{"id":5215,"date":"2018-10-17T20:56:51","date_gmt":"2018-10-17T13:56:51","guid":{"rendered":"http:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/?p=5215"},"modified":"2018-10-17T20:56:51","modified_gmt":"2018-10-17T13:56:51","slug":"sd6-tema-3-4-literasi-penemu-yang-mengubah-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/sd6-tema-3-4-literasi-penemu-yang-mengubah-dunia\/","title":{"rendered":"SD6 Tema 3-4 &#8211; Literasi Penemu yang mengubah dunia"},"content":{"rendered":"<button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca &amp; Dengarkan!<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"SD6 Tema 3-4 - Literasi Penemu yang mengubah dunia. Aku Cinta\u00a0Membaca. Laba-laba\u00a0Buncit - Cerita Rakyat Malaysia. Di sebuah hutan tinggal seekor laba-laba. Sarangnya lebih besar dari sarang laba-laba lain. Dulu, sarang itu dibuat oleh ayahnya, lalu ia menambah luas sarangnya. Laba-laba itu selalu bergerak di sarangnya untuk menangkap\u00a0mangsanya. Semua yang ditangkap segera dimakannya. Badannya semakin hari\u00a0semakin\u00a0besar.\u00a0Perutnya\u00a0juga,\u00a0semakin\u00a0hari\u00a0semakin\u00a0buncit\u00a0karena\u00a0banyak makan. Suatu\u00a0hari,\u00a0datang\u00a0dua\u00a0ekor\u00a0laba-laba\u00a0temannya.\u00a0Satu\u00a0datang\u00a0dari\u00a0arah\u00a0Timur, satu lagi datang dari arah Barat. Kedua laba-laba tersebut ingin menjemput si laba-laba buncit untuk datang ke pesta undangan. Namun, pesta\u00a0undangan diadakan di waktu yang sama. Laba-laba buncit jadi bingung. Ia ingin hadir di kedua pesta, tetapi ia bingung harus memilih yang mana. Tetapi ia lalu mempunyai\u00a0akal!\u00a0Laba-laba\u00a0buncit\u00a0memberi\u00a0ujung\u00a0tali\u00a0kepada\u00a0kedua\u00a0temannya. Tali itu ia lilitkan juga di pinggangnya, supaya tidak terlepas. Ia minta\u00a0kedua temannya pergi lebih dahulu ke pesta undangan. Apabila makanan sudah dihidangkan ia meminta temannya menarik tali yang dibawanya. \u00a0Laba- laba buncit akan segera menyusul ke lokasi undangan yang lebih dahulu\u00a0menyediakan\u00a0makan. Maka, kedua teman laba-laba pun pergi. Satu ke Timur, satu lagi ke Barat. Ternyata\u00a0makanan\u00a0dihidangkan\u00a0di\u00a0kedua\u00a0lokasi\u00a0pada\u00a0waktu\u00a0yang\u00a0sama!\u00a0Laba- laba\u00a0di\u00a0Timur\u00a0menarik\u00a0tali,\u00a0bersamaan\u00a0pula\u00a0laba-laba\u00a0di\u00a0Barat\u00a0menarik\u00a0juga\u00a0tali tersebut.\u00a0Laba-laba\u00a0buncit\u00a0terjerat\u00a0tarikan\u00a0tali\u00a0di\u00a0bagian\u00a0pinggangnya.\u00a0Ia\u00a0tidak dapat\u00a0bergerak\u00a0ke\u00a0Timur\u00a0maupun\u00a0ke\u00a0Barat.\u00a0Oleh\u00a0karena\u00a0laba-laba\u00a0buncit\u00a0tidak kunjung datang, kedua temannya terus menarik ujung tali semakin kencang. Mereka menarik tali sambil makan di tempat\u00a0pesta. Usai\u00a0pesta,\u00a0kedua\u00a0teman\u00a0laba-laba\u00a0datang\u00a0kembali\u00a0ke\u00a0sarang\u00a0laba-laba\u00a0buncit. Mereka menemui laba-laba buncit sudah lemas terduduk di sarang dengan tali mengikat kencang di pinggangnya. Sejak saat itu, laba-laba buncit tidak lagi merasa selalu lapar, makannya juga tidak sebanyak dulu lagi. Pinggang laba-laba\u00a0tidak\u00a0lagi\u00a0buncit.\u00a0Perutnya\u00a0ramping\u00a0karena\u00a0terjerat\u00a0tali.\u00a0Hingga\u00a0saat ini, pinggang laba-laba kecil dan\u00a0ramping. Khek dan\u00a0Keledai - Cerita Rakyat Kamboja. Di \u00a0Kamboja \u00a0hidup \u00a0seorang \u00a0\u00a0laki-laki\u00a0bernama \u00a0Khek.\u00a0Ia\u00a0tinggal\u00a0bersama\u00a0seorang\u00a0anak\u00a0laki-lakinya.\u00a0Suatu\u00a0hari,\u00a0Khek\u00a0ingin\u00a0menjual\u00a0keledainya.\u00a0Maka,\u00a0ia\u00a0pun\u00a0mengajak\u00a0anak\u00a0laki-lakinya\u00a0ke\u00a0pasar\u00a0untuk\u00a0menjual\u00a0si keledai. Khek berpikir untuk menjaga\u00a0keledainya\u00a0baik-baik\u00a0selama\u00a0perjalanan,\u00a0agar\u00a0harga\u00a0jualnya\u00a0tinggi.\u00a0Maka,\u00a0Khek\u00a0menggendong si keledai di punggungnya, agar si\u00a0keledai tidak lelah berjalan ke pasar. Orang-orang yang mereka temui sepanjang \u00a0perjalanan menertawakan Khek. \u201cKamu ada-ada saja, Khek! Keledai untuk ditunggangi, bukan untuk digendong,\u201d begitu kata mereka.\u00a0Khek menurunkan si keledai dari pungungnya. Lalu, ia meminta anak laki-lakinya menunggangi keledai sementara ia sendiri berjalan menuntun si keledai. Kemudian,\u00a0mereka\u00a0bertemu\u00a0lagi\u00a0dengan\u00a0sekelompok\u00a0orang di jalan. \u201cAnakmu sungguh kurang ajar, Khek. Betapa teganya ia membiarkan ayahnya menuntun keledai, sementara \u00a0ia \u00a0enak \u00a0duduk \u00a0santai \u00a0\u00a0menunggang keledai,\u201d kata\u00a0mereka. Mendengar perkataan kelompok tersebut, Khek memutuskan untuk menungganggi keledai berdua dengan anaknya. Baru saja berjalan beberapa langkah, ada lagi seseorang yang menegur mereka. \u201cKhek, kamu ini bodoh sekali! Tubuh keledai kecil. Jangan samakan\u00a0keledai dengan kuda. Keledaimu akan lemas kelelahan karena\u00a0ditunggangi oleh dua orang. Lemas sudah nanti keledaimu di pasar.\u201d Akhirnya Khek dan anak\u00a0laki-lakinya\u00a0turun\u00a0dari keledai. \u201cSudahlah nak, kita\u00a0tuntun\u00a0saja\u00a0keledai ini. Kita berdua berjalan kaki\u00a0saja.\u00a0Kita\u00a0lakukan\u00a0saja\u00a0yang\u00a0terbaik\u00a0menurut\u00a0kita.\u00a0Kita\u00a0tidak\u00a0dapat mendengarkan dan mengikuti pendapat\u00a0semua orang,\u201d Khek berkata pada anaknya. Khek dan anak laki-lakinya berjalan perlahan sambil menuntun si keledai hingga sampai di pasar. Tak dipedulikan lagi apa yang dikatakan orang sepanjang sisa perjalanan mereka. Ternyata, Khek berhasil menjual si keledai dengan harga yang pantas di pasar. Khek dan anak laki-lakinya pun pulang dengan tersenyum senang. Mari \u00a0Menghargai\u00a0Waktu Oleh: Santi Hendriyeti Senang\u00a0tak\u00a0terkira\u00a0hati\u00a0Lumu.\u00a0Ia\u00a0terpilih\u00a0mewakili\u00a0sekolahnya\u00a0untuk\u00a0ikut\u00a0dalam kegiatan Perkemahan Sains di kabupaten. Tak sia-sia rasanya. Kecintaannya pada sains akan membawanya bertemu teman-teman baru -sesama pencinta sains- dari berbagai daerah. Sudah terbayang olehnya, pasti kegiatan perkemahan tersebut akan ramai dan\u00a0seru. Hari\u00a0itu,\u00a0lokasi\u00a0perkemahan\u00a0ramai\u00a0oleh\u00a0anak-anak\u00a0dari\u00a0berbagai\u00a0daerah.\u00a0Lumu akan tinggal di dalam sebuah tenda, bersama beberapa teman barunya. Juna, Irawan, dan Dino adalah beberapa teman yang dikenalnya di sana. Mereka berempat langsung akrab, ramai bercerita tentang daerah\u00a0masing-masing. Walaupun dikemas dalam bentuk perkemahan yang menyenangkan, namun disiplin peserta tetap diperhatikan. Dini hari, para peserta diwajibkan berkumpul\u00a0di\u00a0lapangan\u00a0untuk\u00a0olahraga\u00a0pagi.\u00a0Bahkan\u00a0ada\u00a0pencatatan\u00a0kehadiran untuk tiap\u00a0kegiatan. Dingin udara pagi terasa menusuk, namun bel tanda berkumpul sudah dibunyikan. Segera Lumu membangunkan teman-teman setendanya. Sambil menguap\u00a0malas,\u00a0melepas\u00a0bungkus\u00a0selimut\u00a0mereka\u00a0perlahan\u00a0keluar\u00a0berkumpul di\u00a0lapangan.\u00a0Setelah\u00a0senam\u00a0pagi\u00a0dimulai,\u00a0tubuh\u00a0mulai\u00a0terasa\u00a0hangat.\u00a0Ditambah lagi dengan hangatnya perut akibat menu sarapan bubur kacang hijau yang disediakan panitia. Kantuk tak lagi terasa. Bergegas Lumu dan teman-teman kembali\u00a0ke\u00a0tenda\u00a0untuk\u00a0mandi\u00a0pagi.\u00a0Setelahnya\u00a0mereka\u00a0harus\u00a0berkumpul\u00a0lagi memulai kegiatan jelajah\u00a0sains. Bergantian\u00a0Lumu,\u00a0Irawan,\u00a0dan\u00a0Dino\u00a0mandi\u00a0di\u00a0deretan\u00a0kamar\u00a0mandi\u00a0perkemahan. Sampai di tenda, mereka melihat Juna meringkuk lelap di balik selimut. \u201cHai,\u00a0Juna.\u00a0Ayo,\u00a0mandi\u00a0pagi.\u00a010\u00a0menit\u00a0lagi\u00a0kita\u00a0harus\u00a0berkumpul\u00a0di\u00a0tenda\u00a0jelajah sains\u201d ujar Lumu\u00a0mengingatkan Bergeming Juna di balik selimutnya. Hanya gumaman pelan yang terdengar. \u201cAh, aku ngantuk sekali. Biar saja, \u2018kan tadi kita sudah mengisi lembar catatan kehadiran pagi. Di antara peserta sebanyak ini, tidak ada yang tahu aku tidak hadir. Nanti saja agak siang aku menyelinap ke sana. \u201c ujar Juna malas. \u201cWah, kok begitu, Juna? tukas Dino. \u201cRugi dong. Kamu sudah sampai di sini, tetapi tidak memanfaatkan waktu dengan baik. \u201c tambahnya. \u201cIya,\u00a0Juna.\u00a0Rugi.\u201d\u00a0timpal\u00a0Irawan.\u00a0\u201cMemang\u00a0sih,\u00a0mungkin\u00a0tidak\u00a0ada\u00a0yang\u00a0tahu kamu\u00a0tidak\u00a0hadir.\u00a0Tetapi\u00a0apa\u00a0gunanya\u00a0kita\u00a0di\u00a0sini\u00a0kalau\u00a0hanya\u00a0untuk\u00a0mencatat nama di daftar kehadiran ?\u201d tanyanya. \u201cItu \u2018kan namanya kamu mengorupsi waktu,\u00a0Juna.\u201d\u00a0tambah\u00a0Irawan\u00a0lugas.\u00a0\u201cWaktu\u00a0yang\u00a0seharusnya\u00a0kamu\u00a0manfaatkan untuk\u00a0menambah\u00a0ilmu,\u00a0malah\u00a0kamu\u00a0pergunakan\u00a0untuk\u00a0menambah\u00a0tidur.\u00a0Apa yang akan kamu bagikan kepada teman-temanmu setelah pulang nanti?\u201d\u00a0Irawan terus berbicara pada\u00a0Juna. \u201cIya,\u00a0Juna.\u00a0Pasti\u00a0ada\u00a0alasan\u00a0yang\u00a0baik,\u00a0sehingga\u00a0sekolahmu\u00a0mempercayai\u00a0kamu untuk hadir di sini. Jangan membuang kesempatan, jangan mengecewakan teman-teman yang menunggumu pulang untuk berbagi ilmu.\u201d Lumu ikut menambahkan. \u201cAaah..kalian ini. Manalah aku dapat tidur kalau kalian berisik sekali berbicara bersahutan.\u201d tukas Juna sambil menyibak selimutnya. Juna tidak marah,\u00a0ia bahkan tersenyum. \u201cTetapi memang benar apa yang kalian katakan,\u201dujarnya. \u201cTidak sepantasnya aku hanya mencantumkan nama di daftar hadir. Aku ini utusan sekolah. Tidak patut aku mengorupsi waktu hanya untuk menambah waktu tidurku. Untung saja aku kenal dengan kalian, teman-teman \u00a0baruku yang kritis. \u201dtambah Juna, bergegas berdiri. \u201cBeri aku waktu 7 menit, ya! Aku segera menyusul kalian di tenda jelajah sains!\u201d teriak Juna sambil berlari ke kamar\u00a0mandi. Lumu senang menjadi bagian dalam Perkemahan Sains. Memang banyak hal yang dapat dipelajari di sana. Teman baru, ilmu baru, dan tentunya ... menghargai\u00a0waktu. Kertas, Penemuan Sederhana yang Kaya Manfaat. Oleh: Aiko\u00a0Humaira. Kertas adalah suatu bahan yang tipis dan rata, dan terbuat dari pulp. Pulp sendiri merupakan bahan baku kertas yang merupakan hasil pemisahan serat.\u00a0Kertas\u00a0berasal\u00a0dari\u00a0Cina\u00a0Kuno,\u00a0dan\u00a0fungsi\u00a0utamanya\u00a0dulu\u00a0adalah\u00a0untuk membersihkan kotoran setelah buang air. Dulu, hanya orang kaya yang mampu membeli kertas. Berapa beruntungnya kita karena sekarang mudah sekali mendapatkan kertas. Kertas memiliki 1001 manfaat. Untuk menulis, mencetak, membuat prakarya, dan kertas juga bahan utama dari tisu yang manfaat utamanya adalah untuk\u00a0membersihkan. Coba, bayangkan sebuah dunia tanpa kertas. Jika ingin menulis cerita, atau membuat PR, harus mencari batu besar dulu, dan harus susah payah menulis \u00a0dengan \u00a0batu \u00a0lain. \u00a0Kita \u00a0tidak dapat\u00a0membuat\u00a0kartu\u00a0ucapan\u00a0untuk\u00a0ulang\u00a0tahun\u00a0ayah, atau\u00a0mainan\u00a0pesawat\u00a0untuk\u00a0teman\u00a0dekat\u00a0kita.\u00a0Kita\u00a0juga tidak\u00a0akan\u00a0dapat\u00a0melukis\u00a0imajinasi\u00a0yang\u00a0muncul di benak kita, atau pemandangan yang kita lihat dengan mata kita sendiri. Kita tidak akan mampu mencetak foto keluarga saat jalan-jalan atau foto- foto teman-teman saat perpisahan sekolah. Kita tidak akan dapat membersihkan saus yang kita tidak sengaja kita senggol saat sedang makan. Jadi, kertas sangatlah bermanfaat. \u00a0Janganlah \u00a0membuang- buang\u00a0kertas\u00a0jika\u00a0masih\u00a0dapat\u00a0dipakai.\u00a0Jika\u00a0sudah\u00a0tidak\u00a0dapat\u00a0dipakai pun,\u00a0sebenarnya\u00a0masih\u00a0dapat\u00a0didaur\u00a0ulang\u00a0lagi.\u00a0Akan\u00a0sangat\u00a0sulit untuk hidup tanpa kertas. Padahal untuk menghasilkan kertas, ada banyak pohon yang harus dikorbankan. Jadi, ayo kita ingat untuk menggunakan kertas dengan baik dan\u00a0bijaksana. Ibu Puni, Membawa Listrik ke Pedalaman. Oleh: Amanda Najla. Tri\u00a0Mumpuni\u00a0Wiyatno,\u00a0nama\u00a0lengkapnya.\u00a0Ia\u00a0adalah\u00a0seorang\u00a0wanita\u00a0Indonesia yang mengabdikan dirinya agar masyarakat Indonesia di pedalaman dapat menikmati\u00a0listrik. Sebagai anak ke-3 dari delapan bersaudara, sejak kelas 4 SD Ibu Puni\u00a0sering menemani ibunya membantu warga desa yang menderita penyakit kulit.\u00a0\u201cPengalaman saya menemani Ibu itu sangat membekas dalam ingatan saya. Dari\u00a0pengalaman\u00a0itu\u00a0saya\u00a0belajar\u00a0bahwa\u00a0uang\u00a0bukanlah\u00a0segalanya.\u00a0Membantu saudara-saudara setanah air agar merasakan sedikit \u00a0saja \u00a0kesejahteraan \u00a0yang kita miliki, itu sangat berarti,\u201d begitu Ibu Puni berkilas balik tentang pengalamannya. Bersama suaminya, Bapak Iskandar Kuntoadji, Ibu Puni membantu warga di pedalaman yang tak tersentuh program pemerintah, untuk membangun sendiri listrik mereka dari sumber daya yang ada di desa itu, yaitu dengan membuat generator mikrohidro energi dari arus\u00a0sungai. Apa yang Ibu Puni kerjakan ini bukanlah hal yang mudah. Bukan teknologinya yang\u00a0sulit,\u00a0tetapi\u00a0membangun\u00a0semangat\u00a0penduduk\u00a0desa\u00a0pedalaman\u00a0agar\u00a0mau mengelola diri masing-masing sebagai suatu bagian dari komunitas, belajar bersama tentang listrik, berusaha mencari dana untuk kepentingan bersama. Tak kalah sulitnya, setelah dana terkumpul dan tenaga listrik mulai dapat dinikmati,\u00a0warga\u00a0harus\u00a0dilatih\u00a0untuk\u00a0memelihara\u00a0generator\u00a0agar\u00a0kelangsungan tenaga listrik\u00a0terjaga. Hasil\u00a0kerja\u00a0keras\u00a0Ibu\u00a0Puni\u00a0membangun\u00a0kemandirian\u00a0masyarakat\u00a0di\u00a0pedalaman membuahkan hasil yang manis. Saat ini, ratusan desa yang merasakan manfaat dari adanya tenaga listrik. Anak-anak dapat belajar dan membaca\u00a0di malam hari. Bahkan warga desa dapat mulai membangun industri rumahan dan mengembangkan perekonomian\u00a0desanya. Untuk jasanya, Ibu Puni menerima beberapa penghargaan dari badan dunia seperti WWF dan PBB, termasuk juga terpilih sebagai salah satu pembawa obor dalam Olimpiade di Beijing, tahun\u00a02008.\", \"Indonesian Female\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    \n<h3>SD6 Tema 3-4 &#8211; Literasi Penemu yang mengubah dunia.<\/h3>\n<p>Aku Cinta\u00a0Membaca.<\/p>\n<h6><strong>Laba-laba\u00a0Buncit &#8211; Cerita Rakyat Malaysia.<\/strong><\/h6>\n<p>Di sebuah hutan tinggal seekor laba-laba. Sarangnya lebih besar dari sarang laba-laba lain. Dulu, sarang itu dibuat oleh ayahnya, lalu ia menambah luas sarangnya. Laba-laba itu selalu bergerak di sarangnya untuk menangkap\u00a0mangsanya. Semua yang ditangkap segera dimakannya. Badannya semakin hari\u00a0semakin\u00a0besar.\u00a0Perutnya\u00a0juga,\u00a0semakin\u00a0hari\u00a0semakin\u00a0buncit\u00a0karena\u00a0banyak makan.<\/p>\n<p>Suatu\u00a0hari,\u00a0datang\u00a0dua\u00a0ekor\u00a0laba-laba\u00a0temannya.\u00a0Satu\u00a0datang\u00a0dari\u00a0arah\u00a0Timur, satu lagi datang dari arah Barat. Kedua laba-laba tersebut ingin menjemput si laba-laba buncit untuk datang ke pesta undangan. Namun, pesta\u00a0undangan diadakan di waktu yang sama. Laba-laba buncit jadi bingung. Ia ingin hadir di kedua pesta, tetapi ia bingung harus memilih yang mana. Tetapi ia lalu mempunyai\u00a0akal!\u00a0Laba-laba\u00a0buncit\u00a0memberi\u00a0ujung\u00a0tali\u00a0kepada\u00a0kedua\u00a0temannya. Tali itu ia lilitkan juga di pinggangnya, supaya tidak terlepas. Ia minta\u00a0kedua temannya pergi lebih dahulu ke pesta undangan. Apabila makanan sudah dihidangkan ia meminta temannya menarik tali yang dibawanya. \u00a0Laba- laba buncit akan segera menyusul ke lokasi undangan yang lebih dahulu\u00a0menyediakan\u00a0makan.<\/p>\n<p>Maka, kedua teman laba-laba pun pergi. Satu ke Timur, satu lagi ke Barat. Ternyata\u00a0makanan\u00a0dihidangkan\u00a0di\u00a0kedua\u00a0lokasi\u00a0pada\u00a0waktu\u00a0yang\u00a0sama!\u00a0Laba- laba\u00a0di\u00a0Timur\u00a0menarik\u00a0tali,\u00a0bersamaan\u00a0pula\u00a0laba-laba\u00a0di\u00a0Barat\u00a0menarik\u00a0juga\u00a0tali tersebut.\u00a0Laba-laba\u00a0buncit\u00a0terjerat\u00a0tarikan\u00a0tali\u00a0di\u00a0bagian\u00a0pinggangnya.\u00a0Ia\u00a0tidak dapat\u00a0bergerak\u00a0ke\u00a0Timur\u00a0maupun\u00a0ke\u00a0Barat.\u00a0Oleh\u00a0karena\u00a0laba-laba\u00a0buncit\u00a0tidak kunjung datang, kedua temannya terus menarik ujung tali semakin kencang. Mereka menarik tali sambil makan di tempat\u00a0pesta.<\/p>\n<p>Usai\u00a0pesta,\u00a0kedua\u00a0teman\u00a0laba-laba\u00a0datang\u00a0kembali\u00a0ke\u00a0sarang\u00a0laba-laba\u00a0buncit. Mereka menemui laba-laba buncit sudah lemas terduduk di sarang dengan tali mengikat kencang di pinggangnya. Sejak saat itu, laba-laba buncit tidak lagi merasa selalu lapar, makannya juga tidak sebanyak dulu lagi. Pinggang laba-laba\u00a0tidak\u00a0lagi\u00a0buncit.\u00a0Perutnya\u00a0ramping\u00a0karena\u00a0terjerat\u00a0tali.\u00a0Hingga\u00a0saat ini, pinggang laba-laba kecil dan\u00a0ramping.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr \/>\n<h6><strong>Khek dan\u00a0Keledai &#8211; Cerita Rakyat Kamboja.<\/strong><\/h6>\n<p>Di \u00a0Kamboja \u00a0hidup \u00a0seorang \u00a0\u00a0laki-laki\u00a0bernama \u00a0Khek.\u00a0Ia\u00a0tinggal\u00a0bersama\u00a0seorang\u00a0anak\u00a0laki-lakinya.\u00a0Suatu\u00a0hari,\u00a0Khek\u00a0ingin\u00a0menjual\u00a0keledainya.\u00a0Maka,\u00a0ia\u00a0pun\u00a0mengajak\u00a0anak\u00a0laki-lakinya\u00a0ke\u00a0pasar\u00a0untuk\u00a0menjual\u00a0si keledai. Khek berpikir untuk menjaga\u00a0keledainya\u00a0baik-baik\u00a0selama\u00a0perjalanan,\u00a0agar\u00a0harga\u00a0jualnya\u00a0tinggi.\u00a0Maka,\u00a0Khek\u00a0menggendong si keledai di punggungnya, agar si\u00a0keledai tidak lelah berjalan ke pasar.<\/p>\n<p>Orang-orang yang mereka temui sepanjang \u00a0perjalanan menertawakan Khek. \u201cKamu ada-ada saja, Khek! Keledai untuk ditunggangi, bukan untuk digendong,\u201d begitu kata mereka.\u00a0Khek menurunkan si keledai dari pungungnya. Lalu, ia meminta anak laki-lakinya menunggangi keledai sementara ia sendiri berjalan menuntun si keledai.<\/p>\n<p>Kemudian,\u00a0mereka\u00a0bertemu\u00a0lagi\u00a0dengan\u00a0sekelompok\u00a0orang di jalan. \u201cAnakmu sungguh kurang ajar, Khek. Betapa teganya ia membiarkan ayahnya menuntun keledai, sementara \u00a0ia \u00a0enak \u00a0duduk \u00a0santai \u00a0\u00a0menunggang keledai,\u201d kata\u00a0mereka.<\/p>\n<p>Mendengar perkataan kelompok tersebut, Khek memutuskan untuk menungganggi keledai berdua dengan anaknya. Baru saja berjalan beberapa langkah, ada lagi seseorang yang menegur mereka. \u201cKhek, kamu ini bodoh sekali! Tubuh keledai kecil. Jangan samakan\u00a0keledai dengan kuda. Keledaimu akan lemas kelelahan karena\u00a0ditunggangi oleh dua orang. Lemas sudah nanti keledaimu di pasar.\u201d<\/p>\n<p>Akhirnya Khek dan anak\u00a0laki-lakinya\u00a0turun\u00a0dari keledai. \u201cSudahlah nak, kita\u00a0tuntun\u00a0saja\u00a0keledai ini. Kita berdua berjalan kaki\u00a0saja.\u00a0Kita\u00a0lakukan\u00a0saja\u00a0yang\u00a0terbaik\u00a0menurut\u00a0kita.\u00a0Kita\u00a0tidak\u00a0dapat mendengarkan dan mengikuti pendapat\u00a0semua orang,\u201d Khek berkata pada anaknya.<\/p>\n<p>Khek dan anak laki-lakinya berjalan perlahan sambil menuntun si keledai hingga sampai di pasar. Tak dipedulikan lagi apa yang dikatakan orang sepanjang sisa perjalanan mereka. Ternyata, Khek berhasil menjual si keledai dengan harga yang pantas di pasar. Khek dan anak laki-lakinya pun pulang dengan tersenyum senang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr \/>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4>Mari \u00a0Menghargai\u00a0Waktu<\/h4>\n<p>Oleh<strong><b>: Santi Hendriyeti<\/b><\/strong><b><\/b><\/p>\n<p>Senang\u00a0tak\u00a0terkira\u00a0hati\u00a0Lumu.\u00a0Ia\u00a0terpilih\u00a0mewakili\u00a0sekolahnya\u00a0untuk\u00a0ikut\u00a0dalam kegiatan Perkemahan Sains di kabupaten. Tak sia-sia rasanya. Kecintaannya pada sains akan membawanya bertemu teman-teman baru -sesama pencinta sains- dari berbagai daerah. Sudah terbayang olehnya, pasti kegiatan perkemahan tersebut akan ramai dan\u00a0seru.<\/p>\n<p>Hari\u00a0itu,\u00a0lokasi\u00a0perkemahan\u00a0ramai\u00a0oleh\u00a0anak-anak\u00a0dari\u00a0berbagai\u00a0daerah.\u00a0Lumu akan tinggal di dalam sebuah tenda, bersama beberapa teman barunya. Juna, Irawan, dan Dino adalah beberapa teman yang dikenalnya di sana. Mereka berempat langsung akrab, ramai bercerita tentang daerah\u00a0masing-masing.<\/p>\n<p>Walaupun dikemas dalam bentuk perkemahan yang menyenangkan, namun disiplin peserta tetap diperhatikan. Dini hari, para peserta diwajibkan berkumpul\u00a0di\u00a0lapangan\u00a0untuk\u00a0olahraga\u00a0pagi.\u00a0Bahkan\u00a0ada\u00a0pencatatan\u00a0kehadiran untuk tiap\u00a0kegiatan.<\/p>\n<p>Dingin udara pagi terasa menusuk, namun bel tanda berkumpul sudah dibunyikan. Segera Lumu membangunkan teman-teman setendanya. Sambil menguap\u00a0malas,\u00a0melepas\u00a0bungkus\u00a0selimut\u00a0mereka\u00a0perlahan\u00a0keluar\u00a0berkumpul di\u00a0lapangan.\u00a0Setelah\u00a0senam\u00a0pagi\u00a0dimulai,\u00a0tubuh\u00a0mulai\u00a0terasa\u00a0hangat.\u00a0Ditambah lagi dengan hangatnya perut akibat menu sarapan bubur kacang hijau yang disediakan panitia. Kantuk tak lagi terasa. Bergegas Lumu dan teman-teman kembali\u00a0ke\u00a0tenda\u00a0untuk\u00a0mandi\u00a0pagi.\u00a0Setelahnya\u00a0mereka\u00a0harus\u00a0berkumpul\u00a0lagi memulai kegiatan jelajah\u00a0sains.<\/p>\n<p>Bergantian\u00a0Lumu,\u00a0Irawan,\u00a0dan\u00a0Dino\u00a0mandi\u00a0di\u00a0deretan\u00a0kamar\u00a0mandi\u00a0perkemahan. Sampai di tenda, mereka melihat Juna meringkuk lelap di balik selimut.<\/p>\n<p>\u201cHai,\u00a0Juna.\u00a0Ayo,\u00a0mandi\u00a0pagi.\u00a010\u00a0menit\u00a0lagi\u00a0kita\u00a0harus\u00a0berkumpul\u00a0di\u00a0tenda\u00a0jelajah sains\u201d ujar Lumu\u00a0mengingatkan<\/p>\n<p>Bergeming Juna di balik selimutnya. Hanya gumaman pelan yang terdengar.<\/p>\n<p>\u201cAh, aku ngantuk sekali. Biar saja, \u2018kan tadi kita sudah mengisi lembar catatan kehadiran pagi. Di antara peserta sebanyak ini, tidak ada yang tahu aku tidak hadir. Nanti saja agak siang aku menyelinap ke sana. \u201c ujar Juna malas.<\/p>\n<p>\u201cWah, kok begitu, Juna? tukas Dino. \u201cRugi dong. Kamu sudah sampai di sini, tetapi tidak memanfaatkan waktu dengan baik. \u201c tambahnya.<\/p>\n<p>\u201cIya,\u00a0Juna.\u00a0Rugi.\u201d\u00a0timpal\u00a0Irawan.\u00a0\u201cMemang\u00a0sih,\u00a0mungkin\u00a0tidak\u00a0ada\u00a0yang\u00a0tahu kamu\u00a0tidak\u00a0hadir.\u00a0Tetapi\u00a0apa\u00a0gunanya\u00a0kita\u00a0di\u00a0sini\u00a0kalau\u00a0hanya\u00a0untuk\u00a0mencatat nama di daftar kehadiran ?\u201d tanyanya. \u201cItu \u2018kan namanya kamu mengorupsi waktu,\u00a0Juna.\u201d\u00a0tambah\u00a0Irawan\u00a0lugas.\u00a0\u201cWaktu\u00a0yang\u00a0seharusnya\u00a0kamu\u00a0manfaatkan untuk\u00a0menambah\u00a0ilmu,\u00a0malah\u00a0kamu\u00a0pergunakan\u00a0untuk\u00a0menambah\u00a0tidur.\u00a0Apa yang akan kamu bagikan kepada teman-temanmu setelah pulang nanti?\u201d\u00a0Irawan terus berbicara pada\u00a0Juna.<\/p>\n<p>\u201cIya,\u00a0Juna.\u00a0Pasti\u00a0ada\u00a0alasan\u00a0yang\u00a0baik,\u00a0sehingga\u00a0sekolahmu\u00a0mempercayai\u00a0kamu untuk hadir di sini. Jangan membuang kesempatan, jangan mengecewakan teman-teman yang menunggumu pulang untuk berbagi ilmu.\u201d Lumu ikut menambahkan.<\/p>\n<p>\u201cAaah..kalian ini. Manalah aku dapat tidur kalau kalian berisik sekali berbicara bersahutan.\u201d tukas Juna sambil menyibak selimutnya. Juna tidak marah,\u00a0ia bahkan tersenyum. \u201cTetapi memang benar apa yang kalian katakan,\u201dujarnya. \u201cTidak sepantasnya aku hanya mencantumkan nama di daftar hadir. Aku ini utusan sekolah. Tidak patut aku mengorupsi waktu hanya untuk menambah waktu tidurku. Untung saja aku kenal dengan kalian, teman-teman \u00a0baruku yang kritis. \u201dtambah Juna, bergegas berdiri. \u201cBeri aku waktu 7 menit, ya! Aku segera menyusul kalian di tenda jelajah sains!\u201d teriak Juna sambil berlari ke kamar\u00a0mandi.<\/p>\n<p>Lumu senang menjadi bagian dalam Perkemahan Sains. Memang banyak hal yang dapat dipelajari di sana. Teman baru, ilmu baru, dan tentunya &#8230; menghargai\u00a0waktu.<\/p>\n<hr \/>\n<h6><\/h6>\n<h6><strong>Kertas, Penemuan Sederhana yang Kaya Manfaat.<\/strong><\/h6>\n<p>Oleh: Aiko\u00a0Humaira.<\/p>\n<p>Kertas adalah suatu bahan yang tipis dan rata, dan terbuat dari pulp. Pulp sendiri merupakan bahan baku kertas yang merupakan hasil pemisahan serat.\u00a0Kertas\u00a0berasal\u00a0dari\u00a0Cina\u00a0Kuno,\u00a0dan\u00a0fungsi\u00a0utamanya\u00a0dulu\u00a0adalah\u00a0untuk membersihkan kotoran setelah buang air. Dulu, hanya orang kaya yang mampu membeli kertas. Berapa beruntungnya kita karena sekarang mudah sekali mendapatkan kertas. Kertas memiliki 1001 manfaat. Untuk menulis, mencetak, membuat prakarya, dan kertas juga bahan utama dari tisu yang manfaat utamanya adalah untuk\u00a0membersihkan.<\/p>\n<p>Coba, bayangkan sebuah dunia tanpa kertas. Jika ingin menulis cerita, atau membuat PR, harus mencari batu besar dulu, dan harus susah payah menulis \u00a0dengan \u00a0batu \u00a0lain. \u00a0Kita \u00a0tidak dapat\u00a0membuat\u00a0kartu\u00a0ucapan\u00a0untuk\u00a0ulang\u00a0tahun\u00a0ayah,<\/p>\n<p>atau\u00a0mainan\u00a0pesawat\u00a0untuk\u00a0teman\u00a0dekat\u00a0kita.\u00a0Kita\u00a0juga tidak\u00a0akan\u00a0dapat\u00a0melukis\u00a0imajinasi\u00a0yang\u00a0muncul<\/p>\n<p>di benak kita, atau pemandangan yang kita lihat dengan mata kita sendiri. Kita tidak akan mampu mencetak foto keluarga saat jalan-jalan atau foto- foto teman-teman saat perpisahan sekolah. Kita tidak akan dapat membersihkan saus yang kita tidak sengaja kita senggol saat sedang makan.<\/p>\n<p>Jadi, kertas sangatlah bermanfaat. \u00a0Janganlah \u00a0membuang- buang\u00a0kertas\u00a0jika\u00a0masih\u00a0dapat\u00a0dipakai.\u00a0Jika\u00a0sudah\u00a0tidak\u00a0dapat\u00a0dipakai pun,\u00a0sebenarnya\u00a0masih\u00a0dapat\u00a0didaur\u00a0ulang\u00a0lagi.\u00a0Akan\u00a0sangat\u00a0sulit untuk hidup tanpa kertas. Padahal untuk menghasilkan kertas, ada banyak pohon yang harus dikorbankan. Jadi, ayo kita ingat untuk menggunakan kertas dengan baik dan\u00a0bijaksana.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr \/>\n<h6>Ibu Puni, Membawa Listrik ke Pedalaman.<br \/>\nOleh: Amanda Najla.<\/h6>\n<p>Tri\u00a0Mumpuni\u00a0Wiyatno,\u00a0nama\u00a0lengkapnya.\u00a0Ia\u00a0adalah\u00a0seorang\u00a0wanita\u00a0Indonesia yang mengabdikan dirinya agar masyarakat Indonesia di pedalaman dapat menikmati\u00a0listrik.<\/p>\n<p>Sebagai anak ke-3 dari delapan bersaudara, sejak kelas 4 SD Ibu Puni\u00a0sering menemani ibunya membantu warga desa yang menderita penyakit kulit.\u00a0\u201cPengalaman saya menemani Ibu itu sangat membekas dalam ingatan saya. Dari\u00a0pengalaman\u00a0itu\u00a0saya\u00a0belajar\u00a0bahwa\u00a0uang\u00a0bukanlah\u00a0segalanya.\u00a0Membantu saudara-saudara setanah air agar merasakan sedikit \u00a0saja \u00a0kesejahteraan \u00a0yang kita miliki, itu sangat berarti,\u201d begitu Ibu Puni berkilas balik tentang pengalamannya.<\/p>\n<p>Bersama suaminya, Bapak Iskandar Kuntoadji, Ibu Puni membantu warga di pedalaman yang tak tersentuh program pemerintah, untuk membangun sendiri listrik mereka dari sumber daya yang ada di desa itu, yaitu dengan membuat generator mikrohidro energi dari arus\u00a0sungai.<\/p>\n<p>Apa yang Ibu Puni kerjakan ini bukanlah hal yang mudah. Bukan teknologinya yang\u00a0sulit,\u00a0tetapi\u00a0membangun\u00a0semangat\u00a0penduduk\u00a0desa\u00a0pedalaman\u00a0agar\u00a0mau<\/p>\n<p>mengelola diri masing-masing sebagai suatu bagian dari komunitas, belajar bersama tentang listrik, berusaha mencari dana untuk kepentingan bersama. Tak kalah sulitnya, setelah dana terkumpul dan tenaga listrik mulai dapat dinikmati,\u00a0warga\u00a0harus\u00a0dilatih\u00a0untuk\u00a0memelihara\u00a0generator\u00a0agar\u00a0kelangsungan tenaga listrik\u00a0terjaga.<\/p>\n<p>Hasil\u00a0kerja\u00a0keras\u00a0Ibu\u00a0Puni\u00a0membangun\u00a0kemandirian\u00a0masyarakat\u00a0di\u00a0pedalaman membuahkan hasil yang manis. Saat ini, ratusan desa yang merasakan manfaat dari adanya tenaga listrik. Anak-anak dapat belajar dan membaca\u00a0di malam hari. Bahkan warga desa dapat mulai membangun industri rumahan dan mengembangkan perekonomian\u00a0desanya.<\/p>\n<p>Untuk jasanya, Ibu Puni menerima beberapa penghargaan dari badan dunia seperti WWF dan PBB, termasuk juga terpilih sebagai salah satu pembawa obor dalam Olimpiade di Beijing, tahun\u00a02008.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SD6 Tema 3-4 &#8211; Literasi Penemu yang mengubah dunia. Aku Cinta\u00a0Membaca. Laba-laba\u00a0Buncit &#8211; Cerita Rakyat Malaysia. Di sebuah hutan tinggal seekor laba-laba. Sarangnya lebih besar dari sarang laba-laba lain. Dulu, sarang itu dibuat oleh ayahnya, lalu ia menambah luas sarangnya. Laba-laba itu selalu bergerak di sarangnya untuk menangkap\u00a0mangsanya. Semua yang ditangkap segera dimakannya. Badannya semakin [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[421,510],"tags":[428,353,95,523],"class_list":["post-5215","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sd6","category-sd6-tema-3","tag-kelas-6","tag-literasi","tag-sd","tag-tema-3"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5215","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5215"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5215\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5216,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5215\/revisions\/5216"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5215"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5215"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5215"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}