Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 13132 | 02 Mar 2025
Klinis : Pada tanggal 8 Juli 2024 pukul 16.00 WIB, Ny. R, seorang perempuan berusia 52 tahun, datang ke IGD RSUD Muara Teweh dengan keluhan utama sesak napas yang semakin memburuk dan nyeri dada tengah. Pasien memiliki riwayat gastritis tetapi tidak memiliki riwayat penyakit jantung atau pembedahan sebelumnya. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya sputum pada jalan napas, frekuensi napas 26 kali per menit dengan retraksi otot dada, serta bunyi ronchi. Pasien mengalami sesak bahkan saat beristirahat, batuk berdahak sejak empat hari yang lalu dengan dahak kental kekuningan yang sulit dikeluarkan. Saturasi oksigen awalnya hanya 76%. Pada pemeriksaan sirkulasi, didapatkan nadi 96 kali per menit dengan tekanan darah 87/53 mmHg, ekstremitas terasa dingin, kulit pucat, berkeringat dingin, dan mukosa bibir kering. Pasien sadar penuh dengan refleks pupil normal dan tidak ditemukan jejas atau perdarahan. Selain sesak napas, pasien juga mengeluhkan nyeri ulu hati, nafsu makan menurun, mual, serta muntah satu kali sebelum ke IGD. Pemeriksaan fisik menunjukkan sklera tampak ikterik, bibir kering, dada simetris namun dengan penggunaan otot bantu pernapasan, serta nyeri tekan pada perut bagian tengah atas. Kulit tampak pucat, pembuluh darah vena samar, dan denyut nadi teraba lemah. Hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan adanya pneumonia berdasarkan rontgen thorax, sementara pemeriksaan EKG menunjukkan sinus ritme, iskemia infero antero septal lateral, dan Left Bundle Branch Block (LBBB). Hasil laboratorium mengindikasikan leukositosis (21.710/mm³), trombositopenia (105.000/mm³), peningkatan SGPT (134 U/L), serta gangguan fungsi ginjal dengan ureum 113 mg/dL dan kreatinin 2,63 mg/dL. Pemeriksaan HbsAg dan Dengue menunjukkan hasil negatif. Berdasarkan temuan tersebut, pasien didiagnosis dengan pneumonia yang kemungkinan disertai gangguan kardiovaskular serta penurunan fungsi ginjal.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa Ny. R mengalami kondisi klinis yang kompleks dengan pneumonia, kemungkinan gangguan kardiovaskular, dan penurunan fungsi ginjal. Berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI):
a. Pola Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk menarik napas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan oksigen.
Karakteristik Utama: Perubahan frekuensi napas, penggunaan otot bantu pernapasan, bunyi napas tambahan.
b. Perfusi Jaringan Tidak Efektif
Definisi: Penurunan sirkulasi darah ke jaringan perifer yang dapat mengancam kesehatan.
Karakteristik Utama: Ekstremitas dingin, kulit pucat, takikardi, hipotensi.
c. Gangguan Eliminasi Urin
Definisi: Perubahan pola eliminasi urin yang menyebabkan gangguan kesehatan.
Karakteristik Utama: Perubahan frekuensi, volume, dan karakteristik urin.
2. Rencana Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Manajemen Jalan Napas
b. Manajemen Oksigenasi
c. Manajemen Perfusi
d. Manajemen Cairan
e. Manajemen Obat-obatan
3. Intervensi Keperawatan (SIKI):
a. Pemantauan Respirasi
b. Manajemen Oksigen
c. Manajemen Cairan
d. Manajemen Syok
e. Terapi Obat
Penjelasan singkat:
Ny. R mengalami kondisi klinis yang kompleks dengan pneumonia, kemungkinan gangguan kardiovaskular, dan penurunan fungsi ginjal. Diagnosa keperawatan yang ditetapkan mencakup pola napas tidak efektif, perfusi jaringan tidak efektif, dan gangguan eliminasi urin. Rencana asuhan keperawatan dan intervensi yang diperlukan akan fokus pada manajemen jalan napas, oksigenasi, perfusi, cairan, dan pemberian obat-obatan yang sesuai untuk mengatasi permasalahan yang dialami oleh pasien. -
Article No. 13133 | 02 Mar 2025
Klinis : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, maka Tingkat Ansietas [L.09093] menurun, dengan kriteria hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun (5) Perilaku gelisah menurun (5) Pola tidur membaik (5) Frekuensi nadi membaik (5)
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah penjelasan rinci untuk setiap poin yang diminta:
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan yang sesuai dengan kondisi yang diuraikan adalah "Ansietas [L.09093]". Ansietas adalah respon emosional dan fisiologis individu terhadap sumber stres atau ancaman yang tidak jelas dan menimbulkan perasaan tidak nyaman.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Luaran (Outcome) yang diharapkan setelah implementasi Asuhan Keperawatan adalah "Tingkat Ansietas Menurun [L.09094]". Kriteria hasil yang diharapkan adalah:
1. Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun (skor 5)
2. Perilaku gelisah menurun (skor 5)
3. Pola tidur membaik (skor 5)
4. Frekuensi nadi membaik (skor 5)
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (Outcome) tersebut adalah:
1. Manajemen Ansietas [I.13006]
- Identifikasi faktor-faktor penyebab dan pencetus ansietas
- Berikan informasi tentang ansietas dan cara mengatasi
- Ajarkan teknik relaksasi (misalnya napas dalam, visualisasi, musik terapi)
- Bantu klien mengembangkan strategi koping yang efektif
- Berikan dukungan emosional dan penguat positif
2. Peningkatan Tidur [I.15021]
- Identifikasi pola tidur klien saat ini
- Ajarkan teknik relaksasi untuk memfasilitasi tidur
- Modifikasi lingkungan yang dapat mendukung tidur (suhu, cahaya, suara)
- Atur jadwal tidur dan bangun yang konsisten
- Berikan obat tidur jika diperlukan, dengan monitoring yang ketat
Penjelasan rinci:
Diagnosa Keperawatan "Ansietas" dipilih karena sesuai dengan kondisi yang diuraikan, yaitu adanya perasaan khawatir, gelisah, dan perubahan fisiologis (frekuensi nadi) pada klien. Luaran yang diharapkan adalah "Tingkat Ansietas Menurun", dengan kriteria hasil yang menunjukkan perbaikan pada gejala ansietas.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan adalah Manajemen Ansietas dan Peningkatan Tidur. Manajemen Ansietas bertujuan untuk membantu klien mengidentifikasi faktor penyebab, mengembangkan strategi koping, dan menerapkan teknik relaksasi untuk mengurangi gejala ansietas. Peningkatan Tidur bertujuan untuk memfasilitasi pola tidur yang lebih baik, yang merupakan salah satu indikator perbaikan kondisi klien.
Penerapan Asuhan Keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada klien diharapkan dapat membantu menurunkan tingkat ansietas klien sesuai dengan kriteria hasil yang ditetapkan. -
Article No. 13134 | 02 Mar 2025
Klinis : apa evaluasi nya berdasarkan diagnosis Konsumsi Hydroxychloroquine sulfate dan Curbexvit ↓ Reaksi Hipersensitivitas Obat ↓ Proses Inflamasi Dermal dan Epidermal ↓ Terbentuknya Lesi Makula Eritematous dan Erosi pada Wajah, Thorax, dan Bibir ↓ Kerusakan Lapisan Epidermis dan Mukosa Bibir ↓ Gangguan Integritas Kulit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai standar SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Reaksi Hipersensitivitas Obat (SDKI: Reaksi Hipersensitivitas)
2. Gangguan Integritas Kulit (SDKI: Kerusakan Integritas Kulit)
Penjelasan:
1. Reaksi Hipersensitivitas Obat (SDKI: Reaksi Hipersensitivitas)
- Definisi: Respons imun yang berlebihan terhadap paparan obat yang menyebabkan timbulnya tanda dan gejala klinis.
- Penyebab: Konsumsi Hydroxychloroquine sulfate dan Curbexvit.
- Manifestasi Klinis: Proses Inflamasi Dermal dan Epidermal, Terbentuknya Lesi Makula Eritematous dan Erosi pada Wajah, Thorax, dan Bibir.
2. Gangguan Integritas Kulit (SDKI: Kerusakan Integritas Kulit)
- Definisi: Perubahan struktur dan fungsi kulit yang menyebabkan ketidakmampuan untuk melakukan fungsi perlindungan.
- Penyebab: Proses Inflamasi Dermal dan Epidermal, Kerusakan Lapisan Epidermis dan Mukosa Bibir.
- Manifestasi Klinis: Terbentuknya Lesi Makula Eritematous dan Erosi pada Wajah, Thorax, dan Bibir.
Evaluasi berdasarkan diagnosis:
1. Reaksi Hipersensitivitas Obat:
- Perubahan tanda dan gejala klinis setelah penghentian obat dan pemberian terapi antihistamin atau kortikosteroid.
- Penurunan atau hilangnya proses inflamasi dermal dan epidermal.
- Penyembuhan lesi makula eritematous dan erosi pada wajah, thorax, dan bibir.
2. Gangguan Integritas Kulit:
- Perbaikan struktur dan fungsi kulit yang ditandai dengan penyembuhan lesi pada wajah, thorax, dan bibir.
- Pemulihan lapisan epidermis dan mukosa bibir.
- Tidak ada tanda-tanda infeksi atau komplikasi lain.
Standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang digunakan:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Reaksi Hipersensitivitas, Kerusakan Integritas Kulit
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Kontrol Tanda dan Gejala Alergi, Integritas Jaringan
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Manajemen Alergi, Perawatan Luka -
Article No. 13135 | 02 Mar 2025
Klinis : apa evaluasi SOAP nya berdasarkan diagnosis Konsumsi Hydroxychloroquine sulfate dan Curbexvit ↓ Reaksi Hipersensitivitas Obat ↓ Proses Inflamasi Dermal dan Epidermal ↓ Terbentuknya Lesi Makula Eritematous dan Erosi pada Wajah, Thorax, dan Bibir ↓ Kerusakan Lapisan Epidermis dan Mukosa Bibir ↓ Gangguan Integritas Kulit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI dan evaluasi SOAP untuk kondisi yang Anda paparkan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Reaksi Hipersensitivitas Obat
2. Kerusakan Integritas Kulit
Penjelasan Singkat:
1. Reaksi Hipersensitivitas Obat
- SDKI: Reaksi Hipersensitivitas Obat
- SLKI: Penanganan Efek Samping Obat
- SIKI: Pengelolaan Efek Samping Obat
Reaksi hipersensitivitas obat adalah respons berlebihan terhadap obat-obatan yang dikonsumsi, yang dapat menyebabkan gejala seperti ruam kulit, gatal-gatal, dan pembengkakan. Kondisi ini dapat terjadi akibat konsumsi Hydroxychloroquine sulfate dan Curbexvit.
2. Kerusakan Integritas Kulit
- SDKI: Kerusakan Integritas Kulit
- SLKI: Pemulihan Kulit
- SIKI: Perawatan Luka
Kerusakan integritas kulit merupakan kondisi di mana terjadi kerusakan pada lapisan epidermis dan dermis kulit, yang dapat menyebabkan munculnya lesi, erosi, dan gangguan pada fungsi kulit. Kondisi ini dapat terjadi sebagai akibat dari proses inflamasi dermal dan epidermal yang terjadi.
Evaluasi SOAP:
S (Subjektif):
- Pasien mengeluhkan adanya ruam, gatal-gatal, dan pembengkakan pada wajah, thorax, dan bibir.
- Pasien merasa nyeri dan tidak nyaman dengan kondisi kulitnya saat ini.
O (Objektif):
- Ditemukan lesi makula eritematous dan erosi pada wajah, thorax, dan bibir.
- Terdapat kerusakan pada lapisan epidermis dan mukosa bibir.
- Tanda-tanda inflamasi seperti kemerahan, pembengkakan, dan rasa terbakar.
A (Analisis):
- Pasien mengalami reaksi hipersensitivitas obat akibat konsumsi Hydroxychloroquine sulfate dan Curbexvit.
- Hal ini menyebabkan proses inflamasi pada lapisan dermal dan epidermal, sehingga terjadi kerusakan integritas kulit.
P (Perencanaan):
- Hentikan penggunaan obat-obatan yang diduga menyebabkan reaksi hipersensitivitas.
- Berikan terapi antihistamin dan kortikosteroid topikal untuk mengurangi reaksi inflamasi.
- Lakukan perawatan luka untuk memulihkan integritas kulit yang rusak.
- Edukasikan pasien mengenai pencegahan dan penanganan reaksi hipersensitivitas obat.
Saya harap penjelasan ini bermanfaat bagi Anda. Jangan ragu untuk menanyakan hal lain yang berkaitan dengan kondisi pasien. -
Article No. 13136 | 02 Mar 2025
Klinis : apa evaluasi SOAP nya berdasarkan diagnosis gangguan rasa nyaman dan kasus Perempuan usia 38 tahun didiagnosis dengan Stevens Johnson Syndrome. Pasien datang ke IGD RS Madani dengan keluhan wajah terasa seperti terbakar, keluhan rasa panas, dan perih keluhan sebelumnya sudah dirasakan sejak 7 tahun terakhir, keluhan disertai adanya rasa menebal di area bibir. Beberapa minggu terakhir pasien ada mengkonsumsi obat-obatan yaitu Hydroxychloroquine sulfate dan curbexvit, setelah 2 hari meminum obat tersebut pasien mulai merasakan keluhan wajah yang semakin terasa perih.Pasien sebelumnya pernah mengalami gejala yang sama sebelumnya, riwayat alergi (-), riwayat keluarga tidak ada yang pernah mengalami keluhan yang serupa. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan Umum: baik, status gizi baik, kesadaran komposmentis. Pada pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan hasil pemeriksaan tekanan darah 160/100x/m, nadi 98x/m, suhu, 37,3oC, respirasi pasien yaitu 20x/menit. Pada status dermatologis didapatkan lesi makula eritematous di regio zygomatic, maxilla, mandibula, dan regio thorax, juga tampak lesi berupa erosi yang tersebar difuse di area tubercle of upper and lower lips.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan rasa nyaman: nyeri akut
- Definisi: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau dijelaskan dalam istilah seperti kerusakan tersebut.
- Penyebab: Efek samping penggunaan obat-obatan (Hydroxychloroquine sulfate dan Curbexvit)
- Data Subjektif: Pasien mengeluh wajah terasa seperti terbakar, rasa panas, dan perih sejak 7 tahun terakhir. Keluhan semakin dirasakan setelah 2 hari mengonsumsi obat-obatan.
- Data Objektif: Pada pemeriksaan fisik didapatkan lesi makula eritematous di regio zygomatic, maxilla, mandibula, dan regio thorax, serta erosi yang tersebar difus di area tubercle of upper and lower lips.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau dijelaskan dalam istilah seperti kerusakan tersebut.
- Karakteristik Utama: Laporan verbal nyeri, perilaku menghindari, perubahan ekspresi wajah, dan perubahan tanda-tanda vital.
- Faktor yang Berhubungan: Agen kimia, seperti efek samping obat-obatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang Diharapkan: Pasien melaporkan nyeri berkurang, menunjukkan perilaku kooperatif, dan menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi: Manajemen nyeri, seperti pemberian analgesik, kompres dingin/hangat, distraksi, dan relaksasi.
Evaluasi SOAP:
S (Subjektif): Pasien melaporkan nyeri berkurang dan wajah tidak lagi terasa seperti terbakar.
O (Objektif): Lesi makula eritematous dan erosi di area wajah dan tubuh berkurang.
A (Analisis): Intervensi manajemen nyeri yang diberikan efektif dalam mengurangi nyeri pasien.
P (Perencanaan): Melanjutkan intervensi manajemen nyeri dan memantau perkembangan kondisi pasien. -
Article No. 13138 | 02 Mar 2025
Klinis : sedikit pusing || O: 09:07 | Kesadaran CM, CRT < 2 dtk, akral hangat. pEWS kuning BB 27 kg Kekuatan Otot 5555|5555 4444|4444 Terpasang: akses 24G Brakhialis Sinistra (22/02) TTV jam 22 HR: 62x/menit, S: 36.3 C, RR: 22x/menit, SpO2: 98% RA TTV jam 06 HR: 63x/menit, S: 36.5 C, RR: 22x/menit, SpO2: 98% RA Status cairan/24 jam Intake: 1540 ml (dengan iv) Output: 1680 ml (dengan iwl) Balance: -140 ml Diuresis: 1.62 ml/kgbb/jam Skor humpty dumpty > 12 (risiko jatuh tinggi)
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah "Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif" (00025). Hal ini didasarkan pada gejala pusing yang dialami pasien, yang dapat mengindikasikan adanya risiko penurunan aliran darah ke otak. Selain itu, tanda-tanda vital menunjukkan tachycardia dan suhu tubuh yang sedikit meningkat, yang juga dapat berkontribusi pada risiko perfusi serebral tidak efektif.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Integritas Sirkulasi: Keadaan sirkulasi darah yang memadai (0408)
- Kriteria Hasil:
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
- Perfusi perifer adekuat
- Tidak ada tanda-tanda gangguan perfusi serebral
2. Stabilitas Neurologi: Keadaan sistem saraf yang stabil (0909)
- Kriteria Hasil:
- Kesadaran pasien tetap komposmentis
- Tidak ada tanda-tanda penurunan fungsi neurologis
- Tidak ada keluhan pusing atau gejala lain yang mengarah pada gangguan perfusi serebral
3. Keamanan: Terhindar dari Cedera (1912)
- Kriteria Hasil:
- Skor risiko jatuh rendah
- Tidak ada insiden jatuh selama perawatan
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Pemantauan Tanda-Tanda Vital (6720)
- Mengukur dan mencatat tanda-tanda vital secara teratur
- Mengidentifikasi perubahan tanda-tanda vital yang dapat mengindikasikan gangguan perfusi serebral
2. Manajemen Perfusi Serebral (6740)
- Mempertahankan posisi yang meningkatkan aliran darah ke otak (seperti kepala sedikit elevasi)
- Memantau dan mengevaluasi status neurologi pasien
- Menjaga hidrasi yang adekuat untuk mempertahankan volume darah
3. Pencegahan Jatuh (6486)
- Menilai faktor risiko jatuh dan mengimplementasikan intervensi yang sesuai
- Menyediakan lingkungan yang aman bagi pasien
- Memberikan edukasi dan pendampingan kepada pasien dan keluarga terkait pencegahan jatuh
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan "Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif" didasarkan pada gejala pusing yang dialami pasien, yang dapat mengindikasikan adanya risiko penurunan aliran darah ke otak. Tanda-tanda vital pasien, seperti tachycardia dan suhu tubuh sedikit meningkat, juga dapat berkontribusi pada risiko ini.
Luaran yang diharapkan setelah asuhan keperawatan adalah tercapainya integritas sirkulasi yang adekuat, stabilitas neurologis, dan terhindarnya pasien dari cedera, khususnya risiko jatuh. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup tanda-tanda vital dalam batas normal, perfusi perifer yang adekuat, tidak ada tanda-tanda gangguan perfusi serebral, serta skor risiko jatuh yang rendah.
Intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran meliputi pemantauan tanda-tanda vital secara teratur, manajemen perfusi serebral (seperti menjaga posisi yang meningkatkan aliran darah ke otak dan memantau status neurologi), serta pencegahan jatuh (melalui penilaian risiko, penyediaan lingkungan yang aman, dan edukasi bagi pasien dan keluarga).
Dengan implementasi intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diinginkan, yaitu mempertahankan integritas sirkulasi yang baik, stabilitas neurologis, dan terhindar dari risiko cedera, khususnya jatuh. -
Article No. 13139 | 02 Mar 2025
Klinis : DS : - Keluarga mengatakan pasien sering buang air kecil (poliuria) sebelum kehilangan kesadaran. - Pasien mengalami rasa haus berlebihan (polidipsia) sebelum masuk IGD. DO : - Tekanan darah 90/60 mmHg (hipotensi). - Nadi 120 x/menit (takikardia), lemah. - Turgor kulit menurun. - Membran mukosa kering. - Kadar glukosa darah >600 mg/dL. - Kadar natrium dan kalium tidak seimbang (terjadi hipokalemia atau hipernatremia).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan mengacu pada data subjektif dan objektif yang Anda berikan, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
- Definisi: Asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- Tanda dan gejala: Poliuria, polidipsia, hipotensi, takikardia, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, hiperglikemia.
2. Risiko ketidakseimbangan cairan
- Definisi: Berisiko mengalami kekurangan atau kelebihan cairan, elektrolit, dan/atau asam-basa yang dapat mengganggu kesehatan.
- Tanda dan gejala: Hipotensi, takikardia, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, gangguan elektrolit (hipokalemia atau hipernatremia).
Berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
1. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
- SDKI: Keadaan individu atau kelompok dengan asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- SLKI: Pemulihan status nutrisi sesuai kebutuhan tubuh.
- SIKI: Intervensi yang dilakukan untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan nutrisi, seperti pemantauan asupan dan output cairan, pemberian nutrisi enteral atau parenteral, edukasi gizi, dan kolaborasi dengan tim terkait.
2. Risiko ketidakseimbangan cairan
- SDKI: Keadaan individu atau kelompok yang berisiko mengalami kekurangan atau kelebihan cairan, elektrolit, dan/atau asam-basa yang dapat mengganggu kesehatan.
- SLKI: Pemulihan keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam-basa.
- SIKI: Intervensi yang dilakukan untuk mencegah atau mengatasi ketidakseimbangan cairan, seperti pemantauan tanda vital, pemantauan intake dan output cairan, pemberian cairan intravena, dan kolaborasi dengan tim terkait.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus menggunakan pendekatan yang komprehensif dengan melibatkan pasien dan keluarga, serta berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya untuk mencapai hasil yang optimal. -
Article No. 13140 | 02 Mar 2025
Klinis : DS : - Keluarga mengatakan pasien sering buang air kecil (poliuria) sebelum kehilangan kesadaran. - Pasien mengalami rasa haus berlebihan (polidipsia) sebelum masuk IGD. DO : - Tekanan darah 90/60 mmHg (hipotensi). - Nadi 120 x/menit (takikardia), lemah. - Turgor kulit menurun. - Membran mukosa kering. - Kadar glukosa darah >600 mg/dL. - Kadar natrium dan kalium tidak seimbang (terjadi hipokalemia atau hipernatremia).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dalam kondisi yang Anda deskripsikan, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Kekurangan volume cairan (NANDA-I: Deficient Fluid Volume)
Penjelasan singkat berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Kekurangan volume cairan adalah keadaan di mana individu mengalami kehilangan cairan tubuh secara berlebihan yang melebihi pemasukan cairan.
- Karakteristik definisi: Poliuria, polidipsia, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, hipotensi, takikardia, hipokalemia atau hipernatremia.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Tercapainya keseimbangan cairan tubuh yang adekuat, ditandai dengan perbaikan tanda-tanda vital, cairan mukosa lembab, dan status elektrolit normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi yang dapat dilakukan: Pemantauan intake-output cairan, pemberian cairan intravena, pemberian obat-obatan untuk mengoreksi ketidakseimbangan elektrolit, serta edukasi terkait manajemen cairan.
Dalam kondisi ini, pasien mengalami kehilangan cairan dan elektrolit yang signifikan, sehingga perlu segera diatasi dengan pemberian cairan dan elektrolit yang tepat untuk mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. -
Article No. 13141 | 02 Mar 2025
Klinis : Tn. A, seorang pria berusia 55 tahun, datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan kondisi tidak sadar sejak enam jam yang lalu. Menurut keluarganya, pasien memiliki riwayat Diabetes Mellitus tipe 2 selama 10 tahun terakhir, tetapi sering kali tidak patuh dalam mengonsumsi obat dan mengontrol pola makan. Dua hari sebelumnya, pasien mengalami gejala poliuria (sering buang air kecil), polidipsia (sering haus), dan polifagia (sering lapar). Keluarga juga melaporkan bahwa pasien mengalami mual, muntah, dan nyeri perut sebelum kehilangan kesadaran. Saat dilakukan pemeriksaan di IGD, pasien ditemukan dalam keadaan tidak sadar (GCS 8: E2V2M4), dengan tekanan darah 90/60 mmHg, nadi lemah 120 x/menit, pernapasan cepat dan dalam 30 x/menit, dan suhu tubuh 36,5°C. Dari pemeriksaan lebih lanjut, napas pasien tercium bau aseton dan hasil glukosa darah sewaktu menunjukkan kadar >600 mg/dL. Analisis gas darah menunjukkan pH <7,3 dan kadar HCO3 <18 mEq/L, mengindikasikan ketoasidosis diabetik (DKA). Selain itu, pemeriksaan urin menunjukkan ketonuria (+). Pasien segera diberikan cairan infus NaCl 0,9%, terapi insulin drip IV, serta pemantauan ketat terhadap keseimbangan cairan dan elektrolit. Setelah 24 jam terapi, pasien menunjukkan tanda-tanda perbaikan dengan kesadaran meningkat (GCS 12), pola napas membaik (RR 20x/menit), tekanan darah lebih stabil (110/70 mmHg), serta kadar glukosa darah turun menjadi 250 mg/dL. Sesuai dengan protokol perawatan DKA berbasis EBP, transisi ke insulin subkutan dilakukan secara bertahap, dan pasien diberikan edukasi terkait manajemen diabetes, kepatuhan pengobatan, serta pencegahan komplikasi di masa mendatang sebelum dipulangkan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (NANDA-I: Unstable Blood Glucose Level)
Definisi: Variasi dalam kadar glukosa darah yang tidak dapat dikontrol dengan baik.
Karakteristik Utama: Kadar glukosa darah di luar rentang normal, poliuria, polidipsia, polifagia.
2. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer (NANDA-I: Ineffective Peripheral Tissue Perfusion)
Definisi: Penurunan sirkulasi darah ke jaringan perifer, yang dapat mengancam kesehatan.
Karakteristik Utama: Tekanan darah rendah, nadi lemah, suhu tubuh rendah.
3. Gangguan Keseimbangan Cairan (NANDA-I: Imbalanced Fluid Volume)
Definisi: Peningkatan atau penurunan cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intrasellular.
Karakteristik Utama: Mual, muntah, dehidrasi.
4. Penurunan Kesadaran (NANDA-I: Decreased Consciousness)
Definisi: Penurunan tingkat kesadaran dari kondisi normal.
Karakteristik Utama: Menurunnya skor GCS.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) merupakan standar diagnosis keperawatan yang dikembangkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). SDKI menyediakan daftar diagnosis keperawatan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan pasien secara sistematis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) merupakan standar luaran keperawatan yang dikembangkan oleh PPNI. SLKI menyediakan daftar luaran yang diharapkan dapat dicapai melalui intervensi keperawatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) merupakan standar intervensi keperawatan yang dikembangkan oleh PPNI. SIKI menyediakan daftar intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan.
Penggunaan SDKI, SLKI, dan SIKI secara terintegrasi dapat membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang terstandar, komprehensif, dan berpusat pada pasien. -
Article No. 13142 | 02 Mar 2025
Klinis : Seorang perempuan, 22 tahun datang ke Poli Mata dengan keluhan sejak tiga bulan kesulitan membaca karena tulisan terlihat buram. Bila dipaksakan untuk membaca akan terasa pusing dan mata sakit. Apakah tindakan keperawatan utama pada kondisi tersebut? (Data bina dikembangkan)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan, penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI, serta tindakan keperawatan utama untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Penglihatan Berhubungan dengan Perubahan Refraksi Mata
Penjelasan Singkat SDKI-SLKI-SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Gangguan dalam kemampuan mata untuk melihat dengan jelas, yang disebabkan oleh perubahan struktur atau fungsi mata.
- Faktor Risiko: Usia, riwayat penyakit, penggunaan obat-obatan, dll.
- Gejala dan Tanda: Penglihatan kabur, mata terasa sakit, pusing saat membaca, dll.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Pasien dapat menyesuaikan diri dengan perubahan penglihatan, dapat membaca dengan nyaman, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Gangguan Penglihatan, Manajemen Nyeri, Edukasi Kesehatan Mata, serta Kolaborasi dengan Tenaga Kesehatan Lain.
Tindakan Keperawatan Utama:
Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, tindakan keperawatan utama yang dapat dilakukan adalah:
1. Manajemen Gangguan Penglihatan:
- Mengevaluasi riwayat kesehatan pasien dan gejala yang dialami.
- Memantau perubahan penglihatan dan melaporkan kepada tenaga kesehatan lain.
- Mengajarkan teknik membaca yang benar dan menjaga jarak yang sesuai.
2. Manajemen Nyeri:
- Mengkaji intensitas, durasi, dan lokasi nyeri pada mata.
- Memberikan intervensi non-farmakologis, seperti kompres hangat, relaksasi, dan distraksi.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan nyeri yang efektif.
3. Edukasi Kesehatan Mata:
- Memberikan edukasi tentang pemeliharaan kesehatan mata dan pencegahan komplikasi.
- Mengajarkan pasien teknik menjaga kesehatan mata, seperti pengaturan pencahayaan, jarak membaca, dan istirahat mata.
- Mendorong pasien untuk melakukan pemeriksaan mata rutin.
Dengan pendekatan komprehensif berbasis SDKI-SLKI-SIKI, diharapkan pasien dapat mengelola gangguan penglihatan yang dialami, mengurangi gejala, dan mempertahankan kualitas hidup yang optimal.