Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 12430 | 17 Feb 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan mata merah, terasa perih saat terkenan angin, air sudah dua hari
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan:
Ketidakefektifan pola tidur
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Pola tidur yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan istirahat individu.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Tidur yang adekuat
- Fungsi fisiologis yang optimal
- Fungsi psikologis yang optimal
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen lingkungan: Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk tidur
- Manajemen nyeri: Berikan analgesik/kompres dingin untuk mengurangi nyeri mata
- Edukasi: Ajarkan pasien tentang pola tidur yang baik dan cara mengatasi masalah tidur
Dalam kondisi pasien dengan keluhan mata merah, terasa perih saat terkena angin, dan air mata yang berlebih selama 2 hari, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Ketidakefektifan pola tidur. Hal ini karena kondisi mata yang tidak nyaman dapat mengganggu tidur pasien.
Pendekatan saya dalam memberikan penjelasan ini adalah akademis dan sebagai pakar dalam bidang keperawatan, dengan nada yang profesional dan berorientasi pada penyelesaian masalah pasien. -
Article No. 12431 | 17 Feb 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan mata merah, terasa perih
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
Kerusakan Integritas Kulit Mukosa
Definisi:
Kerusakan pada lapisan kulit atau membran mukosa yang menyebabkan perubahan fungsi normal.
Faktor Terkait:
- Iritasi (mata merah, perih)
Karakteristik Mayor:
- Perubahan warna kulit/membran mukosa
- Nyeri/rasa tidak nyaman
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Observasi
- Identifikasi tanda dan gejala kerusakan integritas kulit mukosa
- Pantau perubahan warna, tekstur, dan kelembaban kulit/membran mukosa
2. Terapeutik
- Lakukan perawatan kulit/membran mukosa sesuai kebutuhan
- Berikan obat tetes mata/salep sesuai resep
3. Edukasi
- Jelaskan penyebab dan proses terjadinya kerusakan integritas kulit mukosa
- Ajarkan cara perawatan kulit/membran mukosa yang tepat
Luaran Keperawatan (SLKI):
1. Integritas Kulit Mukosa
- Kriteria hasil: Tidak ada perubahan warna, tekstur, dan kelembaban kulit/membran mukosa
2. Kontrol Nyeri
- Kriteria hasil: Pasien menyatakan nyeri/rasa tidak nyaman berkurang
Dokumentasi Keperawatan (SDKI):
1. Kerusakan Integritas Kulit Mukosa
- Definisi: Kerusakan pada lapisan kulit atau membran mukosa yang menyebabkan perubahan fungsi normal.
- Etiologi: Iritasi
- Gejala Mayor: Perubahan warna kulit/membran mukosa, Nyeri/rasa tidak nyaman
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memahami diagnosa keperawatan dan standar PPNI terkait kondisi yang Anda deskripsikan. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan tanyakan. -
Article No. 12432 | 17 Feb 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan mata merah, mata terasa perih
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien yang datang dengan keluhan mata merah dan mata terasa perih.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Infeksi Mata
- Penjelasan: Pasien memiliki risiko mengalami infeksi mata, ditandai dengan gejala mata merah dan perih. Infeksi mata dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti bakteri, virus, atau iritasi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Kontrol Infeksi
- Kriteria Hasil: Tidak terjadi infeksi pada mata pasien.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Infeksi
- Intervensi Keperawatan:
a. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan mata pasien.
b. Anjurkan pasien untuk tidak menyentuh atau menggosok mata secara berlebihan.
c. Bersihkan mata dengan cairan steril atau kompres hangat.
d. Berikan salep atau tetes mata sesuai resep dokter.
e. Ajarkan pasien untuk menjaga kebersihan mata dan menghindari kontak dengan benda yang dapat menginfeksi mata.
Dengan pendekatan ini, diharapkan perawat dapat membantu pasien dalam mengatasi risiko infeksi mata dan memantau perkembangan kondisi mata pasien selama proses perawatan. -
Article No. 12433 | 17 Feb 2025
Klinis : Mulut terasa pahit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Perubahan Rasa dan Bau
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Perubahan Rasa dan Bau adalah keadaan di mana individu mengalami perubahan pada persepsi rasa dan/atau bau yang tidak seperti biasanya.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Mempertahankan Rasa dan Bau Normal
2. Meningkatkan Kemampuan Mengenali Rasa dan Bau
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Edukasi Tentang Perubahan Rasa dan Bau
2. Manajemen Hipogeusia/Ageusia
3. Manajemen Disgeusia
Penjelasan singkat:
Pada kondisi mulut terasa pahit, pasien mengalami perubahan rasa (disgeusia) di mana terdapat perubahan rasa yang tidak normal pada lidah atau mulut. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah memberikan edukasi tentang perubahan rasa dan bau, manajemen hipogeusia/ageusia (penurunan/hilangnya indera pengecap), serta manajemen disgeusia (perubahan rasa) untuk membantu pasien mengatasi keluhan tersebut. -
Article No. 12434 | 17 Feb 2025
Klinis : Mulut terasa pahit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai seorang perawat profesional, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi "Mulut terasa pahit":
Diagnosa Keperawatan:
Perubahan Rasa Pengecapan
Definisi:
Perubahan atau distorsi dalam persepsi rasa yang biasanya normal.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Karakteristik Definisi: Mulut terasa pahit, tidak ada rasa manis, asam, asin, atau umami.
- Faktor Berhubungan: Efek samping obat, infeksi mulut, gangguan persyarafan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran Keperawatan: Pemulihan Rasa Pengecapan
- Kriteria Hasil: Pasien melaporkan pemulihan rasa pengecapan yang normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Perubahan Rasa Pengecapan
- Aktivitas Keperawatan: Identifikasi penyebab perubahan rasa, edukasi pasien tentang pemeliharaan kebersihan mulut, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan penyebab.
Jadi, dalam kasus ini, perawat akan mengidentifikasi penyebab perubahan rasa pengecapan menjadi pahit, kemudian memberikan edukasi kepada pasien tentang pentingnya menjaga kebersihan mulut. Perawat juga akan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, seperti dokter, untuk menangani penyebab mendasar dari perubahan rasa tersebut. -
Article No. 12435 | 17 Feb 2025
Klinis : manajemen jalan napas
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat professional, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci terkait diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI) pada kondisi manajemen jalan napas.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi manajemen jalan napas adalah "Gangguan pertukaran gas". Diagnosa ini mencerminkan adanya ketidakmampuan pasien untuk mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon dioksida yang optimal di dalam paru-paru. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti obstruksi jalan napas, kelemahan otot pernapasan, atau penyakit paru-paru. Diagnosa ini memfokuskan intervensi keperawatan pada upaya menjaga dan mempertahankan fungsi pernapasan yang optimal pada pasien.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah pemberian asuhan keperawatan yang komprehensif, luaran/output yang diharapkan adalah:
1. Status pernapasan membaik: Pasien menunjukkan peningkatan frekuensi napas, volume tidal, dan saturasi oksigen yang optimal.
2. Jalan napas terbuka dan bebas dari obstruksi: Pasien dapat bernapas dengan lancar tanpa adanya hambatan atau sumbatan pada jalan napas.
3. Tidak terjadi komplikasi terkait gangguan pertukaran gas: Pasien tidak mengalami komplikasi, seperti hipoksemia, hiperkapnia, atau kegagalan napas.
4. Pasien dan keluarga memahami manajemen jalan napas yang tepat: Pasien dan keluarga memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan tindakan yang sesuai dalam menjaga fungsi pernapasan yang optimal.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
1. Pemantauan status pernapasan: Melakukan pemantauan rutin terhadap tanda-tanda vital, seperti frekuensi napas, kedalaman napas, dan saturasi oksigen, serta mengobservasi pola pernapasan pasien.
2. Manajemen jalan napas: Melakukan tindakan untuk mempertahankan jalan napas terbuka, seperti memberikan posisi semifowler, melakukan suction jika diperlukan, dan memastikan kebebasan dari obstruksi.
3. Terapi oksigen: Memberikan terapi oksigen sesuai dengan kebutuhan pasien untuk mempertahankan saturasi oksigen yang optimal.
4. Rehabilitasi pernapasan: Melakukan latihan pernapasan, seperti teknik pernapasan diafragma, untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot pernapasan.
5. Edukasi dan konseling: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai manajemen jalan napas yang tepat, termasuk penggunaan alat bantu pernapasan jika diperlukan, serta tindakan yang harus dilakukan saat terjadi perburukan.
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif dan terarah, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output yang diharapkan, yaitu status pernapasan yang membaik, jalan napas yang terbuka dan bebas dari obstruksi, tidak terjadi komplikasi terkait gangguan pertukaran gas, serta pasien dan keluarga memahami manajemen jalan napas yang tepat. -
Article No. 12437 | 17 Feb 2025
Klinis : Ny. E usia 27 tahun usia mengeluh nyeri berdenyut di area perut skala nyeri 5 sedang, P 6 A 0, post SC, menstruasi pertama usia 13 tahun, siklus lancar lamanya 1 minggu, suhu 35, nadi 62, pernapasan 23, fekanan darah 140/60, lama perkawinan 15 tahun, ada bekas SC diperut, ada streachmark, tinggi fundus uteri post partum 2 jari, konsistensi perut lembek, kandung kemih kosong terpasang kateter
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai perawat profesional, saya akan memberikan analisis yang rinci untuk kondisi Ny. E berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI).
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
1. Nyeri akut: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti itu (International Association for the Study of Pain). Indikasi: Ny. E mengeluh nyeri berdenyut di area perut dengan skala nyeri 5 (sedang).
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Nyeri Terkontrol
- Indikator: Pasien melaporkan penurunan skala nyeri, pasien menunjukkan ekspresi wajah relaks, pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa hambatan.
- Target: Skala nyeri menurun menjadi 2 (ringan) dalam 2-3 hari.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Nyeri
- Kaji nyeri secara komprehensif, meliputi karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor pencetus nyeri.
- Berikan analgesik sesuai resep, jika perlu.
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti relaksasi, distraksi, kompres hangat/dingin.
- Kolaborasi dengan dokter untuk manajemen nyeri yang optimal.
2. Perawatan Luka Pembedahan
- Observasi luka operasi dan tanda-tanda infeksi.
- Lakukan perawatan luka sesuai prosedur.
- Ajarkan pasien dan keluarga cara perawatan luka.
3. Pemantauan Tanda-Tanda Vital
- Pantau tanda-tanda vital secara teratur.
- Identifikasi adanya perubahan pada tanda-tanda vital.
- Kolaborasi dengan dokter untuk intervensi lebih lanjut, jika diperlukan.
Penjelasan:
Ny. E, usia 27 tahun, mengalami nyeri berdenyut di area perut dengan skala nyeri 5 (sedang) setelah menjalani operasi sesar (SC). Berdasarkan data yang diberikan, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Nyeri Akut. Luaran yang diharapkan adalah Nyeri Terkontrol, dengan target penurunan skala nyeri menjadi 2 (ringan) dalam 2-3 hari. Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi Manajemen Nyeri, Perawatan Luka Pembedahan, dan Pemantauan Tanda-Tanda Vital untuk mencapai tujuan tersebut. -
Article No. 12438 | 17 Feb 2025
Klinis : Ny. E usia 27 tahun usia mengeluh nyeri berdenyut di area perut skala nyeri 5 sedang, melahirkan ke 6, post SC, menstruasi pertama usia 13 tahun, siklus lancar lamanya 1 minggu, suhu 35, nadi 62, pernapasan 23, fekanan darah 140/60, lama perkawinan 15 tahun, ada bekas SC diperut, ada streachmark, tinggi fundus uteri post partum 2 jari, konsistensi perut lembek, kandung kemih kosong terpasang kateter
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi Ny. E:
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses pembedahan (post SC)
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah seperti itu.
- Faktor yang berhubungan: Prosedur pembedahan (post SC)
2. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan (post SC)
- Definisi: Rentan mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat mengganggu kesehatan.
- Faktor yang berhubungan: Prosedur pembedahan (post SC)
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses pembedahan (post SC):
- Pasien melaporkan penurunan tingkat nyeri.
- Pasien mendemonstrasikan teknik manajemen nyeri yang efektif.
- Pasien menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal.
2. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan (post SC):
- Pasien menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal.
- Pasien bebas dari tanda-tanda infeksi.
- Pasien mampu merawat luka bedah dengan benar.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses pembedahan (post SC):
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
- Berikan analgesik sesuai indikasi.
- Anjurkan pasien menggunakan teknik manajemen nyeri non-farmakologis, seperti distraksi, relaksasi, atau kompres hangat/dingin.
- Monitor tanda-tanda vital secara berkala.
- Evaluasi efektivitas intervensi dan lakukan penyesuaian bila diperlukan.
2. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan (post SC):
- Lakukan perawatan luka bedah secara aseptik.
- Pantau tanda-tanda infeksi, seperti peningkatan suhu, kemerahan, pembengkakan, atau drainase.
- Berikan antibiotik sesuai indikasi.
- Anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan diri dan luka bedah.
- Edukasikan pasien dan keluarga tentang perawatan luka bedah dan tanda-tanda infeksi.
- Evaluasi perkembangan luka bedah dan efektivitas intervensi.
Penjelasan:
Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi Ny. E adalah Nyeri akut berhubungan dengan proses pembedahan (post SC) dan Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan (post SC). Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat melaporkan penurunan tingkat nyeri, menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal, dan bebas dari tanda-tanda infeksi. Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi pengkajian nyeri, pemberian analgesik, penggunaan teknik manajemen nyeri non-farmakologis, perawatan luka bedah secara aseptik, pemberian antibiotik, serta edukasi dan evaluasi yang berkelanjutan. -
Article No. 12439 | 17 Feb 2025
Klinis : Asuhan Keperawatan pada Pre dan Post OREF
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat terkait standar SDKI-SLKI-SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi asuhan keperawatan pada pasien pre dan post OREF (Orthopaedic Rehabilitation Exercise Facility).
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Ketidakstabilan Hemodinamik
Pasien yang menjalani pre dan post OREF berisiko mengalami ketidakstabilan hemodinamik seperti perubahan tekanan darah, denyut nadi, dan tingkat oksigenasi. Hal ini disebabkan oleh respons fisiologis tubuh terhadap aktivitas fisik yang dilakukan.
2. Keterbatasan Mobilitas Fisik
Pasien yang menjalani pre dan post OREF mengalami keterbatasan dalam melakukan pergerakan dan aktivitas fisik akibat kondisi muskuloskeletal yang terganggu. Ini dapat menyebabkan penurunan kekuatan, rentang gerak, dan koordinasi.
3. Risiko Cedera
Pasien pre dan post OREF berisiko mengalami cedera selama menjalani program rehabilitasi, terutama pada area yang mengalami gangguan muskuloskeletal. Pemantauan dan manajemen yang tepat diperlukan untuk meminimalkan risiko.
4. Defisit Perawatan Diri
Pasien pre dan post OREF dapat mengalami penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas perawatan diri seperti mandi, berpakaian, dan berpindah, yang disebabkan oleh keterbatasan mobilitas fisik.
Berdasarkan standar SDKI-SLKI-SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) digunakan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan dan kebutuhan pasien.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) digunakan untuk merumuskan tujuan dan hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) digunakan untuk menentukan tindakan keperawatan yang diperlukan untuk mencapai luaran yang diharapkan.
Penggunaan standar SDKI-SLKI-SIKI ini membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, terukur, dan sesuai dengan praktik keperawatan berbasis bukti. -
Article No. 12440 | 17 Feb 2025
Klinis : Sesak nafas, batuk, badan terasa panas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi sesak napas, batuk, dan badan terasa panas.
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
2. Hipertermia
Definisi: Suhu tubuh di atas kisaran normal karena kegagalan mekanisme pengaturan suhu.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Karakteristik: Napas cuping hidung, napas cuping mulut, perubahan frekuensi napas, perubahan kedalaman napas, perubahan irama napas, suara napas abnormal, batuk tidak efektif, sputum berlebihan
- Faktor Risiko: Penyakit pernapasan, infeksi saluran napas, kelelahan otot pernapasan, obstruksi jalan napas
2. Hipertermia
- Karakteristik: Suhu tubuh meningkat di atas 37,8°C, kulit terasa panas, kulit kemerahan, menggigil
- Faktor Risiko: Infeksi, dehidrasi, peningkatan metabolisme, gangguan sistem regulasi suhu
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Bersihan Jalan Napas Efektif
- Kriteria Hasil: Jalan napas terbuka, frekuensi napas dalam batas normal, pergerakan dada simetris, suara napas normal, tidak ada sputum yang tertahan, batuk efektif
2. Suhu Tubuh dalam Rentang Normal
- Kriteria Hasil: Suhu tubuh dalam rentang 36,5-37,5°C, kulit dalam suhu normal, tidak ada tanda-tanda peningkatan suhu
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Jalan Napas
- Intervensi: Auskultasi suara napas, observasi frekuensi dan pola napas, posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi, berikan oksigen sesuai kebutuhan, lakukan suction jika perlu
2. Manajemen Demam
- Intervensi: Ukur suhu tubuh secara teratur, lakukan kompres hangat/dingin untuk menurunkan suhu, observasi tanda-tanda peningkatan suhu, berikan obat antipiretik sesuai indikasi
Dalam kondisi sesak napas, batuk, dan badan terasa panas, diagnosa keperawatan yang muncul adalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif dan Hipertermia. Perawat harus mengidentifikasi dan menangani masalah ini dengan menggunakan intervensi keperawatan yang sesuai standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia.