SDKI |
sebutkan intervensi keperawatan yang sesuai pada kasus dengan risiko syok septik dan hipovolemik
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Berdasarkan Standar PPNI
Sebagai seorang perawat profesional, penetapan diagnosa, luaran, dan intervensi keperawatan harus mengacu pada standar yang telah ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Standar ini meliputi:
Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI)
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
Ketiga standar ini saling terintegrasi untuk memastikan asuhan keperawatan yang komprehensif, terukur, dan berbasis bukti.
Penjelasan SDKI - SLKI - SIKI
1. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI)
Definisi: SDKI adalah buku panduan yang berisi daftar diagnosa keperawatan yang diakui di Indonesia, dilengkapi dengan definisi, penyebab/faktor risiko, dan tanda/gejala mayor serta minor. SDKI digunakan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan pasien yang dapat diatasi melalui intervensi keperawatan.
Struktur Kode: Kode diagnosa keperawatan dalam SDKI diawali dengan huruf D diikuti oleh empat digit angka (misalnya, D.0001).
Keterkaitan: SDKI menjadi titik awal dalam proses keperawatan, menentukan masalah yang akan ditangani.
2. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)
Definisi: SLKI adalah buku panduan yang berisi daftar luaran (outcome) keperawatan yang diharapkan tercapai setelah dilakukan intervensi keperawatan. Setiap luaran memiliki definisi, kriteria hasil, dan skala pengukuran untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi.
Struktur Kode: Kode luaran keperawatan dalam SLKI diawali dengan huruf L diikuti oleh lima digit angka (misalnya, L.03032).
Keterkaitan: SLKI merupakan tujuan dari asuhan keperawatan, yang ditetapkan berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah ditegakkan. Ini membantu perawat dalam mengukur efektivitas intervensi.
3. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
Definisi: SIKI adalah buku panduan yang berisi daftar intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi diagnosa keperawatan dan mencapai luaran yang diharapkan. Setiap intervensi dilengkapi dengan definisi, tindakan-tindakan yang harus dilakukan (observasi, terapeutik, edukasi, kolaborasi), dan rasionalnya.
Struktur Kode: Kode intervensi keperawatan dalam SIKI diawali dengan huruf I diikuti oleh lima digit angka (misalnya, I.02079).
Keterkaitan: SIKI adalah rencana tindakan nyata yang akan dilakukan perawat untuk mencapai luaran yang ditetapkan, sebagai respons terhadap diagnosa keperawatan.
Kasus: Pasien dengan Risiko Syok Septik dan Hipovolemik
Pada kasus pasien dengan risiko syok septik dan hipovolemik, pendekatan asuhan keperawatan harus berfokus pada pencegahan, deteksi dini, dan manajemen cepat untuk mencegah progresivitas kondisi.
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI)
Kode SDKI:D.0039
Diagnosa:Risiko Syok
Definisi: Berisiko mengalami sindrom syok yang mengancam jiwa.
Faktor Risiko yang Relevan (Etiologi):
Untuk Risiko Syok Septik:
Infeksi berat (misalnya, pneumonia, infeksi saluran kemih, peritonitis)
Kehilangan cairan berlebihan (misalnya, diare berat, muntah persisten, luka bakar luas, diuresis berlebihan)
Dehidrasi berat
Kurang asupan cairan
Rasional: Diagnosa "Risiko Syok" sangat tepat karena mencakup potensi terjadinya syok dari berbagai etiologi, termasuk septik (akibat infeksi) dan hipovolemik (akibat kehilangan cairan/darah). Fokus pada "risiko" menekankan pentingnya intervensi pencegahan.
2. Luaran Keperawatan (SLKI)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan luaran Tingkat Syok (L.03032) membaik dengan kriteria hasil:
Kode SLKI:L.03032
Luaran:Tingkat Syok
Definisi: Tingkat keparahan respons fisiologis terhadap perfusi jaringan yang tidak adekuat.
Kriteria Hasil (yang diharapkan membaik):
Kekuatan nadi perifer meningkat (dari cukup menurun menjadi cukup meningkat)
Tekanan darah sistolik membaik (dari cukup menurun menjadi cukup meningkat)
Tekanan darah diastolik membaik (dari cukup menurun menjadi cukup meningkat)
Mean Arterial Pressure (MAP) membaik (dari cukup menurun menjadi cukup meningkat)
Frekuensi nadi membaik (dari cukup meningkat menjadi cukup menurun)
Frekuensi napas membaik (dari cukup meningkat menjadi cukup menurun)
Suhu tubuh membaik (dari cukup meningkat/menurun menjadi cukup membaik)
Warna kulit membaik (dari pucat menjadi cukup membaik)
Akral membaik (dari dingin menjadi cukup hangat)
Capillary Refill Time (CRT) membaik (dari >3 detik menjadi <3 detik)
Tingkat kesadaran membaik (dari menurun menjadi cukup membaik)
Produksi urine membaik (dari oliguria/anuria menjadi >0.5 mL/kgBB/jam)
Tingkat laktat menurun (dari meningkat menjadi cukup menurun)
Status mental membaik (dari gelisah menjadi cukup membaik)
Rasional: Kriteria hasil ini secara langsung mengukur parameter fisiologis yang terganggu pada syok, baik septik maupun hipovolemik. Pemantauan dan perbaikan pada indikator ini menunjukkan keberhasilan pencegahan atau penanganan dini syok.
3. Intervensi Keperawatan (SIKI)
Intervensi keperawatan yang sesuai untuk pasien dengan risiko syok septik dan hipovolemik harus bersifat komprehensif, meliputi pencegahan infeksi, manajemen cairan, dan pemantauan ketat. Berikut adalah beberapa intervensi SIKI yang relevan:
Kode SIKI
Intervensi Keperawatan
Definisi Singkat
Tindakan Keperawatan (Observasi, Terapeutik, Edukasi, Kolaborasi
25731 |
2026-05-19 |
09:41:22
SDKI |
Pasien laki-laki usia 57 tahun datang ke RSUD Dumai dengan keluhan utama sesak napas sejak ±1 minggu sebelum masuk rumah sakit yang dirasakan terus-menerus. Pasien juga mengeluhkan nyeri dada bagian bawah yang bertambah saat batuk, batuk kering sejak ±2 minggu tanpa darah, berkeringat pada malam hari, serta penurunan berat badan sekitar 2 kg dalam 1 minggu terakhir. Selain itu, pasien mengalami demam, namun tidak disertai mual dan muntah. Riwayat penyakit sebelumnya tidak ditemukan keluhan serupa, dan riwayat penyakit keluarga juga tidak ada yang mengalami kondisi yang sama.
Saat ini, hasil pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda vital berupa tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 110 x/menit, frekuensi napas 24 x/menit, dan suhu 38,2°C. Pemeriksaan thoraks menunjukkan pergerakan dada kanan tertinggal saat bernapas, fremitus taktil paru kanan melemah pada ICS VII–X, perkusi redup pada area yang sama, serta suara napas vesikuler melemah pada paru kanan. Selain itu, ditemukan ronki pada kedua lapang paru.
Pemeriksaan penunjang berupa rontgen thoraks menunjukkan adanya efusi pleura dextra, yang menegakkan diagnosis efusi pleura kanan dengan kemungkinan etiologi tuberkulosis paru. Pemeriksaan laboratorium darah dilaporkan dalam batas normal. Setelah dilakukan tindakan torakosintesis, diperoleh cairan pleura serous sebanyak ±1000 cc, yang kemudian diperiksa sitologi dengan hasil menunjukkan hyperplasia reaktif sel mesotel, dengan kemungkinan proses spesifik belum dapat disingkirkan.
Dalam penatalaksanaan, pasien mendapatkan terapi farmakologis berupa infus NaCl 0,9% (IVFD), antibiotik injeksi ceftriaxone 1 x 2 gram/12 jam, drip resfar dalam NaCl 0,9% 200 cc, serta paracetamol 3 x 500 mg. Untuk keluhan nyeri ulu hati diberikan omeprazole injeksi 2 x 1, sucralfate 3 x 1 sirup, dan pronalgess. Setelah tindakan torakosintesis, pasien diberikan terapi obat anti tuberkulosis (ProTB) 4 kombinasi dosis 1 x 3 sesuai berat badan (49 kg) serta suplemen curcuma untuk meningkatkan nafsu makan. Di bagian dada pasien terlihat adanya luka yang telah dibalut pada area torakosintesis.
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada pasien ini, kondisi tersebut disebabkan oleh akumulasi cairan efusi pleura kanan yang menekan parenkim paru dan bronkus, sehingga mengganggu mekanisme batuk efektif dan refleks pembersihan mukosiliar. Pasien mengalami batuk kering tanpa sekret yang produktif, namun terdapat ronki pada kedua lapang paru yang mengindikasikan adanya sekret atau cairan di saluran napas distal. Pergerakan dada kanan yang tertinggal dan suara napas vesikuler yang melemah pada paru kanan menunjukkan penurunan ventilasi dan ekspansi paru, yang diperberat oleh nyeri dada saat batuk (skala nyeri tidak disebutkan, namun bertambah saat batuk). Demam (38,2°C) dan takipnea (frekuensi napas 24 x/menit) merupakan respons sistemik terhadap infeksi dan hipoksia, yang semakin memperburuk upaya pembersihan jalan napas. Selain itu, penurunan berat badan 2 kg dalam seminggu dan keringat malam menunjukkan kondisi hipermetabolik yang lazim pada tuberkulosis, yang dapat melemahkan otot-otot pernapasan dan mengurangi daya tahan tubuh untuk melakukan batuk efektif. Nadi yang meningkat (110 x/menit) juga menandakan adanya kompensasi kardiovaskular terhadap gangguan pertukaran gas. Dengan demikian, diagnosis ini sangat relevan untuk mengatasi risiko obstruksi jalan napas akibat efusi pleura dan sekret yang tidak dapat dikeluarkan secara optimal.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan bersihan jalan napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Batuk efektif meningkat dari skala 1 (tidak mampu) menjadi skala 4 (sebagian besar mampu) pada skala Likert 1-5; (2) Produksi sputum menurun dari skala 4 (sangat banyak) menjadi skala 2 (sedikit); (3) Suara napas tambahan (ronki) menurun dari skala 4 (sangat berat) menjadi skala 2 (ringan); (4) Frekuensi napas membaik dalam rentang 16-20 x/menit; (5) Penggunaan otot bantu napas menurun dari skala 4 (sangat berat) menjadi skala 1 (tidak ada); (6) Ekspansi dada simetris meningkat dari skala 2 (sedikit) menjadi skala 4 (sebagian besar). Indikator-indikator ini dipilih berdasarkan kondisi pasien yang memiliki efusi pleura kanan dengan pergerakan dada tertinggal, ronki bilateral, dan takipnea. Keberhasilan intervensi akan diukur melalui observasi langsung, auskultasi paru, dan pemantauan tanda-tanda vital setiap shift. Target waktu 3x24 jam didasarkan pada respons awal terhadap terapi OAT dan torakosintesis yang telah dilakukan, yang diharapkan dapat mengurangi tekanan pada paru dan memfasilitasi pengeluaran sekret.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas dengan pendekatan komprehensif. Tindakan mandiri perawat meliputi: (1) Posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru dan memudahkan drainase sekret; (2) Lakukan fisioterapi dada berupa perkusi dan vibrasi pada area paru kanan (kecuali area luka torakosintesis) selama 10-15 menit setiap 4 jam untuk melonggarkan sekret; (3) Ajarkan teknik batuk efektif dengan napas dalam (incentive spirometry jika tersedia) setiap 2 jam saat pasien sadar; (4) Berikan oksigenasi sesuai advis dokter (dokumentasikan saturasi O2 target >94%) untuk mengatasi hipoksia akibat efusi; (5) Lakukan suctioning endotrakeal hanya jika terdapat sekret yang tidak dapat dikeluarkan secara mandiri dan ada indikasi obstruksi berat; (6) Monitor karakteristik sputum (warna, jumlah, konsistensi, bau) setiap 8 jam; (7) Auskultasi suara napas setiap 4 jam dan catat perubahan ronki; (8) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian bronkodilator (jika diindikasikan) dan mukolitik (misal ambroxol) untuk mengencerkan sekret; (9) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya hidrasi oral (minum air hangat 1500-2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan sekret; (10) Monitor efek samping OAT (misal hepatotoksisitas) yang dapat mempengaruhi kondisi umum dan kemampuan batuk. Semua tindakan didokumentasikan dalam catatan keperawatan setiap shift. Kolaborasi dengan tim medis juga mencakup jadwal pemberian obat anti tuberkulosis (ProTB) dan analgetik (paracetamol, pronalgess) untuk mengurangi nyeri saat batuk, sehingga pasien lebih kooperatif dalam melakukan latihan napas.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida di membran kapiler alveoli. Pada pasien ini, efusi pleura kanan yang masif (1000 cc cairan serous) secara mekanik menekan parenkim paru kanan, menyebabkan atelektasis kompresi dan penurunan luas permukaan alveoli yang tersedia untuk pertukaran gas. Hal ini dibuktikan dengan temuan fisik: pergerakan dada kanan tertinggal, fremitus taktil melemah, perkusi redup, dan suara napas vesikuler melemah pada ICS VII-X paru kanan. Akibatnya, ventilasi-perfusi (V/Q) mismatch terjadi, di mana area paru yang masih berventilasi (paru kiri) menerima perfusi yang tidak proporsional, namun secara keseluruhan kapasitas difusi oksigen menurun. Pasien menunjukkan takipnea (24 x/menit) sebagai upaya kompensasi untuk mempertahankan oksigenasi, namun hal ini justru meningkatkan kerja napas dan konsumsi oksigen. Demam (38,2°C) meningkatkan metabolisme basal dan kebutuhan oksigen jaringan, yang semakin memperberat ketidakseimbangan suplai-permintaan oksigen. Nadi takikardi (110 x/menit) merupakan respons kompensasi kardiovaskular untuk meningkatkan cardiac output dan mengantarkan oksigen ke jaringan. Meskipun rontgen thoraks menunjukkan efusi pleura dextra, tidak disebutkan adanya infiltrat atau kavitas yang jelas, namun kemungkinan proses spesifik (tuberkulosis) dapat menyebabkan kerusakan parenkim paru lebih lanjut, mengganggu membran alveoli-kapiler. Penurunan berat badan dan keringat malam menandakan kondisi hipermetabolik yang meningkatkan produksi CO2, sehingga beban eliminasi karbon dioksida juga meningkat. Dengan demikian, diagnosis ini sangat krusial untuk memantau status oksigenasi dan mencegah komplikasi seperti gagal napas.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan pertukaran gas membaik dengan kriteria hasil: (1) Saturasi oksigen (SpO2) meningkat dari <90% (hipoksemia) menjadi >94% pada oksigenasi ruangan atau sesuai target; (2) Tekanan parsial oksigen arteri (PaO2) dalam batas normal (80-100 mmHg) jika dilakukan analisis gas darah; (3) Tekanan parsial karbon dioksida arteri (PaCO2) dalam batas normal (35-45 mmHg) untuk menilai eliminasi CO2; (4) Frekuensi napas membaik dalam rentang 16-20 x/menit; (5) Tidak ada sianosis atau pucat pada membran mukosa dan kuku; (6) Tingkat kesadaran membaik (GCS 15) tanpa gelisah atau somnolen yang menandakan hipoksia serebral; (7) Ekspansi dada simetris meningkat; (8) Suara napas tambahan (ronki) menurun. Target waktu 3x24 jam dipilih karena setelah torakosintesis dan pemberian OAT, diharapkan terjadi re-ekspansi paru kanan secara bertahap. Pemantauan dilakukan setiap 4 jam untuk tanda-tanda vital dan SpO2, serta evaluasi gas darah jika kondisi memburuk.
Kode SIKI: I.01003
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan adalah Manajemen Oksigenasi dengan pendekatan multidisiplin. Tindakan mandiri perawat meliputi: (1) Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan: mulai dengan nasal kanul 2-4 L/menit, titrasi untuk mencapai SpO2 target >94%, dan dokumentasikan respons setiap jam; (2) Posisikan pasien semi-Fowler atau high Fowler (45-90 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan tekanan intraabdomen pada diafragma; (3) Anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam dan lambat (pursed-lip breathing) setiap 2 jam untuk meningkatkan ventilasi alveolar dan mengurangi sesak; (4) Monitor saturasi oksigen secara kontinu menggunakan pulse oximetry, dan catat setiap perubahan signifikan; (5) Auskultasi suara napas setiap 4 jam untuk mendeteksi perbaikan atau perburukan (misal munculnya suara napas bronkial yang menandakan konsolidasi); (6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan analisis gas darah (AGD) setiap 24 jam atau sesuai indikasi
25730 |
2026-05-19 |
09:40:27
ICD |
Pasien laki-laki usia 57 tahun datang ke RSUD Dumai dengan keluhan utama sesak napas sejak ±1 minggu sebelum masuk rumah sakit yang dirasakan terus-menerus. Pasien juga mengeluhkan nyeri dada bagian bawah yang bertambah saat batuk, batuk kering sejak ±2 minggu tanpa darah, berkeringat pada malam hari, serta penurunan berat badan sekitar 2 kg dalam 1 minggu terakhir. Selain itu, pasien mengalami demam, namun tidak disertai mual dan muntah. Riwayat penyakit sebelumnya tidak ditemukan keluhan serupa, dan riwayat penyakit keluarga juga tidak ada yang mengalami kondisi yang sama.
Saat ini, hasil pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda vital berupa tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 110 x/menit, frekuensi napas 24 x/menit, dan suhu 38,2°C. Pemeriksaan thoraks menunjukkan pergerakan dada kanan tertinggal saat bernapas, fremitus taktil paru kanan melemah pada ICS VII–X, perkusi redup pada area yang sama, serta suara napas vesikuler melemah pada paru kanan. Selain itu, ditemukan ronki pada kedua lapang paru.
Pemeriksaan penunjang berupa rontgen thoraks menunjukkan adanya efusi pleura dextra, yang menegakkan diagnosis efusi pleura kanan dengan kemungkinan etiologi tuberkulosis paru. Pemeriksaan laboratorium darah dilaporkan dalam batas normal. Setelah dilakukan tindakan torakosintesis, diperoleh cairan pleura serous sebanyak ±1000 cc, yang kemudian diperiksa sitologi dengan hasil menunjukkan hyperplasia reaktif sel mesotel, dengan kemungkinan proses spesifik belum dapat disingkirkan.
Dalam penatalaksanaan, pasien mendapatkan terapi farmakologis berupa infus NaCl 0,9% (IVFD), antibiotik injeksi ceftriaxone 1 x 2 gram/12 jam, drip resfar dalam NaCl 0,9% 200 cc, serta paracetamol 3 x 500 mg. Untuk keluhan nyeri ulu hati diberikan omeprazole injeksi 2 x 1, sucralfate 3 x 1 sirup, dan pronalgess. Setelah tindakan torakosintesis, pasien diberikan terapi obat anti tuberkulosis (ProTB) 4 kombinasi dosis 1 x 3 sesuai berat badan (49 kg) serta suplemen curcuma untuk meningkatkan nafsu makan. Di bagian dada pasien terlihat adanya luka yang telah dibalut pada area torakosintesis.
Kode ICD-10:
Kondisi: Efusi pleura kanan, kemungkinan etiologi tuberkulosis paru
Kode ICD-10: J90 (Efusi pleura, tidak diklasifikasikan di tempat lain) + A15.6 (Tuberkulosis paru, dikonfirmasi secara histologis atau sitologis) sebagai kode etiologi sekunder
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan seorang pasien laki-laki berusia 57 tahun dengan efusi pleura kanan yang terdiagnosis melalui rontgen thoraks dan dikonfirmasi dengan torakosintesis yang menghasilkan cairan serous sebanyak ±1000 cc. Secara klinis, pasien menunjukkan gejala klasik efusi pleura seperti sesak napas progresif, nyeri dada pleuritik (bertambah saat batuk), batuk kering, serta tanda-tanda sistemik berupa demam, keringat malam, dan penurunan berat badan. Pemeriksaan fisik mendukung dengan temuan pergerakan dada kanan tertinggal, fremitus taktil melemah, perkusi redup, dan suara napas vesikuler melemah pada area yang sesuai. Hasil sitologi cairan pleura menunjukkan hyperplasia reaktif sel mesotel dengan kemungkinan proses spesifik belum dapat disingkirkan, yang mengarah pada kemungkinan etiologi tuberkulosis paru. Penatalaksanaan diberikan kombinasi terapi suportif (infus NaCl 0,9%, paracetamol, omeprazole, sucralfate, pronalgess), antibiotik ceftriaxone, serta terapi spesifik anti tuberkulosis (ProTB 4 kombinasi dosis sesuai berat badan 49 kg) setelah torakosintesis. Kode ICD-10 yang tepat adalah J90 untuk efusi pleura sebagai diagnosis utama, dan kode A15.6 untuk tuberkulosis paru yang dikonfirmasi secara sitologis sebagai etiologi yang mendasari. Kode A15.6 digunakan karena hasil sitologi menunjukkan hyperplasia reaktif sel mesotel dengan kemungkinan proses spesifik (tuberkulosis) yang belum dapat disingkirkan, dan secara klinis pasien mendapat terapi OAT. Penting untuk dicatat bahwa kodifikasi ini bersifat saran untuk tujuan simulasi dan pelatihan, serta bukan merupakan kodifikasi resmi yang harus diverifikasi oleh profesional medis berdasarkan dokumentasi lengkap dan konfirmasi diagnostik definitif.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
25729 |
2026-05-19 |
09:38:51
SDKI |
Pasien laki-laki usia 57 tahun datang ke RSUD Dumai dengan keluhan utama sesak napas sejak ±1 minggu sebelum masuk rumah sakit yang dirasakan terus-menerus. Pasien juga mengeluhkan nyeri dada bagian bawah yang bertambah saat batuk, batuk kering sejak ±2 minggu tanpa darah, berkeringat pada malam hari, serta penurunan berat badan sekitar 2 kg dalam 1 minggu terakhir. Selain itu, pasien mengalami demam, namun tidak disertai mual dan muntah. Riwayat penyakit sebelumnya tidak ditemukan keluhan serupa, dan riwayat penyakit keluarga juga tidak ada yang mengalami kondisi yang sama.
Saat ini, hasil pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda vital berupa tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 110 x/menit, frekuensi napas 24 x/menit, dan suhu 38,2°C. Pemeriksaan thoraks menunjukkan pergerakan dada kanan tertinggal saat bernapas, fremitus taktil paru kanan melemah pada ICS VII–X, perkusi redup pada area yang sama, serta suara napas vesikuler melemah pada paru kanan. Selain itu, ditemukan ronki pada kedua lapang paru.
Pemeriksaan penunjang berupa rontgen thoraks menunjukkan adanya efusi pleura dextra, yang menegakkan diagnosis efusi pleura kanan dengan kemungkinan etiologi tuberkulosis paru. Pemeriksaan laboratorium darah dilaporkan dalam batas normal. Setelah dilakukan tindakan torakosintesis, diperoleh cairan pleura serous sebanyak ±1000 cc, yang kemudian diperiksa sitologi dengan hasil menunjukkan hyperplasia reaktif sel mesotel, dengan kemungkinan proses spesifik belum dapat disingkirkan.
Dalam penatalaksanaan, pasien mendapatkan terapi farmakologis berupa infus NaCl 0,9% (IVFD), antibiotik injeksi ceftriaxone 1 x 2 gram/12 jam, drip resfar dalam NaCl 0,9% 200 cc, serta paracetamol 3 x 500 mg. Untuk keluhan nyeri ulu hati diberikan omeprazole injeksi 2 x 1, sucralfate 3 x 1 sirup, dan pronalgess. Setelah tindakan torakosintesis, pasien diberikan terapi obat anti tuberkulosis (ProTB) 4 kombinasi dosis 1 x 3 sesuai berat badan (49 kg) serta suplemen curcuma untuk meningkatkan nafsu makan. Di bagian dada pasien terlihat adanya luka yang telah dibalut pada area torakosintesis.
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan Efusi Pleura dan Proses Infeksi Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada pasien ini, kondisi tersebut disebabkan oleh adanya efusi pleura kanan yang menekan parenkim paru dan proses infeksi tuberkulosis paru yang menyebabkan peradangan dan produksi sekret berlebih. Data subjektif menunjukkan pasien mengeluh sesak napas terus-menerus sejak 1 minggu, batuk kering, serta nyeri dada yang bertambah saat batuk. Data objektif menunjukkan frekuensi napas 24 x/menit (takipnea), pergerakan dada kanan tertinggal, fremitus taktil melemah pada ICS VII-X, perkusi redup, suara napas vesikuler melemah pada paru kanan, dan ronki pada kedua lapang paru. Rontgen thoraks mengonfirmasi adanya efusi pleura dextra. Torakosintesis mengeluarkan 1000 cc cairan serous, yang menunjukkan adanya penumpukan cairan signifikan di rongga pleura. Penumpukan ini secara mekanik membatasi ekspansi paru, mengganggu ventilasi, dan menghambat kemampuan pasien untuk membersihkan sekret dari saluran napas. Batuk kering yang dialami pasien, meskipun tidak produktif, merupakan upaya tubuh untuk membersihkan iritasi, namun menjadi tidak efektif karena adanya nyeri dan keterbatasan ekspansi dada. Demam (38,2°C) dan keringat malam menunjukkan adanya respons inflamasi sistemik akibat infeksi, yang semakin memperberat kondisi pernapasan. Dengan demikian, diagnosis Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif menjadi prioritas utama karena ancaman langsung terhadap oksigenasi dan fungsi ventilasi pasien.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan bersihan jalan napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Frekuensi napas dalam rentang normal (16-20 x/menit); (2) Irama napas teratur; (3) Tidak ada penggunaan otot bantu napas; (4) Suara napas vesikuler jelas tanpa ronki atau wheezing; (5) Mampu batuk efektif untuk mengeluarkan sekret; (6) Saturasi oksigen >95% pada udara ruangan atau sesuai target terapi oksigen; (7) Ekspansi dada simetris dan adekuat; (8) Tidak ada keluhan sesak napas saat beraktivitas ringan maupun istirahat. Kriteria ini mengacu pada luaran yang dapat diukur secara objektif. Perbaikan frekuensi napas menjadi normal menandakan penurunan usaha napas. Hilangnya ronki mengindikasikan berkurangnya sekret atau cairan di jalan napas. Kemampuan batuk efektif menunjukkan bahwa pasien dapat membersihkan sekret tanpa nyeri berlebih. Ekspansi dada yang simetris dan adekuat mencerminkan berkurangnya efusi pleura dan perbaikan ventilasi paru kanan. Saturasi oksigen yang normal adalah indikator utama kecukupan oksigenasi jaringan. Target waktu 3x24 jam dipilih karena pasien telah menjalani torakosintesis yang mengeluarkan 1000 cc cairan, sehingga diharapkan dalam 3 hari terjadi perbaikan signifikan pada mekanika pernapasan. Namun, perlu dipantau terus karena proses inflamasi tuberkulosis masih berlangsung dan membutuhkan waktu lebih lama untuk resolusi sempurna.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama yang dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas dengan pendekatan komprehensif. Observasi: (1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas setiap 2-4 jam atau sesuai kondisi; (2) Auskultasi suara napas setiap shift untuk mendeteksi adanya ronki, wheezing, atau suara napas tambahan; (3) Monitor saturasi oksigen secara kontinu menggunakan pulse oximetry; (4) Identifikasi faktor-faktor yang memperberat sesak napas (posisi, aktivitas, nyeri, kecemasan). Terapeutik: (1) Posisikan pasien semifowler (30-45 derajat) atau fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi dada dan memudahkan pernapasan; (2) Berikan oksigen sesuai advis dokter (misalnya nasal kanul 2-4 L/menit) untuk mencapai saturasi oksigen >95%; (3) Lakukan fisioterapi dada jika tidak ada kontraindikasi, meliputi perkusi dan vibrasi pada area paru yang mengalami penumpukan cairan (setelah konsultasi dokter); (4) Ajarkan dan bantu pasien melakukan teknik batuk efektif: tarik napas dalam melalui hidung, tahan 2-3 detik, lalu batuk kuat dari dada dalam 2-3 kali hembusan; (5) Lakukan suctioning jika terdapat sekret yang tidak bisa dikeluarkan secara mandiri, dengan teknik steril dan hati-hati; (6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi farmakologis: infus NaCl 0,9% untuk menjaga hidrasi dan mengencerkan sekret, antibiotik ceftriaxone untuk mengatasi infeksi bakterial sekunder, drip resfar (mukolitik/ekspektoran) untuk membantu mengencerkan dahak, paracetamol untuk mengatasi demam (38,2°C) yang dapat meningkatkan metabolisme dan konsumsi oksigen, serta obat anti tuberkulosis (ProTB 4 kombinasi) yang merupakan terapi kausal untuk mengatasi infeksi tuberkulosis sebagai etiologi utama efusi pleura. Edukasi: (1) Jelaskan tujuan dan prosedur setiap tindakan keperawatan; (2) Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda gangguan pernapasan yang perlu dilaporkan (sesak berat, sianosis, napas cuping hidung); (3) Anjurkan pasien untuk minum air hangat secara bertahap (jika tidak ada kontraindikasi) untuk membantu mengencerkan sekret; (4) Edukasi tentang pentingnya kepatuhan minum obat anti tuberkulosis secara teratur dan tuntas untuk mencegah resistensi dan kekambuhan. Kolaborasi: (1) Kolaborasi dengan dokter paru untuk evaluasi hasil rontgen dan kebutuhan torakosintesis ulang jika efusi menumpuk kembali; (2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan diet tinggi kalori dan protein guna mengatasi penurunan berat badan 2 kg dan mendukung proses penyembuhan; (3) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan pernapasan (pursed-lip breathing, diaphragmatic breathing) guna memperkuat otot pernapasan dan meningkatkan efisiensi ventilasi. Intervensi ini juga mencakup perawatan luka pada area torakosintesis: observasi tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak, nyeri, drainase purulen), ganti balutan setiap 24 jam atau jika basah/kotor dengan teknik aseptik, dan dokumentasikan karakteristik luka. Manajemen nyeri juga penting karena nyeri dada bawah yang bertambah saat batuk dapat menghambat kemampuan batuk efektif. Berikan analgesik (pronalgess) sesuai advis 30 menit sebelum melakukan latihan batuk efektif atau fisioterapi dada untuk mengurangi ketidaknyamanan.
25728 |
2026-05-19 |
09:37:04
SDKI |
keluhan utama sesak napas sejak ±1 minggu sebelum masuk rumah sakit yang dirasakan terus-menerus. Pasien juga mengeluhkan nyeri dada bagian bawah yang bertambah saat batuk, batuk kering sejak ±2 minggu tanpa darah, berkeringat pada malam hari, serta penurunan berat badan sekitar 2 kg dalam 1 minggu terakhir. hasil pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda vital berupa tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 110 x/menit, frekuensi napas 24 x/menit, dan suhu 38,2°C. Pemeriksaan thoraks menunjukkan pergerakan dada kanan tertinggal saat bernapas, fremitus taktil paru kanan melemah pada ICS VII–X, perkusi redup pada area yang sama, serta suara napas vesikuler melemah pada paru kanan. Selain itu, ditemukan ronki pada kedua lapang paru. Pemeriksaan penunjang berupa rontgen thoraks menunjukkan adanya efusi pleura dextra, yang menegakkan diagnosis efusi pleura kanan dengan kemungkinan etiologi tuberkulosis paru.
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan Efusi Pleura
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada kasus ini, kondisi pasien dengan efusi pleura kanan menyebabkan penekanan pada parenkim paru dan mengganggu mekanisme batuk efektif. Akumulasi cairan di rongga pleura membatasi ekspansi paru, sehingga pasien mengalami sesak napas terus-menerus, batuk kering yang tidak produktif, dan fremitus taktil yang melemah pada area ICS VII–X paru kanan. Ronki pada kedua lapang paru menunjukkan adanya sekret yang tidak dapat dibersihkan secara optimal. Peningkatan frekuensi napas (24 x/menit) dan takikardia (nadi 110 x/menit) merupakan kompensasi tubuh terhadap hipoksia akibat gangguan ventilasi. Penurunan berat badan 2 kg dalam seminggu, keringat malam, dan suhu 38,2°C mengindikasikan proses infeksi sistemik (tersangka tuberkulosis) yang memperberat produksi sekret dan inflamasi saluran napas.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan bersihan jalan napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Batuk efektif meningkat dengan skala 3 (sedang) dari skala 1 (cukup) pada skala Likert, (2) Produksi sputum menurun dengan skala 4 (cukup menurun) dari skala 2 (cukup meningkat), (3) Suara napas tambahan (ronki) menurun, (4) Dispnea menurun dengan skala 4 (cukup menurun), (5) Frekuensi napas membaik dalam rentang 16-20 x/menit, (6) Mampu mengeluarkan sekret secara mandiri, (7) Saturasi oksigen >95% pada udara ruangan. Indikator ini dicapai melalui latihan batuk efektif, posisi semi-Fowler, dan teknik fisioterapi dada. Peningkatan bersihan jalan napas akan menurunkan risiko atelektasis dan memperbaiki ventilasi-perfusi paru kanan yang terganggu akibat efusi pleura.
Kode SIKI: I.01006
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas (I.01006) dengan tindakan utama: (1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, dan usaha napas) setiap 4 jam; (2) Auskultasi suara napas untuk mengidentifikasi ronki atau wheezing; (3) Posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru; (4) Lakukan fisioterapi dada (perkusi dan vibrasi) pada area paru kanan yang mengalami efusi, dengan hati-hati untuk menghindari nyeri dada; (5) Ajarkan teknik batuk efektif: tarik napas dalam melalui hidung, tahan 3-5 detik, kemudian batuk kuat dari dada dalam 2 kali hembusan; (6) Berikan oksigen 2-4 liter/menit via nasal kanul jika saturasi <94%; (7) Kolaborasi pemberian bronkodilator (misal salbutamol nebulizer) dan mukolitik (ambroksol) sesuai advis dokter; (8) Monitor tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit) dan efek samping terapi TB jika sudah dimulai. Tindakan ini bertujuan mengeluarkan sekret, mengurangi obstruksi, dan meningkatkan ventilasi alveoli yang tertekan cairan pleura. Edukasi pasien tentang posisi tidur miring ke sisi yang sakit (dekubitus kanan) untuk mengurangi tekanan pada paru sehat dan memfasilitasi drainase postural.
Kondisi: Nyeri Akut berhubungan dengan Inflamasi Pleura (Pleuritis)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat. Pasien mengeluhkan nyeri dada bagian bawah yang bertambah saat batuk. Hal ini terjadi karena peradangan pada pleura parietalis (pleuritis) akibat efusi pleura yang terinfeksi (tersangka TB). Saat batuk, gerakan paru dan gesekan antara pleura visceralis dan parietalis yang meradang merangsang ujung saraf nyeri di pleura. Pemeriksaan fisik menunjukkan pergerakan dada kanan tertinggal dan perkusi redup, yang mengindikasikan adanya cairan yang menekan pleura. Nyeri ini bersifat tajam dan terlokalisasi, diperberat oleh napas dalam, batuk, atau bersin. Skala nyeri diperkirakan 6-7/10 (sedang-berat) karena pasien melaporkan peningkatan saat batuk. Takikardia (110 x/menit) dan takipnea (24 x/menit) juga merupakan respons fisiologis terhadap nyeri akut. Jika tidak ditangani, nyeri dapat menghambat ekspansi paru dan memperburuk sesak napas.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam, diharapkan tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil: (1) Keluhan nyeri menurun dengan skala 3 (cukup menurun) dari skala 1 (cukup meningkat), (2) Meringis menurun, (3) Sikap protektif (menahan area nyeri) menurun, (4) Frekuensi nadi membaik (60-100 x/menit), (5) Pola napas membaik (16-20 x/menit). Indikator ini diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dengan target skala nyeri ≤3. Penurunan nyeri akan memungkinkan pasien untuk bernapas lebih dalam, batuk efektif, dan berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari tanpa rasa takut akan nyeri. Manajemen nyeri yang adekuat juga mencegah komplikasi seperti atelektasis akibat hipoventilasi.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah Manajemen Nyeri (I.08238) dengan tindakan utama: (1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, dan skala nyeri menggunakan NRS setiap 4 jam; (2) Identifikasi faktor yang memperberat (batuk, napas dalam) dan memperingan (posisi tidur); (3) Berikan teknik nonfarmakologis: a) Ajarkan teknik relaksasi napas dalam (slow deep breathing) dengan frekuensi 6-8 napas per menit untuk menurunkan ketegangan otot interkostal; b) Kompres hangat pada area dada kanan selama 15-20 menit untuk mengurangi spasme otot; c) Posisikan pasien semi-Fowler atau duduk bersandar dengan bantal untuk mengurangi tekanan pada pleura; (4) Kolaborasi pemberian analgesik: Parasetamol 500-1000 mg setiap 6 jam per oral atau jika nyeri hebat, NSAID (Ibuprofen 400 mg) sesuai advis dokter, dengan monitor efek samping (iritasi lambung, perdarahan); (5) Ajarkan teknik distraksi (mendengarkan musik, menonton TV) saat nyeri muncul; (6) Evaluasi efektivitas intervensi 30 menit setelah pemberian analgesik. Tindakan ini bertujuan memblok transmisi nyeri dan meningkatkan ambang nyeri pasien sehingga ia dapat menjalani terapi TB dengan nyaman.
Kondisi: Hipertermia berhubungan dengan Proses Infeksi (Tuberkulosis Paru)
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal (>37,5°C) akibat mekanisme pengaturan panas di hipotalamus yang terganggu. Pasien memiliki suhu 38,2°C, yang merupakan respons sistemik terhadap infeksi Mycobacterium tuberculosis. Kuman TB merangsang pelepasan pirogen endogen (sitokin seperti IL-1, TNF-α, dan prostaglandin) dari makrofag yang teraktivasi, yang kemudian mengatur ulang set point suhu di hipotalamus. Selain demam, pasien juga mengalami keringat malam (night sweats) yang khas pada TB, terjadi karena fluktuasi suhu tubuh saat tidur. Takikardia (110 x/menit) dan takipnea (24 x/menit) merupakan kompensasi metabolik akibat peningkatan suhu (setiap kenaikan 1°C meningkatkan denyut nadi sekitar 10-15 x/menit). Penurunan berat badan 2 kg dalam seminggu menunjukkan katabolisme jaringan yang dipercepat oleh infeksi kronis. Hipertermia yang tidak tertangani dapat menyebabkan dehidrasi, kejang demam, atau kerusakan organ akibat suhu ekstrem.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan termoregulasi membaik dengan kriteria hasil: (1) Suhu tubuh membaik dalam rentang 36,5-37,5°C, (2) Suhu kulit membaik (tidak teraba hangat), (3) Frekuensi nadi membaik (60-100 x/menit), (4) Frekuensi napas membaik (16-20 x/menit), (5) Tidak menggigil, (6) Produksi keringat menurun. Indikator ini dicapai melalui manajemen hipertermia yang meliputi pendinginan eksternal dan hidrasi yang adek
25727 |
2026-05-19 |
08:43:16
SDKI |
pasien ckd
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Chronic Kidney Disease (CKD) / Gagal Ginjal Kronis
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi cairan (penurunan laju filtrasi glomerulus) ditandai dengan edema, peningkatan berat badan dalam waktu singkat, distensi vena jugularis, dan tekanan darah tinggi.
Kode SLKI: L.03023
Deskripsi: Keseimbangan Cairan adalah kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan asupan dan haluaran cairan dalam rentang normal. Pada pasien CKD, keseimbangan cairan menjadi kritis karena ginjal tidak mampu mengekskresikan kelebihan cairan dan elektrolit secara adekuat. Tujuan intervensi keperawatan adalah untuk mencapai status keseimbangan cairan yang optimal dengan kriteria hasil: (1) Berat badan stabil dalam rentang ideal harian, (2) Tidak ada edema perifer atau edema paru, (3) Tekanan darah dalam batas normal (sistolik 100-130 mmHg, diastolik 60-80 mmHg), (4) Asupan dan haluaran cairan seimbang (balance positif tidak lebih dari 500-1000 ml/hari tergantung status dialisis), (5) Nilai natrium serum dalam rentang normal (135-145 mEq/L), (6) Bunyi napas vesikuler tanpa ronki, (7) Turgor kulit elastis, (8) Tidak ada distensi vena jugularis, (9) Mata dan membran mukosa lembab tanpa edema periorbital, (10) Nilai BUN dan kreatinin serum menunjukkan perbaikan atau stabil. Indikator-indikator ini dievaluasi setiap hari untuk memantau respons terhadap terapi cairan dan intervensi keperawatan. Pada pasien CKD stadium 5 yang menjalani hemodialisis, target keseimbangan cairan lebih ketat dengan batas kenaikan berat badan interdialisis tidak boleh melebihi 2-3% dari berat badan kering. Ketidakmampuan mencapai keseimbangan cairan dapat menyebabkan komplikasi serius seperti edema paru, gagal jantung kongestif, hipertensi maligna, dan asidosis metabolik.
Kode SIKI: I.03114
Deskripsi: Manajemen Cairan adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mempertahankan keseimbangan cairan tubuh dan mencegah komplikasi akibat kelebihan atau kekurangan cairan pada pasien CKD. Intervensi ini dimulai dengan pengkajian komprehensif meliputi: (1) Monitor tanda-tanda vital setiap 4-8 jam terutama tekanan darah dan denyut nadi, (2) Timbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama menggunakan timbangan yang sama dengan pakaian minimal, (3) Catat intake dan output cairan secara akurat setiap 24 jam termasuk cairan oral, infus, obat-obatan, dan produksi urin, (4) Kaji edema perifer menggunakan skala edema (1+ hingga 4+), (5) Auskultasi bunyi napas untuk mendeteksi ronki atau krekels, (6) Monitor nilai laboratorium meliputi BUN, kreatinin, natrium, kalium, kalsium, fosfor, dan albumin, (7) Kaji turgor kulit, membran mukosa, dan mata untuk tanda dehidrasi atau overhidrasi. Intervensi mandiri perawat meliputi: (1) Berikan edukasi tentang pembatasan cairan harian sesuai anjuran (biasanya 500-1000 ml/hari ditambah volume urin 24 jam), (2) Ajarkan pasien mengukur dan mencatat asupan cairan sendiri, (3) Anjurkan pasien untuk menghindari makanan tinggi natrium seperti makanan olahan, fast food, dan makanan kaleng karena natrium meningkatkan rasa haus, (4) Berikan alternatif pelepas haus seperti permen asam, es batu, atau mengunyah permen karet bebas gula, (5) Atur posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memfasilitasi ekspansi paru dan mengurangi sesak napas, (6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian diuretik (misalnya furosemide) jika masih ada fungsi ginjal residual, (7) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet rendah natrium, rendah kalium, dan rendah fosfor sesuai stadium CKD, (8) Pada pasien hemodialisis, koordinasikan jadwal dialisis dan target ultrafiltrasi, (9) Berikan terapi oksigen jika terdapat hipoksemia akibat edema paru, (10) Dokumentasikan semua intervensi dan respons pasien secara sistematis. Evaluasi dilakukan setiap shift untuk menilai efektivitas intervensi dan menyesuaikan rencana keperawatan sesuai perubahan kondisi pasien. Perawat juga harus waspada terhadap tanda-tanda awal kelebihan cairan seperti peningkatan tekanan darah, peningkatan berat badan >1 kg/hari, edema perifer yang memburuk, dan sesak napas saat istirahat atau aktivitas ringan.
25726 |
2026-05-19 |
00:11:08
SDKI |
Tn B tinggal di pedesaan dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah yang bergantung pada
hasil pertanian. Pak Budi bekerja sebagai petani yang sehari-hari menggunakan pestisida untuk
merawat tanaman di sawah. Ia tinggal bersama istri dan anak mereka. Dalam kehidupan sehari-
hari, keluarga ini belum menerapkan perilaku kesehatan yang aman terkait penggunaan
pestisida. Suatu siang, setelah menyemprot pestisida selama ±3 jam, Pak Budi pulang dalam
kondisi lelah dan masih mengenakan pakaian kerja yang terpapar pestisida. Ia tidak segera
mandi dan mulai mengeluhkan pusing, mual, mata perih, serta lemas. Ia juga tidak makan saat
bekerja dan hanya merokok di sawah. Gejala tersebut merupakan tanda awal keracunan
pestisida akibat paparan bahan kimia. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa Pak Budi tidak
menggunakan alat pelindung diri (APD), terpapar dalam waktu lama, serta tidak menjaga
kebersihan diri setelah bekerja. Selain itu, istrinya menyimpan pestisida di dapur yang berisiko
mencemari makanan. Kondisi ini meningkatkan risiko paparan tidak langsung pada anggota
keluarga. Keluarga belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai penggunaan pestisida
yang aman, sehingga kebiasaan berisiko tersebut dianggap sebagai hal biasa. Kurangnya
edukasi kesehatan berpengaruh terhadap perilaku tidak aman dalam penggunaan pestisida.
Kondisi ini menunjukkan adanya masalah kesehatan keluarga yang berisiko dan memerlukan
asuhan keperawatan untuk meningkatkan pengetahuan serta mencegah paparan pestisida di
lingkungan rumah.
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Keracunan Pestisida pada Petani (Tn. B)
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Keracunan adalah kondisi dimana seseorang mengalami pajanan atau absorbsi zat beracun (pestisida) yang masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan, pencernaan, atau kulit, yang menimbulkan gejala dan tanda klinis seperti pusing, mual, muntah, mata perih, dan kelemahan fisik. Pada kasus Tn. B, keracunan terjadi akibat paparan pestisida organofosfat atau karbamat yang diserap melalui kulit dan inhalasi selama penyemprotan tanpa APD, diperparah dengan tidak segera membersihkan diri setelah bekerja, serta kebiasaan merokok yang meningkatkan risiko masuknya racun ke saluran cerna.
Kode SLKI: L.06014
Deskripsi : Tingkat Keracunan menurun adalah luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan, dengan kriteria hasil: (1) Keluhan pusing, mual, mata perih, dan lemas berkurang atau hilang dalam 1x24 jam; (2) Kesadaran meningkat (Compos Mentis); (3) Fungsi gastrointestinal normal (tidak mual/muntah); (4) Status pernapasan adekuat (frekuensi napas 16-20x/menit, tidak sesak); (5) Kadar kolinesterase darah meningkat mendekati normal (jika tersedia pemeriksaan); (6) Tidak ada tanda dehidrasi atau syok; (7) Perilaku hidup bersih dan sehat mulai diterapkan, seperti mandi dan mengganti pakaian segera setelah kontak dengan pestisida.
Kode SIKI: I.03114
Deskripsi : Manajemen Keracunan adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan mengidentifikasi agen penyebab, mengurangi absorbsi toksin, mempercepat eliminasi racun, serta memberikan terapi suportif dan edukasi. Intervensi utama meliputi: (1) Hentikan paparan dengan melepas pakaian terkontaminasi dan membersihkan kulit dengan air mengalir dan sabun; (2) Pemantauan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, respirasi) setiap 15-30 menit; (3) Pemberian oksigen jika ada gangguan pernapasan; (4) Kolaborasi pemberian antidotum (atropin sulfat atau pralidoksim sesuai advis dokter); (5) Edukasi pada Tn. B dan keluarga tentang penggunaan APD (masker, sarung tangan, baju lengan panjang, kacamata pelindung) saat menyemprot; (6) Ajarkan teknik mencuci tangan dan mandi segera setelah bekerja serta memisahkan pakaian kerja dari pakaian bersih; (7) Anjurkan untuk tidak merokok atau makan/minum selama penyemprotan; (8) Penyimpanan pestisida di tempat khusus, terkunci, jauh dari dapur, makanan, dan jangkauan anak; (9) Konseling tentang tanda bahaya keracunan dan kapan harus segera ke fasilitas kesehatan.
MODEL AI :
AI yang di pakai untuk Halaman ini adalah https://www.anthropic.com/ - Claude 3 Haiku
Claude 3 Haiku unggul dalam tugas berbasis teks dengan akurasi dan efisiensi tinggi. Dirancang untuk keluaran yang cepat dan terfokus serta berkinerja baik dalam lingkungan yang mengutamakan kecepatan.
Claude 3 Sonnet menyeimbangkan kinerja dan kompleksitas, sehingga cocok untuk berbagai aplikasi. Meningkatkan daya ingat dan penalaran, serta mampu memahami dan menghasilkan teks yang lebih kompleks.
Claude 3 Opus menonjol karena hasil mutakhirnya pada evaluasi pembandingan seperti GPQA, MMLU, dan MMMU. Ia dibuat untuk pertanyaan dan tugas kognitif yang lebih menantang, menunjukkan peningkatan dua kali lipat dalam berbagai skenario yang menantang.
Apabila memerlukan Fitur yang lebih canggih maka dapat memesan fitur Model Sonnet, atau yang legih bagus Opus; untuk implementasi di Klinik, atau RS masing-masing hubungi kami di jokoblitar@gmail.com