Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 11675 | 31 Jan 2025
Klinis : muncul benjolan di payudarah sebelah kiri sudah 2 bulan ini benjolan sebesar kelereng sudah di usg di rumah sakit . tidak sakit dan tidak panas. disarankan oprasi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: N63
- Deskripsi: Benjolan di payudara, tidak ditentukan.
Penjelasan:
Kode N63 dalam ICD-10 (Klasifikasi Statistik Internasional Penyakit dan Masalah-Masalah Terkait Kesehatan, Revisi Kesepuluh) digunakan untuk mengklasifikasikan benjolan di payudara yang tidak ditentukan penyebabnya. Hal ini sesuai dengan uraian kondisi pasien, di mana terdapat benjolan di payudara kiri dengan ukuran sebesar kelereng, tanpa disertai rasa sakit atau panas.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 85.21
- Deskripsi: Biopsi terbuka (eksisi) dari masa payudara.
Penjelasan:
Berdasarkan informasi bahwa pasien disarankan untuk menjalani operasi, prosedur yang sesuai adalah biopsi terbuka (eksisi) dari masa payudara, yang tercakup dalam kode ICD-9-CM 85.21. Prosedur ini dilakukan untuk mengambil sampel jaringan dari benjolan payudara untuk tujuan diagnostik.
Catatan: Karena pasien belum menjalani prosedur, kode ICD-9-CM ini hanya sebagai acuan jika nantinya prosedur tersebut dilakukan. -
Article No. 11676 | 31 Jan 2025
Klinis : post op hernia inguinalis 10 januari 2025 yang lali . saat ini terasa nyeri di bekas operasi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: K43.0
- Deskripsi: Hernia inguinalis pasca-operasi dengan obstruksi, tanpa gangren
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 53.00
- Deskripsi: Reparasi hernia inguinalis, tidak dispesifikasi.
Penjelasan:
Kode ICD-10 K43.0 mencakup kondisi hernia inguinalis yang terjadi setelah prosedur operatif (post-operatif) dengan adanya obstruksi, tetapi tanpa gangren. Ini sesuai dengan kondisi yang dialami pasien, yaitu nyeri di bekas operasi hernia inguinalis yang dilakukan pada 10 Januari 2025.
Kode ICD-9-CM 53.00 merujuk pada prosedur reparasi hernia inguinalis, tanpa spesifikasi lebih lanjut. Ini merupakan kode umum yang dapat digunakan untuk tindakan operatif hernia inguinalis yang dilakukan pada pasien.
Perlu dicatat bahwa kode ICD-9-CM digunakan untuk klasifikasi prosedur atau tindakan medis, sedangkan kode ICD-10 digunakan untuk klasifikasi diagnosis. Pengkodean yang tepat sangat penting untuk dokumentasi medis yang akurat dan pengajuan klaim asuransi yang benar. -
Article No. 11677 | 31 Jan 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan darah tinggi dan ingin memeriksakan kesehatan nya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosis keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien yang datang dengan keluhan darah tinggi dan ingin memeriksakan kesehatannya.
Diagnosis Keperawatan:
1. Hipertensi
Definisi: Peningkatan tekanan darah sistolik dan/atau diastolik di atas nilai normal.
Intervensi Keperawatan (SDKI):
- Monitor tanda-tanda vital secara berkala
- Anjurkan pasien untuk mengurangi asupan garam, merokok, dan konsumsi alkohol
- Ajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi stres
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk pemberian terapi farmakologis, jika diperlukan
Luaran Keperawatan (SLKI):
- Tekanan darah terkontrol
- Pasien mampu mengelola hipertensi
- Pasien tidak mengalami komplikasi
Intervensi Keperawatan (SIKI):
- Manajemen Hipertensi
- Edukasi Kesehatan
- Terapi Relaksasi
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang digunakan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan menetapkan masalah keperawatan yang dialami oleh pasien. Dalam kasus ini, diagnosis keperawatan yang tepat adalah "Hipertensi."
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah standar yang digunakan untuk mengevaluasi hasil atau luaran dari intervensi keperawatan yang diberikan. Luaran yang diharapkan dalam kasus ini adalah tekanan darah terkontrol, pasien mampu mengelola hipertensi, dan pasien tidak mengalami komplikasi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah standar yang digunakan untuk menentukan intervensi keperawatan yang tepat untuk mengatasi masalah keperawatan yang teridentifikasi. Intervensi keperawatan yang dapat diberikan dalam kasus ini antara lain Manajemen Hipertensi, Edukasi Kesehatan, dan Terapi Relaksasi.
Sebagai seorang perawat profesional, saya akan bekerja sama dengan tim kesehatan lain untuk memberikan perawatan yang komprehensif dan memastikan pasien mendapatkan hasil yang optimal. -
Article No. 11678 | 31 Jan 2025
Klinis : ISK
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi Infeksi Saluran Kemih (ISK).
1. Kode ICD-10:
- Kode: N39.0
- Deskripsi: Infeksi saluran kemih, lokasi tidak dispesifikan
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 59.8
- Deskripsi: Prosedur diagnostik pada saluran kemih lainnya, termasuk kateterisasi kandung kemih.
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 N39.0 digunakan untuk menggambarkan infeksi saluran kemih yang tidak dispesifikan. Ini mencakup semua jenis infeksi pada saluran kemih, termasuk sistitis, pielonefritis, dan uretritis.
2. Kode ICD-9-CM 59.8 mencakup berbagai prosedur diagnostik pada saluran kemih, seperti kateterisasi kandung kemih. Prosedur ini dapat dilakukan untuk mengumpulkan sampel urin, mengevaluasi fungsi kandung kemih, atau membantu dalam diagnosis dan penatalaksanaan ISK.
Perlu diperhatikan bahwa kode-kode ini digunakan sebagai standar internasional untuk mengkodekan diagnosis dan tindakan medis, dan dapat bervariasi tergantung pada kondisi klinis pasien yang spesifik. -
Article No. 11679 | 31 Jan 2025
Klinis : PERAWATAN LUKA DIWAJAH
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Sebagai seorang dokter atau perekam medis, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis terkait dengan PERAWATAN LUKA DIWAJAH:
1. Kode ICD-10:
- Kode: S01.8
- Deskripsi: Luka terbuka di bagian lain kepala
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.57
- Deskripsi: Perawatan luka terbuka di wajah, termasuk pembersihan, penjahitan, dan aplikasi salep atau perekat.
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 S01.8 (Luka terbuka di bagian lain kepala) mencakup luka terbuka di wajah yang memerlukan perawatan. Kode ini digunakan untuk mengidentifikasi jenis cedera dan lokasi spesifik pada wajah.
2. Kode ICD-9-CM 93.57 (Perawatan luka terbuka di wajah, termasuk pembersihan, penjahitan, dan aplikasi salep atau perekat) menggambarkan tindakan medis yang dilakukan untuk merawat luka terbuka di wajah. Kode ini mencakup prosedur seperti pembersihan, penjahitan, dan penggunaan salep atau perekat untuk menutup dan menyembuhkan luka.
Penggunaan kode-kode ini membantu dalam dokumentasi medis yang terstruktur dan akurat, serta memfasilitasi proses penagihan dan pelaporan kesehatan. -
Article No. 11680 | 31 Jan 2025
Klinis : pola nafas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pola napas.
Diagnosa Keperawatan:
Pola Napas Tidak Efektif
Penjelasan:
Pola Napas Tidak Efektif adalah keadaan di mana individu mengalami perubahan frekuensi, kedalaman, atau irama pernapasan yang dapat mengganggu ventilasi dan oksigenasi yang adekuat.
SDKI:
Pola Napas Tidak Efektif didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mempertahankan pola pernapasan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan oksigen.
SLKI:
Luaran yang diharapkan dari penanganan Pola Napas Tidak Efektif adalah Pola Napas Efektif, yang ditandai dengan frekuensi napas, kedalaman napas, dan irama napas yang sesuai dengan kebutuhan oksigenasi.
SIKI:
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi Pola Napas Tidak Efektif meliputi:
1. Pemantauan tanda-tanda vital
2. Pemberian oksigen sesuai kebutuhan
3. Latihan pernapasan
4. Manajemen posisi tubuh
5. Edukasi terkait teknik pernapasan yang efektif
Sebagai seorang pakar keperawatan, saya menekankan pentingnya pemahaman dan penerapan standar-standar tersebut dalam praktik keperawatan untuk memastikan perawatan yang komprehensif dan berkualitas bagi pasien. -
Article No. 11681 | 31 Jan 2025
Klinis : ansietas, kebingungan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan senang hati, saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis serta kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang sesuai dengan kondisi yang Anda deskripsikan, yaitu ansietas dan kebingungan.
1. Kode ICD-10:
- Kode: F41.1
- Deskripsi: Gangguan panik [serangan panik]
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 94.31
- Deskripsi: Konsultasi psikiatri
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 untuk Ansietas:
- Kode F41.1 (Gangguan panik [serangan panik]) merupakan kode yang paling sesuai untuk kondisi ansietas yang Anda deskripsikan. Gangguan panik adalah suatu kondisi di mana individu mengalami episode berulang dari kecemasan yang akut dan berat, yang disebut serangan panik. Ciri-ciri umum dari serangan panik ini adalah perasaan takut atau cemas yang tiba-tiba dan mencapai puncaknya dalam beberapa menit, disertai dengan gejala-gejala fisik seperti detak jantung yang cepat, berkeringat, gemetar, dan kesulitan bernapas.
2. Kode ICD-9-CM Procedure untuk Kebingungan:
- Kode 94.31 (Konsultasi psikiatri) merupakan kode yang paling sesuai untuk tindakan medis yang mungkin dilakukan dalam menangani kondisi kebingungan. Konsultasi psikiatri biasanya dilakukan untuk mengevaluasi, mendiagnosis, dan memberikan rekomendasi perawatan yang tepat bagi pasien yang mengalami gangguan mental, seperti kebingungan. Prosedur ini melibatkan wawancara, pemeriksaan fisik, dan evaluasi psikologis oleh seorang psikiater atau profesional kesehatan mental lainnya.
Jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut atau memiliki pertanyaan lain, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 11682 | 31 Jan 2025
Klinis : manajemen jalan nafas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Risiko Gangguan Permeabilitas Jalan Nafas
Penjelasan Singkat:
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), kondisi "manajemen jalan nafas" dapat didiagnosis sebagai "Risiko Gangguan Permeabilitas Jalan Nafas".
Risiko Gangguan Permeabilitas Jalan Nafas didefinisikan sebagai "Rentan terhadap gangguan pada kemampuan mempertahankan aliran udara yang lancar melalui hidung dan/atau mulut". Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti adanya obstruksi jalan nafas, penyakit paru-paru, atau masalah neurologis.
Sebagai perawat, intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengelola risiko gangguan permeabilitas jalan nafas meliputi:
1. Pemantauan status respirasi
2. Pemberian terapi oksigen
3. Manajemen jalan nafas
4. Manajemen sekresi jalan nafas
5. Edukasi kepada pasien dan keluarga
Tujuan dari intervensi ini adalah untuk mempertahankan permebilitas jalan nafas, mencegah komplikasi, dan memastikan pasien dapat bernafas dengan lancar. -
Article No. 11683 | 31 Jan 2025
Klinis : Laki-laki usia 56 tahun dirawat rumah sakit dengan riwayat jatuh dari kamar mandi dan mengalami post operasi fraktur humerus dextra. Hasil pengkajian didapatkan pasien mengeluh nyeri dengan skala 5 dan pasien tampak meringis ketika mencoba menggerakkan tangannya. Pasien juga tampak gelisah dan selalu menghindar ketika perawat mendekat untuk memeriksa keadaan pasien. Pasien berasal dari Yogyakarta yang sekarang sedang berkunjung ke rumah anaknya di medan. Hasil TTV diperoleh TD 130/90 mmHg, nadi 130x/menit, RR 24x/menit, suhu 37,4°C. Perawat melakukan intervensi keperawatan untuk mengurangi nyeri yang dirasakan pasien.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan tone akademis dan persona sebagai pakar perawat, berikut diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi yang Anda paparkan:
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Akut (Acute Pain)
- SDKI: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah tersebut (nyeri).
- SLKI: Kemampuan individu untuk mengontrol dan mengatasi nyeri yang dialami.
- SIKI: Intervensi yang diberikan untuk mengurangi atau menghilangkan sensasi nyeri yang dirasakan pasien.
2. Kecemasan (Anxiety)
- SDKI: Perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disebabkan oleh persepsi ancaman yang belum jelas atau tidak diketahui.
- SLKI: Kemampuan individu untuk mengenali dan mengatasi perasaan cemas yang dialami.
- SIKI: Intervensi yang diberikan untuk membantu pasien mengenali dan mengatasi kecemasan yang dialami.
3. Risiko Gangguan Mobilitas Fisik (Risk for Impaired Physical Mobility)
- SDKI: Keterbatasan dalam pergerakan fisik yang disebabkan oleh faktor yang menghambat kemampuan untuk bergerak secara bebas dan mandiri.
- SLKI: Kemampuan individu untuk melakukan pergerakan fisik secara mandiri.
- SIKI: Intervensi yang diberikan untuk mempertahankan dan meningkatkan mobilitas fisik pasien.
Penjelasan Singkat:
1. Nyeri Akut:
Pasien mengeluh nyeri dengan skala 5 dan tampak meringis ketika mencoba menggerakkan tangannya, menandakan adanya nyeri akut terkait dengan kondisi pasca operasi fraktur humerus dextra. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen nyeri, seperti pemberian analgesik, terapi non-farmakologis (relaksasi, distraksi), dan evaluasi efektivitas intervensi.
2. Kecemasan:
Pasien tampak gelisah dan selalu menghindar ketika perawat mendekat untuk memeriksa, menandakan adanya kecemasan terkait dengan kondisi kesehatan dan perawatan di rumah sakit. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah memberikan dukungan emosional, mengurangi faktor penyebab kecemasan, dan mengajarkan teknik manajemen kecemasan.
3. Risiko Gangguan Mobilitas Fisik:
Pasien mengalami fraktur humerus dextra pasca operasi, yang dapat menghambat mobilitas fisik pasien. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah mempertahankan atau meningkatkan mobilitas fisik pasien, seperti latihan gerak sendi yang aman, perawatan luka, dan kolaborasi dengan fisioterapis.
Penerapan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dapat membantu perawat dalam melakukan pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi asuhan keperawatan yang komprehensif untuk pasien. -
Article No. 11684 | 31 Jan 2025
Klinis : Laki-laki usia 56 tahun dirawat rumah sakit dengan riwayat jatuh dari kamar mandi dan mengalami post operasi fraktur humerus dextra. Hasil pengkajian didapatkan pasien mengeluh nyeri dengan skala 5 dan pasien tampak meringis ketika mencoba menggerakkan tangannya. Pasien juga tampak gelisah dan selalu menghindar ketika perawat mendekat untuk memeriksa keadaan pasien. Pasien berasal dari Yogyakarta yang sekarang sedang berkunjung ke rumah anaknya di medan. Hasil TTV diperoleh TD 130/90 mmHg, nadi 130x/menit, RR 24x/menit, suhu 37,4°C. Perawat melakukan intervensi keperawatan untuk mengurangi nyeri yang dirasakan pasien.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Nyeri Akut
Definisi: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau dijelaskan dalam istilah seperti itu (International Association for the Study of Pain).
2. Kecemasan
Definisi: Respon emosional dan psikologis individu terhadap sumber ancaman yang tidak jelas dan tidak spesifik.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Nyeri Akut:
- Kriteria Hasil: Tingkat nyeri menurun
- Indikator:
- Perilaku nyeri menurun
- Ekspresi wajah nyeri menurun
- Skala nyeri menurun
2. Kecemasan:
- Kriteria Hasil: Tingkat kecemasan menurun
- Indikator:
- Tingkat kecemasan menurun
- Gejala fisik kecemasan menurun
- Perilaku cemas menurun
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Nyeri Akut:
- Manajemen Nyeri
- Kaji nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor pencetus)
- Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi
- Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri (distraksi, relaksasi, kompres hangat/dingin)
- Evaluasi efektivitas intervensi dan respons pasien terhadap nyeri
2. Kecemasan:
- Manajemen Kecemasan
- Kaji tingkat kecemasan pasien
- Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman
- Libatkan pasien dalam perencanaan asuhan keperawatan
- Ajarkan teknik relaksasi (napas dalam, visualisasi, dan sebagainya)
- Berikan dukungan emosional dan pujian atas kemajuan pasien
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (psikiater, psikolog) jika diperlukan
- Evaluasi efektivitas intervensi dan respons pasien terhadap kecemasan
Penjelasan:
Berdasarkan kondisi pasien, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Nyeri Akut dan Kecemasan. Pasien mengeluh nyeri dengan skala 5 dan tampak meringis saat mencoba menggerakkan tangannya, serta tampak gelisah dan menghindar ketika perawat mendekat, menunjukkan adanya nyeri akut dan kecemasan.
Luaran yang diharapkan adalah penurunan tingkat nyeri dan kecemasan pasien, yang dapat diukur melalui indikator seperti penurunan perilaku nyeri, ekspresi wajah, skala nyeri, tingkat kecemasan, gejala fisik, dan perilaku cemas.
Intervensi keperawatan yang diperlukan adalah manajemen nyeri dan manajemen kecemasan. Ini mencakup pengkajian yang komprehensif, kolaborasi pemberian analgesik, teknik non-farmakologis, penciptaan lingkungan aman dan nyaman, pelibatan pasien, teknik relaksasi, dukungan emosional, dan evaluasi efektivitas intervensi.