{"id":518,"date":"2020-05-11T15:06:43","date_gmt":"2020-05-11T15:06:43","guid":{"rendered":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/?p=518"},"modified":"2020-05-11T15:42:19","modified_gmt":"2020-05-11T15:42:19","slug":"smp-7-agama-katolik-bab-6-nilai-nilai-dasar-yang-diperjuangkan-yesus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/smp-7-agama-katolik-bab-6-nilai-nilai-dasar-yang-diperjuangkan-yesus\/","title":{"rendered":"SMP 7 &#8211; Agama Katolik &#8211; Bab 6 &#8211;  Nilai-Nilai Dasar yang Diperjuangkan Yesus"},"content":{"rendered":"<p>SMP 7 &#8211; Agama Katolik &#8211; Bab 6 &#8211; Nilai-Nilai Dasar yang Diperjuangkan Yesus.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Misi utama Yesus Kristus diutus Allah ke dunia adalah mewartakan dan<br \/>\nmewujudkan Kerajaan Allah, yakni mewujudkan tatanan masyarakat di mana Allah<br \/>\nmerajai hidup manusia dan menaati-Nya, sehingga tercipta keadilan, perdamaian,<br \/>\nkesederajatan antar manusia, pengampunan, kebahagiaan, kasih, dan sebagainya.<br \/>\nMisi itu dilakukan oleh Yesus tidak hanya melalui kata-kata dan pengajaran,<br \/>\nmelainkan melalui tindakan nyata. Itu semua dilakukan bukan tanpa tantangan<br \/>\ndan rintangan, baik dari pribadi orang-orang yang mendengarkan dan melihat<br \/>\npengajaran dan tindakan Yesus, tetapi juga dari pejabat agama dan penguasa<br \/>\npemerintahan.<br \/>\nDalam Bab ini, kamu akan diajak untuk mendalami beberapa nilai dasar yang<br \/>\ndiperjuangkan. Beberapa nilai itu adalah tentang mengasihi, kebahagiaan, dan<br \/>\nkebebasan sebagai anak-anak Allah. Kamu diharapkan mampu meneladani dan<br \/>\nmenerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika kamu dapat menerapkannya<br \/>\ndalam masyarakat, maka kehidupan masyarakat akan lebih baik.<br \/>\nDalam Bab ini akan dibahas mengenai:<br \/>\nA. Kebebasan Anak-anak Allah.<br \/>\nB. Sabda Bahagia.<br \/>\nC. Kasih yang tidak Membedakan.<br \/>\nD. Membangun Diri Seturut Teladan Yesus.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>A. Kebebasan Anak-Anak Allah.<\/p>\n<p>Pada hakikatnya kebebasan sudah melekat pada diri manusia sejak<br \/>\nmanusia ada. Karena melekat itulah maka kebebasan sering dipandang dan<br \/>\ndiletakkan sebagai hak asasi. Kebebasan itu pula yang memberi kekhasan<br \/>\npada manusia sebagai citra Allah yang lebih luhur martabatnya dibandingkan<br \/>\nciptaan Tuhan lainnya. Namun sayang, kebebasan yang telah diberikan Allah<br \/>\nitu dalam kenyataannya seringkali dipahami dan dipraktekkan secara salah dan<br \/>\nkurang bertanggung jawab. Sebagian remaja menafsirkan kebebasan sebagai<br \/>\ntindakan sebebas-bebasnya tanpa terikat pada aturan-aturan atau norma yang<br \/>\nberasal dari negara, agama, kebudayaan atau masyarakat. Aturan yang semula<br \/>\nmerupakan rambu-rambu untuk sarana agar kebebasan dapat dilaksanakan<br \/>\nsecara bertanggung jawab, dipandang sebagai penghambat. Kebebasan<br \/>\nsemacam itu dapat merusak ketenteraman dan kedamaian bagi manusia dan<br \/>\ndapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.<br \/>\nPada pelajaran kali ini, kalian akan mendalami makna kebebasan manusia,<br \/>\nkhususnya kebebasan sebagai anak-anak Allah.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Doa<br \/>\nYesus yang Mahabaik,<br \/>\nDengan sengsara dan wafat-Mu, Engkau telah membebaskan kami.<br \/>\nEngkau telah menjadikan kami anak-anak-Mu yang merdeka.<br \/>\nKini berilah kami rahmat-Mu,<br \/>\nagar dengan kemerdekaan kami,<br \/>\nkami mampu untuk memahami kehendak-Mu,<br \/>\nmelalui sabda-Mu yang kami dalami bersama pada hari ini.<br \/>\nKami berserah kepada-Mu ya Yesus,<br \/>\nKini dan sepanjang masa.<br \/>\nAmin.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>1. Pengalaman Kebebasan dalam Hidup Sehari &#8211; hari<br \/>\nKalian mungkin pernah merasakan bagaimana rasanya hidup dalam kebebasan,<br \/>\ntetapi kadang-kadang juga merasakan hidup dalam keadaan tidak bebas.<br \/>\nIngat kembali pengalaman saat kamu pernah merasa bebas dan pengalaman<br \/>\nsaat kamu merasa tidak bebas, kemudian tuliskan pengalaman tersebut secara<br \/>\nsingkat seperti dalam kolom berikut ini pada buku catatanmu.<br \/>\nPengalaman merasa bebas , Pengalaman merasa tidak bebas.<\/p>\n<p>a. Setelah kalian mengisi kolom pengalaman merasa bebas dan pengalaman<br \/>\nmerasa tidak bebas, komunikasikan pengalamanmu tersebut kepada temantemanmu.<br \/>\nb. Kemudian buatlah daftar pertanyaan terhadap hal-hal yang belum kamu<br \/>\npahami tentang kebebasan.<br \/>\nc. Bahaslah pertanyaan-pertanyaan tersebut bersama dengan teman-teman dan<br \/>\nguru.<br \/>\n2. Pandangan Gereja tentang Makna Kebebasan<br \/>\nBaca dan pahami kutipan dokumen Gaudium et Spes art 17 dan kutipan Kitab Suci<br \/>\nberikut!<\/p>\n<p>Keluhuran kebebasan (Gaudium et Spes art. 17)<br \/>\nAdapun manusia hanya dapat berpaling kepada kebaikan bila ia bebas. Kebebasan<br \/>\nitu oleh orang-orang zaman sekarang sangat dihargai serta dicari penuh semangat, dan<br \/>\nmemang tepatlah begitu. Tetapi sering pula orang-orang mendukung kebebasan dengan<br \/>\ncara yang salah, dan mengartikannya sebagai kesewenang-wenangan untuk berbuat<br \/>\napa pun sesuka hatinya, juga kejahatan. Sedangkan kebebasan yang sejati merupakan<br \/>\ntanda yang mulia gambar Allah dalam diri manusia.<br \/>\nSebab Allah bermaksud menyerahkan manusia kepada keputusannya sendiri,<br \/>\nsupaya ia dengan sukarela mencari Penciptanya, dan dengan mengabdi kepada-<br \/>\nNya secara bebas mencapai kesempurnaan sepenuhnya yang membahagiakan.<\/p>\n<p>Maka martabat manusia menuntut, supaya ia bertindak menurut pilihannya yang sadar<br \/>\ndan bebas, artinya: digerakkan dan didorong secara pribadi dari dalam, dan bukan karena<br \/>\nrangsangan hati yang buta, atau semata-mata paksaan dari luar. Adapun manusia<br \/>\nmencapai martabat itu, bila ia membebaskan diri dari segala penawanan nafsu-nafsu,<br \/>\nmengejar tujuannya dengan secara bebas memilih apa yang baik, serta dengan tepatguna<br \/>\ndan jerih-payah yang tekun mengusahakan sarana-sarananya yang memadai.<br \/>\nKebebasan manusia terluka oleh dosa; maka hanya berkat bantuan rahmat Allah mampu<br \/>\nmewujudkan secara konkret nyata arah-gerak hatinya kepada Allah. Adapun setiap orang<br \/>\nharus mempertanggungjawabkan perihidupnya sendiri di hadapan takhta pengadilan<br \/>\nAllah, sesuai dengan perbuatannya yang baik maupun yang jahat.<\/p>\n<p>Jawab pertanyaan berikut ini ke dalam buku catatanmu!<br \/>\na. Apa makna kebebasan menurut dokumen Gaudium et Spes tersebut?&#8230;<br \/>\nb. Apa kebebasan yang dimiliki manusia berdasar dokumen tadi?&#8230;<br \/>\nAgar dapat saling melengkapi, komunikasikan jawabanmu dengan temantemanmu!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>(Galatia 5: 1, 13-15)<br \/>\n1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita.<br \/>\nKarena itu, berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. 13<br \/>\nSaudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah<br \/>\nkamu menggunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam<br \/>\ndosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. 14 Sebab seluruh hukum<br \/>\nTaurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: \u201cKasihilah sesama manusia seperti dirimu<br \/>\nsendiri!\u201d 15 Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya<br \/>\njangan kamu saling membinasakan. Hidup menurut daging atau Roh.<br \/>\nCobalah mendalami isi Kitab Suci tadi dengan menjawab pertanyaan berikut ini<br \/>\ndengan berdiskusi dalam kelompok kecil!<br \/>\na. Kapan dan dalam peristiwa apa kita sudah dimerdekakan oleh Kristus?<\/p>\n<p>b. Berdasarkan bacaan tadi untuk apa kebebasan yang kita miliki itu?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Setelah diskusi selesai, masing-masing kelompok dapat mempresentasikan<br \/>\nhasilnya, dan kelompok lain dapat memberi tanggapan berupa pertanyaan atau<br \/>\nkomentar.<br \/>\nUntuk Dipahami<br \/>\n\u2022 Kebebasan dapat dimengerti dalam dua segi yaitu bebas dari dan bebas untuk<br \/>\n\u2022 Fungsi kebebasan adalah bahwa berkat kebebasan yang dimilikinya, manusia<br \/>\ntampil sebagai ciptaan Allah yang bermartabat luhur. Berkat kebebasannya<br \/>\npula manusia dapat mengembangkan dirinya menuju kesempurnaan berkat<br \/>\npilihan-pilihan yang dimilikinya.<br \/>\n\u2022 Bagaimanapun juga, kebebasan yang kita miliki tidak pernah bebas dalam arti<br \/>\nsebebas-bebasnya tanpa batas. Kebebasan yang kita miliki selalu berhadapan<br \/>\ndengan kebebasan dari orang lain. Oleh karena itu perlu ada aturan agar<br \/>\nkebebasan tidak saling berbenturan antara satu dengan yang lain dan<br \/>\nkebebasan perlu dijalankan secara bertanggung jawab.<br \/>\n\u2022 Setiap orang Katolik percaya bahwa berkat wafat dan kebangkitan Yesus Kristus,<br \/>\nkita telah dijadikan sebagai anak-anak Allah yang merdeka. Gereja melalui<br \/>\nSakramen Baptis mengangkat kita menjadi anak-anak Allah yang merdeka,<br \/>\nbebas dari dosa dan melancarkan hubungan manusia dengan Allah, terhindar<br \/>\ndari kematian kekal dan dengan bebas pula melayani Tuhan dan sesama.<br \/>\n\u2022 Bagi orang yang telah dibebaskan oleh sengsara, wafat dan kebangkitan<br \/>\nYesus, tugas yang harus diemban selanjutnya adalah membebaskan sesama<br \/>\ndari tindakan sewenang-wenang dan dari keterikatan pada dosa yang<br \/>\nmengakibatkan maut. Oleh sebab itu, jangan menggunakan kebebasan untuk<br \/>\nhal-hal yang tidak berguna serta merusak masa depan.<\/p>\n<p>3. Refleksi<br \/>\nSejak dari manusia pertama, Adam dan Hawa, manusia mendambakan suatu<br \/>\nkebebasan. Allahpun menciptakan manusia dengan diberikan suatu kebebasan.<br \/>\nNamun demikian apakah kita sudah menggunakan kebebasan itu dengan penuh<br \/>\ntanggung jawab? Apa makna kebebasan berdasarkan pelajaran hari ini? Bagaimana<br \/>\nkalian dapat mengusahakan kebebasan yang bertanggung jawab?<br \/>\nDalam suasana hening tuliskan hasil refleksimu di buku catatan kalian!<br \/>\nDoa<br \/>\nMari kita mengakhiri kegiatan belajar dengan mengungkapkan doa bersama-sama!<br \/>\nBapa, yang Mahakasih,<br \/>\nhari ini, Engkau telah menyadarkan kami,<br \/>\nbahwa karena wafat dan kebangkitan-Mu,<br \/>\nkami telah Kau jadikan anak-anak-Mu yang memiliki kemerdekaan.<br \/>\nEngkau telah merdekakan kami dari berbagai belenggu dosa.<br \/>\nBimbinglah kami Bapa,<br \/>\nagar dapat bertindak dan berperilaku secara bertanggung jawab,<br \/>\nsebagai wujud syukur kami atas kebebasan yang telah Kau anugerahkan.<br \/>\nDemi Kristus Tuhan dan Juru Selamat kami.<br \/>\nAmin.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>B. Sabda Bahagia.<\/p>\n<p>Semua orang, baik dewasa maupun anak-anak, pasti menginginkan hidup<br \/>\nyang bahagia. Tetapi kebahagiaan sering diartikan dan diukur secara berbeda<br \/>\noleh setiap orang. Ada orang yang menganggap dirinya berbahagia bila punya<br \/>\nuang, dapat makan enak, atau punya pasangan yang baik, atau mempunyai<br \/>\nkedudukan dan pendidikan yang tinggi, kesehatan yang prima, dan penampilan<br \/>\nyang bagus dan sebagainya. Ada orang yang merasa bahagia walaupun dirinya<br \/>\nberkekurangan tetapi dapat saling mengasihi dan hidup rukun bersama keluarga<br \/>\ndan tetangga.<\/p>\n<p>Yesus mewartakan tentang makna kebahagiaan melalui khotbahnya yang<br \/>\ndisebut Delapan Sabda Bahagia. Apa makna kebahagiaan yang ada di dalam<br \/>\nkedelapan sabda bahagia itu? Bagaimana kamu dapat menghayati sabda<br \/>\nbahagia itu? Kamu akan mendapatkan jawabannya dalam pelajaran ini.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Doa<br \/>\nBapa sumber kebahagiaan setiap insan,<br \/>\nPuji dan syukur kami haturkan ke hadirat-Mu, atas berkat dan rahmat-Mu<br \/>\nkepada kami hingga saat ini.<br \/>\nMohon berkat-Mu untuk hari ini, agar kami mampu untuk mengikuti kegiatan belajar hari<br \/>\nini dengan baik, sehingga kami dapat memahami kehendak-Mu melalui sabda Bahagia yang<br \/>\ndiwartakan Yesus kepada kami.<br \/>\nEngkau kami puji ya Bapa, Kini dan sepanjang masa.<br \/>\nAmin.<\/p>\n<p><strong>1. Pandangan dan Penghayatan Kebahagiaan.<\/strong><\/p>\n<p>Paham seseorang tentang makna kebahagiaan langsung atau tidak langsung<br \/>\nakan berpengaruh pada sikap dan tindakan dalam hidup sehari-hari.<br \/>\nDiskusikan bersama teman-temanmu, apa ukuran seseorang dapat menyebut<br \/>\ndirinya berbahagia? Sikap atau tindakan apa dalam hidupnya jika ia memahami<br \/>\nkebahagiaan seperti itu ? Kemudian setelah selesai berdiskusi komunikasikanlah<br \/>\nhasilnya dengan teman-temanmu!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>2. Ajaran Yesus tentang Sabda Bahagia<\/p>\n<p>Baca kutipan Matius 5:1-12 berikut ini!<br \/>\nMatius 5: 1-12.<br \/>\n1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah<br \/>\nIa duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 2 Maka Yesus pun mulai<br \/>\nberbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: \u201c3 Berbahagialah orang yang miskin<br \/>\ndihadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.<br \/>\n4 Berbahagialah orang yang berduka cita, karena mereka akan dihibur. 5<br \/>\nBerbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memperoleh di<br \/>\nbumi, apa yang dijanjikan Allah. 6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan<br \/>\nkebenaran, karena mereka akan dipuaskan. 7 Berbahagialah orang yang murah<br \/>\nhatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. 8 Berbahagialah orang yang suci<br \/>\nhatinya, karena mereka akan melihat Allah. 9 Berbahagialah orang yang membawa<br \/>\ndamai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. 10 Berbahagialah orang yang<br \/>\ndianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.<br \/>\n11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu<br \/>\ndifitnahkan segala yang jahat. 12 Bersuka cita dan bergembiralah, karena upahmu<br \/>\nbesar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.\u201d<br \/>\nSetelah kamu membaca dan merenungkan bacaan Injil Matius 5:1-12,<br \/>\ntanyakanlah hal-hal yang belum dapat kamu pahami berkaitan dengan isi Injil<br \/>\nMatius 5:1-12 tersebut.<\/p>\n<p>Kemudian jawablah beberapa pertanyaan berikut:<br \/>\na. Apa kebahagiaan yang ingin ditawarkan Yesus menurut bacaan tersebut?<br \/>\nb. Sabda Bahagia mengandung aspek iman dan aspek sosial. Mana sajakah yang<br \/>\nmerupakan aspek iman dari sabda bahagia?<\/p>\n<p>c. Mana yang merupakan aspek sosial sabda bahagia yang ditawarkan Yesus?<\/p>\n<p>d. Apa tujuan Yesus menyampaikan Sabda Bahagia ini?<br \/>\ne. &#8220;Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang<br \/>\nempunya Kerajaan Surga&#8221;. Bagaimana pemahamanmu tentang sabda tersebut?<br \/>\nSetelah kamu selesai mengerjakan pertanyaan-pertanyaan tersebut<br \/>\nkomunikasikan jawabanmu kepada teman-temanmu, agar dapat saling melengkapi.<br \/>\nPenugasan<br \/>\nSetelah memahami tentang isi dari \u201cSabda Bahagia\u201d, cobalah kalian mencari dari<br \/>\nbuku-buku rohani\/ Katolik atau bertanya kepada bapak\/ ibu guru yang beragama<br \/>\nkatolik tentang sabda bahagia dan tuliskan hasilnya dalam kolom berikut ini.<\/p>\n<p>No. Isi Sabda Bahagia dan Artinya<br \/>\n1. (ayat 3) Orang yang miskin dihadapan Allah.<br \/>\n2. (ayat 4) Orang yang berduka cita.<br \/>\n3. (ayat 5) Orang yang lemah lembut.<br \/>\n4. (ayat 6) Orang yang lapar dan haus akan kebenaran.<br \/>\n5. (ayat 7) Orang yang murah hatinya.<br \/>\n6. (ayat 8) Orang yang suci hatinya.<br \/>\n7. (ayat 9) Orang yang membawa damai.<br \/>\n8. (ayat 10) orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Untuk Dipahami<br \/>\n\u2022 Semua orang, ingin bahagia. Namun demikian, umumnya banyak orang tidak<br \/>\ntahu secara persis kehidupan macam apa yang dapat menghantarnya kepada<br \/>\nkebahagiaan. Akibatnya tiap-tiap orang mengejar hal yang berbeda-beda<br \/>\nuntuk mencapai kebahagiaan itu.<br \/>\n\u2022 Secara umum, orang mengatakan bahwa Kebahagiaan diartikan sebagai<br \/>\npemenuhan dari semua keinginan hati kita. Jika segala keinginan kita<br \/>\nterpenuhi, maka orang menyatakan diri berbahagia. Apakah benar seperti itu?<br \/>\n\u2022 Melalui sabda bahagia ini Yesus bermaksud menyatakan tiga hal, yaitu<br \/>\n(a) Menyiapkan para murid-Nya untuk menghadapi dunia yang orientasi<br \/>\nkehidupannya sangat berlainan dengan kehendak Allah, (b) Sabda bahagia<br \/>\nmengandung nilai eskatologis (akhirat\/ akhir zaman), sebagai syarat masuk<br \/>\nsurga dan (c) Sabda bahagia merupakan hukum baru yang mengatur relasi<br \/>\nmanusia dengan Tuhan dan sesama yang didasarkan pada kasih.<br \/>\n\u2022 Sabda bahagia mengandung dua aspek yang mengatur kehidupan manusia,<br \/>\nyaitu, Aspek Iman (Matius 5: 3-6) dan Aspek Sosial (Matius 5: 7-10).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>3. Refleksi<br \/>\nTuhan menciptakan manusia sesuai dengan Citra-Nya. Tuhan menciptakan<br \/>\nmanusia, setelah semua tersedia bagi kehidupan manusia itu sendiri. Tuhan<br \/>\nmenginginkan agar manusia hidup dalam kebahagiaan. Kita pun senantiasa<br \/>\nmendambakan kebahagiaan itu. Bagaimana pemahamanmu tentang kebahagiaan?<br \/>\nApakah selama ini kalian merasakan kebahagiaan? Apa kebahagiaan yang<br \/>\nditawarkan Yesus? Apa kebiasaan yang akan kalian usahakan sebagai bentuk<br \/>\npenghayatan dan perwujudan atas pelajaran ini?<br \/>\nSetelah mengikuti proses di atas tuliskan hasil refleksi tersebut di buku catatanmu!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Doa<br \/>\nMari kita mengakhiri kegiatan belajar dengan mengungkapkan doa bersama-sama!<br \/>\nYesus yang Maha Baik, Engkaulah Tuhan kami,<br \/>\nEngkaulah sumber kebahagiaan kami.<br \/>\nKami bersyukur kepada-Mu, atas rahmat-Mu hari ini.<br \/>\nEngkau telah menyadarkan kami,<br \/>\nbahwa Engkaulah sumber kebahagiaan kami,<br \/>\nbukan barang-barang dan kesenangan duniawi.<br \/>\nKuatkan kami Tuhan, dalam menapaki kehidupan kami,<br \/>\nsehingga kami tidak mudah jatuh dalam kenikmatan duniawi sesaat,<br \/>\nyang dapat menjerumuskan kami kedalam dosa.<br \/>\nKami selalu memuji-Mu ya Yesus, kini dan sepanjang masa.<br \/>\nAmin.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>C. Kasih yang Tidak Membedakan<\/p>\n<p>Karena manusia adalah citra Allah, maka idealnya semua manusia<br \/>\ndiperlakukan sebagaimana manusia memperlakukan Allah. Dengan demikian<br \/>\ntidakan diskriminatif atas dasar apapun seharusnya tidak terjadi. Tetapi dalam<br \/>\nkenyataannya masih banyak tidakan yang diskriminatif itu. Di banyak tempat,<br \/>\nseseorang akan lebih dihargai bila ia mempunyai kedudukan atau pangkat tinggi,<br \/>\nia seorang yang kaya raya, atau karena ia berpenampilan rapi, dan sebagainya.<br \/>\nHal ini tidak sejalan dengan pandangan dan ajaran Yesus Kristus.<br \/>\nSelama hidup-Nya Yesus selalu berjuang agar setiap orang diperlakukan<br \/>\nsecara bermartabat dan dikasihi tanpa harus dilihat pangkat derajatnya atau<br \/>\nkedudukannya. Setiap orang harus dikasihi, bahkan musuh sekali pun. Cinta<br \/>\nkepada manusia harus mampu menembus berbagai macam perbedaan ras,<br \/>\nsuku, agama, jenis kelamin, sebagaimana Tuhan lakukan kepada manusia.<br \/>\nDalam pelajaran ini kamu akan memperluas wawasan dan menemukan<br \/>\nsegi kedalaman iman Kristiani tentang cinta yang selalu terarah pada orang lain,<br \/>\nyang sesuai dengan teladan Yesus, yaitu cintai tanpa membedakan.<\/p>\n<p>Doa<br \/>\nAllah, Bapa kami yang bertahta dalam kerajaan surga.<br \/>\nDalam kehidupan kami,<br \/>\nmasih sering dijumpai orang yang membeda-bedakan dalam berteman.<br \/>\nHadirlah ditengah-tengah kami ya Bapa,<br \/>\nbantulah kami memahami sabda Putera-Mu,<br \/>\nuntuk mengasihi sesama kami tanpa pilih-pilih.<br \/>\nBantulah kami untuk dapat melaksanakan sabda Putera-Mu,<br \/>\nsehingga tercipta kedamaian yang kami dambakan,<br \/>\nsesuai dengan kehendak-Mu sendiri.<br \/>\nDemi Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami.<br \/>\nAmin.<\/p>\n<p>1. Perlakuan dan Cinta Diskriminatif yang Memprihatinkan<\/p>\n<p>Masih ditemukan kebiasaan kita mengukur martabat seseorang berdasarkan<br \/>\npenampilan. Orang yang berpenampilan rapi lebih dihormati, lebih dilayani,<br \/>\ndibandingkan dengan yang berpenampilan biasa-biasa saja.<br \/>\nBerikut penuturan pengalaman Bapak Anton.<\/p>\n<p>Hanya Gara-gara Penampilan<br \/>\nSuatu hari Bapak Anton pergi ke satu kota dengan seorang Pastor hendak<br \/>\nmemberi penataran kepada guru-guru. Mereka pergi berdua menggunakan<br \/>\nsebuah mobil yang dipinjamkan salah seorang mantan murid Pastor waktu di<br \/>\nseminari. Bapak Anton duduk di depan di samping Pastor Frans yang menyetir<br \/>\nmobilnya. Tetapi guru-guru belum pernah mengenal Pak Anton maupun<br \/>\nPastor Frans.<br \/>\nSaat tiba di halaman gedung tempat penataran, guru-guru sudah<br \/>\nberkumpul menunggu. Mereka berdua turun dari mobil mendekati para<br \/>\nguru itu. Tetapi yang mengherankan, guru-guru itu hanya menyalami Bapak<br \/>\nAnton. Mereka mengira Bapak Anton itu Pastor. Mereka bahkan tak segansegan<br \/>\nmencium tangan Bapak Anton yang dikira Pastor itu, bahkan ada<br \/>\nyang meminta diberkati. Pastor Frans yang berdiri tidak jauh dari pak Anton,<br \/>\ndiabaikan oleh guru-guru karena disangka hanya sopir.<\/p>\n<p>Karena terlanjur dianggap Pastor, Bapak Anton pun makin berpurapura<br \/>\nmenjadi pastor. Ketika dari mereka bertanya: \u201cLho, pembicara satu lagi<br \/>\nPak Anton mana?\u201d Maka Pastor gadungan itu menjawab dengan santai:\u201dIa<br \/>\ntadi telpon ke saya terlambat datang. Nanti akan menyusul, dia masih dalam<br \/>\nperjalanan\u201d Beberapa guru lain sibuk membuatkan kopi dan mengajak duduk<br \/>\nuntuk bercakap-cakap dengan Pak Anton. Sementara Pastor Frans duduk<br \/>\nsendiri tidak ada yang menemani.<\/p>\n<p>Ketika pertemuan dimulai Bapak Anton meminta Pastor Frans untuk<br \/>\nmemulai acara sekaligus memperkenalkan diri. Pada saat itulah guru-guru itu<br \/>\nterkejut. Ternyata yang mereka duga sopir itu adalah Pastor Frans. Seorang<br \/>\npeserta lalu berbicara: \u201cMohon maaf, kami menyangka Pak Anton itu Pastor<br \/>\nFrans, dan Pastor itu sopir. Sekali lagi mohon maaf\u201d. Pastor Frans pun hanya<br \/>\ntersenyum. Ia tidak marah sedikitpun. Hanya saja dalam hatinya ia merasa<br \/>\nprihatin.<br \/>\nSumber: Maman.<\/p>\n<p>Kejadian di atas merupakan satu saja dari sekian banyak kasus lainnya. Sekarang<br \/>\nmasuklah dalam kelompok untuk membagikan pengalaman, entah pengalaman<br \/>\npribadi maupun pengalaman orang lain, yang mirip dengan kisah di atas.<br \/>\nCari contoh-contoh kasus yang menunjukkan perlakuan seseorang yang<br \/>\ndiskriminatif terhadap kesukuan, ras, agama, budaya, penampilan, jabatan, dan<br \/>\nsebagainya. Kamu dapat mencarinya di koran, buku-buku perpustakaan atau internet.<br \/>\nBeri komentarmu atas kasus-kasus tersebut!<\/p>\n<p>2. Yesus Mengajarkan Kasih tanpa Membedakan<br \/>\nSemasa hidup-Nya Yesus menghadapi situasi manusia yang secara sosial<br \/>\nmemprihatinkan. Dalam masyarakat Yahudi pada saat itu, ada berbagai macam<br \/>\npandangan yang mengkotak-kotakkan manusia yang satu dengan yang lain. Ada<br \/>\norang yang mengganggap dirinya suci, ada yang dianggap kelompok pendosa.<br \/>\nKelompok orang suci tidak boleh bergaul atau mendekati orang berdosa jika ia tidak<br \/>\nmau ketularan dosa. Ada kelompok orang yang menggangap dirinya paling baik dan<br \/>\nbenar di hadapan Allah, ada yang dianggap kafir dan tidak layak disebut anak Allah,<br \/>\ndan sebagainya. Yesus berjuang menghancurkan sekat-sekat itu sebagaimana tampak<br \/>\ndalam kisah Orang Samaria yang baik hati.<br \/>\nBacalah dan renungkan kutipan Injil: Lukas 10: 25-37 berikut ini:<\/p>\n<p>(Lukas 10: 25-37)<br \/>\n25Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus,<br \/>\nkatanya: \u201cGuru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?\u201d<br \/>\n26Jawab Yesus kepadanya: \u201cApa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kau<br \/>\nbaca di sana?\u201d 27Jawab orang itu: \u201cKasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap<br \/>\nhatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan<br \/>\ndengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu<br \/>\nsendiri.\u201d<br \/>\n28Kata Yesus kepadanya: \u201cJawabanmu itu benar; perbuatlah demikian, maka<br \/>\nengkau akan hidup.\u201d 29Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada<br \/>\nYesus: \u201cDan siapakah sesamaku manusia?\u201d 30Jawab Yesus: \u201cAdalah seorang yang<br \/>\nturun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang<br \/>\nbukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah<br \/>\nitu meninggalkannya setengah mati. 31Kebetulan ada seorang imam turun<br \/>\nmelalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.<br \/>\n32Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika melihat orang itu, ia<br \/>\nmelewatinya dari seberang jalan. 33Lalu datang seorang Samaria yang sedang<br \/>\ndalam perjalanan ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya<br \/>\noleh belas kasihan. 34Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia<br \/>\nmenyiramnya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke<br \/>\natas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan<br \/>\ndan merawatnya. 35Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik<br \/>\npenginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini,<br \/>\naku akan menggantinya, waktu aku kembali. 36Siapakah di antara ketiga orang<br \/>\nini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke<br \/>\ntangan penyamun itu?\u201d 37Jawab orang itu: \u201cOrang yang telah menunjukkan belas<br \/>\nkasihan kepadanya.\u201d Kata Yesus kepadanya: \u201cPergilah, dan perbuatlah demikian!\u201d<br \/>\nDiskusikan dalam kelompokmu beberapa pertanyaan berikut ini!<\/p>\n<p>a. Bagaimana situasi hidup pada zaman Yesus menurut bacaan tadi?<br \/>\nb. Apa kritik yang hendak disampaikan Yesus melalui perumpamaan tersebut?<\/p>\n<p>c. Apa yang dikehendaki Yesus berdasar kisah yang disampaikan Yesus?<br \/>\nd. Cari contoh sikap dan tindakan Yesus dalam Kitab Suci dalam upayanya<br \/>\nmengikis sikap mengasihi secara pilih-pilih!<br \/>\ne. Bagaimana mewujudkan cinta yang tanpa pilih-pilih dalam kehidupan<br \/>\nsehari-hari?<br \/>\nSetelah diskusi selesai, masing-masing kelompok dapat mempresentasikan<br \/>\nhasilnya, dan kelompok lain dapat memberi tanggapan berupa pertanyaan atau<br \/>\nkomentar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Untuk Dipahami<br \/>\n\u2022 Manusia, apapun ras, suku, agama, jenis kelaminnya memiliki martabat<br \/>\nyang sama. Oleh karena itu, sepatutnya manusia hidup secara rukun tanpa<br \/>\nmembedakan antara satu dengan yang lain. Tetapi dalam kenyataannya, ketika<br \/>\norang melamar pekerjaan ditanya dulu: apa agamanya, dari daerah mana, dan<br \/>\nsebagainya, bukan dilihat dari kemampuan atau keahliannya. Atau ketika<br \/>\nberada di tempat tertentu orang berpakaian tertentu, atau berparas etnik<br \/>\ntertentu dicurigai dan diperlakukan kurang manusiawi. Segala bentuk praktik<br \/>\nhidup yang tersekat-sekat atau terkotak-kotak hendaknya segera diakhiri.<br \/>\n\u2022 Yesus hidup dalam suasana masyarakat Yahudi, di mana pada masa itu cinta<br \/>\nyang terkotak-kotak masih berjalan dan dilaksanakan ditengah masyarakat<br \/>\nYahudi. Cinta diukur berdasarkan sekat-sekat misalnya; sedarah, seagama,<br \/>\nsegolongan, sepaham, status sosial yang tinggi, tidak mengritik pandangannya,<br \/>\ndan sebagainya.<br \/>\n\u2022 Sifat manusiawi, egoisme, mau menang sendiri, tidak mau direpotkan serta mau<br \/>\nenaknya sendiri yang dimiliki seseorang masih cenderung lebih diutamakan,<br \/>\nsehingga praktik hidup yang pilih-pilih dalam pergaulan juga masih sering<br \/>\nterjadi. Seperti halnya yang dilakukan oleh seorang imam dan seorang Lewi<br \/>\ndalam kisah yang disampaikan oleh Yesus.<br \/>\n\u2022 Yesus mengajarkan pada kita bahwa pada hakikatnya cinta (kasih) itu sendiri<br \/>\nselalu terarah pada orang lain. Kalau kita mengasihi orang lain, sesungguhnya<br \/>\nkita harus berusaha bagaimana orang yang kita kasihi itu bahagia. Tidak<br \/>\npandang bulu siapa orang itu, apa agamanya, keadaan ekonominya. Yang<br \/>\npenting kasih yang kita berikan hendaknya terarah kepada semua orang dan<br \/>\nmenjadikan orang tersebut bahagia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>3. Refleksi.<\/p>\n<p>Yesus memberikan teladan kepada kita, bahwa Ia mengasihi semua orang<br \/>\ntanpa membedakan. Kasih yang tanpa membedakan ini, memungkinkan terjadinya<br \/>\nkehidupan yang penuh dengan kedamaian. Berdasarkan pengalaman belajar kamu<br \/>\nhari ini, nilai apa yang kamu peroleh dalam pelajaran hari ini? Kebiasaan mana yang<br \/>\nmenjadikan kita mengasihi tanpa membedakan? Apa teladan yang telah Yesus<br \/>\ntunjukkan dalam hal cinta tanpa membedakan ini? Apa kebiasaan yang akan kamu<br \/>\nusahakan untuk mewujudkan kasih yang tak membedakan ini?<br \/>\nSetelah mengikuti proses di atas, tuliskan hasil refleksi tersebut di buku catatanmu!<br \/>\nDoa<br \/>\nMarilah kita mengakhiri kegiatan belajar dengan mengungkapkan doa bersama-sama!<br \/>\nAllah, Bapa kami yang Mahakasih,<br \/>\nEngkau telah mengajarkan kepada kami untuk mengasihi sesama tanpa membedakan.<br \/>\nBantulah kami ya Bapa, agak kami mampu untuk mewujudkan kasih,<br \/>\nseperti yang dikehendaki oleh Yesus Putera-Mu.<br \/>\nBantulah kami ya Bapa,<br \/>\nagar kami mampu menghilangkan keegoisan kami dan kelemahan manusiawi kami,<br \/>\nsehingga kami mampu mengasihi sesama tanpa membedakan satu dengan yang lain.<br \/>\nSemua ini kami haturkan kehadirat-Mu ya Bapa,<br \/>\ndalam nama Tuhan Yesus Kristus, Tuhan dan juru selamat kami.<br \/>\nAmin<\/p>\n<hr \/>\n<p>D. Membangun Diri Seturut Teladan Yesus<\/p>\n<p>Remaja pada umumnya memiliki tokoh yang diidolakan dalam hidup.<br \/>\nPada umumnya tokoh idola adalah orang-orang yang terkenal, rupawan, dan<br \/>\nberprestasi. Dengan memiliki tokoh idola, kita dapat menjadikan tokoh idola<br \/>\nsebagai acuan dalam kehidupan. Tokoh idola dapat menjadi semacam inspirasi,<br \/>\nmotivasi dan pendorong semangat dalam setiap segi kehidupan. Bagaimana<br \/>\ndengan Yesus? Apakah kita saat ini mengidolakan Yesus?<br \/>\nRemaja SMP merupakan remaja yang masih mencari tokoh idola. Dengan<br \/>\npelajaran kita semakin mengenal Yesus secara lebih luas dan lebih mendalam,<br \/>\nsehingga memungkinkan kita untuk menjadikan Yesus sebagai tokoh idola.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Doa<br \/>\nBapa yang Mahakasih,<br \/>\nkami bersyukur kepadaMu,<br \/>\nkarena telah mengasihi kami<br \/>\ndan memberi kesempatan kepada kami<br \/>\nuntuk mengenal Engkau dan Yesus Putera-Mu.<br \/>\nMohon terang dan bimbingan-Mu Bapa,<br \/>\nagar pada hari ini kami dapat semakin mengenal Yesus Putera-Mu.<br \/>\nDengan semakin mengenal Putera-Mu,<br \/>\nKami dapat menjadikan-Nya sebagai idola kami dalam hidup sehari-hari.<br \/>\nDemi Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami.<br \/>\nAmin.<\/p>\n<p>1. Tokoh Idola dalam Masyarakat<br \/>\nLakukan dialog dengan teman dan atau guru untuk menemukan jawaban dari<br \/>\nbeberapa pertanyaan di bawah ini !<\/p>\n<p>a. Siapakah tokoh idolamu? Mengapa memilihnya sebagai tokoh idola?<\/p>\n<p>b. Apa yang kalian kagumi dari tokoh idolamu itu?<\/p>\n<p>c. Apa yang kalian lakukan untuk meneladani tokoh idolamu?<\/p>\n<p>2. Menemukan Pribadi Yesus Sebagai Tokoh Idola<br \/>\nLakukan beberapa kegiatan berikut ini.<br \/>\na. Ambil dan bukalah Alkitab.<br \/>\nb. Temukan sikap\/ sifat\/ atau tindakan Yesus yang menurutmu luar biasa dan<br \/>\nmengagumkan.<\/p>\n<p>c. Tulis berbagai sikap\/ sifat\/ atau tindakan Yesus yang luar biasa dan<br \/>\nmengagumkan tersebut dalam lembar kertas laporan.<br \/>\nd. Diskusikan hasil temuan itu dengan teman-temanmu.<br \/>\nBentuk kelompok, dan lakukan kegiatan sebagai berikut.<br \/>\n1. Baca dengan perlahan-lahan \u201cSyahadat Kehidupan\u201d berikut ini.<br \/>\nSyahadat Kehidupan<br \/>\n\u201dAku percaya akan Allah Sang Pencinta kehidupan,<br \/>\nAllah yang senantiasa mencintai diriku<br \/>\ntanpa syarat apapun,<br \/>\nAllah yang selalu menginginkan diriku hidup<br \/>\ndengan penuh kelimpahan.<br \/>\nAku percaya akan Allah yang selalau mengampuni diriku<br \/>\nserta membukakan masa depan bagiku,<br \/>\nmasa depan yang penuh kehidupan dan harapan.<br \/>\nAku percaya akan Allah yang selalu menyertai perjalanan hidupku,<br \/>\nbersedia membantuku, menyembuhkan luka-luka dalam hidupku,<br \/>\nmenguatkan aku, menderita bersamaku, serta menjadi sahabatku yang terbaik.<br \/>\nAku percaya akan Allah yang hanya mengenal cinta dan kasih setia (compassion);<br \/>\nAllah pencinta kehidupan dan selalu mengundang aku<br \/>\nuntuk memilih kehidupan tersebut.<br \/>\nDalam iman seperti ini, aku menemukan kebahagiaan<br \/>\ndan rasa damai yang mendalam di dalam kehidupanku<br \/>\nsekarang ini, maupun harapan akan kehidupan yang akan datang\u201d<br \/>\nSumber: Membangun Komunitas Murid Yesus, untuk SMP Kelas VII, Yogyakarta: Kanisius<br \/>\n2. Buat suasana hening dalam kelompok dan secara pribadi renungkan kata<br \/>\ndemi kata \u201cSyahadat Kehidupan\u201d tersebut.<br \/>\n3. Tuliskan niatmu dalam membangun sikap-sikap yang akan diwujudkan untuk<br \/>\nmeneladan Yesus.<br \/>\n4. Sampaikan niat itu kepada temanmu dalam kelompok!<br \/>\nTugas<br \/>\n1. Bagi kelas menjadi tiga kelompok dan setiap kelompok diminta untuk mendramakan<br \/>\nsalah satu perikop Kitab Suci:<br \/>\na. Matius 18:21-35;<br \/>\nb. Lukas 15:11-32;<br \/>\nc. Matius 20:1-16.<\/p>\n<p>2. Setelah kelompok mendramakan cerita dalam Kitab Suci, salah satu anggota<br \/>\nkelompok menyampaikan makna atau pesan Kitab Suci yang didramakan<br \/>\noleh kelompok.<br \/>\nUntuk Dipahami<br \/>\n\u2022 Remaja pada umumnya memiliki tokoh yang diidolakan dalam hidupnya. Pada<br \/>\numumnya tokoh idola mereka adalah orang-orang yang terkenal, rupawan,<br \/>\ndan berprestasi.<br \/>\n\u2022 Dengan memiliki tokoh idola, dapat menjadikan tokoh idolanya sebagai acuan<br \/>\ndalam kehidupannya. Tokoh idola dapat menjadi semacam inspirasi, motiasi<br \/>\ndan pendorong semangat dalam setiap segi kehidupan para remaja.<br \/>\n\u2022 Karena kita telah mengimani bahwa Dialah Allah kita, maka seluruh pribadi<br \/>\nYesus kita yakini memberi inspirasi dalam hidup kita. Seluruh hidup kita<br \/>\nhendaknya diinspirasi, dimotivasi dan didorong oleh pribadi Yesus yang kita<br \/>\nkenal dan kita imani itu. Dengan demikian Yesuslah tokoh idola kita dalam<br \/>\nhidup.<br \/>\n\u2022 Menjadikan Yesus sebagai tokoh idola berarti berusaha untuk menyerupai<br \/>\nYesus, berusaha untuk seperti Yesus, berusaha untuk menjadi kebanggan Yesus<br \/>\ndalam setiap langkah, dan dalam setiap peri kehidupan kita. Yesus menjadi<br \/>\nnafas dalam kehidupan kita.<br \/>\n3. Refleksi<br \/>\nSebagai orang yang mengimani Yesus, bukan hal yang salah jika kita<br \/>\nmengidolakan Dia dalam hidup kita. Dia yang telah kita kenal melalui sabda dan<br \/>\nperbuatan-Nya, dapat menjadi idola bagi kita semua. Sikap Yesus yang seperti<br \/>\napakah yang ingin kalian teladani? Apa saja usahamu untuk mewujudkan itu dalam<br \/>\nhidup sehari-hari?<br \/>\nSetelah mengikuti proses di atas, tuliskan hasil refleksi tersebut dalam buku<br \/>\ncatatanmu<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Doa<br \/>\nMarilah kita mengakhiri kegiatan belajar kita dengan mengungkapkan doa<br \/>\nbersama-sama.<br \/>\nYesus yang Mahabaik,<br \/>\nEngkau adalah teladan kami dalam seluruh kehidupan ini.<br \/>\nKami bangga dan bersyukur, karena boleh percaya dan mengimani Engkau.<br \/>\nAjarlah kami ya Yesus, agar kami dapat meneladan-Mu.<br \/>\nAjarlah kami ya Yesus, agar kami mempu menjadi seperti-Mu,<br \/>\nyang senantiasa mengasihi, senantiasa memperhatikan dan juga senantiasa mengampuni.<br \/>\nPerkenankanlah kami menjadikan-Mu sosok idola bagi kami.<br \/>\nKami membuka diri, agar Engkau berkenan menjadi idola kami,<br \/>\nyang memotivasi kami, yang mewarnai hidup kami,<br \/>\nyang menginspirasi hidup kami serta mendorong kami<br \/>\nuntuk senantiasa hidup seturut kehendak-Mu.<br \/>\nEngkau kami puji dan kami sembah ya Tuhan,<br \/>\nkini dan sepanjang masa.<br \/>\nAmin.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SMP 7 &#8211; Agama Katolik &#8211; Bab 6 &#8211; Nilai-Nilai Dasar yang Diperjuangkan Yesus. &nbsp; Misi utama Yesus Kristus diutus Allah ke dunia adalah mewartakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[11,44,62],"tags":[],"class_list":["post-518","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-agama","category-katolik","category-katolik-7"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/518","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=518"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/518\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":522,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/518\/revisions\/522"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=518"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=518"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=518"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}