Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 12620 | 21 Feb 2025
Klinis : Ny. S, berusia 45 tahun, seorang ibu RT datang ke Poli penyakit dalam dengan keluhan nyeri, bengkak dan kekakuan pada sendi tangan dan kaki. Pasien mengeluh nyeri ringan pada sendi- sendi kecil tangan, terutama jari-jari dan pergelangan tangan. Awalnya nyeri timbul saat beraktivitas, namun keluhan ini dirasakan semakin berat terutama pada pagi hari dengan lam nyeri lebih dari 1 jam dan masih dirasakan saat istirahat. Pasien juga mengeluhkan lemas dan lelah serta demam ringan (suhu berkisar 38°C). Pasien mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Tiga bulan lalu pasien merasakan nyeri ringan pada sendi-sendi kecil tangan, terutama jari-jari dan pergelangan tangan pada pagi hari dengan lama nyeri kurang dari 1 jam. Seiring waktu, nyeri semakin meluas ke sendi lutut, siku, dan bahu. Pasien belum pernah menjalani pengobatan secara rutin dan hanya mengkonsumsi obat pereda nyeri yang dibeli di warung obat. Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan pasien. Hasil pemeriksaan didapatkan TD: 120/80 mmHg, N: 88x/menit, Suhu: 38.2°C. Terdapat pembengkakan dan nyeri tekan pada sendi metacarpophalangeal, pergelangan tangan, lutut, dan siku. Teraba hangat pada sendi yang terkena. Squeeze test (+), Deformitas: swan neck (+), boutonniere (+), deviasi ulnar (+). Hasil pemeriksaan labor Rheumatoid Factor (RF) Positif; ACPA Positif; LED = 50 mm/jam; CRP= 2 mg/L, Fungsi hati dan ginjal dalam batas normal; Skrining Hepatitis B dan C: Negatif, IGRA/Tuberculin Test: Negatif. Hasil pemeriksaan radiologi: Rontgen sendi menunjukkan adanya erosi tulang dan penyempitan celah sendi pada pergelangan tangan dan jari. USG musculoskeletal: memperlihatkan sinovitis aktif dengan peningkatan vaskularisasi. BMD: Menunjukkan osteopenia periarticular. Penatalaksanaan farmakologi: Metotreksat 10 mg/minggu, ibuprofen 400 mg jika nyeri, Prednison 8 mg/hari, Vitamin D dan Kalsium.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai perawat, saya akan memberikan analisis dan rekomendasi berdasarkan kasus yang dipaparkan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Nyeri Kronik berhubungan dengan peradangan sendi, ditandai dengan keluhan nyeri, pembengkakan, dan kekakuan pada sendi.
2. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan keterbatasan gerak sendi, ditandai dengan kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
3. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan kelemahan dan kelelahan, ditandai dengan keluhan lemas dan lelah.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Nyeri Kronik Teratasi:
- Pasien dapat mengenali faktor pencetus nyeri
- Pasien dapat mendemonstrasikan teknik manajemen nyeri yang efektif
- Pasien dapat melaporkan penurunan intensitas nyeri
2. Mobilitas Fisik Meningkat:
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri
- Pasien dapat melakukan rentang gerak sendi tanpa keterbatasan
- Pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan
3. Toleransi Aktivitas Membaik:
- Pasien dapat melakukan aktivitas tanpa mengalami kelemahan dan kelelahan yang berlebihan
- Pasien dapat mempertahankan aktivitas tanpa merasa terganggu
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Nyeri:
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian analgesik yang adekuat
- Ajarkan teknik manajemen nyeri non-farmakologis (relaksasi, kompres hangat/dingin, distraksi)
- Evaluasi efektivitas intervensi dalam menurunkan intensitas nyeri
2. Peningkatan Mobilitas:
- Lakukan pengkajian fungsi dan rentang gerak sendi
- Berikan latihan rentang gerak sendi dan latihan fisik yang sesuai
- Ajarkan pasien dan keluarga teknik latihan yang benar
- Dorong pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari secara bertahap
- Berikan alat bantu mobilitas jika diperlukan
3. Manajemen Kelelahan:
- Lakukan pengkajian faktor-faktor yang memengaruhi toleransi aktivitas
- Berikan edukasi tentang manajemen energi dan pengaturan aktivitas
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk mengatasi faktor yang berkontribusi terhadap kelelahan
- Bantu pasien merencanakan aktivitas harian dengan mempertimbangkan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat
- Evaluasi efektivitas intervensi dalam meningkatkan toleransi aktivitas
Tujuan utama dari asuhan keperawatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan memaksimalkan manajemen gejala, fungsi fisik, dan toleransi aktivitas. Penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain diharapkan dapat membantu pasien mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 12621 | 21 Feb 2025
Klinis : Ny. S, berusia 45 tahun, seorang ibu RT datang ke Poli penyakit dalam dengan keluhan nyeri, bengkak dan kekakuan pada sendi tangan dan kaki. Pasien mengeluh nyeri ringan pada sendi- sendi kecil tangan, terutama jari-jari dan pergelangan tangan. Awalnya nyeri timbul saat beraktivitas, namun keluhan ini dirasakan semakin berat terutama pada pagi hari dengan lam nyeri lebih dari 1 jam dan masih dirasakan saat istirahat. Pasien juga mengeluhkan lemas dan lelah serta demam ringan (suhu berkisar 38°C). Pasien mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Tiga bulan lalu pasien merasakan nyeri ringan pada sendi-sendi kecil tangan, terutama jari-jari dan pergelangan tangan pada pagi hari dengan lama nyeri kurang dari 1 jam. Seiring waktu, nyeri semakin meluas ke sendi lutut, siku, dan bahu. Pasien belum pernah menjalani pengobatan secara rutin dan hanya mengkonsumsi obat pereda nyeri yang dibeli di warung obat. Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan pasien. Hasil pemeriksaan didapatkan TD: 120/80 mmHg, N: 88x/menit, Suhu: 38.2°C. Terdapat pembengkakan dan nyeri tekan pada sendi metacarpophalangeal, pergelangan tangan, lutut, dan siku. Teraba hangat pada sendi yang terkena. Squeeze test (+), Deformitas: swan neck (+), boutonniere (+), deviasi ulnar (+). Hasil pemeriksaan labor Rheumatoid Factor (RF) Positif; ACPA Positif; LED = 50 mm/jam; CRP= 2 mg/L, Fungsi hati dan ginjal dalam batas normal; Skrining Hepatitis B dan C: Negatif, IGRA/Tuberculin Test: Negatif. Hasil pemeriksaan radiologi: Rontgen sendi menunjukkan adanya erosi tulang dan penyempitan celah sendi pada pergelangan tangan dan jari. USG musculoskeletal: memperlihatkan sinovitis aktif dengan peningkatan vaskularisasi. BMD: Menunjukkan osteopenia periarticular. Penatalaksanaan farmakologi: Metotreksat 10 mg/minggu, ibuprofen 400 mg jika nyeri, Prednison 8 mg/hari, Vitamin D dan Kalsium.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa pasien Ny. S mengalami kondisi Rheumatoid Arthritis (RA). Berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Kronik berhubungan dengan proses penyakit Rheumatoid Arthritis
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Nyeri Kronik: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang potensial atau aktual, atau digambarkan dalam istilah-istilah kerusakan tersebut, yang berlangsung lebih dari 3 bulan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Nyeri: Kemampuan pasien dan/atau keluarga dalam mengontrol atau mengurangi nyeri.
2. Mobilitas Sendi: Kemampuan pasien dalam menggerakkan sendi secara optimal.
3. Integritas Jaringan Muskuloskeletal: Kemampuan pasien dalam mempertahankan struktur dan fungsi jaringan muskuloskeletal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Nyeri: Tindakan dalam membantu pasien mengurangi atau mengontrol nyeri.
2. Terapi Gerak: Tindakan dalam mempertahankan atau meningkatkan fungsi sendi dan otot.
3. Perawatan Muskuloskeletal: Tindakan dalam mempertahankan integritas jaringan muskuloskeletal.
Penjelasan singkat:
Pasien Ny. S mengalami nyeri, bengkak, dan kekakuan pada sendi-sendi tangan dan kaki, yang merupakan manifestasi klinis dari Rheumatoid Arthritis (RA). RA adalah penyakit autoimun yang menyerang sendi dan dapat menyebabkan kerusakan struktural dan fungsional sendi. Diagnosis RA ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan laboratorium (RF, ACPA, LED, CRP), dan pemeriksaan radiologi (erosi tulang, penyempitan celah sendi). Penatalaksanaan farmakologis yang diberikan sesuai dengan standar penatalaksanaan RA. -
Article No. 12622 | 21 Feb 2025
Klinis : Pasien post op tumor mammae 3 hari lalu
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan kondisi pasien post op tumor mammae 3 hari lalu dengan tone akademis dan persona pakar/perawat, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menurut SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Infeksi Luka Operasi (SDKI)
- Penjelasan: Pasien pasca operasi tumor mammae memiliki risiko tinggi mengalami infeksi pada luka operasi, sehingga perlu dilakukan pengkajian dan tindakan keperawatan yang tepat untuk mencegah terjadinya infeksi.
Luaran Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Integritas Jaringan (SLKI)
- Penjelasan: Luaran yang diharapkan adalah penyembuhan luka operasi secara optimal, dengan indikator seperti tidak ada tanda-tanda infeksi, tidak ada dehiscence (terpisahnya tepi luka), dan penyembuhan luka yang progresif.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Perawatan Luka Operasi (SIKI)
- Penjelasan: Intervensi yang dilakukan untuk merawat luka operasi, seperti membersihkan luka, mengganti balutan, memantau tanda-tanda infeksi, dan memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai perawatan luka.
2. Manajemen Risiko Infeksi (SIKI)
- Penjelasan: Intervensi untuk mencegah terjadinya infeksi pada luka operasi, seperti memastikan kebersihan lingkungan, cuci tangan, dan penggunaan alat pelindung diri yang tepat oleh perawat.
Catatan:
Diagnosa keperawatan, luaran asuhan keperawatan, dan intervensi keperawatan di atas adalah contoh berdasarkan kondisi pasien post op tumor mammae 3 hari lalu dengan tone akademis dan persona pakar/perawat. Perlu pengkajian lebih lanjut dan penyesuaian dengan kondisi spesifik pasien. -
Article No. 12623 | 21 Feb 2025
Klinis : Pasien post op tumor mammae 3 hari lalu dengan pqrst nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien post-op tumor mammae 3 hari lalu dengan PQRST nyeri.
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Akut
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau dijelaskan dalam istilah tersebut (International Association for the Study of Pain).
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Penyebab: Prosedur pembedahan
- Tanda dan Gejala: Pasien mengeluh nyeri, skala nyeri 4-6, pasien mengeluh nyeri saat bergerak, tampak meringis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Kriteria Hasil: Pasien melaporkan nyeri berkurang, pasien dapat mengenali dan menggunakan teknik manajemen nyeri yang efektif.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi: Manajemen nyeri, pemberian analgesik, terapi relaksasi, kompres hangat/dingin.
Penjelasan Singkat:
Pasien post-op tumor mammae 3 hari lalu mengalami nyeri akut sebagai akibat dari prosedur pembedahan yang dilakukan. Pasien mengeluh nyeri dengan skala 4-6, dan nyeri semakin terasa saat bergerak. Tujuan keperawatan adalah menurunkan nyeri yang dirasakan pasien, dengan menggunakan intervensi seperti manajemen nyeri, pemberian analgesik, terapi relaksasi, dan kompres hangat/dingin. Pasien diharapkan dapat melaporkan nyeri berkurang dan dapat mengenali serta menggunakan teknik manajemen nyeri yang efektif. -
Article No. 12624 | 21 Feb 2025
Klinis : Diagnosa Keperawatan Pasien post-op tumor mammae ( 3 hari lalu ) yang memuat PES
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan Pasien Post-op Tumor Mammae (3 Hari Lalu)
Diagnosa Keperawatan: Risiko Infeksi
PES (Problem, Etiologi, Symptom):
Problem: Risiko Infeksi
Etiologi: Prosedur pembedahan tumor mammae
Symptom: Luka operasi belum sembuh sempurna, adanya kemerahan, pembengkakan, dan rasa nyeri pada area luka
Penjelasan Singkat Berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Infeksi adalah kerentanan untuk mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan:
1. Kondisi luka operasi membaik
2. Tanda-tanda infeksi tidak ditemukan
3. Pasien menunjukkan perilaku pencegahan infeksi
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
1. Perawatan luka: Membersihkan dan mengganti balutan luka secara aseptik
2. Manajemen infeksi: Memantau tanda-tanda infeksi, memberikan obat antibiotik sesuai anjuran dokter
3. Edukasi: Mengajarkan pasien dan keluarga tentang cara perawatan luka dan gejala infeksi
Dengan tone akademis, persona sebagai pakar dan perawat, diagnosa keperawatan ini menggambarkan kondisi pasien post-op tumor mammae dengan risiko infeksi yang perlu mendapatkan perawatan dan pengawasan yang ketat untuk mencegah komplikasi infeksi dan mempercepat proses penyembuhan. -
Article No. 12625 | 21 Feb 2025
Klinis : Diagnosa Keperawatan nyeri Pasien post-op tumor mammae ( 3 hari lalu ) yang memuat PES
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Nyeri Pasien Post-op Tumor Mammae (3 hari lalu):
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (pasca operasi tumor mammae) sebagaimana ditandai dengan keluhan nyeri, ekspresi wajah yang meringis, dan peningkatan tanda-tanda vital.
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Nyeri Akut: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau dijelaskan dalam istilah-istilah tersebut.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Tingkat nyeri terkendali
2. Strategi pengelolaan nyeri efektif
3. Tingkat kecemasan terkendali
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Pengkajian nyeri
2. Manajemen nyeri farmakologis
3. Manajemen nyeri non-farmakologis
4. Pemberian kenyamanan
Dalam konteks ini, pasien post-op tumor mammae (3 hari lalu) mengalami nyeri akut yang berhubungan dengan prosedur pembedahan. Perawat perlu melakukan pengkajian nyeri, manajemen nyeri farmakologis dan non-farmakologis, serta pemberian kenyamanan untuk membantu pasien mengelola nyerinya secara efektif. -
Article No. 12626 | 21 Feb 2025
Klinis : Pasien datang dengan keluhan sesak. sesak dirasakan sudah 2 hari smrs. keluhan disertai mual muntah dan nyeri perut. makan minum tidak dapat masuk sama sekali. penurunan berat badan selama 1 bulan terakhir - rpd : pasien rutin poli di RSI oli paru denganobat
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi pasien tersebut adalah:
1. Diagnosa Keperawatan SDKI:
a. Penurunan Volume Cairan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, mual, dan muntah.
b. Nyeri Akut berhubungan dengan proses penyakit.
c. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Penurunan Volume Cairan:
- Pasien akan mempertahankan volume cairan dalam batas normal.
- Pasien akan menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil.
- Pasien akan melaporkan tidak ada keluhan mual dan muntah.
b. Nyeri Akut:
- Pasien akan melaporkan penurunan nyeri.
- Pasien akan mendemonstrasikan teknik pengelolaan nyeri yang efektif.
- Pasien akan menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil.
c. Intoleransi Aktivitas:
- Pasien akan meningkatkan toleransi terhadap aktivitas.
- Pasien akan menunjukkan peningkatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
- Pasien akan melaporkan peningkatan energi dan tidak merasa kelelahan.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Penurunan Volume Cairan:
- Pantau intake dan output cairan.
- Berikan terapi cairan intravena sesuai kebutuhan.
- Ajarkan pasien teknik penanganan mual dan muntah.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antiemetik.
b. Nyeri Akut:
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgesik.
- Ajarkan pasien teknik pengelolaan nyeri non-farmakologis.
- Monitoring tanda-tanda vital.
c. Intoleransi Aktivitas:
- Lakukan pengkajian toleransi aktivitas pasien.
- Berikan perawatan yang dapat meningkatkan energi pasien.
- Ajarkan pasien dan keluarga teknik aktivitas yang aman dan sesuai kemampuan.
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk intervensi rehabilitasi.
Penjelasan rinci dan terperinci untuk setiap poin di atas:
1. Diagnosa Keperawatan SDKI:
a. Penurunan Volume Cairan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, mual, dan muntah:
Pasien mengalami keluhan sesak, mual, muntah, dan tidak dapat makan minum, yang mengindikasikan adanya penurunan volume cairan dalam tubuh. Kondisi ini dapat disebabkan oleh intake cairan yang tidak adekuat dan kehilangan cairan melalui muntah.
b. Nyeri Akut berhubungan dengan proses penyakit:
Pasien juga mengeluhkan nyeri perut, yang dapat disebabkan oleh proses penyakit yang sedang dialaminya. Nyeri akut perlu ditangani dengan baik untuk mencapai kenyamanan pasien.
c. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik:
Penurunan berat badan selama 1 bulan terakhir dan keluhan sesak yang dirasakan dapat menyebabkan kelemahan fisik pada pasien, sehingga pasien mengalami intoleransi terhadap aktivitas.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Penurunan Volume Cairan:
- Mempertahankan volume cairan dalam batas normal akan memastikan pasien tetap terhidrasi dengan baik dan tidak mengalami komplikasi terkait dehidrasi.
- Stabilnya tanda-tanda vital menunjukkan bahwa keseimbangan cairan tubuh telah tercapai.
- Tidak adanya keluhan mual dan muntah akan memfasilitasi asupan nutrisi dan cairan yang adekuat.
b. Nyeri Akut:
- Penurunan nyeri akan meningkatkan kenyamanan pasien dan memfasilitasi pemulihan.
- Kemampuan pasien dalam mendemonstrasikan teknik pengelolaan nyeri yang efektif akan meningkatkan kontrol pasien terhadap nyerinya.
- Stabilnya tanda-tanda vital menunjukkan penanganan nyeri yang tepat.
c. Intoleransi Aktivitas:
- Peningkatan toleransi terhadap aktivitas akan memfasilitasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
- Peningkatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari menunjukkan perbaikan kondisi fisik pasien.
- Pelaporan peningkatan energi dan tidak merasa kelelahan mengindikasikan bahwa pasien telah mampu beradaptasi dengan baik terhadap aktivitas.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Penurunan Volume Cairan:
- Pemantauan intake dan output cairan diperlukan untuk mengevaluasi keseimbangan cairan pasien.
- Pemberian terapi cairan intravena sesuai kebutuhan akan membantu mengembalikan volume cairan yang hilang.
- Edukasi pasien tentang teknik penanganan mual dan muntah akan membantu pasien mengatasi keluhan tersebut.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antiemetik dapat membantu mengendalikan mual dan muntah.
b. Nyeri Akut:
- Pengkajian nyeri secara komprehensif diperlukan untuk menentukan penanganan yang tepat.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgesik sesuai indikasi akan membantu mengurangi nyeri.
- Edukasi pasien tentang teknik pengelolaan nyeri non-farmakologis akan memfasilitasi partisipasi aktif pasien dalam mengatasi nyerinya.
- Pemantauan tanda-tanda vital diperlukan untuk memastikan efektivitas penanganan nyeri.
c. Intoleransi Aktivitas:
- Pengkajian toleransi aktivitas pasien diperlukan untuk menentukan intervensi yang sesuai.
- Pemberian perawatan yang dapat meningkatkan energi pasien, seperti nutrisi dan terapi oksigen, akan membantu memulihkan kondisi fisik.
- Edukasi pasien dan keluarga tentang teknik aktivitas yang aman dan sesuai kemampuan akan memfasilitasi partisipasi aktif pasien dalam rehabilitasi.
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk intervensi rehabilitasi akan membantu meningkatkan toleransi aktivitas pasien. -
Article No. 12627 | 21 Feb 2025
Klinis : Pasien datang dengan keluhan sesak. sesak dirasakan sudah 2 hari smrs. keluhan disertai mual muntah dan nyeri perut. makan minum tidak dapat masuk sama sekali. penurunan berat badan selama 1 bulan terakhir - rpd : pasien rutin poli di RSI oli paru denganobat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Pertukaran Gas
2. Intoleransi Aktivitas
3. Penurunan Berat Badan
Penjelasan Singkat:
1. Gangguan Pertukaran Gas
- SDKI: Gangguan proses oksigenasi yang menyebabkan ketidakseimbangan antara ventilasi, perfusi, dan/atau difusi.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk mempertahankan/memperbaiki proses oksigenasi, ventilasi, dan pertukaran gas.
- SIKI: Tindakan untuk memfasilitasi oksigenasi dan pertukaran gas yang adekuat.
2. Intoleransi Aktivitas
- SDKI: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan/dibutuhkan akibat keterbatasan fisik dan/atau psikologis.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk meningkatkan toleransi dan kemampuan beraktivitas.
- SIKI: Tindakan untuk memfasilitasi aktivitas dan mobilisasi yang aman dan efektif.
3. Penurunan Berat Badan
- SDKI: Penurunan berat badan yang tidak disengaja akibat asupan nutrisi tidak adekuat.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk memulihkan status nutrisi dan mencegah malnutrisi.
- SIKI: Tindakan untuk mempertahankan/memperbaiki asupan nutrisi dan mencegah penurunan berat badan.
Berdasarkan informasi yang diberikan, pasien datang dengan keluhan sesak napas, mual muntah, nyeri perut, dan tidak dapat makan minum, serta penurunan berat badan dalam satu bulan terakhir. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Gangguan Pertukaran Gas, Intoleransi Aktivitas, dan Penurunan Berat Badan. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah memfasilitasi oksigenasi dan pertukaran gas, meningkatkan toleransi dan kemampuan beraktivitas, serta mempertahankan/memperbaiki asupan nutrisi dan mencegah penurunan berat badan. -
Article No. 12628 | 21 Feb 2025
Klinis : diagnosa hipertensi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai seorang perawat yang berpengalaman, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi hipertensi.
Diagnosa Keperawatan:
Berdasarkan standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi hipertensi adalah:
1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer
Definisi: Ketidakadekuatan aliran darah ke jaringan perifer, yang dapat mengancam kesehatan.
2. Intoleransi Aktivitas
Definisi: Ketidakcukupan energi yang diperlukan untuk mempertahankan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari.
Rencana Asuhan Keperawatan:
Mengacu pada standar SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia), berikut adalah intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
1. Untuk Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer:
- Pemantauan tanda-tanda vital
- Manajemen obat-obatan antihipertensi
- Edukasi gaya hidup sehat (diet, aktivitas fisik, manajemen stres)
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter, ahli gizi, dll.)
2. Untuk Intoleransi Aktivitas:
- Pengkajian toleransi aktivitas
- Perencanaan dan pelaksanaan aktivitas bertahap
- Pemberian nutrisi yang adekuat
- Edukasi manajemen energi dan penjadwalan aktivitas
Dengan melaksanakan intervensi keperawatan yang sesuai, diharapkan klien dengan hipertensi dapat mencapai hasil yang diharapkan, seperti peningkatan perfusi jaringan perifer, peningkatan toleransi aktivitas, dan penurunan tekanan darah ke level yang diinginkan. -
Article No. 12629 | 21 Feb 2025
Klinis : diagnosa hipertensi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis hipertensi, serta kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang terkait jika ada. Mohon diperhatikan format dan penjelasan yang saya berikan dengan nada akademis dan persona sebagai dokter atau perekam medis.
1. Kode ICD-10:
- Kode: I10
- Deskripsi: Hipertensi esensial (primer)
Hipertensi esensial (primer) adalah kondisi medis yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah yang persisten. Kondisi ini merupakan jenis hipertensi yang paling umum, di mana penyebab spesifik tidak dapat diidentifikasi. Kode ICD-10 I10 mencakup semua jenis hipertensi esensial, termasuk hipertensi berat, sedang, dan ringan.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.94
- Deskripsi: Pemantauan tekanan darah berkelanjutan
Tindakan medis yang mungkin dilakukan untuk menangani kondisi hipertensi adalah pemantauan tekanan darah berkelanjutan. Kode ICD-9-CM 93.94 mengacu pada prosedur pemantauan tekanan darah menggunakan perangkat ambulatori atau peralatan lain untuk mendapatkan pola tekanan darah selama periode waktu tertentu. Hal ini dapat membantu dalam mendiagnosis dan memantau perkembangan hipertensi.