Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 12949 | 27 Feb 2025
Klinis : Pasien tampak meringgis, nyeri dada sampai ulu hati susah nafas saat berbaring serta bertambah sesak jika berjalan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) berdasarkan kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Dada Akut
Penjelasan:
Pasien tampak meringgis, mengeluhkan nyeri dada sampai ulu hati, serta mengalami sesak napas saat berbaring dan bertambah saat berjalan. Hal ini menunjukkan adanya Nyeri Dada Akut, yang merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Nyeri Dada Akut dicirikan oleh keluhan nyeri dada, sesak napas, dan perasaan tertekan di dada. Pasien juga dapat mengalami peningkatan frekuensi nadi, perubahan tekanan darah, dan perubahan ekspresi wajah.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan Nyeri Dada Akut adalah pasien dapat melaporkan berkurangnya nyeri dada, meningkatnya kemampuan untuk bernapas dengan nyaman, serta stabilnya tanda-tanda vital.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk Nyeri Dada Akut meliputi:
1. Manajemen Nyeri: Mengkaji karakteristik nyeri, memberikan obat analgesik sesuai indikasi, dan melakukan teknik nonfarmakologis seperti relaksasi.
2. Manajemen Jalan Napas: Memantau status pernapasan, memposisikan pasien dengan nyaman, dan memberikan oksigen jika diperlukan.
3. Pemantauan Tanda Vital: Mengukur dan memantau tanda-tanda vital secara berkala.
Penerapan standar SDKI, SLKI, dan SIKI ini akan membantu dalam memberikan asuhan keperawatan yang terstruktur dan komprehensif untuk menangani Nyeri Dada Akut pada pasien. -
Article No. 12950 | 27 Feb 2025
Klinis : Nyeri dada sampai uluh hati, tampak meringgis, gelisah, selalu megang dada, merasa lelah dan sesak saat berbaring serta bertambah sesak jika berjalan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Kardiovaskular
Penjelasan:
Berdasarkan gejala yang Anda sampaikan, pasien mengalami nyeri dada sampai uluh hati, tampak meringis, gelisah, selalu memegang dada, merasa lelah dan sesak saat berbaring serta bertambah sesak jika berjalan. Hal ini mengarah pada diagnosa keperawatan Nyeri Kardiovaskular.
Nyeri Kardiovaskular adalah rasa nyeri atau tidak nyaman yang dirasakan di daerah dada, yang berasal dari jantung, pembuluh darah, atau struktur lain dalam rongga dada. Nyeri ini dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti penyakit jantung koroner, angina, infark miokard, atau kondisi lainnya.
Menurut SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), Nyeri Kardiovaskular didefinisikan sebagai "sensasi nyeri atau tidak nyaman di daerah dada yang berasal dari jantung, pembuluh darah, atau struktur lain dalam rongga dada."
Menurut SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), luaran yang diharapkan dari Nyeri Kardiovaskular adalah:
1. Nyeri terkontrol
2. Kecemasan terkontrol
3. Perfusi jaringan adekuat
Sedangkan menurut SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia), intervensi yang dapat dilakukan untuk Nyeri Kardiovaskular meliputi:
1. Manajemen Nyeri
2. Manajemen Kecemasan
3. Terapi Oksigen
4. Edukasi Pasien dan Keluarga
Dengan pendekatan ini, diharapkan kondisi pasien dapat ditangani secara komprehensif dan sesuai dengan standar praktik keperawatan di Indonesia. -
Article No. 12951 | 27 Feb 2025
Klinis : Tuan X (50 tahun) bekerja sebagai tenaga kerja di proyek bangunan, dan jarang bisa ditemui di rumah. Beliau tinggal di rumah kos bersama istrinya Ny. A (44 tahun), dan dua orang anaknya (E 16 tahun dan N 5 tahun). Saat ini, Ny A sedang hamil (G3P2---2) memasuki usia kehamilan 24 minggu. Menurut pemeriksaan terakhir, Skor Puji Rochiyati Ny A termasuk kehamilan resiko tinggi disertai hipertensi, dan tes urine yang pernah dilakukan oleh perawat keluarga menunjukan adanya proteinuria. Keluarga Tn X belum terdaftar dan belum mau mendaftar sebagai peserta BPJS. Anggapan keluarga tuan X, jika menggunakan BPJS akan tidak mendapatkan pelayanan yang layak di rumah sakit saat akan bersalin nanti. Pemahaman ini Tn X dapatkan dari tetangga. Sementara Ny A mulai menunjukkan kekhawatiran akan keselamatan diri dan bayinya terkait keluarga yang belum pasti. Tentukan diagnosa dan intervensi yang sesuai untuk kasus tersebut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan mempertimbangkan kondisi yang dialami oleh Tuan X dan keluarganya, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai standar SDKI - SLKI - SIKI yang dapat diterapkan:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan
2. Kurang Pengetahuan
3. Kecemasan
Penjelasan:
1. Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan
- SDKI: Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan
- SLKI: Perilaku Sehat
- SIKI: Manajemen Kesehatan
Keluarga Tuan X belum terdaftar dan belum mau mendaftar sebagai peserta BPJS, yang dapat memengaruhi akses dan kontinuitas perawatan yang dibutuhkan Ny. A selama kehamilan berisiko tinggi.
2. Kurang Pengetahuan
- SDKI: Kurang Pengetahuan
- SLKI: Pemahaman
- SIKI: Pendidikan Kesehatan
Keluarga Tuan X memiliki pemahaman yang kurang tepat tentang pelayanan kesehatan menggunakan BPJS, yang dapat menghambat akses ke perawatan yang diperlukan.
3. Kecemasan
- SDKI: Kecemasan
- SLKI: Coping
- SIKI: Manajemen Kecemasan
Ny. A menunjukkan kekhawatiran akan keselamatan diri dan bayinya terkait dengan kehamilan berisiko tinggi dan ketidakpastian dalam mengakses perawatan yang dibutuhkan.
Intervensi Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan:
- Edukasi tentang manfaat dan proses pendaftaran BPJS
- Fasilitasi pendaftaran BPJS
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk memastikan kontinuitas perawatan
2. Kurang Pengetahuan:
- Berikan edukasi tentang kehamilan berisiko tinggi dan pentingnya akses ke perawatan yang memadai
- Gunakan media edukasi yang sesuai dengan tingkat pemahaman keluarga
- Libatkan keluarga dalam perencanaan dan evaluasi perawatan
3. Kecemasan:
- Lakukan asesmen komprehensif tentang sumber dan tingkat kecemasan
- Berikan intervensi teknik relaksasi dan dukungan emosional
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan mental jika diperlukan
- Libatkan keluarga dalam manajemen kecemasan
Dengan pendekatan yang holistik dan kolaboratif, diharapkan kondisi Ny. A dan keluarga dapat ditangani secara efektif sesuai dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia. -
Article No. 12952 | 27 Feb 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan pusing dan mual muntah
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci terkait kondisi pasien dengan keluhan pusing dan mual muntah.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Berdasarkan gejala yang dialami pasien, yaitu pusing dan mual muntah, maka diagnosa keperawatan yang sesuai dengan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah:
a. Mual (00134)
Definisi: Sensasi tidak nyaman di perut yang dapat menyebabkan keinginan untuk muntah.
b. Pusing (00086)
Definisi: Sensasi berputar atau tidak seimbang yang disebabkan oleh gangguan fungsi sistem saraf pusat.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Mual (0002)
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
- Frekuensi muntah berkurang
- Ekspresi wajah menunjukkan penurunan rasa tidak nyaman
- Menunjukkan strategi mengatasi mual yang efektif
b. Keseimbangan Cairan (0601)
- Intake dan output cairan seimbang
- Tanda-tanda dehidrasi tidak ada
- Turgor kulit baik
- Mukosa mulut lembab
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Manajemen Mual (3550)
- Identifikasi penyebab dan faktor yang mempengaruhi mual
- Bantu pasien mengidentifikasi dan menerapkan strategi untuk mengatasi mual (misalnya, relaksasi, terapi pijat, terapi pernapasan)
- Berikan antiemetik sesuai indikasi dokter
- Ajarkan teknik-teknik untuk mengurangi mual, seperti makan sedikit tapi sering, menghindari makanan yang menyebabkan mual, dan mengonsumsi air hangat
b. Manajemen Hidrasi (4120)
- Pantau tanda-tanda dehidrasi dan intake/output cairan
- Berikan cairan intravena sesuai indikasi dokter untuk mengatasi dehidrasi
- Anjurkan pasien untuk mengonsumsi cairan oral secara bertahap
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya hidrasi yang adekuat
Penjelasan yang rinci di atas mencakup diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan dalam menangani pasien dengan keluhan pusing dan mual muntah. Sebagai seorang perawat profesional, saya berharap penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berkualitas. -
Article No. 12953 | 27 Feb 2025
Klinis : pasien datang dengan batu empedu
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk pasien dengan kondisi batu empedu:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Nyeri akut berhubungan dengan obstruksi saluran empedu yang disebabkan oleh batu empedu. Pasien dengan batu empedu dapat mengalami nyeri yang timbul secara tiba-tiba dan dapat menjalar ke punggung. Nyeri ini disebabkan oleh kontraksi saluran empedu akibat obstruksi yang terjadi. Diagnosa keperawatan ini penting untuk mengidentifikasi dan mengatasi nyeri yang dialami pasien.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Tingkat nyeri menurun: Pasien dapat melaporkan penurunan tingkat nyeri setelah dilakukan intervensi keperawatan yang tepat.
2. Kemampuan mengatasi nyeri meningkat: Pasien mampu menggunakan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti relaksasi, distraksi, atau kompres hangat.
3. Kecemasan berkurang: Pasien dapat menunjukkan penurunan tanda-tanda kecemasan, seperti denyut nadi dan tekanan darah yang normal, serta mampu mengungkapkan perasaannya.
4. Tidur yang adekuat: Pasien dapat tidur dengan nyenyak tanpa terganggu oleh nyeri.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Nyeri
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, dan faktor pencetus nyeri.
- Berikan analgesik sesuai instruksi medis untuk mengurangi nyeri.
- Lakukan intervensi non-farmakologis, seperti kompres hangat, relaksasi, atau distraksi untuk mengurangi nyeri.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (dokter, ahli gizi) untuk menentukan intervensi yang tepat.
2. Manajemen Kecemasan
- Lakukan pengkajian terhadap tanda-tanda kecemasan yang muncul pada pasien.
- Berikan informasi yang jelas dan akurat mengenai kondisi pasien serta rencana perawatan.
- Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan dan kekhawatirannya.
- Ajarkan teknik relaksasi, seperti napas dalam, untuk membantu menurunkan kecemasan.
- Berikan dukungan emosional dan libatkan keluarga dalam proses perawatan.
3. Manajemen Gangguan Tidur
- Lakukan pengkajian terhadap pola tidur pasien, termasuk durasi, kualitas, dan gangguan tidur.
- Modifikasi lingkungan untuk mendukung tidur yang adekuat, seperti menjaga ruangan tetap tenang dan nyaman.
- Terapkan intervensi non-farmakologis, seperti relaksasi atau terapi musik, untuk membantu pasien tidur.
- Kolaborasi dengan dokter untuk mempertimbangkan pemberian obat tidur jika diperlukan.
- Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya tidur yang adekuat bagi pemulihan.
Dengan melaksanakan intervensi keperawatan yang komprehensif dan terpadu, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diinginkan, yaitu penurunan nyeri, peningkatan kemampuan mengatasi nyeri, penurunan kecemasan, dan tidur yang adekuat. Hal ini akan mendukung proses pemulihan pasien dengan batu empedu. -
Article No. 12954 | 27 Feb 2025
Klinis : kontrol kesehatan
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait kondisi kontrol kesehatan, sesuai dengan standar asuhan keperawatan di Indonesia.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi kontrol kesehatan adalah "Manajemen Kesehatan" (SDKI, 2017). Diagnosa ini mengacu pada kemampuan individu untuk mengelola dan mempertahankan kondisi kesehatan yang optimal. Indikator yang dapat ditemukan pada kondisi ini antara lain: 1) Ketidakmampuan mengikuti regimen pengobatan, 2) Ketidaktepatan pemanfaatan sumber daya kesehatan, 3) Ketidakpatuhan terhadap instruksi tenaga kesehatan, dan 4) Ketidakmampuan mengambil keputusan terkait kesehatan.
Luaran/Output yang diharapkan (SLKI):
1. Perilaku Kesehatan Promotif: Pasien mampu menunjukkan perilaku-perilaku yang mendukung kesehatan, seperti memeriksakan kesehatan secara rutin, mengikuti instruksi petugas kesehatan, dan memanfaatkan sumber daya kesehatan yang tersedia.
2. Manajemen Regimen Terapeutik: Pasien mampu mengelola regimen terapeutik yang diberikan, seperti minum obat sesuai jadwal, melakukan perawatan diri, dan mengubah gaya hidup yang tidak sehat.
3. Efikasi Diri Kesehatan: Pasien menunjukkan keyakinan diri yang kuat dalam mengelola kondisi kesehatannya, sehingga mampu membuat keputusan yang tepat terkait perawatan kesehatan.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Edukasi Kesehatan: Perawat memberikan informasi dan pendidikan kesehatan kepada pasien terkait pentingnya kontrol kesehatan, manfaat memeriksakan diri secara rutin, serta cara-cara mengelola regimen terapeutik yang diberikan.
2. Fasilitasi Akses Pelayanan Kesehatan: Perawat membantu pasien untuk mengakses dan memanfaatkan sumber daya kesehatan yang tersedia, seperti memfasilitasi penjadwalan pemeriksaan, transportasi, dan biaya perawatan.
3. Manajemen Regimen Terapeutik: Perawat membantu pasien dalam mengelola regimen terapeutik yang diberikan, seperti menyusun jadwal minum obat, melakukan perawatan diri, dan membuat rencana perubahan gaya hidup.
4. Peningkatan Efikasi Diri: Perawat memberikan dukungan dan motivasi kepada pasien agar memiliki keyakinan diri yang kuat dalam mengelola kondisi kesehatannya, sehingga mampu membuat keputusan yang tepat terkait perawatan kesehatan.
Dengan menerapkan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu mampu menunjukkan perilaku kesehatan promotif, mengelola regimen terapeutik dengan baik, serta memiliki efikasi diri kesehatan yang kuat. Hal ini akan mendukung keberhasilan kontrol kesehatan dan peningkatan kualitas hidup pasien. -
Article No. 12955 | 27 Feb 2025
Klinis : D.0111 - Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi D.0111 - Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan:
Diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi ini adalah "Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan". Diagnosa ini mengindikasikan bahwa pasien memiliki kemampuan dan motivasi untuk meningkatkan manajemen kesehatan mereka, namun membutuhkan bantuan perawat untuk mengoptimalkan kemampuan tersebut.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Luaran yang diharapkan setelah asuhan keperawatan untuk kondisi ini adalah:
a. Pasien dapat mendemonstrasikan pemahaman yang baik tentang manajemen kesehatan.
b. Pasien dapat mengidentifikasi dan mengatasi hambatan dalam menerapkan manajemen kesehatan yang efektif.
c. Pasien dapat menerapkan strategi manajemen kesehatan yang tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.
d. Pasien dapat mengevaluasi efektivitas strategi manajemen kesehatan yang diterapkan dan melakukan penyesuaian jika diperlukan.
e. Pasien dapat mempertahankan perilaku manajemen kesehatan yang positif dalam jangka panjang.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran yang diharapkan adalah:
a. Asesmen: Melakukan asesmen komprehensif terhadap kemampuan pasien dalam mengelola kesehatan, termasuk identifikasi kekuatan, kelemahan, dan hambatan yang dihadapi.
b. Edukasi: Memberikan edukasi dan konseling kepada pasien mengenai konsep manajemen kesehatan, termasuk pentingnya perilaku sehat, pengelolaan penyakit kronis, dan pemanfaatan sumber daya kesehatan yang tersedia.
c. Kolaborasi: Berkolaborasi dengan pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan lainnya untuk mengembangkan rencana manajemen kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi pasien.
d. Monitoring dan Evaluasi: Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap kemajuan pasien dalam menerapkan manajemen kesehatan, serta melakukan penyesuaian intervensi jika diperlukan.
e. Dukungan: Memberikan dukungan, motivasi, dan penguatan kepada pasien untuk mempertahankan perilaku manajemen kesehatan yang positif dalam jangka panjang.
Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan, perawat harus mempertimbangkan aspek-aspek yang terkait dengan kondisi pasien, seperti faktor fisik, psikologis, sosial, dan budaya, serta melibatkan pasien secara aktif dalam proses pengambilan keputusan. Dengan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif, diharapkan pasien dapat mencapai tujuan luaran yang diharapkan dan memperoleh manfaat yang optimal dari asuhan keperawatan yang diberikan. -
Article No. 12957 | 27 Feb 2025
Klinis : asma, nyeri jantung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi asma dan nyeri jantung.
Untuk asma:
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
2. Kesiapan Meningkatkan Pengetahuan
3. Ketidakefektifan Pola Napas
Penjelasan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan ventilasi yang adekuat.
2. Kesiapan Meningkatkan Pengetahuan: Pola pikir atau perilaku seseorang yang menunjukkan keinginan dan motivasi untuk meningkatkan pemahaman mengenai kondisi kesehatannya.
3. Ketidakefektifan Pola Napas: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
Untuk nyeri jantung:
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Akut
2. Intoleransi Aktivitas
3. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiak
Penjelasan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Nyeri Akut: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
2. Intoleransi Aktivitas: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan karena keterbatasan fisiologis atau psikologis.
3. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiak: Penurunan sirkulasi darah dan oksigen ke jantung yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi.
Penjelasan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dapat dijelaskan lebih lanjut jika diperlukan. -
Article No. 12958 | 27 Feb 2025
Klinis : Pasien Ny. N usia 48 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri abdomen bagian bawah, bagian kiri bawah, nyeri memberat 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri hilang timbul dirasakan sejak 1 tahun yang lalu. Keluhan juga BAB bercampur darah. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit lainnya. Namun ada keluarga yang pernah menderita tumor. Hasil pemeriksaan didapatkan kesadaran compos mentis, Td: 111/86 mmHg, N: 106 x/menit, RR: 24x/ menit, S: 36,5oC. Hasil pemeriksaan fisik ditemukan konjungtiva anemis, sklera ikterik, di leher tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening, membrane mukosa pucat. Hasil pemeriksaan paru simetris kiri dan kanan, suara napas vesikuler. Pemeriksaan jantung, ictus cordis teraba 2 jari di RIC 5 LMCS, auskultasi terdengar bunyi jantung I dan II, bising (-). Hasil pemeriksaan abdomen, tampak distensi, tidak ada bekas luka, terdapat benjolan di bagian kiri bawah ukuran sekitar 4-5 cm, bising usus (+), nyeri tekan (+). Ekstremitas tidak ada kelainan, CRT >3 detik. Pasien mengalami penurunan berat badan, IMT 17,3, tidak nafsu makan sejak 8 bulan belakangan. Pasien juga mengalami BAB tidak teratur, kadang sekali 4 hari akdang sekali seminggu, BAB yang keluar kecil-kecil, seperti kotoran kambing disertai darah dan nyeri saat BAB. Nyeri abdomen terasa menusuk, skala nyeri 8, nyeri hilang timbul. Pasien mengatakan ia memiliki riwayat suka mengkonsumsi daging dan jarang mengkonsumsi sayur dan buah, pasien juga suka mengkomsumsi makanan olahan (fast food). Hasil pemeriksaan penunjang Hb: 7,2 g/dl, leukosit 22.120/mm3, trombosit 284.000/mm3 , Ht 30%, eritrosit 3,8 jt/mm3, MCV 78, MCH 26. Hasil ronxent abdomen terdapat massa pada bagian kiri bawah area sigmoid. Pasien direncanakan untuk tindakan operasi. Pasien mengatakan takut dan cemas untuk dioperasi.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien Ny. N. Saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin dengan tone akademis dan persona sebagai perawat pakar.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit (tumor) yang ditandai dengan keluhan nyeri abdomen, nyeri saat BAB, dan skala nyeri 8.
2. Defisit nutrisi berhubungan dengan penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan yang ditandai dengan IMT 17,3.
3. Gangguan eliminasi berhubungan dengan perubahan pola BAB yang tidak teratur, BAB kecil-kecil, dan disertai darah.
4. Cemas berhubungan dengan rencana tindakan operasi.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Nyeri Akut:
- Pasien dapat melaporkan penurunan skala nyeri.
- Pasien dapat melakukan manajemen nyeri yang efektif.
- Pasien dapat mempertahankan aktivitas sehari-hari.
2. Defisit Nutrisi:
- Pasien dapat mempertahankan berat badan ideal.
- Pasien dapat mengonsumsi makanan yang seimbang dan bergizi.
- Pasien dapat mengalami peningkatan nafsu makan.
3. Gangguan Eliminasi:
- Pasien dapat mengembalikan pola defekasi yang normal.
- Pasien dapat melaporkan pengurangan keluhan saat BAB.
- Pasien dapat mempertahankan kebersihan perineal.
4. Cemas:
- Pasien dapat mengungkapkan penurunan kecemasan terhadap tindakan operasi.
- Pasien dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan.
- Pasien dapat bekerja sama dengan tim kesehatan selama proses perawatan.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Nyeri Akut:
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
- Berikan analgesik sesuai dengan instruksi medis.
- Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri (relaksasi, distraksi, kompres hangat/dingin).
- Kolaborasi dengan dokter untuk penanganan nyeri lebih lanjut.
2. Defisit Nutrisi:
- Kaji status nutrisi pasien secara menyeluruh.
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet yang sesuai.
- Berikan makanan yang tinggi kalori, protein, dan nutrisi.
- Monitoring berat badan secara berkala.
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi yang seimbang.
3. Gangguan Eliminasi:
- Kaji pola eliminasi pasien secara rinci.
- Berikan intervensi untuk memfasilitasi pola eliminasi yang normal (posisi, diet tinggi serat, dan pemberian laksatif).
- Ajarkan pasien tentang teknik defekasi yang tepat.
- Pantau frekuensi, konsistensi, dan karakteristik BAB.
- Kolaborasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut.
4. Cemas:
- Lakukan pengkajian kecemasan secara komprehensif.
- Berikan dukungan emosional dan psikologis.
- Ajarkan teknik relaksasi (napas dalam, visualisasi, musik).
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (psikolog, konselor) jika diperlukan.
- Libatkan keluarga dalam proses perawatan untuk memberikan dukungan.
Dengan diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang telah diuraikan, diharapkan dapat membantu menangani kondisi pasien Ny. N secara komprehensif dan meningkatkan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan. -
Article No. 12959 | 27 Feb 2025
Klinis : KASUS SIROSIS HEPATIS Tn R usia 52 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan utama perut membesar sejak 3 bulan terakhir. Pasien juga mengeluhkan mual, muntah, penurunan nafsu makan, gatal pada kulit serta mudah lelah. Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien sering mengeluhkan nyeri perut kanan atas dan mengalami pembengkakan pada kedua tungkai sejak satu bulan terakhir. Pasien memiliki riwayat konsumsi alkohol sejak 20 tahun lalu, dengan rata-rata konsumsi 2-3 botol bir per hari. Selain itu, pasien pernah didiagnosis hepatitis B 10 tahun yang lalu tetapi tidak menjalani pengobatan secara teratur. Hasil pemeriksaan fisik ditemukan kesadaran: Compos mentis, TD: 100/70 mmHg, N: 92x/menit, RR: 22x/menit, Suhu: 37,5°C, Terdapat spider angioma di dada dan tangan, Sklera ikterik, asites, Tungkai edema (+2), Hati dan limpa teraba membesar dengan konsistensi keras. Pemeriksaan Penunjang: • Laboratorium: o Hb: 10 g/dL o Leukosit: 9.500/mm3 o Trombosit: 80.000/mm3 o SGOT: 95 U/L o SGPT: 72 U/L o Albumin: 2,8 g/dL o Bilirubin total: 4,2 mg/dL o Bilirubin direct: 2,5 mg/dL o INR ((International Normalized Ratio)) : 1,8 • USG Abdomen: o Hati tampak mengecil dengan permukaan tidak rata o Terdapat cairan asites dalam jumlah sedang o Splenomegali (+) • Endoskopi: o Varises esofagus derajat II
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus di atas, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang dikeluarkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan :
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan kelemahan fisik.
2. Gangguan rasa nyaman: gatal berhubungan dengan sirosis hati.
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan nafsu makan.
4. Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan fungsi hati.
5. Risiko ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan peningkatan tekanan intra-abdomen.
Penjelasan Singkat:
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan kelemahan fisik:
- SDKI: Intoleransi aktivitas
- SLKI: Toleransi aktivitas
- SIKI: Manajemen aktivitas
2. Gangguan rasa nyaman: gatal berhubungan dengan sirosis hati:
- SDKI: Gangguan rasa nyaman: gatal
- SLKI: Kenyamanan: Bebas dari gatal
- SIKI: Manajemen rasa nyeri
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan nafsu makan:
- SDKI: Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
- SLKI: Status nutrisi: Seimbang
- SIKI: Manajemen nutrisi
4. Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan fungsi hati:
- SDKI: Ketidakefektifan perfusi jaringan
- SLKI: Perfusi jaringan: Efektif
- SIKI: Manajemen sirkulasi
5. Risiko ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan peningkatan tekanan intra-abdomen:
- SDKI: Risiko ketidakefektifan pola napas
- SLKI: Pola napas: Efektif
- SIKI: Manajemen jalan napas
Secara singkat, diagnosa keperawatan di atas berfokus pada masalah aktivitas, kenyamanan, nutrisi, perfusi jaringan, dan pola napas yang terkait dengan kondisi sirosis hati pada pasien. Setiap diagnosa dilengkapi dengan SDKI, SLKI, dan SIKI sebagai panduan dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif.