Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25404 | 02 May 2026
Klinis : electrical injury
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Electrical Injury
Kode ICD-10: T75.4
Deskripsi Singkat : Electrical injury, atau cedera listrik, adalah kondisi patologis yang terjadi ketika arus listrik melewati tubuh manusia. Cedera ini dapat berkisar dari luka bakar superfisial ringan hingga kerusakan multiorgan yang mengancam jiwa. Tingkat keparahan bergantung pada beberapa faktor: tegangan listrik (rendah vs. tinggi), jenis arus (searah/DC atau bolak-balik/AC), jalur aliran listrik melalui tubuh, durasi kontak, dan resistansi jaringan. Arus listrik mengubah energi listrik menjadi energi panas, menyebabkan luka bakar termal pada titik masuk dan keluar. Lebih berbahaya lagi, arus dapat mengganggu konduksi listrik intrinsik jantung, menyebabkan aritmia fatal seperti fibrilasi ventrikel atau asistol. Paparan juga dapat menyebabkan tetani otot (kontraksi tak terkendali), yang mencegah korban melepaskan diri dari sumber listrik, serta kerusakan saraf, kejang, dan gagal ginjal akibat rhabdomyolysis (kerusakan otot yang melepaskan mioglobin ke aliran darah). Kode ICD-10 T75.4 secara spesifik digunakan untuk mengklasifikasikan efek dari arus listrik, termasuk sengatan listrik yang tidak menimbulkan luka bakar termal signifikan. Penting untuk dicatat bahwa kode ini tidak mencakup luka bakar akibat listrik yang parah (yang biasanya dikodekan dengan kode luka bakar spesifik berdasarkan luas dan derajatnya di blok T20-T32) atau kondisi yang terkait dengan petir (T75.0). Dalam praktik kodifikasi, T75.4 sering digunakan sebagai kode diagnosis utama atau tambahan untuk mendokumentasikan mekanisme cedera listrik, sementara kode lain mungkin diperlukan untuk menangkap manifestasi spesifik seperti aritmia jantung atau kerusakan neurologis.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 25394 | 01 May 2026
Klinis : Seorang laki-laki, 50 tahun, sudah 3 hari dirawat di ruang penyakit dalam dengan diagnosis hepatitis. Hasil pengkajian: perut bagian kanan atas terasa penuh, terasa sesak, diare, penurunan nafsu makan, mual dan muntah, SGOT 300 u/L, SGPT 200 u/L, TD 130/80 mmHg, frekuensi nadi 60x/menit, suhu 37,50C, frekuensi napas 28x/menit.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Nutrisi
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Defisit nutrisi adalah kondisi di mana asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Pada pasien hepatitis, kondisi ini terjadi akibat penurunan nafsu makan, mual, muntah, dan diare yang mengganggu proses pencernaan dan penyerapan zat gizi. Ditandai dengan data subjektif seperti pasien melaporkan tidak nafsu makan dan mual, serta data objektif seperti penurunan berat badan, hasil laboratorium SGOT 300 u/L dan SGPT 200 u/L yang menunjukkan kerusakan sel hati, serta frekuensi napas 28x/menit yang dapat menandakan kompensasi metabolik akibat gangguan fungsi hati.
Kode SLKI: L.03030
Deskripsi : Status nutrisi adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang ditandai dengan asupan makanan dan cairan adekuat, berat badan stabil, serta tidak ada tanda malnutrisi. Pada pasien hepatitis dengan defisit nutrisi, luaran yang diharapkan meliputi: peningkatan nafsu makan (mual dan muntah berkurang dalam 3x24 jam), peningkatan asupan oral (mampu menghabiskan 75% porsi makanan), stabilisasi berat badan (tidak terjadi penurunan lebih dari 5% dalam 1 minggu), perbaikan hasil laboratorium (penurunan kadar SGOT dan SGPT secara bertahap), serta berkurangnya keluhan perut penuh dan sesak. Indikator yang dapat diukur adalah: (1) Asupan nutrisi per oral meningkat, (2) Berat badan stabil, (3) Mual dan muntah menurun, (4) Frekuensi diare menurun, (5) Kadar SGOT dan SGPT membaik.
Kode SIKI: I.03119
Deskripsi : Manajemen nutrisi adalah serangkaian tindakan keperawatan untuk mengoptimalkan asupan nutrisi pasien. Intervensi ini meliputi: (1) Identifikasi status nutrisi awal dengan melakukan pengkajian antropometri (berat badan, tinggi badan, IMT) dan biokimia (SGOT, SGPT, albumin, bilirubin) setiap hari; (2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jenis diet rendah lemak, tinggi karbohidrat kompleks, dan protein nabati yang mudah dicerna, misalnya bubur, kentang tumbuk, pisang, dan tahu; (3) Berikan makanan dalam porsi kecil tetapi sering (misalnya 6-8 kali sehari) untuk mengurangi mual dan muntah; (4) Anjurkan pasien untuk makan dalam posisi duduk atau setengah duduk untuk mengurangi rasa sesak dan perut penuh; (5) Sediakan makanan hangat dengan aroma tidak menyengat untuk merangsang nafsu makan; (6) Berikan terapi cairan intravena sesuai order dokter jika asupan oral tidak adekuat; (7) Monitor asupan dan haluaran (balance cairan) setiap 8 jam, serta pantau frekuensi diare dan muntah; (8) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi untuk regenerasi sel hati dan cara mengelola efek samping pengobatan hepatitis; (9) Berikan suplemen vitamin B kompleks dan vitamin K sesuai rekomendasi dokter karena defisiensi sering terjadi pada hepatitis; (10) Evaluasi respons pasien terhadap intervensi setiap hari, catat perubahan nafsu makan, toleransi makanan, dan hasil laboratorium.
-
Article No. 25395 | 01 May 2026
Klinis : Seorang laki-laki, 50 tahun, sudah 3 hari dirawat di ruang penyakit dalam dengan diagnosis hepatitis. Hasil pengkajian: perut bagian kanan atas terasa penuh, terasa sesak, diare, penurunan nafsu makan, mual dan muntah, SGOT 300 u/L, SGPT 200 u/L, TD 130/80 mmHg, frekuensi nadi 60x/menit, suhu 37,50C, frekuensi napas 28x/menit.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Nutrisi (Intake Nutrisi Tidak Adekuat) Berhubungan dengan Mual dan Muntah Akibat Gangguan Fungsi Hati
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Defisit nutrisi adalah kondisi di mana individu mengalami asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Pada pasien hepatitis dengan gejala mual, muntah, penurunan nafsu makan, dan diare, terjadi gangguan signifikan dalam proses pencernaan dan absorpsi zat gizi. Hati sebagai organ metabolik utama mengalami peradangan (hepatitis) yang menyebabkan peningkatan enzim SGOT (300 u/L) dan SGPT (200 u/L), mengindikasikan kerusakan sel hati. Kondisi ini mengakibatkan penurunan produksi empedu yang diperlukan untuk mencerna lemak, serta gangguan metabolisme karbohidrat dan protein. Pasien mengeluh perut kanan atas terasa penuh (hepatomegali) dan sesak, yang semakin memperberat ketidaknyamanan saat makan. Diare yang dialami mempercepat pengeluaran nutrisi dari saluran cerna sebelum sempat diabsorpsi. Frekuensi napas yang meningkat (28x/menit) dapat menjadi tanda kompensasi tubuh terhadap asidosis metabolik akibat gangguan fungsi hati, atau akibat distensi abdomen yang menekan diafragma. Secara keseluruhan, kombinasi gejala-gejala ini menyebabkan defisit energi dan protein yang progresif, sehingga memerlukan intervensi keperawatan yang komprehensif untuk memulihkan status nutrisi pasien.
Kode SLKI: L.03030
Deskripsi : Status Nutrisi adalah luaran keperawatan yang menggambarkan kemampuan individu dalam mempertahankan asupan dan pemanfaatan nutrisi yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Pada pasien hepatitis dengan defisit nutrisi, luaran yang diharapkan mencakup beberapa indikator spesifik. Pertama, peningkatan asupan nutrisi oral secara bertahap, yang diukur dari kemampuan pasien menghabiskan porsi makanan yang disediakan. Kedua, penurunan frekuensi mual dan muntah, dengan target mual berkurang hingga minimal dan tidak terjadi episode muntah dalam 24 jam. Ketiga, perbaikan tanda-tanda vital, terutama frekuensi napas yang kembali normal (16-20x/menit) sebagai indikasi berkurangnya distensi abdomen dan perbaikan metabolisme. Keempat, peningkatan berat badan secara bertahap sesuai target yang ditetapkan, atau setidaknya tidak terjadi penurunan berat badan lebih lanjut. Kelima, perbaikan hasil laboratorium, terutama penurunan kadar SGOT dan SGPT menuju nilai normal, yang menandakan perbaikan fungsi hati dan kemampuan hati dalam memproses nutrisi. Indikator lainnya adalah peningkatan energi dan penurunan keluhan lemas, serta perbaikan turgor kulit dan kelembaban membran mukosa sebagai tanda hidrasi dan nutrisi yang membaik. Skala luaran ini diukur menggunakan Skala Likert 1-5, dengan target pencapaian minimal pada skala 4 (cukup meningkat) atau 5 (meningkat) dalam waktu 3x24 jam setelah intervensi keperawatan dilakukan secara konsisten. Keberhasilan luaran ini juga ditandai dengan kemampuan pasien untuk mengonsumsi makanan tinggi kalori dan protein dalam porsi kecil tetapi sering tanpa disertai rasa tidak nyaman pada perut kanan atas.
Kode SIKI: I.03119
Deskripsi : Manajemen Nutrisi adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dirancang untuk mengoptimalkan asupan dan pemanfaatan nutrisi pada pasien yang mengalami defisit nutrisi. Intervensi ini bersifat multidimensi dan disesuaikan dengan kondisi spesifik pasien hepatitis. Langkah pertama adalah pengkajian status nutrisi secara komprehensif, meliputi penimbangan berat badan setiap hari, pencatatan asupan makanan (food diary), dan pemantauan tanda-tanda malnutrisi seperti kelemahan otot dan penurunan turgor kulit. Selanjutnya, perawat berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet tinggi kalori, tinggi protein, dan rendah lemak (mengingat gangguan produksi empedu), dengan porsi kecil namun sering (misalnya 6-8 kali sehari) untuk mengurangi beban kerja hati dan mencegah mual. Makanan diberikan dalam bentuk lunak atau cair (bubur, saring, atau formula nutrisi enteral) pada fase akut untuk memudahkan pencernaan. Perawat juga memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya makan dalam porsi kecil, menghindari makanan yang merangsang mual (berlemak, berminyak, pedas, atau berbau tajam), serta teknik relaksasi untuk mengurangi mual (misalnya napas dalam atau kompres dingin di dahi). Intervensi farmakologis meliputi pemberian obat antiemetik sesuai advis dokter 30-60 menit sebelum makan untuk mengendalikan muntah. Lingkungan makan diatur senyaman mungkin (posisi duduk semi-Fowler, ventilasi baik, bebas bau menyengat). Perawat juga memonitor asupan cairan untuk mencegah dehidrasi akibat diare dan muntah, serta mencatat output (muntah, diare) untuk menghitung keseimbangan cairan. Evaluasi dilakukan setiap shift dengan mengukur jumlah kalori yang masuk, frekuensi mual/muntah, dan perubahan tanda-tanda vital. Jika asupan oral masih kurang dari 60% kebutuhan, perawat bersiap untuk memberikan nutrisi melalui selang nasogastrik atau berkolaborasi untuk pemberian nutrisi parenteral parsial. Intervensi ini diulang secara kontinu hingga pasien mampu mempertahankan asupan nutrisi mandiri dan fungsi hati membaik.
-
Article No. 25396 | 01 May 2026
Klinis : perut mulas mau melahirkan yang sudah dialami sejak 5 jam SMRS TelaahPasien datang dengan keluhan perut mulas mau melahirkan yang sudah dialami sejak 5 jam SMRS. Keluar lendir darah (+), riwayat keluar cairan ketuban (-). Riwayat keguguran (-). Ini merupakan kehamilan ke-3, riwayat PSP 2x. Mual (-), muntah (-), oyong (-), riwayat kaki bengkak (-). Demam (-), batuk (-), anosmia (-), ageusia (-), nyeri tenggorokan (-), sesak nafas (-), myalgia (-), sefalgia (-). BAB dan BAK dbn HPHT : 6/8/2025 TTP : 13/5/2026 Riwayat Penyakit Dahulu- OSens CM VAS 8 TD 126/97 HR 86, reguler RR 20 Temp 36.1 SpO2 99% STATUS LOKALISATA Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut : coated tongue (-), faring hiperemis (-), T1/T1 Leher : TVJ R-2cmHg, lymphadenopathy (-) Thoraks : sp ves (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ 1,2 reg, murmur (-) Abdomen : soepel, NT fundus (+), normoperistaltik, normothympani, H/L tidak teraba, TFU = 30cm, DJJ 144x/i Eks : akral hangat, CRT<2, t/v kuat, edem pretibial (-/-) Genitalia : pembukaan 5cm
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Melahirkan (Persalinan Kala I Fase Aktif)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri melahirkan adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat proses persalinan, dimulai dari adanya kontraksi uterus yang teratur hingga kelahiran bayi. Pada pasien ini, nyeri ditandai dengan perut mulas sejak 5 jam SMRS, skala nyeri VAS 8 (nyeri berat), pembukaan serviks 5 cm (fase aktif), dan pasien tampak kesakitan (CM). Nyeri ini disebabkan oleh peregangan segmen bawah rahim, serviks, dan tekanan pada struktur panggul selama kontraksi.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri (Persalinan) adalah status kemampuan pasien dalam mengelola dan melaporkan nyeri yang dialami selama proses persalinan. Kriteria hasil yang diharapkan pada pasien ini meliputi: (1) Keluhan nyeri menurun dari skala 8 menjadi skala 3-4 dalam waktu 2-4 jam setelah intervensi, (2) Ekspresi wajah rileks (tidak meringis), (3) Kemampuan mengontrol napas dan posisi saat kontraksi, (4) Tanda vital stabil (TD, HR, RR dalam batas normal untuk persalinan), (5) Pasien mampu mengidentifikasi teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri. Indikator keberhasilan: skala nyeri (VAS) menurun, pasien mampu beristirahat di antara kontraksi, dan partisipasi aktif dalam proses persalinan.
Kode SIKI: I.08238 (Manajemen Nyeri Persalinan) dan I.08239 (Teknik Relaksasi Napas Dalam)
Deskripsi : Manajemen Nyeri Persalinan adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengurangi intensitas nyeri, meningkatkan kenyamanan, dan mempertahankan energi ibu selama proses persalinan. Intervensi utama meliputi: (1) Kaji skala nyeri menggunakan VAS setiap 30 menit atau setiap selesai kontraksi, (2) Anjurkan teknik relaksasi napas dalam (napas lambat dan dalam saat kontraksi dimulai, hembuskan perlahan), (3) Bantu pasien mengubah posisi sesuai keinginan (misal: miring kiri, setengah duduk, atau merangkak) untuk mengurangi tekanan pada punggung bawah, (4) Berikan kompres hangat pada punggung bagian bawah atau perut bawah, (5) Ajarkan teknik pijatan ringan (effleurage) pada perut, (6) Ciptakan lingkungan yang tenang dan redup, (7) Libatkan pendamping (suami/keluarga) untuk memberikan dukungan emosional, (8) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik jika nyeri tidak terkontrol (misal: petidin atau epidural sesuai indikasi), (9) Monitor tanda vital ibu dan denyut jantung janin (DJJ) setiap 15-30 menit pada kala I aktif, (10) Berikan informasi tentang kemajuan persalinan (pembukaan, kontraksi) untuk mengurangi kecemasan. Intervensi tambahan: (11) Bantu pasien melakukan teknik visualisasi atau distraksi (mendengarkan musik, membayangkan tempat yang nyaman), (12) Pastikan kandung kemih kosong setiap 2 jam untuk mengurangi ketidaknyamanan.
-
Article No. 25397 | 01 May 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif pada Pasien Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada pasien dengan tuberkulosis paru, kondisi ini disebabkan oleh akumulasi sekret yang kental akibat proses inflamasi dan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Lesi di paru kanan atas yang terlihat pada rontgen menyebabkan kerusakan jaringan dan produksi sputum berlebih. Suara napas bronkial mengindikasikan adanya konsolidasi atau pemadatan jaringan paru, yang semakin mempersulit pengeluaran sekret. Pasien mengalami batuk berdahak yang produktif namun tidak efektif karena kelemahan fisik akibat demam dan kehilangan nafsu makan. Sesak napas terjadi karena jalan napas tersumbat oleh sekret dan penurunan kapasitas paru. Secara patofisiologis, inflamasi kronis menyebabkan hipertrofi kelenjar mukus dan peningkatan viskositas dahak. Silia pada epitel saluran napas rusak akibat toksin bakteri, sehingga mekanisme pembersihan mukosiliar terganggu. Akumulasi sekret ini menjadi media pertumbuhan bakteri dan menyebabkan obstruksi parsial atau total. Jika tidak ditangani, dapat terjadi hipoksemia, atelektasis, dan peningkatan risiko penyebaran infeksi. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (keluhan batuk berdahak sulit dikeluarkan, sesak) dan objektif (suara napas bronkial, rontgen lesi, demam, frekuensi napas meningkat). Intervensi keperawatan difokuskan pada pengelolaan sekret, posisi postural drainase, teknik batuk efektif, dan pemantauan status pernapasan. Edukasi tentang hidrasi yang cukup dan humidifikasi oksigen juga penting untuk mengencerkan dahak. Kolaborasi dengan fisioterapis untuk clapping dan vibrasi dapat membantu mobilisasi sekret. Pemantauan karakteristik sputum (warna, jumlah, bau) diperlukan untuk mengevaluasi perkembangan infeksi. Tujuan utama adalah mempertahankan kepatenan jalan napas, meningkatkan ventilasi, dan mencegah komplikasi seperti pneumonia sekunder atau gagal napas. Perawat harus waspada terhadap tanda-tanda obstruksi total seperti retraksi dada, sianosis, dan penurunan kesadaran yang memerlukan tindakan emergensi suction atau bronkoskopi.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas adalah kemampuan untuk mempertahankan jalan napas tetap terbuka dan bebas dari sekret atau obstruksi. Pada pasien tuberkulosis paru, luaran yang diharapkan meliputi beberapa kriteria yang terukur dalam skala 1 (memburuk) hingga 5 (membaik). Indikator utama meliputi: (1) Batuk efektif – pasien mampu mengeluarkan dahak secara spontan tanpa bantuan suction, dengan frekuensi batuk menurun dari sebelumnya; (2) Produksi sputum menurun – volume dahak berkurang dari >30 ml/hari menjadi <15 ml/hari, konsistensi berubah dari kental menjadi encer, dan warna berubah dari purulen (kuning-hijau) menjadi mukoid (putih-bening); (3) Suara napas tambahan – auskultasi menunjukkan penurunan atau hilangnya suara bronkial, ronki, atau wheezing, dan suara napas vesikuler kembali normal; (4) Dispnea menurun – pasien melaporkan sesak napas berkurang, frekuensi napas dalam rentang normal (12-20 x/menit), penggunaan otot bantu napas tidak ada, dan saturasi oksigen >95% pada udara ruangan; (5) Kemampuan mengeluarkan dahak – pasien dapat melakukan teknik batuk efektif secara mandiri dan mengeluarkan dahak ke dalam wadah tertutup. Target luaran biasanya ditetapkan dalam waktu 3-7 hari setelah intervensi. Pada hari ke-3, diharapkan skor indikator mencapai 3 (cukup membaik), dan pada hari ke-7 mencapai 4 (membaik) atau 5 (membaik sangat). Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung, auskultasi paru, pengukuran frekuensi napas, dan pemantauan hasil pulse oksimetri. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil mengoptimalkan fungsi pernapasan dan mencegah komplikasi obstruktif. Jika luaran tidak tercapai, perlu dikaji ulang faktor penyebab seperti kepatuhan minum obat, hidrasi yang tidak adekuat, atau adanya efek samping obat anti tuberkulosis (OAT) seperti hepatotoksisitas yang memperberat kondisi. Dokumentasi luaran harus dilakukan setiap shift untuk memantau perkembangan pasien secara kontinu. Kolaborasi dengan dokter paru dan fisioterapi diperlukan jika terdapat hambatan dalam pencapaian luaran.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk membebaskan dan mempertahankan jalan napas agar tetap paten serta memfasilitasi pengeluaran sekret. Pada pasien tuberkulosis paru dengan bersihan jalan napas tidak efektif, intervensi ini dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan. Tindakan utama meliputi: (1) Posisi semi-Fowler atau Fowler (30-45 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru dan memudahkan gravitasi dalam mengalirkan sekret; (2) Teknik batuk efektif – instruksikan pasien untuk menarik napas dalam melalui hidung, tahan 2-3 detik, lalu batuk kuat dari dada dalam posisi duduk dengan kepala sedikit menunduk, ulangi 2-3 kali setiap jam; (3) Fisioterapi dada – lakukan clapping (tepukan ringan dengan tangan membentuk mangkuk) pada area paru yang terkena (kanan atas) selama 3-5 menit, diikuti vibrasi manual saat pasien menghembuskan napas, kemudian posisikan pasien untuk postural drainase sesuai segmen paru yang mengalami lesi; (4) Suction – jika pasien tidak mampu mengeluarkan dahak secara mandiri, lakukan suction endotrakeal atau orofaringeal dengan teknik steril, kedalaman 10-15 cm, tekanan 80-120 mmHg, durasi tidak lebih dari 10-15 detik per kali; (5) Humidifikasi – berikan oksigen humidifikasi (3-5 L/menit melalui nasal kanul) atau gunakan nebulizer dengan NaCl 0,9% untuk mengencerkan dahak; (6) Hidrasi – anjurkan minum air hangat minimal 2 liter per hari (kecuali kontraindikasi gagal ginjal) untuk menurunkan viskositas sekret. Tindakan observasi meliputi: auskultasi suara napas setiap 4 jam, catat karakteristik sputum (warna, jumlah, konsistensi, bau), pantau frekuensi napas, kedalaman, irama, dan penggunaan otot bantu napas, serta monitor saturasi oksigen dan tanda vital. Tindakan edukasi: ajarkan pasien dan keluarga tentang teknik batuk efektif, pentingnya membuang dahak pada wadah tertutup berisi desinfektan (misal karbol 5%), etika batuk (menutup mulut dengan tisu), dan menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah penularan. Kolaborasi: berikan obat mukolitik (misal ambroxol) atau bronkodilator (misal salbutamol) sesuai resep dokter, dan rujuk ke fisioterapi untuk terapi pernapasan lanjutan. Evaluasi intervensi dilakukan setiap selesai tindakan dengan mengkaji ulang status jalan napas. Dokumentasikan respons pasien, perubahan karakteristik sputum, dan hasil auskultasi. Intervensi ini diulang setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan hingga luaran bersihan jalan napas tercapai. Perawat harus selalu siap dengan perlengkapan darurat seperti suction portable, oksigen, dan obat emergensi jika terjadi obstruksi akut. Keselamatan pasien menjadi prioritas, hindari suction terlalu sering karena dapat menyebabkan trauma mukosa dan hipoksia. Dengan intervensi yang tepat dan konsisten, diharapkan pasien mampu mempertahankan jalan napas paten, mengurangi risiko atelektasis, dan mempercepat proses penyembuhan.
-
Article No. 25398 | 01 May 2026
Klinis : Kejang yang dialami sejak hariini TelaahPasien datang dengan keluhan kejang yang dialami sejak hariini. Kejang muncul pada saat pasien beraktifitas. Riwayat trauma disangkal. Setelah kejang os tampak diam dengan pandangan kosong. Kepala pusing. Muntah 2x pagi ini. Demam disangkal. Riwayat Penyakit DahuluKejang demam usia 3tahun OSens : CM Vas 8 BB 54kg HR 88 RR 20 T 36,5 Spo2 98 Mata: Anemis-/- Sklera ikterik-/- Thorax: Vesikuler, Rh-/- Wh-/- Abdomen: Soepel, Peristaltik(+)N Ekstremitas: Akral hangat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera (D.0136) – Kejang
Kode SDKI: D.0136
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan kerentanan pasien terhadap cedera fisik akibat faktor risiko internal dan eksternal. Pada pasien dengan kejang, risiko cedera menjadi sangat tinggi karena kejang tonik-klonik atau jenis kejang lainnya dapat menyebabkan pasien jatuh, terbentur benda keras, mengalami fraktur, dislokasi sendi, cedera kepala, atau bahkan luka bakar. Kejang yang terjadi secara tiba-tiba saat beraktivitas (seperti pada kasus ini) meningkatkan risiko trauma fisik yang serius. Faktor risiko utama meliputi perubahan kesadaran, kehilangan kontrol motorik, dan kontraksi otot yang tidak terkendali. Pasien dengan riwayat kejang (kejang demam pada usia 3 tahun) dan kejang yang muncul kembali pada usia dewasa memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami cedera berulang. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (keluhan pusing, muntah) dan objektif (kejang saat aktivitas, post-ictal dengan pandangan kosong, GCS compos mentis namun dengan gangguan neurologis sementara). Intervensi keperawatan difokuskan pada pencegahan cedera selama episode kejang dan edukasi tentang manajemen risiko.
Kode SLKI: L.06011
Deskripsi: Tingkat Cedera (L.06011) adalah luaran keperawatan yang mengukur sejauh mana pasien terbebas dari cedera fisik setelah intervensi keperawatan. Kriteria evaluasi meliputi: (1) Tidak ada luka fisik, memar, atau fraktur; (2) Tidak ada cedera kepala akibat jatuh; (3) Tidak ada cedera jaringan lunak; (4) Pasien menunjukkan perilaku aman; (5) Keluarga mampu mengenali tanda-tanda awal kejang dan melakukan tindakan pencegahan. Target luaran yang diharapkan adalah "Meningkat" atau "Membaik" dalam skala 1-5 (1: buruk, 5: sangat baik). Indikator spesifik yang dipantau meliputi: frekuensi kejadian cedera, kepatuhan penggunaan alat pelindung (misalnya pagar tempat tidur, bantalan), kemampuan pasien/keluarga dalam mengidentifikasi situasi berisiko, dan respons terhadap edukasi keselamatan. Pada pasien ini, luaran yang ingin dicapai adalah tidak terjadi cedera fisik selama perawatan, pasien aman dari aspirasi (karena muntah 2x pagi ini), dan tidak ada perburukan kondisi neurologis. Keberhasilan luaran diukur dalam 1x24 jam pertama setelah intervensi, dengan evaluasi lanjutan setiap shift.
Kode SIKI: I.14537
Deskripsi: Pencegahan Cedera (I.14537) adalah intervensi keperawatan yang dirancang untuk melindungi pasien dari cedera fisik yang dapat terjadi akibat kejang. Intervensi ini mencakup tindakan mandiri perawat dan kolaboratif. Berikut adalah rincian intervensi yang diterapkan pada pasien dengan kejang aktif:
1. Observasi dan Monitoring:
- Monitor tanda-tanda vital (HR 88, RR 20, T 36,5, SpO2 98) setiap 2-4 jam atau lebih sering jika kejang berulang.
- Monitor status neurologis: tingkat kesadaran (GCS), pupil, refleks, dan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (pusing, muntah proyektil).
- Catat frekuensi, durasi, dan karakteristik kejang (onset, jenis, faktor pencetus).
- Identifikasi faktor risiko individu: riwayat kejang sebelumnya, kelelahan, stres, demam (disangkal), atau penggunaan obat-obatan.
2. Tindakan Pencegahan Fisik:
- Pasang pagar tempat tidur dalam keadaan tinggi dan aktifkan rem roda.
- Bebaskan area sekitar pasien dari benda tajam, keras, atau berbahaya.
- Sediakan bantalan pelindung di sisi tempat tidur untuk mengurangi dampak benturan.
- Jaga agar jalur intravena (jika terpasang) dan oksigen tetap aman dan tidak terlepas saat kejang.
- Pertahankan posisi miring (recovery position) setelah kejang untuk mencegah aspirasi, terutama karena pasien muntah 2x pagi ini.
3. Manajemen Kejang Aktif:
- Jika kejang terjadi, lakukan tindakan darurat: jangan menahan gerakan pasien, letakkan bantal atau kain lunak di bawah kepala, longgarkan pakaian ketat.
- Jangan memasukkan benda apa pun ke dalam mulut pasien (lidah tidak akan tertelan).
- Catat waktu onset kejang; jika kejang berlangsung >5 menit atau kejang berulang tanpa pemulihan kesadaran, segera hubungi dokter (status epilepticus).
- Berikan oksigen sesuai order (biasanya 2-4 L/menit via nasal kanul) jika SpO2 turun di bawah 95% atau ada sianosis.
4. Edukasi Pasien dan Keluarga:
- Ajarkan keluarga mengenali tanda-tanda awal kejang (aura, pandangan kosong, perubahan perilaku).
- Latih keluarga cara melakukan pertolongan pertama kejang dengan benar: amankan lingkungan, posisikan pasien miring, jangan panik, catat durasi.
- Informasikan tentang pentingnya kepatuhan minum obat antiepilepsi (jika diresepkan) dan hindari faktor pencetus (kurang tidur, alkohol, stres).
- Anjurkan pasien untuk tidak melakukan aktivitas berbahaya sendirian (misalnya mengemudi, berenang, bekerja di ketinggian) sampai kejang terkontrol.
5. Kolaborasi:
- Rujuk ke dokter spesialis saraf untuk evaluasi lebih lanjut (EEG, CT scan kepala jika perlu).
- Kolaborasi pemberian obat antikonvulsan sesuai program medis (misalnya diazepam intravena, fenitoin, atau levetiracetam).
- Konsultasi dengan ahli gizi jika muntah berlanjut untuk mencegah dehidrasi dan gangguan elektrolit.
Intervensi ini dilakukan secara berkesinambungan dengan evaluasi setiap 4 jam atau setiap kali terjadi perubahan kondisi. Dokumentasi mencakup catatan kejadian kejang, respons terhadap intervensi, dan pencapaian luaran bebas cedera.
-
Article No. 25399 | 01 May 2026
Klinis : Keluar air air dari jalan lahir sejak semalam TelaahPasien datang dengan keluhan keluar air air dari jalan lahir sejak semalam sampai hariini. Mules mules mau melahirkan(+). Keluar lendir darah dari jalan lahir disangkal. Demam, batuk, pilek disangkal. Ini merupakan kehamilan pertama os. HPHT : 04/08/2025 Riwayat Penyakit Dahulu- OSens : CM Vas 8 TD 145/99 HR 86 RR 20 T 36.5 Spo2 98 Mata: Anemis-/- Sklera ikterik-/- Thorax: Vesikuler, Rh-/- Wh-/- Abdomen: Djj 140, TFU 36cm Genitalia: VT pembukaan 0cm, ketuban merembes Ekstremitas: Akral hangat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketuban Pecah Dini / Premature Rupture of Membranes (PROM) pada Kehamilan Pertama
Kode SDKI: D.0057
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini dan prosedur invasif (vaginal toucher)
Kode SLKI: L.14137
Deskripsi : Status Infeksi (L.14137) adalah kondisi yang menggambarkan tingkat keparahan dan manifestasi klinis infeksi pada pasien. Pada kasus ini, tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya infeksi intrapartum dan postpartum. Indikator keberhasilan meliputi: (1) Tidak ada demam (suhu tubuh 36.5-37.5°C), (2) Tidak ada takikardia (nadi 60-100 x/menit), (3) Tidak ada leukositosis abnormal, (4) Warna cairan ketuban jernih tanpa bau busuk, (5) Tidak ada nyeri tekan abdomen yang abnormal, (6) Denyut jantung janin dalam batas normal (120-160 x/menit). Pada pasien ini, suhu 36.5°C dan nadi 86 x/menit masih dalam batas normal, namun risiko tetap tinggi karena ketuban sudah pecah dan pembukaan serviks 0 cm (masa laten memanjang berpotensi meningkatkan risiko infeksi asenden). Skala risiko infeksi pada ibu dengan PROM adalah 1-2% per jam setelah ketuban pecah, dan meningkat signifikan setelah 18-24 jam. Karena HPHT pasien adalah 04/08/2025, maka usia kehamilan saat ini sekitar 37-38 minggu (aterm), namun ketuban pecah sebelum onset persalinan (pembukaan 0 cm) mengklasifikasikan kondisi ini sebagai PROM. Target intervensi adalah mempertahankan status infeksi pada tingkat 1 (tidak ada infeksi) hingga proses persalinan selesai.
Kode SIKI: I.14532
Deskripsi : Manajemen Infeksi (I.14532) adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mencegah, mengenali, dan mengendalikan infeksi pada pasien dengan risiko tinggi. Intervensi utama meliputi: (1) Observasi: Monitor tanda-tanda vital setiap 4 jam (suhu, nadi, RR, TD), monitor karakteristik cairan ketuban (warna, bau, jumlah), monitor denyut jantung janin (DJJ) setiap 30 menit saat aktif dan setiap 15 menit saat kala I fase aktif, monitor kontraksi uterus, monitor hasil laboratorium (leukosit, CRP jika tersedia). (2) Terapeutik: Lakukan perawatan perineal dengan antiseptik (povidone iodine 10%) setiap kali selesai buang air kecil/besar, batasi pemeriksaan vaginal toucher seminimal mungkin (hanya jika ada indikasi medis), berikan posisi semi-Fowler untuk mengurangi tekanan pada serviks dan memperlancar drainase cairan ketuban, anjurkan pasien untuk tidak melakukan aktivitas berlebihan dan istirahat tidur miring kiri. (3) Edukasi: Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda infeksi (demam, cairan ketuban berbau, nyeri perut hebat), ajarkan teknik membersihkan area genital dari depan ke belakang, informasikan tentang pentingnya melaporkan segera jika ada perubahan warna cairan ketuban menjadi hijau/kuning/berbau. (4) Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik profilaksis (biasanya Ampisilin 2 gram IV dilanjutkan 1 gram setiap 4 jam atau Eritromisin sesuai protokol ACOG), kolaborasi untuk induksi persalinan jika usia kehamilan ≥37 minggu dan PROM >12-24 jam, kolaborasi untuk pemeriksaan kultur cairan ketuban jika ada kecurigaan korioamnionitis. Intervensi ini harus dilakukan dengan prinsip aseptic technique, mengingat pasien memiliki hipertensi (TD 145/99 mmHg) yang memerlukan monitoring ketat untuk preeklamsia. Risiko infeksi pada PROM diperparah oleh prosedur vaginal toucher yang telah dilakukan (pembukaan 0 cm), sehingga edukasi tentang tanda bahaya infeksi menjadi prioritas utama.
Kondisi: Nyeri Persalinan Kala I Fase Laten
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (kontraksi uterus dan peregangan serviks) ditandai dengan pasien mengeluh mules-mules, skala nyeri 8/10
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri (L.08066) adalah kondisi yang menggambarkan intensitas, karakteristik, dan dampak nyeri yang dialami pasien. Target luaran yang diharapkan adalah penurunan skala nyeri dari 8 menjadi 3-4 dalam 4-6 jam pertama intervensi. Indikator yang dievaluasi meliputi: (1) Pasien melaporkan skala nyeri menurun (dari 8 menjadi ≤4), (2) Ekspresi wajah rileks (tidak meringis), (3) Tanda-tanda vital stabil (nadi 60-100 x/menit, TD sistolik 110-140 mmHg), (4) Pasien mampu melakukan teknik relaksasi, (5) Pola napas teratur (20-24 x/menit). Pada pasien ini, nyeri skala 8 dengan kontraksi uterus yang teratur menunjukkan fase laten persalinan. Meskipun pembukaan serviks masih 0 cm, nyeri dapat disebabkan oleh peregangan segmen bawah rahim dan tekanan pada pleksus saraf sakralis. Hipertensi (145/99 mmHg) perlu diwaspadai karena nyeri dapat meningkatkan katekolamin yang memperburuk hipertensi dan berpotensi memicu eklampsi. Oleh karena itu, manajemen nyeri yang adekuat menjadi krusial tidak hanya untuk kenyamanan tetapi juga untuk stabilitas hemodinamik.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri (I.08238) adalah intervensi keperawatan komprehensif untuk mengurangi atau mengendalikan nyeri persalinan. Intervensi spesifik meliputi: (1) Observasi: Identifikasi skala nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) setiap 30 menit, identifikasi lokasi, frekuensi, durasi, dan intensitas kontraksi (palpasi fundus uteri), monitor tanda-tanda vital setiap 30 menit (khususnya TD dan nadi), monitor DJJ untuk menilai respons janin terhadap nyeri ibu. (2) Terapeutik: Berikan posisi yang nyaman (miring kiri, setengah duduk, atau posisi merangkak jika tidak ada kontraindikasi), ajarkan teknik napas dalam (slow deep breathing) dengan rasio inhalasi:ekshalasi 1:2 saat kontraksi, lakukan masase punggung bawah (counter-pressure) pada area sakrum saat kontraksi, kompres hangat pada punggung bawah atau perut bawah, ciptakan lingkungan yang tenang dengan pencahayaan redup, berikan dukungan emosional dan pendampingan suami/keluarga. (3) Edukasi: Jelaskan tentang proses persalinan kala I fase laten dan durasi yang mungkin berlangsung 8-12 jam pada primigravida, ajarkan teknik distraksi (mendengarkan musik, visualisasi, atau bicara dengan suami), informasikan tentang pilihan analgesik farmakologis (seperti petidin atau epidural) jika nyeri tidak terkontrol. (4) Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik farmakologis jika skala nyeri ≥6 dan teknik non-farmakologis tidak efektif, kolaborasi untuk monitoring kontraksi menggunakan partograf jika persalinan sudah memasuki fase aktif. Intervensi ini harus memperhatikan kondisi hipertensi pasien; hindari penggunaan NSAID karena dapat mempengaruhi fungsi ginjal dan tekanan darah. Teknik relaksasi dan napas dalam menjadi prioritas utama karena dapat menurunkan resistensi pembuluh darah perifer dan membantu menstabilkan tekanan darah.
Kondisi: Risiko Hipertensi dalam Kehamilan / Preeklampsia
Kode SDKI: D.0116
Deskripsi Singkat: Risiko perfusi serebral tidak efektif berhubungan dengan hipertensi dalam kehamilan (TD 145/99 mmHg pada kehamilan pertama)
Kode SLKI: L.02014
Deskripsi : Status Sirkulasi (L.02014) adalah luaran yang mengukur efektivitas fungsi kardiovaskular dan perfusi jaringan. Target yang ingin dicapai adalah tekanan darah kembali ke rentang normal (sistolik 110-130 mmHg, diastolik 70-85 mmHg) dalam 24-48 jam. Indikator spesifik meliputi: (1) Tekanan darah sistolik menurun (dari 145 menjadi ≤130 mmHg), (2) Tekanan darah diastolik menurun (dari 99 menjadi ≤85 mmHg), (3) Tidak ada proteinuria (dikonfirmasi dengan tes urin), (4) Tidak ada edema patologis (edema pretibial atau edema wajah yang tidak hilang setelah istirahat), (5) Tidak ada nyeri kepala, (6) Tidak ada gangguan penglihatan (skotoma, pandangan kabur), (7) Refleks fisiologis normal (tidak hiperrefleksia). Pasien ini memiliki faktor risiko preeklamsia yaitu primigravida dan hipertensi pada kehamilan pertama. Tekanan darah 145/99 mmHg termasuk hipertensi derajat 1 dalam kehamilan (menurut ACOG). Meskipun saat ini tidak ada gejala seperti sakit kepala atau gangguan penglihatan, risiko progresivitas menjadi preeklamsia berat atau eklampsia tetap tinggi, terutama saat proses persalinan berlangsung yang dapat memicu
Article No. 25400 | 01 May 2026
Klinis : diare lebih dari 15 kali
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Diare (frekuensi lebih dari 15 kali sehari)
Kode ICD-10: A09.0
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan diare dengan frekuensi buang air besar yang sangat sering, melebihi 15 kali dalam sehari. Dalam sistem kodifikasi ICD-10, kode A09.0 digunakan untuk "Diare dan gastroenteritis yang diduga berasal dari infeksi". Frekuensi diare yang ekstrem seperti ini menunjukkan kondisi yang serius, biasanya terkait dengan gastroenteritis infeksius akut yang berat, baik yang disebabkan oleh virus (seperti rotavirus, norovirus), bakteri (seperti Escherichia coli enterotoksigenik, Salmonella, Shigella, Campylobacter), atau parasit. Diare dengan frekuensi 15 kali atau lebih per hari dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi berat, ketidakseimbangan elektrolit, dan syok hipovolemik, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan pasien dengan komorbiditas. Kode A09.0 dipilih karena secara spesifik menunjuk pada penyebab infeksius yang paling sering mendasari episode diare akut dengan frekuensi tinggi. Penting untuk dicatat bahwa jika penyebab spesifik telah teridentifikasi melalui pemeriksaan laboratorium (misalnya kultur feses positif untuk Shigella), maka kode yang lebih spesifik seperti A03.9 (Shigellosis) atau A09.9 (Diare dan gastroenteritis yang tidak dijelaskan) mungkin lebih tepat. Dalam konteks ini, A09.0 adalah kode yang paling sesuai untuk menggambarkan gambaran klinis diare berat yang sering terjadi tanpa informasi etiologi definitif, dan digunakan untuk tujuan simulasi kodifikasi medis.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 25401 | 01 May 2026
Klinis : diare lebih dari 15 kali
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Diare Lebih dari 15 Kali (Diare Profus/Severe Dehydration)
Kode ICD-10: A09.0
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan diare akut dengan frekuensi buang air besar yang sangat sering, yaitu lebih dari 15 kali dalam sehari. Frekuensi ekstrem ini termasuk dalam kategori diare berat (severe diarrhea) atau diare profus. Kode ICD-10 yang paling tepat untuk kondisi ini adalah A09.0 (Gastroenteritis dan kolitis akibat infeksi, tidak terspesifikasi). Kode ini mencakup gastroenteritis infeksiosa akut tanpa spesifikasi agen penyebab. Frekuensi lebih dari 15 kali menunjukkan tingkat keparahan tinggi yang sering disertai dehidrasi berat, kehilangan elektrolit masif, dan risiko syok hipovolemik. Dalam praktik kodifikasi, frekuensi diare merupakan salah satu indikator utama untuk menentukan tingkat keparahan dan kode diagnosis. Diare dengan frekuensi >15 kali umumnya memerlukan penanganan medis segera, termasuk resusitasi cairan intravena. Kode A09.0 dipilih karena tidak ada informasi spesifik mengenai agen infeksius (seperti bakteri, virus, atau parasit) dalam deskripsi yang diberikan. Jika etiologi spesifik diketahui (misalnya, kolera akibat Vibrio cholerae), kode yang lebih spesifik akan digunakan (A00.9 untuk kolera). Namun, berdasarkan deskripsi yang ada, A09.0 adalah kode yang paling tepat untuk kondisi diare akut berat dengan frekuensi >15 kali tanpa spesifikasi penyebab. Kondisi ini memerlukan tata laksana agresif untuk mencegah komplikasi serius seperti gagal ginjal akut, asidosis metabolik, dan ketidakseimbangan elektrolit yang mengancam jiwa.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 25402 | 01 May 2026
Klinis : suhu fluktuatif, DHF
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Suhu Fluktuatif pada Demam Berdarah Dengue (DHF)
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Termoregulasi Membaik
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Manajemen Hipertermia
Kondisi: Suhu Fluktuatif pada Demam Berdarah Dengue (DHF)
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah keadaan suhu tubuh individu meningkat di atas rentang normal (36,5-37,5°C) akibat kegagalan mekanisme pengaturan panas tubuh. Pada pasien DHF, hipertermia terjadi secara fluktuatif karena respons imun tubuh terhadap virus dengue yang mengaktifkan sel monosit dan makrofag, melepaskan sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-1, IL-6) yang mempengaruhi pusat termoregulasi di hipotalamus. Suhu dapat naik mendadak mencapai 39-40°C, kemudian turun drastis saat fase kritis (hari ke-3 hingga ke-7), dan naik kembali pada fase pemulihan. Fluktuasi ini disebabkan oleh siklus replikasi virus yang memicu gelombang demam (biphasic fever) serta perubahan permeabilitas kapiler yang mempengaruhi distribusi panas tubuh. Hipertermia pada DHF berbeda dengan demam biasa karena disertai risiko syok hipovolemik akibat kebocoran plasma, sehingga penanganan harus hati-hati untuk mencegah komplikasi seperti kejang demam, dehidrasi, atau ensefalopati. Gejala yang muncul antara lain kulit teraba hangat, takikardia, takipnea, menggigil, dan penurunan kesadaran pada kasus berat. Diagnosis ditegakkan melalui pengukuran suhu aksila atau rektal serial setiap 4-6 jam, karena suhu fluktuatif memerlukan monitoring ketat untuk mengidentifikasi pola demam dan tanda bahaya. Intervensi keperawatan difokuskan pada pendinginan non-farmakologis (kompres hangat, pemberian cairan oral/IV sesuai kebutuhan), manajemen lingkungan (suhu ruangan 20-22°C, sirkulasi udara baik), dan kolaborasi pemberian antipiretik seperti parasetamol (hindari aspirin karena risiko perdarahan). Edukasi pada keluarga tentang tanda bahaya demam tinggi dan pentingnya hidrasi sangat krusial untuk mencegah perburukan kondisi. Hipertermia yang tidak tertangani dapat mempercepat kebocoran plasma dan memperberat syok, sehingga penanganan dini dan tepat sangat menentukan prognosis pasien DHF.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Termoregulasi Membaik adalah kondisi di mana individu menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal, tanpa fluktuasi ekstrem, serta bebas dari komplikasi terkait panas atau dingin. Pada pasien DHF, luaran ini diukur melalui beberapa kriteria hasil yang terukur. Pertama, suhu tubuh dalam batas normal (36,5-37,5°C) selama minimal 24 jam berturut-turut, tanpa peningkatan mendadak atau penurunan drastis. Kedua, tidak ada menggigil atau keringat dingin yang berlebihan, yang menandakan stabilnya pusat termoregulasi. Ketiga, frekuensi nadi kembali normal (60-100x/menit pada dewasa) tanpa takikardia yang menandakan respons demam. Keempat, frekuensi napas dalam rentang normal (16-20x/menit) dan tidak ada sesak napas yang mengindikasikan kompensasi metabolik akibat demam. Kelima, kulit teraba hangat dan kering, tidak lembab atau dingin pada ekstremitas, yang merupakan tanda perfusi perifer baik. Keenam, status kesadaran compos mentis (GCS 15) tanpa penurunan kesadaran yang bisa terjadi akibat hipertermia berat. Ketujuh, hidrasi adekuat yang ditandai dengan turgor kulit elastis, mukosa bibir lembab, dan produksi urine normal (≥0,5 ml/kgBB/jam). Selain itu, pada DHF, termoregulasi membaik juga ditandai dengan lenyapnya pola demam biphasic dan tidak adanya tanda syok seperti hipotensi atau nadi lemah. Indikator lain adalah kemampuan pasien beristirahat dengan nyaman tanpa gelisah akibat demam. Pencapaian luaran ini dievaluasi setiap 8-12 jam melalui pemantauan tanda vital serial dan observasi klinis. Jika kriteria terpenuhi, risiko komplikasi seperti kejang demam, dehidrasi berat, atau perdarahan akibat peningkatan permeabilitas kapiler menurun secara signifikan. Keluarga juga diinstruksikan untuk mengenali tanda awal fluktuasi suhu sehingga dapat segera melapor. Termoregulasi membaik menjadi indikator keberhasilan intervensi keperawatan dan kolaborasi medis, sekaligus menandakan bahwa fase kritis DHF telah terlewati dengan aman. Pada pasien anak, kriteria tambahan meliputi tidak adanya rewel berlebihan atau tangisan terus-menerus yang menandakan ketidaknyamanan akibat demam. Secara keseluruhan, luaran ini mencerminkan keseimbangan homeostasis termal yang esensial untuk pemulihan optimal pada DHF.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Manajemen Hipertermia adalah serangkaian intervensi keperawatan yang terencana dan sistematis untuk menurunkan suhu tubuh serta mencegah komplikasi akibat peningkatan suhu, khususnya pada pasien dengan kondisi fluktuatif seperti DHF. Intervensi ini mencakup tindakan mandiri perawat dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. Langkah pertama adalah observasi dan monitoring ketat: perawat memantau suhu tubuh setiap 4-6 jam atau lebih sering jika suhu >38,5°C, menggunakan termometer yang akurat (aksila atau rektal). Tanda vital lain (nadi, napas, tekanan darah) juga dicatat untuk mendeteksi tanda syok atau dehidrasi. Kedua, manajemen lingkungan: atur suhu ruangan pada 20-22°C dengan ventilasi baik, hindari selimut tebal atau pakaian berlapis yang menghambat penguapan panas. Gunakan kipas angin atau AC jika tersedia, tetapi hindari hembusan langsung ke pasien. Ketiga, pendinginan non-farmakologis: berikan kompres hangat pada lipatan tubuh (leher, ketiak, selangkangan) selama 15-20 menit, bukan kompres dingin karena dapat menyebabkan menggigil yang justru meningkatkan produksi panas. Mandi air hangat (suhu 37-38°C) juga efektif jika pasien stabil. Keempat, manajemen cairan: berikan minum air hangat atau oralit sedikit-sedikit tapi sering (5-10 ml/kgBB/jam) untuk mencegah dehidrasi, karena demam meningkatkan kebutuhan cairan. Pada DHF, kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan intravena (Ringer Laktat atau NaCl 0,9%) sesuai derajat dehidrasi dan fase penyakit. Kelima, kolaborasi pemberian antipiretik: berikan parasetamol 10-15 mg/kgBB setiap 4-6 jam sesuai resep, hindari aspirin dan ibuprofen karena risiko perdarahan dan sindrom Reye. Keenam, edukasi pasien dan keluarga: ajarkan cara mengukur suhu, mengenali tanda bahaya (suhu >40°C, kejang, muntah terus-menerus, perdarahan), serta pentingnya hidrasi dan istirahat. Berikan informasi tentang pola demam biphasic pada DHF agar keluarga tidak panik saat suhu turun drastis. Ketujuh, perawatan kulit dan kenyamanan: ganti pakaian yang basah oleh keringat, jaga kebersihan tubuh, dan berikan posisi nyaman (semi-fowler) untuk memudahkan ekspansi paru. Kedelapan, kolaborasi diagnostik: lakukan pemeriksaan laboratorium serial (hematokrit, trombosit, leukosit) untuk memantau kebocoran plasma dan respons terhadap terapi. Kesembilan, dokumentasi: catat semua intervensi, respons pasien, dan perubahan suhu secara akurat untuk evaluasi. Intervensi ini dilakukan secara berkesinambungan hingga suhu stabil dalam rentang normal selama 24-48 jam. Dalam DHF, manajemen hipertermia harus hati-hati karena penurunan suhu yang terlalu cepat dapat memicu syok akibat vasodilatasi. Oleh karena itu, pendinginan dilakukan bertahap, tidak lebih dari 1°C per jam. Tujuan akhir intervensi adalah menormalkan termoregulasi tanpa efek samping, mencegah komplikasi (kejang, dehidrasi, ensefalopati), dan mendukung proses penyembuhan pasien DHF secara holistik.
Kondisi: Suhu Fluktuatif pada Demam Berdarah Dengue (DHF)
Kode SDKI: D.0143
Deskripsi Singkat: Risiko Perdarahan
Kode SLKI: L.02017
Deskripsi : Tingkat Perdarahan Menurun
Kode SIKI: I.02086
Deskripsi : Pencegahan Perdarahan
Kondisi: Suhu Fluktuatif pada Demam Berdarah Dengue (DHF)
Kode SDKI: D.0143
Deskripsi Singkat: Risiko Perdarahan adalah keadaan rentan individu mengalami kehilangan darah akibat kerusakan integritas pembuluh darah, gangguan koagulasi, atau trombositopenia. Pada DHF, risiko ini sangat tinggi karena virus dengue menginfeksi dan merusak sel endotel pembul
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460