{"id":4540,"date":"2018-08-08T20:47:45","date_gmt":"2018-08-08T13:47:45","guid":{"rendered":"http:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/?p=4540"},"modified":"2018-08-08T20:49:51","modified_gmt":"2018-08-08T13:49:51","slug":"contoh-naskah-drama-proklamasi-kemerdekaan-ri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/contoh-naskah-drama-proklamasi-kemerdekaan-ri\/","title":{"rendered":"Contoh Naskah Drama Proklamasi Kemerdekaan RI"},"content":{"rendered":"<button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca &amp; Dengarkan!<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Contoh Naskah Drama Perumusan Proklamasi BABAK I. Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Tanggal 6 Agustus 1945 kota\u00a0Hiroshima\u00a0dijatuhi bom atom oleh Sekutu dan pada tanggal 9 Agustus 1945 giliran Kota\u00a0Nagasaki\u00a0yang dijatuhi oleh bom atom oleh Sekutu pula. Kejadian ini memberikan penderitaan bagi rakyat Jepang. Pasukan Jepang semakin lemah dan pada tanggal 12 Agustus 1945 Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi Adegan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : (Soekarno, Hatta, Radjiman Wedyodiningrat tiba di Dalat dan bersalaman dengan Marsekal Terauchi lalu dipersilahkan masuk ke dalam kantornya dan duduk bersama) Terauchi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dSaudara Sukarno, Hatta, dan Radjiman saya sebagai utusan dari pemerintah Jepang ingin menyampaikan suatu hal yaitu Jepang akan segera memberikan Kemerdekaan kepada Indonesia sesuai dengan janji Perdana Menteri Kuniaki Koiso.\u201d Soekarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dDengan cara apa Jepang akan memberikan pernyataan merdeka kepada Indonesia?\u201d Terauchi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dDengan memproklamirkan kemrdekaan Indonesia dan itu dapat dilaksanakan beberapa hari ke depan tergantung cara kerja PPKI.\u201d Hatta\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201d Benar saya sangat setuju karena PPKI adalah badan yang bertanggung jawab untuk menyusun proklamasi kemerdekaan.\u201d Radjiman\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201d Saya sependapat dengan anda Bung.\u201d(menoleh kepada Hatta) tetapi kita harus tetap menyegerakan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia bung!\u201d Terauchi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dMaaf, tetapi pihak Jepang meminta Proklamasi kemerdekaan dibacakan pada tanggal paling cepat pada tanggal 24 Agustus 1945.\u201d Soekarno\u00a0\u00a0 : \u201dAkan saya pikirkan kembali permintaan anda, karena kami harus membicarakannya dengan PPKI. \u201d Baik kalau begitu kami harus undur diri, terima kasih.\u201d Terauchi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u00a0\u201dBaiklah, hati-hati di jalan.\u201d Adegan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : (Soekarno, Hatta, Radjiman berdiri dan berpamitan dengan Terauci lalu bergegas meninggalkan kantor dari marsekal Terauchi) Narasi\u00a0 : Setelah pembicaraan masalah proklamasi kemerdekaan di Dalat, dua hari kemudian pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat pada sekutu, yang ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Jepang Mamoru Shigemitsu.. BABAK II. Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Berita tentang kekalahan tersebut sangat dirahasiakan oleh Jepang bahkan semua stasiun radio disegel oleh Jepang tetapi tokoh golongan muda yakni Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Adegan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : (Sutan Syahrir, Wikana, Darwis dan Chaerul Saleh sedang mendengarkan radio) Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dKawan-kawan tentara Jepang telah menyerah kepada sekutu, berarti di indonesia terjadi kekosongan kekuasaan.\u201d Kita harus mendesak golongan tua terutama bung Karno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan!\u201d Wikana : \u201dBetul sekali kawan.\u201d Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dTetapi jangan sampai Proklamasi kemrdekaan diproklamirkan oleh PPKI.\u201d Darwis\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dKenapa kau berpendapat demikian sobat?\u201d Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dKarena PPKI adalah badan bentukan Jepang!\u201d Wikana\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dKita tidak ingin ada cmpur tangan Jepang dalam Proklamasi Kemerdekaan!\u201d Chaerul Saleh\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dLalu siapa yang berhak mempoklamirkan kemerdekaan?\u201d Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dBung Karno sebagai pemimpin rakyat, atas nama rakyat dan melalui siaran Radio!\u201d (Syahrir berbicara berapi-api) Chaerul Saleh\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dTetapi permasalahannya apakah bung Karno setuju, beliau kan merupakan ketua PPKI. Darwis\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201d\u00a0Kalau beliau menginginkan naskah Proklamasi tetap disusun oleh PPKI, kita paksa saja dia, kalau perlu......\u201d Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201d\u00a0Kalau perlu apa ? .... Kita harus bicara dulu secara baik-baik dengan beliau wis!\u201d Chaerul Saleh\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201d\u00a0Betul kawan, kekerasan bukan cara penyelesaian yang tepat.\u201d Wikana\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dSebaiknya setelah bung Karno pulang dari Dalat, kita segera menemuinya.\u201d Darwis, Syahrir dan Saleh\u00a0\u00a0:\u00a0\u00a0\u201dbetul.\u201d\u00a0(ketiganya menjawab bersamaan) Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Tanggal 14 Agustus 1945 Syahrir, Wikana, Darwis dan Saleh menemui bung Karno di kediamannya Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dSilahkan masuk.\u201d(bung Karno mempersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu ) Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dAda maksud apa saudara-saudara datang kemari.\u201d Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201d Begini bung Karno, Jepang telah menyerah bung, dan kami minta bung Karno segera memproklamirkan kemerdekaan.\u201d Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dTetapi kan ada badan yang berhak untuk merumuskan itu semua.\u201d Wikana : \u201dMaksud anda PPKI?\u201d Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dBetul, karena PPKI lebih tahu hal-hal apa saja yang harus disiapkan.\u201d Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dKami atas nama golongan muda tidak setuju jika PPKI yang menyiapkan proklamasi kemerdekaan, karena PPKI merupakan bentukan Jepang!\u201d(Syahrir menjawab dengan nada keras) Darwis\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dKami tidak ingin kemerdekaan yang kita peroleh ada campur tangan dari pemerintah Jepang!\u201d Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dMemproklamasikan kemerdekaan merupakan hak dan tugas PPKI.\u201d Darwis\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dBaik kalau pendapat anda tetap seperti itu, kami mohon diri\u201d Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Akhirnya karena masing-masing mempertahankan pendapatnya keempat orang golongan muda tersebut berpamitan kepada bung Karno. Adegan\u00a0 : (Syahrir, wikana, Darwis dan Saleh berpamitan dan bergegas meninggalkan kediaman Bung Karno dengan wajah kesal ) BABAK III. Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Keesokan harinya pada tanggal 15 Agustus 1945 pukul 20.00 WIB golongan muda revolusioner mengadakan rapat di gedung gedung lembaga bakteriologi di Pegangsaan Timur dan mereka tetap berpendirian bahwa kemerdekaan adalah hak dan urusan rakyat Indonesia sendiri. Dan hasil keputusan rapat tersebut disampaikan oleh Wikana, Chaerul Saleh, Sukarni dan Darwis kepada Bung Karno.(di Kediaman Bung Karno juga terdapat bung Hatta, Ahmad Subarjo, Dr. Buntaran, Dr. Sanusi dan Iwa Kusumasumantri) Wikana :\u00a0 \u201dSelamat malam Bung Karno?\u201d Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dAda maksud apa lagi anda kemari?\u201d Saleh\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dSekarang Bung, sekarang! malam ini juga kita kobarkan revolusi\u00a0!\u201d Sukarni : \u201d\u00a0Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami\u00a0!\u201d Wikana\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201d\u00a0Jika Bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman pada malam ini juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari !\u201d (Wikana berteriak dengan nada mengancam) Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Mendengar kata-kata ancaman seperti itu, Soekarno naik darah dan berdiri menghampiri Wikana Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201d\u00a0Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari\u00a0!\u201d. Hatta\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201c\u2026\u00a0Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri\u00a0?\u00a0Mengapa meminta Soekarno untuk melakukan hal itu\u00a0?\u201d Darwis\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201d\u00a0apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan kepada kita sebagai hadiah?\u201d Sukarni\u00a0\u00a0 : \u201dMengapa bukan rakyat itu sendiri yang memprokla\u001fmasikan kemerdekaannya\u00a0?Mengapa bukan kita yang menyata\u001fkan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa\u00a0?\u201d Subarjo\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201d Kami bertiga telah membicarakannya baik-baik dengan Jepang, saya takut Jepang hanya melakukan tipu muslihat sehingga jika kita bertindak salah akan terjadi pertumpahan darah.\u201d Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dkekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total tentara Jepang! Coba, apa yang bisa kau perlihatkan kepada saya\u00a0?\u00a0Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu\u00a0?\u00a0Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak?\u00a0Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah diproklamasikan?\u00a0Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri\u00a0\u201c. Sekarang saya mohon waktu sejenak untuk berunding karena saya tidak bisa memutuskan sendiri\u00a0(Demikian jawab Bung Karno dengan tenang) Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Sukarno, Hatta, Ahmad Subarjo, Dr. Buntaran, Dr. Sanusi dan Iwa Kusumasumantri yang hadir malam itu melakukan perundingan. Setelah selesai berdiskusi Hatta menyampaikan hasil perundiangannya kepada golongan muda. Hatta\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0:\u201dUsul dari golongan muda tetap kami tidak bisa terima, karena kurang perhitungan dan takut memakan banyak korban jiwa dan harta.\u201d (Para pemuda memperlihatkan wajah yang menggambarkan ketidak senangan) Wikana :\u00a0 \u201d Baik kalau anda masih tetap mempertahankan pendapat kalian, kami mohon diri.\u201d Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Para pemuda kemudian bergegas meninggalkan kediaman bung Karno dengan wajah penuh ketidak puasan. BABAK IV. Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Setelah mengetahui pendirian golongan tua, pada pukul 24.00 golongan muda melakukan rapat di Asrama Baperpi, Jalan Cikini 71. Dalam rapat itu diputuskan untuk mengungsikan Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan proklamasi kemerdekaan segera dibacakan tanpa pengaruh Jepang. Pada pukul 04.00 tanggal 16 Agustus 1945 dibawa ke Rengasdengklok. Chaerul, Saleh, Shodanco Singgih yang merupakan tentara PETA melakukan aksi tersebut. Adegan\u00a0 : Sukarno dan Hatta\u00a0 dibawa oleh Chaerul Saleh, Shodanco Singgih menuju Rengasdengklok di perjalanan Sukarno berbincang-bincang dengan Shodanco Singgih. Singgih\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dKenapa anda tetap bersikeras bung Karno kalau proklamasi harus disusun oleh PPKI?\u201d Sukarno\u00a0 :\u00a0 \u201d Bukannya saya tidak setuju Proklamasi dibuat oleh kita sendiri, tetapi kita harus melihat situasi terlebih dahulu agar rakyat tidak menjadi korban.\u201d Singgih\u00a0 : \u201dTetapi kami golongan muda dan tentara PETA akan berada di belakang anda jka terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.\u201d Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dBaiklah jika itu keinginan kalian kami akan merumuskan naskah Proklamasi setelah kembali ke Jakarta.\u201d Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Shodanco Singgih akhirnya menyampaikan berita gembira tersebut sesampainya di Rengasdengklok, dan ia bergegas kembali ke Jakarta untuk menyampaikan hal tersebut kepada para pemimpin pemuda. (Di sebuah pondok bambu berbentuk panggung di tengah persawahan Rengasdengklok, siang itu terjadi perdebatan panas antara Sukarno-Hatta dan Golongan muda). Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201d\u00a0Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintahkan Bung, kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu\u00a0\u2026\u201d. Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201d\u00a0Lalu apa\u00a0?\u201d teriak Bung Karno.\u201dYang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17\u00a0\u201c. Sukarni :\u00a0 \u201d\u00a0Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16\u00a0?\u201d tanya Sukarni. Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dSaya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Qur\u2019an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia\u00a0\u201c. Narasi\u00a0\u00a0 : Sementara itu, di Jakarta, antara Mr. Ahmad Soebardjo dari golongan tua dengan Wikana dari golongan muda membicarakan kemerdekaan yang harus dilaksanakan di Jakarta . Laksamana Takashi Maeda, bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto dari pihak pemuda, hari itu juga mengantar Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya, Sudiro, ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Rombongan penjemput tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00. Ahmad Soebardjo memberikan jaminan, bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan itu, komandan kompi PETA setempat,\u00a0Cudanco\u00a0Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Adegan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : (Penjemputan Sukarno-Hatta oleh Ahmad Subarjo dan Sudiro untuk kembali ke Jakarta) Babak V. Narasi\u00a0\u00a0\u00a0 : Sesampai di Jakarta Sukarno- Hatta bersama Laksamana Maeda menemui Mayjen Nishimura untuk berunding, tetapi Nishimura tidak mengizinkan proklamasi kemerdekaan. Kemudian mereka menuju rumah laksamana Tadashi Maeda di JL. Imam Bonjol No.1. Setelah pertemuan itu, Soekarno dan Hatta kembali ke rumah Laksamana Maeda. Di ruang makan rumah Laksamana Maeda itu dirumuskan teks proklamasi kemerdekaan. Maeda, sebagai tuan rumah, mengundurkan diri ke kamar tidurnya di lantai dua ketika peristiwa bersejarah itu berlangsung. Sukarno, Hatta dan Ahmad Subarjo merumuskan naskah proklamasi di ruang makan. Maeda\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dSilahkan pakai rumahku saja bung Karno, keamanan akan saya jamin.\u201d Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dTerima kasih, ruang mana yang bisa kami pakai ?\u201d Maeda\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dRuang makan dan serambi depan.\u201d Adegan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : (Sukarno, Hatta dan Achmad Subarjo duduk bertiga berhadapan dan membicarakan rumusan naskah proklamasi. Sukarno menuliskan rumusan tersebut ke selembar kertas) Narasi\u00a0 : Setelah selesai teks proklamasi tersebut dibacakan di serambi depan. Di hadapan peserta rapat dan golongan muda. Sukarno\u00a0\u00a0 : \u201cKeadaan yang mendesak telah memaksa kita semua mempercepat pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Rancangan teks telah siap dibacakan di hadapan saudara-saudara dan saya harapkan benar bahwa saudara-saudara sekalian dapat menyetujuinya sehingga kita dapat berjalan terus dan menyelesaikan pekerjaan kita sebelum fajar menyingsing\u201c.\u00a0Kepada siapa saja yang hadir di dalam rapat ini agar dapat menandatanganinya secara bersama.\u201d Sukarni\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dSaya kurang setuju, naskah proklamasi tersebut sebaiknya ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta saja atas nama bangsa Indonesia.\u201d Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dBagaimana hadirin?\u201d Hadirin yang hadir menjawab serentak\u00a0Setujuuuuuu.....!!! Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Usul Sukarni ternyata disetujui oleh seluruh peserta rapat. Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dTolong ketikkan Sayuti!\u201d Sayuti Melik\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dbaik.\u201d(Sayuti Melik kemudian mengetiknya) Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Setelah naskah proklamasi diketik oleh Sayuti Melik, kemudian Sukarno dan Hatta menandatangani naskah tersebut. Adegan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : (Sukarno dan Hatta menandatangani naskah tersebut secara bergantian) BABAK VI. Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Setelah terjadi perdebatan tentang dimana lokasi pembacaan naskah proklamasi akhirnya disepakati bahwa pembacaan naskah proklamsai dbacakan di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, pukul 10.00. Para undangan dan warga Jakarta pun berbondong-bondong menuju kediaman Bung Karno tersebut. Bung Karno lalu menyampaikan pidatonya sebelum membacakan naskah proklamasi. Sukarno : \u201cSaudara-saudara sekalian\u00a0!\u00a0saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seia-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.\u201d \u201dSaudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami: PROKLAMASI; Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta , 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia Soekarno\/Hatta.\u201d \u201dDemikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka. Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu\u201c. Merdekaaaaaa......!!!!!! Semua\u00a0 yang hadir di situ menjawab\u00a0merdeka!!!!!!!!\u00a0Secara serentak Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Acara, dilanjutkan dengan pengibaran\u00a0bendera Merah Putih. Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah menuruni anak tangga terakhir dari serambi muka, lebih kurang dua meter di depan tiang. Ketika S. K. Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dia menolak: \u201d\u00a0lebih baik seorang prajurit\u00a0,\u201d katanya. Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud mengambil bendera dari atas baki yang telah disediakan dan mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat. Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan lagu\u00a0Indonesia Raya. Bendera dikerek dengan lambat sekali, untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang. Adegan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Pengibaran bendera merah putih dilakukan oleh Latief Hendraningrat dan S.Suhud diiringi lagu Indonesia Raya oleh hadirin yang hadir pada saat itu. Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Peristiwa yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia ini berlangsung sekitar satu jam. Meski sederhana namun upacara itu dilakukan denan hikmat. Indonesia merdeka, bangsa baru telah lahir. sumber :\u00a0http:\/\/itbecomefind.blogspot.com\/2015\/02\/contoh-drama-saat-sidang-bpupki-dan-ppki.html\", \"Indonesian Female\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    \n\n\n\n<p>Contoh Naskah Drama Perumusan Proklamasi<\/p>\n\n\n\n<p><strong>BABAK I<\/strong><strong>.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  Tanggal 6 Agustus 1945 kota\u00a0<a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Hiroshima,_Hiroshima\">Hiroshima<\/a>\u00a0dijatuhi bom atom oleh Sekutu dan pada tanggal 9 Agustus 1945 giliran Kota\u00a0<a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Nagasaki\">Nagasaki<\/a>\u00a0yang dijatuhi oleh bom atom oleh Sekutu pula. Kejadian ini memberikan penderitaan bagi rakyat Jepang. Pasukan Jepang semakin lemah dan pada tanggal 12 Agustus 1945 Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi<\/p>\n\n\n\n<p>Adegan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : (Soekarno, Hatta, Radjiman Wedyodiningrat tiba di Dalat dan bersalaman dengan Marsekal Terauchi lalu dipersilahkan masuk ke dalam kantornya dan duduk bersama)<\/p>\n\n\n\n<p>Terauchi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201dSaudara Sukarno, Hatta, dan Radjiman saya sebagai utusan dari pemerintah Jepang ingin menyampaikan suatu hal yaitu Jepang akan segera memberikan Kemerdekaan kepada Indonesia sesuai dengan janji Perdana Menteri Kuniaki Koiso.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Soekarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dDengan cara apa Jepang akan memberikan pernyataan merdeka kepada Indonesia?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Terauchi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201dDengan memproklamirkan kemrdekaan Indonesia dan itu dapat dilaksanakan beberapa hari ke depan tergantung cara kerja PPKI.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Hatta\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :\u00a0 \u201d Benar saya sangat setuju karena PPKI adalah badan yang bertanggung jawab untuk menyusun proklamasi kemerdekaan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Radjiman\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :\u00a0 \u201d Saya sependapat dengan anda Bung.\u201d(menoleh kepada Hatta) tetapi kita harus tetap menyegerakan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia bung!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Terauchi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :\u00a0 \u201dMaaf, tetapi pihak Jepang meminta Proklamasi kemerdekaan dibacakan pada tanggal paling cepat pada tanggal 24 Agustus 1945.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Soekarno\u00a0\u00a0 : \u201dAkan saya pikirkan kembali permintaan anda, karena kami harus membicarakannya dengan PPKI. \u201d Baik kalau begitu kami harus undur diri, terima kasih.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Terauchi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u00a0\u201dBaiklah, hati-hati di jalan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Adegan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  (Soekarno, Hatta, Radjiman berdiri dan berpamitan dengan Terauci lalu bergegas meninggalkan kantor dari marsekal Terauchi)<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0 : Setelah pembicaraan masalah proklamasi kemerdekaan di Dalat, dua hari kemudian pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat pada sekutu, yang ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Jepang Mamoru Shigemitsu..<\/p>\n\n\n\n<p><strong>BABAK II<\/strong><strong>.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Berita tentang kekalahan tersebut sangat dirahasiakan oleh Jepang bahkan semua stasiun radio disegel oleh Jepang tetapi tokoh golongan muda yakni Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC.<\/p>\n\n\n\n<p>Adegan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : (Sutan Syahrir, Wikana, Darwis dan Chaerul Saleh sedang mendengarkan radio)<\/p>\n\n\n\n<p>Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dKawan-kawan tentara Jepang telah menyerah kepada sekutu, berarti di indonesia terjadi kekosongan kekuasaan.\u201d Kita harus mendesak golongan tua terutama bung Karno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Wikana  : \u201dBetul sekali kawan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201dTetapi jangan sampai Proklamasi kemrdekaan diproklamirkan oleh PPKI.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201dKenapa kau berpendapat demikian sobat?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201dKarena PPKI adalah badan bentukan Jepang!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Wikana\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :\u00a0 \u201dKita tidak ingin ada cmpur tangan Jepang dalam Proklamasi Kemerdekaan!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Chaerul Saleh\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201dLalu siapa yang berhak mempoklamirkan kemerdekaan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dBung Karno sebagai pemimpin rakyat, atas nama rakyat dan melalui siaran Radio!\u201d (Syahrir berbicara berapi-api)<\/p>\n\n\n\n<p>Chaerul Saleh\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dTetapi permasalahannya apakah bung Karno setuju, beliau kan merupakan ketua PPKI.<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201d\u00a0Kalau beliau menginginkan naskah Proklamasi tetap disusun oleh PPKI, kita paksa saja dia, kalau perlu&#8230;&#8230;\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201d\u00a0Kalau perlu apa ? &#8230;. Kita harus bicara dulu secara baik-baik dengan beliau wis!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Chaerul Saleh\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201d\u00a0Betul kawan, kekerasan bukan cara penyelesaian yang tepat.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Wikana\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201dSebaiknya setelah bung Karno pulang dari Dalat, kita segera menemuinya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis, Syahrir dan Saleh\u00a0\u00a0:\u00a0\u00a0\u201dbetul.\u201d\u00a0(ketiganya menjawab bersamaan)<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :  Tanggal 14 Agustus 1945 Syahrir, Wikana, Darwis dan Saleh menemui bung Karno di kediamannya<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dSilahkan masuk.\u201d(bung Karno mempersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu )<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :\u00a0 \u201dAda maksud apa saudara-saudara datang kemari.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :\u00a0 \u201d Begini bung Karno, Jepang telah menyerah bung, dan kami minta bung Karno segera memproklamirkan kemerdekaan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201dTetapi kan ada badan yang berhak untuk merumuskan itu semua.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Wikana  : \u201dMaksud anda PPKI?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201dBetul, karena PPKI lebih tahu hal-hal apa saja yang harus disiapkan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dKami atas nama golongan muda tidak setuju jika PPKI yang menyiapkan proklamasi kemerdekaan, karena PPKI merupakan bentukan Jepang!\u201d(Syahrir menjawab dengan nada keras)<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dKami tidak ingin kemerdekaan yang kita peroleh ada campur tangan dari pemerintah Jepang!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201dMemproklamasikan kemerdekaan merupakan hak dan tugas PPKI.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201dBaik kalau pendapat anda tetap seperti itu, kami mohon diri\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  Akhirnya karena masing-masing mempertahankan pendapatnya keempat orang golongan muda tersebut berpamitan kepada bung Karno.<\/p>\n\n\n\n<p>Adegan\u00a0 : (Syahrir, wikana, Darwis dan Saleh berpamitan dan bergegas meninggalkan kediaman Bung Karno dengan wajah kesal )<\/p>\n\n\n\n<p><strong>BABAK III<\/strong><strong>.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  Keesokan harinya pada tanggal 15 Agustus 1945 pukul 20.00 WIB golongan muda revolusioner mengadakan rapat di gedung gedung lembaga bakteriologi di Pegangsaan Timur dan mereka tetap berpendirian bahwa kemerdekaan adalah hak dan urusan rakyat Indonesia sendiri. Dan hasil keputusan rapat tersebut disampaikan oleh Wikana, Chaerul Saleh, Sukarni dan Darwis kepada Bung Karno.(di Kediaman Bung Karno juga terdapat bung Hatta, Ahmad Subarjo, Dr. Buntaran, Dr. Sanusi dan Iwa Kusumasumantri)<\/p>\n\n\n\n<p>Wikana  :\u00a0 \u201dSelamat malam Bung Karno?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201dAda maksud apa lagi anda kemari?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Saleh\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  \u201dSekarang Bung, sekarang! malam ini juga kita kobarkan revolusi\u00a0!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarni  : \u201d\u00a0Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami\u00a0!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Wikana\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201d\u00a0Jika Bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman pada malam ini juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari !\u201d (Wikana berteriak dengan nada mengancam)<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :  Mendengar kata-kata ancaman seperti itu, Soekarno naik darah dan berdiri menghampiri Wikana<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  \u201d\u00a0Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari\u00a0!\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Hatta\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  \u201c\u2026\u00a0Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri\u00a0?\u00a0Mengapa meminta Soekarno untuk melakukan hal itu\u00a0?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Darwis\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  \u201d\u00a0apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan kepada kita sebagai hadiah?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarni\u00a0\u00a0 : \u201dMengapa bukan rakyat itu sendiri yang memprokla\u001fmasikan kemerdekaannya\u00a0?Mengapa bukan kita yang menyata\u001fkan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa\u00a0?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Subarjo\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :  \u201d Kami bertiga telah membicarakannya baik-baik dengan Jepang, saya takut Jepang hanya melakukan tipu muslihat sehingga jika kita bertindak salah akan terjadi pertumpahan darah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :\u00a0 \u201dkekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total tentara Jepang! Coba, apa yang bisa kau perlihatkan kepada saya\u00a0?\u00a0Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu\u00a0?\u00a0Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak?\u00a0Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah diproklamasikan?\u00a0Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri\u00a0\u201c. Sekarang saya mohon waktu sejenak untuk berunding karena saya tidak bisa memutuskan sendiri\u00a0(Demikian jawab Bung Karno dengan tenang)<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Sukarno, Hatta, Ahmad Subarjo, Dr. Buntaran, Dr. Sanusi dan Iwa Kusumasumantri yang hadir malam itu melakukan perundingan. Setelah selesai berdiskusi Hatta menyampaikan hasil perundiangannya kepada golongan muda.<\/p>\n\n\n\n<p>Hatta\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0:\u201dUsul dari golongan muda tetap kami tidak bisa terima, karena kurang perhitungan dan takut memakan banyak korban jiwa dan harta.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>(Para pemuda memperlihatkan wajah yang menggambarkan ketidak senangan)<\/p>\n\n\n\n<p>Wikana  :\u00a0 \u201d Baik kalau anda masih tetap mempertahankan pendapat kalian, kami mohon diri.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  Para pemuda kemudian bergegas meninggalkan kediaman bung Karno dengan wajah penuh ketidak puasan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>BABAK IV<\/strong><strong>.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  Setelah mengetahui pendirian golongan tua, pada pukul 24.00 golongan muda melakukan rapat di Asrama Baperpi, Jalan Cikini 71. Dalam rapat itu diputuskan untuk mengungsikan Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan proklamasi kemerdekaan segera dibacakan tanpa pengaruh Jepang. Pada pukul 04.00 tanggal 16 Agustus 1945 dibawa ke Rengasdengklok. Chaerul, Saleh, Shodanco Singgih yang merupakan tentara PETA melakukan aksi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Adegan\u00a0 :  Sukarno dan Hatta\u00a0 dibawa oleh Chaerul Saleh, Shodanco Singgih menuju Rengasdengklok di perjalanan Sukarno berbincang-bincang dengan Shodanco Singgih.<\/p>\n\n\n\n<p>Singgih\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :\u00a0 \u201dKenapa anda tetap bersikeras bung Karno kalau proklamasi harus disusun oleh PPKI?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0 :\u00a0 \u201d Bukannya saya tidak setuju Proklamasi dibuat oleh kita sendiri, tetapi kita harus melihat situasi terlebih dahulu agar rakyat tidak menjadi korban.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Singgih\u00a0 : \u201dTetapi kami golongan muda dan tentara PETA akan berada di belakang anda jka terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :\u00a0 \u201dBaiklah jika itu keinginan kalian kami akan merumuskan naskah Proklamasi setelah kembali ke Jakarta.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Shodanco Singgih akhirnya menyampaikan berita gembira tersebut sesampainya di Rengasdengklok, dan ia bergegas kembali ke Jakarta untuk menyampaikan hal tersebut kepada para pemimpin pemuda.<\/p>\n\n\n\n<p>(Di sebuah pondok bambu berbentuk panggung di tengah persawahan Rengasdengklok, siang itu terjadi perdebatan panas antara Sukarno-Hatta dan Golongan muda).<\/p>\n\n\n\n<p>Syahrir\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201d\u00a0Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintahkan Bung, kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu\u00a0\u2026\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201d\u00a0Lalu apa\u00a0?\u201d teriak Bung Karno.\u201dYang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17\u00a0\u201c.<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarni  :\u00a0 \u201d\u00a0Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16\u00a0?\u201d <em>tanya Sukarni.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :\u00a0 \u201dSaya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Qur\u2019an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia\u00a0\u201c.<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0  :  Sementara itu, di Jakarta, antara Mr. Ahmad Soebardjo dari golongan tua dengan Wikana dari golongan muda membicarakan kemerdekaan yang harus dilaksanakan di Jakarta . Laksamana Takashi Maeda, bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto dari pihak pemuda, hari itu juga mengantar Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya, Sudiro, ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Rombongan penjemput tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00. Ahmad Soebardjo memberikan jaminan, bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan itu, komandan kompi PETA setempat,\u00a0Cudanco\u00a0Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n<p>Adegan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  (Penjemputan Sukarno-Hatta oleh Ahmad Subarjo dan Sudiro untuk kembali ke Jakarta)<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Babak V<\/strong><strong>.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0 :  Sesampai di Jakarta Sukarno- Hatta bersama Laksamana Maeda menemui Mayjen Nishimura untuk berunding, tetapi Nishimura tidak mengizinkan proklamasi kemerdekaan. Kemudian mereka menuju rumah laksamana Tadashi Maeda di JL. Imam Bonjol No.1. Setelah pertemuan itu, Soekarno dan Hatta kembali ke rumah Laksamana Maeda. Di ruang makan rumah Laksamana Maeda itu dirumuskan teks proklamasi kemerdekaan. Maeda, sebagai tuan rumah, mengundurkan diri ke kamar tidurnya di lantai dua ketika peristiwa bersejarah itu berlangsung. Sukarno, Hatta dan Ahmad Subarjo merumuskan naskah proklamasi di ruang makan.<\/p>\n\n\n\n<p>Maeda\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  \u201dSilahkan pakai rumahku saja bung Karno, keamanan akan saya jamin.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :\u00a0 \u201dTerima kasih, ruang mana yang bisa kami pakai ?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Maeda\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :\u00a0 \u201dRuang makan dan serambi depan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Adegan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : (Sukarno, Hatta dan Achmad Subarjo duduk bertiga berhadapan dan membicarakan rumusan naskah proklamasi. Sukarno menuliskan rumusan tersebut ke selembar kertas)<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0 :  Setelah selesai teks proklamasi tersebut dibacakan di serambi depan. Di hadapan peserta rapat dan golongan muda.<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0\u00a0 : \u201cKeadaan yang mendesak telah memaksa kita semua mempercepat pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Rancangan teks telah siap dibacakan di hadapan saudara-saudara dan saya harapkan benar bahwa saudara-saudara sekalian dapat menyetujuinya sehingga kita dapat berjalan terus dan menyelesaikan pekerjaan kita sebelum fajar menyingsing\u201c.\u00a0Kepada siapa saja yang hadir di dalam rapat ini agar dapat menandatanganinya secara bersama.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarni\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201dSaya kurang setuju, naskah proklamasi tersebut sebaiknya ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta saja atas nama bangsa Indonesia.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :\u00a0 \u201dBagaimana hadirin?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Hadirin yang hadir menjawab serentak\u00a0Setujuuuuuu&#8230;..!!!<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  Usul Sukarni ternyata disetujui oleh seluruh peserta rapat.<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :\u00a0 \u201dTolong ketikkan Sayuti!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sayuti Melik\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : \u201dbaik.\u201d(Sayuti Melik kemudian mengetiknya)<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  Setelah naskah proklamasi diketik oleh Sayuti Melik, kemudian Sukarno dan Hatta menandatangani naskah tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Adegan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  (Sukarno dan Hatta menandatangani naskah tersebut secara bergantian)<\/p>\n\n\n\n<p><strong>BABAK VI<\/strong><strong>.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  : Setelah terjadi perdebatan tentang dimana lokasi pembacaan naskah proklamasi akhirnya disepakati bahwa pembacaan naskah proklamsai dbacakan di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, pukul 10.00. Para undangan dan warga Jakarta pun berbondong-bondong menuju kediaman Bung Karno tersebut. Bung Karno lalu menyampaikan pidatonya sebelum membacakan naskah proklamasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Sukarno :  \u201cSaudara-saudara sekalian\u00a0!\u00a0saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seia-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dSaudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami:<\/p>\n\n\n\n<p>PROKLAMASI;<\/p>\n\n\n\n<p>Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta , 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia Soekarno\/Hatta.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dDemikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka. Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu\u201c. Merdekaaaaaa&#8230;&#8230;!!!!!!<\/p>\n\n\n\n<p>Semua\u00a0 yang hadir di situ menjawab\u00a0merdeka!!!!!!!!\u00a0Secara serentak<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Acara, dilanjutkan dengan pengibaran\u00a0<a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sang_Saka_Merah_Putih\">bendera Merah Putih<\/a>. Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah menuruni anak tangga terakhir dari serambi muka, lebih kurang dua meter di depan tiang. Ketika S. K. Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dia menolak: \u201d\u00a0lebih baik seorang prajurit\u00a0,\u201d katanya. Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud mengambil bendera dari atas baki yang telah disediakan dan mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat. Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan lagu\u00a0<a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Indonesia_Raya\">Indonesia Raya<\/a>. Bendera dikerek dengan lambat sekali, untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang.<\/p>\n\n\n\n<p>Adegan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :  Pengibaran bendera merah putih dilakukan oleh Latief Hendraningrat dan S.Suhud diiringi lagu Indonesia Raya oleh hadirin yang hadir pada saat itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0  :  Peristiwa yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia ini berlangsung sekitar satu jam. Meski sederhana namun upacara itu dilakukan denan hikmat. Indonesia merdeka, bangsa baru telah lahir.<\/p>\n\n\n\n<p>sumber :\u00a0http:\/\/itbecomefind.blogspot.com\/2015\/02\/contoh-drama-saat-sidang-bpupki-dan-ppki.html<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Contoh Naskah Drama Perumusan Proklamasi BABAK I. Narasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Tanggal 6 Agustus 1945 kota\u00a0Hiroshima\u00a0dijatuhi bom atom oleh Sekutu dan pada tanggal 9 Agustus 1945 giliran Kota\u00a0Nagasaki\u00a0yang dijatuhi oleh bom atom oleh Sekutu pula. Kejadian ini memberikan penderitaan bagi rakyat Jepang. Pasukan Jepang semakin lemah dan pada tanggal 12 Agustus 1945 Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[421,487],"tags":[],"class_list":["post-4540","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sd6","category-sd6-tema-1"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4540","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4540"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4540\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4543,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4540\/revisions\/4543"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4540"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4540"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4540"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}