Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24037 | 13 Feb 2026
Klinis : Tn. S usia 50 tahun dengan TAVB on TPM akan menjalani pemasangan PPM, ia sudah terpasang tpm sejak 10 tahun yang lalu di tahun 2016. Riwayat dahulu ia merasa lemas, mau pingsan, kurang vit, dan sebelumnya pernah di rawat di icu. selain itu gejala yang dulu ia alami nyeri dibetis, tidak sanggup berjakan, kaki serasa tertarik. ia juga merasakan denyut jantungnya lambat. Riwayat sekarang: kemampuan baterai sudah melampaui batass. saat ini beliau masih bisa mememnuhi kebutuhan dasar manusianya. tapi saat diedukasi untuk diperlihatkan proses ppm yang akan ia lakukan beliau merasa cemas. pasien tidak ada riwayat alergi. ia mengetahui kondisinya dari penjelasan dokter dan perawat, dan ia antusias dan ingin mengetahui kondisi tubuhnya. TTV tekanan darah 161/100 mmHg, heart rate 72 on TPM, respiratory rate 18 x/menit, suhu 36,5 derajat celcius, dan saturasi oksigen 99%.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah perasaan gelisah yang tidak jelas, ketakutan, atau kekhawatiran yang disertai dengan berbagai gejala otonom, yang sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Ansietas teratasi. Ditandai dengan: 1) Mengungkapkan perasaan ansietas berkurang, 2) Mengungkapkan penyebab ansietas, 3) Mengungkapkan kemampuan mengontrol ansietas, 4) Mengungkapkan perasaan tenang, 5) Mengungkapkan kemampuan koping yang positif, 6) Tanda-tanda vital dalam rentang normal, 7) Tidak ada/tidak menunjukkan perilaku gelisah.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen ansietas. Tindakan: 1) Identifikasi tingkat ansietas, 2) Identifikasi penyebab ansietas, 3) Monitor tanda-tanda vital, 4) Monitor perilaku terkait ansietas, 5) Berikan informasi tentang prosedur, pengobatan, dan perawatan, 6) Berikan kesempatan untuk mengungkapkan perasaan, 7) Ajarkan teknik relaksasi, 8) Kolaborasi pemberian terapi farmakologi sesuai indikasi, 9) Fasilitasi dukungan spiritual, 10) Rujuk ke tenaga profesional lain sesuai indikasi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan, dengan onset yang mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Kontrol nyeri. Ditandai dengan: 1) Mengungkapkan nyeri berkurang/hilang, 2) Mengungkapkan penyebab nyeri, 3) Mengungkapkan kemampuan mengontrol nyeri, 4) Menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, 5) Tanda-tanda vital dalam rentang normal, 6) Tidak ada/tidak menunjukkan perilaku nyeri (meringis, menangis, melindungi bagian tubuh), 7) Ekspresi wajah rileks.
Kode SIKI: I.03001
Deskripsi : Manajemen nyeri. Tindakan: 1) Identifikasi lokasi, karakteristik, dan intensitas nyeri, 2) Identifikasi faktor pencetus dan penurun nyeri, 3) Monitor tanda-tanda vital, 4) Monitor respons nonverbal terhadap nyeri, 5) Ajarkan teknik nonfarmakologi (nafas dalam, distraksi, relaksasi), 6) Atur posisi yang nyaman, 7) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi, 8) Evaluasi efektivitas intervensi nyeri, 9) Berikan informasi tentang nyeri dan penanganannya.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0096
Deskripsi Singkat: Intoleransi aktivitas adalah keadaan di mana seseorang mengalami ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk menjalani atau menyelesaikan aktivitas yang diinginkan atau aktivitas kehidupan sehari-hari.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Toleransi aktivitas. Ditandai dengan: 1) Mengungkapkan peningkatan kemampuan melakukan aktivitas, 2) Menunjukkan peningkatan kemampuan melakukan aktivitas, 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal sebelum, selama, dan setelah aktivitas, 4) Tidak mengalami kelelahan yang berlebihan, 5) Tidak mengalami sesak napas, 6) Tidak mengalami nyeri dada, 7) Tidak mengalami pusing.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Manajemen intoleransi aktivitas. Tindakan: 1) Identifikasi faktor penyebab intoleransi aktivitas, 2) Monitor tanda-tanda vital sebelum, selama, dan setelah aktivitas, 3) Monitor respons terhadap aktivitas (kelelahan, sesak, nyeri dada, pusing), 4) Rencanakan aktivitas bertahap sesuai toleransi, 5) Ajarkan teknik menghemat energi, 6) Bantu aktivitas sesuai kebutuhan, 7) Berikan lingkungan yang aman dan nyaman, 8) Kolaborasi pemberian oksigen sesuai indikasi, 9) Anjurkan istirahat yang cukup.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Risiko infeksi adalah keadaan di mana seseorang rentan mengalami invasi oleh patogen yang dapat menimbulkan bahaya.
Kode SLKI: L.11001
Deskripsi : Pencegahan infeksi. Ditandai dengan: 1) Tidak menunjukkan tanda dan gejala infeksi (demam, kemerahan, bengkak, nyeri, pus), 2) Menunjukkan perilaku mencegah infeksi (cuci tangan, perawatan luka), 3) Nilai laboratorium dalam rentang normal (leukosit), 4) Tanda-tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.11001
Deskripsi : Pencegahan infeksi. Tindakan: 1) Identifikasi faktor risiko infeksi, 2) Monitor tanda dan gejala infeksi, 3) Monitor tanda-tanda vital, 4) Monitor hasil laboratorium (leukosit), 5) Lakukan cuci tangan, 6) Lakukan perawatan luka/insersi alat invasif secara aseptik, 7) Ajarkan cara mencegah infeksi, 8) Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis sesuai indikasi, 9) Anjurkan asupan nutrisi yang adekuat.
-
Article No. 24038 | 13 Feb 2026
Klinis : Tn. S usia 50 tahun dengan TAVB on TPM akan menjalani pemasangan PPM, ia sudah terpasang tpm sejak 10 tahun yang lalu di tahun 2016. saat ini beliau masih bisa mememnuhi kebutuhan dasar manusianya. tapi saat diedukasi untuk diperlihatkan proses ppm yang akan ia lakukan beliau merasa cemas. pasien tidak ada riwayat alergi. ia mengetahui kondisinya dari penjelasan dokter dan perawat, dan ia antusias dan ingin mengetahui kondisi tubuhnya. TTV tekanan darah 161/100 mmHg, heart rate 72 on TPM, respiratory rate 18 x/menit, suhu 36,5 derajat celcius, dan saturasi oksigen 99%. apa diagnosis aktual/potensial/resiko/kesejahterannya?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0026
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah perasaan tidak nyaman atau takut yang disertai respons otonom (sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan khawatir yang disebabkan oleh antisipasi akan ancaman. Ini adalah sinyal peringatan adanya bahaya yang akan datang yang memungkinkan individu untuk mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman.
Kode SLKI: L.14013
Deskripsi : SLKI L.14013 adalah "Tingkat ansietas menurun". Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Pasien mampu mengidentifikasi tanda dan gejala ansietas. 2) Pasien mampu mengungkapkan perasaan cemas dan penyebabnya. 3) Pasien melaporkan penurunan perasaan cemas. 4) Pasien menunjukkan perilaku yang menunjukkan penurunan ansietas, seperti ekspresi wajah yang lebih rileks, postur tubuh yang tidak tegang, dan mampu beristirahat dengan tenang. 5) Tanda-tanda fisiologis yang berhubungan dengan ansietas (seperti takikardi, hipertensi, pernapasan cepat) berada dalam rentang yang diharapkan untuk pasien. Dalam konteks Tn. S, tujuan utamanya adalah mencapai tingkat ansietas yang dapat dikelola sehingga ia dapat berpartisipasi aktif dalam proses edukasi dan persiapan tindakan pemasangan PPM tanpa diliputi ketakutan berlebihan.
Kode SIKI: I.05229
Deskripsi : SIKI I.05229 adalah "Manajemen Ansietas". Intervensi keperawatan ini meliputi serangkaian tindakan untuk membantu pasien mengenali dan mengelola perasaan cemasnya. Implementasinya pada Tn. S meliputi: 1) Membangun hubungan terapeutik dengan pendekatan empati dan aktif mendengarkan kekhawatirannya. 2) Edukasi terapeutik: Memberikan informasi yang akurat, jelas, dan sesuai tentang prosedur pemasangan PPM, manfaatnya, dan sensasi yang mungkin dirasakan, dengan menggunakan alat bantu visual seperti gambar atau model. Edukasi bertahap ini dapat mengurangi ketakutan akan hal yang tidak diketahui. 3) Teknik relaksasi: Mengajarkan teknik pernapasan dalam (napas dalam dan perlahan) untuk digunakan saat ia merasa cemas, baik selama edukasi maupun menjelang prosedur. 4) Mendorong ekspresi perasaan: Memfasilitasi Tn. S untuk mengungkapkan secara spesifik apa yang membuatnya cemas (misalnya, takut sakit, takut kegagalan alat, atau takut terhadap perubahan gaya hidup). 5) Memanfaatkan dukungan sosial: Melibatkan keluarga dalam proses edukasi dan dukungan emosional. 6) Menciptakan lingkungan yang menenangkan selama interaksi. 7) Memantau tanda-tanda fisiologis ansietas seperti peningkatan tekanan darah (TD 161/100 mmHg dapat dipengaruhi oleh ansietas selain kondisi dasarnya) dan memberikan umpan balik bahwa kondisi tersebut dapat dikelola. Intervensi ini bersifat kolaboratif, menghargai antusiasme dan keingintahuan Tn. S sebagai aset positif dalam proses pembelajaran dan adaptasi.
Kondisi: Kurang Pengetahuan
Kode SDKI: D.0180
Deskripsi Singkat: Kurang pengetahuan adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami defisit dalam pengetahuan kognitif atau keterampilan psikomotor sehubungan dengan kondisi atau rencana pengobatan.
Kode SLKI: L.0817
Deskripsi : SLKI L.0817 adalah "Pengetahuan: Proses Penyakit meningkat". Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Pasien dapat menyebutkan secara akurat tentang penyakit/keadaannya (TAVB), fungsi alat pacu jantung sementara (TPM) dan permanen (PPM), serta alasan perlunya pemasangan PPM. 2) Pasien dapat menjelaskan prosedur pemasangan PPM dan perawatan pasca pemasangan. 3) Pasien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala komplikasi yang perlu dilaporkan. 4) Pasien dapat mendemonstrasikan keterampilan perawatan diri yang diperlukan terkait PPM. Tujuan khusus untuk Tn. S adalah memanfaatkan antusiasme dan keingintahuannya yang tinggi untuk mengubah informasi menjadi pemahaman komprehensif yang dapat mengurangi ansietas dan meningkatkan kepatuhan serta kemandirian dalam perawatan jangka panjang.
Kode SIKI: I.05470
Deskripsi : SIKI I.05470 adalah "Edukasi Proses Penyakit". Intervensi ini dirancang untuk memfasilitasi pemahaman dan adaptasi pasien terhadap proses penyakit dan rencana perawatan. Pada Tn. S, intervensi meliputi: 1) Penilaian pengetahuan awal: Menilai pemahaman Tn. S tentang TAVB, perbedaan TPM dan PPM, serta pengalamannya selama 10 tahun menggunakan TPM. 2) Penyusunan rencana edukasi individual berdasarkan kebutuhan, minat (antusiasme terhadap kondisi tubuhnya), dan kesiapan belajarnya. 3) Pemberian informasi bertahap dan jelas menggunakan bahasa non-teknis, tentang: anatomi dan fisiologi jantung sederhana, apa itu TAVB, kelemahan TPM jangka panjang, keunggulan dan mekanisme kerja PPM, prosedur pemasangan (lokal anestesi, pembuatan kantung kecil di bawah kulit), masa pemulihan, dan aktivitas yang diizinkan/dibatasi. 4) Penggunaan alat bantu edukasi seperti brosur, model jantung, atau video animasi untuk memperjelas penjelasan. 5) Mendorong pertanyaan dan klarifikasi untuk memastikan pemahaman yang akurat. 6) Melibatkan keluarga dalam sesi edukasi jika memungkinkan. 7) Evaluasi pemahaman dengan metode "teach-back", yaitu meminta Tn. S menjelaskan kembali informasi yang telah diberikan dengan kata-katanya sendiri. Edukasi yang komprehensif ini secara langsung dapat menurunkan ansietas dan memberdayakan Tn. S.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Risiko infeksi adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi oleh patogen patogen.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : SLKI L.15001 adalah "Risiko infeksi tidak terjadi". Kriteria hasil yang diharapkan adalah pasien tetap bebas dari tanda dan gejala infeksi, yang ditunjukkan oleh: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal (khususnya suhu tubuh tetap < 38°C). 2) Tidak adanya tanda inflamasi (kemerahan, bengkak, nyeri, panas) pada area pemasangan PPM. 3) Luka operasi bersih, kering, dan menyembuh tanpa discharge purulen. 4) Hasil laboratorium penunjang (seperti leukosit) dalam batas normal. Tujuan ini sangat kritis mengingat tindakan pemasangan PPM merupakan prosedur invasif yang menembus kulit dan menempatkan benda asing (device) di dalam tubuh.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : SIKI I.08001 adalah "Pengendalian Infeksi". Intervensi ini mencakup tindakan untuk meminimalkan risiko masuk dan penularan organisme patogen. Penerapannya pada Tn. S meliputi tindakan pra, intra, dan pasca prosedur: 1) Pra-prosedur: Memastikan kondisi kulit area pemasangan (biasanya infraklavikula) bersih dan utuh. Memberikan edukasi tentang pentingnya kebersihan diri dan teknik cuci tangan. 2) Intra-prosedur (kolaborasi dengan tim dokter): Mempertahankan teknik aseptik ketat selama persiapan lapangan operasi dan selama tindakan. 3) Pasca-prosedur: a) Perawatan luka sesuai protokol dengan balutan steril dan mengganti balutan jika kotor atau basah. b) Memantau tanda-tanda vital secara berkala, terutama suhu tubuh. c) Mengobservasi area insisi setiap hari terhadap tanda infeksi atau iritasi. d) Memberikan edukasi pada Tn. S dan keluarga untuk tidak menyentuh luka secara langsung, menjaga luka tetap kering, dan melaporkan segera jika ada nyeri bertambah, kemerahan, bengkak, atau keluar cairan dari luka. e) Pemberian antibiotik profilaksis sesuai resep dokter. f) Mengajarkan teknik batuk efektif (jika diperlukan) untuk mencegah infeksi pernapasan tanpa memberikan tekanan berlebihan pada luka. Intervensi ini bersifat preventif dan protektif untuk memastikan kesuksesan jangka panjang pemasangan PPM.
-
Article No. 24039 | 13 Feb 2026
Klinis : Kasus Pemicu 1: Seorang pria berusia 63 tahun, di rawat di ruang penyakit dalam hari ke-2 dengan diagnosis medis PPOK eksaserbasi. Hasil pengkajian didapatkan: keluhan sesak napas memberat sejak tiga hari sebelum masuk rumah sakit, batuk berdahak kental dan banyak. Hasil pemeriksaan, pasien terpasang oksigen 3LPM dengan SpO2 96%, frekuensi napas 28x/mnt, frekuensi nadi 92x/mnt, TD 160/90 mmHg, tampak retraksi dinding dada, barrel chest dan jari tabuh, auskultasi didapatkan ronkhi pada kedua lapang paru. Saat ini kebutuhan aktivitas pasien di bantu, karena pasien mengeluhkan sesak bertambah saat aktivitas ringan. Pasien mengeluh bosan karena saat ini adalah perawatan ke 3 kalinya dalam 1 tahun. Hasil Agd saat di IGD pH 7.3 PaCO2 48mmHg, PaO2 80 mmHg, HCO3 24Meq/L dan SaO2 93%. Pasien adalah seorang perokok berat sebanyak satu bungkus perhari sejak berusia 15 tahun. Pasien merupakan seorang pengusaha kretek rumahan dan tinggal di wilayah pertanian tembakau.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan dalam oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pertukaran gas membaik. Ditandai dengan: 1) Nilai analisis gas darah dalam rentang normal; 2) Saturasi oksigen dalam rentang normal; 3) Tidak ada tanda hipoksia/hipoksemia; 4) Tidak ada tanda hiperkapnia; 5) Pernapasan dalam dan teratur; 6) Suara napas bersih.
Kode SIKI: I.04123
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Tindakan: 1) Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas); 2) Auskultasi suara napas; 3) Posisikan untuk memaksimalkan ventilasi (mis., kepala tempat tidur ditinggikan, posisi semi-Fowler/Fowler); 4) Bantu latihan napas dalam dan batuk efektif; 5) Kelola terapi oksigen sesuai program; 6) Lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan; 7) Berikan obat bronkodilator dan lainnya sesuai program; 8) Monitor analisis gas darah dan saturasi oksigen; 9) Ajarkan penggunaan alat bantu napas; 10) Kolaborasi pemberian terapi nebulizer; 11) Lakukan suction jika diindikasikan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Kekurangan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau yang diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Toleransi aktivitas membaik. Ditandai dengan: 1) Mampu melakukan aktivitas sesuai kemampuan; 2) Tanda vital dalam rentang normal saat aktivitas; 3) Tidak mengeluh lelah/lemah; 4) Tidak ada dispnea/nyeri dada saat aktivitas; 5) Kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi.
Kode SIKI: I.09004
Deskripsi : Manajemen energi. Tindakan: 1) Monitor respons pasien terhadap aktivitas (tanda vital, dyspnea, kelelahan); 2) Bantu identifikasi aktivitas yang dapat memicu kelelahan; 3) Ajarkan teknik penghematan energi; 4) Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas; 5) Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai toleransi; 6) Jadwalkan aktivitas bertahap; 7) Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi; 8) Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk beristirahat.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko terhadap invasi patogen.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Risiko infeksi tidak terjadi. Ditandai dengan: 1) Tidak ada tanda-tanda infeksi (demam, kemerahan, drainage pus); 2) Nilai leukosit dalam rentang normal; 3) Hasil kultur negatif; 4) Menerapkan perilaku pencegahan infeksi.
Kode SIKI: I.15098
Deskripsi : Manajemen batuk efektif. Tindakan: 1) Monitor karakteristik batuk (produktif/non-produktif); 2) Auskultasi suara napas; 3) Ajarkan dan bantu teknik batuk efektif; 4) Tingkatkan asupan cairan sesuai toleransi; 5) Berikan posisi yang nyaman untuk batuk; 6) Kelola pemberian obat mukolitik/ekspektoran sesuai program; 7) Lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan; 8) Ajarkan etika batuk; 9) Monitor pengeluaran sputum (warna, jumlah, konsistensi).
Kondisi: Kecemasan
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah yang samar atau tidak menyenangkan karena ancaman yang tidak jelas sumbernya, disertai respons otonom (sumbernya sering tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan khawatir karena antisipasi bahaya. Merupakan sinyal peringatan akan adanya bahaya.
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : Kecemasan teratasi. Ditandai dengan: 1) Ekspresi wajah rileks; 2) Mengungkapkan perasaan cemas berkurang; 3) Perilaku tenang; 4) Tanda vital dalam rentang normal; 5) Dapat beristirahat dengan tenang.
Kode SIKI: I.10014
Deskripsi : Manajemen kecemasan. Tindakan: 1) Identifikasi tingkat dan sumber kecemasan; 2) Dengarkan dengan penuh perhatian; 3) Hadir untuk mendampingi pasien; 4) Ajarkan teknik relaksasi (napas dalam, distraksi); 5) Berikan informasi tentang prosedur dan kondisi penyakit; 6) Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan; 7) Ciptakan lingkungan yang tenang; 8) Bantu pasien mengidentifikasi mekanisme koping yang konstruktif.
-
Article No. 24040 | 13 Feb 2026
Klinis : siki dari Perfusi perifer tidak efektif dari anemia
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Perfusi Perifer Tidak Efektif Akibat Anemia
Kode ICD-10: I99.8
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan kegagalan sistem sirkulasi dalam mengirimkan darah yang cukup ke jaringan perifer (seperti tangan dan kaki) akibat anemia. Anemia, yang ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin atau jumlah sel darah merah, mengurangi kapasitas darah untuk membawa oksigen. Ketika perfusi (aliran darah melalui kapiler) menjadi tidak efektif, jaringan perifer tidak menerima oksigen dan nutrisi yang memadai, mengakibatkan gejala seperti kulit pucat dan dingin, sianosis (kebiruan), klaudikasio (nyeri saat beraktivitas), kesemutan, atau penyembuhan luka yang lambat. Kode I99.8 termasuk dalam bab 'Penyakit pada sistem sirkulasi' dan dikategorikan sebagai 'Gangguan lain pada sistem sirkulasi'. Kode ini digunakan untuk mencatat gangguan peredaran darah yang tidak diklasifikasikan di tempat lain, termasuk disfungsi mikrosirkulasi dan perfusi jaringan yang terkait dengan kondisi sistemik seperti anemia. Penting untuk mencatat anemia yang mendasarinya dengan kode tambahan dari bab 'Penyakit darah dan organ pembentuk darah' (seperti D50-D64) untuk gambaran klinis yang lengkap.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24023 | 12 Feb 2026
Klinis : Wajah merot, tidak bisa menelan TelaahPasien datang dengan keluhan wajah merot sejdak 1 hari ini. Keluhan disertai dengan tidak bisa menelan makanan maupun minuman. Bicara pelo (-), lemas (+), deviasi bibir (+). Nyeri kepala hilang timbul (+). Hipersalivasi (+). Motorik 5555/5555, sensorik dbn. Riwayat Penyakit Dahuluhiperkolesterol OSens CM VAS 7 TD 131/71 HR 81 RR 20 Temp 36.1 SpO2 99% (room air) STATUS LOKALISATA Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut : coated tongue (-), faring hiperemis (-), T1/T1, deviasi ke kanan (+) Leher : TVJ R-2cmHg, lymphadenopathy (-) Thoraks : sp ves (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ 1,2 reg, murmur (-) Abdomen : soepel, NT (-), normoperistaltik, normothympani, H/L tidak teraba, CVA -/-, McBurney (-) Eks : akral hangat, CRT<2, t/v kuat, edem pretibial (-/-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Neurologis Akut (Bell's Palsy / Stroke) dengan Disfagia dan Risiko Aspirasi
Kode SDKI: 0206
Deskripsi Singkat: Risiko Aspirasi
Kode SLKI: 2006
Deskripsi : Pasien bebas dari aspirasi
Kode SIKI: 3401, 3402, 3403, 3404, 3405, 3406, 3407, 3408, 3409, 3410, 3411, 3412, 3413
Deskripsi : Berdasarkan data pasien dengan wajah merot, deviasi bibir, dan ketidakmampuan menelan (disfagia), diagnosis keperawatan utama yang paling relevan dan mengancam jiwa adalah **Risiko Aspirasi (SDKI 0206)**. Aspirasi adalah masuknya sekret, makanan, atau cairan ke dalam trakea dan paru-paru, yang dapat menyebabkan pneumonia aspirasi yang berat. Pada pasien ini, risiko ini sangat tinggi karena adanya **hipersalivasi** (peningkatan produksi air liur) dan **ketidakmampuan menelan** secara total, yang disebabkan oleh paralisis atau kelemahan otot-otot wajah dan faring. Kondisi neurologis akut (diduga Bell's Palsy atau stroke fasial sentral) mengganggu refleks protektif jalan napas, termasuk refleks batuk dan menelan. Meskipun motorik ekstremitas normal (5555) dan tidak ada bicara pelo, ketidakmampuan menelan menunjukkan keterlibatan saraf kranial yang mempersarafi otot-otot faring dan laring. Tujuan keperawatan (SLKI 2006) adalah memastikan pasien bebas dari episode aspirasi, yang diukur dari tidak adanya tanda-tanda distress pernapasan, bunyi napas bersih, dan saturasi oksigen yang terjaga.
Intervensi keperawatan (SIKI) yang harus dilakukan bersifat komprehensif dan preventif:
1. **Memantau tanda-tanda aspirasi (3401):** Pengawasan ketat terhadap frekuensi napas, bunyi napas (ronki, wheezing), saturasi oksigen (SpO2 99% saat ini perlu dipantau terus), dan adanya sianosis.
2. **Memposisikan pasien (3402):** Posisi duduk tegak 90 derajat atau semi-Fowler tinggi selama dan setelah pemberian nutrisi/obat. Saat tidur, posisi kepala ditinggikan 30-45 derajat untuk mencegah refluks dan aspirasi sekret.
3. **Manajemen jalan napas (3403):** Siapkan alat suction di dekat pasien dan lakukan penghisapan sekret oral dan faring secara rutin dan bila diperlukan untuk mengatasi hipersalivasi.
4. **Pemeriksaan refleks menelan (3404):** Sebelum memberikan apapun per oral, perawat harus mengevaluasi refleks menelan, yang pada pasien ini sangat mungkin terganggu atau hilang.
5. **Manajemen nutrisi (3405, 3406, 3407):** Karena pasien tidak bisa menelan, **pemberian nutrisi dan obat harus dihentikan melalui oral**. Kolaborasi segera dengan dokter dan ahli gizi untuk menentukan alternatif pemberian nutrisi, seperti **pemberian melalui NGT (Nasogastric Tube)**. Jika dipasang NGT, pastikan posisi tabung benar sebelum pemberian (3405) dan berikan makanan/formula dengan teknik dan kecepatan yang tepat (3406, 3407).
6. **Pendidikan kesehatan (3408):** Edukasi pasien dan keluarga tentang bahaya aspirasi, pentingnya posisi tubuh, dan alasan mengapa pasien tidak boleh diberi makan/minum melalui mulut untuk sementara.
7. **Manajemen nyeri (3409):** Keluhan nyeri kepala (VAS 7) perlu ditangani karena nyeri dapat meningkatkan stres dan memperburuk kondisi. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep.
8. **Koordinasi dan kolaborasi (3410, 3411):** Kolaborasi dengan tim dokter untuk diagnosis pasti (MRI kepala, dll.) dan terapi medis. Rujuk ke ahli fisioterapi untuk latihan otot wajah dan terapi menelan bila kondisi memungkinkan.
9. **Pemantauan neurologis (3412):** Pantau status neurologis secara berkala (GCS, kekuatan motorik, fungsi saraf kranial) untuk mendeteksi adanya perburukan atau perkembangan gejala.
10. **Pencegahan komplikasi imobilitas (3413):** Meski motorik baik, risiko komplikasi seperti kontraktur otot wajah perlu diantisipasi dengan instruksi latihan pasif/aktif ringan.
Diagnosis ini diprioritaskan karena ancaman langsung terhadap keselamatan jiwa pasien. Penatalaksanaan yang tepat dan cepat dari risiko aspirasi adalah kunci sebelum menangani masalah lainnya seperti gangguan komunikasi verbal atau gangguan citra tubuh akibat wajah merot.
-
Article No. 24024 | 12 Feb 2026
Klinis : Luka dan nyeri di betis TelaahPasien datang dengan keluhan terdapat luka di betis akibat terkena sayatan seng 4 hari yang lalu. Perdarahan aktif (-), bengkak (+) hiperemis (+). Luka berukuran 1x0.5 cm, dengan tepi rata, dasar luka bersih dan kering. Riwayat Penyakit Dahulu- OSens CM VAS 7 TD 131/78 HR 81 RR 20 Temp 36.1 SpO2 99% (room air) STATUS LOKALISATA Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut : coated tongue (-), faring hiperemis (-), T1/T1 Leher : TVJ R-2cmHg, lymphadenopathy (-) Thoraks : sp ves (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ 1,2 reg, murmur (-) Abdomen : soepel, NT (-), normoperistaltik, normothympani, H/L tidak teraba, CVA -/-, McBurney (-) Eks : akral hangat, CRT<2, t/v kuat, edem pretibial (-/-), vulnus punctum di betis kanan 1x0.5 cm
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut dan Risiko Infeksi terkait Luka Punctum di Betis Kanan
Kode SDKI: 0801 - Nyeri Akut
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan akhir yang dapat diantisipasi.
Kode SLKI: 0801 - Kontrol Nyeri
Deskripsi : Tujuan keperawatan adalah agar nyeri pasien dapat teratasi atau terkontrol. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Pasien melaporkan nyeri berkurang atau hilang (skala nyeri menurun, misalnya dari VAS 7 menjadi ≤3). 2) Ekspresi wajah dan perilaku pasien menunjukkan kenyamanan (tidak meringis, gelisah). 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk pasien (TD, HR, RR stabil, tidak meningkat karena nyeri). 4) Pasien mampu menunjukkan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri. 5) Pasien dapat beristirahat dan beraktivitas dengan nyaman. Pada kasus ini, target utama adalah menurunkan skala nyeri (VAS 7) melalui intervensi farmakologis dan non-farmakologis, serta memantau respons fisiologis terhadap nyeri.
Kode SIKI: 0801 - Manajemen Nyeri
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk meringankan atau menghilangkan nyeri. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif (PQRST: Provokasi, Kualitas, Region, Skala, Waktu) dan dokumentasi skala nyeri (VAS 7). 2) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep (misalnya, analgesik oral) dan evaluasi efektivitas serta efek sampingnya 30 menit setelah pemberian. 3) Ajarkan dan bantu teknik non-farmakologis seperti distraksi, relaksasi napas dalam, atau pengalihan perhatian. 4) Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik yang lembut untuk meminimalkan nyeri prosedur. 5) Atur posisi ekstremitas yang nyaman, hindari tekanan pada area luka. 6) Berikan edukasi pada pasien tentang penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan nyeri yang tidak tertahankan. 7) Monitor tanda vital sebelum dan setelah intervensi untuk menilai respons terhadap nyeri. Intervensi ini bertujuan memodulasi persepsi nyeri dan meningkatkan kenyamanan pasien.
Kondisi: Nyeri Akut dan Risiko Infeksi terkait Luka Punctum di Betis Kanan
Kode SDKI: 1106 - Risiko Infeksi
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1106 - Kontrol Infeksi
Deskripsi : Tujuan keperawatan adalah mencegah terjadinya infeksi pada luka. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Luka menunjukkan tanda-tanda penyembuhan tanpa tanda infeksi (hiperemis dan bengkak berkurang, tidak ada pus/drainase purulen, tidak ada bau tidak sedap). 2) Suhu tubuh tetap dalam rentang normal (36-37.2°C). 3) Hasil laboratorium (jika dilakukan) dalam batas normal (leukosit normal). 4) Pasien dan keluarga memahami tanda-tanda infeksi dan langkah pencegahan. 5) Luka tetap bersih dan kering, ukuran menutup. Pada kasus ini, meskipun dasar luka bersih dan kering, adanya riwayat luka sayatan seng 4 hari lalu disertai temuan bengkak (+) dan hiperemis (+) menunjukkan respons inflamasi yang perlu dipantau ketat agar tidak berkembang menjadi infeksi.
Kode SIKI: 1106 - Proteksi Infeksi
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mencegah dan mengurangi risiko infeksi. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Lakukan perawatan luka dengan prinsip steril/aseptik non-touch technique setiap hari atau sesuai protokol. 2) Observasi karakteristik luka secara ketat setiap hari: ukuran, kedalaman, warna jaringan dasar, adanya eksudat, bau, serta tanda inflamasi di sekitarnya (kalor, dolor, rubor, tumor, functio laesa). 3) Monitor tanda-tanda sistemik infeksi seperti peningkatan suhu tubuh, takikardia, dan malaise. 4) Ajarkan dan anjurkan pasien untuk tidak menggaruk atau menyentuh luka dengan tangan kotor. 5) Anjurkan asupan nutrisi yang adekuat, terutama protein dan vitamin C, untuk mendukung penyembuhan jaringan. 6) Kolaborasi pemberian profilaksis tetanus jika status imunisasi tidak lengkap atau tidak diketahui. 7) Edukasi pasien dan keluarga mengenai tanda-tanda infeksi (nyeri bertambah, kemerahan meluas, bengkak, nanah, demam) dan kapan harus segera mencari pertolongan. 8) Pertahankan kebersihan lingkungan dan personal hygiene pasien. Intervensi ini fokus pada memutus rantai infeksi dan meningkatkan pertahanan tubuh pasien.
Kondisi: Nyeri Akut dan Risiko Infeksi terkait Luka Punctum di Betis Kanan
Kode SDKI: 0201 - Kerusakan Integritas Jaringan
Deskripsi Singkat: Gangguan pada epidermis, dermis, atau keduanya.
Kode SLKI: 0201 - Penyembuhan Luka
Deskripsi : Tujuan keperawatan adalah tercapainya penyembuhan luka sesuai waktu yang diharapkan. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Luka menunjukkan progres penyembuhan (ukuran mengecil, terbentuk jaringan granulasi, epitelisasi dari tepi luka). 2) Area sekitar luka utuh, tidak terjadi perluasan kerusakan jaringan. 3) Tidak ada komplikasi seperti infeksi, dehiscence, atau maceration. 4) Pasien memahami dan berpartisipasi dalam perawatan luka di rumah. Pada kasus luka punctum 1x0.5 cm dengan tepi rata dan dasar bersih, targetnya adalah luka menutup sempurna tanpa komplikasi dalam waktu 7-14 hari.
Kode SIKI: 0201 - Perawatan Luka
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk memfasilitasi penyembuhan luka dan mencegah komplikasi. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Kaji luka secara komprehensif: lokasi, ukuran (panjang, lebar, kedalaman), jenis jaringan di dasar luka (granulasi, slough, nekrotik), jumlah dan jenis eksudat, kondisi kulit sekitar. 2) Pilih balutan yang sesuai dengan kondisi luka (misalnya, balutan lembab seperti hydrocolloid atau film transparan untuk luka bersih dan kering seperti ini). 3) Lakukan pembersihan luka dengan larutan antiseptik yang sesuai (misalnya NaCl 0.9%) secara lembut dari area yang paling bersih ke yang kurang bersih. 4) Lakukan debridement minimal jika ada jaringan non-viabel (pada kasus ini tidak diperlukan karena dasar luka bersih). 5) Ganti balutan secara teratur dan setiap kali balutan basah atau kotor. 6) Lindungi kulit sekitar luka dari iritasi cairan luka atau balutan. 7) Anjurkan mobilisasi dengan hati-hati untuk menghindari trauma berulang pada area luka. 8) Edukasi pasien tentang pentingnya menjaga luka tetap bersih dan kering, serta cara mengganti balutan jika diizinkan. Intervensi ini menciptakan lingkungan yang optimal bagi proses regenerasi sel dan penyembuhan luka.
-
Article No. 24025 | 12 Feb 2026
Klinis : Mual muntah, nyeri perut TelaahPasien datang dengan dikeluhkan mual muntah berulang >10x sejak malam, berisi air. Muntah terus menerus hingga pasien lemas, penurunan selera makan (+). Nyeri perut ulu hati (+). Riwayat Penyakit Dahulu- OBB : 30.2 HR 80 RR 20 Temp 36.1 SpO2 99% (room air) STATUS LOKALISATA Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut : coated tongue (-), faring hiperemis (-), T1/T1 Leher : TVJ R-2cmHg, lymphadenopathy (-) Thoraks : sp ves (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ 1,2 reg, murmur (-) Abdomen : soepel, NT (+), normoperistaltik, normothympani, H/L tidak teraba, CVA -/-, McBurney (-) Eks : akral hangat, CRT<2, t/v kuat, edem pretibial (-/-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual Muntah dan Nyeri Perut
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Keseimbangan Cairan
Kode SIKI: I.01290
Deskripsi : Pemantauan Keseimbangan Cairan
Kondisi: Mual Muntah dan Nyeri Perut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Manajemen Nyeri
-
Article No. 24026 | 12 Feb 2026
Klinis : Penurunan kesadaran TelaahPasien datang dibawa keluarga dengan keluhan penurunan kesadaran mendadak sejak sore. Pasien dikeluhkan awalnya tidak nafsu makan, terlihat pucat, lemas serta demam. Demam menggigil sejak sore. Mata cekung (+), bibir kering (+). Mual muntah terus menerus >10x dalam 1 hari ini. Tugor kulit kembali lambat (+). Akral dingin, CRT 3 detik, nadi lemah tidak kuat angkat. Riwayat Penyakit DahuluDM Tipe 2 HT Anemia OGCS : E2M4V2 TD 157/72 HR 80 RR 20 Temp 39.2 SpO2 93% (room air) -> 97% NC 3 lpm STATUS LOKALISATA Mata : CA (+/+), SI (-/-), mata cekung (+/+) Mulut : coated tongue (-), faring hiperemis (-), T1/T1, bibir kering (+/+) Leher : TVJ R-2cmHg, lymphadenopathy (-) Thoraks : sp ves (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ 1,2 reg, murmur (-) Abdomen : soepel, NT (-), normoperistaltik, normothympani, H/L tidak teraba, CVA -/-, McBurney (-) Eks : akral dingin, CRT>2, t/v lemah, edem pretibial (-/-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran dengan Risiko Syok Hipovolemik
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Volume Cairan
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Keseimbangan Cairan
Kode SIKI: 3401, 3402, 3404, 3405, 3406, 3407, 3408, 3410, 3411, 3412, 3413, 3414, 3415, 3416, 3417, 3418, 3419, 3420, 3421, 3422, 3423, 3424, 3425, 3426, 3427, 3428, 3429, 3430, 3431, 3432, 3433, 3434, 3435, 3436, 3437, 3438, 3439, 3440, 3441, 3442, 3443, 3444, 3445, 3446, 3447, 3448, 3449, 3450, 3451, 3452, 3453, 3454, 3455, 3456, 3457, 3458, 3459, 3460, 3461, 3462, 3463, 3464, 3465, 3466, 3467, 3468, 3469, 3470, 3471, 3472, 3473, 3474, 3475, 3476, 3477, 3478, 3479, 3480, 3481, 3482, 3483, 3484, 3485, 3486, 3487, 3488, 3489, 3490, 3491, 3492, 3493, 3494, 3495, 3496, 3497, 3498, 3499, 3500
Deskripsi : Pemantauan Tanda Vital; Pemantauan Status Neurologi; Pemantauan Keseimbangan Cairan; Pemantauan Tanda-tanda Dehidrasi; Pemantauan Tanda-tanda Syok; Pemberian Cairan Intravena; Pengaturan Kecepatan Infus; Pemantauan Respons Terapi Cairan; Perawatan Jalan Napas; Posisi Semi-Fowler; Pemberian Oksigen; Pemantauan Saturasi Oksigen; Perawatan Kulit dan Mukosa; Perawatan Kebersihan Mulut; Pencegahan Infeksi; Kolaborasi Pemeriksaan Laboratorium; Kolaborasi Pemberian Obat; Edukasi Keluarga tentang Kondisi Pasien; Dokumentasi Asuhan Keperawatan.
-
Article No. 24027 | 12 Feb 2026
Klinis : pusing berputar sampai pandangan gelap, lemas Telaahpasien datang dengan keluhan pusing berputar sampai pandangan gelap, keluhan dialami tiba-tiba pagi ini. mual (+) muntah (-). lemas (+) Riwayat Penyakit Dahulu- OKes : CM VAS : 7 TD : 138/87 mmHg HR : 78 x/i RR : 20 x/i T : 36 C SpO2 : 99% on Room Air STATUS LOKALISATA Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut : coated tongue (-), faring hiperemis (-), T1/T1 Leher : TVJ R-2cmHg, lymphadenopathy (-) Thoraks : sp ves (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ 1,2 reg, murmur (-) Abdomen : soepel, NT (-), normoperistaltik, normothympani, H/L tidak teraba, Mcburney sign (-) Eks : akral hangat, CRT<2, t/v kuat, edem pretibial (-/-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera (Jatuh) berhubungan dengan pusing, vertigo, dan lemas
Kode SDKI: 0207
Deskripsi Singkat: Diagnosa keperawatan ini merujuk pada kerentanan seseorang untuk mengalami cedera fisik akibat faktor internal (seperti gangguan keseimbangan, pusing, kelemahan) dan/atau faktor eksternal (lingkungan), yang dapat membahayakan kesehatan. Pada kasus ini, fokusnya adalah pada risiko cedera akibat jatuh yang dipicu oleh gejala pusing berputar (vertigo), pandangan gelap (presinkop), dan kelemahan otot yang dialami pasien secara tiba-tiba. Kombinasi gejala ini sangat mengganggu keseimbangan dan kesadaran posisi tubuh (propriosepsi), sehingga meningkatkan kemungkinan pasien terjatuh saat berusaha berdiri atau berjalan. Tekanan darah yang sedikit meningkat (138/87 mmHg) juga dapat berkontribusi pada sensasi pusing. Risiko ini diperparah oleh onset gejala yang mendadak, yang membuat pasien tidak siap untuk mengantisipasi atau mengkompensasi hilangnya keseimbangan. Tujuan utama perawatan adalah mencegah terjadinya cedera fisik seperti fraktur, memar, atau trauma kepala akibat jatuh.
Kode SLKI: 3401
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah Keselamatan Fisik: Pencegahan Cedera tercapai. Ini berarti setelah dilakukan intervensi keperawatan, pasien mampu mengenali faktor risiko cedera pada dirinya dan lingkungannya, serta mendemonstrasikan perilaku untuk meminimalkan risiko tersebut. Secara spesifik, pasien diharapkan: (1) Dapat mengidentifikasi gejala pusing dan lemas sebagai pemicu potensial untuk jatuh. (2) Meminta bantuan ketika akan bergerak atau berpindah tempat jika merasa pusing atau lemas. (3) Menggunakan teknik atau alat bantu yang diajarkan (seperti berdiri perlahan, berpegangan) untuk menjaga keseimbangan. (4) Lingkungan sekitarnya dimodifikasi untuk mengurangi bahaya jatuh (misalnya, pencahayaan cukup, lantai tidak licin, barang-barang tidak berserakan). (5) Tidak mengalami cedera atau jatuh selama perawatan. Tingkat pencapaian luaran ini dievaluasi dengan skala, mulai dari "Tidak pernah menunjukkan" hingga "Secara konsisten menunjukkan" perilaku pencegahan cedera.
Kode SIKI: 2610
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah Pencegahan Jatuh. Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan proaktif dan edukatif yang komprehensif. Pertama, perawat akan melakukan penilaian risiko jatuh menggunakan skala yang valid (seperti Morse Fall Scale atau Hendrich II Fall Risk Model) dengan mempertimbangkan gejala pusing, lemas, riwayat, dan status fungsional. Kedua, mengelola faktor intrinsik dengan memantau tanda vital (terutama tekanan darah dan nadi), membantu pasien bergerak secara bertahap (duduk di tepi tempat tidur beberapa menit sebelum berdiri), serta mengajarkan teknik mengatasi pusing (seperti fokus pada titik tetap, menghindari gerakan kepala mendadak). Ketiga, memodifikasi lingkungan dengan memastikan tempat tidur dalam posisi rendah dan terkunci, menyimpan barang-barang kebutuhan dalam jangkauan, menjaga lantai tetap kering dan tidak licin, serta memastikan pencahayaan yang memadai terutama di malam hari. Keempat, memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang gejala yang dialami, pentingnya meminta bantuan, dan cara menggunakan bel pemanggil perawat. Kelima, menggunakan alat bantu jika diperlukan, seperti penyangga sisi tempat tidur (bed rail) atau alat bantu jalan, serta memastikan pasien menggunakan alas kaki yang aman dan tidak licin. Seluruh tindakan ini didokumentasikan dan dikomunikasikan dalam tim kesehatan untuk memastikan kesinambungan perawatan dan pengawasan yang ketat terhadap pasien.
-
Article No. 24028 | 12 Feb 2026
Klinis : pasien disfagia, low intake, riwayat hipertensi, hari rawat ke 5, udah terpasang ngt, nyeri di leher skala 7, bb dan nafsu makan turun, ada ronchi di paru kanan, ada dahak hijau kekuningan tapi bisa batuk efektif, pakai nasal canul 2 lpm
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1.1
Deskripsi Singkat: Status dimana individu berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Kebutuhan nutrisi terpenuhi. Kriteria hasil: 1) Asupan makanan dan cairan sesuai dengan kebutuhan. 2) Berat badan stabil atau dalam rentang normal. 3) Nilai laboratorium terkait nutrisi dalam batas normal. 4) Tidak ada tanda tanda malnutrisi (seperti kelemahan, penurunan massa otot, rambut rontok). 5) Menunjukkan pengetahuan tentang pemenuhan kebutuhan nutrisi. Pada pasien ini, SLKI menjadi tujuan yang ingin dicapai, namun kondisi aktual menunjukkan ketidakcapaian terhadap beberapa kriteria ini, seperti berat badan turun dan intake rendah, sehingga memerlukan intervensi keperawatan.
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Tindakan keperawatan: 1) Kaji faktor penyebab intake rendah (disfagia, nyeri). 2) Kolaborasi pemberian nutrisi melalui NGT sesuai program. 3) Monitor toleransi pemberian nutrisi enteral (sisa lambung, distensi, diare). 4) Ukur berat badan secara teratur. 5) Berikan posisi semi fowler atau duduk selama dan setelah pemberian makan/NGT untuk mencegah aspirasi. 6) Lakukan perawatan kebersihan mulut. 7) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan komposisi dan jumlah nutrisi yang diperlukan. 8) Atur lingkungan yang nyaman saat pemberian nutrisi. 9) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi dan tata laksana NGT. Intervensi ini langsung menjawab masalah disfagia dan low intake dengan memanfaatkan NGT yang sudah terpasang untuk memastikan kebutuhan nutrisi dan kalori terpenuhi, mencegah penurunan berat badan lebih lanjut, dan mendukung proses penyembuhan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: B.3.1.1
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau durasi singkat.
Kode SLKI: L.3.1.1
Deskripsi : Kontrol nyeri. Kriteria hasil: 1) Melaporkan nyeri berkurang atau hilang (skala nyeri menurun). 2) Ekspresi wajah rileks. 3) Tanda vital dalam batas normal. 4) Dapat melakukan aktivitas dengan nyaman. 5) Menunjukkan metode non farmakologis untuk mengatasi nyeri. Pada pasien dengan nyeri leher skala 7, tujuan utamanya adalah menurunkan skala nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi (misalnya ≤3), sehingga pasien lebih nyaman dan dapat berpartisipasi dalam terapi lain seperti latihan batuk efektif.
Kode SIKI: I.3.1.1
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan keperawatan: 1) Kaji karakteristik nyeri (P, Q, R, S, T). 2) Ajarkan dan bantu teknik non farmakologis (napas dalam, distraksi, reposisi posisi yang nyaman). 3) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai program (mengingat riwayat hipertensi, pemilihan obat mempertimbangkan efek samping terhadap tekanan darah). 4) Evaluasi efektivitas dan efek samping intervensi nyeri. 5) Monitor tanda vital sebelum dan sesudah intervensi. 6) Berikan lingkungan yang tenang. Nyeri yang tidak terkontrol dapat memperburuk stres, meningkatkan tekanan darah, dan menghambat mobilisasi serta intake nutrisi, sehingga penatalaksanaannya sangat penting.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: B.2.2.3
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: L.2.2.3
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Kriteria hasil: 1) Tidak ada tanda tanda infeksi (demam, kemerahan, pus). 2) Nilai laboratorium (seperti leukosit) dalam batas normal. 3) Melakukan perilaku pencegahan infeksi (cuci tangan, kebersihan diri). 4) Luka (jika ada) menunjukkan proses penyembuhan. 5) Drainase sekret dari jalan napas efektif. Kondisi pasien menunjukkan adanya ronchi dan dahak hijau kekuningan yang mengindikasikan kemungkinan infeksi saluran pernapasan, sehingga SLKI ini menjadi target untuk mencegah penyebaran atau infeksi sekunder.
Kode SIKI: I.2.2.3
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Tindakan keperawatan: 1) Monitor tanda tanda infeksi (suhu, karakter sputum, bunyi napas). 2) Lakukan fisioterapi dada dan bantu batuk efektif untuk mengeluarkan sekret. 3) Pertahankan teknik aseptik dalam perawatan NGT dan kanul nasal. 4) Anjurkan intake cairan yang adekuat (melalui NGT) untuk mengencerkan sekret. 5) Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai hasil kultur dan sensitivitas jika diperlukan. 6) Ajarkan etika batuk dan cuci tangan. 7) Lakukan suction jika diperlukan. Intervensi ini penting karena pasien dengan NGT dan disfagia memiliki risiko aspirasi dan infeksi paru yang lebih tinggi, ditambah dengan temuan fisik yang sudah mengarah pada kemungkinan infeksi.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: B.1.1.2
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan kebersihan jalan napas.
Kode SLKI: L.1.1.2
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif. Kriteria hasil: 1) Bunyi napas vesikuler/tidak ada ronchi/wheezing. 2) Mampu mengeluarkan sekret secara efektif. 3) Tidak dispnea atau sianosis. 4) Nilai gas darah arteri dalam batas normal. 5) Menunjukkan perilaku untuk meningkatkan pengeluaran sekret (batuk efektif, posisi). Meskipun pasien dapat batuk efektif, adanya ronchi dan produksi sputum purulen menunjukkan bahwa bersihan jalan napas masih belum optimal dan memerlukan intervensi untuk mencapai kriteria hasil tersebut.
Kode SIKI: I.1.1.2
Deskripsi : Manajemen Bersihan Jalan Napas. Tindakan keperawatan: 1) Kaji bunyi napas, frekuensi, dan pola pernapasan. 2) Bantu dan ajarkan teknik batuk efektif serta latihan napas dalam. 3) Berikan posisi semi fowler atau fowler tinggi untuk memudahkan ekspansi paru. 4) Lakukan fisioterapi dada (perkusi, vibrasi, postural drainage) jika tidak ada kontraindikasi. 5) Kelola oksigenasi dengan kanul nasal sesuai order. 6) Lakukan suction jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekret. 7) Dorong/atur peningkatan intake cairan melalui NGT untuk mengencerkan sekret. 8) Monitor warna, konsistensi, dan jumlah sputum. Intervensi ini langsung menangani masalah ronchi dan sputum untuk mencegah komplikasi seperti pneumonia dan atelektasis.