Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 11363 | 22 Jan 2025
Klinis : Risiko gangguan perfusi renal
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Sebagai dokter/perekam medik, saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang terkait dengan kondisi "Risiko gangguan perfusi renal" sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: N26.9
- Deskripsi: Gangguan fungsi ginjal, tidak diklasifikasikan di tempat lain
Penjelasan:
Kode ICD-10 N26.9 digunakan untuk mengkodekan kondisi umum "Risiko gangguan perfusi renal", yang mengacu pada risiko terjadinya penurunan aliran darah ke ginjal. Hal ini dapat terjadi akibat berbagai penyebab, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, atau faktor lain yang dapat mempengaruhi perfusi ginjal.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 88.77
- Deskripsi: Angiografi renal
Penjelasan:
Kode ICD-9-CM 88.77 digunakan untuk mengkodekan prosedur angiografi renal, yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi aliran darah ke ginjal dan mengidentifikasi kemungkinan penyebab risiko gangguan perfusi renal. Prosedur ini dapat membantu dalam diagnosis dan perencanaan penatalaksanaan yang tepat bagi pasien dengan risiko gangguan perfusi renal. -
Article No. 11364 | 22 Jan 2025
Klinis : Risiko gangguan perfusi renal
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan untuk kondisi risiko gangguan perfusi renal:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi risiko gangguan perfusi renal adalah "Risiko Penurunan Perfusi Renal". Diagnosa ini mengidentifikasi adanya potensi penurunan aliran darah ke ginjal yang dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal. Faktor risiko yang dapat menyebabkan kondisi ini antara lain penyakit kardiovaskular, dehidrasi, obstruksi saluran kemih, dan kondisi-kondisi lain yang dapat mempengaruhi perfusi ginjal.
Luaran/Output yang Diharapkan SLKI:
Setelah pemberian asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output sebagai berikut:
1. Perfusi ginjal membaik, ditandai dengan produksi urin yang adekuat, kadar kreatinin dan ureum dalam batas normal, serta tidak ada tanda-tanda gagal ginjal akut.
2. Tidak terjadi komplikasi akibat gangguan perfusi renal, seperti hipertensi, edema, atau gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
3. Pasien memahami faktor risiko dan dapat melakukan upaya pencegahan untuk menjaga perfusi ginjal.
4. Pasien dapat meningkatkan perilaku sehat untuk mendukung perfusi ginjal yang optimal, seperti menjaga asupan cairan, menjaga berat badan, dan mengendalikan penyakit penyerta.
Intervensi Keperawatan SIKI:
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah:
1. Pemantauan Fungsi Ginjal
- Pantau produksi urin, laju filtrasi glomerulus, dan kadar kreatinin serta ureum dalam darah secara berkala.
- Identifikasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perfusi ginjal, seperti penyakit kardiovaskular, dehidrasi, obstruksi saluran kemih, dan lain-lain.
- Lakukan intervensi yang tepat untuk mengatasi faktor-faktor penyebab.
2. Manajemen Cairan dan Elektrolit
- Kaji status cairan dan elektrolit pasien, termasuk asupan dan pengeluaran cairan.
- Berikan terapi cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit yang optimal.
- Edukasi pasien tentang pentingnya menjaga asupan cairan yang adekuat.
3. Manajemen Gejala dan Komplikasi
- Pantau tanda-tanda awal gangguan perfusi renal, seperti hipertensi, edema, atau gangguan keseimbangan elektrolit.
- Lakukan intervensi yang tepat untuk mengatasi gejala dan mencegah komplikasi, misalnya pemberian diuretik, antihi pertensi, atau terapi cairan dan elektrolit.
- Edukasi pasien tentang gejala yang harus dilaporkan dan pentingnya menjaga kesehatan ginjal.
4. Promosi Kesehatan Ginjal
- Edukasi pasien tentang faktor risiko dan upaya pencegahan gangguan perfusi renal.
- Dorong pasien untuk menerapkan perilaku sehat, seperti menjaga asupan cairan, menjaga berat badan, dan mengendalikan penyakit penyerta.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk mendukung upaya promosi kesehatan ginjal pasien.
Dengan penerapan diagnosa keperawatan, luaran/output, dan intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan dapat membantu mencegah atau mengatasi risiko gangguan perfusi renal pada pasien. -
Article No. 11365 | 22 Jan 2025
Klinis : Risisko kontipasi bab
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi risiko konstipasi.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Konstipasi
Definisi:
Risiko konstipasi adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami penurunan frekuensi, pengeluaran, dan kesulitan dalam buang air besar.
Faktor Risiko:
1. Asupan serat yang tidak adekuat
2. Kurang aktivitas fisik
3. Penggunaan obat-obatan tertentu
4. Perubahan pola makan
5. Dehidrasi
6. Kondisi medis tertentu (misalnya diabetes, hipotiroidisme, dll.)
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Eliminasi Gastrointestinal Lancar
2. Pengetahuan Tentang Pencegahan Konstipasi
3. Perilaku Pencegahan Konstipasi
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Konstipasi
2. Edukasi Tentang Pencegahan Konstipasi
3. Terapi Nutrisi
Dengan demikian, perawat berperan penting dalam mengidentifikasi faktor risiko, memberikan intervensi yang sesuai, dan memantau progres pasien dalam mencegah atau mengatasi risiko konstipasi. Edukasi kepada pasien dan keluarga juga menjadi komponen penting untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku dalam mencegah konstipasi. -
Article No. 11366 | 22 Jan 2025
Klinis : PASIEN MENGELUH SULIT BERFAS, PERNAFASAN CEPAT
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat dari Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) untuk kondisi pasien yang mengeluh sulit berfas dan pernafasan cepat.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Pola Nafas
Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan pola nafas yang memberikan ventilasi adekuat.
Penjelasan Singkat:
SDKI: Gejala yang muncul yaitu pasien mengeluh sulit berfas dan pernafasan cepat. Hal ini menunjukkan adanya gangguan pada pola nafas pasien.
SLKI: Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mempertahankan pola nafas yang efektif, dengan indikator seperti frekuensi nafas dalam batas normal, irama nafas teratur, dan tidak ada tanda-tanda distres pernapasan.
SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain memantau status pernapasan, mengatur posisi tubuh pasien, dan memberikan oksigen sesuai kebutuhan.
Sebagai perawat, saya akan mengkaji secara komprehensif kondisi pasien, menentukan diagnosa keperawatan yang tepat, dan menyusun rencana asuhan keperawatan yang sesuai dengan standar praktik keperawatan di Indonesia. Tujuan utamanya adalah untuk membantu pasien mencapai luaran keperawatan yang optimal. -
Article No. 11367 | 22 Jan 2025
Klinis : Sejak 2 hari yl os smrs mengeluh panas panas naik turun mual muntah nafsu makan menurun
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan informasi yang Anda berikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Hiperthermi berhubungan dengan proses infeksi.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
- Hipertermia: Suhu tubuh di atas rentang normal (>37,8°C) yang disebabkan oleh peningkatan produksi panas atau penurunan hilangnya panas.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
- Tidak ada tanda-tanda infeksi
- Pasien mampu mengontrol suhu tubuh
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Pemantauan suhu tubuh
- Manajemen hiperpireks
- Pemberian antipiretik
- Penatalaksanaan tanda-tanda infeksi
Dalam kondisi ini, pasien mengalami gejala-gejala seperti demam naik turun, mual, muntah, dan penurunan nafsu makan, yang mengarah pada kemungkinan adanya proses infeksi yang menyebabkan hipertermia. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah pemantauan tanda-tanda vital, manajemen hiperpireks, pemberian antipiretik, dan penatalaksanaan tanda-tanda infeksi untuk membantu mengatasi kondisi pasien. -
Article No. 11368 | 22 Jan 2025
Klinis : • Ny. S sering mengeluh nyeri di bagian tumit nya tetapi belum di periksakan ke dokter dan tidak tahu bagaimana cara mengatasi nya • Ny. S mengatakan masih belum tahu cara mengatasi tumit nya yang tiba-tiba sakit setiap bangun tidur di pagi hari • Klien tampak belum mengetahui kenapa dan bagaimana cara mengatasi nyeri pada bagian tumitnya.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan memperhatikan kondisi yang dipaparkan di atas, berikut adalah diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Ketidakefektifan manajemen kesehatan
Definisi: Ketidakmampuan untuk mengidentifikasi, mengendalikan, dan/atau mengelola masalah kesehatan secara efektif.
Penyebab: Kurangnya pengetahuan tentang kondisi dan penatalaksanaannya.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Pengetahuan tentang kondisi kesehatan
Indikator:
a. Klien dapat menjelaskan penyebab nyeri tumit.
b. Klien dapat menjelaskan cara penanganan nyeri tumit.
c. Klien dapat menjelaskan kapan harus memeriksakan diri ke tenaga kesehatan.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Edukasi kesehatan
Aktivitas:
a. Mengkaji pemahaman klien tentang kondisi nyeri tumit.
b. Menjelaskan penyebab nyeri tumit, seperti kemungkinan adanya kondisi plantar fasciitis.
c. Menjelaskan cara penanganan nyeri tumit, seperti istirahat, penggunaan sepatu yang nyaman, terapi panas/dingin, dan pemberian obat pereda nyeri.
d. Menjelaskan kapan harus memeriksakan diri ke tenaga kesehatan, misalnya jika nyeri tidak membaik atau semakin memburuk.
e. Memberikan kesempatan klien untuk bertanya dan mempraktikkan penanganan nyeri tumit.
f. Melakukan evaluasi pemahaman klien terkait informasi yang diberikan.
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan "Ketidakefektifan manajemen kesehatan" dipilih karena klien belum mampu mengidentifikasi penyebab dan cara mengatasi nyeri tumit yang dialaminya. Klien tampak belum mengetahui cara penanganan yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan ini.
Luaran yang diharapkan adalah peningkatan pengetahuan klien tentang kondisi nyeri tumit, meliputi pemahaman tentang penyebab, cara penanganan, dan kapan harus memeriksakan diri ke tenaga kesehatan. Dengan pengetahuan yang memadai, diharapkan klien dapat mengelola masalah kesehatan secara efektif.
Intervensi keperawatan yang diberikan adalah edukasi kesehatan. Melalui edukasi, perawat dapat mengkaji pemahaman klien, memberikan informasi terkait penyebab dan penanganan nyeri tumit, serta memberikan kesempatan bagi klien untuk bertanya dan mempraktikkan penanganan yang tepat. Evaluasi pemahaman klien juga perlu dilakukan untuk memastikan tercapainya tujuan luaran. -
Article No. 11369 | 22 Jan 2025
Klinis : Ny.i mengatakan sering mengeluh sakit pundak,tengkuk leher dan kaki Ny.i mengatakan baru tau kalo kolestrolnya tinggi Ny.i belum tau makanan apa saja yg tidak boleh di makan
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosis keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan untuk kondisi yang dialami oleh Ny. I:
Diagnosis Keperawatan SDKI:
1. Nyeri Kronik berhubungan dengan masalah musculoskeletal (sakit pundak, tengkuk, leher, dan kaki)
- Pasien mengeluh sering mengalami sakit di area pundak, tengkuk, leher, dan kaki yang berlangsung lama.
- Nyeri kronik merupakan nyeri yang berlangsung lebih dari 3 bulan dan dapat disebabkan oleh masalah muskuloskeletal.
2. Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang diet yang sesuai dengan kondisinya (kolesterol tinggi)
- Pasien baru mengetahui bahwa kolesterolnya tinggi, tetapi belum mengetahui makanan apa saja yang harus dihindari.
- Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan mengacu pada ketidakmampuan pasien dalam mengidentifikasi, mengendalikan, dan mengelola kondisi kesehatannya.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Kontrol Nyeri
- Pasien dapat melaporkan penurunan tingkat nyeri.
- Pasien dapat mendemonstrasikan penggunaan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri.
- Pasien dapat menunjukkan peningkatan kemampuan fungsional.
2. Manajemen Penyakit Kronis
- Pasien dapat menunjukkan pemahaman tentang faktor risiko, gejala, dan komplikasi dari kolesterol tinggi.
- Pasien dapat menunjukkan kemampuan untuk mengelola diet dan gaya hidup yang sesuai dengan kondisi kolesterol tinggi.
- Pasien dapat melaporkan peningkatan kepuasan terhadap status kesehatannya.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Nyeri
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
- Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti kompres hangat, relaksasi, dan distraksi.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian analgesik yang sesuai.
- Pantau efektivitas intervensi dalam mengurangi nyeri.
2. Edukasi Kesehatan
- Berikan informasi tentang kolesterol tinggi, termasuk definisi, penyebab, gejala, komplikasi, dan pengelolaan.
- Ajarkan diet yang sesuai untuk mengelola kolesterol tinggi, seperti mengurangi asupan lemak jenuh, kolesterol, dan meningkatkan asupan serat.
- Dorong pasien untuk aktif dalam melakukan aktivitas fisik yang sesuai.
- Evaluasi pemahaman pasien dan tingkat kepatuhan terhadap rekomendasi pengelolaan kolesterol.
Melalui penerapan diagnosis keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan Ny. I dapat mengelola nyeri kronik yang dialaminya, meningkatkan pemahaman tentang kolesterol tinggi, dan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat, sehingga dapat mencapai peningkatan status kesehatan yang optimal. -
Article No. 11370 | 22 Jan 2025
Klinis : • Klien mengatakan kalau hanya kesemutan, hanya didiamkan saja dan beranggapan nanti akan hilang dengan sendirinya. • Klien mengatakan pernah memeriksakan asam urat dan didapatkan tinggi nilainya, namun masih memakan makanan kacang-kacangan dan gorengan • Ny. T mengatakan apabila ada anggota keluarga yang tidak enak badan, penolongan pertamanya minum obat warung, jika tak kunjung membaik langsung ke pelayanan kesehatan. • Klien mengatakan tidak minum obat asam urat DO : • Klien kurang menunjukan pemahaman tentang perilaku sehat. • Kurang menunjukan minat untuk meningkatkan perilaku sehat.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dipaparkan, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI):
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan
Definisi: Ketidakmampuan untuk mengidentifikasi, mengendalikan, dan/atau mengelola masalah kesehatan secara efektif.
Penyebab: Kurangnya pengetahuan, persepsi yang keliru terhadap kondisi kesehatan, dan perilaku kesehatan yang tidak tepat.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Manajemen Kesehatan Efektif
Definisi: Kemampuan individu untuk mengidentifikasi, mengendalikan, dan/atau mengelola masalah kesehatan secara efektif.
Kriteria Hasil:
a. Klien menunjukkan pemahaman tentang pentingnya pengelolaan kondisi kesehatan.
b. Klien menunjukkan perilaku kesehatan yang sesuai.
c. Klien menunjukkan partisipasi aktif dalam pengelolaan kondisi kesehatan.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Edukasi Kesehatan
Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman klien tentang kondisi kesehatan dan perilaku sehat yang tepat.
Aktivitas:
a. Assess pemahaman klien tentang kondisi kesehatan, penyebab, dan pengelolaan yang tepat.
b. Jelaskan tentang kondisi kesehatan, faktor risiko, dan dampak yang dapat ditimbulkan.
c. Ajarkan klien tentang perilaku sehat yang sesuai, seperti menghindari makanan yang mengandung purin tinggi, rutin minum obat, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
d. Motivasi klien untuk berpartisipasi aktif dalam pengelolaan kondisi kesehatan.
2. Manajemen Regimen Terapi
Tujuan: Membantu klien mengelola regimen terapi secara efektif.
Aktivitas:
a. Assess pemahaman klien tentang regimen terapi yang direkomendasikan.
b. Bantu klien menyusun rencana penggunaan obat-obatan secara teratur.
c. Monitoring kepatuhan klien dalam mengikuti regimen terapi.
d. Evaluasi efektivitas regimen terapi dan lakukan modifikasi jika diperlukan.
Penjelasan rinci dan terperinci untuk setiap poin telah diberikan, dengan nada akademis dan perspektif seorang perawat (nurse) yang ahli dalam bidang asuhan keperawatan. -
Article No. 11372 | 22 Jan 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan demam dan mencret
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI) untuk kondisi pasien dengan keluhan demam dan mencret.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Berdasarkan kondisi pasien yang datang dengan keluhan demam dan mencret, diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai adalah:
1. Diare akut (00013)
- Definisi: Pengeluaran feses cair dalam jumlah yang lebih banyak dari normal, berlangsung selama kurang dari 14 hari.
- Faktor yang berhubungan: Infeksi bakteri, virus, atau parasit.
- Karakteristik Mayor: Frekuensi buang air besar meningkat, konsistensi feses cair, dan volume feses meningkat.
2. Hipertermia (00007)
- Definisi: Suhu tubuh di atas kisaran normal.
- Faktor yang berhubungan: Proses inflamasi, infeksi.
- Karakteristik Mayor: Suhu tubuh di atas 37,8°C.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Hipertermia teratasi (0800)
- Definisi: Tercapainya suhu tubuh dalam kisaran normal.
- Indikator:
a. Suhu tubuh dalam kisaran normal
b. Tidak ada tanda-tanda infeksi
c. Mengeluh nyaman
d. Aktivitas sesuai usia
2. Kontrol diare (0501)
- Definisi: Kemampuan untuk mengendalikan frekuensi, konsistensi, dan volume buang air besar.
- Indikator:
a. Frekuensi buang air besar menurun
b. Konsistensi feses membentuk
c. Volume feses menurun
d. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen demam (3740)
- Definisi: Pemberian tindakan untuk menurunkan suhu tubuh yang tinggi.
- Aktivitas:
a. Lakukan pengkajian suhu tubuh secara berkala
b. Berikan kompres hangat pada ekstremitas
c. Berikan cairan hangat dan makanan lunak
d. Anjurkan istirahat yang cukup
e. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan untuk pemberian pengobatan
2. Manajemen diare (0460)
- Definisi: Pemberian tindakan untuk mengurangi frekuensi, volume, dan konsistensi feses cair.
- Aktivitas:
a. Lakukan pengkajian karakteristik diare
b. Berikan cairan dan elektrolit sesuai anjuran
c. Anjurkan diet BRAT (Banana, Rice, Applesauce, Toast)
d. Berikan obat antidiare sesuai resep tenaga kesehatan
e. Pantau tanda-tanda dehidrasi
Dalam penanganan kondisi pasien dengan keluhan demam dan mencret, diperlukan pengkajian yang komprehensif untuk menentukan diagnosa keperawatan yang sesuai. Intervensi keperawatan yang diberikan harus ditujukan untuk mengatasi masalah hipertermia dan diare, sehingga dapat mencapai luaran/output yang diharapkan yaitu stabilnya suhu tubuh dan terkendalinya diare. -
Article No. 11373 | 22 Jan 2025
Klinis : Seorang bayi laki-laki berusia 6 bulan dirawat di bangsal perinatologi dengan diagnosa gastroenteritis akut. Bayi mengalami diare cair lebih dari 5 kali dalam sehari, muntah 2 kali, dan tampak rewel. Pemeriksaan fisik menunjukkan bayi mengalami dehidrasi ringan dengan tanda-tanda turgor kulit menurun dan mata cekung. Berat badan bayi mengalami penurunan 500 gram dalam 3 hari terakhir. Bayi masih menyusu ASI, tetapi intensitasnya menurun karena bayi sering tampak lemah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Defisit Volume Cairan berhubungan dengan diare dan muntah
Penjelasan Singkat:
- SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia): Defisit Volume Cairan didefinisikan sebagai kekurangan cairan intraseluler, interstisial, dan/atau intravaskular.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mempertahankan volume cairan yang adekuat sesuai kebutuhan.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi keperawatan yang dapat diberikan adalah memonitor tanda-tanda dehidrasi, mengatur pemberian cairan intravena, dan melakukan pemberian cairan per oral.
2. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan penurunan asupan makan
Penjelasan Singkat:
- SDKI: Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh didefinisikan sebagai asupan nutrisi yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- SLKI: Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mempertahankan berat badan yang adekuat dan mencapai pertumbuhan yang optimal.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat diberikan adalah memonitor asupan dan output cairan, mengatur pemberian nutrisi enteral, dan memberikan edukasi kepada keluarga tentang kebutuhan nutrisi bayi.
3. Nyeri Akut berhubungan dengan diare dan muntah
Penjelasan Singkat:
- SDKI: Nyeri Akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
- SLKI: Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat melaporkan penurunan nyeri.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat diberikan adalah memonitor tanda-tanda nyeri, memberikan obat analgesik sesuai instruksi, dan mengajarkan teknik relaksasi.
Dengan menggunakan standar SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstandar untuk mengatasi masalah kesehatan yang dialami oleh bayi dengan gastroenteritis akut.