{"id":261,"date":"2019-09-24T13:19:14","date_gmt":"2019-09-24T13:19:14","guid":{"rendered":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/?p=261"},"modified":"2019-09-24T14:19:50","modified_gmt":"2019-09-24T14:19:50","slug":"katolik7-1-manusia-citra-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/katolik7-1-manusia-citra-allah\/","title":{"rendered":"Katolik7-1 Manusia Citra Allah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca &amp; Dengarkan<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Manusia Citra Al-lah. Pada zaman sekarang masalah yang sering di hadapi oleh remaja pada saat mereka memasuki peralihan dari masa anak-anak menuju masa remaja awak adalah krisis identitas. Krisis identitas ditandai dengan munculnya pertanyaan \\\"Siapa aku ?\\\" Pertanyaan itu muncul didorong oleh kesadaran adanya berbagai perubahan dalam dirinya baik lingkungan yang dihadapinya sikap orang lain terhadap dirinya maupun perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada dirinya. Krisis itu akan terlampaui dengan baik dan mereka dapat memasuki masa remaja dengan wajar bila mana mereka mampu menemukan jawaban atas pertanyaan mendasar tersebut. Mereka membutuhkan keyakinan diri dan jawaban yang pasti. Sebab bila mereka tidak mampu menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut dapat berdampak sikap dan perilaku yang negatif. Jawaban atas pertanyaan siapa aku dapat direferensikan Pada pengamatan unsur-unsur fisik dan psikis yang ada pada dirinya sendiri maupun pada orang lain. Tetapi Sebagai pribadi beriman jawaban tersebut sering tidak memuaskan. Oleh karena itu peserta didik perlu dibimbing untuk menemukan pengetahuan dan pemahaman identitas dari segi iman. Dalam hal ini kitab suci memberikan jawaban yang dapat membuka pengetahuan tentang diri remaja secara lebih luas dan mendalam yakni bahwa mereka dan semua Manusia adalah pribadi yang unik dan keunikan itu dikehendaki oleh Al-lah. Bahkan lebih dari itu semua Sebagai pribadi yang unik itu oleh Al-lah dianugerahi martabat yang luhur yakni diciptakan sebagai citra Al-lah yang baik adanya. Sambil menghayati keunikan yang ada pada dirinya peserta didik perlu diajak menyadari akan panggilannya sebagai citra Al-lah yakni sebagai pancaran dan perwujudan Al-lah bagi sesamanya lihat kejadian 1 : 26-28. Rasa bangga dan syukur itu akan memotivasi diri untuk melakukan hal sederhana sekalipun untuk menjadi kebiasaan dirinya menunjukkan penghayatan yang benar tentang keunikan diri dan keluhuran martabatnya sebagai citra Al-lah. Penejelasan : -\u00a0 Kata Citra dapat memiliki berbagai macam arti, diantaranya adalah sebagai berikut : Kata Citra dapat diartikan sebagai gambaran yang menunjuk pada identitas seseorang atau kelompok.\u00a0Dikaitkan dengan nilai yang dianggap baik atau ideal. Kata Citra juga memiliki makna keserupaan, kesegambaran atau kemiripan antara seseorang atau kelompok yang dicitrakan. Misalnya seorang anak merupakan citra atau gambaran orang tuanya karena memiliki keserupaan, kemiripan dalam hal-hal tertentu. -\u00a0 Dalam kisah penciptaan dikatakan bahwa manusia diciptakan sebagai Citra Allah, artinya serupa dan segambar dengan Allah. Hal ini menegaskan bahwa manusia dan Allah berbeda. -\u00a0 Sebagai Citra Allah, Allah memiliki karunia khusus kepada manusia berupa akal budi, kebebasan dan hati nurani serta kemampuan untuk mengenal Sang Pencipta. Sehingga manusia memiliki martabat yang luhur dibandingkan dengan ciptaan lainnya, hanya kepada manusialah Allah menganugerahi karunia tersebut. -\u00a0 Karena semua manusia adalah Citra Allah, berasal dari Allah yang sama dan sama-sama dikasihi Allah, maka mereka harus saling mengasihi, saling menghormati dan saling membantu dalam mengembangkan martabatnya. \u00a0- Sebagai Citra Allah manusia diberi tugas untuk : beranakcucu; bertambah banyak; memenuhi bumi; dan menguasai ciptaan Allah lainnya (Kej: 26-30). -\u00a0 Kuasa manusia terhadap alam dan isinya bersifat terbatas karena kuasa manusia tersebut berasal dari Allah; maka segala sesuatu yang berkaitan dengan pengelolaan alam harus berdasarkan pada rencana dan kehendak Allah. Manusia Citra Allah Bab I\u00a0 Pernyataan bahwa manusia adalah Citra Allah, mungkin sudah seringkali kamu dengar dalam pelajaran agama. Tetapi sangatlah penting pernyataan tersebut dipahami secara benar, karena hal tersebut merupakan pengakuan iman yang paling dasar bagi manusia di hadapan Allah. Pemahaman yang benar tersebut akan berpengaruh pada sikap dan pandangan hidup sebagai orang beriman.\u00a0 Dalam Bab ini kamu akan mendalami lima hal penting. Pertama, diajak mencari dan menemukan kenyataan bahwa setiap orang diciptakan berbeda-beda. Dengan kata lain, setiap manusia diciptakan secara unik. Keunikan yang dimiliki itu semata- mata merupakan anugerah Allah, dan karena keunikan itu pula maka di mata Tuhan setiap orang berharga. Selain unik, setiap manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah sendiri, ia harus mampu memancarkan gambaran Allah dalam kehidupannya.\u00a0 Kedua, Allah menciptakan manusia sebagai citra-Nya, bukan tanpa alasan, sebab dalam kedudukannya sebagai citra Allah setiap manusia dipanggil dan diutus Tuhan untuk bekerjasama dengan Tuhan dalam mengembangkan karya ciptaan- Nya menurut kehendakNya.\u00a0 Ketiga, Keunikan manusia sebagai citra Allah mengisyaratkan bahwa setiap manusia dibekali Tuhan dengan kemampuan berbeda untuk saling mengembangkan diri dan menyempurnakan.\u00a0 Keempat, Perbedaan kemampuan yang dianugerahkan Tuhan mengajak setiap orang untuk sadar akan keterbatasan dirinya sehingga mampu menempatkan diri secara benar dalam pergaulan bersama sesama.\u00a0 Kelima, kesadaran bahwa diri kita diciptakan sebagai citra Allah yang unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya itu diharapkan mampu mendorong kita untuk bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahkannya.\u00a0 Maka topik-topik yang akan dibahas dalam Bab ini adalah sebagai berikut. A. Aku Citra Allah yang Unik. B. Tugasku sebagai Citra Allah. C. Aku memiliki kemampuan. D. Kemampuanku terbatas. E. Syukur sebagai citra Allah. Ada ungkapan yang mengatakan, \u201dOrang yang tidak mengenal dirinya tidak mungkin mengenal Allah\u201d. Mengenal berarti mengetahui, dan diharapkan setelah mengenal kita pun menerima diri kita. Kita perlu mengenal dan menerima diri dengan segala keunikan yang melekat pada diri kita. Iman Kristiani menegaskan bahwa diri kita tidak hanya unik, melainkan bermartabat luhur, sebab kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Semakin kita menyadari keunikan dan keluhuran martabat diri, maka kita semakin mampu menempatkan diri secara tepat dan benar di tengah sesama, dan terutama di hadapan Tuhan. 1. Mengenal Keunikan Diri.\u00a0 Agar kalian dapat mengenal diri dengan baik, lakukan langkah berikut. Sekarang bayangkan dirimu hari ini berulang tahun. Karena kamu berulang tahun, ada yang datang untuk memberikan kado kepadamu. Ia adalah Tuhan sendiri. Kado itu sangat istimewa.\u00a0 Selain hanya untuk dirimu, tetapi juga karena kado tersebut berisi empat lapis hadiah. Empat lapisan tersebut berisi tentang hal-hal sebagai berikut. Lapisan pertama berwarna merah, berisi tentang hal- hal fisik yang telah diberikan Tuhan kepadamu sejak lahir, misalnya rambut lurus\/keriting, hidung pesek\/ mancung, wajah cantik\/ tampan, dan sebagainya. Lapisan kedua berwarna kuning berisi semua sifat baik yang kamu miliki sampai saat ini, misalnya ramah, bersahaja, bertanggung jawab, dan sebagainya. Lapisan ketiga berwarna putih berisi semua bakat dan kemampuan istimewa yang kamu miliki. Lapisan keempat yang berwarna biru, berisi pengalaman- pengalaman menggembirakan yang dialami selama hidup, di sekolah, di rumah, atau di masyarakat. Duduk dengan tenang dan hening, lalu buka lapisan demi lapisan. \u2022 Tuliskan masing-masing isi lapisan kadomu dengan teliti pada tabel berikut, jangan sampai ada yang terlupakan atau terlewatkan. 2. Sikap Terhadap Keunikan Diri.\u00a0 Tiap orang mempunyai sikap yang berbeda dalam menanggapi keunikan dirinya. Ada orang yang merasa kecewa terhadap kenyataan dirinya saat ini, ada pula yang merasa bangga dan bersyukur. Ada yang menanggapinya secara positif, ada juga yang menanggapi secara negatif. Masing-masing sikap akan berpengaruh terhadap tindakan orang yang tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 3. Manusia sebagai Citra Allah yang Unik. Mungkin kamu pernah bertanya-tanya: Apakah keunikan yang dimiliki manusia itu dikehendaki Allah Sang Pencipta? Apa sesungguhnya maksud Allah menciptakan manusia sebagai Citra Allah yang unik? Untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, baca dan renungkan kutipan Kitab Suci berikut: Kejadian 1:26-28, berikut. Kejadian 1:26-28. 26 Berfirmanlah Allah: \u201dBaiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung- burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.\u201d 27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia: laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: \u201dBeranakcuculah dan bertambahlah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi\u201d Dari kutipan di atas nampaklah bahwa manusia adalah citra Allah. Ia serupa dan segambar dengan Allah. Ia mempunyai relasi istimewa dengan Allah. Sebagai citra Allah, ia dipanggil untuk mampu memancarkan diri Allah, sedemikian rupa sehingga melalui dirinya Allah semakin dikenal dan dirasakan daya penyelamatanNya. Untuk Dipahami\u00a0 Dalam kisah penciptaan dikatakan bahwa manusia diciptakan sebagai citra Allah, artinya serupa dan segambar dengan Allah. Kata \u201cserupa\u201d dan \u201csegambar\u201d, sekaligus melukiskan secara tepat bahwa manusia dan Allah berbeda.\u00a0 Sejauh terlukiskan dalam Kitab Suci, istilah citra Allah itu hanya dikatakan pada manusia, tidak dikenakan pada ciptaan Tuhan lainnya. Hanya manusialah yang disebut citra Allah.\u00a0 Karena manusia diciptakan sebagai citra Allah, manusia memiliki martabat sebagai pribadi: ia bukan hanya sesuatu, melainkan seseorang. Ia mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas diri sendiri, mengabdikan diri dalam kebebasan, dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain, dan dipanggil membangun relasi dengan Allah, pencipta-Nya.\u00a0 Sebagai citra Allah, manusia sepantasnya memancarkan diri Allah. Maka kalau Allah Maharahim, manusia pun harus penuh pengampunan; kalau Allah Mahabaik, maka manusia pun harus bermurah hati. Sebagai citra-Nya, Allah melengkapi manusia dengan akal budi, kebebasan, dan hati nurani. Kemampuan-kemampuan dasar itulah yang membedakan antara manusia dan ciptaan Tuhan lainnya. Ia adalah ciptaan Allah yang bermartabat luhur.\u00a0\", \"Indonesian Female\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Manusia Citra Al-lah.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Pada zaman sekarang masalah yang sering di hadapi oleh remaja pada saat mereka memasuki peralihan dari masa anak-anak menuju masa remaja awak adalah krisis identitas.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Krisis identitas ditandai dengan munculnya pertanyaan &#8220;Siapa aku ?&#8221; Pertanyaan itu muncul didorong oleh kesadaran adanya berbagai perubahan dalam dirinya baik lingkungan yang dihadapinya sikap orang lain terhadap dirinya maupun perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada dirinya. Krisis itu akan terlampaui dengan baik dan mereka dapat memasuki masa remaja dengan wajar bila mana mereka mampu menemukan jawaban atas pertanyaan mendasar tersebut. Mereka membutuhkan keyakinan diri dan jawaban yang pasti. Sebab bila mereka tidak mampu menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut dapat berdampak sikap dan perilaku yang negatif.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Jawaban atas pertanyaan siapa aku dapat direferensikan Pada pengamatan unsur-unsur fisik dan psikis yang ada pada dirinya sendiri maupun pada orang lain. Tetapi Sebagai pribadi beriman jawaban tersebut sering tidak memuaskan. Oleh karena itu peserta didik perlu dibimbing untuk menemukan pengetahuan dan pemahaman identitas dari segi iman.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Dalam hal ini kitab suci memberikan jawaban yang dapat membuka pengetahuan tentang diri remaja secara lebih luas dan mendalam yakni bahwa mereka dan semua Manusia adalah pribadi yang unik dan keunikan itu dikehendaki oleh Al-lah. Bahkan lebih dari itu semua Sebagai pribadi yang unik itu oleh Al-lah dianugerahi martabat yang luhur yakni diciptakan sebagai citra Al-lah yang baik adanya. Sambil menghayati keunikan yang ada pada dirinya peserta didik perlu diajak menyadari akan panggilannya sebagai citra Al-lah yakni sebagai pancaran dan perwujudan Al-lah bagi sesamanya lihat kejadian 1 : 26-28.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Rasa bangga dan syukur itu akan memotivasi diri untuk melakukan hal sederhana sekalipun untuk menjadi kebiasaan dirinya menunjukkan penghayatan yang benar tentang keunikan diri dan keluhuran martabatnya sebagai citra Al-lah.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Penejelasan :<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211;\u00a0 Kata Citra dapat memiliki berbagai macam arti, diantaranya adalah sebagai berikut :<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"color: #000000;\">Kata Citra dapat diartikan sebagai gambaran yang menunjuk pada identitas seseorang atau kelompok.\u00a0Dikaitkan dengan nilai yang dianggap baik atau ideal.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"color: #000000;\">Kata Citra juga memiliki makna keserupaan, kesegambaran atau kemiripan antara seseorang atau kelompok yang dicitrakan. Misalnya seorang anak merupakan citra atau gambaran orang tuanya karena memiliki keserupaan, kemiripan dalam hal-hal tertentu.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211;\u00a0 Dalam kisah penciptaan dikatakan bahwa manusia diciptakan sebagai Citra Allah, artinya serupa dan segambar dengan Allah. Hal ini menegaskan bahwa manusia dan Allah berbeda.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211;\u00a0 Sebagai Citra Allah, Allah memiliki karunia khusus kepada manusia berupa akal budi, kebebasan dan hati nurani serta kemampuan untuk mengenal Sang Pencipta. Sehingga manusia memiliki martabat yang luhur dibandingkan dengan ciptaan lainnya, hanya kepada manusialah Allah menganugerahi karunia tersebut.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211;\u00a0 Karena semua manusia adalah Citra Allah, berasal dari Allah yang sama dan sama-sama dikasihi Allah, maka mereka harus saling mengasihi, saling menghormati dan saling membantu dalam mengembangkan martabatnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0&#8211; Sebagai Citra Allah manusia diberi tugas untuk : beranakcucu; bertambah banyak; memenuhi bumi; dan menguasai ciptaan Allah lainnya (Kej: 26-30).<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211;\u00a0 Kuasa manusia terhadap alam dan isinya bersifat terbatas karena kuasa manusia tersebut berasal dari Allah; maka segala sesuatu yang berkaitan dengan pengelolaan alam harus berdasarkan pada rencana dan kehendak Allah.<\/span><\/p>\n<hr \/>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Manusia Citra Allah <\/b><b>Bab <\/b><b>I\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernyataan bahwa manusia adalah Citra Allah, mungkin sudah seringkali kamu dengar dalam pelajaran agama. Tetapi sangatlah penting pernyataan tersebut dipahami secara benar, karena hal tersebut merupakan pengakuan iman yang paling dasar bagi manusia di hadapan Allah. Pemahaman yang benar tersebut akan berpengaruh pada sikap dan pandangan hidup sebagai orang beriman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam Bab ini kamu akan mendalami lima hal penting. Pertama, diajak mencari dan menemukan kenyataan bahwa setiap orang diciptakan berbeda-beda. Dengan kata lain, setiap manusia diciptakan secara unik. Keunikan yang dimiliki itu semata- mata merupakan anugerah Allah, dan karena keunikan itu pula maka di mata Tuhan setiap orang berharga. Selain unik, setiap manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah sendiri, ia harus mampu memancarkan gambaran Allah dalam kehidupannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, Allah menciptakan manusia sebagai citra-Nya, bukan tanpa alasan, sebab dalam kedudukannya sebagai citra Allah setiap manusia dipanggil dan diutus Tuhan untuk bekerjasama dengan Tuhan dalam mengembangkan karya ciptaan- Nya menurut kehendakNya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, Keunikan manusia sebagai citra Allah mengisyaratkan bahwa setiap manusia dibekali Tuhan dengan kemampuan berbeda untuk saling mengembangkan diri dan menyempurnakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat, Perbedaan kemampuan yang dianugerahkan Tuhan mengajak setiap orang untuk sadar akan keterbatasan dirinya sehingga mampu menempatkan diri secara benar dalam pergaulan bersama sesama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelima, kesadaran bahwa diri kita diciptakan sebagai citra Allah yang unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya itu diharapkan mampu mendorong kita untuk bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahkannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka topik-topik yang akan dibahas dalam Bab ini adalah sebagai berikut. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">A. Aku Citra Allah yang Unik. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">B. Tugasku sebagai Citra Allah. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">C. Aku memiliki kemampuan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">D. Kemampuanku terbatas. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">E. Syukur sebagai citra Allah.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\"> Ada ungkapan yang mengatakan, \u201dOrang yang tidak mengenal dirinya tidak mungkin mengenal Allah\u201d. Mengenal berarti mengetahui, dan diharapkan setelah mengenal kita pun menerima diri kita. Kita perlu mengenal dan menerima diri dengan segala keunikan yang melekat pada diri kita. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\nIman Kristiani menegaskan bahwa diri kita tidak hanya unik, melainkan bermartabat luhur, sebab kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Semakin kita menyadari keunikan dan keluhuran martabat diri, maka kita semakin mampu menempatkan diri secara tepat dan benar di tengah sesama, dan terutama di hadapan Tuhan.<br \/>\n<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>1. Mengenal Keunikan Diri.\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agar kalian dapat mengenal diri dengan baik, lakukan langkah berikut. Sekarang bayangkan dirimu hari ini berulang tahun. Karena kamu berulang tahun, ada yang datang untuk memberikan kado kepadamu. Ia adalah Tuhan sendiri. Kado itu sangat istimewa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Selain hanya untuk dirimu, tetapi juga karena kado tersebut berisi empat lapis hadiah. Empat lapisan tersebut berisi tentang hal-hal sebagai berikut.<br \/>\nLapisan pertama berwarna merah, berisi tentang hal- hal fisik yang telah diberikan Tuhan kepadamu sejak lahir, misalnya rambut lurus\/keriting, hidung pesek\/ mancung, wajah cantik\/ tampan, dan sebagainya.<br \/>\nLapisan kedua berwarna kuning berisi semua sifat baik yang kamu miliki sampai saat ini, misalnya ramah, bersahaja, bertanggung jawab, dan sebagainya.<br \/>\nLapisan ketiga berwarna putih berisi semua bakat dan kemampuan istimewa yang kamu miliki.<br \/>\nLapisan keempat yang berwarna biru, berisi pengalaman- pengalaman menggembirakan yang dialami selama hidup, di sekolah, di rumah, atau di masyarakat.<br \/>\nDuduk dengan tenang dan hening, lalu buka lapisan demi lapisan.<br \/>\n\u2022 Tuliskan masing-masing isi lapisan kadomu dengan teliti pada tabel berikut, jangan sampai ada yang terlupakan atau terlewatkan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>2. Sikap Terhadap Keunikan Diri.\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiap orang mempunyai sikap yang berbeda dalam menanggapi keunikan dirinya. Ada orang yang merasa kecewa terhadap kenyataan dirinya saat ini, ada pula yang merasa bangga dan bersyukur. Ada yang menanggapinya secara positif, ada juga yang menanggapi secara negatif. Masing-masing sikap akan berpengaruh terhadap tindakan orang yang tersebut dalam kehidupan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>3. Manusia sebagai Citra Allah yang Unik.<\/strong><br \/>\nMungkin kamu pernah bertanya-tanya: Apakah keunikan yang dimiliki manusia itu dikehendaki Allah Sang Pencipta? Apa sesungguhnya maksud Allah menciptakan manusia sebagai Citra Allah yang unik?<\/p>\n<p>Untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, baca dan renungkan kutipan Kitab Suci berikut: Kejadian 1:26-28, berikut.<br \/>\nKejadian 1:26-28.<\/p>\n<p>26 Berfirmanlah Allah: \u201dBaiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung- burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.\u201d<\/p>\n<p>27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia: laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.<\/p>\n<p>28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: \u201dBeranakcuculah dan bertambahlah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi\u201d<\/p>\n<p>Dari kutipan di atas nampaklah bahwa manusia adalah citra Allah. Ia serupa dan segambar dengan Allah. Ia mempunyai relasi istimewa dengan Allah. Sebagai citra Allah, ia dipanggil untuk mampu memancarkan diri Allah, sedemikian rupa sehingga melalui dirinya Allah semakin dikenal dan dirasakan daya penyelamatanNya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Untuk Dipahami\u00a0<\/b><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Dalam kisah penciptaan dikatakan bahwa manusia diciptakan sebagai citra Allah, artinya serupa dan segambar dengan Allah. Kata \u201cserupa\u201d dan \u201csegambar\u201d, sekaligus melukiskan secara tepat bahwa manusia dan Allah berbeda.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Sejauh terlukiskan dalam Kitab Suci, istilah citra Allah itu hanya dikatakan pada manusia, tidak dikenakan pada ciptaan Tuhan lainnya. Hanya manusialah yang disebut citra Allah.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Karena manusia diciptakan sebagai citra Allah, manusia memiliki martabat sebagai pribadi: ia bukan hanya sesuatu, melainkan seseorang. Ia mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas diri sendiri, mengabdikan diri dalam kebebasan, dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain, dan dipanggil membangun relasi dengan Allah, pencipta-Nya.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Sebagai citra Allah, manusia sepantasnya memancarkan diri Allah. Maka kalau Allah Maharahim, manusia pun harus penuh pengampunan; kalau Allah Mahabaik, maka manusia pun harus bermurah hati. Sebagai citra-Nya, Allah melengkapi manusia dengan akal budi, kebebasan, dan hati nurani. Kemampuan-kemampuan dasar itulah yang membedakan antara manusia dan ciptaan Tuhan lainnya. Ia adalah ciptaan Allah yang bermartabat luhur.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Manusia Citra Al-lah. Pada zaman sekarang masalah yang sering di hadapi oleh remaja pada saat mereka memasuki peralihan dari masa anak-anak menuju masa remaja [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[44,62],"tags":[67,68,9,69],"class_list":["post-261","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-katolik","category-katolik-7","tag-citra-allah","tag-katolik","tag-kelas-7","tag-smp"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/261","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=261"}],"version-history":[{"count":13,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/261\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":275,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/261\/revisions\/275"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=261"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=261"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/smp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=261"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}