{"id":23,"date":"2016-03-03T13:15:32","date_gmt":"2016-03-03T06:15:32","guid":{"rendered":"http:\/\/laudatosi.web.id\/?p=23"},"modified":"2020-01-21T08:43:21","modified_gmt":"2020-01-21T01:43:21","slug":"pengantar-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gretha.my.id\/laudatosi\/pengantar-2\/","title":{"rendered":"Pengantar - 2"},"content":{"rendered":"<audio class=\"wp-audio-shortcode\" id=\"audio-23-1\" preload=\"none\" style=\"width: 100%;\" controls=\"controls\"><source type=\"audio\/mpeg\" src=\"http:\/\/laudatosi.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/id-laudatosi-Pengantar2-Dipersatukan-oleh-keprihatinan-yang-sama.mp3?_=1\" \/><a href=\"http:\/\/laudatosi.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/id-laudatosi-Pengantar2-Dipersatukan-oleh-keprihatinan-yang-sama.mp3\">http:\/\/laudatosi.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/id-laudatosi-Pengantar2-Dipersatukan-oleh-keprihatinan-yang-sama.mp3<\/a><\/audio>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca &amp; Dengarkan!<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Lanjutan - Pengatar 2. Dipersatukan oleh keprihatinan yang sama. 7. Pernyataan-pernyataan beberapa Paus ini mengge- makan refleksi banyak ilmuwan, filsuf, teolog, dan masya- rakat sipil, yang semuanya telah memperkaya pemikiran Gereja tentang soal ini. Di luar Gereja Katolik, Gereja dan komunitas Kristen lain\u2014dan juga agama-agama lain\u2014telah menyatakan keprihatinan mendalam dan menawarkan re- fleksi berharga tentang isu-isu yang menjadi keprihatinan kita semua. Untuk memberi contoh yang mencolok, saya ingin menyebutkan sumbangan Patriarkh Ekumenis Bartolomeus yang tercinta, yang dengannya kita berbagi harapan akan persekutuan gereja sepenuhnya. 8. Patriarkh Bartolomeus telah berbicara secara khusus tentang perlunya kita masing-masing bertobat dari cara\u00a0kita memperlakukan planet ini, \u201cSekecil apa pun kerusakan\u00a0ekologis yang kita timbulkan\u201d, kita dipanggil untuk\u00a0mengakui \u201ckontribusi kita, kecil atau besar, terhadap luka-luka\u00a0dan kerusakan alam ciptaan\u201d. 14). Ia sudah berulang kali\u00a0menyatakan hal ini dengan tegas dan meyakinkan, sambil\u00a0menantang kita untuk mengakui dosa-dosa kita terhadap\u00a0dunia ciptaan: \u201cBila manusia menghancurkan keanekaragaman\u00a0hayati ciptaan Tuhan; bila manusia mengurangi\u00a0keutuhan bumi ketika menyebabkan perubahan iklim,\u00a0menggunduli bumi dari hutan alamnya atau menghancurkan\u00a0lahan-lahan basahnya; bila manusia mencemari air,\u00a0tanah, udara, dan lingkungan hidupnya - semua ini adalah\u00a0dosa\u201d.15). Sebab \u201ckejahatan terhadap alam adalah dosa terhadap\u00a0diri kita sendiri dan dosa terhadap Allah\u201d.16). 9. Pada saat yang sama, Bartolomeus tertarik pada akar\u00a0etis dan spiritual masalah lingkungan, yang mengharuskan\u00a0kita mencari solusi tidak hanya dalam teknologi tetapi\u00a0dalam perubahan manusia; kalau tidak, kita akan menangani\u00a0gejala-gejalanya saja. Ia minta kita untuk mengganti\u00a0konsumsi\u00a0dengan pengorbanan, keserakahan dengan kemurahan\u00a0hati, pemborosan dengan semangat berbagi,\u00a0sebuah asketisme yang \u201cberarti belajar untuk memberi, dan\u00a0tidak hanya berpantang. Inilah cara mencintai, bergerak secara bertahap dari apa yang saya inginkan menuju apa\u00a0yang dibutuhkan dunia Allah. Inilah pembebasan dari\u00a0rasa takut, keserakahan dan ketagihan\u201d.17). Sebagai orang\u00a0Kristen, kita juga dipanggil \u201cuntuk menerima dunia sebagai\u00a0sakramen persekutuan, sebagai cara berbagi dengan Al-lah\u00a0dan sesama kita pada skala global. Dengan rendah hati kita\u00a0yakin bahwa yang ilahi dan yang manusiawi bertemu dalam\u00a0detil terkecil tenunan halus ciptaan Allah, dalam setitik\u00a0debu di planet kita\u201d.18).\", \"Indonesian Female\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lanjutan - Pengatar 2.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><em><strong>Dipersatukan oleh keprihatinan yang sama.<\/strong><\/em><\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">7. Pernyataan-pernyataan beberapa Paus ini mengge- makan refleksi banyak ilmuwan, filsuf, teolog, dan masya- rakat sipil, yang semuanya telah memperkaya pemikiran Gereja tentang soal ini. Di luar Gereja Katolik, Gereja dan komunitas Kristen lain\u2014dan juga agama-agama lain\u2014telah menyatakan keprihatinan mendalam dan menawarkan re- fleksi berharga tentang isu-isu yang menjadi keprihatinan kita semua. Untuk memberi contoh yang mencolok, saya ingin menyebutkan sumbangan Patriarkh Ekumenis Bartolomeus yang tercinta, yang dengannya kita berbagi harapan akan persekutuan gereja sepenuhnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">8. Patriarkh Bartolomeus telah berbicara secara khusus tentang perlunya kita masing-masing bertobat dari cara\u00a0kita memperlakukan planet ini, \u201cSekecil apa pun kerusakan\u00a0ekologis yang kita timbulkan\u201d, kita dipanggil untuk\u00a0mengakui \u201ckontribusi kita, kecil atau besar, terhadap luka-luka\u00a0dan kerusakan alam ciptaan\u201d. 14). Ia sudah berulang kali\u00a0menyatakan hal ini dengan tegas dan meyakinkan, sambil\u00a0menantang kita untuk mengakui dosa-dosa kita terhadap\u00a0dunia ciptaan: \u201cBila manusia menghancurkan keanekaragaman\u00a0hayati ciptaan Tuhan; bila manusia mengurangi\u00a0keutuhan bumi ketika menyebabkan perubahan iklim,\u00a0menggunduli bumi dari hutan alamnya atau menghancurkan\u00a0lahan-lahan basahnya; bila manusia mencemari air,\u00a0tanah, udara, dan lingkungan hidupnya - semua ini adalah\u00a0dosa\u201d.15). Sebab \u201ckejahatan terhadap alam adalah dosa terhadap\u00a0diri kita sendiri dan dosa terhadap Allah\u201d.16).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">9. Pada saat yang sama, Bartolomeus tertarik pada akar\u00a0etis dan spiritual masalah lingkungan, yang mengharuskan\u00a0kita mencari solusi tidak hanya dalam teknologi tetapi\u00a0dalam perubahan manusia; kalau tidak, kita akan menangani\u00a0gejala-gejalanya saja. Ia minta kita untuk mengganti\u00a0konsumsi\u00a0dengan pengorbanan, keserakahan dengan kemurahan\u00a0hati, pemborosan dengan semangat berbagi,\u00a0sebuah asketisme yang \u201cberarti belajar untuk memberi, dan\u00a0tidak hanya berpantang. Inilah cara mencintai, bergerak<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">secara bertahap dari apa yang saya inginkan menuju apa\u00a0yang dibutuhkan dunia Allah. Inilah pembebasan dari\u00a0rasa takut, keserakahan dan ketagihan\u201d.17). Sebagai orang\u00a0Kristen, kita juga dipanggil \u201cuntuk menerima dunia sebagai\u00a0sakramen persekutuan, sebagai cara berbagi dengan Al-lah\u00a0dan sesama kita pada skala global. Dengan rendah hati kita\u00a0yakin bahwa yang ilahi dan yang manusiawi bertemu dalam\u00a0detil terkecil tenunan halus ciptaan Allah, dalam setitik\u00a0debu di planet kita\u201d.18).<\/span><\/p>\n<p><script src=\"\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\" async=\"\"><\/script><br \/>\n <!-- Responsive 2015 --><br \/>\n <ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block;\" data-ad-client=\"ca-pub-8125416953923865\" data-ad-slot=\"1244541375\" data-ad-format=\"auto\"><\/ins><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lanjutan - Pengatar 2. Dipersatukan oleh keprihatinan yang sama. 7. Pernyataan-pernyataan beberapa Paus ini mengge- makan refleksi banyak ilmuwan, filsuf, teolog, dan masya- rakat sipil, yang semuanya telah memperkaya pemikiran Gereja tentang soal ini. Di luar Gereja Katolik, Gereja dan komunitas Kristen lain\u2014dan juga agama-agama lain\u2014telah menyatakan keprihatinan mendalam dan menawarkan re- fleksi berharga tentang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[3],"class_list":["post-23","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pengantar","tag-pengantar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/laudatosi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/laudatosi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/laudatosi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/laudatosi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/laudatosi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/laudatosi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2379,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/laudatosi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23\/revisions\/2379"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/laudatosi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/laudatosi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/laudatosi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}