Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 11963 | 06 Feb 2025
Klinis : Koping individu yang tidak efektif berhubungan dengan proses kehilangan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan nada akademis dan persona sebagai perawat profesional, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi "Koping individu yang tidak efektif berhubungan dengan proses kehilangan":
Diagnosa Keperawatan:
Koping individu yang tidak efektif berhubungan dengan proses kehilangan.
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Koping individu yang tidak efektif adalah ketidakmampuan seseorang untuk melakukan penilaian kognitif dan afektif secara mandiri dalam situasi kehilangan, sehingga tidak dapat melakukan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat menunjukkan koping yang efektif dalam menghadapi proses kehilangan, seperti mampu mengekspresikan perasaan, memahami situasi, dan menerapkan strategi koping yang sesuai.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain: memberikan dukungan emosional, membantu pasien mengidentifikasi sumber koping, mengajarkan teknik relaksasi, memfasilitasi partisipasi dalam aktivitas spiritual atau kelompok pendukung, serta membantu pasien menemukan makna dalam proses kehilangan yang dialami.
Dalam praktik keperawatan, perawat berperan penting dalam membantu pasien mengembangkan koping yang efektif untuk menghadapi proses kehilangan, sehingga pasien dapat beradaptasi dan mencapai kesejahteraan psikologis yang optimal. -
Article No. 11964 | 06 Feb 2025
Klinis : Koping individu yang tidak efektif berhubungan dengan proses kehilangan.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci mengenai diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi koping individu yang tidak efektif berhubungan dengan proses kehilangan.
Diagnosis Keperawatan SDKI:
Diagnosis keperawatan yang sesuai untuk kondisi ini adalah "Koping tidak efektif" yang didefinisikan sebagai "Ketidakmampuan untuk mengatur respons psikologis, perilaku, dan/atau sosial terhadap stressor yang mengancam kesejahteraan". Kondisi ini berhubungan dengan proses kehilangan yang dialami oleh pasien.
Luaran/Output SLKI:
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat menunjukkan luaran/output sebagai berikut:
1. Pasien dapat mengenali dan mengungkapkan perasaan yang dialami terkait proses kehilangan.
2. Pasien dapat mendemonstrasikan strategi koping yang efektif untuk mengatasi stressor akibat proses kehilangan.
3. Pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang mendukung proses penyesuaian diri terhadap kehilangan.
4. Pasien dapat mempertahankan hubungan interpersonal yang bermakna selama proses kehilangan.
5. Pasien dapat menunjukkan peningkatan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi akibat proses kehilangan.
Intervensi Keperawatan SIKI:
Intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran di atas antara lain:
1. Asesmen Koping
- Identifikasi sumber stres dan respon koping pasien.
- Evaluasi kemampuan koping pasien dalam mengatasi stressor.
- Identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi koping pasien.
2. Dukungan Emosional
- Bina hubungan saling percaya dengan pasien.
- Dengarkan dengan aktif ungkapan perasaan pasien.
- Validasi perasaan dan respon emosional pasien.
- Berikan empati dan dukungan emosional yang diperlukan.
3. Peningkatan Koping
- Bantu pasien mengidentifikasi strategi koping yang efektif.
- Ajarkan teknik relaksasi dan manajemen stres.
- Libatkan pasien dalam aktivitas yang mendukung proses penyesuaian diri.
- Dorong pasien untuk mengembangkan dan mempertahankan jaringan sosial.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk intervensi psikologis, jika diperlukan.
4. Edukasi Kesehatan
- Berikan edukasi terkait proses kehilangan dan respons normal yang mungkin terjadi.
- Ajarkan manajemen diri dalam menghadapi perubahan akibat kehilangan.
- Libatkan keluarga dalam proses edukasi dan dukungan terhadap pasien.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus mempertimbangkan kondisi unik setiap pasien, melakukan evaluasi secara berkala, dan melakukan penyesuaian intervensi sesuai dengan respons pasien. Pendekatan yang holistik dan berpusat pada pasien sangat diperlukan untuk membantu pasien mencapai koping yang efektif dalam menghadapi proses kehilangan. -
Article No. 11965 | 06 Feb 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan batuk pilek sejak seminggu
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai seorang perawat, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi pasien dengan keluhan batuk pilek sejak seminggu.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI:
Berdasarkan kondisi pasien yang mengalami keluhan batuk pilek sejak seminggu, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
a. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas.
Karakteristik Definisi:
- Adanya suara napas tambahan (mengi, wheezing, ronki)
- Batuk tidak efektif
- Sputum berlebihan
- Perubahan frekuensi napas
- Perubahan irama napas
2. Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
a. Bersihan Jalan Napas Efektif
Indikator:
- Bebas dari sekret/obstruksi jalan napas
- Tidak ada suara napas tambahan
- Frekuensi napas dalam rentang normal
- Irama napas teratur
- Kapasitas untuk mengeluarkan sekret
- Tidak ada gejala kesulitan bernapas
3. Intervensi Keperawatan (SIKI):
a. Manajemen Jalan Napas
Definisi: Memfasilitasi pemeliharaan dan pembukaan jalan napas untuk mempertahankan pertukaran gas yang adekuat.
Aktivitas:
- Pantau status pernafasan (frekuensi, irama, kedalaman)
- Auskultasi suara napas
- Lakukan suction untuk mengeluarkan sekret jika diperlukan
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan
- Ajarkan teknik batuk efektif
- Dorong ekspektorasi dengan air hangat/obat mukolitik
- Lakukan fisioterapi dada jika perlu
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan lebih lanjut jika diperlukan
Dengan melakukan intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output yang diinginkan, yaitu bersihan jalan napas yang efektif. Hal ini ditandai dengan bebas dari sekret/obstruksi, tidak ada suara napas tambahan, frekuensi dan irama napas yang normal, serta kemampuan untuk mengeluarkan sekret secara efektif tanpa ada gejala kesulitan bernapas. -
Article No. 11966 | 06 Feb 2025
Klinis : Koping individu yang tidak efektif berhubungan dengan proses kehilangan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan beserta penjelasan singkat mengenai SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi "Koping individu yang tidak efektif berhubungan dengan proses kehilangan" dengan tone akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Koping individu tidak efektif berhubungan dengan proses kehilangan
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Respon individu yang tidak berhasil beradaptasi terhadap stressor yang dirasakan mengganggu keseimbangan hidup.
- Karakteristik Definisi: Tidak mampu mengatasi masalah secara konstruktif, perasaan tidak berdaya, emosi yang tidak stabil, perilaku maladaptif.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Individu dapat mengatasi stressor secara efektif.
- Kriteria Hasil: Menunjukkan perilaku adaptif, mampu mengekspresikan emosi secara adekuat, memiliki strategi koping yang efektif.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan:
a. Terapi Kognitif: Membantu individu mengidentifikasi dan mengubah pola pikir maladaptif menjadi lebih konstruktif.
b. Terapi Perilaku: Membantu individu mengembangkan strategi koping yang efektif untuk mengatasi stressor.
c. Terapi Supportif: Memberikan dukungan emosional dan spiritual untuk memfasilitasi proses penyesuaian diri.
d. Terapi Reminiscence: Membantu individu mengungkapkan dan memproses pengalaman dan perasaan terkait kehilangan.
Dengan menggunakan standar SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstruktur untuk membantu individu dengan koping yang tidak efektif akibat proses kehilangan, sehingga dapat mencapai hasil yang diharapkan. -
Article No. 11967 | 06 Feb 2025
Klinis : dampak risiko infeksi yang tidak tertangani
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosis Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi dampak risiko infeksi yang tidak tertangani adalah "Risiko Infeksi". Diagnosis ini menggambarkan kerentanan individu terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen, yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan.
Penjelasan:
Risiko Infeksi merupakan diagnosis keperawatan yang mengidentifikasi kemungkinan terjadinya invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat menyebabkan kerusakan pada individu. Pada kondisi dampak risiko infeksi yang tidak tertangani, individu memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap infeksi karena adanya faktor-faktor risiko yang tidak ditangani secara tepat.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Kontrol Risiko Infeksi
- Individu mampu mengenali tanda dan gejala infeksi.
- Individu dapat melakukan pencegahan infeksi melalui perilaku higienis yang tepat.
- Lingkungan bebas dari sumber infeksi.
2. Integritas Kulit dan Membran Mukosa
- Tidak terjadi kerusakan integritas kulit dan membran mukosa.
- Tidak terjadi infeksi pada kulit dan membran mukosa.
3. Kesejahteraan Psikologis
- Individu menunjukkan penurunan tingkat kecemasan terkait risiko infeksi.
- Individu memiliki sikap positif dalam mengelola risiko infeksi.
Penjelasan:
Luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan adalah tercapainya kontrol risiko infeksi, integritas kulit dan membran mukosa yang terjaga, serta kesejahteraan psikologis individu. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi, mempertahankan integritas kulit dan membran mukosa, serta meminimalkan dampak psikologis yang dapat timbul akibat risiko infeksi.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
1. Manajemen Risiko Infeksi
- Identifikasi faktor risiko infeksi pada individu.
- Kaji tanda dan gejala infeksi.
- Edukasi individu dan keluarga tentang pencegahan infeksi.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan infeksi.
2. Perawatan Luka
- Observasi kondisi kulit dan membran mukosa.
- Lakukan perawatan luka sesuai prosedur.
- Berikan perlindungan pada area kulit dan membran mukosa.
3. Terapi Psikologis
- Identifikasi tingkat kecemasan individu terkait risiko infeksi.
- Berikan dukungan psikologis untuk meningkatkan pemahaman dan keyakinan individu.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan mental untuk intervensi psikologis lebih lanjut.
Penjelasan:
Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup manajemen risiko infeksi, perawatan luka, dan terapi psikologis. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi faktor risiko, mencegah dan menangani infeksi, menjaga integritas kulit dan membran mukosa, serta mengelola dampak psikologis yang mungkin timbul. Intervensi ini diharapkan dapat mencapai luaran/output yang diharapkan dalam asuhan keperawatan. -
Article No. 11968 | 06 Feb 2025
Klinis : Makanan di sekitar jalan dijual mengandung pewarna maknan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Resiko Keracunan Makanan
Penjelasan Singkat:
1. SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Resiko Keracunan Makanan merupakan diagnosa keperawatan yang menggambarkan kondisi di mana individu atau kelompok berada dalam kondisi yang berisiko mengalami keracunan akibat mengonsumsi makanan yang mengandung bahan berbahaya, seperti pewarna makanan yang tidak layak konsumsi.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah individu atau kelompok dapat menghindari konsumsi makanan yang mengandung pewarna berbahaya, mengetahui tanda-tanda keracunan makanan, dan segera mendapatkan penanganan medis jika terjadi keracunan.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
a. Edukasi tentang bahaya mengonsumsi makanan yang mengandung pewarna berbahaya.
b. Monitoring tanda dan gejala keracunan makanan.
c. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan keracunan.
d. Identifikasi sumber makanan yang aman untuk dikonsumsi.
e. Promosi perilaku hidup sehat terkait konsumsi makanan yang aman.
Secara akademis, diagnosa dan penjelasan ini didasarkan pada standar yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas dan terstandar dalam menangani masalah kesehatan terkait keracunan makanan yang disebabkan oleh penggunaan pewarna makanan berbahaya. -
Article No. 11969 | 06 Feb 2025
Klinis : Ahmad, seorang anak laki-laki berusia 4 tahun, datang dengan keluhan sesak napas, batuk berdahak, dan demam sejak 2 hari terakhir. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, ditemukan tachypnea (40 kali/menit), penggunaan otot bantu pernapasan, suara ronki dan wheezing pada kedua paru, serta saturasi oksigen 88%. Diagnosis sementara adalah bronkopneumonia akut dengan gangguan oksigenasi.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis untuk pasien Ahmad adalah sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: J15.9
- Deskripsi: Pneumonia bakteri, tidak diklasifikasikan di tempat lain
Penjelasan:
Pasien Ahmad memenuhi kriteria untuk diagnosis bronkopneumonia akut dengan gangguan oksigenasi. Kode ICD-10 J15.9 digunakan untuk pneumonia bakteri yang tidak diklasifikasikan di tempat lain. Hal ini sesuai dengan gejala yang dialami pasien, yaitu sesak napas, batuk berdahak, demam, tachypnea, penggunaan otot bantu pernapasan, suara ronki dan wheezing, serta saturasi oksigen yang rendah.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.94
- Deskripsi: Pengukuran oksigen darah arteri
Penjelasan:
Dalam kasus ini, pasien Ahmad menunjukkan gangguan oksigenasi dengan saturasi oksigen yang rendah (88%), sehingga kemungkinan dilakukan pemeriksaan pengukuran oksigen darah arteri (kode ICD-9-CM 93.94) untuk mendukung diagnosis dan menentukan tatalaksana yang sesuai. -
Article No. 11970 | 06 Feb 2025
Klinis : Ahmad, seorang anak laki-laki berusia 4 tahun, datang dengan keluhan sesak napas, batuk berdahak, dan demam sejak 2 hari terakhir. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, ditemukan tachypnea (40 kali/menit), penggunaan otot bantu pernapasan, suara ronki dan wheezing pada kedua paru, serta saturasi oksigen 88%. Diagnosis sementara adalah bronkopneumonia akut dengan gangguan oksigenasi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Ahmad, seorang anak laki-laki berusia 4 tahun dengan dugaan bronkopneumonia akut dan gangguan oksigenasi.
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Pertukaran Gas
- SDKI: Gangguan Pertukaran Gas
- SLKI: Peningkatan Ventilasi/Perfusi
- SIKI: Manajemen Jalan Napas, Manajemen Oksigenasi
Penjelasan:
Ahmad mengalami sesak napas, tachypnea, penggunaan otot bantu pernapasan, serta saturasi oksigen yang rendah, yang menunjukkan adanya gangguan dalam pertukaran gas di paru-paru. Hal ini dapat disebabkan oleh proses infeksi pada saluran pernapasan, seperti bronkopneumonia, yang menyebabkan peradangan dan akumulasi sekret sehingga mengganggu ventilasi dan perfusi.
2. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
- SDKI: Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
- SLKI: Peningkatan Pembersihan Jalan Napas
- SIKI: Manajemen Jalan Napas
Penjelasan:
Ahmad mengalami batuk berdahak dan wheezing, yang menunjukkan adanya penumpukan sekret di saluran pernapasan. Hal ini dapat menghambat pergerakan udara dan mengganggu proses pertukaran gas, sehingga memerlukan intervensi untuk membantu membersihkan jalan napas.
3. Risiko Infeksi
- SDKI: Risiko Infeksi
- SLKI: Pencegahan Infeksi
- SIKI: Manajemen Infeksi
Penjelasan:
Dengan adanya gejala bronkopneumonia akut, Ahmad memiliki risiko terjadinya infeksi yang dapat menyebar dan memperburuk kondisinya. Intervensi keperawatan diperlukan untuk mencegah dan mengelola infeksi yang mungkin terjadi.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat perlu menerapkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia. Hal ini bertujuan untuk memastikan kualitas dan keseragaman praktik keperawatan yang diberikan. -
Article No. 11971 | 06 Feb 2025
Klinis : Ahmad, seorang anak laki-laki berusia 4 tahun, datang dengan keluhan sesak napas, batuk berdahak, dan demam sejak 2 hari terakhir. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, ditemukan tachypnea (40 kali/menit), penggunaan otot bantu pernapasan, suara ronki dan wheezing pada kedua paru, serta saturasi oksigen 88%. Diagnosis sementara adalah bronkopneumonia akut dengan gangguan oksigenasi.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, akan saya berikan diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan untuk kasus Ahmad, seorang anak laki-laki berusia 4 tahun dengan bronkopneumonia akut dan gangguan oksigenasi.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Penyebab: Produksi sekret yang berlebihan, edema mukosa, dan kelemahan otot pernapasan.
Gejala dan Tanda: Sputum berlebihan, batuk tidak efektif, irama napas tidak teratur, penggunaan otot bantu pernapasan, serta suara napas tambahan seperti ronki dan wheezing.
2. Gangguan Pertukaran Gas
Definisi: Ketidakmampuan mempertahankan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida yang adekuat.
Penyebab: Gangguan ventilasi-perfusi, perubahan tekanan parsial oksigen dan karbondioksida, serta penurunan kapasitas difusi.
Gejala dan Tanda: Sesak napas, napas cuping hidung, sianosis, dan saturasi oksigen di bawah normal.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas
- Indikator: Frekuensi napas normal, tidak ada retraksi dinding dada, suara napas bersih, dan tidak ada sputum yang tersisa.
- Target: Frekuensi napas 20-30 kali/menit, tidak ada retraksi dinding dada, suara napas bersih, dan tidak ada sputum yang tersisa.
2. Status Oksigenasi
- Indikator: Saturasi oksigen normal, tidak ada tanda-tanda sianosis, dan tidak ada distres pernapasan.
- Target: Saturasi oksigen >95%, tidak ada tanda-tanda sianosis, dan tidak ada distres pernapasan.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Lakukan fisioterapi dada (clapping, vibrating, postural drainage) untuk membantu mengeluarkan sekret.
- Berikan humidifikasi oksigen untuk melembabkan jalan napas.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian bronkodilator dan mukolitik sesuai indikasi.
- Pantau status pernapasan, seperti frekuensi napas, penggunaan otot bantu pernapasan, dan suara napas.
- Beri dukungan dan edukasi kepada keluarga mengenai manajemen pernapasan.
2. Gangguan Pertukaran Gas
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen >95%.
- Pantau status oksigenasi, seperti saturasi oksigen, warna kulit, dan tanda-tanda distres pernapasan.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi oksigen, ventilasi, atau intubasi jika diperlukan.
- Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi, seperti posisi semi-fowler atau sesuai toleransi.
- Berikan edukasi kepada keluarga mengenai manajemen oksigenasi.
Penjelasan rinci dan terperinci untuk setiap poin telah saya berikan. Sebagai seorang perawat, saya berharap diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang saya sampaikan dapat membantu dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk Ahmad. -
Article No. 11972 | 06 Feb 2025
Klinis : Ny. S berusia 72 tahun,mempunyai dua orang anak yang semuanya sudah menikah, anak laki – laki tinggal di Singapura dan anak perempuan yang tinggal di Surabaya. Ny. S tinggal di salah satu komplek bersama dengan pembantunya, suaminya meninggal tujuh tahun yang lalu setelah pensiun karena stroke. Ny. S juga menderita hipertensi. Ny.S adalah seorang ibu rumah tangga yang ,baik, ramah dan perduli dengan orang lain , namun setelah suaminya meninggal Ny. S mudah tersinggung,tidak sabar,,suka marah,cerewet dan bawel,hampir setiap tahun ganti pembantu karena tidak tahan dengan omelannya dan anak – anaknya pun tidak ada yang betah untuk tinggal bersama ibunya. Semenjak suaminya meninggal Ny S jarang ke luar rumah, tidak pernah ikut arisan, dan acara – acara lainnya. Kesibukannya setiap hari diisi dengan mengurus tanaman, menonton tv dan memelihara binatang kesayangan. Ny.S jarang melakukan kontrol ke rumah sakit, ke rumah sakit jika ada keluhan saja dengan alasan sudah tidak ada yang mengantarnya. Untuk memeriksakan tekanan darahnya seminggu sekali perawat pribadi datang mengunjugi.2 x seminggu dan memeriksa kesehatannya. Ny. S mengakui bahwa semenjak suaminya meninggal dia lebih suka berdiam diri dirumah tidak suka bergaul dengan tetangganya dengan alasan tetangganya tidak perduli lagi, sehingga tetangganya menganggap Ny.S sombong. Ny.S juga berpendapat bahwa semua yang dibutuhkan sudah ada di rumahnya. Perawat mengunjungi Ny.S dan bekerjasama, Ny.S mengakui situasi saat ini sebagai titik pilihan, dengan potensi untuk meningkatkan interaksi dengan lainnya dan meningkatkan interaksi dengan orang lain dan meningkatkan kesadaran. Cara – cara lama tidak lagi bekerja untuk Ny.S dan cara – cara baru yang berkaitan diperlukan.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI):
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Isolasi Sosial
Definisi: Pengalaman negatif atau ketakutan akan hubungan yang tidak memadai atau kurangnya hubungan sosial.
Penyebab: Kehilangan pasangan/orang terdekat, perubahan lingkungan, dan keterbatasan kemampuan.
2. Koping Individu Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk menghadapi, mengatasi, dan memulihkan diri dari stressor.
Penyebab: Kehilangan dukungan sosial, perubahan peran, dan krisis situasional.
3. Resiko Deficit Perawatan Diri
Definisi: Risiko kegagalan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri secara mandiri.
Penyebab: Gangguan kognitif, depresi, dan keterbatasan fisik.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Partisipasi Sosial
Definisi: Keterlibatan dalam aktivitas sosial yang bermakna.
Kriteria Hasil:
- Terlibat dalam aktivitas sosial di komunitas.
- Memiliki hubungan interpersonal yang memuaskan.
- Menggunakan sumber dukungan sosial yang tersedia.
2. Koping Efektif
Definisi: Kemampuan untuk menghadapi, mengatasi, dan memulihkan diri dari stressor.
Kriteria Hasil:
- Mengidentifikasi sumber stres.
- Menggunakan strategi koping yang sesuai.
- Menunjukkan adaptasi positif terhadap perubahan.
3. Kemandirian Perawatan Diri
Definisi: Kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri secara mandiri.
Kriteria Hasil:
- Melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri.
- Menggunakan alat bantu perawatan diri dengan tepat.
- Mempertahankan kebersihan dan kerapian diri.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Intervensi untuk Isolasi Sosial:
- Fasilitasi Interaksi Sosial
- Dukungan Kelompok
- Terapi Aktivitas Kelompok
2. Intervensi untuk Koping Individu Tidak Efektif:
- Manajemen Koping
- Terapi Reminiscence
- Terapi Aktivitas
3. Intervensi untuk Resiko Deficit Perawatan Diri:
- Perawatan Diri
- Latihan Kemandirian Perawatan Diri
- Dukungan Sistem
Penjelasan rinci dan terperinci:
Diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai mencakup Isolasi Sosial, Koping Individu Tidak Efektif, dan Resiko Deficit Perawatan Diri. Ny. S mengalami isolasi sosial setelah kehilangan suaminya, memiliki koping individu yang tidak efektif dalam menghadapi perubahan dan stressor, serta berisiko mengalami deficit perawatan diri karena keterbatasan fisik dan psikologis.
Luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI) meliputi Partisipasi Sosial, Koping Efektif, dan Kemandirian Perawatan Diri. Tujuannya adalah meningkatkan keterlibatan Ny. S dalam aktivitas sosial, mengembangkan strategi koping yang efektif, serta mempertahankan kemampuan perawatan diri secara mandiri.
Intervensi keperawatan yang diperlukan (SIKI) untuk mencapai tujuan luaran tersebut mencakup Fasilitasi Interaksi Sosial, Dukungan Kelompok, Terapi Aktivitas Kelompok untuk mengatasi isolasi sosial; Manajemen Koping, Terapi Reminiscence, Terapi Aktivitas untuk meningkatkan koping efektif; serta Perawatan Diri, Latihan Kemandirian Perawatan Diri, dan Dukungan Sistem untuk mempertahankan kemandirian perawatan diri. Intervensi-intervensi ini bertujuan untuk membantu Ny. S beradaptasi dengan perubahan, meningkatkan keterlibatan sosial, dan mempertahankan kemandirian dalam perawatan diri.