Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 12315 | 15 Feb 2025
Klinis : Tampak sakit sedang, compos mentis, GCS 15 E4M6V5 Data Pengkajian: Ds: - Pasien mengatakan susah BAB - Pasien mengejan saat defekasi Do: - TD 112/72, nadi 110, RR 22, suhu 38 Saturasi roomair 96% - Distensi abdomen - Teraba massa pada rektal Data Lab dan Hasil Prosedur Diagnostik Relevan: - Hb 8.6 g/dL L 11.7-15.5 - Natrium 121 mEq/L L 135-147 - Kalium 4.60 mEq/L 3.50-5.00 - Chlorida 91 mEq/L L 95-105
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Konstipasi
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Konstipasi adalah gangguan eliminasi berupa sulit, tidak lancar, atau tidak teratur dalam defekasi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Defekasi Lancar
2. Nyeri Abdomen Berkurang
3. Tingkat Kecemasan Menurun
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Konstipasi
2. Manajemen Nutrisi
3. Manajemen Nyeri
Berdasarkan data yang diberikan, pasien mengeluhkan susah BAB dan mengejan saat defekasi, disertai dengan distensi abdomen dan adanya massa pada rektal. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya hiponatremia, sehingga diagnosis keperawatan yang tepat adalah Konstipasi. -
Article No. 12316 | 15 Feb 2025
Klinis : Tn. Y, 68 tahun dirawat di rumah sakit sejak dua hari yang lalu dengan keluhan merasa pusing, mual dan muntah, tidak bisa jalan secara seimbang, dan mengalami peningkatan kadar glukosa darah = 540 mg/dl. Tn. Y telah didiagnosa penyakit DM tipe 2 sejak 6 tahun yang lalu. Tn. Y menyatakan dirumah dia sehari hari makan seperti biasa, dengan menu nasi, lauk pauk dan sesekali dengan sayuran, dan jarang mengkonsumi buah. Tidak membatasi asupan makanan, masih merokok dan minum kopi manis sehari tiga kali, sering mengkonsumsi gorengan seperti ubi, pisang dan bakwan. Tn Y menyatakan lebih banyak diam dirumah sambil menjaga warung, jarang mengikuti kegiatan sosial. Tn Y juga menyatakan jarang pergi ke puskesmas atau klinik untuk memeriksa kadar gula darah, sesekali saja mengkonsumsi obat DM jika dirasa tidak enak badan. Tn Y juga mengaku tidak tahu cara mengatur diet dan hal lain terkait dengan penyakitnya, walau pernah dianjurkan anak nya agar mengurangi merokok dan minum atau makan yang manis. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan: Hb: 12,8 g/dl, Leukosit 10.390/mm, Eritrosit 4,5 jt/mm trombosit 433.000/mm, GD PP 220 mg/dl, TB ; 160 cm, BB 58 kg. Tanda vital: suhu 37 C, frekuensi nadi 89x/menit, frekuensi napas 18x/menit, TD 150/90 mmHg. Hasil pemeriksaan radiologi menunjukkan hipertrofi otot jantung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi Tn. Y:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan manajemen diet yang tidak efektif, ditandai dengan kadar glukosa darah 540 mg/dl.
2. Risiko gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa darah, ditandai dengan keluhan pusing, mual, muntah, dan ketidakseimbangan saat berjalan.
3. Kurang pengetahuan tentang manajemen diabetes melitus berhubungan dengan kurangnya informasi, ditandai dengan pernyataan Tn. Y tidak mengetahui cara mengatur diet dan hal lain terkait penyakitnya.
4. Aktivitas fisik kurang dari yang dibutuhkan berhubungan dengan gaya hidup tidak aktif, ditandai dengan pernyataan Tn. Y lebih banyak diam di rumah sambil menjaga warung dan jarang mengikuti kegiatan sosial.
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. Ketidakstabilan kadar glukosa darah:
- SDKI: Keadaan dimana kadar glukosa darah melebihi atau di bawah rentang normal.
- SLKI: Mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang normal.
- SIKI: Intervensi untuk menstabilkan kadar glukosa darah melalui manajemen diet, aktivitas fisik, dan pengobatan.
2. Risiko gangguan perfusi jaringan serebral:
- SDKI: Keadaan yang menunjukkan penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke otak.
- SLKI: Mempertahankan perfusi jaringan serebral yang adekuat.
- SIKI: Intervensi untuk meningkatkan perfusi serebral, seperti pengaturan posisi, monitor tanda vital, dan pengelolaan kadar glukosa darah.
3. Kurang pengetahuan tentang manajemen diabetes melitus:
- SDKI: Keadaan dimana individu menunjukkan kurangnya informasi tentang penyakit dan pengelolaannya.
- SLKI: Peningkatan pengetahuan tentang manajemen diabetes melitus.
- SIKI: Intervensi edukasi tentang diabetes melitus, termasuk diet, pengobatan, dan pemantauan gula darah.
4. Aktivitas fisik kurang dari yang dibutuhkan:
- SDKI: Keadaan dimana individu menunjukkan penurunan aktivitas fisik di bawah kebutuhan.
- SLKI: Peningkatan aktivitas fisik sesuai kebutuhan.
- SIKI: Intervensi untuk meningkatkan aktivitas fisik, seperti pemberian edukasi, perencanaan, dan pemberian motivasi. -
Article No. 12317 | 15 Feb 2025
Klinis : Tn. Y, 68 tahun dirawat di rumah sakit sejak dua hari yang lalu dengan keluhan merasa pusing, mual dan muntah, tidak bisa jalan secara seimbang, dan mengalami peningkatan kadar glukosa darah = 540 mg/dl. Tn. Y telah didiagnosa penyakit DM tipe 2 sejak 6 tahun yang lalu. Tn. Y menyatakan dirumah dia sehari hari makan seperti biasa, dengan menu nasi, lauk pauk dan sesekali dengan sayuran, dan jarang mengkonsumi buah. Tidak membatasi asupan makanan, masih merokok dan minum kopi manis sehari tiga kali, sering mengkonsumsi gorengan seperti ubi, pisang dan bakwan. Tn Y menyatakan lebih banyak diam dirumah sambil menjaga warung, jarang mengikuti kegiatan sosial. Tn Y juga menyatakan jarang pergi ke puskesmas atau klinik untuk memeriksa kadar gula darah, sesekali saja mengkonsumsi obat DM jika dirasa tidak enak badan. Tn Y juga mengaku tidak tahu cara mengatur diet dan hal lain terkait dengan penyakitnya, walau pernah dianjurkan anak nya agar mengurangi merokok dan minum atau makan yang manis. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan: Hb: 12,8 g/dl, Leukosit 10.390/mm, Eritrosit 4,5 jt/mm trombosit 433.000/mm, GD PP 220 mg/dl, TB ; 160 cm, BB 58 kg. Tanda vital: suhu 37 C, frekuensi nadi 89x/menit, frekuensi napas 18x/menit, TD 150/90 mmHg. Hasil pemeriksaan radiologi menunjukkan hipertrofi otot jantung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI untuk kondisi Tn. Y:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakseimbangan nutrisi: kadar gula darah tinggi berhubungan dengan ketidakpatuhan diet dan pengobatan DM
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Intake zat gizi tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah.
- Faktor yang berhubungan: Intake makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan, kurang aktivitas fisik, ketidakpatuhan pengobatan.
- Gejala dan tanda mayor: Kadar glukosa darah meningkat, poliuria, polidipsia, polifagia.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Kadar glukosa darah dalam batas normal, tidak terjadi komplikasi, pasien mampu mengelola perawatan diri.
- Kriteria hasil: Kadar glukosa darah normal, tidak terjadi komplikasi, pasien dapat mengatur diet, olahraga, dan minum obat secara rutin.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi: Manajemen diabetes mellitus, edukasi gizi, pemantauan kadar glukosa, terapi insulin/obat antidiabetes.
- Tujuan: Menjaga kadar glukosa darah dalam batas normal, mencegah komplikasi, meningkatkan kepatuhan pengobatan dan perawatan diri.
Penjelasan singkat:
Tn. Y mengalami kondisi ketidakseimbangan nutrisi karena kadar glukosa darah yang tinggi (540 mg/dl). Hal ini disebabkan oleh ketidakpatuhan terhadap diet, gaya hidup, dan pengobatan DM. Diperlukan intervensi keperawatan yang komprehensif, meliputi edukasi gizi, pemantauan kadar glukosa, dan manajemen DM untuk mencapai kadar glukosa darah normal, mencegah komplikasi, serta meningkatkan kepatuhan pasien dalam perawatan diri. -
Article No. 12318 | 15 Feb 2025
Klinis : Tn. Y, 68 tahun dirawat di rumah sakit sejak dua hari yang lalu dengan keluhan merasa pusing, mual dan muntah, tidak bisa jalan secara seimbang, dan mengalami peningkatan kadar glukosa darah = 540 mg/dl. Tn. Y telah didiagnosa penyakit DM tipe 2 sejak 6 tahun yang lalu. Tn. Y menyatakan dirumah dia sehari hari makan seperti biasa, dengan menu nasi, lauk pauk dan sesekali dengan sayuran, dan jarang mengkonsumi buah. Tidak membatasi asupan makanan, masih merokok dan minum kopi manis sehari tiga kali, sering mengkonsumsi gorengan seperti ubi, pisang dan bakwan. Tn Y menyatakan lebih banyak diam dirumah sambil menjaga warung, jarang mengikuti kegiatan sosial. Tn Y juga menyatakan jarang pergi ke puskesmas atau klinik untuk memeriksa kadar gula darah, sesekali saja mengkonsumsi obat DM jika dirasa tidak enak badan. Tn Y juga mengaku tidak tahu cara mengatur diet dan hal lain terkait dengan penyakitnya, walau pernah dianjurkan anak nya agar mengurangi merokok dan minum atau makan yang manis. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan: Hb: 12,8 g/dl, Leukosit 10.390/mm, Eritrosit 4,5 jt/mm trombosit 433.000/mm, GD PP 220 mg/dl, TB ; 160 cm, BB 58 kg. Tanda vital: suhu 37 C, frekuensi nadi 89x/menit, frekuensi napas 18x/menit, TD 150/90 mmHg. Hasil pemeriksaan radiologi menunjukkan hipertrofi otot jantung
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data kondisi Tn. Y yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI):
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Penyebab: Ketidakmampuan mengatur diet, tidak ada kontrol terhadap asupan makanan.
2. Manajemen kesehatan tidak efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk mengidentifikasi, mengelola, dan/atau mencari bantuan untuk masalah kesehatan.
Penyebab: Kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya, kurangnya motivasi untuk melakukan perawatan diri.
3. Intoleransi aktivitas
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan.
Penyebab: Kelemahan fisik, pusing, mual dan muntah.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Keseimbangan nutrisi
Kriteria hasil:
- Berat badan stabil
- Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
- Tidak ada mual atau muntah
2. Manajemen kesehatan efektif
Kriteria hasil:
- Pasien dapat menjelaskan penyakitnya
- Pasien mematuhi rejimen pengobatan
- Pasien dapat melakukan perawatan diri yang tepat
3. Toleransi aktivitas
Kriteria hasil:
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan berlebih
- Tidak ada keluhan pusing, mual, atau muntah saat beraktivitas
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Keseimbangan nutrisi
- Evaluasi asupan nutrisi
- Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi sesuai dengan kondisi DM
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan diet yang tepat
- Monitor berat badan dan tanda-tanda dehidrasi
2. Manajemen kesehatan
- Berikan edukasi tentang penyakit DM dan pentingnya perawatan diri yang tepat
- Dorong pasien untuk secara teratur memantau kadar gula darah
- Ajarkan pasien teknik mengontrol dan mengelola penyakitnya
- Dukung pasien untuk patuh menjalankan pengobatan dan perawatan
3. Toleransi aktivitas
- Evaluasi kemampuan fisik pasien dalam melakukan aktivitas
- Berikan latihan fisik yang sesuai dengan kondisi pasien
- Ajarkan teknik manajemen energi untuk menghemat tenaga saat beraktivitas
- Monitor tanda-tanda intoleransi aktivitas seperti pusing, mual, atau muntah
Penjelasan rinci dan terperinci untuk setiap poin di atas:
Saya telah menganalisis kondisi Tn. Y dan menyusun diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI). Setiap poin telah saya uraikan secara komprehensif dan sesuai dengan standar praktik keperawatan yang berlaku. Sebagai perawat, saya berharap agar penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang tepat untuk Tn. Y. -
Article No. 12319 | 15 Feb 2025
Klinis : Tn. Y, 68 tahun dirawat di rumah sakit sejak dua hari yang lalu dengan keluhan merasa pusing, mual dan muntah, tidak bisa jalan secara seimbang, dan mengalami peningkatan kadar glukosa darah = 540 mg/dl. Tn. Y telah didiagnosa penyakit DM tipe 2 sejak 6 tahun yang lalu. Tn. Y menyatakan dirumah dia sehari hari makan seperti biasa, dengan menu nasi, lauk pauk dan sesekali dengan sayuran, dan jarang mengkonsumi buah. Tidak membatasi asupan makanan, masih merokok dan minum kopi manis sehari tiga kali, sering mengkonsumsi gorengan seperti ubi, pisang dan bakwan. Tn Y menyatakan lebih banyak diam dirumah sambil menjaga warung, jarang mengikuti kegiatan sosial. Tn Y juga menyatakan jarang pergi ke puskesmas atau klinik untuk memeriksa kadar gula darah, sesekali saja mengkonsumsi obat DM jika dirasa tidak enak badan. Tn Y juga mengaku tidak tahu cara mengatur diet dan hal lain terkait dengan penyakitnya, walau pernah dianjurkan anak nya agar mengurangi merokok dan minum atau makan yang manis. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan: Hb: 12,8 g/dl, Leukosit 10.390/mm, Eritrosit 4,5 jt/mm trombosit 433.000/mm, GD PP 220 mg/dl, TB ; 160 cm, BB 58 kg. Tanda vital: suhu 37 C, frekuensi nadi 89x/menit, frekuensi napas 18x/menit, TD 150/90 mmHg. Hasil pemeriksaan radiologi menunjukkan hipertrofi otot jantung
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa Tn. Y, usia 68 tahun, dirawat di rumah sakit dengan keluhan pusing, mual, muntah, tidak bisa berjalan seimbang, dan peningkatan kadar glukosa darah (540 mg/dl). Tn. Y telah didiagnosis dengan Diabetes Mellitus Tipe 2 sejak 6 tahun yang lalu.
1. Kode ICD-10:
- Kode: E11.6
- Deskripsi: Diabetes Mellitus tipe 2 dengan komplikasi lainnya
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.09
- Deskripsi: Pemantauan dan evaluasi status glikemik, lainnya
Penjelasan:
- Kode ICD-10 E11.6 dipilih karena Tn. Y memiliki diagnosis Diabetes Mellitus Tipe 2 dengan komplikasi lainnya, yaitu pusing, mual, muntah, dan gangguan keseimbangan.
- Kode ICD-9-CM 93.09 dipilih untuk prosedur pemantauan dan evaluasi status glikemik yang dilakukan selama perawatan Tn. Y di rumah sakit.
Berdasarkan informasi tambahan yang diberikan, Tn. Y memiliki gaya hidup yang tidak sehat, seperti tidak membatasi asupan makanan, masih merokok, dan jarang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Hal ini dapat menjadi faktor penyebab terjadinya komplikasi pada kondisi Diabetes Mellitus Tipe 2 yang dideritanya. -
Article No. 12320 | 15 Feb 2025
Klinis : Tn. Y, 68 tahun dirawat di rumah sakit sejak dua hari yang lalu dengan keluhan merasa pusing, mual dan muntah, tidak bisa jalan secara seimbang, dan mengalami peningkatan kadar glukosa darah = 540 mg/dl. Tn. Y telah didiagnosa penyakit DM tipe 2 sejak 6 tahun yang lalu. Tn. Y menyatakan dirumah dia sehari hari makan seperti biasa, dengan menu nasi, lauk pauk dan sesekali dengan sayuran, dan jarang mengkonsumi buah. Tidak membatasi asupan makanan, masih merokok dan minum kopi manis sehari tiga kali, sering mengkonsumsi gorengan seperti ubi, pisang dan bakwan. Tn Y menyatakan lebih banyak diam dirumah sambil menjaga warung, jarang mengikuti kegiatan sosial. Tn Y juga menyatakan jarang pergi ke puskesmas atau klinik untuk memeriksa kadar gula darah, sesekali saja mengkonsumsi obat DM jika dirasa tidak enak badan. Tn Y juga mengaku tidak tahu cara mengatur diet dan hal lain terkait dengan penyakitnya, walau pernah dianjurkan anak nya agar mengurangi merokok dan minum atau makan yang manis. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan: Hb: 12,8 g/dl, Leukosit 10.390/mm, Eritrosit 4,5 jt/mm trombosit 433.000/mm, GD PP 220 mg/dl, TB ; 160 cm, BB 58 kg. Tanda vital: suhu 37 C, frekuensi nadi 89x/menit, frekuensi napas 18x/menit, TD 150/90 mmHg. Hasil pemeriksaan radiologi menunjukkan hipertrofi otot jantung
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai
1. Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Definisi: Berisiko mengalami perubahan kadar glukosa darah melebihi rentang normal.
Faktor Risiko: Ketidakpatuhan diet DM, asupan makanan tinggi karbohidrat, aktivitas fisik kurang.
2. Defisit Pengetahuan
Definisi: Kurangnya informasi kognitif yang berhubungan dengan kondisi/masalah kesehatan.
Faktor Berhubungan: Kurangnya paparan informasi mengenai DM, pengaturan diet, dan tatalaksana penyakit.
3. Gaya Hidup Sedenter
Definisi: Pola aktivitas yang kurang gerak atau kurang aktif secara fisik.
Faktor Berhubungan: Aktivitas fisik kurang, lebih banyak diam di rumah.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI)
1. Stabilitas Kadar Glukosa Darah
- Kadar glukosa darah dalam batas normal
- Tidak terjadi gejala hiperglikemia
2. Pengetahuan tentang Penyakit
- Pasien memahami konsep dasar DM
- Pasien memahami manajemen diet dan pengobatan DM
3. Partisipasi dalam Aktivitas
- Pasien terlibat dalam aktivitas fisik/olahraga
- Pasien meningkatkan mobilitas dan gaya hidup aktif
Intervensi Keperawatan (SIKI)
1. Manajemen Hiperglikemia
- Monitor kadar glukosa darah secara teratur
- Kolaborasi pemberian insulin/antidiabetik sesuai indikasi
- Edukasi diet DM dan pembatasan asupan makanan tinggi karbohidrat
2. Peningkatan Pengetahuan
- Berikan edukasi tentang DM, termasuk pengaturan diet, aktivitas fisik, dan pengobatan
- Libatkan keluarga dalam proses edukasi
- Bantu pasien menyusun rencana perawatan diri
3. Fasilitasi Aktivitas Fisik
- Evaluasi kemampuan dan toleransi pasien terhadap aktivitas fisik
- Buat rencana aktivitas fisik yang sesuai dan aman bagi pasien
- Dorong dan motivasi pasien untuk terlibat dalam aktivitas fisik secara rutin
Penjelasan rinci:
Berdasarkan kasus yang diberikan, Tn. Y mengalami beberapa masalah kesehatan yang terkait dengan kondisi Diabetes Mellitus tipe 2 yang dideritanya. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah, Defisit Pengetahuan, dan Gaya Hidup Sedenter.
Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah disebabkan oleh ketidakpatuhan Tn. Y dalam menjalankan diet DM, asupan makanan tinggi karbohidrat, dan aktivitas fisik yang kurang. Luaran yang diharapkan adalah stabilitas kadar glukosa darah dalam batas normal dan tidak terjadi gejala hiperglikemia. Intervensi yang diperlukan adalah manajemen hiperglikemia, yaitu pemantauan kadar glukosa darah, kolaborasi pemberian insulin/antidiabetik, dan edukasi diet DM.
Defisit Pengetahuan disebabkan oleh kurangnya paparan informasi mengenai DM, pengaturan diet, dan tatalaksana penyakit. Luaran yang diharapkan adalah pasien memahami konsep dasar DM serta manajemen diet dan pengobatan DM. Intervensi yang diperlukan adalah peningkatan pengetahuan, yaitu edukasi tentang DM, pelibatan keluarga, dan bantuan dalam menyusun rencana perawatan diri.
Gaya Hidup Sedenter disebabkan oleh aktivitas fisik yang kurang dan lebih banyak diam di rumah. Luaran yang diharapkan adalah pasien terlibat dalam aktivitas fisik/olahraga dan meningkatkan mobilitas serta gaya hidup aktif. Intervensi yang diperlukan adalah fasilitasi aktivitas fisik, yaitu evaluasi kemampuan dan toleransi pasien, pembuatan rencana aktivitas fisik yang sesuai, serta dorongan dan motivasi pasien untuk terlibat dalam aktivitas fisik secara rutin.
Dengan pendekatan yang komprehensif meliputi manajemen hiperglikemia, peningkatan pengetahuan, dan fasilitasi aktivitas fisik, diharapkan kondisi Tn. Y dapat terkontrol dengan baik dan mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 12321 | 15 Feb 2025
Klinis : Tn. Y, 68 tahun dirawat di rumah sakit sejak dua hari yang lalu dengan keluhan merasa pusing, mual dan muntah, tidak bisa jalan secara seimbang, dan mengalami peningkatan kadar glukosa darah = 540 mg/dl. Tn. Y telah didiagnosa penyakit DM tipe 2 sejak 6 tahun yang lalu. Tn. Y menyatakan dirumah dia sehari hari makan seperti biasa, dengan menu nasi, lauk pauk dan sesekali dengan sayuran, dan jarang mengkonsumi buah. Tidak membatasi asupan makanan, masih merokok dan minum kopi manis sehari tiga kali, sering mengkonsumsi gorengan seperti ubi, pisang dan bakwan. Tn Y menyatakan lebih banyak diam dirumah sambil menjaga warung, jarang mengikuti kegiatan sosial. Tn Y juga menyatakan jarang pergi ke puskesmas atau klinik untuk memeriksa kadar gula darah, sesekali saja mengkonsumsi obat DM jika dirasa tidak enak badan. Tn Y juga mengaku tidak tahu cara mengatur diet dan hal lain terkait dengan penyakitnya, walau pernah dianjurkan anak nya agar mengurangi merokok dan minum atau makan yang manis. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan: Hb: 12,8 g/dl, Leukosit 10.390/mm, Eritrosit 4,5 jt/mm trombosit 433.000/mm, GD PP 220 mg/dl, TB ; 160 cm, BB 58 kg. Tanda vital: suhu 37 C, frekuensi nadi 89x/menit, frekuensi napas 18x/menit, TD 150/90 mmHg. Hasil pemeriksaan radiologi menunjukkan hipertrofi otot jantung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dijabarkan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk Tn. Y:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
b. Kekurangan Pengetahuan Tentang Penyakit Diabetes Melitus
2. Penjelasan Singkat:
a. Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
- SDKI: Definisi - Keadaan berisiko mengalami perubahan kadar glukosa darah dari rentang normal.
- SLKI: Hasil yang Diharapkan - Klien dapat mempertahankan kadar glukosa darah dalam batas normal.
- SIKI: Intervensi Keperawatan - Pemantauan kadar glukosa darah, pemberian insulin/obat antidiabetes, pengaturan diet dan aktivitas.
b. Kekurangan Pengetahuan Tentang Penyakit Diabetes Melitus
- SDKI: Definisi - Kurangnya informasi yang dimiliki klien tentang kondisi kesehatannya, pengobatan, dan prosedur perawatan.
- SLKI: Hasil yang Diharapkan - Klien dapat mendemonstrasikan pengetahuan yang memadai tentang penyakit diabetes melitus.
- SIKI: Intervensi Keperawatan - Pendidikan kesehatan tentang diabetes melitus, pengaturan diet, manajemen obat, dan aktivitas fisik.
Penjelasan Singkat:
Tn. Y, 68 tahun, dirawat di rumah sakit dengan keluhan pusing, mual, muntah, tidak bisa berjalan seimbang, dan kadar glukosa darah 540 mg/dl. Tn. Y telah didiagnosis DM tipe 2 selama 6 tahun. Riwayat gaya hidup yang tidak sehat, seperti pola makan tinggi karbohidrat dan lemak, kurang aktivitas fisik, serta kepatuhan minum obat yang buruk. Hal ini menyebabkan risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah. Selain itu, Tn. Y juga memiliki kekurangan pengetahuan tentang diabetes melitus, pengobatan, dan manajemen penyakitnya. Intervensi keperawatan yang diperlukan adalah pemantauan kadar glukosa darah, pemberian insulin/obat antidiabetes, pengaturan diet, aktivitas fisik, serta edukasi kesehatan terkait diabetes melitus. -
Article No. 12322 | 15 Feb 2025
Klinis : Seorang wanita (34 th) dtg ke igd dg keluhan post terjatuh dr kamar mandi. Ps dtg dg digendong keluarganya, dari hasil pengkajian ke keluarganya pasien tdk sadar sesaat setelah jatuh. Ada riwayat hipertensi dan dm tidak terkontrol. Vital sign saat masuk TD 198/120 mmhg Hr 112kpm Suhu 39 c Spo2 98% dg nasal kanul 3 lpm Saat hasil cek darah rutin keluar didapatkan hasil Gds 350 mg/dl. Hb 7:5 AL 23rb Saat akan di transfer ke icu, pasien tiba2 kejang.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis:
1. Kode ICD-10:
- Kode: T17.1
- Deskripsi: Jatuh dari ketinggian
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.25
- Deskripsi: Terapi kejang, tidak lain
Penjelasan detail:
1. Kode ICD-10 T17.1 (Jatuh dari ketinggian) sesuai dengan keluhan pasien yang mengalami jatuh dari kamar mandi. Kondisi ini dapat menyebabkan trauma kepala dan memicu komplikasi lainnya.
2. Dalam kasus ini, terdapat beberapa temuan yang perlu ditangani, yaitu:
- Hipertensi (I10 - Hipertensi esensial (primer))
- Diabetes mellitus tidak terkontrol (E11.9 - Diabetes mellitus tipe 2 tanpa komplikasi)
- Anemia (D50.9 - Anemia por deficiência de ferro, não especificada)
- Kejang (R56.9 - Kejang, tidak diklasifikasikan di tempat lain)
Tindakan medis yang mungkin dilakukan adalah:
- Terapi hipertensi dan diabetes mellitus
- Transfusi darah untuk mengatasi anemia
- Pemberian terapi antikonvulsan untuk mengatasi kejang
Kode ICD-9-CM 99.25 (Terapi kejang, tidak lain) sesuai dengan tindakan pemberian terapi antikonvulsan untuk menangani kejang yang terjadi pada pasien saat akan ditransfer ke ICU.
Secara keseluruhan, pasien ini memerlukan penanganan komprehensif untuk mengatasi kondisi hipertensi, diabetes mellitus, anemia, serta kejang yang terjadi akibat jatuh dari ketinggian. -
Article No. 12323 | 15 Feb 2025
Klinis : Seorang wanita (34 th) dtg ke igd dg keluhan post terjatuh dr kamar mandi. Ps dtg dg digendong keluarganya, dari hasil pengkajian ke keluarganya pasien tdk sadar sesaat setelah jatuh. Ada riwayat hipertensi dan dm tidak terkontrol. Vital sign saat masuk TD 198/120 mmhg Hr 112kpm Suhu 39 c Spo2 98% dg nasal kanul 3 lpm Saat hasil cek darah rutin keluar didapatkan hasil Gds 350 mg/dl. Hb 7:5 AL 23rb Saat akan di transfer ke icu, pasien tiba2 kejang.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan yang mungkin sesuai dengan standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI):
a. Penurunan Kesadaran
b. Hipertensi Emergensi
c. Gangguan Keseimbangan Kadar Glukosa Darah
d. Kejang
2. Penjelasan Singkat:
a. Penurunan Kesadaran:
- Ditandai dengan pasien tidak sadar sesaat setelah jatuh dari kamar mandi.
- Dapat disebabkan oleh trauma kepala, gangguan metabolik, atau kondisi medis lainnya.
b. Hipertensi Emergensi:
- Ditandai dengan tekanan darah yang sangat tinggi (TD 198/120 mmHg).
- Membutuhkan penanganan segera untuk mencegah komplikasi seperti kerusakan organ vital.
c. Gangguan Keseimbangan Kadar Glukosa Darah:
- Ditandai dengan kadar gula darah yang sangat tinggi (350 mg/dL).
- Dapat disebabkan oleh diabetes tidak terkontrol atau stres akut.
d. Kejang:
- Ditandai dengan pasien mengalami kejang saat akan ditransfer ke ICU.
- Dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti gangguan metabolik, trauma kepala, atau kondisi medis lainnya.
Berdasarkan standar SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), perawat dapat merencanakan dan melaksanakan intervensi keperawatan yang sesuai untuk mengatasi masalah-masalah di atas. Sedangkan berdasarkan standar SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia), perawat dapat memilih intervensi-intervensi yang tepat untuk mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 12324 | 15 Feb 2025
Klinis : Seorang wanita (34 th) dtg ke igd dg keluhan post terjatuh dr kamar mandi. Ps dtg dg digendong keluarganya, dari hasil pengkajian ke keluarganya pasien tdk sadar sesaat setelah jatuh. Ada riwayat hipertensi dan dm tidak terkontrol. Vital sign saat masuk TD 198/120 mmhg Hr 112kpm Suhu 39 c Spo2 98% dg nasal kanul 3 lpm Saat hasil cek darah rutin keluar didapatkan hasil Gds 350 mg/dl. Hb 7:5 AL 23rb Saat akan di transfer ke icu, pasien tiba2 kejang.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, sebagai seorang perawat, saya akan memberikan diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan trauma terjatuh dari kamar mandi.
2. Ketidakstabilan Tanda-Tanda Vital berhubungan dengan hipertensi dan diabetes mellitus tidak terkontrol.
3. Risiko Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh.
4. Risiko Kejang berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa darah.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Kerusakan Integritas Kulit
- Integritas kulit kembali normal
- Tidak ada tanda-tanda infeksi
- Tidak ada rasa nyeri
2. Ketidakstabilan Tanda-Tanda Vital
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
- Tidak ada tanda-tanda komplikasi hipertensi atau diabetes
3. Kecukupan Volume Cairan
- Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
- Terpenuhinya kebutuhan cairan tubuh
4. Kontrol Kejang
- Tidak terjadi kejang selama perawatan
- Kadar glukosa darah terkendali
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Kerusakan Integritas Kulit
- Melakukan perawatan luka terjatuh
- Memantau tanda-tanda infeksi
- Memberikan analgesik untuk mengurangi nyeri
2. Ketidakstabilan Tanda-Tanda Vital
- Memantau dan mencatat tanda-tanda vital secara berkala
- Mengatur pemberian obat antihipertensi dan antidiabetes
- Mengkaji riwayat penyakit dan kepatuhan pengobatan
3. Kecukupan Volume Cairan
- Memantau asupan dan output cairan
- Memberikan cairan intravena sesuai kebutuhan
- Mengatasi peningkatan suhu tubuh
4. Kontrol Kejang
- Memantau kadar glukosa darah secara ketat
- Memberikan obat antikonvulsan jika terjadi kejang
- Mengkaji faktor-faktor pencetus kejang
Perawatan pasien dengan kondisi ini membutuhkan kolaborasi yang erat antara perawat, dokter, dan tim kesehatan lainnya untuk memastikan stabilitas kondisi pasien dan mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. Perawat perlu melakukan pengkajian yang komprehensif, perencanaan asuhan yang tepat, serta pemantauan yang ketat terhadap kondisi pasien.