Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 12099 | 11 Feb 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dokter/Perekam Medik:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.0
- Deskripsi: Tuberkulosis paru dengan konfirmasi bakteriologis dan histologis
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 33.26
- Deskripsi: Bronkoskopi, dengan atau tanpa biopsi
Berdasarkan informasi yang diberikan, pasien pria berusia 45 tahun datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, disertai demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, dan hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
Kode ICD-10 A15.0 digunakan untuk menggambarkan tuberkulosis paru dengan konfirmasi bakteriologis dan histologis. Pasien memenuhi kriteria ini dengan gejala klinis dan hasil pemeriksaan yang mengarah pada tuberkulosis paru.
Kode ICD-9-CM 33.26 untuk prosedur bronkoskopi, dengan atau tanpa biopsi, dapat dipertimbangkan untuk membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis paru secara lebih definitif melalui pemeriksaan langsung pada saluran napas dan pengambilan sampel untuk analisis. -
Article No. 12100 | 11 Feb 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan demam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien dengan keluhan demam.
Diagnosa Keperawatan:
1. Hipertermia
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas 37,5°C (99,5°F) yang disebabkan oleh peningkatan produksi atau penurunan hilangnya panas tubuh.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Suhu tubuh kembali normal
2. Tanda-tanda vital stabil
3. Tidak terjadi komplikasi akibat hipertermia
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Kaji suhu tubuh secara berkala
2. Berikan kompres hangat/dingin untuk mengontrol suhu tubuh
3. Berikan cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi
4. Pantau tanda-tanda vital secara berkala
5. Edukasi pasien dan keluarga tentang penanganan hipertermia
Tone: Akademis
Persona: Pakar, Perawat
Harapan saya, penjelasan ini dapat membantu Anda memahami diagnosa keperawatan dan standar SDKI-SLKI-SIKI untuk kasus pasien dengan keluhan demam. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 12101 | 11 Feb 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan sakit pinggang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan kondisi pasien yang mengeluhkan sakit pinggang, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Muskuloskeletal
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan muskuloskeletal yang aktual atau potensial.
Penjelasan Singkat:
Nyeri muskuloskeletal adalah keluhan umum yang sering dialami oleh pasien. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti cedera, penyakit, atau postur tubuh yang tidak tepat. Pasien yang mengalami nyeri muskuloskeletal biasanya merasakan ketidaknyamanan, kekakuan, atau penurunan mobilitas di area yang terkena. Perawat harus melakukan penilaian yang komprehensif untuk mengidentifikasi penyebab dan karakteristik nyeri, serta menentukan intervensi yang tepat untuk membantu mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Pengendalian Nyeri
2. Mobilitas Fisik
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Nyeri
2. Terapi Latihan
3. Perawatan Posisi
Dengan demikian, berdasarkan kondisi pasien yang mengeluhkan sakit pinggang, diagnosis keperawatan yang sesuai adalah Nyeri Muskuloskeletal. Perawat harus melakukan penilaian yang komprehensif, memberikan intervensi yang tepat untuk mengelola nyeri dan meningkatkan mobilitas fisik pasien, serta melakukan edukasi dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya untuk mencapai hasil yang optimal. -
Article No. 12102 | 11 Feb 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan sakit tenggorokan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien dengan keluhan sakit tenggorokan.
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Tenggorokan
Penjelasan:
1. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan tenggorokan, baik aktual maupun potensial.
- Penyebab: Infeksi, iritasi, trauma, atau faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan nyeri pada tenggorokan.
- Gejala dan Tanda: Rasa tidak nyaman atau nyeri pada tenggorokan, menelan sulit, dan suara serak.
2. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
- Luaran yang diharapkan: Pasien melaporkan nyeri tenggorokan menurun, dapat menelan dengan mudah, dan suara kembali normal.
3. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
- Intervensi Keperawatan:
a. Manajemen Nyeri: Mengkaji nyeri, memberikan analgesik sesuai indikasi, dan memantau efektivitas penanganan nyeri.
b. Edukasi Kesehatan: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai penyebab, gejala, dan penanganan nyeri tenggorokan.
c. Terapi Relaksasi: Mengajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi nyeri dan kecemasan terkait nyeri tenggorokan.
Dengan pendekatan SDKI-SLKI-SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstandar untuk menangani kondisi nyeri tenggorokan pada pasien. -
Article No. 12103 | 11 Feb 2025
Klinis : Pasien mengatakan saat ini tidak ada keluhan (+) O: Kesadaran Composmentis, hemodinamik TD: 112/66 mmHg, HR: 65 x/menit, RR; 17 x/menit, S: 36,50C, Spo2: 98% dengan menggunakan binasal 5 lpm, terpasang IV line di VMS np. 22 dengan cairan infuse Nacl 0,9% 1500 ml/24 jam, terpasang condom ukuran M produksi urine belum ada, post PRC 2 bag, rencana pindah ruangan biasa mutasi (+), skala nyeri 0
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang dideskripsikan, diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai adalah:
1. Diagnosa Keperawatan: Risiko Disfungsi Neurovaskular Perifer r/t pemasangan IV line
Luaran/Output yang diharapkan (SLKI):
- Pasien tidak mengalami tanda-tanda disfungsi neurovaskular perifer
- Pasien menunjukkan perfusi jaringan perifer yang adekuat
- Pasien menunjukkan penyembuhan luka akibat pemasangan IV line yang baik
Intervensi Keperawatan (SIKI):
- Pantau tanda-tanda disfungsi neurovaskular perifer (warna, suhu, nadi perifer, capillary refill time)
- Lakukan perawatan IV line sesuai prosedur
- Kolaborasi dengan tim kesehatan terkait pemasangan ulang IV line jika perlu
- Edukasi pasien dan keluarga tentang perawatan IV line
- Kolaborasi dengan tim kesehatan terkait penyembuhan luka akibat pemasangan IV line
Penjelasan:
Pasien tidak memiliki keluhan saat ini, namun terdapat pemasangan IV line pada ekstremitas. Hal ini dapat menyebabkan risiko disfungsi neurovaskular perifer, seperti nyeri, penurunan perfusi, dan gangguan penyembuhan luka. Oleh karena itu, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah risiko disfungsi neurovaskular perifer. Luaran yang diharapkan adalah pasien tidak mengalami tanda-tanda disfungsi neurovaskular, memiliki perfusi jaringan perifer yang adekuat, dan penyembuhan luka yang baik. Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi pemantauan tanda-tanda disfungsi, perawatan IV line, kolaborasi dengan tim kesehatan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga. -
Article No. 12104 | 11 Feb 2025
Klinis : Pasien mengatakan mual muntah, nyeri perut,demam naik turun, batuk,lemas dan pusing?
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat, saya akan memberikan analisis yang rinci berdasarkan kondisi yang Anda paparkan:
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
a. Mual (00134): Sensasi yang tidak menyenangkan di bagian belakang tenggorokan atau perut yang dapat mengarah pada keinginan untuk muntah.
b. Nyeri akut (00132): Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial.
c. Hipertermia (00007): Suhu tubuh di atas kisaran normal dikarenakan peningkatan produksi panas atau penurunan kehilangan panas.
d. Batuk (00037): Kontraksi ekspirasi yang mendadak dan kuat untuk membersihkan saluran napas dari sekret, benda asing, atau iritasi.
e. Kelelahan (00093): Sensasi fisik yang menyenangkan dan terkait dengan keterbatasan kapasitas untuk melakukan kegiatan.
f. Gangguan pola tidur (00198): Perubahan dalam jumlah dan kualitas tidur yang mengganggu atau tidak sesuai dengan harapan individu.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Kontrol mual (1608): Pasien dapat mengontrol sensasi mual dan tidak mengalami episode muntah selama masa perawatan.
b. Kontrol nyeri (1605): Pasien dapat mengontrol nyeri perut dan melaporkan nyeri yang terkendali.
c. Suhu tubuh dalam batas normal (0800): Pasien dapat mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal selama masa perawatan.
d. Respirasi efektif (0403): Pasien dapat bernafas dengan irama dan kedalaman yang normal tanpa ada batuk yang mengganggu.
e. Tingkat energi (0002): Pasien dapat mempertahankan atau meningkatkan tingkat energi selama masa perawatan.
f. Kualitas tidur (0004): Pasien dapat mempertahankan atau meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur yang adekuat.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Kontrol mual:
i. Evaluasi faktor pencetus mual
ii. Ajarkan teknik manajemen mual (relaksasi, distraksi, dll.)
iii. Berikan antiemetik sesuai indikasi
b. Kontrol nyeri:
i. Kaji karakteristik dan penyebab nyeri
ii. Berikan analgesik sesuai indikasi
iii. Ajarkan teknik manajemen nyeri non-farmakologis
c. Kontrol suhu tubuh:
i. Pantau suhu tubur secara teratur
ii. Identifikasi penyebab peningkatan suhu
iii. Lakukan tindakan penurun demam (kompres dingin, pemberian antipiretik)
d. Manajemen jalan napas:
i. Anjurkan pasien untuk batuk dan ekspektorasi
ii. Ajarkan teknik batuk efektif
iii. Berikan bronkodilator dan mukolitik sesuai indikasi
e. Manajemen kelelahan:
i. Evaluasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kelelahan
ii. Bantu pasien untuk mengatur aktivitas dan istirahat
iii. Ajarkan teknik manajemen energi
f. Peningkatan kualitas tidur:
i. Kaji pola tidur pasien
ii. Identifikasi faktor yang mengganggu tidur
iii. Ajarkan teknik relaksasi dan higiene tidur
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diinginkan dan memperoleh perawatan yang optimal selama masa pemulihan. -
Article No. 12105 | 11 Feb 2025
Klinis : Pasien mengatakan mual muntah,nyeri perut, demam naik turun,batuk,lemas dan pusing?
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati, saya akan memberikan analisis komprehensif berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI:
Berdasarkan gejala yang dialami pasien, yaitu mual muntah, nyeri perut, demam naik turun, batuk, lemas, dan pusing, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
a. Mual (SDKI 2017)
Definisi: Sensasi ketidaknyamanan yang tidak menyenangkan dan keinginan untuk muntah.
Penyebab: Infeksi gastrointestinal, obat-obatan, gangguan metabolik, nyeri, kecemasan.
b. Nyeri Akut (SDKI 2017)
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
Penyebab: Agen infeksi, proses penyakit.
c. Hipertermia (SDKI 2017)
Definisi: Peningkatan suhu tubuh di atas batas normal.
Penyebab: Infeksi, respon inflamasi, dehidrasi.
d. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas (SDKI 2017)
Definisi: Ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas yang bersih dan terbuka.
Penyebab: Peningkatan produksi sekret, kelemahan otot pernapasan.
e. Kelelahan (SDKI 2017)
Definisi: Pengalaman subjektif dari keletihan yang tidak menyenangkan dan tidak dapat diatasi.
Penyebab: Penyakit, malnutrisi, kurang istirahat.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Kontrol Mual (SLKI 2019)
Definisi: Kemampuan individu untuk mencegah atau mengendalikan sensasi mual yang tidak menyenangkan.
Kriteria Hasil:
1) Mampu mengidentifikasi faktor pencetus mual.
2) Mampu menggunakan teknik-teknik untuk mengurangi mual.
3) Melaporkan berkurangnya sensasi mual.
b. Kontrol Nyeri (SLKI 2019)
Definisi: Kemampuan individu untuk mengendalikan rasa sakit yang dialami.
Kriteria Hasil:
1) Mampu mengidentifikasi faktor pencetus nyeri.
2) Mampu menggunakan teknik-teknik untuk mengurangi nyeri.
3) Melaporkan berkurangnya rasa sakit.
c. Suhu Tubuh dalam Rentang Normal (SLKI 2019)
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal.
Kriteria Hasil:
1) Suhu tubuh berada dalam rentang normal.
2) Tidak ada tanda-tanda hipertermia atau hipotermia.
d. Bersihan Jalan Napas Efektif (SLKI 2019)
Definisi: Kemampuan individu untuk mempertahankan jalan napas yang bersih dan terbuka.
Kriteria Hasil:
1) Tidak ada sumbatan pada jalan napas.
2) Suara napas normal, tidak ada bunyi tambahan.
3) Frekuensi napas dalam rentang normal.
e. Pemulihan Energi (SLKI 2019)
Definisi: Kemampuan individu untuk memulihkan dan mempertahankan tingkat energi yang optimal.
Kriteria Hasil:
1) Melaporkan peningkatan energi dan penurunan kelelahan.
2) Mampu menjalankan aktivitas sehari-hari.
3) Tidak ada tanda-tanda kelelahan yang berlebihan.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Intervensi untuk Kontrol Mual:
1) Manajemen Mual (SIKI 2018)
Definisi: Serangkaian tindakan untuk mencegah, mengurangi, atau mengatasi sensasi mual yang tidak menyenangkan.
Aktivitas:
- Identifikasi faktor pencetus mual
- Anjurkan teknik-teknik non-farmakologis untuk mengurangi mual
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penatalaksanaan farmakologis
b. Intervensi untuk Kontrol Nyeri:
1) Manajemen Nyeri (SIKI 2018)
Definisi: Serangkaian tindakan untuk mencegah, mengurangi, atau mengatasi rasa sakit yang dialami individu.
Aktivitas:
- Identifikasi karakteristik nyeri
- Anjurkan teknik-teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penatalaksanaan farmakologis
c. Intervensi untuk Suhu Tubuh dalam Rentang Normal:
1) Manajemen Hipertermia (SIKI 2018)
Definisi: Serangkaian tindakan untuk menurunkan suhu tubuh yang meningkat di atas normal.
Aktivitas:
- Identifikasi penyebab hipertermia
- Lakukan tindakan penurunan suhu tubuh secara farmakologis dan non-farmakologis
- Monitor suhu tubuh secara berkala
d. Intervensi untuk Bersihan Jalan Napas Efektif:
1) Manajemen Jalan Napas (SIKI 2018)
Definisi: Serangkaian tindakan untuk mempertahankan dan menjaga jalan napas tetap bersih dan terbuka.
Aktivitas:
- Identifikasi penyebab ketidakefektifan bersihan jalan napas
- Lakukan tindakan untuk meningkatkan bersihan jalan napas (suction, nebulizer, fisioterapi dada)
- Monitor status pernapasan secara berkala
e. Intervensi untuk Pemulihan Energi:
1) Manajemen Kelelahan (SIKI 2018)
Definisi: Serangkaian tindakan untuk meningkatkan dan mempertahankan energi yang optimal.
Aktivitas:
- Identifikasi faktor penyebab kelelahan
- Anjurkan teknik-teknik untuk meningkatkan energi (istirahat, nutrisi adekuat, aktivitas teratur)
- Monitor tanda-tanda kelelahan secara berkala
Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan ini, perawat harus memperhatikan prinsip-prinsip keperawatan, melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, serta melibatkan pasien dan keluarga untuk mencapai hasil yang optimal. -
Article No. 12106 | 11 Feb 2025
Klinis : pasien ingin buang air besar dan buang air kecil
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Inkontinensia Urin
Definisi: Ketidakmampuan untuk menahan urin secara sukarela.
Penyebab: Kelemahan otot sfingter, infeksi saluran kemih, penurunan fungsi kognitif, dan faktor-faktor lainnya.
2. Inkontinensia Fekal
Definisi: Ketidakmampuan untuk menahan feses secara sukarela.
Penyebab: Kelemahan otot sfingter, diare, konstipasi, dan faktor-faktor lainnya.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Inkontinensia Urin
- Pasien dapat mengenali tanda-tanda akan berkemih.
- Pasien dapat menahan urin hingga mencapai toilet.
- Pasien dapat mempertahankan kontinensi urin.
2. Inkontinensia Fekal
- Pasien dapat mengenali tanda-tanda akan buang air besar.
- Pasien dapat menahan feses hingga mencapai toilet.
- Pasien dapat mempertahankan kontinensi feses.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Inkontinensia Urin
- Identifikasi penyebab dan faktor risiko inkontinensia urin.
- Ajarkan teknik latihan otot pelvis (Kegel).
- Atur pola eliminasi urin sesuai jadwal.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (misalnya dokter) untuk pengobatan yang tepat.
- Berikan perawatan kulit yang tepat untuk mencegah iritasi.
- Sediakan alat bantu inkontinensia (misalnya popok, kateter) jika diperlukan.
2. Inkontinensia Fekal
- Identifikasi penyebab dan faktor risiko inkontinensia fekal.
- Ajarkan teknik latihan otot pelvis (Kegel).
- Atur pola eliminasi feses sesuai jadwal.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (misalnya dokter) untuk pengobatan yang tepat.
- Berikan perawatan kulit yang tepat untuk mencegah iritasi.
- Sediakan alat bantu inkontinensia (misalnya popok) jika diperlukan.
Penjelasan rinci:
Pasien dengan keluhan ingin buang air besar dan buang air kecil menunjukkan adanya masalah terkait dengan eliminasi. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah inkontinensia urin dan inkontinensia fekal. Perawat perlu mengidentifikasi penyebab dan faktor risiko untuk masing-masing masalah, lalu menyusun rencana asuhan keperawatan yang komprehensif untuk mencapai luaran yang diharapkan. Intervensi keperawatan yang diberikan harus mencakup edukasi, latihan otot pelvis, pengaturan pola eliminasi, perawatan kulit, dan penggunaan alat bantu inkontinensia jika diperlukan. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain juga penting untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Dengan pendekatan holistik ini, diharapkan pasien dapat mencapai kontinensi urin dan feses serta meningkatkan kualitas hidupnya. -
Article No. 12107 | 11 Feb 2025
Klinis : pasien ingin buang air besar dan buang air kecil
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai perawat profesional, saya akan memberikan rekomendasi berdasarkan standar asuhan keperawatan yang berlaku.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien yang ingin buang air besar dan buang air kecil adalah "Inkontinensia Urin" (SDKI, 2017). Inkontinensia Urin didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk menahan atau mengontrol pengeluaran urin. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kelemahan otot panggul, gangguan neurologis, atau obstruksi saluran kemih.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Pemeliharaan Fungsi Berkemih: Pasien dapat mempertahankan pola berkemih yang normal dan bebas dari infeksi.
b. Pemeliharaan Fungsi Buang Air Besar: Pasien dapat mempertahankan pola defekasi yang normal dan bebas dari konstipasi.
c. Pengendalian Inkontinensia: Pasien dapat mengendalikan dan mengurangi episode inkontinensia urin dan/atau feses.
d. Peningkatan Kebersihan Diri: Pasien dapat mempertahankan kebersihan diri yang optimal dan mencegah komplikasi terkait inkontinensia.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Manajemen Inkontinensia Urin:
- Identifikasi penyebab dan faktor yang memengaruhi inkontinensia urin.
- Ajarkan latihan otot panggul (Kegel) untuk memperkuat otot-otot dasar panggul.
- Terapkan terapi pelembab dan perlindungan kulit untuk mencegah iritasi.
- Gunakan alat bantu inkontinensia (misalnya pembalut, kateter, clamp) sesuai kebutuhan.
- Edukasi tentang manajemen inkontinensia dan pencegahan komplikasi.
b. Manajemen Eliminasi Fekal:
- Identifikasi pola eliminasi fekal dan faktor yang memengaruhinya.
- Terapkan intervensi untuk mengatasi konstipasi, seperti peningkatan asupan cairan dan serat.
- Ajarkan teknik defekasi yang benar dan penggunaan alat bantu jika diperlukan.
- Edukasi tentang manajemen eliminasi fekal dan pencegahan komplikasi.
c. Perawatan Kebersihan Diri:
- Bantu pasien dalam menjaga kebersihan diri, seperti mandi, perawatan kulit, dan ganti pakaian.
- Ajarkan teknik perawatan kulit untuk mencegah iritasi dan lesi akibat inkontinensia.
- Sediakan alat-alat dan bantuan yang diperlukan untuk menjaga kebersihan diri.
- Edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan diri dan pencegahan komplikasi.
Dengan pemahaman yang komprehensif tentang diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi yang diperlukan, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat dan efektif untuk mengatasi masalah inkontinensia urin dan feses pada pasien. -
Article No. 12108 | 11 Feb 2025
Klinis : KASUS DIABETES MELLITUS TIPE II Tn. Y, 68 tahun dirawat di rumah sakit sejak dua hari yang lalu dengan keluhan merasa pusing, mual dan muntah, tidak bisa jalan secara seimbang, dan mengalami peningkatan kadar glukosa darah = 540 mg/dl. Tn. Y telah didiagnosa penyakit DM tipe 2 sejak 6 tahun yang lalu. Tn. Y menyatakan dirumah dia sehari hari makan seperti biasa, dengan menu nasi, lauk pauk dan sesekali dengan sayuran, dan jarang mengkonsumi buah. Tidak membatasi asupan makanan, masih merokok dan minum kopi manis sehari tiga kali, sering mengkonsumsi gorengan seperti ubi, pisang dan bakwan. Tn Y menyatakan lebih banyak diam dirumah sambil menjaga warung, jarang mengikuti kegiatan sosial. Tn Y juga menyatakan jarang pergi ke puskesmas atau klinik untuk memeriksa kadar gula darah, sesekali saja mengkonsumsi obat DM jika dirasa tidak enak badan. Tn Y juga mengaku tidak tahu cara mengatur diet dan hal lain terkait dengan penyakitnya, walau pernah dianjurkan anak nya agar mengurangi merokok dan minum atau makan yang manis. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan: Hb: 12,8 g/dl, Leukosit 10.390/mm, Eritrosit 4,5 jt/mm trombosit 433.000/mm, GD PP 220 mg/dl, TB ; 160 cm, BB 58 kg. Tanda vital: suhu 37 C, frekuensi nadi 89x/menit, frekuensi napas 18x/menit, TD 150/90 mmHg. Hasil pemeriksaan radiologi menunjukkan hipertrofi otot jantung. Jelaskan patofisiologi penyakit pada kasus di atas!
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai kasus Diabetes Mellitus Tipe II pada Tn. Y.
Patofisiologi Penyakit:
Diabetes Mellitus Tipe II adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan efektif, yang disebut resistensi insulin. Resistensi insulin terjadi karena adanya penurunan sensitivitas reseptor insulin di berbagai jaringan tubuh. Hal ini menyebabkan glukosa darah tidak dapat masuk ke dalam sel-sel tubuh untuk digunakan sebagai sumber energi, sehingga terjadi akumulasi glukosa di dalam darah (hiperglikemia). Pada kasus Tn. Y, kondisi ini telah berlangsung selama 6 tahun, di mana pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta merokok dan minum kopi manis secara berlebihan telah menyebabkan peningkatan resistensi insulin. Selain itu, usia Tn. Y yang sudah 68 tahun juga dapat memperburuk kondisi resistensi insulin. Akibatnya, Tn. Y mengalami peningkatan kadar glukosa darah yang sangat tinggi (540 mg/dl), yang dapat menyebabkan komplikasi seperti gangguan kesimbangan, pusing, mual, dan muntah.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Kontrol Glikemik Membaik: Diharapkan setelah mendapatkan asuhan keperawatan, Tn. Y dapat mencapai kontrol glikemik yang lebih baik, dengan nilai glukosa darah yang stabil dan berada dalam rentang normal.
2. Pengetahuan Meningkat: Diharapkan Tn. Y dapat meningkatkan pengetahuannya tentang penyakit Diabetes Mellitus Tipe II, termasuk manajemen diet, aktivitas fisik, dan kepatuhan terhadap pengobatan.
3. Perilaku Perawatan Diri Membaik: Diharapkan Tn. Y dapat menerapkan perilaku perawatan diri yang tepat, seperti mematuhi diet, melakukan aktivitas fisik secara teratur, dan mengkonsumsi obat-obatan sesuai dengan anjuran.
4. Risiko Komplikasi Menurun: Diharapkan setelah mendapatkan asuhan keperawatan, risiko Tn. Y untuk mengalami komplikasi Diabetes Mellitus, seperti gangguan keseimbangan, pusing, mual, dan muntah dapat menurun.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Diabetes: Melakukan edukasi tentang penyakit Diabetes Mellitus Tipe II, pentingnya manajemen diet, aktivitas fisik, dan kepatuhan terhadap pengobatan. Membantu Tn. Y dalam menyusun rencana perawatan diri yang realistis dan dapat diterapkan.
2. Kontrol Glikemik: Melakukan pemantauan glukosa darah secara ketat, membantu Tn. Y dalam mencapai target glikemik yang direkomendasikan, dan melakukan intervensi yang diperlukan untuk menjaga stabilitas kadar glukosa darah.
3. Manajemen Nutrisi: Memberikan edukasi tentang diet yang sesuai untuk Diabetes Mellitus Tipe II, membantu Tn. Y dalam merencanakan menu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kondisinya.
4. Peningkatan Aktivitas Fisik: Mendorong Tn. Y untuk meningkatkan aktivitas fisik secara bertahap, sesuai dengan kemampuannya, dan membantu dalam menyusun rencana aktivitas fisik yang realistis.
5. Manajemen Risiko Komplikasi: Melakukan pengkajian secara komprehensif, mengidentifikasi tanda-tanda awal komplikasi, dan melakukan intervensi yang tepat untuk mencegah atau mengurangi risiko komplikasi.
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan fokus pada pengelolaan Diabetes Mellitus Tipe II, diharapkan Tn. Y dapat mencapai hasil yang optimal, yaitu kontrol glikemik yang membaik, peningkatan pengetahuan dan perilaku perawatan diri, serta penurunan risiko komplikasi.