{"id":436,"date":"2020-04-30T16:17:19","date_gmt":"2020-04-30T16:17:19","guid":{"rendered":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/?p=436"},"modified":"2020-05-02T07:51:12","modified_gmt":"2020-05-02T07:51:12","slug":"pkn8-2-bab-4-semangat-kebangkitan-nasional-tahun-1908-bagian-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/pkn8-2-bab-4-semangat-kebangkitan-nasional-tahun-1908-bagian-1\/","title":{"rendered":"PKN8-2- Bab 4 &#8211; Semangat Kebangkitan Nasional Tahun 1908 &#8211; Bagian 1"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000;\">PKN Kelas 8 &#8211; semester 2 &#8211; Bab 4 &#8211; Semangat Kebangkitan Nasional Tahun 1908.<br \/>\nKondisi Bangsa Indonesia Sebelum Tahun 1908<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-443 size-full\" src=\"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/kebangkitan-nasional.png\" alt=\"\" width=\"375\" height=\"258\" srcset=\"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/kebangkitan-nasional.png 375w, https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/kebangkitan-nasional-300x206.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 375px) 100vw, 375px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Suatu bangsa tidak akan berubah manakala bangsa tersebut tidak mau mengubah dirinya sendiri. Bangsa Indonesia tidak mungkin menjadi bangsa yang bebas merdeka seperti yang kalian rasakan saat ini apabila tidak ada usaha untuk bangkit dan melepaskan diri dari penjajahan. Kesadaran bangsa Indonesia untuk bangkit tumbuh seiring lahirnya generasi muda terdidik dan peduli terhadap kemerdekaan Indonesia.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Penjajah Belanda dapat menguasai bangsa Indonesia dalam waktu yang lama karena bangsa Indonesia mudah dipecah belah dan perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia masih bersifat kedaerahan. Boedi Oetomo sebagai organisasi nasional pertama meletakkan semangat kebangkitan nasional bagi perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Begitu pentingnya kita memahami dan meneruskan nilai kebangkitan nasional tahun 1908, dalam bab ini kalian akan mempelajari dan membangun semangat kebangkitan nasional tahun 1908. Pada gilirannya, kalian dapat menjadi generasi penerus yang dapat menunjukkan semangat kebangkitan nasional.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>A. Kondisi Bangsa Indonesia Sebelum Tahun 1908.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Lagu : Bangun Pemudi Pemuda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Karangan \/ Ciptaan: A. Simanjuntak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Bangun pemudi pemuda Indonesia,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Tangan bajumu singsingkan untuk negara,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Masa yang akan datang kewajibanmu lah,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Menjadi tanggunganmu terhadap nusa,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Menjadi tanggunganmu terhadap nusa,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Tak usah banyak bicara trus kerja keras,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Bertingkah laku halus hai putra negri,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Bertingkah laku halus hai putra negri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Apa yang kalian rasakan dan pikirkan pada saat menyanyikan lagu nasional Bangun Pemudi Pemuda? Diskusikan dengan kelompok kalian untuk mengembang\u00ad kan sebanyak mungkin informasi yang kalian ingin ketahui dengan menuliskan pertanyaan yang berkaitan dengan Kebangkitan Nasional. Tulislah pertanyaan kalian dalam kolom di bawah ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Setelah kalian merumuskan rasa ingin tahu kalian dalam pertanyaan, cobalah bersama teman secara berkelompok mendiskusikan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut. Untuk mencari jawaban pertanyaan kalian, tentukan terlebih dahulu beberapa hal berikut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">a. Tentukan jenis data informasi apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">b. Tentukan sumber belajar yang memuat atau memiliki informasi tersebut.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">c. Sumber belajar dapat berupa buku, media cetak, orang (ahli, orang tua, saudara), internet, dan sumber belajar yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Tentukan bagaimana cara mencari jawaban dari sumber data, seperti dengan membaca buku, wawancara, membuka internet, atau yang lain. Untuk membantu kalian menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, berikut disampaikan pembahasan tentang kebangkitan nasional. Kalian juga dapat mencari informasi dari berbagai sumber belajar yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Rusaknya ekonomi Eropa akibat peperangan dan berkembangnya teknologi pelayaran pada abad ke-15 menyebabkan negara-negara di Eropa melakukan ekspedisi untuk mencari sumber-sumber ekonomi baru ke seluruh dunia. Ekspedisi ini banyak menemukan sumber ekonomi dan lahan baru untuk dilakukannya perdagangan. Ternyata kemudian, bangsa Eropa tidak hanya melakukan perdagangan<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">melainkan langsung menguasai dan menjajah negara-negara yang mereka anggap baru diketemukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Awal dimulainya penjajahan Belanda di Indonesia dimulai sejak didirikannya Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) pada tanggal 20 Maret 1602. Sejak VOC berdiri, dimulailah berbagai bentuk kekerasan yang menimpa rakyat Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Penderitaan rakyat Indonesia terjadi dalam berbagai segi kehidupan. Di berbagai daerah, VOC melakukan tindakan dengan melaksanakan politik devide et impera (adu domba), yaitu saling mengadu domba antara kerajan yang satu dan kerajaan yang lain atau mengadu domba di dalam kerajaan itu sendiri. Politik adu domba makin melemahkan kerajaan-kerajaan di Indonesia dan merusak seluruh sendi kehidupan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Bangsa Indonesia makin menderita ketika Daendels (1808\u20131811) berkuasa. Upaya kerja paksa (rodi) guna membangun jalan sepanjang pulau Jawa (Anyer-Panarukan) untuk kepentingan militer, membuat rakyat makin menderita. Penderitaan berlanjut<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">karena Belanda kemudian menerapkan Cultuurstelsel (tanam paksa). Peraturan Tanam Paksa diterapkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Den Bosch tahun 1828. Sistem Tanam Paksa mewajibkan rakyat menanami sebagian dari sawah dan atau ladangnya dengan tanaman yang ditentukan oleh pemerintah dan hasilnya diserahkan kepada pemerintah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Tanam Paksa menyebabkan rakyat diperas bukan hanya tenaga melainkan juga kekayaannya sehingga mengakibatkan banyak sekali rakyat yang jatuh miskin. Di pihak lain, penjajah mendapatkan kekayaan bangsa Indonesia yang berlimpah untuk membangun negara Belanda dan menjadi negara kaya di Eropa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Penderitaan bangsa Indonesia menumbuhkan benih perlawanan di berbagai daerah. Perjuangan melawan penjajah dipimpin ulama atau kaum bangsawan. Sultan Hasanuddin di Sulawesi Selatan, Sultan Ageng Tirtayasa di Banten, Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat, Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah, memimpin perjuangan rakyat melawan penjajah. Perjuangan rakyat untuk mengusir penjajah<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">belum berhasil. Hal ini disebabkan perjuangan masih bersifat kedaerahan dan belum terorganisasi secara modern.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Penderitaan yang dialami bangsa Indonesia menyadarkan beberapa orang Belanda yang tinggal atau pernah tinggal di Indonesia. Di antaranya Baron Van Houvell, Edward Douwes Dekker, dan Mr. Van Deventer. Edward Douwes Dekker, terkenal dengan nama samaran Multatuli, menulis buku \u201dMax Havelaar\u201d pada tahun\u00a0\u00a01860. Buku ini menggambarkan bagaimana penderitaan rakyat Lebak, Banten akibat penjajahan Belanda. Mr. Van Deventer mengusulkan agar pemerintah Belanda menerapkan politik Balas Budi \u201dEtische Politic\u201d. Politik Balas Budi terdiri dari tiga program, yaitu \u201dedukasi, transmigrasi, dan irigasi\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Atas desakan berbagai pihak, akhirnya pemerintah Belanda menerapkan Politik Balas Budi. Politik Balas Budi bukan untuk kepentingan rakyat Indonesia melainkan untuk kepentingan pemerintah Belanda. Contoh: irigasi dibangun untuk kepentingan<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">pengairan perkebunan milik Belanda; pembangunan sekolah (edukasi) bertujuan untuk menyediakan tenaga terampil dan murah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Di sisi lain, pembangunan sekolah melahirkan dampak positif bagi bangsa Indonesia, yaitu munculnya masyarakat terdidik atau mulai memiliki pemahaman dan kesadaran akan kondisi bangsa Indonesia yang sebenarnya. Bangsa Indonesia saat itu kondisinya bodoh, terbelakang, dan kemisikinan merajalela. Mereka yang mengenyam pendidikan dan sadar akan nasib bangsanya selanjutnya menjadi tokoh-tokoh Kebangkitan Nasional.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PKN Kelas 8 &#8211; semester 2 &#8211; Bab 4 &#8211; Semangat Kebangkitan Nasional Tahun 1908. Kondisi Bangsa Indonesia Sebelum Tahun 1908 Suatu bangsa tidak akan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[20,40],"tags":[],"class_list":["post-436","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pkn","category-pkn-8"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/436","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=436"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/436\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":438,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/436\/revisions\/438"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=436"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=436"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=436"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}