Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 12830 | 24 Feb 2025
Klinis : Seorang laki-laki berusia 30 tahun dirawat dengan keluhan nyeri dan sulit beraktifitas karena fraktur tibia. Pasien tampak lemah dan wajah meringis. Pasien mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas. Kekuatan otot menurun dan rentang gerak (ROM) menurun. Apakah tindakan keperawatan yang harus dilakukan oleh perawat. (Data bisa dikembangkan)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan rencana tindakan keperawatan berdasarkan standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan fraktur tibia, ditandai dengan pasien tampak meringis dan mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot dan rentang gerak (ROM) akibat fraktur tibia.
3. Risiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan imobilitas.
Penjelasan Singkat:
1. Nyeri Akut
- SDKI: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau dijelaskan dalam istilah seperti itu (International Association for the Study of Pain).
- SLKI: Pasien melaporkan nyeri terkontrol, pasien mampu menggunakan teknik manajemen nyeri, dan pasien menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal.
- SIKI: Manajemen nyeri, termasuk pemberian analgesik, terapi dingin/hangat, distraksi, dan edukasi tentang nyeri.
2. Gangguan Mobilitas Fisik
- SDKI: Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam pergerakan fisik yang disengaja dan bebas dari satu atau lebih ekstremitas.
- SLKI: Pasien menunjukkan peningkatan kekuatan otot, pasien melakukan aktivitas sehari-hari dengan mandiri, dan pasien menunjukkan peningkatan rentang gerak sendi.
- SIKI: Terapi latihan, mobilisasi dini, dan edukasi tentang latihan yang sesuai.
3. Risiko Gangguan Integritas Kulit
- SDKI: Risiko gangguan integritas kulit adalah rentan terhadap kerusakan, perubahan, atau kehilangan pada epidermis dan/atau dermis.
- SLKI: Pasien menunjukkan integritas kulit yang baik, tidak ada luka tekan, dan tidak ada tanda-tanda infeksi.
- SIKI: Perawatan kulit, pengaturan posisi, dan penggunaan alat bantu mobilisasi yang sesuai.
Tindakan Keperawatan yang Harus Dilakukan:
1. Manajemen nyeri, termasuk pemberian analgesik, terapi dingin/hangat, distraksi, dan edukasi tentang nyeri.
2. Terapi latihan, mobilisasi dini, dan edukasi tentang latihan yang sesuai untuk meningkatkan kekuatan otot dan rentang gerak sendi.
3. Perawatan kulit, pengaturan posisi, dan penggunaan alat bantu mobilisasi yang sesuai untuk mencegah risiko gangguan integritas kulit.
4. Edukasi bagi pasien dan keluarga tentang manajemen nyeri, terapi latihan, dan perawatan kulit.
5. Kolaborasi dengan tim medis lainnya, seperti dokter orthopedi, untuk pengobatan dan rehabilitasi yang komprehensif.
Dengan melaksanakan tindakan keperawatan yang berpedoman pada standar SDKI, SLKI, dan SIKI, diharapkan pasien dapat mencapai luaran keperawatan yang optimal, yaitu nyeri terkontrol, peningkatan mobilitas fisik, dan integritas kulit yang terjaga. -
Article No. 12831 | 24 Feb 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan bibir dan luka dilutut
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi pasien dengan keluhan bibir dan luka di lutut:
1. Kerusakan Integritas Kulit
Definisi: Perubahan struktur dan fungsi epidermis dan/atau dermis.
Penyebab: Trauma fisik (luka di lutut).
Tanda dan Gejala: Adanya luka di lutut, perubahan warna, nyeri.
2. Gangguan Komunikasi Verbal
Definisi: Keterbatasan dalam pengiriman atau penerimaan pesan verbal.
Penyebab: Kerusakan fisik (luka di bibir).
Tanda dan Gejala: Kesulitan berbicara, tidak mampu mengungkapkan kebutuhan.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Kerusakan Integritas Kulit
- Penyembuhan Luka: Luka di lutut sembuh tanpa komplikasi.
- Kontrol Nyeri: Pasien mampu mengontrol nyeri yang dirasakan.
- Peningkatan Integritas Kulit: Tidak ada tanda-tanda infeksi pada luka.
2. Gangguan Komunikasi Verbal
- Komunikasi Efektif: Pasien mampu berkomunikasi secara verbal dengan jelas dan dapat dimengerti.
- Ekspresi Kebutuhan: Pasien mampu mengungkapkan kebutuhan secara verbal.
- Partisipasi dalam Perawatan: Pasien terlibat aktif dalam proses perawatan.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Kerusakan Integritas Kulit
- Perawatan Luka: Membersihkan, mendebridemen, dan merawat luka di lutut sesuai prosedur.
- Manajemen Nyeri: Memberikan analgesik, kompres es, dan teknik distraksi untuk mengurangi nyeri.
- Edukasi Perawatan Luka: Mengajarkan pasien dan keluarga tentang perawatan luka yang tepat.
2. Gangguan Komunikasi Verbal
- Komunikasi Terapeutik: Menggunakan teknik komunikasi yang efektif, seperti kontak mata, nada suara yang ramah, dan bahasa tubuh yang mendukung.
- Fasilitasi Komunikasi: Menyediakan alat bantu komunikasi, seperti papan tulis atau kartu gambar, untuk membantu pasien mengekspresikan kebutuhan.
- Edukasi Komunikasi: Mengajarkan pasien dan keluarga teknik-teknik komunikasi verbal yang tepat.
Dengan menerapkan intervensi keperawatan yang sesuai, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu penyembuhan luka, kontrol nyeri, peningkatan integritas kulit, komunikasi efektif, ekspresi kebutuhan, dan partisipasi aktif dalam proses perawatan. -
Article No. 12832 | 24 Feb 2025
Klinis : Nama : ny. W Umur 19 Jenis kelamin perempuan No rm 276552 Diagnosa medis : Observasi Febris ec Dengue Haemorrhagic Fever dan Trombositopenia Status pernikahan : belum menikah Agama : Islam Suku bangsa : Indonesia Pendidikan : sma Pekerjaan : pegawai swasta Tanggal masuk rs : 12 febuari Tanggal pengkajian 13 febuari Dokter penanggung jawab : dr. Pom Identitas penanggung jawab : Nama : tn E Umur 24 Alamat griya Mukti Asri Pekerjaan pegawai swasta Keluhan utama pada pasien - pasien mengatakan demam - Pasien mengatakan pusing - Pasien mengatakan mual Keluhan pada saat didata - pasien mengatakan demam naik turun - Pasien mengatakan pusing - Pasien mengatakan mual hingga muntah Kesehatan sekarang : Pasien datang dengan keluhan demam sejak 12 febuari 2025 demam yang dirasakan naik turun, pasien mengatakan mual hingga muntah dan lemes dan pasien juga mengatakan adanya batuk sejak 2-3 hari, dan pasien mengatakan adanya bab hitam 1x pada tanggal 13 Kesehatan dahulu Tidak adanya riwayat penyakit Kesehatan keluarga Tidak ada riwayat kesehatan seperti pasien Riwayat Tidak ada alergi obat Obat jadi dari rs - omeprazole 20 mg cap novel 2x1 - Psiidi 500 mg cap 3x1 - Parasetamol 500 mg kapl 3x1 po - Terpasang cairan rl 20 tpm Hasil lab : dr. Puji ( hematologi rutin ) - Hemoglobin hasil 14,6 nilai rujukan 11,7-11,5 - Leukosit hasil 8000 nilai rujukan 3,800-10,600 - Hematokrit hasilnya 42,7 nilai rujukan 31-43 - Trombosit hasilnya 74,000 nilai rujukannya 150,000-444,000 Glukosa sewaktu dr puji - Basofil hasilnya 0 nilai rujukan 0-1 - Eosinofil hasilnya 0 nilai rujukannya 2-4 - Neutrofil hasilnya 57 nilai rujukannya 50-70 - Limfosit hasilnya 24 nilai rujukannya 25-40 - Monosit hasilnya 19 nilai rujukannya 2-8 - Glukosa sewaktu 133 nilai rujukan 60-140 Hematologi rutin dr oom - Hemoglobin hasilnya 13,2 nilai rujukannya 11,7-15,5 - Leukosit hasilnya 5,800 nilai rujukannya 3,800-10,600 - Hematokrit hasilnya 37,0 nilai rujukannya 31-43 - Trombosit hasilnya 74,000 nilai rujukannya 150,000-444,000 Dengue igd, igm hemoglobin rutin dr.oom - - Hemoglobin hasilnya 12,3 nilai rujukannya 11,7-15,5 - Leukosit hasilnya 4,780nilai rujukannya 3,800-10,600 - Hematokrit hasilnya 34,8 nilai rujukannya 31-43 - Trombosit hasilnya 64,000 nilai rujukannya 150,000-444,000 - igM anti dengue hasilnya negatif hasil rujukan negatif - IgD anti dengue hasilnya positif rujukannya negatif Instruksi IVFD RL/Sjam-R/cek IgG (+), IgM (-) - cek H2TL/24 jam - Therapy Terlampir Tanda Tanda Vital Sistole 119 mmHg Diastole : 82 mmHg Saturan Oksigen 99% Suhu 36.4 °c Pernapasan : 20 Nadi : 75x/menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Ny. W:
Diagnosa Keperawatan:
1. Hipertermia berhubungan dengan infeksi virus Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ditandai dengan demam naik turun, pusing, dan mual.
2. Risiko Perdarahan berhubungan dengan trombositopenia ditandai dengan adanya bab hitam.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, dan muntah.
Penjelasan singkat:
1. Hipertermia berhubungan dengan infeksi virus Dengue Hemorrhagic Fever (DHF):
- SDKI: Hipertermia
- SLKI: Manajemen Suhu
- SIKI: Manajemen Demam
2. Risiko Perdarahan berhubungan dengan trombositopenia:
- SDKI: Risiko Perdarahan
- SLKI: Manajemen Perdarahan
- SIKI: Manajemen Risiko Perdarahan
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, dan muntah:
- SDKI: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- SLKI: Manajemen Nutrisi
- SIKI: Manajemen Asupan Nutrisi
Dalam penerapan asuhan keperawatan, perawat harus mempertimbangkan intervensi keperawatan yang sesuai dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI untuk menangani masalah-masalah keperawatan yang dialami oleh pasien Ny. W. -
Article No. 12833 | 24 Feb 2025
Klinis : Pasien masih bekerja sebagai desain kosmetik berumur 22 tahun belum menikah Selebihnya pake data karangan saja di bagian keluhan utama sesuai itu aja ya ka pake pqrs DATA KASUS : diagnosa medis nya : observasi febris h+ 3 Keluhan sebelum masuk rumah sakit : * pasien mengeluh awalnya batuk lalu setelah 3 hari kemudian pasien mengeluh adanya demam, pusing, dan nyeri pada perut Keluhan pada saat dirumah sakit * pasien masih merasa demam setelah di rawat demam dan pusingnya nya mulai mereda, batuk nya juga mulai enakan tetapi masih merasakan nyeri pada perut * Tekanan darah pada pasien : 110/81 * Nadi : 75 * spo : 99 * rr : 20 * suhu : 36,3 * skala nyerinya 3 Pemeriksaan lainnya * kebutuhan oksigen tidak ada * kesadaran : alert * berat badan : 50 kg * tinggi badan 175 * indeks masa tubuh : 16 Obat pada saat di rumah sakit * antrain * pct * clindamycim * cetirizine * ambroxol Obat saat pulang * lansoprazole 30 mg cap nulab (6) 1x1 * rebamipide 100 mg tab (6) 1x1 * clindamycine 150 mg cap nr (15) 3x1 * cetirizine 10 mg fc tab ( 10 ) 2x1 * ambroxol 30 mg tab (20) 4x1 Histori laboratorium * ( dr. Kusdrajat) hasilnya : -hemoglobin hasilnya (14,4) -leukosit hasilnya (7,890) -hematokrit hasilnya ( 39,6) -trombosit hasilnya (160,000) * menurut ( dr. Diah) -glukosa sewaktu 100 * hematologi rutin menurut ( dr. Diah ) -hemoglobin hasilnya ( 14,6) -leukosit hasilnya ( 7,880) -hematokrit hasilnya ( 39,8) -trombosit hasilnya ( 150,000) * rontgen tanpa kontras-thorax PA menurut ( dr.diah) -observasi febris h+3 ( non icd) dengan hasil sebagai berikut 1. Cor : CTR < 50 % 2. pulmo : hillus dan vaskuler kasar tidak terdapat infiltras sinus kostofrenikus dan diafragma baik 3. Kesannya : cor dan pulmo dalam batas normal Pola aktivitas : * pada makan nafsunya menurun * bab normal * minum juga normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data kasus yang diberikan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk pasien dengan kondisi tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko perubahan suhu tubuh.
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Risiko perubahan suhu tubuh adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami peningkatan atau penurunan suhu tubuh dari rentang normal.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Keadaan suhu tubuh dalam rentang normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Pemantauan suhu tubuh, manajemen demam, terapi antipiretik, dan tindakan pendinginan.
Penjelasan singkat:
Pasien mengalami demam dan pusing, yang merupakan tanda-tanda adanya risiko perubahan suhu tubuh. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah memantau suhu tubuh pasien secara berkala, memberikan tindakan pendinginan jika suhu tubuh meningkat, serta memberikan terapi antipiretik sesuai rekomendasi medis.
2. Ketidakefektifan pola napas.
Penjelasan:
SDKI: Ketidakefektifan pola napas adalah kondisi di mana individu mengalami perubahan dalam frekuensi, kedalaman, atau irama pernapasan yang mengganggu ventilasi.
SLKI: Pola napas efektif.
SIKI: Pemantauan respirasi, terapi oksigen, dan edukasi teknik relaksasi.
Penjelasan singkat:
Pasien mengalami batuk, yang mungkin dapat mempengaruhi pola napasnya. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah memantau tanda-tanda vital pernapasan, memberikan terapi oksigen jika diperlukan, serta mengajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi batuk.
3. Nyeri akut.
Penjelasan:
SDKI: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang dijelaskan dalam istilah-istilah tersebut.
SLKI: Tingkat nyeri menurun.
SIKI: Manajemen nyeri, terapi farmakologis, dan teknik non-farmakologis.
Penjelasan singkat:
Pasien mengeluhkan nyeri pada perut, yang merupakan tanda-tanda adanya nyeri akut. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah melakukan manajemen nyeri, memberikan terapi farmakologis sesuai rekomendasi medis, serta mengajarkan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri. -
Article No. 12834 | 24 Feb 2025
Klinis : Hiperbilurubin
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Hiperbilirubinemia.
Diagnosa Keperawatan:
1. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan peningkatan kadar bilirubin
Penjelasan:
- Intoleransi Aktivitas merupakan ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan, yang disebabkan oleh perasaan kelelahan, kelemahan, atau kekurangan energi.
- Pada kondisi hiperbilirubinemia, peningkatan kadar bilirubin dapat menyebabkan rasa lelah, kelemahan, dan penurunan energi sehingga pasien mengalami intoleransi dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
2. Risiko Gangguan Perfusi Jaringan berhubungan dengan peningkatan kadar bilirubin
Penjelasan:
- Risiko Gangguan Perfusi Jaringan adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami penurunan aliran darah ke jaringan yang dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan.
- Pada hiperbilirubinemia, peningkatan kadar bilirubin dapat menyebabkan gangguan perfusi jaringan, terutama di otak (kernikterus) dan jaringan lain sehingga berisiko mengalami kerusakan.
3. Risiko Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan peningkatan kadar bilirubin
Penjelasan:
- Risiko Kerusakan Integritas Kulit adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami kerusakan pada kulit dan membran mukosa.
- Pada hiperbilirubinemia, peningkatan kadar bilirubin dapat menyebabkan pewarnaan kuning pada kulit (ikterus) yang dapat mengarah pada kerusakan integritas kulit bila tidak segera ditangani.
Penerapan SDKI - SLKI - SIKI:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) digunakan untuk menentukan diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) digunakan untuk menentukan luaran/hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) digunakan untuk menentukan intervensi keperawatan yang sesuai untuk mencapai luaran yang diharapkan.
Dalam penerapannya, perawat akan menggunakan ketiga standar tersebut secara terintegrasi untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berkualitas bagi pasien dengan kondisi hiperbilirubinemia. -
Article No. 12835 | 24 Feb 2025
Klinis : Hiperbilurubin diagnosa medisnya sebutkan diagnosa keperawatannya minimal 3
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat dari SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi Hiperbilirubinemia.
Diagnosa Medis: Hiperbilirubinemia
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan: Cerebral
Penjelasan: Kondisi hiperbilirubinemia dapat menyebabkan peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang dapat berdampak pada gangguan perfusi ke jaringan otak. Ini dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf pusat dan perkembangan bayi.
2. Intoleransi Aktivitas
Penjelasan: Hiperbilirubinemia dapat menyebabkan kelelahan, letargi, dan penurunan energi yang dapat mengganggu kemampuan bayi untuk beraktivitas secara efektif.
3. Risiko Kerusakan Kulit
Penjelasan: Peningkatan kadar bilirubin dalam darah dapat menyebabkan jaundice (kulit dan sklera tampak kekuningan) yang dapat berdampak pada integritas kulit dan meningkatkan risiko kerusakan kulit.
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
SDKI adalah standar diagnosis keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. Dalam kasus hiperbilirubinemia, diagnosis keperawatan yang relevan adalah Ketidakefektifan Perfusi Jaringan: Cerebral, Intoleransi Aktivitas, dan Risiko Kerusakan Kulit.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
SLKI adalah standar luaran keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. Luaran keperawatan yang diharapkan untuk kondisi hiperbilirubinemia antara lain pemulihan perfusi jaringan otak, peningkatan toleransi aktivitas, dan integritas kulit yang terjaga.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
SIKI adalah standar intervensi keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk menangani hiperbilirubinemia antara lain pemantauan neurologi, manajemen aktivitas, dan perawatan kulit.
Sebagai perawat profesional, saya akan menggunakan pendekatan holistik dalam memberikan asuhan keperawatan yang berpusat pada pasien dan berfokus pada pemulihan serta peningkatan kualitas hidup pasien. -
Article No. 12836 | 24 Feb 2025
Klinis : Pos of sc diagnosa medis apa diagnosa keperawatannya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai seorang perawat yang berpengalaman, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien dengan diagnosis medis Pos of SC.
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan penurunan perfusi jaringan.
Penjelasan: Pasien dengan Pos of SC berisiko mengalami gangguan integritas kulit, seperti luka tekan atau kerusakan kulit, akibat penurunan perfusi jaringan yang disebabkan oleh kondisi medis tersebut.
2. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas berhubungan dengan sekret berlebih.
Penjelasan: Pasien dengan Pos of SC dapat mengalami ketidakefektifan bersihan jalan napas karena adanya sekret berlebih yang dapat menghambat aliran udara.
3. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan keterbatasan aktivitas.
Penjelasan: Pasien dengan Pos of SC mungkin mengalami ketidakseimbangan nutrisi karena adanya keterbatasan aktivitas yang dapat menurunkan asupan dan kebutuhan nutrisi.
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
SDKI adalah standar diagnosis keperawatan yang digunakan di Indonesia. Setiap diagnosis keperawatan yang teridentifikasi harus memenuhi kriteria SDKI, yang mencakup definisi, penyebab, gejala dan tanda, serta faktor yang berhubungan.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
SLKI adalah standar luaran atau hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan. Setiap diagnosa keperawatan harus memiliki luaran yang terukur dan dapat dicapai, sesuai dengan SLKI.
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
SIKI adalah standar intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan. Intervensi keperawatan harus sesuai dengan SIKI dan disesuaikan dengan kondisi pasien.
Sebagai seorang perawat, saya akan menggunakan SDKI, SLKI, dan SIKI sebagai panduan dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berkualitas bagi pasien dengan diagnosis medis Pos of SC. -
Article No. 12837 | 24 Feb 2025
Klinis : Pos of sc diagnosa medis apa diagnosa keperawatannya
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang Anda berikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis, serta diagnosis keperawatan yang sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R10.2
- Deskripsi: Nyeri perut lokasi tidak ditentukan
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 88.72
- Deskripsi: Pemeriksaan fisik abdomen, termasuk rektum
Diagnosis Keperawatan:
Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit yang tidak diketahui, seperti yang ditunjukkan oleh keluhan nyeri perut yang dirasakan pasien.
Penjelasan:
Kode ICD-10 R10.2 (Nyeri perut lokasi tidak ditentukan) sesuai dengan keluhan utama pasien, yaitu nyeri perut yang tidak memiliki lokasi yang spesifik. Kode ICD-9-CM 88.72 (Pemeriksaan fisik abdomen, termasuk rektum) mengindikasikan bahwa prosedur pemeriksaan fisik abdomen, termasuk pemeriksaan rektum, mungkin dilakukan untuk mengevaluasi kondisi pasien.
Diagnosis keperawatan "Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit yang tidak diketahui" mencerminkan kondisi pasien yang mengalami nyeri perut dengan penyebab yang belum dapat ditentukan. Perawat akan fokus pada pengkajian, manajemen, dan pemantauan nyeri pasien, serta melakukan intervensi keperawatan yang sesuai untuk mengatasi masalah ini. -
Article No. 12838 | 24 Feb 2025
Klinis : Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada persalinan normal kala I-IV adalah: 1. Nyeri melahirkan berhubungan dengan dilatasi serviks 2. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional 3. Keletihan berhubungan dengan kondisi fisiologis persalinan 4. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan faktor mekanis 5. Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif 6. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi urutkan dari diagnosa prioritas dan paling sering muncul untuk persalinan normal kala I-IV
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, sebagai perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi persalinan normal kala I-IV.
Diagnosa Keperawatan Prioritas:
1. Nyeri melahirkan berhubungan dengan dilatasi serviks
- SDKI: Nyeri akut
- SLKI: Manajemen nyeri
- SIKI: Manajemen nyeri akut
Nyeri melahirkan merupakan diagnosa keperawatan yang paling sering muncul pada persalinan normal kala I-IV. Nyeri terjadi akibat proses dilatasi serviks yang berlangsung selama persalinan. Penanganan utamanya adalah manajemen nyeri, baik farmakologis maupun nonfarmakologis.
2. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional
- SDKI: Ansietas
- SLKI: Manajemen ansietas
- SIKI: Manajemen ansietas
Ansietas adalah reaksi emosional terhadap ancaman yang dirasakan oleh ibu selama proses persalinan. Penanganannya meliputi teknik relaksasi, komunikasi terapeutik, dan dukungan emosional.
3. Keletihan berhubungan dengan kondisi fisiologis persalinan
- SDKI: Kelelahan
- SLKI: Manajemen kelelahan
- SIKI: Manajemen kelelahan
Kelelahan terjadi akibat aktivitas fisik yang meningkat selama proses persalinan. Penanganan utamanya adalah memfasilitasi istirahat dan tidur yang cukup, serta mempertahankan energi ibu.
4. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan faktor mekanis
- SDKI: Kerusakan integritas kulit
- SLKI: Perawatan luka
- SIKI: Perawatan luka
Gangguan integritas kulit dapat terjadi akibat gesekan atau tekanan pada kulit selama proses persalinan. Penanganannya meliputi perawatan luka, pencegahan infeksi, dan mempertahankan kelembapan kulit.
5. Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif
- SDKI: Risiko infeksi
- SLKI: Pencegahan infeksi
- SIKI: Pencegahan infeksi
Risiko infeksi dapat muncul akibat prosedur invasif selama persalinan, seperti pemeriksaan dalam, episiotomi, atau tindakan lainnya. Penanganannya meliputi pencegahan infeksi melalui asepsis, monitoring tanda-tanda infeksi, dan pemberian antibiotik jika diperlukan.
6. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi
- SDKI: Defisit pengetahuan
- SLKI: Peningkatan pengetahuan
- SIKI: Edukasi kesehatan
Defisit pengetahuan dapat terjadi jika ibu kurang mendapatkan informasi tentang proses persalinan dan perawatan diri. Penanganannya adalah memberikan edukasi kesehatan, baik secara verbal maupun audiovisual, untuk meningkatkan pengetahuan ibu.
Dalam konteks persalinan normal kala I-IV, diagnosa keperawatan yang paling sering muncul dan menjadi prioritas adalah nyeri melahirkan, ansietas, dan keletihan. Sedangkan diagnosa lainnya, seperti gangguan integritas kulit, risiko infeksi, dan defisit pengetahuan, juga perlu mendapat perhatian dan penanganan yang sesuai. -
Article No. 12839 | 24 Feb 2025
Klinis : diagnosa pada persalinan normal kala I-IV
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan pada Persalinan Normal Kala I-IV:
1. Diagnosa Keperawatan pada Kala I:
a. Nyeri Akut
- Berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), nyeri akut didefinisikan sebagai pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial.
- Pada kala I persalinan, ibu merasakan nyeri kontraksi uterus yang semakin kuat dan sering.
b. Risiko Intoleransi Aktivitas
- Berdasarkan SDKI, risiko intoleransi aktivitas adalah risiko mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik yang diinginkan atau dibutuhkan.
- Pada kala I persalinan, ibu dapat mengalami kelelahan dan kelemahan akibat kontraksi uterus yang semakin kuat dan sering.
2. Diagnosa Keperawatan pada Kala II:
a. Kesiapan Proses Persalinan
- Berdasarkan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), kesiapan proses persalinan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan selama proses persalinan.
- Pada kala II persalinan, ibu harus siap secara fisik, psikologis, dan spiritual untuk memasuki tahap pengeluaran bayi.
3. Diagnosa Keperawatan pada Kala III:
a. Risiko Perdarahan
- Berdasarkan SDKI, risiko perdarahan adalah risiko mengalami kehilangan darah yang berlebihan.
- Pada kala III persalinan, terjadi pelepasan plasenta yang dapat menyebabkan perdarahan jika tidak dikelola dengan baik.
4. Diagnosa Keperawatan pada Kala IV:
a. Risiko Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit
- Berdasarkan SDKI, risiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit adalah risiko mengalami peningkatan atau penurunan volume dan/atau komposisi cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular.
- Pada kala IV persalinan, ibu dapat mengalami kehilangan cairan dan elektrolit akibat proses persalinan yang melelahkan.
Secara umum, SDKI, SLKI, dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai pedoman dalam praktik keperawatan di Indonesia. Standar-standar ini disusun berdasarkan bukti ilmiah terkini dan praktik klinis terbaik untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berkualitas.