Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25747 | 20 May 2026
Klinis : Tn. A, usia 58 tahun, datang ke IGD diantar istrinya dengan keluhan sesak napas sejak 2 hari terakhir. Pasien mengatakan sesak terasa semakin berat terutama saat malam hari dan ketika beraktivitas ringan seperti berjalan ke kamar mandi. Pasien tampak bernapas cepat dan mengatakan dadanya terasa berat. Batuk disertai dahak putih kental juga dirasakan sejak seminggu terakhir. Menurut keluarga, pasien memiliki riwayat merokok kurang lebih 1 bungkus per hari selama 30 tahun dan pernah dirawat sebelumnya karena penyakit paru. Pasien juga sering mengeluh mudah lelah dan sulit tidur akibat sesak napas. Saat tiba di IGD, pasien tampak gelisah, posisi duduk membungkuk sambil memegang dada agar lebih nyaman bernapas. Bibir tampak sedikit kebiruan dan terdengar bunyi mengi saat bernapas. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital diperoleh tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 108 x/menit, frekuensi napas 30 x/menit, suhu 37,2°C, dan saturasi oksigen 89%. Pada pemeriksaan fisik didapatkan penggunaan otot bantu napas dan ekspansi dada tidak maksimal. Pasien mengatakan sulit mengeluarkan dahak dan merasa napasnya pendek. Dokter mendiagnosis pasien mengalami gangguan pernapasan akibat eksaserbasi PPOK. Pasien kemudian diberikan terapi oksigen, nebulizer, dan obat sesuai program medis. Perawat melakukan pemantauan pola napas, mengajarkan teknik napas dalam, serta membantu pasien mendapatkan posisi semifowler agar sesak berkurang.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada kondisi Tn. A, diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data objektif dan subjektif yang menunjukkan adanya akumulasi sekret yang sulit dikeluarkan, batuk produktif dengan dahak putih kental, bunyi napas tambahan (mengi), penggunaan otot bantu napas, dan penurunan saturasi oksigen hingga 89%. Pasien juga melaporkan sesak yang memburuk pada malam hari dan saat aktivitas ringan, serta dadanya terasa berat. Riwayat merokok selama 30 tahun dan diagnosis PPOK memperkuat adanya obstruksi jalan napas akibat penumpukan lendir dan bronkospasme. Ketidakmampuan pasien untuk mengeluarkan dahak secara efektif menyebabkan penumpukan sekret, yang selanjutnya mempersempit lumen bronkus, mengganggu ventilasi, dan menurunkan oksigenasi jaringan. Kondisi ini diperparah dengan posisi duduk membungkuk dan gelisah yang merupakan kompensasi pasien untuk mempertahankan jalan napas tetap terbuka. Tanpa intervensi yang tepat, bersihan jalan napas yang tidak efektif dapat menyebabkan hipoksemia, gagal napas, dan komplikasi lebih lanjut seperti pneumonia aspirasi atau atelektasis.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi: Bersihan Jalan Napas (L.01001) adalah luaran keperawatan yang menggambarkan kemampuan pasien dalam mempertahankan kepatenan jalan napas dan membersihkan sekret secara mandiri. Kriteria hasil yang diharapkan pada Tn. A meliputi: (1) Batuk efektif, ditandai dengan kemampuan mengeluarkan dahak tanpa bantuan dan frekuensi batuk menurun; (2) Produksi sputum berkurang, dengan konsistensi lebih encer dan warna lebih jernih; (3) Bunyi napas tambahan (mengi, ronkhi) menghilang atau berkurang; (4) Frekuensi napas dalam rentang normal (16-20 x/menit) tanpa penggunaan otot bantu napas; (5) Saturasi oksigen ≥95% dengan atau tanpa oksigen tambahan; (6) Pasien melaporkan sesak napas berkurang dan mampu beraktivitas ringan tanpa keluhan; (7) Ekspansi dada simetris dan maksimal. Indikator ini diukur menggunakan skala Likert (1=sangat buruk, 5=sangat baik) dan dievaluasi secara berkala setiap 4-6 jam selama perawatan akut. Target luaran pada pasien PPOK eksaserbasi adalah mencapai skala 4-5 dalam 24-48 jam setelah intervensi. Keberhasilan luaran juga ditandai dengan pasien mampu mendemonstrasikan teknik batuk efektif dan napas dalam secara mandiri, serta tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan seperti sianosis, gelisah, atau penarikan otot bantu napas.
Kode SIKI: I.01006
Deskripsi: Manajemen Jalan Napas (I.01006) adalah intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mempertahankan kepatenan jalan napas dan memfasilitasi pengeluaran sekret pada pasien dengan bersihan jalan napas tidak efektif. Intervensi ini diterapkan pada Tn. A dengan langkah-langkah sistematis sebagai berikut: (1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, irama) dan auskultasi bunyi napas setiap 2-4 jam untuk mendeteksi perubahan; (2) Posisikan pasien semifowler (30-45 derajat) atau posisi duduk dengan bantal penyangga untuk memaksimalkan ekspansi paru dan memudahkan pengeluaran sekret; (3) Ajarkan dan bantu pasien melakukan teknik batuk efektif: tarik napas dalam melalui hidung, tahan 3-5 detik, kemudian batuk kuat dari diafragma sebanyak 2-3 kali; (4) Lakukan fisioterapi dada (clapping dan vibrasi) jika tidak ada kontraindikasi, terutama pada area lobus yang terdengar ronkhi; (5) Berikan oksigen sesuai program dengan target saturasi ≥90% menggunakan nasal kanul atau masker rebreathing; (6) Kolaborasi pemberian nebulizer dengan bronkodilator (misalnya salbutamol) dan mukolitik sesuai resep dokter untuk melebarkan bronkus dan mengencerkan dahak; (7) Anjurkan pasien minum air hangat 1500-2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi untuk mengencerkan sekret; (8) Lakukan suctioning (pengisapan lendir) jika pasien tidak mampu mengeluarkan dahak secara mandiri dan ada tanda obstruksi berat; (9) Edukasi pasien dan keluarga tentang teknik relaksasi napas (pursed-lip breathing) untuk mengurangi sesak dan memperpanjang ekspirasi; (10) Dokumentasikan karakteristik sputum (warna, konsistensi, volume) dan respons pasien terhadap intervensi setiap shift. Intervensi ini dievaluasi setiap 6 jam untuk menilai efektivitas dan disesuaikan dengan kondisi klinis pasien. Perawat juga memonitor efek samping terapi seperti takikardia akibat bronkodilator dan iritasi mukosa akibat suctioning. Tujuan akhir dari manajemen jalan napas adalah memulihkan kepatenan jalan napas, meningkatkan oksigenasi, dan mencegah komplikasi seperti atelektasis atau infeksi sekunder.
-
Article No. 25748 | 20 May 2026
Klinis : Tn. A, usia 58 tahun, datang ke IGD diantar istrinya dengan keluhan sesak napas sejak 2 hari terakhir. Pasien mengatakan sesak terasa semakin berat terutama saat malam hari dan ketika beraktivitas ringan seperti berjalan ke kamar mandi. Pasien tampak bernapas cepat dan mengatakan dadanya terasa berat. Batuk disertai dahak putih kental juga dirasakan sejak seminggu terakhir. Menurut keluarga, pasien memiliki riwayat merokok kurang lebih 1 bungkus per hari selama 30 tahun dan pernah dirawat sebelumnya karena penyakit paru. Pasien juga sering mengeluh mudah lelah dan sulit tidur akibat sesak napas. Saat tiba di IGD, pasien tampak gelisah, posisi duduk membungkuk sambil memegang dada agar lebih nyaman bernapas. Bibir tampak sedikit kebiruan dan terdengar bunyi mengi saat bernapas. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital diperoleh tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 108 x/menit, frekuensi napas 30 x/menit, suhu 37,2°C, dan saturasi oksigen 89%. Pada pemeriksaan fisik didapatkan penggunaan otot bantu napas dan ekspansi dada tidak maksimal. Pasien mengatakan sulit mengeluarkan dahak dan merasa napasnya pendek. Dokter mendiagnosis pasien mengalami gangguan pernapasan akibat eksaserbasi PPOK. Pasien kemudian diberikan terapi oksigen, nebulizer, dan obat sesuai program medis. Perawat melakukan pemantauan pola napas, mengajarkan teknik napas dalam, serta membantu pasien mendapatkan posisi semifowler agar sesak berkurang.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Eksaserbasi Akut PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik)
Kode ICD-10: J44.1
Deskripsi Singkat : Kondisi ini adalah perburukan akut dari penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang ditandai dengan peningkatan sesak napas, batuk produktif, dan perubahan warna/volume dahak. Pada kasus Tn. A, faktor pencetus utama adalah infeksi saluran napas (ditandai dahak putih kental) yang diperburuk oleh riwayat merokok berat (30 tahun, 1 bungkus/hari) dan riwayat perawatan paru sebelumnya. Eksaserbasi ini menyebabkan obstruksi jalan napas berat, penurunan saturasi oksigen (89%), penggunaan otot bantu napas, sianosis bibir, dan takipnea (frekuensi napas 30x/menit). Kode J44.1 secara spesifik merujuk pada PPOK dengan eksaserbasi akut, tidak terspesifikasi, yang mencakup gagal napas akut akibat PPOK. Penanganan meliputi oksigenasi, bronkodilator (nebulizer), dan posisi semifowler untuk mengoptimalkan ventilasi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 25749 | 20 May 2026
Klinis : KASUS POST CRANIOTOMY Tn Z, usia 39 tahun, agama Islam, dirawat di ICU hari ke 2 dengan diagnosa medis: Post Craniotomy ec Epidural Hematoma + Subdural Hematoma a.i Traumatic Brain Injury berat. Pasien mengalami kecelakaan lalu lintas sepeda motor 2 hari sebelum masuk ICU. Pasien tidak menggunakan helm dan mengalami benturan kepala berat di regio temporoparietal kanan. Pasien sempat tidak sadar di lokasi kejadian. Data di IGD didapatkan GCS E2V2M4, muntah proyektil 2 kali, pupil anisokor. CT-Scan kepala menunjukkan: Epidural hematoma temporoparietal kanan, Subdural hematoma akut, Midline shift 8 mm, Edema serebri, BB 70 kg, TB 169 cm. Pasien menjalani tindakan kraniotomi evakuasi hematoma cito. Setelah operasi pasien di transfer ke ICU dengan informasi post operasi kraniotomi ± 6 jam, dengan diagnosa medis Post Craniotomy ec TBI berat, kondisi umum belum stabil, terpasang ETT no. 7.5, batas bibir 22 cm, sudut kanan dan terhubung ke ventilator, CVC vena jugularis interna kanan, arterial line radialis kiri, NGT, Foley catheter, drain subgaleal post operasi. Alasan masuk ICU: penurunan kesadaran pasca trauma kepala berat, perlu monitoring neurologis ketat pasca operasi kraniotomi, memerlukan ventilator mekanik. Obat-obatan yang sedang berjalan: • Norepinephrine 0,05 mcg/kgBB/menit • Propofol 20 mcg/kg/menit • Fentanyl 25 mcg/jam • Mannitol 20% 100 ml/8 jam • Ceftriaxone 2 gram/12 jam • Levetiracetam 500 mg/12 jam Pasien sudah dilakukan: CT-Scan kepala post operasi, pemeriksaan AGD dan darah lengkap. elektrolit serum, dan Gula darah sewaktu. Pasien tidak ada riwayat alergi obat maupun makanan. Persiapan ICU yang dilakukan: Ventilator siap pakai, monitor bedside aktif, syringe pump tersedia, suction berfungsi baik, emergency trolley siap, ICP precaution disiapkan. Hasil pengkajian cepat di dapatkan: pasien tampak sakit berat, tirah baring total, tidak sadar, GCS: E2VtM4 = 6T (Somnolen-sopor), sedasi ringan-moderat, gelisah saat suction. terpasang ETT No. 7.5, posisi ETT di sudut kanan batas 22 cm bibir. fiksasi ETT baik, cuff mengembang, produksi sekret sedang, ekret warna putih kekuningan, refleks batuk lemah, suction dilakukan tiap 2–3 jam, tidak ada sumbatan jalan napas, tidak ada darah aktif dari ETT. Ventilatorterpasang mode SIMV VC + Pressure Support dengan setting: FiO2 : 40%, TV : 450 ml, RR : 16 x/menit, PEEP : 5 cmH2O, PS : 10 cmH2O, I:E Ratio : 1:2. Pencapaian Ventilator: SpO2 : 98%, RR aktual : 18 x/menit, VT ekshalasi : 440–460 ml, MV : 7,2 L/menit, Peak pressure : 18 cmH2O. Pergerakan dada simetris, tidak ada retraksi otot bantu napas, ronkhi halus basal paru kanan, suara napas vesikuler bilateral. pH : 7,38, PaCO2 : 38 mmHg, PaO2 : 110 mmHg, HCO3 : 22 mmol/L, BE : -1, SaO2 : 98%. Hemodinamik: TD : 128/76 mmHg, MAP : 93 mmHg, HR : 96 x/menit, CRT : < 2 detik, Suhu: 37,8 OC, akral hangat, nadi perifer teraba kuat, irama sinus. CPP dipertahankan > 60 mmHg, tidak ada tanda herniasi akut, Pupil kanan: 3 mm, refleks lambat, dan kiri: 2 mm, refleks +, anisokor ringan. Drain subgaleal ± 50 ml/24 jam, warna serosanguinous, tidak ada perdarahan aktif, Kekuatan motorik: ekstremitas kanan : 4/5k, ekstremitas kiri : 3/5, babinski +, oedema ringan di wajah. CVP 8 cmH2O. Intake: 2.400 ml/24 jam, Urine output 1800 ml/24 jam, warna kuning jernih, Balance cairan +350 ml/24 jam, Feeding enteral 20 ml/jam, bising usus (+), tidak ada distensi, Residual lambung < 50 ml, tidak ada perdarahan aktif, Belum BAB sejak operasi. Luka operasi kepala tertutup balutan, balutan bersih, resiko dekubitus tinggi, Braden score : 11, CPOT 2. Terapi pengobatan di ICU: • Norepinephrine 0,05 mcg/kgBB/menit • Propofol 20 mcg/kg/menit • Fentanyl 25 mcg/jam • Mannitol 20%: 100 ml/8 jam • Ceftriaxone 2 gr/12 jam • Levetiracetam 500 mg/12 jam • Omeprazole 40 mg/24 jam Pemeriksaan Laboratorium: • Hb 11,2 g/dL • Leukosi 14.500/uL • Trombosit 250.000/uL • Natrium 148 mmol/L • Kalium 3,8 mmol/L • GDS 156 mg/dL • Ureum 28 mg/dL • Kreatinin 0,9 mg/dLCT Scan post operasi : Kesan evakuasi hematoma baik, midline shift menurun menjadi 3 mm, masih terdapat edema serebri. Foto Thoraks: Kesan Infiltrat minimal basal kanan, posisi ETT baik. Ventilator berfungsi baik, bedsite monitor aktif, syringe pump 4 unit aktif, infus pump berfungsi baik, suction paten, arterial line paten, CVC paten, foley catheter paten, NGT paten, Drain operasi lancar. Pasien tidak ada riwayat hipertensi, DM ataupun epilepsy, tidak ada riwayat operasi sebelumnya, tidak ada riwayat alergi, riwayat merokok aktif ± 1 bungkus/hari. Klien tinggal bersama istri dan 1 anak, klien tulang punggung keluarga, Istri tampak cemas, keluarga sering bertanya mengenai prognosis pasien, keluarga berharap pasien segera sadar. Keluarga meminta pasien diperdengarkan murottal Al-Qur’an, Keluarga rutin berdoa di ruang tunggu ICU.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas meningkat. Definisi: kemampuan mempertahankan jalan napas yang paten dan membersihkan sekret secara efektif. Kriteria hasil yang diharapkan: Produksi sputum menurun, batuk efektif meningkat, suara napas tambahan (ronkhi) menurun, frekuensi napas membaik, dan tidak ada sianosis. Pada pasien ini, indikator keberhasilan meliputi penurunan frekuensi suction, perubahan warna sekret dari putih kekuningan menjadi jernih, refleks batuk yang membaik, serta tidak adanya retraksi otot bantu napas dan saturasi oksigen yang stabil di atas 95%.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Definisi: serangkaian intervensi keperawatan untuk membuka dan mempertahankan jalan napas yang paten. Tindakan utama meliputi: 1) Monitor posisi dan fiksasi ETT setiap 2 jam, pastikan batas bibir 22 cm dan cuff mengembang dengan tekanan 20-30 cmH2O. 2) Lakukan suction endotrakeal secara steril setiap 2-3 jam atau sesuai kebutuhan, hanya jika ada indikasi seperti sekret berlebih, suara napas tambahan, atau penurunan saturasi. 3) Berikan fisioterapi dada berupa perkusi dan vibrasi jika hemodinamik stabil, untuk membantu mobilisasi sekret. 4) Pertahankan humidifikasi pada ventilator dengan suhu 37°C untuk mencegah sekret mengering. 5) Kolaborasi pemberian bronkodilator atau mukolitik jika diperlukan. 6) Evaluasi pola napas, suara napas, dan saturasi oksigen setiap jam. 7) Dokumentasikan karakteristik sekret (warna, jumlah, konsistensi) setiap kali suction.
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengganggu metabolisme dan fungsi jaringan otak.
Kode SLKI: L.06014
Deskripsi : Perfusi Serebral meningkat. Definisi: kemampuan sirkulasi darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme otak yang optimal. Kriteria hasil: Tekanan perfusi serebral (CPP) > 60 mmHg, tingkat kesadaran (GCS) membaik, ukuran dan reaksi pupil normal, tidak ada tanda herniasi (anisokor, postur deserebrasi), dan tekanan intrakranial (TIK) terkontrol. Pada pasien ini, target CPP dipertahankan >60 mmHg, GCS diharapkan meningkat dari E2VtM4 menjadi E3VtM5, dan pupil anisokor ringan dapat kembali normal.
Kode SIKI: I.06114
Deskripsi : Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial. Definisi: serangkaian intervensi untuk meminimalkan faktor-faktor yang meningkatkan TIK dan mempertahankan perfusi serebral yang adekuat. Tindakan utama: 1) Monitor tanda-tanda vital setiap jam, terutama MAP, CPP (MAP - TIK), dan GCS. 2) Posisikan kepala netral dengan elevasi 30 derajat untuk memfasilitasi drainase vena serebral. 3) Hindari manuver Valsava, seperti mengejan saat suction atau pergerakan tiba-tiba, dengan memberikan sedasi (Propofol dan Fentanyl yang sedang berjalan). 4) Kolaborasi pemberian Mannitol 20% 100 ml/8 jam sesuai order, pantau osmolalitas serum dan elektrolit (Natrium 148 mmol/L memerlukan kewaspadaan terhadap hipernatremia). 5) Batasi stimulus nyeri dan kecemasan dengan pendekatan non-farmakologis seperti pemutaran murottal Al-Qur'an yang telah diminta keluarga, karena dapat menurunkan agitasi. 6) Evaluasi CT scan post operasi untuk melihat midline shift dan edema serebri. 7) Monitor balance cairan ketat, target normovolemia atau sedikit negatif untuk mengurangi edema, namun hindari dehidrasi yang dapat memperburuk perfusi.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0142
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat mengganggu kesehatan.
Kode SLKI: L.14137
Deskripsi : Tingkat Infeksi menurun. Definisi: kondisi terbebas dari invasi mikroorganisme patogen. Kriteria hasil: leukosit dalam batas normal (4.000-10.000/uL), suhu tubuh < 38°C, tidak ada tanda infeksi lokal (kemerahan, bengkak, pus) pada luka operasi, drain, dan lokasi invasive device (ETT, CVC, arterial line, foley catheter). Pada pasien ini, leukosit 14.500/uL menunjukkan adanya respons inflamasi, namun harus dipastikan tidak berkembang menjadi infeksi nosokomial.
Kode SIKI: I.14533
Deskripsi : Pencegahan Infeksi. Definisi: tindakan untuk mengurangi risiko masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh. Tindakan utama: 1) Lakukan hand hygiene sebelum dan sesudah kontak dengan pasien, sesuai standar WHO. 2) Lakukan perawatan luka operasi kepala setiap 24 jam atau segera jika balutan basah/kotor, gunakan teknik aseptik. 3) Ganti dan rawat selang drain subgaleal dengan prinsip steril, observasi karakteristik drainase (warna serosanguinous normal, waspadai jika menjadi purulen). 4) Lakukan perawatan CVC, arterial line, dan foley catheter sesuai protokol bundle infeksi. 5) Lakukan oral hygiene setiap 6 jam menggunakan chlorhexidine 0,12% untuk mencegah Ventilator Associated Pneumonia (VAP), karena pasien memiliki infiltrat basal paru kanan. 6) Kolaborasi pemberian Ceftriaxone 2 gram/12 jam, pantau efek samping alergi. 7) Monitor suhu tubuh setiap 4 jam, laporkan jika > 38,5°C. 8) Edukasi keluarga untuk membatasi pengunjung dan menggunakan APD saat masuk ruang ICU.
Kondisi: Risiko Cedera Jatuh
Kode SDKI: D.0143
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami cedera fisik akibat ketidakmampuan untuk mempertahankan posisi tubuh yang aman.
Kode SLKI: L.14140
Deskripsi : Manajemen Keamanan Lingkungan meningkat. Definisi: kemampuan untuk mengidentifikasi dan menghindari bahaya lingkungan yang dapat menyebabkan cedera. Kriteria hasil: tidak terjadi cedera fisik, penggunaan restrein minimal, lingkungan tempat tidur aman, dan pasien dalam posisi aman. Pada pasien dengan GCS 6T dan agitasi saat suction, risiko cedera sangat tinggi.
Kode SIKI: I.14543
Deskripsi : Pencegahan Cedera. Definisi: tindakan untuk melindungi pasien dari risiko cedera fisik. Tindakan utama: 1) Pasang side rail tempat tidur dalam posisi tinggi dan terkunci setiap saat. 2) Gunakan restrain pergelangan tangan yang longgar namun aman jika pasien gelisah, dengan evaluasi setiap 2 jam untuk mencegah iritasi kulit. 3) Pastikan semua kabel dan selang (ETT, CVC, arterial line, drain, NGT, foley) terfiksasi dengan baik dan tidak melingkar di leher atau anggota gerak. 4) Berikan sedasi adekuat sesuai order (Propofol dan Fentanyl) untuk mengurangi agitasi tanpa menyebabkan depresi napas berlebih. 5) Jaga lingkungan ICU tetap tenang, redupkan lampu pada malam hari untuk mengurangi stimulus yang dapat memicu kegelisahan. 6) Libatkan keluarga untuk memberikan terapi murottal Al-Qur'an yang telah diminta, karena suara familiar dapat memberikan efek menenangkan. 7) Dokumentasi skor CPOT (Critical Care Pain Observation Tool) setiap 4 jam, target CPOT < 3.
Kondisi: Risiko Gangguan Integritas Kulit
Kode SDKI: D.0145
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami kerusakan pada epidermis atau dermis akibat tekanan, gesekan, atau kelembaban.
Kode SLKI: L.14125
Deskripsi : Integritas Kulit meningkat. Definisi: kondisi kulit yang utuh dan bebas dari kerusakan. Kriteria hasil: tidak ada luka tekan, skor Braden meningkat dari 11 menjadi > 15, warna kulit normal, turgor baik, tidak ada kemerahan yang menetap pada area tekanan. Pasien dengan Braden score 11 (risiko tinggi) memerlukan intervensi agresif.
Kode SIKI: I.14550
Article No. 25750 | 20 May 2026
Klinis : Seorang pasien laki-laki dengan inisial Tn. M (57 tahun) masuk ICU ditransfer dari ruangan operasi ke ICU setelah menjalani operasi laparatomi, ileostomi atas indikasi hernia incarcerate dan ganggren caecum ileum. Saat pasien ditranfer ke ruangan ICU, pasien telah terpasang ETT dan pernapasan dibantu menggunakan bag valve mask manual kompresi. Kemudian dihubungkan dengan ventilator dengan mode BIPAPasb, Pinsp 22 mBar, Pasb 15 mBar, FiO2 40%, PEEP 5 mBar, RR 12 x/menit, I : E = 1 : 1,9. Hemodinamik saat pertama di ruang ICU adalah tekanan darah 77/56 mmHg, HR 63 x/menit, saturasi oksigen 99%. Hasil pengkajian tiga jam setelah pasien masuk ke ICU (09.00): Pasien terpasang ETT dan OPA, terdapat sekret dijalan napas, berwarna putih, dan jumlah sedikit, gurgling dan snoring tidak ada. Pernapasan pasien dibantu ventilator dengan mode BIPAPasb, Pinsp 22 mBar, Pasb 15 mBar, FiO2 40%, PEEP 5 mBar, RR 12 x/menit, RR spontan = 0. Saturasi oksigen 99%, pergerakan dinding dada simetris, tidak terdapat penggunaan otot bantu napas, ronchi tidak ada. Tekanan darah 117/68 mmHg, MAP = 87 mmHg, HR= 80x/menit, S= 35,80 C, nadi teraba kuat dan teratur, akral teraba dingin, CRT > 3 detik, sianosis (-), konjungtiva subanemis, mukosa bibir lembab. Kesadaran sulit dinilai karena pengaruh obat, pupil isokor, ukuran pupil 2mm/ 2mm, reflex cahaya (+/+). Penilaian nyeri dengan Behavioral Pain Scale skor 9 dengan rincian ekspresi wajah skor 3, ekstremitas atas skor 4, dan kepatuhan dengan ventilator skor 2. Terdapat balutan luka post laparatomi pada abdomen, terpasang drain di abdomen kiri, dan stoma di abdomen kanan. Pengeluaran cairan pada drain tidak ada, sedangkan pada kantong kolostomi terdapat pengeluaran cairan ± 5cc dengan karakteristik warna jernih kekuningan seperti berlendir. EKG : sinus rhythm Pasien masuk rumah sakit melalui IGD dengan keluhan bengkak pada skrotum disertai rasa nyeri yang meningkat 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Selain itu pasien juga tidak BAB sejak empat hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien dirujuk dengan diagnosa hernia scrotalis strangulata dan acute kidney injury. Keluarga mengatakan pasien mengeluhkan sakit pada skrotum sudah sejak lama, akan tetapi nyeri yang dirasakan hilang timbul. Biasanya pasien hanya beristirahat dan kadang pergi berurut dan sesekali berobat ke dokter. Namun ketika nyeri memberat 4 hari sebelum masuk rumah sakit, kemudian pasien langsung dibawa ke IGD, sehingga di anjurkan untuk operasi. Jumlah perdarahan selama operasi ± 250cc (hasil lab hemoglobin sebelum operasi 11,1 g/dl). Selain itu terdapat balutan post laparatomi, drain dan stoma pada abdomen. Menurut keluarga keluhan nyeri akibat hernia dirasakan pasien hilang timbul. Pasien telah menderita hernia ± 7 tahun, akan tetapi terasa memberat semenjak 3 tahun terakhir. Keluhan yang dirasakan pasien hilang timbul, akan tetapi semakin sering kambuh 6 bulan terakhir dan 4 hari SMRS keluhan nyeri di skrotum tidak berkurang dan semakin memberat. Diagnosa Medis : - Sepsis atas indikasi hernia inkarserata dan ganggren caecum ileum + Post laparatomi, ileostomi - Respiratory disorder - AKI DD/acute on CKD Keluarga mengatakan pasien menderita hernia semenjak 7 tahun yang lalu. Selain itu pasien juga menderita hipertensi sejak 8 tahun yang lalu. Pasien tidak rutin berobat untuk hipertensinya, hanya ketika pasien merasakan gejala, baru kemudian berobat ke pelayanan kesehatan. Menurut keluarga pasien juga memiliki sakit asam urat. Pasien jarang merokok, dan tidak begitu suka minum kopi. Keluarga mengatakan pasien makan 3 kali sehari dengan menu nasi, lauk pauk dan sayur. Pasien jarang mengkonsumsi buah dan hanya sesekali. Pasien menyukai makanan pedas dan juga bersantan. Berat badan pasien 55 kg dengan tinggi badan 165 cm. Pasien biasanya BAB 1-2 kali sehari dengan karakteristik feses bewarna kuning dan konsistensi lembek. Pasien BAK 5-6 kali sehari dengan karakteristik urin kuning jernih Tidak ada kesulitan BAB dan BAK sebelum pasien sakit. Sejak 4 hari SMRS pasien mengeluhkan tidak ada BAB dan terasa nyeri di skrotumnya. Keluarga mengatakan pasien biasanya tidur selama ± 5-6 jam pada malam hari dari pukul 23.00-05.00. Keluarga mengatakan pasien kadang terbangun ketika merasakan nyeri pada perutnya. Tetapi pasien kemudian dapat tidur kembali. Keluarga mengatakan pasien bekerja sebagai petani. Aktivitas pasien lebih banyak disawah. Keluarga mengatakan pasien jarang melakukan olahraga. Jika ada waktu luang pasien biasanya menonton TV dan duduk di warung dengan teman-temannya. Keluarga mengatakan pasien sulit bekerja jika nyeri hernianya kambuh. Pasien bekerja sebagai petani. Pasien bekerja tidak tentu dan kadang-kadang hampir setiap hari. Jam kerja pasien juga tidak menentu dan lebih sering bekerja pada pagi hari atau sore hari. Keluarga mengatakan tidak ada anggota keluarga yang memiliki penyakit yang sama dengan pasien sebelumnya. Ayah pasien menderita stroke dan telah meninggal dunia. Pemeriksaan Fisik Tidak terdapat masalah pada bagian rambut dan telinga pasien. Pemeriksaan mata diperoleh: mata simetris kiri dan kanan, pupil isokor dengan ukuran 2 mm/ 2 mm, reflek pupil +/+, konjungtiva subanemis, sklera tidak ikterik, tidak ada edema pada palpebra. Pada hidung kanan terpasang NGT, terdapat cairan NGT berwarna empedu dengan jumlah ± 100 cc. Sedangkan pemeriksaan mulut diperoleh : tampak terpasang ETT dan OPA, mukosa bibir lembab, bibir pucat, lidah kotor, gigi tidak lengkap dan terdapat caries. Leher simetris, tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid dan pembengkakan kelenjar getah bening (KGB), JVP 5-2 cmH2O. Thoraks. Inspeksi pada thoraks pergerakan dinding dada simetris kiri dan kanan, tidak terdapat penggunaan otot bantu pernafasan, lesi tidak ada. Palpasi taktil fremitus tidak dapat dikaji. Perkusi paru sonor kiri dan kanan dan perkusi jantung batas jantung normal. Auskultasi paru ronkhi tidak ada dan auskultasi jantung S1 dan S2 reguler. Tekanan darah 117/68 mmHg, MAP = 87 mmHg , HR= 80 x/menit, Suhu 35,8o C, nadi teraba kuat dan teratur, akral teraba dingin, CRT > 3 detik, sianosis (-), konjungtiva subanemis, mukosa bibir lembab dan turgor kulit baik. suhu ekstremitas hangat, bibir pucat, sianosis tidak ada, turgor kulit baik. Abdomen. Inspeksi terdapat balutan luka operasi dan drain pada abdomen, palpasi hepar dan lien tidak teraba, distensi abdomen (+), perkusi timpani, auskultasi bising usus (lemah/hipoaktif). Terdapat stoma, dimana pengeluaran stoma bewarna jernih kekuningan, volume ± 5 cc. Pasien terpasang kateter, tampak pembengkakan/perbesaran pada skrotum. Tidak terdapat edema dan lesi. Masa otot teraba, tonus otot baik, kekuatan otot tidak dapat dikaji. Data Laboratorium Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Hasil Hemoglobin 9,8 g/dl Bilirubin total 0,9 mg/dl Leukosit 40.030 ribu/mm3 Bilirubin direk 0,6 mg/dl Trombosit 278.000/mm3 Bilirubin indirek 0,3 mg/dl Hematokrit 30% SGOT 32 u/ l PT 12,9 detik SGPT 5 u/ l APTT 56,3 detik pH 7,35 D-Dimer 4197 ng/ml PCO2 32 mmHg Ureum darah 223 mg/dl PO2 113 mmHg Kreatinin darah 5,3 mg/dl BE - 7,4 mmol/ L Total Protein 4,2 g/dl HCO3 18 mmol/ L Albumin 2,0 g/dl SaO2 99% Globulin 2,2 g/dl Pengobatan Obat Titrasi Obat Injeksi/Parenteral Fentanyl 200mg: sedacum 15 mg/50 cc (2 cc/jam) Ceftriaxone Metronidazol Asam Tranexamat Vit K Paracetamol Omeprazol 2x1 gr 3x500 mg 3x1 gr 3x10 mg 4x1 gr 2x40 mg Obat Inhalasi : Combivent 6x Flumucyl 2x
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Pola napas tidak efektif adalah kondisi di mana seseorang mengalami ketidakmampuan untuk mempertahankan pola pernapasan yang adekuat, baik dari segi frekuensi, kedalaman, irama, maupun upaya pernapasan. Pada pasien Tn. M, kondisi ini sangat jelas terlihat karena ia sepenuhnya bergantung pada ventilator mekanik dengan mode BIPAPasb. Data objektif menunjukkan RR yang diatur mesin adalah 12x/menit, namun RR spontan pasien adalah 0, yang berarti tidak ada usaha napas mandiri. Hal ini mengindikasikan bahwa otot-otot pernapasan pasien tidak bekerja secara efektif atau mungkin mengalami kelelahan akibat kondisi sepsis dan efek sisa obat anestesi. Selain itu, meskipun tidak ada penggunaan otot bantu napas, pasien terpasang ETT dan OPA yang menunjukkan adanya bantuan jalan napas buatan. Kondisi ini diperparah oleh adanya sekret di jalan napas (walaupun sedikit) yang dapat mengganggu aliran udara. Pola napas tidak efektif pada pasien ini juga berkaitan dengan diagnosis medis "Respiratory disorder" dan kondisi post-operasi besar yang memengaruhi mekanika pernapasan. Ketidakmampuan pasien untuk bernapas secara spontan dan efektif tanpa bantuan ventilator merupakan indikasi utama dari diagnosis ini.
Kode SLKI: L.01004
Deskripsi : Pola Napas (L.01004) adalah luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan. Pada pasien Tn. M, luaran yang ingin dicapai adalah peningkatan efektivitas pola napas yang ditandai dengan kriteria hasil: (1) Ventilasi semenit meningkat (dari ketergantungan penuh pada ventilator), (2) Kapasitas vital paksa (FVC) dan volume ekspirasi paksa detik pertama (FEV1) membaik (meskipun tidak dapat diukur langsung, indikator klinis seperti pergerakan dinding dada simetris dan tidak adanya retraksi menjadi acuan), (3) Frekuensi napas dalam rentang normal (16-20 x/menit) saat dilakukan weaning, (4) Kedalaman napas adekuat (tidak dangkal), (5) Irama napas teratur, (6) Tidak ada penggunaan otot bantu napas, (7) Saturasi oksigen >95% dengan FiO2 yang diturunkan secara bertahap, (8) Tidak ada dispnea atau ortopnea. Saat ini, pasien masih pada skala 1 (sangat berat) karena ketergantungan penuh pada ventilator. Target dalam 3x24 jam adalah mencapai skala 3 (cukup) dengan tanda-tanda awal weaning seperti munculnya usaha napas spontan (RR spontan >0) dan kemampuan mempertahankan saturasi oksigen dengan bantuan minimal.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Manajemen Ventilasi Mekanik (I.01011) adalah intervensi utama untuk mengatasi pola napas tidak efektif pada pasien ini. Intervensi ini bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi ventilator dan mempersiapkan pasien untuk proses penyapihan (weaning). Tindakan keperawatan meliputi: (1) Monitor parameter ventilator (mode BIPAPasb, Pinsp 22, Pasb 15, FiO2 40%, PEEP 5, RR 12, I:E 1:1,9) setiap jam dan dokumentasikan, (2) Monitor kesesuaian ventilator dengan pasien (sinkronisasi), perhatikan adanya "breathing stacking" atau alarm ventilator, (3) Auskultasi suara napas bilateral setiap 2-4 jam untuk memastikan tidak ada atelektasis atau sekret yang menyumbat, (4) Lakukan oral hygiene dan suctioning ETT secara aseptik jika diperlukan (terdapat sekret putih), (5) Monitor analisis gas darah (AGD) untuk mengevaluasi efektivitas ventilasi (pH 7,35, PCO2 32 mmHg, PO2 113 mmHg, BE -7,4, HCO3 18) dan sesuaikan setting ventilator sesuai advis dokter, (6) Berikan posisi semi-Fowler (30-45 derajat) untuk mengoptimalkan ekspansi paru dan mencegah ventilator-associated pneumonia (VAP), (7) Kaji kesiapan weaning setiap hari dengan melihat parameter seperti hemodinamik stabil (TD 117/68, MAP 87, HR 80), tidak ada demam (suhu 35,8C perlu dihangatkan), dan kesadaran yang membaik, (8) Kolaborasi dengan dokter dan fisioterapis untuk latihan pernapasan dan mobilisasi dini jika kondisi memungkinkan. Intervensi ini harus didokumentasikan secara ketat untuk mengevaluasi perkembangan menuju luaran yang diharapkan.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada Tn. M, diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data objektif: pasien terpasang ETT (Endotracheal Tube) dan OPA (Oropharyngeal Airway), yang merupakan jalan napas buatan namun rentan terhadap obstruksi. Hasil pengkajian menunjukkan terdapat sekret di jalan napas berwarna putih dengan jumlah sedikit. Sekret ini, meskipun sedikit, dapat mengental dan membentuk sumbatan (mucus plug) di dalam ETT jika tidak segera ditangani, terutama karena pasien tidak memiliki batuk efektif (RR spontan = 0). Selain itu, pasien dalam kondisi post-operasi besar dengan luka laparatomi yang menyebabkan nyeri (skor BPS 9) dan kelemahan otot pernapasan, sehingga kemampuan untuk batuk dan mengeluarkan sekret sangat terbatas. Faktor risiko lain adalah penggunaan obat sedasi (Fentanyl dan Sedacum) yang menekan refleks batuk dan kesadaran. Meskipun saat ini tidak ada gurgling atau snoring, potensi obstruksi tetap tinggi. Konjungtiva subanemis dan bibir pucat juga dapat mengindikasikan adanya gangguan perfusi yang mungkin diperburuk oleh hipoksia akibat sumbatan jalan napas.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas (L.01003) adalah luaran yang diharapkan berupa kemampuan pasien untuk mempertahankan jalan napas yang paten dan membersihkan sekret secara efektif. Kriteria hasil yang ingin dicapai pada Tn. M meliputi: (1) Tidak ada sumbatan jalan napas (ditandai dengan tidak adanya suara napas tambahan seperti ronchi atau wheezing pada auskultasi), (2) Mampu mengeluarkan sekret secara efektif (meskipun melalui suctioning, sekret dapat dikeluarkan tanpa kesulitan), (3) Frekuensi napas dalam rentang normal (saat weaning atau spontan), (4) Irama napas teratur, (5) Saturasi oksigen >95% dengan FiO2 yang diturunkan, (6) Tidak ada dispnea, (7) Tidak ada sianosis, (8) Refleks batuk kembali (saat efek obat sedasi berkurang). Saat ini, pasien berada pada skala 2 (berat) karena masih memerlukan suctioning dan belum ada refleks batuk. Target dalam 2x24 jam adalah mencapai skala 4 (cukup) di mana sekret dapat dikeluarkan dengan suctioning minimal dan tidak ada tanda-tanda obstruksi.
Kode SIKI: I.01006
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas (I.01006) adalah intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi bersihan jalan napas tidak efektif. Tindakan yang dilakukan pada Tn. M meliputi: (1) Monitor status oksigenasi (SpO2 99% saat ini) dan pola napas secara kontinu, (2) Lakukan pengisapan lendir (suctioning) ETT secara aseptik setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan (jika ada sekret, ronchi, atau penurunan SpO2). Gunakan teknik hiperoksigenasi sebelum dan sesudah suctioning untuk mencegah hipoksia, (3) Lakukan fisioterapi dada (clapping dan vibrasi) jika tidak ada kontraindikasi (misalnya, perdarahan intra-abdominal atau luka operasi yang baru), (4) Berikan humidifikasi pada oksigen atau ventilator untuk mengencerkan sekret, (5) Lakukan oral hygiene dengan klorheksidin 0,12% setiap 6 jam untuk mengurangi risiko VAP dan menjaga kebersihan mulut (mukosa bibir lembab, lidah kotor, gigi caries), (6) Atur posisi semi-Fowler untuk memanfaatkan gravitasi dalam membantu pengeluaran sekret, (7) Kolaborasi pemberian obat inhalasi (Combivent 6x dan Flumucyl 2x) sesuai program untuk melebarkan bronkus dan mengencerkan dahak, (8) Edukasi keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan jalan napas dan tanda-tanda obstruksi. Dokumentasikan karakteristik sekret (warna, jumlah, konsistensi, bau) setiap kali melakukan suctioning.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kondisi di mana terjadi kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolar-kapiler. Pada Tn. M, diagnosis ini ditegakkan meskipun saturasi oksigen 99% tampak normal. Data AGD (Analisis Gas Darah) menunjukkan pH 7,35 (normal), PCO2 32 mmHg (rendah dari normal 35-45 mmHg), PO2 113 mmHg (tinggi dari normal 80-100 mmHg), BE -7,4 mmol/L (defisit basa), dan HCO3
Article No. 25726 | 19 May 2026
Klinis : Tn B tinggal di pedesaan dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah yang bergantung pada hasil pertanian. Pak Budi bekerja sebagai petani yang sehari-hari menggunakan pestisida untuk merawat tanaman di sawah. Ia tinggal bersama istri dan anak mereka. Dalam kehidupan sehari- hari, keluarga ini belum menerapkan perilaku kesehatan yang aman terkait penggunaan pestisida. Suatu siang, setelah menyemprot pestisida selama ±3 jam, Pak Budi pulang dalam kondisi lelah dan masih mengenakan pakaian kerja yang terpapar pestisida. Ia tidak segera mandi dan mulai mengeluhkan pusing, mual, mata perih, serta lemas. Ia juga tidak makan saat bekerja dan hanya merokok di sawah. Gejala tersebut merupakan tanda awal keracunan pestisida akibat paparan bahan kimia. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa Pak Budi tidak menggunakan alat pelindung diri (APD), terpapar dalam waktu lama, serta tidak menjaga kebersihan diri setelah bekerja. Selain itu, istrinya menyimpan pestisida di dapur yang berisiko mencemari makanan. Kondisi ini meningkatkan risiko paparan tidak langsung pada anggota keluarga. Keluarga belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai penggunaan pestisida yang aman, sehingga kebiasaan berisiko tersebut dianggap sebagai hal biasa. Kurangnya edukasi kesehatan berpengaruh terhadap perilaku tidak aman dalam penggunaan pestisida. Kondisi ini menunjukkan adanya masalah kesehatan keluarga yang berisiko dan memerlukan asuhan keperawatan untuk meningkatkan pengetahuan serta mencegah paparan pestisida di lingkungan rumah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Keracunan Pestisida pada Petani (Tn. B)
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Keracunan adalah kondisi dimana seseorang mengalami pajanan atau absorbsi zat beracun (pestisida) yang masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan, pencernaan, atau kulit, yang menimbulkan gejala dan tanda klinis seperti pusing, mual, muntah, mata perih, dan kelemahan fisik. Pada kasus Tn. B, keracunan terjadi akibat paparan pestisida organofosfat atau karbamat yang diserap melalui kulit dan inhalasi selama penyemprotan tanpa APD, diperparah dengan tidak segera membersihkan diri setelah bekerja, serta kebiasaan merokok yang meningkatkan risiko masuknya racun ke saluran cerna.
Kode SLKI: L.06014
Deskripsi : Tingkat Keracunan menurun adalah luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan, dengan kriteria hasil: (1) Keluhan pusing, mual, mata perih, dan lemas berkurang atau hilang dalam 1x24 jam; (2) Kesadaran meningkat (Compos Mentis); (3) Fungsi gastrointestinal normal (tidak mual/muntah); (4) Status pernapasan adekuat (frekuensi napas 16-20x/menit, tidak sesak); (5) Kadar kolinesterase darah meningkat mendekati normal (jika tersedia pemeriksaan); (6) Tidak ada tanda dehidrasi atau syok; (7) Perilaku hidup bersih dan sehat mulai diterapkan, seperti mandi dan mengganti pakaian segera setelah kontak dengan pestisida.
Kode SIKI: I.03114
Deskripsi : Manajemen Keracunan adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan mengidentifikasi agen penyebab, mengurangi absorbsi toksin, mempercepat eliminasi racun, serta memberikan terapi suportif dan edukasi. Intervensi utama meliputi: (1) Hentikan paparan dengan melepas pakaian terkontaminasi dan membersihkan kulit dengan air mengalir dan sabun; (2) Pemantauan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, respirasi) setiap 15-30 menit; (3) Pemberian oksigen jika ada gangguan pernapasan; (4) Kolaborasi pemberian antidotum (atropin sulfat atau pralidoksim sesuai advis dokter); (5) Edukasi pada Tn. B dan keluarga tentang penggunaan APD (masker, sarung tangan, baju lengan panjang, kacamata pelindung) saat menyemprot; (6) Ajarkan teknik mencuci tangan dan mandi segera setelah bekerja serta memisahkan pakaian kerja dari pakaian bersih; (7) Anjurkan untuk tidak merokok atau makan/minum selama penyemprotan; (8) Penyimpanan pestisida di tempat khusus, terkunci, jauh dari dapur, makanan, dan jangkauan anak; (9) Konseling tentang tanda bahaya keracunan dan kapan harus segera ke fasilitas kesehatan.
Article No. 25727 | 19 May 2026
Klinis : pasien ckd
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Chronic Kidney Disease (CKD) / Gagal Ginjal Kronis
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi cairan (penurunan laju filtrasi glomerulus) ditandai dengan edema, peningkatan berat badan dalam waktu singkat, distensi vena jugularis, dan tekanan darah tinggi.
Kode SLKI: L.03023
Deskripsi: Keseimbangan Cairan adalah kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan asupan dan haluaran cairan dalam rentang normal. Pada pasien CKD, keseimbangan cairan menjadi kritis karena ginjal tidak mampu mengekskresikan kelebihan cairan dan elektrolit secara adekuat. Tujuan intervensi keperawatan adalah untuk mencapai status keseimbangan cairan yang optimal dengan kriteria hasil: (1) Berat badan stabil dalam rentang ideal harian, (2) Tidak ada edema perifer atau edema paru, (3) Tekanan darah dalam batas normal (sistolik 100-130 mmHg, diastolik 60-80 mmHg), (4) Asupan dan haluaran cairan seimbang (balance positif tidak lebih dari 500-1000 ml/hari tergantung status dialisis), (5) Nilai natrium serum dalam rentang normal (135-145 mEq/L), (6) Bunyi napas vesikuler tanpa ronki, (7) Turgor kulit elastis, (8) Tidak ada distensi vena jugularis, (9) Mata dan membran mukosa lembab tanpa edema periorbital, (10) Nilai BUN dan kreatinin serum menunjukkan perbaikan atau stabil. Indikator-indikator ini dievaluasi setiap hari untuk memantau respons terhadap terapi cairan dan intervensi keperawatan. Pada pasien CKD stadium 5 yang menjalani hemodialisis, target keseimbangan cairan lebih ketat dengan batas kenaikan berat badan interdialisis tidak boleh melebihi 2-3% dari berat badan kering. Ketidakmampuan mencapai keseimbangan cairan dapat menyebabkan komplikasi serius seperti edema paru, gagal jantung kongestif, hipertensi maligna, dan asidosis metabolik.
Kode SIKI: I.03114
Deskripsi: Manajemen Cairan adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mempertahankan keseimbangan cairan tubuh dan mencegah komplikasi akibat kelebihan atau kekurangan cairan pada pasien CKD. Intervensi ini dimulai dengan pengkajian komprehensif meliputi: (1) Monitor tanda-tanda vital setiap 4-8 jam terutama tekanan darah dan denyut nadi, (2) Timbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama menggunakan timbangan yang sama dengan pakaian minimal, (3) Catat intake dan output cairan secara akurat setiap 24 jam termasuk cairan oral, infus, obat-obatan, dan produksi urin, (4) Kaji edema perifer menggunakan skala edema (1+ hingga 4+), (5) Auskultasi bunyi napas untuk mendeteksi ronki atau krekels, (6) Monitor nilai laboratorium meliputi BUN, kreatinin, natrium, kalium, kalsium, fosfor, dan albumin, (7) Kaji turgor kulit, membran mukosa, dan mata untuk tanda dehidrasi atau overhidrasi. Intervensi mandiri perawat meliputi: (1) Berikan edukasi tentang pembatasan cairan harian sesuai anjuran (biasanya 500-1000 ml/hari ditambah volume urin 24 jam), (2) Ajarkan pasien mengukur dan mencatat asupan cairan sendiri, (3) Anjurkan pasien untuk menghindari makanan tinggi natrium seperti makanan olahan, fast food, dan makanan kaleng karena natrium meningkatkan rasa haus, (4) Berikan alternatif pelepas haus seperti permen asam, es batu, atau mengunyah permen karet bebas gula, (5) Atur posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memfasilitasi ekspansi paru dan mengurangi sesak napas, (6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian diuretik (misalnya furosemide) jika masih ada fungsi ginjal residual, (7) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet rendah natrium, rendah kalium, dan rendah fosfor sesuai stadium CKD, (8) Pada pasien hemodialisis, koordinasikan jadwal dialisis dan target ultrafiltrasi, (9) Berikan terapi oksigen jika terdapat hipoksemia akibat edema paru, (10) Dokumentasikan semua intervensi dan respons pasien secara sistematis. Evaluasi dilakukan setiap shift untuk menilai efektivitas intervensi dan menyesuaikan rencana keperawatan sesuai perubahan kondisi pasien. Perawat juga harus waspada terhadap tanda-tanda awal kelebihan cairan seperti peningkatan tekanan darah, peningkatan berat badan >1 kg/hari, edema perifer yang memburuk, dan sesak napas saat istirahat atau aktivitas ringan.
Article No. 25728 | 19 May 2026
Klinis : keluhan utama sesak napas sejak ±1 minggu sebelum masuk rumah sakit yang dirasakan terus-menerus. Pasien juga mengeluhkan nyeri dada bagian bawah yang bertambah saat batuk, batuk kering sejak ±2 minggu tanpa darah, berkeringat pada malam hari, serta penurunan berat badan sekitar 2 kg dalam 1 minggu terakhir. hasil pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda vital berupa tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 110 x/menit, frekuensi napas 24 x/menit, dan suhu 38,2°C. Pemeriksaan thoraks menunjukkan pergerakan dada kanan tertinggal saat bernapas, fremitus taktil paru kanan melemah pada ICS VII–X, perkusi redup pada area yang sama, serta suara napas vesikuler melemah pada paru kanan. Selain itu, ditemukan ronki pada kedua lapang paru. Pemeriksaan penunjang berupa rontgen thoraks menunjukkan adanya efusi pleura dextra, yang menegakkan diagnosis efusi pleura kanan dengan kemungkinan etiologi tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan Efusi Pleura
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada kasus ini, kondisi pasien dengan efusi pleura kanan menyebabkan penekanan pada parenkim paru dan mengganggu mekanisme batuk efektif. Akumulasi cairan di rongga pleura membatasi ekspansi paru, sehingga pasien mengalami sesak napas terus-menerus, batuk kering yang tidak produktif, dan fremitus taktil yang melemah pada area ICS VII–X paru kanan. Ronki pada kedua lapang paru menunjukkan adanya sekret yang tidak dapat dibersihkan secara optimal. Peningkatan frekuensi napas (24 x/menit) dan takikardia (nadi 110 x/menit) merupakan kompensasi tubuh terhadap hipoksia akibat gangguan ventilasi. Penurunan berat badan 2 kg dalam seminggu, keringat malam, dan suhu 38,2°C mengindikasikan proses infeksi sistemik (tersangka tuberkulosis) yang memperberat produksi sekret dan inflamasi saluran napas.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan bersihan jalan napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Batuk efektif meningkat dengan skala 3 (sedang) dari skala 1 (cukup) pada skala Likert, (2) Produksi sputum menurun dengan skala 4 (cukup menurun) dari skala 2 (cukup meningkat), (3) Suara napas tambahan (ronki) menurun, (4) Dispnea menurun dengan skala 4 (cukup menurun), (5) Frekuensi napas membaik dalam rentang 16-20 x/menit, (6) Mampu mengeluarkan sekret secara mandiri, (7) Saturasi oksigen >95% pada udara ruangan. Indikator ini dicapai melalui latihan batuk efektif, posisi semi-Fowler, dan teknik fisioterapi dada. Peningkatan bersihan jalan napas akan menurunkan risiko atelektasis dan memperbaiki ventilasi-perfusi paru kanan yang terganggu akibat efusi pleura.
Kode SIKI: I.01006
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas (I.01006) dengan tindakan utama: (1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, dan usaha napas) setiap 4 jam; (2) Auskultasi suara napas untuk mengidentifikasi ronki atau wheezing; (3) Posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru; (4) Lakukan fisioterapi dada (perkusi dan vibrasi) pada area paru kanan yang mengalami efusi, dengan hati-hati untuk menghindari nyeri dada; (5) Ajarkan teknik batuk efektif: tarik napas dalam melalui hidung, tahan 3-5 detik, kemudian batuk kuat dari dada dalam 2 kali hembusan; (6) Berikan oksigen 2-4 liter/menit via nasal kanul jika saturasi <94%; (7) Kolaborasi pemberian bronkodilator (misal salbutamol nebulizer) dan mukolitik (ambroksol) sesuai advis dokter; (8) Monitor tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit) dan efek samping terapi TB jika sudah dimulai. Tindakan ini bertujuan mengeluarkan sekret, mengurangi obstruksi, dan meningkatkan ventilasi alveoli yang tertekan cairan pleura. Edukasi pasien tentang posisi tidur miring ke sisi yang sakit (dekubitus kanan) untuk mengurangi tekanan pada paru sehat dan memfasilitasi drainase postural.
Kondisi: Nyeri Akut berhubungan dengan Inflamasi Pleura (Pleuritis)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat. Pasien mengeluhkan nyeri dada bagian bawah yang bertambah saat batuk. Hal ini terjadi karena peradangan pada pleura parietalis (pleuritis) akibat efusi pleura yang terinfeksi (tersangka TB). Saat batuk, gerakan paru dan gesekan antara pleura visceralis dan parietalis yang meradang merangsang ujung saraf nyeri di pleura. Pemeriksaan fisik menunjukkan pergerakan dada kanan tertinggal dan perkusi redup, yang mengindikasikan adanya cairan yang menekan pleura. Nyeri ini bersifat tajam dan terlokalisasi, diperberat oleh napas dalam, batuk, atau bersin. Skala nyeri diperkirakan 6-7/10 (sedang-berat) karena pasien melaporkan peningkatan saat batuk. Takikardia (110 x/menit) dan takipnea (24 x/menit) juga merupakan respons fisiologis terhadap nyeri akut. Jika tidak ditangani, nyeri dapat menghambat ekspansi paru dan memperburuk sesak napas.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam, diharapkan tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil: (1) Keluhan nyeri menurun dengan skala 3 (cukup menurun) dari skala 1 (cukup meningkat), (2) Meringis menurun, (3) Sikap protektif (menahan area nyeri) menurun, (4) Frekuensi nadi membaik (60-100 x/menit), (5) Pola napas membaik (16-20 x/menit). Indikator ini diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dengan target skala nyeri ≤3. Penurunan nyeri akan memungkinkan pasien untuk bernapas lebih dalam, batuk efektif, dan berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari tanpa rasa takut akan nyeri. Manajemen nyeri yang adekuat juga mencegah komplikasi seperti atelektasis akibat hipoventilasi.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah Manajemen Nyeri (I.08238) dengan tindakan utama: (1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, dan skala nyeri menggunakan NRS setiap 4 jam; (2) Identifikasi faktor yang memperberat (batuk, napas dalam) dan memperingan (posisi tidur); (3) Berikan teknik nonfarmakologis: a) Ajarkan teknik relaksasi napas dalam (slow deep breathing) dengan frekuensi 6-8 napas per menit untuk menurunkan ketegangan otot interkostal; b) Kompres hangat pada area dada kanan selama 15-20 menit untuk mengurangi spasme otot; c) Posisikan pasien semi-Fowler atau duduk bersandar dengan bantal untuk mengurangi tekanan pada pleura; (4) Kolaborasi pemberian analgesik: Parasetamol 500-1000 mg setiap 6 jam per oral atau jika nyeri hebat, NSAID (Ibuprofen 400 mg) sesuai advis dokter, dengan monitor efek samping (iritasi lambung, perdarahan); (5) Ajarkan teknik distraksi (mendengarkan musik, menonton TV) saat nyeri muncul; (6) Evaluasi efektivitas intervensi 30 menit setelah pemberian analgesik. Tindakan ini bertujuan memblok transmisi nyeri dan meningkatkan ambang nyeri pasien sehingga ia dapat menjalani terapi TB dengan nyaman.
Kondisi: Hipertermia berhubungan dengan Proses Infeksi (Tuberkulosis Paru)
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal (>37,5°C) akibat mekanisme pengaturan panas di hipotalamus yang terganggu. Pasien memiliki suhu 38,2°C, yang merupakan respons sistemik terhadap infeksi Mycobacterium tuberculosis. Kuman TB merangsang pelepasan pirogen endogen (sitokin seperti IL-1, TNF-α, dan prostaglandin) dari makrofag yang teraktivasi, yang kemudian mengatur ulang set point suhu di hipotalamus. Selain demam, pasien juga mengalami keringat malam (night sweats) yang khas pada TB, terjadi karena fluktuasi suhu tubuh saat tidur. Takikardia (110 x/menit) dan takipnea (24 x/menit) merupakan kompensasi metabolik akibat peningkatan suhu (setiap kenaikan 1°C meningkatkan denyut nadi sekitar 10-15 x/menit). Penurunan berat badan 2 kg dalam seminggu menunjukkan katabolisme jaringan yang dipercepat oleh infeksi kronis. Hipertermia yang tidak tertangani dapat menyebabkan dehidrasi, kejang demam, atau kerusakan organ akibat suhu ekstrem.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan termoregulasi membaik dengan kriteria hasil: (1) Suhu tubuh membaik dalam rentang 36,5-37,5°C, (2) Suhu kulit membaik (tidak teraba hangat), (3) Frekuensi nadi membaik (60-100 x/menit), (4) Frekuensi napas membaik (16-20 x/menit), (5) Tidak menggigil, (6) Produksi keringat menurun. Indikator ini dicapai melalui manajemen hipertermia yang meliputi pendinginan eksternal dan hidrasi yang adek
Article No. 25729 | 19 May 2026
Klinis : Pasien laki-laki usia 57 tahun datang ke RSUD Dumai dengan keluhan utama sesak napas sejak ±1 minggu sebelum masuk rumah sakit yang dirasakan terus-menerus. Pasien juga mengeluhkan nyeri dada bagian bawah yang bertambah saat batuk, batuk kering sejak ±2 minggu tanpa darah, berkeringat pada malam hari, serta penurunan berat badan sekitar 2 kg dalam 1 minggu terakhir. Selain itu, pasien mengalami demam, namun tidak disertai mual dan muntah. Riwayat penyakit sebelumnya tidak ditemukan keluhan serupa, dan riwayat penyakit keluarga juga tidak ada yang mengalami kondisi yang sama. Saat ini, hasil pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda vital berupa tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 110 x/menit, frekuensi napas 24 x/menit, dan suhu 38,2°C. Pemeriksaan thoraks menunjukkan pergerakan dada kanan tertinggal saat bernapas, fremitus taktil paru kanan melemah pada ICS VII–X, perkusi redup pada area yang sama, serta suara napas vesikuler melemah pada paru kanan. Selain itu, ditemukan ronki pada kedua lapang paru. Pemeriksaan penunjang berupa rontgen thoraks menunjukkan adanya efusi pleura dextra, yang menegakkan diagnosis efusi pleura kanan dengan kemungkinan etiologi tuberkulosis paru. Pemeriksaan laboratorium darah dilaporkan dalam batas normal. Setelah dilakukan tindakan torakosintesis, diperoleh cairan pleura serous sebanyak ±1000 cc, yang kemudian diperiksa sitologi dengan hasil menunjukkan hyperplasia reaktif sel mesotel, dengan kemungkinan proses spesifik belum dapat disingkirkan. Dalam penatalaksanaan, pasien mendapatkan terapi farmakologis berupa infus NaCl 0,9% (IVFD), antibiotik injeksi ceftriaxone 1 x 2 gram/12 jam, drip resfar dalam NaCl 0,9% 200 cc, serta paracetamol 3 x 500 mg. Untuk keluhan nyeri ulu hati diberikan omeprazole injeksi 2 x 1, sucralfate 3 x 1 sirup, dan pronalgess. Setelah tindakan torakosintesis, pasien diberikan terapi obat anti tuberkulosis (ProTB) 4 kombinasi dosis 1 x 3 sesuai berat badan (49 kg) serta suplemen curcuma untuk meningkatkan nafsu makan. Di bagian dada pasien terlihat adanya luka yang telah dibalut pada area torakosintesis.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan Efusi Pleura dan Proses Infeksi Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada pasien ini, kondisi tersebut disebabkan oleh adanya efusi pleura kanan yang menekan parenkim paru dan proses infeksi tuberkulosis paru yang menyebabkan peradangan dan produksi sekret berlebih. Data subjektif menunjukkan pasien mengeluh sesak napas terus-menerus sejak 1 minggu, batuk kering, serta nyeri dada yang bertambah saat batuk. Data objektif menunjukkan frekuensi napas 24 x/menit (takipnea), pergerakan dada kanan tertinggal, fremitus taktil melemah pada ICS VII-X, perkusi redup, suara napas vesikuler melemah pada paru kanan, dan ronki pada kedua lapang paru. Rontgen thoraks mengonfirmasi adanya efusi pleura dextra. Torakosintesis mengeluarkan 1000 cc cairan serous, yang menunjukkan adanya penumpukan cairan signifikan di rongga pleura. Penumpukan ini secara mekanik membatasi ekspansi paru, mengganggu ventilasi, dan menghambat kemampuan pasien untuk membersihkan sekret dari saluran napas. Batuk kering yang dialami pasien, meskipun tidak produktif, merupakan upaya tubuh untuk membersihkan iritasi, namun menjadi tidak efektif karena adanya nyeri dan keterbatasan ekspansi dada. Demam (38,2°C) dan keringat malam menunjukkan adanya respons inflamasi sistemik akibat infeksi, yang semakin memperberat kondisi pernapasan. Dengan demikian, diagnosis Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif menjadi prioritas utama karena ancaman langsung terhadap oksigenasi dan fungsi ventilasi pasien.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan bersihan jalan napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Frekuensi napas dalam rentang normal (16-20 x/menit); (2) Irama napas teratur; (3) Tidak ada penggunaan otot bantu napas; (4) Suara napas vesikuler jelas tanpa ronki atau wheezing; (5) Mampu batuk efektif untuk mengeluarkan sekret; (6) Saturasi oksigen >95% pada udara ruangan atau sesuai target terapi oksigen; (7) Ekspansi dada simetris dan adekuat; (8) Tidak ada keluhan sesak napas saat beraktivitas ringan maupun istirahat. Kriteria ini mengacu pada luaran yang dapat diukur secara objektif. Perbaikan frekuensi napas menjadi normal menandakan penurunan usaha napas. Hilangnya ronki mengindikasikan berkurangnya sekret atau cairan di jalan napas. Kemampuan batuk efektif menunjukkan bahwa pasien dapat membersihkan sekret tanpa nyeri berlebih. Ekspansi dada yang simetris dan adekuat mencerminkan berkurangnya efusi pleura dan perbaikan ventilasi paru kanan. Saturasi oksigen yang normal adalah indikator utama kecukupan oksigenasi jaringan. Target waktu 3x24 jam dipilih karena pasien telah menjalani torakosintesis yang mengeluarkan 1000 cc cairan, sehingga diharapkan dalam 3 hari terjadi perbaikan signifikan pada mekanika pernapasan. Namun, perlu dipantau terus karena proses inflamasi tuberkulosis masih berlangsung dan membutuhkan waktu lebih lama untuk resolusi sempurna.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama yang dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas dengan pendekatan komprehensif. Observasi: (1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas setiap 2-4 jam atau sesuai kondisi; (2) Auskultasi suara napas setiap shift untuk mendeteksi adanya ronki, wheezing, atau suara napas tambahan; (3) Monitor saturasi oksigen secara kontinu menggunakan pulse oximetry; (4) Identifikasi faktor-faktor yang memperberat sesak napas (posisi, aktivitas, nyeri, kecemasan). Terapeutik: (1) Posisikan pasien semifowler (30-45 derajat) atau fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi dada dan memudahkan pernapasan; (2) Berikan oksigen sesuai advis dokter (misalnya nasal kanul 2-4 L/menit) untuk mencapai saturasi oksigen >95%; (3) Lakukan fisioterapi dada jika tidak ada kontraindikasi, meliputi perkusi dan vibrasi pada area paru yang mengalami penumpukan cairan (setelah konsultasi dokter); (4) Ajarkan dan bantu pasien melakukan teknik batuk efektif: tarik napas dalam melalui hidung, tahan 2-3 detik, lalu batuk kuat dari dada dalam 2-3 kali hembusan; (5) Lakukan suctioning jika terdapat sekret yang tidak bisa dikeluarkan secara mandiri, dengan teknik steril dan hati-hati; (6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi farmakologis: infus NaCl 0,9% untuk menjaga hidrasi dan mengencerkan sekret, antibiotik ceftriaxone untuk mengatasi infeksi bakterial sekunder, drip resfar (mukolitik/ekspektoran) untuk membantu mengencerkan dahak, paracetamol untuk mengatasi demam (38,2°C) yang dapat meningkatkan metabolisme dan konsumsi oksigen, serta obat anti tuberkulosis (ProTB 4 kombinasi) yang merupakan terapi kausal untuk mengatasi infeksi tuberkulosis sebagai etiologi utama efusi pleura. Edukasi: (1) Jelaskan tujuan dan prosedur setiap tindakan keperawatan; (2) Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda gangguan pernapasan yang perlu dilaporkan (sesak berat, sianosis, napas cuping hidung); (3) Anjurkan pasien untuk minum air hangat secara bertahap (jika tidak ada kontraindikasi) untuk membantu mengencerkan sekret; (4) Edukasi tentang pentingnya kepatuhan minum obat anti tuberkulosis secara teratur dan tuntas untuk mencegah resistensi dan kekambuhan. Kolaborasi: (1) Kolaborasi dengan dokter paru untuk evaluasi hasil rontgen dan kebutuhan torakosintesis ulang jika efusi menumpuk kembali; (2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan diet tinggi kalori dan protein guna mengatasi penurunan berat badan 2 kg dan mendukung proses penyembuhan; (3) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan pernapasan (pursed-lip breathing, diaphragmatic breathing) guna memperkuat otot pernapasan dan meningkatkan efisiensi ventilasi. Intervensi ini juga mencakup perawatan luka pada area torakosintesis: observasi tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak, nyeri, drainase purulen), ganti balutan setiap 24 jam atau jika basah/kotor dengan teknik aseptik, dan dokumentasikan karakteristik luka. Manajemen nyeri juga penting karena nyeri dada bawah yang bertambah saat batuk dapat menghambat kemampuan batuk efektif. Berikan analgesik (pronalgess) sesuai advis 30 menit sebelum melakukan latihan batuk efektif atau fisioterapi dada untuk mengurangi ketidaknyamanan.
Article No. 25730 | 19 May 2026
Klinis : Pasien laki-laki usia 57 tahun datang ke RSUD Dumai dengan keluhan utama sesak napas sejak ±1 minggu sebelum masuk rumah sakit yang dirasakan terus-menerus. Pasien juga mengeluhkan nyeri dada bagian bawah yang bertambah saat batuk, batuk kering sejak ±2 minggu tanpa darah, berkeringat pada malam hari, serta penurunan berat badan sekitar 2 kg dalam 1 minggu terakhir. Selain itu, pasien mengalami demam, namun tidak disertai mual dan muntah. Riwayat penyakit sebelumnya tidak ditemukan keluhan serupa, dan riwayat penyakit keluarga juga tidak ada yang mengalami kondisi yang sama. Saat ini, hasil pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda vital berupa tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 110 x/menit, frekuensi napas 24 x/menit, dan suhu 38,2°C. Pemeriksaan thoraks menunjukkan pergerakan dada kanan tertinggal saat bernapas, fremitus taktil paru kanan melemah pada ICS VII–X, perkusi redup pada area yang sama, serta suara napas vesikuler melemah pada paru kanan. Selain itu, ditemukan ronki pada kedua lapang paru. Pemeriksaan penunjang berupa rontgen thoraks menunjukkan adanya efusi pleura dextra, yang menegakkan diagnosis efusi pleura kanan dengan kemungkinan etiologi tuberkulosis paru. Pemeriksaan laboratorium darah dilaporkan dalam batas normal. Setelah dilakukan tindakan torakosintesis, diperoleh cairan pleura serous sebanyak ±1000 cc, yang kemudian diperiksa sitologi dengan hasil menunjukkan hyperplasia reaktif sel mesotel, dengan kemungkinan proses spesifik belum dapat disingkirkan. Dalam penatalaksanaan, pasien mendapatkan terapi farmakologis berupa infus NaCl 0,9% (IVFD), antibiotik injeksi ceftriaxone 1 x 2 gram/12 jam, drip resfar dalam NaCl 0,9% 200 cc, serta paracetamol 3 x 500 mg. Untuk keluhan nyeri ulu hati diberikan omeprazole injeksi 2 x 1, sucralfate 3 x 1 sirup, dan pronalgess. Setelah tindakan torakosintesis, pasien diberikan terapi obat anti tuberkulosis (ProTB) 4 kombinasi dosis 1 x 3 sesuai berat badan (49 kg) serta suplemen curcuma untuk meningkatkan nafsu makan. Di bagian dada pasien terlihat adanya luka yang telah dibalut pada area torakosintesis.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Efusi pleura kanan, kemungkinan etiologi tuberkulosis paru
Kode ICD-10: J90 (Efusi pleura, tidak diklasifikasikan di tempat lain) + A15.6 (Tuberkulosis paru, dikonfirmasi secara histologis atau sitologis) sebagai kode etiologi sekunder
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan seorang pasien laki-laki berusia 57 tahun dengan efusi pleura kanan yang terdiagnosis melalui rontgen thoraks dan dikonfirmasi dengan torakosintesis yang menghasilkan cairan serous sebanyak ±1000 cc. Secara klinis, pasien menunjukkan gejala klasik efusi pleura seperti sesak napas progresif, nyeri dada pleuritik (bertambah saat batuk), batuk kering, serta tanda-tanda sistemik berupa demam, keringat malam, dan penurunan berat badan. Pemeriksaan fisik mendukung dengan temuan pergerakan dada kanan tertinggal, fremitus taktil melemah, perkusi redup, dan suara napas vesikuler melemah pada area yang sesuai. Hasil sitologi cairan pleura menunjukkan hyperplasia reaktif sel mesotel dengan kemungkinan proses spesifik belum dapat disingkirkan, yang mengarah pada kemungkinan etiologi tuberkulosis paru. Penatalaksanaan diberikan kombinasi terapi suportif (infus NaCl 0,9%, paracetamol, omeprazole, sucralfate, pronalgess), antibiotik ceftriaxone, serta terapi spesifik anti tuberkulosis (ProTB 4 kombinasi dosis sesuai berat badan 49 kg) setelah torakosintesis. Kode ICD-10 yang tepat adalah J90 untuk efusi pleura sebagai diagnosis utama, dan kode A15.6 untuk tuberkulosis paru yang dikonfirmasi secara sitologis sebagai etiologi yang mendasari. Kode A15.6 digunakan karena hasil sitologi menunjukkan hyperplasia reaktif sel mesotel dengan kemungkinan proses spesifik (tuberkulosis) yang belum dapat disingkirkan, dan secara klinis pasien mendapat terapi OAT. Penting untuk dicatat bahwa kodifikasi ini bersifat saran untuk tujuan simulasi dan pelatihan, serta bukan merupakan kodifikasi resmi yang harus diverifikasi oleh profesional medis berdasarkan dokumentasi lengkap dan konfirmasi diagnostik definitif.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 25731 | 19 May 2026
Klinis : Pasien laki-laki usia 57 tahun datang ke RSUD Dumai dengan keluhan utama sesak napas sejak ±1 minggu sebelum masuk rumah sakit yang dirasakan terus-menerus. Pasien juga mengeluhkan nyeri dada bagian bawah yang bertambah saat batuk, batuk kering sejak ±2 minggu tanpa darah, berkeringat pada malam hari, serta penurunan berat badan sekitar 2 kg dalam 1 minggu terakhir. Selain itu, pasien mengalami demam, namun tidak disertai mual dan muntah. Riwayat penyakit sebelumnya tidak ditemukan keluhan serupa, dan riwayat penyakit keluarga juga tidak ada yang mengalami kondisi yang sama. Saat ini, hasil pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda vital berupa tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 110 x/menit, frekuensi napas 24 x/menit, dan suhu 38,2°C. Pemeriksaan thoraks menunjukkan pergerakan dada kanan tertinggal saat bernapas, fremitus taktil paru kanan melemah pada ICS VII–X, perkusi redup pada area yang sama, serta suara napas vesikuler melemah pada paru kanan. Selain itu, ditemukan ronki pada kedua lapang paru. Pemeriksaan penunjang berupa rontgen thoraks menunjukkan adanya efusi pleura dextra, yang menegakkan diagnosis efusi pleura kanan dengan kemungkinan etiologi tuberkulosis paru. Pemeriksaan laboratorium darah dilaporkan dalam batas normal. Setelah dilakukan tindakan torakosintesis, diperoleh cairan pleura serous sebanyak ±1000 cc, yang kemudian diperiksa sitologi dengan hasil menunjukkan hyperplasia reaktif sel mesotel, dengan kemungkinan proses spesifik belum dapat disingkirkan. Dalam penatalaksanaan, pasien mendapatkan terapi farmakologis berupa infus NaCl 0,9% (IVFD), antibiotik injeksi ceftriaxone 1 x 2 gram/12 jam, drip resfar dalam NaCl 0,9% 200 cc, serta paracetamol 3 x 500 mg. Untuk keluhan nyeri ulu hati diberikan omeprazole injeksi 2 x 1, sucralfate 3 x 1 sirup, dan pronalgess. Setelah tindakan torakosintesis, pasien diberikan terapi obat anti tuberkulosis (ProTB) 4 kombinasi dosis 1 x 3 sesuai berat badan (49 kg) serta suplemen curcuma untuk meningkatkan nafsu makan. Di bagian dada pasien terlihat adanya luka yang telah dibalut pada area torakosintesis.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada pasien ini, kondisi tersebut disebabkan oleh akumulasi cairan efusi pleura kanan yang menekan parenkim paru dan bronkus, sehingga mengganggu mekanisme batuk efektif dan refleks pembersihan mukosiliar. Pasien mengalami batuk kering tanpa sekret yang produktif, namun terdapat ronki pada kedua lapang paru yang mengindikasikan adanya sekret atau cairan di saluran napas distal. Pergerakan dada kanan yang tertinggal dan suara napas vesikuler yang melemah pada paru kanan menunjukkan penurunan ventilasi dan ekspansi paru, yang diperberat oleh nyeri dada saat batuk (skala nyeri tidak disebutkan, namun bertambah saat batuk). Demam (38,2°C) dan takipnea (frekuensi napas 24 x/menit) merupakan respons sistemik terhadap infeksi dan hipoksia, yang semakin memperburuk upaya pembersihan jalan napas. Selain itu, penurunan berat badan 2 kg dalam seminggu dan keringat malam menunjukkan kondisi hipermetabolik yang lazim pada tuberkulosis, yang dapat melemahkan otot-otot pernapasan dan mengurangi daya tahan tubuh untuk melakukan batuk efektif. Nadi yang meningkat (110 x/menit) juga menandakan adanya kompensasi kardiovaskular terhadap gangguan pertukaran gas. Dengan demikian, diagnosis ini sangat relevan untuk mengatasi risiko obstruksi jalan napas akibat efusi pleura dan sekret yang tidak dapat dikeluarkan secara optimal.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan bersihan jalan napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Batuk efektif meningkat dari skala 1 (tidak mampu) menjadi skala 4 (sebagian besar mampu) pada skala Likert 1-5; (2) Produksi sputum menurun dari skala 4 (sangat banyak) menjadi skala 2 (sedikit); (3) Suara napas tambahan (ronki) menurun dari skala 4 (sangat berat) menjadi skala 2 (ringan); (4) Frekuensi napas membaik dalam rentang 16-20 x/menit; (5) Penggunaan otot bantu napas menurun dari skala 4 (sangat berat) menjadi skala 1 (tidak ada); (6) Ekspansi dada simetris meningkat dari skala 2 (sedikit) menjadi skala 4 (sebagian besar). Indikator-indikator ini dipilih berdasarkan kondisi pasien yang memiliki efusi pleura kanan dengan pergerakan dada tertinggal, ronki bilateral, dan takipnea. Keberhasilan intervensi akan diukur melalui observasi langsung, auskultasi paru, dan pemantauan tanda-tanda vital setiap shift. Target waktu 3x24 jam didasarkan pada respons awal terhadap terapi OAT dan torakosintesis yang telah dilakukan, yang diharapkan dapat mengurangi tekanan pada paru dan memfasilitasi pengeluaran sekret.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas dengan pendekatan komprehensif. Tindakan mandiri perawat meliputi: (1) Posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru dan memudahkan drainase sekret; (2) Lakukan fisioterapi dada berupa perkusi dan vibrasi pada area paru kanan (kecuali area luka torakosintesis) selama 10-15 menit setiap 4 jam untuk melonggarkan sekret; (3) Ajarkan teknik batuk efektif dengan napas dalam (incentive spirometry jika tersedia) setiap 2 jam saat pasien sadar; (4) Berikan oksigenasi sesuai advis dokter (dokumentasikan saturasi O2 target >94%) untuk mengatasi hipoksia akibat efusi; (5) Lakukan suctioning endotrakeal hanya jika terdapat sekret yang tidak dapat dikeluarkan secara mandiri dan ada indikasi obstruksi berat; (6) Monitor karakteristik sputum (warna, jumlah, konsistensi, bau) setiap 8 jam; (7) Auskultasi suara napas setiap 4 jam dan catat perubahan ronki; (8) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian bronkodilator (jika diindikasikan) dan mukolitik (misal ambroxol) untuk mengencerkan sekret; (9) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya hidrasi oral (minum air hangat 1500-2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan sekret; (10) Monitor efek samping OAT (misal hepatotoksisitas) yang dapat mempengaruhi kondisi umum dan kemampuan batuk. Semua tindakan didokumentasikan dalam catatan keperawatan setiap shift. Kolaborasi dengan tim medis juga mencakup jadwal pemberian obat anti tuberkulosis (ProTB) dan analgetik (paracetamol, pronalgess) untuk mengurangi nyeri saat batuk, sehingga pasien lebih kooperatif dalam melakukan latihan napas.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida di membran kapiler alveoli. Pada pasien ini, efusi pleura kanan yang masif (1000 cc cairan serous) secara mekanik menekan parenkim paru kanan, menyebabkan atelektasis kompresi dan penurunan luas permukaan alveoli yang tersedia untuk pertukaran gas. Hal ini dibuktikan dengan temuan fisik: pergerakan dada kanan tertinggal, fremitus taktil melemah, perkusi redup, dan suara napas vesikuler melemah pada ICS VII-X paru kanan. Akibatnya, ventilasi-perfusi (V/Q) mismatch terjadi, di mana area paru yang masih berventilasi (paru kiri) menerima perfusi yang tidak proporsional, namun secara keseluruhan kapasitas difusi oksigen menurun. Pasien menunjukkan takipnea (24 x/menit) sebagai upaya kompensasi untuk mempertahankan oksigenasi, namun hal ini justru meningkatkan kerja napas dan konsumsi oksigen. Demam (38,2°C) meningkatkan metabolisme basal dan kebutuhan oksigen jaringan, yang semakin memperberat ketidakseimbangan suplai-permintaan oksigen. Nadi takikardi (110 x/menit) merupakan respons kompensasi kardiovaskular untuk meningkatkan cardiac output dan mengantarkan oksigen ke jaringan. Meskipun rontgen thoraks menunjukkan efusi pleura dextra, tidak disebutkan adanya infiltrat atau kavitas yang jelas, namun kemungkinan proses spesifik (tuberkulosis) dapat menyebabkan kerusakan parenkim paru lebih lanjut, mengganggu membran alveoli-kapiler. Penurunan berat badan dan keringat malam menandakan kondisi hipermetabolik yang meningkatkan produksi CO2, sehingga beban eliminasi karbon dioksida juga meningkat. Dengan demikian, diagnosis ini sangat krusial untuk memantau status oksigenasi dan mencegah komplikasi seperti gagal napas.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan pertukaran gas membaik dengan kriteria hasil: (1) Saturasi oksigen (SpO2) meningkat dari <90% (hipoksemia) menjadi >94% pada oksigenasi ruangan atau sesuai target; (2) Tekanan parsial oksigen arteri (PaO2) dalam batas normal (80-100 mmHg) jika dilakukan analisis gas darah; (3) Tekanan parsial karbon dioksida arteri (PaCO2) dalam batas normal (35-45 mmHg) untuk menilai eliminasi CO2; (4) Frekuensi napas membaik dalam rentang 16-20 x/menit; (5) Tidak ada sianosis atau pucat pada membran mukosa dan kuku; (6) Tingkat kesadaran membaik (GCS 15) tanpa gelisah atau somnolen yang menandakan hipoksia serebral; (7) Ekspansi dada simetris meningkat; (8) Suara napas tambahan (ronki) menurun. Target waktu 3x24 jam dipilih karena setelah torakosintesis dan pemberian OAT, diharapkan terjadi re-ekspansi paru kanan secara bertahap. Pemantauan dilakukan setiap 4 jam untuk tanda-tanda vital dan SpO2, serta evaluasi gas darah jika kondisi memburuk.
Kode SIKI: I.01003
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan adalah Manajemen Oksigenasi dengan pendekatan multidisiplin. Tindakan mandiri perawat meliputi: (1) Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan: mulai dengan nasal kanul 2-4 L/menit, titrasi untuk mencapai SpO2 target >94%, dan dokumentasikan respons setiap jam; (2) Posisikan pasien semi-Fowler atau high Fowler (45-90 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan tekanan intraabdomen pada diafragma; (3) Anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam dan lambat (pursed-lip breathing) setiap 2 jam untuk meningkatkan ventilasi alveolar dan mengurangi sesak; (4) Monitor saturasi oksigen secara kontinu menggunakan pulse oximetry, dan catat setiap perubahan signifikan; (5) Auskultasi suara napas setiap 4 jam untuk mendeteksi perbaikan atau perburukan (misal munculnya suara napas bronkial yang menandakan konsolidasi); (6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan analisis gas darah (AGD) setiap 24 jam atau sesuai indikasi
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595