{"id":389,"date":"2020-04-07T13:12:05","date_gmt":"2020-04-07T13:12:05","guid":{"rendered":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/?p=389"},"modified":"2020-04-07T13:13:56","modified_gmt":"2020-04-07T13:13:56","slug":"pkn7-2-1-keberagaman-dalam-bingkai-bhinneka-tunggal-ika-bagian-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/pkn7-2-1-keberagaman-dalam-bingkai-bhinneka-tunggal-ika-bagian-3\/","title":{"rendered":"PKN7-2-1-Keberagaman dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika &#8211; Bagian 3"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000;\">PKN Kelas 7 &#8211; Semester 2 &#8211; Bab 4 -Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>C. Perilaku Toleran terhadap Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Semua manusia pada dasarnya sama. Membeda-bedakan perlakuan ter- hadap sesama manusia karena warna kulit atau bentuk fisik lainnya adalah sebuah kesalahan. Tuhan menciptakan manusia berbeda dan beragam. Perbedaan itu adalah anugerah yang harus kita syukuri. Mengapa kita harus bersyukur dengan keragaman itu? Dengan keragaman, kita menjadi bangsa yang besar dan arif dalam bertindak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Persatuan dan kesatuan di sebuah negara yang beragam dapat diciptakan dalam wujud perilaku toleran terhadap keberagaman tersebut. Sikap toleran berarti menahan diri, bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat lain, dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Toleransi \u00a0sejati \u00a0didasarkan \u00a0sikap \u00a0hormat \u00a0terhadap \u00a0martabat \u00a0manusia, \u00a0hati nurani, \u00a0dan \u00a0keyakinan, \u00a0serta \u00a0keikhlasan \u00a0sesama \u00a0apa \u00a0pun \u00a0agama, \u00a0suku, golongan, ideologi atau pandangannya. Sikap toleransi harus muncul dalam masyarakat yang beragam atau plural. Oleh karena itu, setiap individu meng- aplikasikan toleransi terhadap individu lainnya sehingga bangsa Indonesia yang \u00a0beragam \u00a0suku, \u00a0agama, \u00a0ras \u00a0dan \u00a0antargolongan \u00a0dapat \u00a0menjadi \u00a0bangsa yang satu dan utuh (Budi Juliardi, 2015:47).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Perhatikan dan bacalah penjelasan perilaku toleran terhadap kebe- ragaman agama, suku, ras, budaya, dan antargolongan di bawah ini.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"color: #000000;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Perilaku Toleran dalam Kehidupan Beragama.<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Semua orang di Indonesia tentu menyakini salah satu agama atau keper- cayaan yang ada di Indonesia. Pemerintah Indonesia mengakui enam agama yang ada di Indonesia. Agama tersebut adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Bukankah kalian sejak kecil sudah meyakini dan melaksanakan ajaran agama yang kalian anut? Tuliskan pengalaman kalian melaksanakan ajaran agama dan kumpulkan pada guru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Negara menjamin warga negaranya untuk menganut dan mengamalkan ajaran \u00a0agamanya \u00a0masing-masing. \u00a0Jaminan \u00a0negara \u00a0terhadap \u00a0warga \u00a0negara untuk memeluk dan beribadah diatur dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 29 ayat (2) yang berbunyi, \u201dNegara menjamin kemerdekaan tiap-tiap \u00a0penduduk \u00a0untuk \u00a0memeluk \u00a0agamanya \u00a0masing-masing \u00a0dan \u00a0untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Dalam kehidupan berbangsa, seperti kita ketahui keberagaman dalam agama itu benar-benar terjadi. Agama tidak mengajarkan untuk memaksakan keyakinan kita kepada orang lain. Oleh karena itu, bentuk perilaku kehidupan dalam keberagaman agama di antaranya diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Melaksanakan ajaran agama yang dianutnya dengan baik dan<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Menghormati agama yang diyakini orang<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Tidak memaksakan keyakinan agama yang dianutnya kepada orang<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Toleran terhadap pelaksanaan ibadah yang dianut pemeluk agama<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Perilaku baik dalam kehidupan keberagaman beragama tersebut harus kita laksanakan. Tidak hanya di lingkungan keluarga, namun juga di sekolah, masyarakat serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"color: #000000;\">2. Perilaku Toleran terhadap Keberagaman Suku dan Ras di Indonesia.<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Perbedaan suku dan ras antara manusia yang satu dengan\u00a0 manusia yang lain hendaknya tidak menjadi kendala dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia maupun dalam pergaulan dunia.\u00a0 Kita\u00a0 harus menghormati harkat dan martabat manusia yang lain. Marilah kita mengembangkan semangat persaudaraan dengan sesama manusia dengan menjunjung nilai- nilai kemanusiaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Perbedaan kita dengan orang lain tidak berarti bahwa orang lain lebih baik dari kita atau kita lebih baik dari orang lain. Baik dan buruknya penilaian orang lain kepada kita bukan karena warna kulit, rupa wajah dan bentuk tubuh melainkan karena baik dan buruknya dalam berperilaku. Oleh karena itu, sebaiknya kita berperilaku baik kepada semua orang tanpa memandang berbagai perbedaan tersebut.<\/span><\/p>\n<h4><\/h4>\n<h4><span style=\"color: #000000;\">3. Perilaku Toleran terhadap Keberagaman Sosial Budaya<\/span><\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Kehidupan sosial dan keberagaman kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia tentu menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Kita tentu harus ber- semangat untuk memelihara dan menjaga kebudayaan bangsa Indonesia. Siapa lagi yang akan mempertahankan budaya bangsa jika bukan kita sendiri. Ceritakan pengalaman kehidupan toleran kalian di depan kelas dan mintalah tanggapan dari teman lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>\u00a0Gambar : <\/strong>Tari Pendet dari daerah Bali (a), Tari Piring dari daerah Sumatra Barat (b), Tari Kuda Lumping dari daerah Jawa Timur (c), dan Tari Jaipong dari daerah Jawa Barat (d).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Bagi seorang pelajar, perilaku dan semangat kebangsaan dalam memper- tahankan keberagaman budaya bangsa dapat dilaksanakan dengan :<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">a. mengetahui keanekaragaman budaya yang dimiliki bangsa Indonesia;<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">b. mempelajari dan menguasai salah satu seni budaya sesuai dengan minat dan kesenangannya;<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">c. merasa bangga terhadap budaya bangsa sendiri; dan<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">d. menyaring budaya asing yang masuk ke dalam bangsa Indonesia.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Refleksi :<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Setelah mempelajari keberagaman suku, ras dan antargolongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, apa pengetahuan yang kalian diperoleh, apa manfaat pembelajaran ini, apa sikap yang patut diteladani, dan apa perilaku tindak lanjut yang akan lakukan? Ungkapkan atau tuliskan pendapat kalian dalam selembar kertas. Kumpulkan pada guru kalian tepat pada waktunya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">RANGKUMAN.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">1. Kata Kunci :<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Kata kunci yang harus kalian pahami dalam mempelajari materi pada bab ini, yaitu : Keberagaman, Suku Bangsa, Budaya, Ras, Agama, Antargolongan, dan Bhinneka Tunggal Ika.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">2. Intisari Materi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">a. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk, yaitu masyarakat yang memiliki berbagai keberagaman. Faktor penyebab keberagaman tersebut antara lain :<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">(1) Letak strategis wilayah Indonesia,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">(2) Kondisi negara kepulauan,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">(3) Perbedaan kondisi alam,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">(4) Keadaan transportasi dan komunikasi,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">(5) Penerimaan masyarakat terhadap perubahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">b. Keberagaman masyarakat Indonesia antara lain keberagaman suku bangsa, budaya, ras, agama, kepercayaan, dan antargolongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">c. Arti penting keberagaman masyarakat Indonesia memiliki makna :<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">(1) keberagaman merupakan kekayaan budaya bangsa yang berman- faat baik secara ekonomi, pengembangan pengetahuan, dan ilmu pengetahuaan, serta kreativitas dan inovasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">(2) Keberagaman juga memiliki potensi negatif apalagi tidak dilandasi kesadaran akan keberagaman serta semangat persatuan dan kesatuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">d. Sikap dan perilaku toleransi terhadap keberagaman masyarakat merupakan kunci untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan, serta mencegah proses perpecahan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pemerintah Republik Indonesia secara resmi hanya mengakui enam agama, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.<\/span><\/p>\n<table class=\"table table-striped table-hover\">\n<thead>\n<tr>\n<th width=\"30\"><span style=\"color: #000000;\">No<\/span><\/th>\n<th><span style=\"color: #000000;\">Nama<\/span><\/th>\n<th><span style=\"color: #000000;\">Tempat Ibadah<\/span><\/th>\n<th><span style=\"color: #000000;\">Foto<\/span><\/th>\n<th><span style=\"color: #000000;\">Penjelasan<\/span><\/th>\n<th><span style=\"color: #000000;\">Jumlah<\/span><\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td><span style=\"color: #000000;\">1<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Islam<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Masjid (Mosque)<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/indonesia.go.id\/assets\/img\/religion\/1583485226_1551412563_mesjid_itiqlal_870x490.jpg\" width=\"100px;\" \/><\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Saat ini ada lebih dari 207 juta muslim di Indonesia. Kitab suci agama Islam adalah Al-Qur\u2019an.<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">87,2%<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"color: #000000;\">2<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Protestan<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Gereja (Church)<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/indonesia.go.id\/assets\/img\/religion\/1583485178_unnamed.jpg\" width=\"100px;\" \/><\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Agama Kristen Protestan adalah sebuah denominasi dalam agama Kristen, yang muncul setelah protes Marthin Luther pada 1517. Kitab suci Protestan adalah Al-Kitab.<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">6,9%<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"color: #000000;\">3<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Katolik<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Gereja (Church)<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/indonesia.go.id\/assets\/img\/religion\/1583484864_gereja_katlolik.jpg\" width=\"100px;\" \/><\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Agama Katolik di Indonesia berawal dari kedatangan bangsa Portugis ke kepulauan Maluku, dan orang Maluku adalah yang pertama menjadi Katolik di Indonesia. Kitab suci agama ini adalah Al-Kitab.<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">2,9%<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"color: #000000;\">4<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Hindu<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Pura (Hindu Temple)<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/indonesia.go.id\/assets\/img\/religion\/1583484669_d.jpg\" width=\"100px;\" \/><\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Hindu memiliki sejarah yang paling panjang dibanding agama resmi lain di Tanah Air. Bali memiliki penganut agama hindu terbesar. Kitab suci Hindu adalah Veda\/Weda.<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">1,7%<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"color: #000000;\">5<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Buddha<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Vihara (Buddhist Temple)<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/indonesia.go.id\/assets\/img\/religion\/1583484404_Kelenteng_Vihara_Buddha_Prabha.jpg\" width=\"100px;\" \/><\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Agama Buddha merupakan agama tertua di dunia dan juga di Indonesia, yang berasal dari India. Buddha berkembang cukup baik di daerah Asia. Kitab suci agama Buddha adalah Tripitaka.<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">0,7%<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"color: #000000;\">6<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Khonghucu<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Klenteng\/Litang (Confucian Temple)<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/indonesia.go.id\/assets\/img\/religion\/1583484470_Klenteng_Jin_De_Yuan,_Glodok,_Jakarta.jpg\" width=\"100px;\" \/><\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">Penyebaran agama Khonghucu ke Tanah Air dilakukan oleh orang-orang Tionghoa yang merantau ke Indonesia. Shishu Wujing adalah nama kitab suci Khonghucu.<\/span><\/td>\n<td><span style=\"color: #000000;\">0,05%<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PKN Kelas 7 &#8211; Semester 2 &#8211; Bab 4 -Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika. &nbsp; C. Perilaku Toleran terhadap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[20,41],"tags":[],"class_list":["post-389","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pkn","category-pkn-7"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/389","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=389"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/389\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":392,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/389\/revisions\/392"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=389"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=389"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=389"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}