Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 11443 | 24 Jan 2025
Klinis :
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan rinci dan terperinci terkait diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi yang diberikan:
Diagnosis Keperawatan SDKI:
Diagnosis keperawatan yang sesuai untuk kondisi ini adalah "Risiko Perdarahan", dengan ciri-ciri utama:
1. Riwayat perdarahan
2. Adanya gangguan mekanisme pembekuan darah
3. Penggunaan obat-obatan yang dapat memperpanjang waktu perdarahan
Diagnosis ini menggambarkan kondisi pasien yang memiliki risiko tinggi mengalami perdarahan, sehingga perlu dilakukan tindakan keperawatan yang tepat untuk mencegah dan mengelola risiko tersebut.
Luaran/Output yang diharapkan SLKI:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran berikut:
1. Tidak terjadi perdarahan selama masa perawatan
2. Pasien mampu mengidentifikasi faktor-faktor risiko perdarahan
3. Pasien menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil
4. Pemeriksaan laboratorium terkait fungsi pembekuan darah dalam batas normal
Luaran-luaran ini menggambarkan target yang ingin dicapai setelah intervensi keperawatan dilakukan, yaitu mencegah terjadinya perdarahan, meningkatkan pengetahuan pasien, serta menjaga stabilitas kondisi pasien secara keseluruhan.
Intervensi Keperawatan SIKI:
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, berikut intervensi keperawatan yang perlu dilakukan:
1. Pemantauan tanda-tanda vital dan tanda perdarahan secara rutin
2. Identifikasi dan evaluasi faktor-faktor risiko perdarahan pada pasien
3. Pemberian edukasi kepada pasien dan keluarga terkait risiko perdarahan, faktor-faktor penyebab, serta upaya pencegahan
4. Kolaborasi dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan laboratorium fungsi pembekuan darah
5. Pemberian obat-obatan atau nutrisi yang dapat mendukung proses pembekuan darah, sesuai dengan instruksi dokter
6. Pengaturan lingkungan dan aktivitas pasien untuk meminimalkan risiko terjadinya trauma atau benturan yang dapat menyebabkan perdarahan
Intervensi-intervensi ini dirancang untuk memantau, mengelola, dan mengedukasi pasien dalam upaya mencegah terjadinya perdarahan selama masa perawatan. Kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya juga diperlukan untuk mendukung keberhasilan asuhan keperawatan. -
Article No. 11444 | 24 Jan 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati saya akan memberikan jawaban yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan.
- Karakteristik Utama: Batuk tidak efektif, suara napas tambahan, dan sesak napas.
2. Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- Definisi: Asupan nutrisi yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- Karakteristik Utama: Penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan, dan penurunan energi.
3. Hipertermia
- Definisi: Suhu tubuh di atas kisaran normal.
- Karakteristik Utama: Peningkatan suhu tubuh.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas Efektif
- Definisi: Kemampuan untuk mengeluarkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan.
- Indikator:
- Bebas dari suara napas tambahan
- Frekuensi napas dalam batas normal
- Tidak ada kesulitan bernapas
2. Status Nutrisi Membaik
- Definisi: Keadaan di mana asupan nutrisi dapat memenuhi kebutuhan metabolik.
- Indikator:
- Berat badan stabil atau meningkat
- Tidak ada penurunan nafsu makan
- Tidak ada penurunan energi
3. Suhu Tubuh Dalam Batas Normal
- Definisi: Suhu tubuh berada dalam rentang normal.
- Indikator:
- Suhu tubuh dalam batas normal
- Tidak ada tanda-tanda hipertermia
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif:
- Manajemen Jalan Napas
- Terapi Batuk
- Suction
- Oksigenasi
2. Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
- Manajemen Nutrisi
- Edukasi Nutrisi
- Pemberian Makanan/Cairan
- Pemantauan Berat Badan
3. Hipertermia:
- Manajemen Demam
- Kompres Hangat/Dingin
- Pemberian Antipiretik
- Pemantauan Tanda-Tanda Vital
Dalam memberikan asuhan keperawatan ini, perawat harus memperhatikan kondisi pasien, memantau perkembangannya, dan melibatkan pasien serta keluarga dalam proses perawatan. Upaya kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain juga diperlukan untuk mengatasi masalah kesehatan pasien secara komprehensif. -
Article No. 11445 | 24 Jan 2025
Klinis : Bersihan jalan nafas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai seorang perawat, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk kondisi pasien dengan bersihan jalan nafas tidak efektif.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi "bersihan jalan nafas tidak efektif" berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah "Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif". Definisi diagnosa ini adalah ketidakmampuan untuk mempertahankan pembersihan saluran nafas untuk memfasilitasi pertukaran gas.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran atau hasil yang diinginkan berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), yaitu:
a. Bersihan Jalan Nafas: Pasien dapat mempertahankan bersihan jalan nafas yang efektif.
b. Pertukaran Gas: Pasien dapat mempertahankan pertukaran gas yang adekuat.
c. Status Pernapasan: Pasien dapat mempertahankan pola pernapasan yang efektif.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), beberapa intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan luaran yang diharapkan, antara lain:
a. Manajemen Jalan Napas:
- Memantau status pernapasan pasien, seperti frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan.
- Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi.
- Mengajarkan teknik batuk efektif dan deep breathing.
- Membersihkan sekret saluran napas dengan pengisapan, postural drainage, atau fisioterapi dada.
b. Manajemen Oksigenasi:
- Memantau kadar oksigen dalam darah dan memberikan oksigen sesuai kebutuhan.
- Mengatur aliran oksigen dan memantau efektivitas pemberian oksigen.
- Mengajarkan pasien teknik bernapas yang efektif.
c. Manajemen Nyeri:
- Mengkaji nyeri yang mungkin dialami pasien terkait gangguan bersihan jalan napas.
- Memberikan intervensi farmakologis dan nonfarmakologis untuk mengelola nyeri.
Dengan implementasi intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diinginkan, yaitu mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif, pertukaran gas yang adekuat, dan pola pernapasan yang efektif. -
Article No. 11446 | 24 Jan 2025
Klinis : D.0002 Gangguan Penyapihan Ventilator
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi "D.0002 Gangguan Penyapihan Ventilator":
Diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi D.0002 Gangguan Penyapihan Ventilator adalah:
a. Ketidakefektifan Pola Napas berhubungan dengan kegagalan penyapihan ventilator.
Kondisi ini ditandai dengan pasien yang mengalami kesulitan untuk bernapas secara spontan setelah penggunaan ventilator mekanik. Pasien mengalami ketergantungan terhadap ventilator dan menunjukkan tanda-tanda ketidakefektifan pola napas, seperti frekuensi napas di luar rentang normal, kedalaman napas yang tidak adekuat, dan penggunaan otot bantu napas yang berlebihan.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output berikut:
a. Pola Napas Efektif: Pasien menunjukkan frekuensi napas, kedalaman napas, dan penggunaan otot bantu napas yang berada dalam rentang normal.
b. Toleransi Aktivitas Meningkat: Pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri dan mobilisasi tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan.
c. Ventilasi Adekuat: Pasien menunjukkan pertukaran gas yang baik, ditandai dengan nilai oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2) dalam batas normal.
d. Kemampuan Penyapihan Ventilator Meningkat: Pasien dapat bernapas secara spontan dengan bantuan ventilator minimal atau tanpa bantuan ventilator.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang diperlukan:
a. Pemantauan Ventilasi: Mengkaji dan memantau parameter ventilasi, seperti frekuensi napas, volume tidal, dan nilai oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2) untuk mendeteksi perubahan atau masalah yang mungkin terjadi.
b. Manajemen Jalan Napas: Mempertahankan jalan napas yang bebas dengan memberikan suction, pengisapan lendir, dan posisi yang tepat untuk memfasilitasi pernafasan.
c. Terapi Oksigen: Memberikan oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen dalam batas normal.
d. Manajemen Kelelahan: Mengidentifikasi dan mengelola faktor-faktor yang dapat menyebabkan kelelahan, seperti masalah tidur, nutrisi, dan aktivitas.
e. Latihan Pernapasan: Melakukan latihan pernapasan, seperti pernapasan diafragma, pursed-lip breathing, dan mobilisasi dada untuk meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot pernapasan.
f. Edukasi Penyapihan Ventilator: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang proses penyapihan ventilator, tanda-tanda kesiapan, dan strategi untuk mencapai keberhasilan penyapihan.
g. Kolaborasi dengan Tim Multidisiplin: Berkolaborasi dengan dokter, fisioterapis, dan tim lainnya untuk mengembangkan rencana perawatan yang komprehensif dan mengoptimalkan proses penyapihan ventilator.
Penerapan intervensi keperawatan ini secara komprehensif diharapkan dapat membantu pasien mencapai luaran/output yang diharapkan, yaitu pola napas efektif, toleransi aktivitas meningkat, ventilasi adekuat, dan kemampuan penyapihan ventilator yang meningkat. -
Article No. 11447 | 24 Jan 2025
Klinis : D.0002 Gangguan Penyapihan Ventilator
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi D.0002 Gangguan Penyapihan Ventilator, dengan tone akademis dan persona pakar/perawat.
Diagnosa Keperawatan:
D.0002 Gangguan Penyapihan Ventilator
Definisi:
Gangguan kemampuan untuk bernapas secara spontan dan mandiri setelah penggunaan ventilator mekanik.
Tanda dan Gejala:
- Tidak mampu bernapas secara spontan saat ventilator diputus
- Kesulitan melepaskan diri dari ventilator
- Kelelahan saat upaya penyapihan
- Perubahan tanda-tanda vital saat proses penyapihan
- Kecemasan/ketakutan saat proses penyapihan
Faktor Risiko:
- Penyakit paru kronik
- Kelemahan otot pernapasan
- Gangguan neuromuskular
- Efek samping obat-obatan
- Komplikasi pasca operasi
Intervensi Keperawatan (SLKI):
- Monitoring Respirasi
- Manajemen Ventilasi Mekanik
- Latihan Penyapihan Ventilator
- Manajemen Nyeri
- Manajemen Kecemasan
Luaran Keperawatan (SIKI):
- Ventilasi Adekuat
- Bebas Komplikasi Ventilator
- Toleransi Penyapihan Ventilator
- Kontrol Nyeri
- Kontrol Kecemasan
Dokumentasi Keperawatan (SDKI):
SDKI merupakan standar dokumentasi keperawatan yang mencakup pengkajian, diagnosa, intervensi, dan evaluasi keperawatan. Dokumentasi yang tepat dan lengkap sangat penting untuk memastikan kontinuitas perawatan dan komunikasi yang efektif dalam tim kesehatan.
Dalam kasus gangguan penyapihan ventilator ini, dokumentasi keperawatan harus mencakup pengkajian tanda-tanda vital, kemampuan pernapasan, toleransi terhadap penyapihan, serta respons fisik dan psikologis pasien selama proses penyapihan. Diagnosa keperawatan, intervensi yang dilakukan, serta evaluasi hasil perawatan juga harus didokumentasikan dengan baik. -
Article No. 11448 | 24 Jan 2025
Klinis : laki laki usia 60 tahun dirawat di rumah sakit dengan diagnosis medis hepatitis. Pasien mengeluh lemah, mual dan muntah. Hasil pengkajian: sclera ikterik, urine pekat, bilirubin direk 2,1 mg/dL, albumin 2,1 mg/dL, BB turun 5 kg dalam sebulan terakhir, dan aktivitas dibantu. Apakah masalah keperawatan prioritas pada kasus tersebut?
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait kasus tersebut.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Berdasarkan kondisi pasien yang dideskripsikan, diagnosa keperawatan prioritas yang sesuai dengan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah:
a. Ketidakseimbangan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan nafsu makan, mual, dan muntah.
Tanda dan gejala yang mendukung diagnosa ini adalah: penurunan berat badan 5 kg dalam sebulan terakhir, dan aktivitas dibantu.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, luaran yang diharapkan berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) adalah:
a. Status nutrisi membaik, yang ditandai dengan:
- Berat badan stabil/meningkat
- Kadar albumin dalam batas normal (3,5-5,0 g/dL)
- Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
- Nafsu makan membaik
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, intervensi keperawatan yang perlu dilakukan berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) adalah:
a. Manajemen Nutrisi
- Timbang berat badan secara berkala
- Lakukan skrining dan penilaian status nutrisi
- Berikan makanan yang mudah dicerna dan tinggi kalori/protein
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan dan menyediakan diet yang sesuai
- Pantau asupan nutrisi dan cairan
- Berikan suplementasi nutrisi jika diperlukan
b. Manajemen Mual dan Muntah
- Identifikasi faktor penyebab mual dan muntah
- Berikan antiemetik sesuai indikasi
- Atur pola makan menjadi lebih sering dengan porsi kecil
- Hindari makanan yang dapat memicu mual
- Berikan lingkungan yang nyaman dan tenang
c. Peningkatan Aktivitas
- Evaluasi kemampuan fungsional pasien
- Rancang program aktivitas yang sesuai dengan kondisi pasien
- Libatkan keluarga dalam membantu aktivitas pasien
- Pantau respon pasien terhadap aktivitas
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif terkait manajemen nutrisi, mual/muntah, dan peningkatan aktivitas, diharapkan dapat membantu pasien mencapai status nutrisi yang membaik, sehingga dapat mendukung proses penyembuhan penyakit hepatitisnya. -
Article No. 11449 | 24 Jan 2025
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Infeksi Terkait Penyakit Campak
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Kerentanan individu terhadap infeksi yang dapat diidentifikasi dan dapat menjadi sasaran intervensi keperawatan.
- Faktor Risiko: Sistem imun yang terganggu, paparan lingkungan yang berisiko, dan riwayat penyakit infeksi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Tidak terjadi infeksi sekunder, pemulihan kondisi umum yang baik, dan pemahaman pasien/keluarga tentang pencegahan infeksi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan: Manajemen infeksi, peningkatan sistem imun, edukasi pencegahan infeksi, dan pemantauan tanda-tanda vital serta gejala infeksi.
Sebagai perawat, saya akan berfokus pada upaya pencegahan infeksi sekunder, peningkatan sistem imun pasien, dan edukasi kepada pasien/keluarga mengenai tanda-tanda bahaya serta tindakan pencegahan selama proses pemulihan. -
Article No. 11450 | 24 Jan 2025
Klinis : hipertermi
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang komprehensif mengenai kondisi hipertermi dari perspektif keperawatan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi hipertermi berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah "Hipertermia". Hipertermia didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal, yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk mengatur suhu.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertermia, diharapkan dapat tercapai luaran/output sebagai berikut:
1. Tanda-tanda vital stabil: Suhu tubuh kembali ke rentang normal, nadi, pernapasan, dan tekanan darah stabil.
2. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi: Kulit dan membran mukosa lembab, turgor kulit baik, intake dan output cairan seimbang.
3. Nyaman: Pasien melaporkan merasa lebih nyaman dan menunjukkan tanda-tanda kenyamanan, seperti relaksasi, ekspresi tenang, dan aktivitas yang sesuai.
4. Pengetahuan tentang manajemen hipertermia meningkat: Pasien dan keluarga memahami penyebab, tanda-tanda, dan tindakan yang diperlukan untuk mengatasi hipertermia.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang dapat dilakukan berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
1. Pemantauan Suhu Tubuh
- Lakukan pengukuran suhu tubuh secara berkala dan catat hasilnya.
- Perhatikan tren suhu tubuh dan identifikasi pola perubahan.
- Lakukan evaluasi efektivitas intervensi untuk menurunkan suhu tubuh.
2. Manajemen Hipertermia
- Berikan cairan intravena atau oral untuk mengganti cairan yang hilang akibat peningkatan suhu tubuh.
- Terapkan metode pendinginan, seperti kompres dingin, pemberian es, atau kipas angin.
- Pertimbangkan pemberian obat antipiretik jika indikasi.
- Identifikasi dan tangani penyebab hipertermia, jika memungkinkan.
3. Edukasi Pasien dan Keluarga
- Jelaskan penyebab, tanda-tanda, dan bahaya hipertermia.
- Ajarkan cara memonitor suhu tubuh dan tindakan yang dapat dilakukan untuk menurunkannya.
- Beri informasi tentang pentingnya menjaga hidrasi dan mencegah dehidrasi.
- Dorong pasien dan keluarga untuk aktif terlibat dalam perawatan.
4. Manajemen Kenyamanan
- Lakukan intervensi untuk meningkatkan kenyamanan, seperti pengaturan suhu ruangan, pemberian obat analgesik, dan teknik relaksasi.
- Pantau tanda-tanda kenyamanan pasien dan lakukan evaluasi.
- Libatkan pasien dan keluarga dalam upaya meningkatkan kenyamanan.
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien, diharapkan dapat membantu mencapai luaran yang diinginkan dan meningkatkan kualitas perawatan pada pasien dengan hipertermia. -
Article No. 11451 | 24 Jan 2025
Klinis : Pasien terpasang TR Band pasca kateterisasi jantung
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai:
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI)
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI)
untuk kondisi pasien yang terpasang TR Band pasca kateterisasi jantung.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Berdasarkan kondisi pasien yang terpasang TR Band pasca kateterisasi jantung, diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai adalah Risiko Perdarahan. Pasien yang menjalani kateterisasi jantung berisiko mengalami perdarahan pada daerah tempat pemasangan kateter (sering kali di area groin). Pemasangan TR Band bertujuan untuk menekan lokasi penusukan dan mencegah terjadinya perdarahan. Namun, tetap ada risiko perdarahan yang harus diidentifikasi dan diatasi oleh perawat.
2. Luaran/Output yang Diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, luaran/output yang diharapkan adalah:
a. Tidak terjadi perdarahan pada area tempat pemasangan kateter.
b. Tanda-tanda vital pasien stabil (tekanan darah, nadi, respirasi, suhu).
c. Pasien menunjukkan pengetahuan yang baik mengenai perawatan TR Band dan tanda-tanda perdarahan.
d. Pasien dapat melakukan mobilisasi secara bertahap tanpa adanya komplikasi.
3. Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, intervensi keperawatan yang diperlukan adalah:
a. Pemantauan tanda-tanda vital secara berkala.
b. Pemantauan lokasi pemasangan TR Band dan observasi adanya perdarahan atau pembengkakan.
c. Pemberian edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai perawatan TR Band, tanda-tanda perdarahan, dan pentingnya melaporkan keluhan.
d. Pengaturan aktivitas dan mobilisasi pasien secara bertahap sesuai dengan toleransi.
e. Kolaborasi dengan tim medis lain (dokter, ahli gizi, fisioterapis) untuk memastikan pemulihan pasien berjalan dengan baik.
f. Dokumentasi asuhan keperawatan secara lengkap dan akurat.
Dengan menerapkan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan pasien yang terpasang TR Band pasca kateterisasi jantung dapat mencapai luaran/output yang diharapkan, yaitu terhindar dari komplikasi perdarahan dan dapat melakukan pemulihan secara optimal. -
Article No. 11452 | 24 Jan 2025
Klinis : PASIEN MENGELUH BATUK, DADA SESAK SUDAH 2HARI, PASIEN PUNYA RIWAYAT ASMA
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa Keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien yang mengeluh batuk, dada sesak selama 2 hari, dan memiliki riwayat asma adalah: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif.
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
Penyebab:
1. Hipersekresi sekret
2. Peningkatan produksi sekret
3. Obstruksi jalan napas
4. Kelemahan otot pernapasan
Karakteristik Definisi:
1. Batuk tidak efektif
2. Dispnea
3. Napas cuping hidung
4. Suara napas tambahan (mengi, ronki)
5. Sianosis
6. Riwayat penyakit pernapasan
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas Meningkat
a. Pasien dapat batuk dan bernapas dengan mudah
b. Tidak ada sekret yang tertahan di jalan napas
c. Pasien dapat mempertahankan SpO2 dalam batas normal
2. Tingkat Kenyamanan Meningkat
a. Pasien melaporkan sesak napas berkurang
b. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kesulitan
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Jalan Napas
a. Monitor status pernapasan (frekuensi, kedalaman, irama)
b. Berikan oksigen sesuai kebutuhan
c. Lakukan suction/penghisapan sekret jika perlu
d. Ajarkan teknik batuk efektif
2. Manajemen Bronkodilator
a. Berikan bronkodilator sesuai resep
b. Monitor efektivitas bronkodilator
c. Ajarkan penggunaan alat nebulizer/inhaler
3. Manajemen Risiko
a. Identifikasi faktor pencetus serangan asma
b. Ajarkan manajemen serangan asma
c. Berikan edukasi mengenai asma dan pengelolaannya
Penjelasan:
Diagnosa Keperawatan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif dipilih karena pasien mengeluhkan batuk dan sesak napas, yang merupakan tanda-tanda ketidakefektifan bersihan jalan napas. Riwayat asma juga menjadi faktor penyebab yang dapat menyebabkan peningkatan produksi sekret dan obstruksi jalan napas.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan adalah agar pasien dapat mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif, serta meningkatkan kenyamanan dengan berkurangnya sesak napas. Ini akan membantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan mencakup manajemen jalan napas, pemberian bronkodilator, dan manajemen risiko. Intervensi ini bertujuan untuk membersihkan jalan napas, melebarkan saluran pernapasan, dan mencegah serangan asma di kemudian hari. Edukasi pasien juga penting untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan pasien dalam mengelola kondisinya.
Penekanan utama dalam asuhan keperawatan ini adalah untuk mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif dan meningkatkan kenyamanan pasien, sehingga pasien dapat beraktivitas dengan baik dan meningkatkan kualitas hidupnya.