dapat diharapkan untuk pasien dengan diagnosa kehamilan antara lain Adaptasi Peran Ibu, Kesiapan Untuk Meningkatkan Kehamilan, dan Pengetahuan Tentang Kehamilan.
SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat diberikan untuk pasien dengan diagnosa kehamilan antara lain Edukasi Perawatan Kehamilan, Dukungan Psikologis, dan Manajemen Mual Muntah.
Dengan demikian, berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan, pasien mengalami diagnosa keperawatan "Kehamilan" yang dapat diatasi melalui luaran dan intervensi keperawatan sesuai standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia. -
Article No. 11000 | 16 Jan 2025
Klinis : Bapak Beta dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya setelah mengalami kelemahan tiba-tiba di sisi kanan tubuhnya selama 8 jam terakhir. Pasien mengeluh kesulitan berbicara (cadel) dan mati rasa di tangan dan kaki kanan. Pasien mengklaim tidak ada riwayat trauma kepala. Selain itu, pasien sering merasa haus, buang air kecil lebih sering dari biasanya, dan telah kehilangan 5 kg dalam 2 bulan terakhir. Pasien memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol selama 10 tahun terakhir, dengan tekanan darah terakhir yang tercatat di rumah sakit adalah 170/100 mmHg. Pasien juga memiliki riwayat diabetes melitus tipe 2 selama 7 tahun tetapi tidak secara teratur memantau kadar gula darahnya. Pasien mengakui sering tidak minum obat yang diresepkan karena merasa lebih baik tanpa obat tersebut. Tanda vital: Tekanan darah: 180/100 mmHg, Denyut nadi: 92 denyut/menit, teratur, Suhu: 36,7 °C, Pernafasan: 20 kali/menit. Pemeriksaan neurologis: Kekuatan otot ekstremitas kanan: 2/5 (hemiparesis) dan ekstremitas kiri: 5/5 (normal). Refleks fisiologis: Normal di sisi kiri, hiperaktif di sisi kanan. Refleks patologis: Babinski (+) di sisi kanan. Gangguan bicara: Afasia motorik ringan. Sensorik: Penurunan sensasi di sisi kanan tubuh. Pemeriksaan penunjang: CT Scan Kepala: Tidak ada perdarahan, area hipodens terlihat di lobus parietal kiri (infark iskemik). Kadar Gula Darah Acak: 278 mg/dL, HbA1c: 9,2% (tidak terkontrol). Profil Lipid: LDL: 150 mg/dL (tinggi), HDL: 35 mg/dL (rendah), Trigliserida: 200 mg/dL (tinggi).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data kasus yang diberikan, diagnosis keperawatan yang dapat ditegakkan untuk Bapak Beta adalah:
1. Gangguan Mobilitas Fisik Terkait Hemiparesis
- SDKI: Gangguan Mobilitas Fisik
- SLKI: Mobilitas Fisik
- SIKI: Rehabilitasi Fisik
Penjelasan singkat:
Pasien mengalami kelemahan pada sisi kanan tubuhnya (hemiparesis) yang menyebabkan gangguan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Hal ini terjadi akibat infark iskemik di lobus parietal kiri yang menyebabkan gangguan sistem saraf pusat.
2. Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif
- SDKI: Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif
- SLKI: Perfusi Jaringan Serebral
- SIKI: Manajemen Perfusi Serebral
Penjelasan singkat:
Pasien memiliki riwayat hipertensi yang tidak terkontrol dan diabetes melitus yang tidak terkontrol, yang dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan perfusi serebral atau gangguan aliran darah ke otak.
3. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- SDKI: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- SLKI: Status Nutrisi
- SIKI: Manajemen Nutrisi
Penjelasan singkat:
Pasien mengalami penurunan berat badan yang signifikan (5 kg dalam 2 bulan) yang dapat disebabkan oleh gangguan metabolisme, penurunan asupan, dan komplikasi penyakit yang diderita.
Standar diagnosis keperawatan dan intervensi yang digunakan berasal dari Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).