Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24113 | 17 Feb 2026
Klinis : DS: - Pasien mengeluh berdebar-debar - Pasien mengatakan mudah lelah - Pasien mengeluh sering berkeringat DO: - HR: 118 x/menit, Takikardi - Pernapasan 22 x/menit - TD: 140/85 mmHg - Tremor halus tangan (+) - Kelenjar tiroid membesar (struma) - T3 ↑, T4 ↑, TSH ↓
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Tirotoksikosis dengan Struma Difus (Penyakit Graves)
Kode ICD-10: E05.00
Deskripsi Singkat : Kondisi ini adalah tirotoksikosis, suatu sindrom klinis akibat kelebihan hormon tiroid dalam sirkulasi darah, yang dalam kasus ini disebabkan oleh penyakit Graves (tirotoksikosis dengan struma difus). Temuan subjektif (DS) seperti berdebar-debar, mudah lelah, dan sering berkeringat, serta temuan objektif (DO) seperti takikardia (HR 118), tremor halus, dan pembesaran kelenjar tiroid (struma) sangat khas. Konfirmasi laboratorium menunjukkan peningkatan hormon tiroid (T3 dan T4) dengan penekanan hormon perangsang tiroid (TSH). Kode ICD-10 E05.00 secara spesifik mengindikasikan "Tirotoksikosis dengan struma difus tanpa menyebutkan tirotoksikosis badai". Kode ini berada dalam bab "Penyakit Endokrin, Nutrisi, dan Metabolik" (E00-E90), lebih tepatnya di bawah blok "Gangguan Tiroid Lainnya" (E00-E07). Penggunaan kode ini memerlukan konfirmasi diagnosis oleh dokter, biasanya melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti yang tercantum. Penting untuk membedakannya dari penyebab tirotoksikosis lainnya (seperti nodul toksik atau tiroiditis) karena memiliki kode ICD-10 yang berbeda dan penatalaksanaan jangka panjang yang mungkin tidak sama.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24114 | 17 Feb 2026
Klinis : DS: - Pasien mengeluh berdebar-debar - Pasien mengatakan mudah lelah - Pasien mengeluh sering berkeringat DO: - HR: 118 x/menit, Takikardi - Pernapasan 22 x/menit - TD: 140/85 mmHg - Tremor halus tangan (+) - Kelenjar tiroid membesar (struma) - T3 ↑, T4 ↑, TSH ↓
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertiroidisme / Tirotoksikosis (Berdasarkan Data Pasien)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan berhubungan dengan peningkatan metabolisme, hipertermia, diaforesis, dan takikardi.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk pasien (TD, nadi, pernapasan), turgor kulit baik, membran mukosa lembab, haluaran urine adekuat, tidak ada tanda dehidrasi atau kelebihan beban cairan, serta keseimbangan masukan dan haluaran. Dalam konteks hipertiroidisme, fokusnya adalah pada pemantauan dan pencegahan kehilangan cairan berlebihan melalui mekanisme seperti diaforesis (berkeringat banyak) dan peningkatan laju pernapasan. Perawat akan memantau tanda-tanda vital secara ketat, khususnya takikardi dan peningkatan suhu tubuh yang dapat memperburuk kehilangan cairan, mendorong asupan cairan yang adekuat untuk menggantikan kehilangan, serta memantau haluaran urine dan tanda klinis dehidrasi lainnya seperti turgor kulit dan kelembaban membran mukosa.
Kode SIKI: I.11070
Deskripsi : Manajemen Cairan. Intervensi keperawatan ini melibatkan serangkaian tindakan untuk mempromosikan, mempertahankan, dan memulihkan keseimbangan cairan. Pada pasien dengan gejala hipertiroid seperti takikardi, diaforesis, dan peningkatan laju metabolisme, intervensi spesifik meliputi: 1) Memantau tanda-tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan, suhu) secara teratur dan lebih sering untuk mendeteksi perubahan dini. 2) Mengajarkan dan mendorong pasien untuk meningkatkan asupan cairan oral (misalnya, 2-3 liter per hari jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengkompensasi kehilangan cairan melalui keringat dan pernapasan. 3) Memantau haluaran urine (jumlah, warna, berat jenis) sebagai indikator status hidrasi. 4) Memantau tanda-tanda dehidrasi seperti turgor kulit, kelembaban membran mukosa, rasa haus, dan penurunan tekanan darah ortostatik. 5) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi farmakologis (seperti antitiroid) untuk mengatasi penyebab dasar peningkatan metabolisme, sehingga secara tidak langsung membantu menstabilkan kebutuhan dan kehilangan cairan. 6) Menciptakan lingkungan yang sejuk dan nyaman untuk mengurangi diaforesis. 7) Mendokumentasikan masukan dan haluaran cairan secara akurat. Tindakan-tindakan ini bertujuan untuk mencegah komplikasi seperti dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, dan beban jantung berlebih akibat takikardi yang diperberat oleh volume cairan yang tidak adekuat.
Kondisi: Hipertiroidisme / Tirotoksikosis (Berdasarkan Data Pasien)
Kode SDKI: D.0098
Deskripsi Singkat: Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan kelemahan otot, kelelahan, dan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen akibat peningkatan metabolisme.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat. Kriteria hasil meliputi: pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan atau tanda-tanda intoleransi (seperti takikardi, sesak napas, pusing), mampu mengidentifikasi faktor yang menyebabkan kelelahan, serta mempraktikkan teknik penghematan energi. Pada pasien hipertiroid, tujuan utamanya adalah mencapai tingkat aktivitas yang sesuai dengan kemampuan fisiologisnya yang terbatas sementara akibat penyakit. Perawat akan mengevaluasi respons fisiologis (denyut nadi, pernapasan, tekanan darah) sebelum, selama, dan setelah aktivitas. Pasien diharapkan dapat berpartisipasi dalam perawatan diri secara bertahap, melaporkan penurunan keluhan mudah lelah, dan menunjukkan pemahaman tentang pentingnya istirahat dan aktivitas yang seimbang.
Kode SIKI: I.03006
Deskripsi : Manajemen Energi. Intervensi ini ditujukan untuk mengatur penggunaan energi untuk memperlambat kelelahan dan meningkatkan fungsi. Langkah-langkah spesifik untuk pasien hipertiroid meliputi: 1) Mengkaji tingkat kelelahan dan kemampuan fungsional pasien secara berkala. 2) Mengajarkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat melakukan aktivitas (mandi, menyisir rambut), istirahat yang cukup di sela-sela aktivitas, dan mengatur prioritas aktivitas. 3) Mendorong periode istirahat yang cukup, termasuk tidur malam yang nyenyak dan istirahat siang. 4) Kolaborasi dalam pemberian obat antitiroid untuk menurunkan laju metabolisme, yang pada akhirnya akan mengurangi kelelahan dan meningkatkan toleransi aktivitas. 5) Membantu pasien dalam menyusun jadwal aktivitas harian yang realistis, menyeimbangkan antara aktivitas dan istirahat. 6) Memantau respons tanda vital terhadap aktivitas untuk mencegah aktivitas yang berlebihan. 7) Memberikan dukungan nutrisi yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan kalori yang meningkat akibat hipermetabolisme. Dengan intervensi ini, diharapkan pasien dapat beradaptasi dengan kondisi kelemahannya sementara dan mencegah kelelahan yang memperburuk kondisi.
Kondisi: Hipertiroidisme / Tirotoksikosis (Berdasarkan Data Pasien)
Kode SDKI: D.0124
Deskripsi Singkat: Ansietas berhubungan dengan stimulasi sistem saraf pusat akibat efek hormon tiroid berlebihan dan perubahan status kesehatan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol ansietas. Kriteria hasil mencakup: pasien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala ansietasnya, melaporkan penurunan perasaan gugup dan berdebar-debar, menunjukkan perilaku yang tenang (misalnya, tremor berkurang, mampu istirahat), serta menggunakan strategi koping yang efektif untuk mengurangi kecemasan. Dalam konteks hipertiroid, ansietas seringkali merupakan manifestasi fisiologis langsung dari kelebihan hormon tiroid yang merangsang sistem saraf. Oleh karena itu, tujuan perawatan tidak hanya manajemen psikologis tetapi juga kontrol fisiologis. Pasien diharapkan menunjukkan penurunan gejala seperti kegelisahan motorik (tremor) dan keluhan berdebar-debar seiring dengan terkontrolnya kadar hormon tiroid.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Pengurangan Ansietas. Intervensi ini melibatkan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan perasaan khawatir, takut, dan gelisah. Implementasi pada pasien hipertiroid bersifat komprehensif: 1) Mengkaji tingkat ansietas dan manifestasinya (subjektif seperti perasaan gugup, dan objektif seperti tremor, takikardi). 2) Menciptakan lingkungan yang tenang, nyaman, dan tidak terlalu merangsang (misalnya, mengurangi kebisingan, pengunjung). 3) Mengajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam dan progresif untuk membantu mengontrol respons fisiologis. 4) Memberikan penjelasan yang jelas tentang penyakit, pengobatan, dan kemajuan kondisinya untuk mengurangi ansietas akibat ketidaktahuan. 5) Kolaborasi pemberian terapi farmakologis: obat antiansietas mungkin diberikan untuk gejala akut, tetapi yang utama adalah obat antitiroid (seperti propiltiourasil atau metimazol) untuk mengatasi akar penyebab ansietas fisiologis. 6) Memantau tanda-tanda vital dan gejala ansietas secara teratur. 7) Memberikan dukungan emosional dan mendengarkan keluhan pasien dengan empati. Pendekatan ini menggabungkan manajemen penyebab organik (hipertiroid) dengan dukungan psikologis untuk mengatasi ansietas secara holistik.
-
Article No. 24115 | 17 Feb 2026
Klinis : DS: - Pasien mengatakan tidak nafsu makan - Pasien mengeluh merasa mual - Pasien mengeluh diare 3-4x/hari DO: - BB turun 8 kg dalam 3 bulan - IMT: 18,75 kg/m²(Berat badan kurang (Underweight)) - Konjungtiva anemis - Turgor kulit menurun - Peristaltik usus: 28 x/menit - Albumin: 3,0 g/dL (↓)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh adalah keadaan individu yang berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada kasus ini, data menunjukkan bahwa risiko tersebut telah termanifestasi menjadi masalah aktual. Pasien mengalami penurunan berat badan yang signifikan (8 kg dalam 3 bulan), IMT dalam kategori underweight (18,75 kg/m²), dan penurunan kadar albumin (3,0 g/dL). Hal ini diperparah dengan gejala subjektif seperti anoreksia, mual, dan diare yang menyebabkan peningkatan kehilangan nutrisi dan gangguan penyerapan. Konjungtiva anemis mengindikasikan kemungkinan defisiensi nutrisi seperti zat besi atau vitamin B12, sementara turgor kulit menurun menunjukkan dehidrasi sekunder akibat diare. Peningkatan peristaltik usus (28x/menit) mengkonfirmasi adanya hiperaktivitas usus yang memperburuk diare. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan siklus malnutrisi yang dapat mengarah pada penurunan fungsi imun, penyembuhan lambat, dan kelemahan otot.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : SLKI L.1.1.1 berfokus pada Pemantauan Status Nutrisi. Intervensi keperawatan yang komprehensif mencakup pemantauan berat badan secara teratur dan akurat untuk melacak tren penurunan, pengukuran antropometri (seperti IMT dan lingkar lengan atas), serta pemantauan asupan makanan dan cairan secara detail setiap hari. Perawat juga harus memantau tanda-tanda klinis malnutrisi lebih lanjut seperti edema, kekeringan kulit/rambut, dan kelemahan. Pemantauan hasil laboratorium seperti albumin, prealbumin, hemoglobin, dan elektrolit sangat krusial untuk menilai keparahan dan respons terhadap intervensi. Selain itu, penting untuk memantau faktor penyebab, seperti frekuensi dan karakteristik diare, serta intensitas keluhan mual. Dokumentasi yang cermat dari semua parameter ini akan menjadi dasar evaluasi efektivitas rencana perawatan dan kebutuhan modifikasi intervensi.
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : SIKI I.1.1.1 adalah Intervensi Manajemen Nutrisi. Tindakan spesifik yang harus dilakukan perawat meliputi: Pertama, kolaborasi dengan ahli gizi untuk melakukan assessment nutrisi lengkap dan menyusun rencana diet tinggi kalori dan tinggi protein yang disesuaikan dengan toleransi pasien, mungkin dalam porsi kecil namun sering. Kedua, mengatasi gejala yang menghambat asupan, seperti mengatur pemberian obat antiemetik (untuk mual) dan antidiare sesuai kolaborasi dengan dokter, serta menciptakan lingkungan makan yang nyaman dan bebas bau menyengat. Ketiga, memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi, pilihan makanan yang padat nutrisi, dan teknik mengatasi mual. Keempat, dapat dilakukan kolaborasi untuk pemberian suplemen nutrisi oral atau, jika diperlukan, terapi nutrisi enteral/parenteral. Kelima, intervensi untuk memantau dan mencegah komplikasi dehidrasi dengan mendorong asupan cairan yang adekuat dan memantau tanda-tanda dehidrasi. Seluruh tindakan ini harus dilakukan dengan pendekatan holistik, mempertimbangkan kondisi psikologis pasien yang mungkin juga memengaruhi nafsu makan, dan dilakukan evaluasi berkala terhadap pencapaian target berat badan serta perbaikan parameter laboratorium.
-
Article No. 24116 | 17 Feb 2026
Klinis : DS: - Pasien mengatakan tidak nafsu makan - Pasien mengeluh merasa mual - Pasien mengeluh diare 3-4x/hari DO: - BB turun 8 kg dalam 3 bulan - IMT: 18,75 kg/m²(Berat badan kurang (Underweight)) - Konjungtiva anemis - Turgor kulit menurun - Peristaltik usus: 28 x/menit - Albumin: 3,0 g/dL (↓)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang Dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Keadaan dinamis dimana individu berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.03120
Deskripsi : SLKI L.03120: Manajemen Nutrisi. Tujuan dari SLKI ini adalah agar kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi. Luaran yang diharapkan dapat diukur melalui indikator-indikator seperti: 1) Asupan makanan dan cairan sesuai dengan kebutuhan, 2) Berat badan stabil atau meningkat mencapai target, 3) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin, hemoglobin) dalam rentang normal, 4) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi lebih lanjut (seperti edema, kulit kering bersisik, rambut mudah rontok), 5) Pasien melaporkan peningkatan nafsu makan dan penurunan keluhan gastrointestinal, serta 6) Pasien dan keluarga memahami pentingnya pemenuhan nutrisi dan jenis makanan yang dianjurkan. Pada kasus ini, target utama adalah menghentikan penurunan berat badan, menaikkan berat badan secara bertahap hingga mencapai IMT normal (>18.5 kg/m²), meningkatkan kadar albumin, memperbaiki turgor kulit, dan menghilangkan keluhan mual serta diare.
Kode SIKI: I.05280
Deskripsi : SIKI I.05280: Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan sistematis untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan nutrisi pasien. Langkah-langkahnya meliputi: 1) **Pengkajian Komprehensif**: Memantau asupan makanan dan cairan secara ketat setiap hari, menimbang berat badan secara teratur (misal 2-3 kali seminggu), mengobservasi tanda klinis malnutrisi (turgor kulit, konjungtiva), dan memantau frekuensi serta karakteristik diare. 2) **Kolaborasi dan Rujukan**: Berkolaborasi dengan dokter untuk terapi medis mengatasi penyebab mual dan diare (misalnya pemberian antiemetik atau antidiare jika indikasi), serta dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori, protein, dan jenis diet yang tepat (misal diet tinggi kalori tinggi protein/ TKTP, rendah serat untuk sementara waktu, makanan lunak, porsi kecil tapi sering). Kolaborasi juga mungkin diperlukan untuk pemberian suplementasi nutrisi oral atau terapi parenteral jika asupan oral sangat kurang. 3) **Intervensi Langsung**: Menciptakan lingkungan makan yang nyaman, bebas bau yang memualkan. Menganjurkan dan membantu pasien untuk makan dalam porsi kecil namun sering (6-8 kali sehari). Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi, jenis makanan yang dianjurkan (sumber protein seperti telur, ikan, ayam, tempe), dan cara pengolahannya yang mudah dicerna. Menganjurkan konsumsi cairan di sela waktu makan, bukan bersamaan, untuk menghindari rasa cepat kenyang. 4) **Edukasi dan Dukungan**: Mengajarkan pasien dan keluarga untuk mengenali tanda dehidrasi dan malnutrisi. Memberikan dukungan psikologis karena penurunan nafsu makan dan berat badan dapat menimbulkan kecemasan. Memotivasi pasien untuk mencapai target peningkatan berat badan secara bertahap. 5) **Evaluasi**: Mengevaluasi efektivitas intervensi dengan membandingkan data berat badan, asupan makanan, hasil laboratorium (albumin), dan pengurangan keluhan subjektif pasien secara berkala, serta menyesuaikan rencana intervensi berdasarkan respons pasien.
Kondisi: Risiko Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: B.3.2
Deskripsi Singkat: Keadaan dinamis dimana individu berisiko mengalami penurunan volume sirkulasi, intravaskuler, atau interstitial.
Kode SLKI: L.04030
Deskripsi : SLKI L.04030: Manajemen Keseimbangan Cairan. Tujuan dari SLKI ini adalah agar keseimbangan cairan dan elektrolit pasien terjaga. Luaran yang diharapkan meliputi: 1) Tanda-tanda vital (terutama nadi dan tekanan darah) dalam rentang normal untuk pasien, 2) Turgor kulit membaik (kembali elastis dalam waktu < 2 detik), 3) Membran mukosa lembab, 4) Produksi urin adekuat (output >0.5 mL/kgBB/jam), 5) Keseimbangan cairan (input dan output) mendekati seimbang, 6) Frekuensi diare menurun atau berhenti, 7) Pasien tidak mengeluh haus berlebihan atau lemas, serta 8) Nilai laboratorium terkait (seperti hematokrit, natrium) stabil dalam batas normal. Pada kondisi pasien dengan diare dan turgor menurun, target utamanya adalah mencegah berkembangnya defisit volume cairan yang nyata dengan memulihkan hidrasi dan mengatasi penyebab kehilangan cairan.
Kode SIKI: I.08030
Deskripsi : SIKI I.08030: Manajemen Keseimbangan Cairan. Intervensi ini difokuskan pada pemantauan, pencegahan, dan koreksi terhadap ketidakseimbangan cairan. Tindakan yang dilakukan meliputi: 1) **Pemantauan Ketat**: Memonitor tanda-tanda vital (nadi, tekanan darah, suhu, pernapasan) secara berkala, mengobservasi tanda dehidrasi (turgor kulit, mata cekung, status membran mukosa), serta mencatat intake dan output cairan secara akurat termasuk volume diare. Memantau berat badan harian untuk mendeteksi perubahan cairan yang cepat. 2) **Intervensi Pemberian Cairan**: Menganjurkan dan memastikan pasien meningkatkan asupan cairan oral secara bertahap, seperti air putih, oralit, atau cairan elektrolit lainnya. Menganjurkan untuk menghindari minuman yang bersifat diuretik (seperti kopi, teh kental) atau yang merangsang usus. Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan intravena jika asupan oral tidak memadai atau tanda dehidrasi memberat. 3) **Mengatasi Penyebab**: Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi untuk mengatasi diare (misalnya obat antidiare, antibiotik jika disebabkan infeksi). Memberikan edukasi pada pasien tentang pentingnya menjaga kebersihan makanan dan tangan untuk mencegah diare infeksius berulang. 4) **Edukasi Pasien dan Keluarga**: Mengajarkan keluarga cara membuat dan memberikan oralit. Menjelaskan tanda-tanda dehidrasi yang perlu diwaspadai dan kapan harus segera mencari pertolongan. Menganjurkan pola minum sedikit-sedikit tetapi sering untuk memudahkan absorpsi. 5) **Evaluasi**: Mengevaluasi status hidrasi pasien setiap shift berdasarkan data pemantauan klinis dan keseimbangan cairan, serta menyesuaikan rencana intervensi berdasarkan perkembangan kondisi pasien.
-
Article No. 24117 | 17 Feb 2026
Klinis : Tidak ada denyut nadi dan tidak ada pernapasan Pada pukul 10:25 pagi, seorang pria berusia 48 tahun dengan riwayat hipertensi mengunjungi rumah sakit setempat dengan keluhan nyeri dada dan sesak napas yang dimulai 3 hari sebelumnya. Saat tiba di ruang gawat darurat, ia dalam kondisi hemodinamik tidak stabil (tekanan darah: 70/30 mmHg, denyut jantung: sulit diukur, laju pernapasan: 35 napas per menit). Pada pukul 10:33 pagi, pasien mengalami takikardia ventrikular berkelanjutan dan kehilangan kesadaran, E1V1M1, yang menyebabkan henti jantung dalam 10 detik. Ia tidak memiliki denyut nadi karotis atau femoral yang teraba, dan tidak ada pernapasan spontan. Selanjutnya, resusitasi dilakukan; fibrilasi ventrikular (VF) terdeteksi setelah 5 menit CPR. Resusitasi dilakukan dengan mematuhi secara ketat pedoman dukungan hidup kardiak lanjutan (ACLS) dari American Heart Association/American College of Cardiology hingga ECMO dapat dipasang, kemungkinan dilakukan CPR, defibrilasi, dan injeksi obat darurat. ECMO veno-veno-arterial (VA) dimulai 80 menit setelah dimulainya CPR, dan kembalinya sirkulasi spontan tercapai 10 menit kemudian.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Henti Jantung dengan Resusitasi Jantung Paru (RJP) Berlanjut, disertai Sindrom Pasca Henti Jantung
Kode ICD-10: I46.9 (Henti jantung, tidak disebutkan) dan I46.2 (Henti jantung berhubungan dengan dan mengikuti prosedur) serta kode tambahan Z92.82 (Riwayat resusitasi jantung paru)
Deskripsi Singkat : Pasien mengalami henti jantung (I46.9) yang dipicu oleh takikardia ventrikular berkelanjutan dan berkembang menjadi fibrilasi ventrikel, dalam konteks presentasi klinis yang sangat sugestif terhadap sindrom koroner akut. Kode I46.2 juga relevan karena henti jantung terjadi dalam konteks perawatan medis (saat tiba di IGD) dan mengikuti intervensi resusitasi yang ekstensif. Keadaan ini ditandai dengan tidak adanya denyut nadi dan pernapasan spontan, memerlukan resusitasi jantung paru (RJP) yang diperpanjang sesuai protokol ACLS, termasuk defibrilasi dan pemberian obat, hingga akhirnya mencapai pengembalian sirkulasi spontan (ROSC) setelah pemasangan ECMO VA. Kode Z92.82 mencatat riwayat RJP yang signifikan secara klinis. Secara kolektif, kode-kode ini menggambarkan kejadian henti jantung mendadak yang berhasil diresusitasi tetapi dengan periode anoksia serebral yang berpotensi signifikan, memerlukan pemantauan dan penanganan lanjutan untuk sindrom pasca henti jantung yang meliputi disfungsi neurologis, miokard, dan sistemik.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24118 | 17 Feb 2026
Klinis : Tidak ada denyut nadi dan tidak ada pernapasan Pada pukul 10:25 pagi, seorang pria berusia 48 tahun dengan riwayat hipertensi mengunjungi rumah sakit setempat dengan keluhan nyeri dada dan sesak napas yang dimulai 3 hari sebelumnya. Saat tiba di ruang gawat darurat, ia dalam kondisi hemodinamik tidak stabil (tekanan darah: 70/30 mmHg, denyut jantung: sulit diukur, laju pernapasan: 35 napas per menit). Pada pukul 10:33 pagi, pasien mengalami takikardia ventrikular berkelanjutan dan kehilangan kesadaran, E1V1M1, yang menyebabkan henti jantung dalam 10 detik. Ia tidak memiliki denyut nadi karotis atau femoral yang teraba, dan tidak ada pernapasan spontan. Selanjutnya, resusitasi dilakukan; fibrilasi ventrikular (VF) terdeteksi setelah 5 menit CPR. Resusitasi dilakukan dengan mematuhi secara ketat pedoman dukungan hidup kardiak lanjutan (ACLS) dari American Heart Association/American College of Cardiology hingga ECMO dapat dipasang, kemungkinan dilakukan CPR, defibrilasi, dan injeksi obat darurat. ECMO veno-veno-arterial (VA) dimulai 80 menit setelah dimulainya CPR, dan kembalinya sirkulasi spontan tercapai 10 menit kemudian.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Henti Jantung
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Berhentinya aktivitas jantung yang efektif.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Tercapainya sirkulasi spontan (Return of Spontaneous Circulation/ROSC).
Kode SIKI: I.01266
Deskripsi : Resusitasi jantung paru (RJP) dilakukan.
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI D.0016 - Henti Jantung): Henti jantung didefinisikan sebagai penghentian mendadak fungsi jantung yang efektif, yang ditandai dengan tidak adanya respons, tidak adanya napas (atau hanya megap-megap), dan tidak adanya denyut nadi. Pada kasus ini, kondisi pasien memenuhi kriteria definisi ini secara sempurna: kehilangan kesadaran (E1V1M1), tidak ada denyut nadi karotis/femoral, dan tidak ada pernapasan spontan. Henti jantung merupakan keadaan darurat medis absolut yang membutuhkan intervensi segera untuk mencegah kematian biologis. Penyebab mendasarnya pada kasus ini adalah gangguan irama jantung yang fatal (takikardia ventrikular yang berlanjut menjadi fibrilasi ventrikel) pada seorang pasien dengan kemungkinan sindrom koroner akut, yang diperberat oleh riwayat hipertensi. SDKI ini menjadi fokus utama perawat dalam mengarahkan semua tindakan keperawatan dan kolaborasi.
Luaran Keperawatan (SLKI L.03115 - Tercapainya Sirkulasi Spontan/ROSC): Luaran yang ditetapkan dan realistis dalam situasi henti jantung adalah kembalinya sirkulasi spontan (ROSC). ROSC didefinisikan sebagai kembalinya denyut nadi dan tekanan darah yang dapat diukur secara berkelanjutan tanpa perlu kompresi dada eksternal. Pada skenario ini, ROSC tercapai 90 menit setelah dimulainya kejadian (80 menit CPR + 10 menit setelah ECMO VA dipasang). Pencapaian luaran ini merupakan tujuan kritis dari serangkaian tindakan resusitasi. SLKI ini mengukur keberhasilan langsung dari intervensi yang dilakukan. Penting untuk dicatat bahwa meskipun ROSC tercapai, kondisi pasien masih sangat kritis dan membutuhkan penanganan pasca-resusitasi intensif untuk menstabilkan kondisi dan mencegah kerusakan organ lebih lanjut akibat hipoksia dan iskemia yang berkepanjangan.
Intervensi Keperawatan (SIKI I.01266 - Resusitasi Jantung Paru/RJP dilakukan): Intervensi ini merupakan tindakan inti dan mendesak untuk menangani henti jantung. RJP adalah serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengembalikan sirkulasi darah dan oksigenasi pada pasien yang mengalami henti jantung. Pada kasus ini, intervensi dilakukan secara komprehensif dan sesuai standar tinggi, meliputi: (1) Kompresi Dada: Memberikan pompa jantung eksternal untuk mempertahankan aliran darah minimal ke otak dan jantung. (2) Bantuan Pernapasan/ Ventilasi: Memastikan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. (3) Defibrilasi: Menghentikan irama kacau (VF) dengan kejutan listrik untuk memungkinkan jantung mengembalikan irama normalnya, yang dalam kasus ini dilakukan sesuai protokol ACLS. (4) Pemberian Obat-Obatan: Seperti epinefrin/ adrenalin untuk meningkatkan tekanan perfusi koroner dan serebral, yang juga disebut sebagai bagian dari protokol ACLS. (5) Penanganan Lanjutan: Dalam skenario ini, RJP diperluas dengan tindakan kolaboratif canggih yaitu pemasangan ECMO VA. ECMO VA mengambil alih fungsi pompa jantung dan pertukaran gas paru-paru, memberikan dukungan sirkulasi dan oksigenasi mekanis yang memungkinkan jantung dan paru "beristirahat" sekaligus menjaga perfusi organ vital. Tindakan RJP yang berkepanjangan (80 menit) dengan kualitas tinggi merupakan faktor kunci yang menjaga viabilitas organ hingga ECMO dapat dipasang dan akhirnya mencapai ROSC. Intervensi ini menuntut kerja tim yang terkoordinasi, keterampilan teknis tinggi, dan penerapan pedoman evidence-based seperti ACLS.
Keterkaitan: Ketiga komponen ini membentuk siklus proses keperawatan yang jelas pada situasi gawat darurat. SDKI D.0016 (Henti Jantung) menegaskan masalah. SIKI I.01266 (RJP dilakukan) adalah tindakan utama yang diimplementasikan untuk mengatasi masalah tersebut. Kemudian, SLKI L.03115 (ROSC) menjadi indikator keberhasilan langsung dari implementasi intervensi tersebut. Pencatatan yang akurat terhadap waktu kejadian, durasi CPR, respons terhadap defibrilasi, dan waktu tercapainya ROSC merupakan dokumentasi kritis yang merefleksikan kualitas asuhan keperawatan dan kepatuhan terhadap standar.
-
Article No. 24087 | 16 Feb 2026
Klinis : Pasien mengatakan demam naik turun dan kedua kaki bengkak disertai BAK berbusa dan keruh. Mengeluh perut terasa begah, sesak hilang timbul, sesak bertambah saat perut terasa begah, Riwayat mengonsumsi alkohol dan obat keras sejak lama, SpO2 93%, hippalbumin
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Sindrom Nefrotik dengan Gagal Ginjal Kronik dan Malnutrisi, disertai Gagal Jantung Kongestif dan Ketergantungan Zona
Kode ICD-10: N04.9 (Sindrom Nefrotik, tidak ditentukan) & N18.9 (Penyakit ginjal kronik, tidak ditentukan) & E43 (Malnutrisi energi-protein berat tidak ditentukan) & I50.9 (Gagal jantung, tidak ditentukan) & F19.20 (Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan multipel obat dan penggunaan zat psikoaktif lainnya, sindrom ketergantungan, tidak ditentukan)
Deskripsi Singkat : Deskripsi klinis mengarah pada komplikasi ginjal dan sistemik berat akibat penyakit ginjal kronik yang diperburuk oleh faktor toksik (alkohol/obat keras) dan malnutrisi. Gejala utama seperti edema (kaki bengkak), proteinuria berat (BAK berbusa), hipoalbuminemia, dan sesak (kemungkinan akibat efusi pleura atau gagal jantung) sangat khas untuk Sindrom Nefrotik (N04.9). Kondisi ini telah berkembang menjadi Penyakit Ginjal Kronik stadium lanjut (N18.9). Perut begah dan sesak yang memburuk bersamaan mengindikasikan kemungkinan asites dan gagal jantung kongestif (I50.9) sebagai komplikasi. Status gizi buruk (E43) ditunjukkan oleh temuan hippalbumin (hipoalbuminemia). Riwayat penggunaan alkohol dan obat keras yang lama menunjukkan sindrom ketergantungan zat (F19.20) sebagai faktor penyebab atau komorbid signifikan. Kode-kode ini merepresentasikan spektrum penyakit sistemik yang saling terkait, dimulai dari kerusakan ginjal yang menyebabkan kebocoran protein masif, penurunan albumin darah, edema, dan beban volume yang berujung pada komplikasi kardiovaskular dan nutrisi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24089 | 16 Feb 2026
Klinis : ketidakstabilan kadar glukosa darah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Risiko fluktuasi kadar glukosa darah dari rentang normal.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Pengendalian Glukosa Darah
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Pemantauan Glukosa Darah
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI - Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia): Kode SDKI 0007 dengan label "Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah" didefinisikan sebagai suatu kondisi di mana individu berisiko atau sedang mengalami variasi kadar glukosa darah yang tidak terkendali, baik ke arah hiperglikemia (gula darah tinggi) maupun hipoglikemia (gula darah rendah), yang dapat mengancam kesehatan. Defisinya merujuk pada faktor-faktor yang menyebabkan kondisi ini, seperti pengetahuan yang kurang tentang manajemen diabetes, ketidakpatuhan terhadap terapi (diet, obat, aktivitas fisik), proses penyakit (misalnya infeksi, stres), atau ketidakmampuan dalam memantau tanda dan gejala fluktuasi glukosa. Diagnosa ini bersifat aktual atau risiko, dan menjadi fokus utama perawat untuk mencegah komplikasi akut seperti ketoasidosis diabetik, sindrom hiperglikemik hiperosmolar, atau syok hipoglikemik yang dapat berakibat fatal.
Luaran Keperawatan (SLKI - Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Kode SLKI 1401 "Pengendalian Glukosa Darah" adalah luaran yang diharapkan dimana pasien mampu mencapai dan mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan. Indikator luaran ini mencakup perilaku dan kondisi klinis, seperti: kadar glukosa darah puasa dan 2 jam postprandial dalam rentang normal/target, tidak adanya episode hipoglikemia atau hiperglikemia berat, pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi glukosa darah, serta kepatuhan terhadap rencana terapi. Tujuan akhir dari SLKI ini adalah stabilitas metabolik, pencegahan komplikasi, dan peningkatan kualitas hidup pasien. Pencapaian luaran ini dinilai secara bertahap, dari status yang memburuk, berat, sedang, ringan, hingga tercapai dengan baik.
Intervensi Keperawatan (SIKI - Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Kode SIKI 4410 "Pemantauan Glukosa Darah" merupakan intervensi inti untuk menangani diagnosa ketidakstabilan glukosa darah. Deskripsi intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis yang dilakukan perawat, antara lain: (1) Mengajarkan dan memfasilitasi pasien/keluarga untuk melakukan pemantauan glukosa darah mandiri dengan teknik yang benar, termasuk cara menggunakan glukometer, pencatatan hasil, dan penanganan alat. (2) Memantau dan mencatat tanda-tanda vital serta gejala-gejala hipoglikemia (lemas, berkeringat, gemetar, lapar, penurunan kesadaran) dan hiperglikemia (poliuria, polidipsi, polifagi, lemas, mual). (3) Melakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan glukosa darah sesuai indikasi dan protokol. (4) Menginterpretasikan hasil pemantauan glukosa darah dan melaporkan temuan yang abnormal kepada tim kesehatan. (5) Mengkorelasikan hasil glukosa darah dengan asupan makanan, aktivitas fisik, dan pengobatan yang diterima pasien. (6) Memberikan pendidikan kesehatan tentang penyesuaian pola makan, aktivitas, dan obat berdasarkan hasil pemantauan. (7) Memastikan ketersediaan dan kesiapan alat penanganan darurat hipoglikemia (seperti glucagon kit atau makanan sumber gula sederhana). Intervensi ini bersifat kolaboratif dan edukatif, bertujuan tidak hanya untuk memantau tetapi juga memberdayakan pasien menjadi mitra aktif dalam mengelola kondisinya, sehingga ketidakstabilan dapat dikendalikan dan luaran pengendalian glukosa darah (SLKI 1401) dapat tercapai.
-
Article No. 24090 | 16 Feb 2026
Klinis : kESIAPAN PERSALINAN
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: