{"id":297,"date":"2019-11-06T13:31:13","date_gmt":"2019-11-06T13:31:13","guid":{"rendered":"https:\/\/gretha.web.id\/smp\/?p=297"},"modified":"2019-11-08T14:10:15","modified_gmt":"2019-11-08T14:10:15","slug":"ips70104-dinamika-penduduk-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/ips70104-dinamika-penduduk-indonesia\/","title":{"rendered":"IPS70104 &#8211; Dinamika Penduduk Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000;\">I P S &#8211; Letak dan Luas Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">D. Dinamika Pendudukan Indonesia.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Indonesia adalah negara kepulauan dengan potensi sumber daya manusia yang sangat besar. Jumlah penduduk yang tinggal di Indonesia mencapai 256 juta jiwa (Worl Population Data Sheet\/WPDS, 2015). Jumlah penduduk tersebut merupakan hasil dari dinamika penduduk. Dinamika penduduk adalah perubahan jumlah penduduk pada suatu wilayah yang disebabkan oleh tiga faktor yaitu, kelahiran (nartalitas), kematian (mortalitas), dan perpindahan (migrasi).<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">1. Jumlah Penduduk<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Berdasarkan Data Kependudukan Dunia tahun 2015, jumlah penduduk Indonesia menempati urutan keempat di dunia setelah Cina (1.372 juta jiwa), India (1.314 juta jiwa), dan Amerika Serikat (321 juta jiwa). Jumlah penduduk Indonesia mencapai 256 juta jiwa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Tabel 1.2. Peringkat Jumlah Penduduk di Dunia<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">1. Cina 1.372\u00a0 Juta Jiwa.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">2. India 1.314 Juta Jiwa.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">3. Amerika Serikat 321 Juta Jiwa.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">4. Indonesia 256 Juta Jiwa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Sumber: WPDS, 2015.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Jumlah penduduk yang besar ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi bisa menjadi keuntungan bagi Indonesia dengan jumlah penduduk usia produktif yang berlimpah. Namun di sisi lain bisa menjadi kerugian bila jumlah penduduk yang besar itu memiliki kualitas yang rendah, dilihat dari pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>2. Persebaran Penduduk.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Persebaran atau distribusi penduduk adalah bentuk penyebaran penduduk di suatu wilayah atau negara, apakah penduduk tersebut tersebar merata atau tidak. Persebaran penduduk dapat dikenali dari kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk merupakan indikator adanya perbedaan sumber daya yang dimiliki suatu wilayah. Wilayah yang memiliki sumber daya yang lebih baik, baik sumber daya fisik maupun manusianya, akan cenderung dipadati penduduk. Kepadatan penduduk juga memberikan informasi kepada pemerintah tentang pemerataan pembangunan. Wilayah yang penduduknya jarang menunjukkan pembangunan belum merata ke berbagai wilayah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-301 size-large\" src=\"https:\/\/gretha.web.id\/smp\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/peta-sebaran-penduduk-indonesia-1024x708.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"443\" srcset=\"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/peta-sebaran-penduduk-indonesia-1024x708.jpg 1024w, https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/peta-sebaran-penduduk-indonesia-300x207.jpg 300w, https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/peta-sebaran-penduduk-indonesia-768x531.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Beberapa daerah di Indonesia penduduknya masih sangat sedikit, atau masih kekurangan jumlah penduduk (under population). Contohnya di Papua, kepadatan penduduk rata-rata hanya 4 jiwa per kilometer persegi. Sementara pulau Jawa kepadatan penduduknya mencapai 945 jiwa per kilometer persegi. Pulau Jawa dan Madura dengan luas 132 ribu km\u00b2 berpenduduk 137 juta jiwa pada tahun 2010. Pulau-pulau lain di Indonesia, dengan luas berkali lipat dari pulau Jawa jika seluruh penduduknya dijumlahkan tidak dapat mencapai jumlah penduduk yang tinggal di Pulau Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Kondisi persebaran penduduk yang tidak merata merupakan sebuah permasalahan tersendiri bagi pelaksanaan pembangunan. Karena itu perlu dilakukan upaya pemerataan penduduk yang seimbang, sehingga seluruh potensi bangsa Indonesia dapat dikembangkan optimal. Salah satu cara untuk memeratakan jumlah penduduk di Indonesia adalah dengan melalui perpindahan penduduk dari daerah yang padat ke daerah yang jarang penduduknya. Perpindahan penduduk tersebut tentu dapat dilakukan dengan keinginan sendiri maupun diprogramkan oleh pemerintah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pulau Jawa adalah daerah yang sangat subur dan telah lama berkembang dengan pertanian tradisional. Pada masa lalu, masyarakat masih mengembangkan pola ekonomi tradisional berupa pertanian. Lokasi Pulau Jawa yang sebagian besar wilayahnya mudah terjangkau menjadi salah satu penyebab persebaran penduduk di Pulau Jawa terus terjadi. Selain itu, Pulau Jawa juga merupakan pusat perkembangan politik pada masa pengaruh Hindu, Buddha, Islam, dan masa penjajahan. Saat ini, pusat pemerintahan yaitu Jakarta berada di Pulau Jawa, demikian pula dengan kota-kota besar yang sebagian besar berada di Pulau Jawa. Tidak mengherankan apabila sarana dan prasarana di Pulau Jawa lebih lengkap dari wilayah lainnya di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>3. Komposisi Penduduk.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Komposisi penduduk adalah pengelompokan penduduk berdasarkan usia\/ umur, jenis kelamin, mata pencaharian, agama, bahasa, pendidikan, tempat tinggal, jenis pekerjaan, dan lain-lain. Komposisi penduduk diperlukan dalam suatu negara karena dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan ataupun penentuan kebijaksanaan dalam pelaksanaan pembangunan. Gambaran mengenai komposisi penduduk perlu dikaji atau dipelajari karena berbagai alasan, antara lain setiap penduduk pasti memiliki usia dan jenis kelamin yang berbeda sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda pula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">a. Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Komposisi penduduk berdasarkan usia\/umur dapat dibuat dalam <\/span><span style=\"color: #000000;\">bentuk usia tunggal, seperti 0, 1, 2, 3, 4, sampai 60 tahun atau lebih. <\/span><span style=\"color: #000000;\">Komposisi penduduk dapat juga dibuat berdasarkan interval usia<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">tertentu,<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">\u00a0seperti 0\u20135 tahun (usia balita),<br \/>\n<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">\u00a06\u201312 tahun (usia SD),<br \/>\n<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">\u00a013\u201315 <\/span><span style=\"color: #000000;\">tahun (usia SMP),<br \/>\n<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">\u00a0tahun 16\u201318 (usia SMA),<br \/>\n<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">\u00a019\u201324 tahun (usia Perguruan Tinggi),<br \/>\n<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">\u00a025\u201360 tahun (usia dewasa),<br \/>\n<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">\u00a0dan &gt;60 tahun (usia lanjut).<br \/>\n<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Selain itu, komposisi penduduk juga dapat dibuat berdasarkan usia produktif dan usia nonproduktif, misalnya:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">usia 0\u201314 tahun (usia belum produktif),<br \/>\n<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">15\u201364 tahun (usia produktif),<br \/>\n<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">dan usia &gt;65 tahun (tidak produktif).<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Permasalahan dalam komposisi penduduk lainnya adalah apabila <\/span><span style=\"color: #000000;\">jumlah penduduk dengan usia di bawah 15 tahun dan usia di atas 65 <\/span><span style=\"color: #000000;\">tahun jumlahnya lebih besar dibandingkan usia produktif (15-65 th). Hal tersebut dapat menyebabkan penduduk usia produktif menanggung hidup seluruh penduduk usia nonproduktif. Sebaliknya, jika semakin kecil angka ketergantungan, akan semakin kecil beban dalam menopang kehidupan penduduk usia nonproduktif.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Wawasan !<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Saat ini Indonesia mengalami bonus demografi yaitu bonus yang <\/span><span style=\"color: #000000;\">yang dinikmati suatu negara sebagai akibat dari besarnya proporsi <\/span><span style=\"color: #000000;\">penduduk produktif (rentang usia 15-64 tahun) dalam evolusi\u00a0 kependudukan yang dialaminya. Bonus demografi terjadi karena Indonesia mengalami keberhasilan dalam program Keluarga Berencana (KB), menurunnya angka kelahiran dan meningkatnya kesehatan serta suksesnya programprogram pembangunan lainnya. Bonus demografi akan menguntungkan jika penduduk usia produktif memiliki kualitas yang baik, jika tidak maka akan sangat merugikan karena akan menjadi beban pembangunan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Sumber: BKKBN.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><span style=\"color: #000000;\">b. Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin.<\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin juga penting untuk diketahui, karena dapat digunakan dalam menghitung angka perbandingan jenis kelamin (sex ratio). Perbandingan tersebut <\/span><span style=\"color: #000000;\">dapat digunakan untuk memperkirakan bentuk pemberdayaan penduduk sebagai sumber daya manusia sesuai dengan karakteristiknya. Misalnya, berkenaan dengan pekerjaan, tanggung jawab, serta bentuk pengembangan pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan potensi dan kemampuan penduduk. Pada zaman dahulu, kaum laki-laki lebih dominan untuk berusaha (bekerja) dan mempertahankan diri. Pada saat itu, teknologi masih sangat sederhana sehingga hanya penduduk yang memiliki tenaga dan kemampuan fisik yang kuat yang dapat bertahan hidup. Akan tetapi, setelah teknologi berkembang dengan cepat dan modern, sesuai pula dengan prinsip emansipasi wanita, ternyata hampir semua jenis pekerjaan yang biasa <\/span><span style=\"color: #000000;\">dikerjakan oleh kaum laki-laki juga dapat dikerjakan oleh kaum perempuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Mengapa suatu daerah lebih banyak laki-laki atau lebih banyak perempuan? Daerah yang memiliki kerawanan konflik atau perang <\/span><span style=\"color: #000000;\">biasanya lebih banyak laki-laki karena penduduk dari daerah lain datang ke daerah tersebut, sedangkan daerah yang miskin biasanya lebih banyak perempuan karena banyak laki-laki mencari atau <\/span><span style=\"color: #000000;\">bekerja di luar daerahnya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><span style=\"color: #000000;\">4. Pertumbuhan dan Kualitas Penduduk.<\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pertumbuhan penduduk adalah keseimbangan dinamis antara kekuatan yang menambah dan kekuatan yang mengurangi jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang memengaruhi pertumbuhan penduduk, yakni kelahiran, kematian, dan migrasi. Kelahiran dan kematian disebut faktor alami, sedangkan migrasi disebut faktor nonalami. Kelahiran bersifat menambah, sedangkan kematian bersifat mengurangi jumlah penduduk.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Migrasi yang bersifat menambah disebut migrasi masuk (imigrasi), sedangkan migrasi yang bersifat mengurangi disebut migrasi keluar (emigrasi).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Tingkat pertumbuhan penduduk di negara kita termasuk kategori sedang. Pada periode 2010-2014, angka pertumbuhannya mencapai 1,40% pertahun. Untuk menurunkan tingkat pertumbuhan yang tinggi ini, pemerintah Indonesia melaksanakan program Keluarga Berencana. Dengan program Keluarga Berencana, penduduk Indonesia telah mengalami penurunan dari yang awalnya 2,31% pada periode 1971-1980 menjadi 1,49% pada periode 1990-2000.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Struktur penduduk Indonesia lebih banyak pada penduduk usia muda, hal ini sebagai akibat dari masih tingginya tingkat kelahiran. Persentase penduduk 0 &#8211; 14 tahun pada tahun 1980 mencapai 40,3% dan pada tahun 1985 sedikit turun menjadi 39,%. Penduduk usia muda ini pada tahun 2000 diperkirakan turun lagi menjadi 37,7% dan 34,%. Pertumbuhan penduduk sangat banyak, yaitu nomor empat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Pertumbuhan penduduk yang cepat menyebabkan beberapa hal berikut ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">a. Pertumbuhan penduduk usia muda yang cepat menyebabkan tingginya angka pengangguran.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">b. Persebaran penduduk tidak merata.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">c. Komposisi penduduk kurang menguntungkan karena banyaknya penduduk usia muda yang belum produktif sehingga beban ketergantungan tinggi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">d. Arus urbanisasi tinggi, sebab kota lebih banyak menyediakan lapangan kerja.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">e. Menurunnya kualitas dan tingkat kesejahteraan penduduk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Masalah kependudukan Indonesia dalam hal kualitas adalah masalah dalam kemampuan sumber daya manusianya. Di Indonesia, masalah kualitas penduduk yang terjadi dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya tingkat kesejahteraan yang kemudian dapat berpengaruh pada pendapatan per kapita masyarakat tersebut. Rendahnya pendapatan perkapita dapat menyebabkan orang tua tidak mampu menyekolahkan anaknya, sehingga banyak anak yang putus sekolah atau berhenti sekolah sebelum tamat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pemerintah Indonesia telah berusaha keras untuk meningkatkan mutu pendidikan penduduk melalui berbagai program pemerintah di bidang pendidikan, seperti program beasiswa, adanya bantuan operasional sekolah (BOS), program wajib belajar, dan sebagainya. Walaupun demikian, karena banyaknya hambatan yang dialami, maka hingga saat ini tingkat pendidikan bangsa Indonesia masih tergolong rendah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Selain itu, tingkat kesehatan juga merupakan salah satu penentu dari kualitas penduduk. Tingkat kesehatan penduduk merupakan salah satu faktor yang menunjang keberhasilan pembangunan. Tingkat kesehatan suatu negara dapat dilihat dari besarnya angka kematian bayi dan usia harapan hidup penduduknya. Hal ini terlihat dari tingginya angka kematian bayi dan angka harapan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara maju.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Mata pencaharian merupakan salah satu dari beberapa tolok ukur kualitas penduduk. Akibat pertambahan penduduk yang tinggi, maka jumlah angkatan kerja tidak seharusnya terserap. Bahkan semakin ketatnya persaingan tenaga kerja, maka angkatan kerja muda yang merupakan tenaga kerja kurang produktif pun ikut bersaing. Hal ini kurang menguntungkan usaha pembangunan secara nasional karena golongan muda kurang produktif tersebut merupakan beban. Masalah tenaga kerja dan kesempatan kerja merupakan masalah yang harus ditangani secara serius karena sangat peka terhadap ketahanan nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Mayoritas penduduk Indonesia bermata pencaharian sebagai petani, berbeda dengan di negara maju yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya berada di sektor Industri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Angka kelahiran penduduk paling rendah terdapat di negara Monaco (6 kelahiran tiap 1000 penduduk). Angka kelahiran tertinggi terdapat di negara Nigeria (50 kelahiran tiap 1000 penduduk). Angka kematian terendah terdapat di Negara Qatar, dan United Arab Emirates (1 orang tiap 1000 penduduk), sedangkan angka kematian tertinggi terdapat di Negara Lesotho (20 orang tiap 1000 penduduk).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Sumber: WPDS, 2015.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><span style=\"color: #000000;\">5. Keragaman Etnik dan Budaya.<\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang memiliki suku bangsa dan budaya yang beragam. Suku bangsa sering juga disebut etnik. Menurut Koentjaraningrat, suku bangsa berarti sekelompok manusia yang mempunyai kesatuan budaya dan terikat oleh kesadaran budaya tersebut, sehingga menjadi identitas. Kesadaran dan identitas biasanya dikuatkan oleh kesatuan bahasa. Jadi, suku bangsa adalah gabungan sosial yang dibedakan dari golongan-golongan sosial sebab mempunyai ciri-ciri paling mendasar dan umum berkaitan dengan asal-usul dan tempat asal serta kebudayaan. Ciri-ciri suku bangsa memiliki kesamaan kebudayaan, bahasa, adat istiadat, dan nenek moyang. Ciri-ciri mendasar yang membedakan suku bangsa satu dengan lainnya, antara lain bahasa daerah, adat istiadat, sistem kekerabatan, kesenian daerah, dan tempat asal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Keberagaman bangsa Indonesia, terutama terbentuk oleh jumlah suku bangsa yang mendiami berbagai lokasi yang tersebar. Setiap suku bangsa mempunyai ciri atau karakter tersendiri, baik dalam aspek sosial atau budaya. Menurut penelitian Badan Pusat Statistik yang dilaksanakan tahun 2010, di Indonesia terdapat 1.128 suku bangsa. Antarsuku bangsa di Indonesia mempunyai berbagai perbedaan dan itulah yang membentuk keanekaragaman di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia sangat beragam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Keragaman tersebut dipengaruhi faktor lingkungan. Masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan akan lebih banyak menggantungkan kehidupannya dari pertanian, sehingga berkembang kehidupan sosial budaya masyarakat petani. Sementara itu, daerah pantai akan memengaruhi masyarakatnya untuk mempunyai mata pencarian sebagai nelayan dan berkembanglah kehidupan sosial masyarakat nelayan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Keragaman bangsa Indonesia tampak pula dalam seni sebagai hasil kebudayaan daerah di Indonesia, misalnya dalam bentuk tarian dan nyanyian. Hampir semua daerah atau suku bangsa mempunyai tarian dan nyanyian yang berbeda. Begitu juga dalam hasil karya, setiap daerah mempunyai hasil karya yang berbeda dan menjadi ciri khas daerahnya masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Keanekaragaman budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke merupakan aset yang tidak ternilai harganya, sehingga harus tetap dipertahankan dan dilestarikan. Ada sebagian warga Indonesia yang tidak mengetahui ragam budaya daerah lain di Indonesia, salah satunya budaya melukis tubuh di Mentawai, Sumatra Barat, tindik sebagai tanda kedewasaan dan masih banyak kebudayaan lain yang belum tereksplorasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Setiap daerah memiliki kebudayaan yang khas. Keragaman budaya tersebut dapat diketahui melalui bentuk-bentuk pakaian adat, lagu daerah, tarian daerah, rumah adat, upacara adat dan lain sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">a. Rumah Adat<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Indonesia kaya akan budaya dengan terdapatnya wujud keanekaragaman budaya bangsa kita yang tersebar di berbagai profinsi pada umumnya, hal yang paling kongkerit adalah adanya rumah adat di setiap daerah profinsi di negara kita. Berikut ini tabel beberapa contoh rumah adat di setiap daerah di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Tabel Contoh Rumah Adat di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Nanggroe Aceh Darussalam rumah adat : Krong Bade.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Yogyakarta rumah adat : Rumah Joglo.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Sumatra Barat rumah adat :\u00a0 Rumah Gadang.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Bali rumah adat : Rumah adat Gapura Candi Bentar.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Papua rumah adat : Rumah adat Honai.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Sulawesi Utara rumah adat : Rumah adat Istana Buton.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Kalimantan Timur rumah adat : Rumah adat Lamin.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Kalimantan Selatan rumah adat : Banjar atau Betang.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Nusa Tenggara Timur rumah adat : Musalaki.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Kalimantan Tengah rumah adat : Betang.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Papua rumah adat : Honai.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">b. Pakaian Adat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pakaian adat tradisional di Indonesia begitu banyak dan beragam, ini merupakan nilai-nilai budaya Indonesia yang tak ternilai harganya yang seharusnya kita jaga dan lestarikan karena kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikannya lantas siapa lagi? Jangan sampai kita menjadi peduli ketika budaya-budaya kita diklaim oleh negara lain.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">c. Tarian Daerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Tari merupakan salah satu aspek seni untuk mengungkapkan perasaan melalui gerak. Tarian setiap daerah memiliki ciri khasnya tersendiri, biasanya memiliki makna dan simbol tertentu yang terkandung didalamnya. Berikut ini beberapa contoh dari tarian di beberapa daerah di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Dari contoh tarian di atas, menunjukkan betapa kaya dan beragamnya kebudayaan Indonesia. Gerakan yang indah diiringi dengan irama musik yang memukau, dapat menyuguhkan suatu pertunjukan karya seni yang luar biasa. Setiap tarian atau pertunjukan di tiap daerah Indonesia memiliki keunikan dan ciri khasnya masing-masing.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>I P S &#8211; Letak dan Luas Indonesia. D. Dinamika Pendudukan Indonesia. &nbsp; Indonesia adalah negara kepulauan dengan potensi sumber daya manusia yang sangat besar. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[8,21],"tags":[70,10,9],"class_list":["post-297","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ilmu-pengetahuan-sosial","category-ips-7","tag-dinamika","tag-ips","tag-kelas-7"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=297"}],"version-history":[{"count":12,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":310,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297\/revisions\/310"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=297"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=297"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=297"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}