{"id":2695,"date":"2017-10-07T06:29:40","date_gmt":"2017-10-06T23:29:40","guid":{"rendered":"http:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/?p=2695"},"modified":"2017-10-07T06:30:24","modified_gmt":"2017-10-06T23:30:24","slug":"bahasa-indonesia-sd-kelas-5-tema-4-kurikulum-2013-rev-2017","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/bahasa-indonesia-sd-kelas-5-tema-4-kurikulum-2013-rev-2017\/","title":{"rendered":"Bahasa Indonesia &#8211; SD Kelas 5 &#8211; Tema 4 &#8211; Kurikulum 2013 Rev 2017"},"content":{"rendered":"<button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca &amp; Dengarkan!<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Bahasa Indonesia - SD Kelas 5 - Tema 4 - Kurikulum 2013 Rev 2017. RANGKUMAN MATERI KELAS V \u00a0 TEMA\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : 4 SUB TEMA\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : 1, 2, 3 \u00a0 KOMPETENSI DASAR : 3.6 Menggali isi dan amanat pantun yang disajikan secara lisan dan tulis dengan tujuan kesenangan. \u00a0 PENGERTIAN PANTUN Pantun adalah jenis puisi lama yang tiap baitnya terdiri atas empak baris serta memiliki sampiran dan isi. CIRI-CIRI PANTUN Jenis puisi lama yang asal bermula dari kata patuntun ini pada dasarnya diharapkan dapat menjadi penuntun hidup bagi orang yang mendengar maupun membacanya. Tidak hanya sekadar berisi nasihat dan imbauan, penyampaiannya pun memiliki cirri khas yang begitu kental, seperti berikut ini. Tiap Bait Terdiri atas Empat Baris Puisi lama yang satu ini memiliki ciri khas kuat, yaitu tiap baitnya selalu terdiri atas empat baris. Barisan kata-kata pada pantun dikenal juga dengan sebutan larik. Terdiri dari 8-12 Suku Kata di Tiap Baris Mulanya pantun cenderung tidak dituliskan, melainkan disampaikan secara lisan. Karena itulah, tiap baris pada pantun dibuat sesingkat mungkin, namun tetap padat isi. Oleh karena alasan inilah, tiap baris pada pantun umumnya terdiri atas 8\u201412 suku kata. Memiliki Sampiran dan Isi Salah satu keunikan pantun yang membuatnya menjadi begitu mudah diingat adalah jenis puisi lama yang satu ini tidak hanya padat berisi, melainkan juga memiliki pengantar yang puitis hingga terdengar jenaka. Pengantar tersebut biasanya tidak berhubungan dengan isi, namun menjabarkan tentang peristiswa ataupun kebiasaan yang terjadi di masyarakat. Pengantar isi pantun inilah yang kerap dikenal sebagai sampiran. Untuk masalah penempatannya di dalam pantun, sampiran akan selalu berada di baris pertama dan kedua. Sementara itu, isi pantun menyusul di posisi baris ketiga sampai keempat. \u00a0 Berima a-b-a-b Rima atau yang juga biasa disebut dengan sajak adalah kesamaan bunyi yang terdapat dalam puisi. Biasanya, jenis-jenis puisi lama kental akan rima, termasuk dengan pantun. Khusus untuk pantun, jenis puisi yang satu ini memiliki ciri khas yang begitu kuat, yakni rimanya adalah a-b-a-b. Yang dimaksud dengan rima a-b-a-b adalah ada kesamaan bunyi antara baris pertama dengan ketiga pantun dan baris kedua dengan baris keempat. Jadi, kesamaan bunyi pada pantun selalu terjadi antara sampiran dan isi. JENIS-JENIS PANTUN \u00a0 Pantun Nasihat Pada dasarnya, pantun dibuat untuk memberi imbauan dan anjuran terhadap seseorang ataupun masyarakat. Karena itulah, tema isi pantun yang paling banyak dijumpai berjenis pantun nasihat. Pantun yang satu ini memiliki isi yang bertujuan menyampaikan pesan moral dan didikan. Contoh: Di jalan tak sengaja berjumpa daun sugi Ingat manfaat, lantas cepat dibawa Tiada belajar tiada yang rugi Kecuali diri sendiri di masa tua Pantun Jenaka Sesuai namanya, jenis pantun yang satu ini memang memiliki kandungan isi yang lucu dan menarik. Tujuannya tak lain untuk memberi hiburan kepada orang yang mendengar ataupun membacanya. Tidak jarang pula, pantun jenaka digunakan untuk menyampaikan sindiran akan kondisi masyarakat yang dikemas dalam bentuk ringan dan jenaka. Contoh: Hujan turun di hari sabtu Anak duduk makan bubur Melihat katak duduk termangu Bangau berjoged untuk menghibur Pantun Agama Jenis pantun yang satu ini memiliki kandungan isi yang membahas mengenai manusia dengan pencipta-Nya. Tujuannya serupa dengan pantun nasihat, yaitu memberikan pesan moral dan didikan kepada pendengar dan pembaca. Akan tetapi, tema di pantun agama lebih spesifik karena memegang nilai-nilai dan prinsip agama tertentu. Contoh: Kalau sudah duduk berdamai Jangan lagi diajak perang Kalau sunah sudah dipakai Jangan lagi dibuang-buang (Tenas Effendy) Pantun Teka-teki Jenis pantun yang satu ini selalu memiliki ciri khas khusus di bagian isinya, yakni diakhiri dengan pertanyaan pada larik terakhir. Tujuan dari pantun ini umumnya untuk hiburan dan mengakrabkan kebersamaan. Contoh: Jikalau tuan tajuk cendana Ambil gantang jemurkan pala Jikalau tuan memang bijaksana Binatang apa ekor di kepala ? Pantun Anak Tidak hanya untuk orang dewasa, pantun bisa juga disampaikan untuk anak-anak. Tentu saja isinya lebih ringan dan menyangkut hal-hal yang dianggap menyenangkan oleh si kecil. Tujuan awal dari jenis pantun yang satu ini adalah untuk mengakrabkan anak dengan pantun, sekaligus memberikan didikan moral bagi mereka. Contoh: Kita menari ke luar bilik Sembarang tari kita tarikan Kita bernyanyi bersama adik Sembarang lagi kita nyanyikan MENGENALI ISI PANTUN Bimbim mempunyai kebiasaan kurang baik. Ia sering jajan sembarangan. Ia sering membeli makan-makanan yang mengandung pewarna buatan dan bahan pengawet. Dia tidak suka makan sayur dan makanan yang dimasak ibunya sendiri. Akibatnya Bimbim sering sakit tifus dan dirawat di RS. Meskipun demikian, Bimbim tidak jera. Ia masih melakukan kebiasaan buruknya. BERBALAS PANTUN Berbalas pantun dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang masing-masing mewakili pihak pria dan wanita. Dalam berbalas pantun, harus menyiapkan banyak pantun untuk diucapkan secara bergantian. Pantun satu dan lainnya saling berkaitan sehingga disebut pantun berkait atau disebut seloka. Seloka dapat berisi nasihat, tetapi terkadang juga berisi sindiran untuk menciptakan suasana gembira (kelucuan). (1) Menimbang barang dengan bejana Makan nasi lauknya ikan Tuntutlah ilmu sampai ke Cina Ilmu baik harus diamalkan (2) Makan nasi lauknya ikan Manis rasanya buah mangga Ilmu baik harus diamalkan Biar jadi amalan berharga (3) Manis rasanya buah mangga Buah yang bususk jangan dimakan Biar jadi amalan berharga Berbuat baik jangan bicarakan \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 MENGUBAH CERITA MENJADI PANTUN \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Sebuah cerita dapat diubah menjadi pantun. Mengubah cerita menjadi pantun disebut memparafrasa. Memparafrasa adalah mengubak teks menjadi bentuk lain. Misalnya mengubah cerpen menjadi cerita. Cerpen juga dapat diparafrasa menjadi drama. Pantun dapat diparafrasa menjadi cerita. Begitu juga bentuk teks lain dapat diparafrasa bentuk lain. \u00a0 CONTOH : Cerita drama diubah menjadi pantun Ke kebun binatang melihat badak Badak banyak jenisnya Berbakti kewajiban anak Sesuai tuntutan agama Anak mengejar layang-layang Layangan terbang ke angkasa Orang tua harus disayang Agar tidak jadi durhaka Pohon tumbang diatas bukit Burung terbang diangkasa Jika orang tua sakit Kewajiban anak merawatnya Si Dudung kakak Si Mimin Si Budi adik Si Wati Anak-anak berhak bermain Bermain untuk menghibur diri\", \"Indonesian Female\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    \n<p>Bahasa Indonesia &#8211; SD Kelas 5 &#8211; Tema 4 &#8211; Kurikulum 2013 Rev 2017.<\/p>\n<p><strong>RANGKUMAN MATERI KELAS V<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>TEMA\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : 4<\/strong><\/p>\n<p><strong>SUB TEMA\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : 1, 2, 3<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong><em>KOMPETENSI DASAR :<\/em><\/strong><\/p>\n<p><em>3.6 Menggali isi dan amanat pantun yang disajikan secara lisan dan tulis dengan tujuan kesenangan.<\/em><\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em><\/p>\n<ol>\n<li><strong>PENGERTIAN PANTUN<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Pantun adalah <a href=\"http:\/\/www.studiobelajar.com\/puisi-lama\/\">jenis puisi lama<\/a> yang tiap baitnya terdiri atas empak baris serta memiliki sampiran dan isi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><strong>CIRI-CIRI PANTUN<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Jenis puisi lama yang asal bermula dari kata <em>patuntun <\/em>ini pada dasarnya diharapkan dapat menjadi penuntun hidup bagi orang yang mendengar maupun membacanya. Tidak hanya sekadar berisi nasihat dan imbauan, penyampaiannya pun memiliki cirri khas yang begitu kental, seperti berikut ini.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><strong> Tiap Bait Terdiri atas Empat Baris<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Puisi lama yang satu ini memiliki ciri khas kuat, yaitu tiap baitnya selalu terdiri atas empat baris. Barisan kata-kata pada pantun dikenal juga dengan sebutan larik.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong> Terdiri dari 8-12 Suku Kata di Tiap Baris<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Mulanya pantun cenderung tidak dituliskan, melainkan disampaikan secara lisan. Karena itulah, tiap baris pada pantun dibuat sesingkat mungkin, namun tetap padat isi. Oleh karena alasan inilah, tiap baris pada pantun umumnya terdiri atas 8\u201412 suku kata.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong> Memiliki Sampiran dan Isi<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Salah satu keunikan pantun yang membuatnya menjadi begitu mudah diingat adalah jenis puisi lama yang satu ini tidak hanya padat berisi, melainkan juga memiliki pengantar yang puitis hingga terdengar jenaka. Pengantar tersebut biasanya tidak berhubungan dengan isi, namun menjabarkan tentang peristiswa ataupun kebiasaan yang terjadi di masyarakat. Pengantar isi pantun inilah yang kerap dikenal sebagai sampiran.<\/p>\n<p>Untuk masalah penempatannya di dalam pantun, <strong>sampiran akan selalu berada di baris pertama dan kedua<\/strong>. Sementara itu, <strong>isi pantun menyusul di posisi baris ketiga sampai keempat.<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><strong> Berima a-b-a-b<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Rima atau yang juga biasa disebut dengan sajak adalah kesamaan bunyi yang terdapat dalam puisi. Biasanya, jenis-jenis puisi lama kental akan rima, termasuk dengan pantun. Khusus untuk pantun, jenis puisi yang satu ini memiliki ciri khas yang begitu kuat, yakni rimanya adalah a-b-a-b.<\/p>\n<p>Yang dimaksud dengan rima a-b-a-b adalah ada kesamaan bunyi antara baris pertama dengan ketiga pantun dan baris kedua dengan baris keempat. Jadi, kesamaan bunyi pada pantun selalu terjadi antara sampiran dan isi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><strong>JENIS-JENIS PANTUN<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li><strong> Pantun Nasihat<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Pada dasarnya, pantun dibuat untuk memberi imbauan dan anjuran terhadap seseorang ataupun masyarakat. Karena itulah, tema isi pantun yang paling banyak dijumpai berjenis pantun nasihat. Pantun yang satu ini memiliki isi yang bertujuan menyampaikan pesan moral dan didikan.<\/p>\n<p><strong>Contoh:<\/strong><\/p>\n<p>Di jalan tak sengaja berjumpa daun sugi<br \/>\nIngat manfaat, lantas cepat dibawa<br \/>\nTiada belajar tiada yang rugi<br \/>\nKecuali diri sendiri di masa tua<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong> Pantun Jenaka<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Sesuai namanya, jenis pantun yang satu ini memang memiliki kandungan isi yang lucu dan menarik. Tujuannya tak lain untuk memberi hiburan kepada orang yang mendengar ataupun membacanya. Tidak jarang pula, pantun jenaka digunakan untuk menyampaikan sindiran akan kondisi masyarakat yang dikemas dalam bentuk ringan dan jenaka.<\/p>\n<p><strong>Contoh:<\/strong><\/p>\n<p>Hujan turun di hari sabtu<\/p>\n<p>Anak duduk makan bubur<\/p>\n<p>Melihat katak duduk termangu<\/p>\n<p>Bangau berjoged untuk menghibur<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong> Pantun Agama<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Jenis pantun yang satu ini memiliki kandungan isi yang membahas mengenai manusia dengan pencipta-Nya. Tujuannya serupa dengan pantun nasihat, yaitu memberikan pesan moral dan didikan kepada pendengar dan pembaca. Akan tetapi, tema di pantun agama lebih spesifik karena memegang nilai-nilai dan prinsip agama tertentu.<\/p>\n<p><strong>Contoh:<\/strong><\/p>\n<p>Kalau sudah duduk berdamai<br \/>\nJangan lagi diajak perang<br \/>\nKalau sunah sudah dipakai<br \/>\nJangan lagi dibuang-buang<\/p>\n<p><strong>(Tenas Effendy)<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><strong> Pantun Teka-teki<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Jenis pantun yang satu ini selalu memiliki ciri khas khusus di bagian isinya, yakni diakhiri dengan pertanyaan pada larik terakhir. Tujuan dari pantun ini umumnya untuk hiburan dan mengakrabkan kebersamaan.<\/p>\n<p><strong>Contoh:<\/strong><\/p>\n<p>Jikalau tuan tajuk cendana<\/p>\n<p>Ambil gantang jemurkan pala<\/p>\n<p>Jikalau tuan memang bijaksana<\/p>\n<p>Binatang apa ekor di kepala ?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li><strong> Pantun Anak<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Tidak hanya untuk orang dewasa, pantun bisa juga disampaikan untuk anak-anak. Tentu saja isinya lebih ringan dan menyangkut hal-hal yang dianggap menyenangkan oleh si kecil. Tujuan awal dari jenis pantun yang satu ini adalah untuk mengakrabkan anak dengan pantun, sekaligus memberikan didikan moral bagi mereka.<\/p>\n<p><strong>Contoh:<\/strong><\/p>\n<p>Kita menari ke luar bilik<br \/>\nSembarang tari kita tarikan<br \/>\nKita bernyanyi bersama adik<br \/>\nSembarang lagi kita nyanyikan<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><strong>MENGENALI ISI PANTUN<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Bimbim mempunyai kebiasaan kurang baik. Ia sering jajan sembarangan. Ia sering membeli makan-makanan yang mengandung pewarna buatan dan bahan pengawet. Dia tidak suka makan sayur dan makanan yang dimasak ibunya sendiri. Akibatnya Bimbim sering sakit tifus dan dirawat di RS. Meskipun demikian, Bimbim tidak jera. Ia masih melakukan kebiasaan buruknya.<\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"66\"><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><\/td>\n<td><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><strong>BERBALAS PANTUN<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Berbalas pantun <\/strong>dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang masing-masing mewakili pihak pria dan wanita. Dalam berbalas pantun, harus menyiapkan banyak pantun untuk diucapkan secara bergantian. Pantun satu dan lainnya saling berkaitan sehingga disebut <strong>pantun berkait<\/strong> atau disebut <strong>seloka. <\/strong>Seloka dapat berisi nasihat, tetapi terkadang juga berisi sindiran untuk menciptakan suasana gembira (kelucuan).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>(1)<\/p>\n<p>Menimbang barang dengan bejana<\/p>\n<p>Makan nasi lauknya ikan<\/p>\n<p><strong>Tuntutlah ilmu sampai ke Cina<\/strong><\/p>\n<p><strong>Ilmu baik harus diamalkan<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>(2)<\/p>\n<p>Makan nasi lauknya ikan<\/p>\n<p>Manis rasanya buah mangga<\/p>\n<p><strong>Ilmu baik harus diamalkan<\/strong><\/p>\n<p><strong>Biar jadi amalan berharga<\/strong><\/p>\n<p>(3)<\/p>\n<p>Manis rasanya buah mangga<\/p>\n<p>Buah yang bususk jangan dimakan<\/p>\n<p><strong>Biar jadi amalan berharga<\/strong><\/p>\n<p><strong>Berbuat baik jangan bicarakan<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li><strong>MENGUBAH CERITA MENJADI PANTUN<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong>Sebuah cerita dapat diubah menjadi pantun. Mengubah cerita menjadi pantun disebut <strong>memparafrasa. <\/strong>Memparafrasa adalah mengubak teks menjadi bentuk lain. Misalnya mengubah cerpen menjadi cerita. Cerpen juga dapat diparafrasa menjadi drama. Pantun dapat diparafrasa menjadi cerita. Begitu juga bentuk teks lain dapat diparafrasa bentuk lain.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>CONTOH : Cerita drama diubah menjadi pantun<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ke kebun binatang melihat badak<\/p>\n<p>Badak banyak jenisnya<\/p>\n<p>Berbakti kewajiban anak<\/p>\n<p>Sesuai tuntutan agama<\/p>\n<p>Anak mengejar layang-layang<\/p>\n<p>Layangan terbang ke angkasa<\/p>\n<p>Orang tua harus disayang<\/p>\n<p>Agar tidak jadi durhaka<\/p>\n<p>Pohon tumbang diatas bukit<\/p>\n<p>Burung terbang diangkasa<\/p>\n<p>Jika orang tua sakit<\/p>\n<p>Kewajiban anak merawatnya<\/p>\n<p>Si Dudung kakak Si Mimin<\/p>\n<p>Si Budi adik Si Wati<\/p>\n<p>Anak-anak berhak bermain<\/p>\n<p>Bermain untuk menghibur diri<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahasa Indonesia &#8211; SD Kelas 5 &#8211; Tema 4 &#8211; Kurikulum 2013 Rev 2017. RANGKUMAN MATERI KELAS V \u00a0 TEMA\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : 4 SUB TEMA\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : 1, 2, 3 \u00a0 KOMPETENSI DASAR : 3.6 Menggali isi dan amanat pantun yang disajikan secara lisan dan tulis dengan tujuan kesenangan. \u00a0 PENGERTIAN PANTUN Pantun adalah jenis puisi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[303,179,302,290],"tags":[],"class_list":["post-2695","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bahasa-indonesia","category-sd5","category-sd5-bahasa-indonesia","category-sd5-tema-4"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2695","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2695"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2695\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2699,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2695\/revisions\/2699"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2695"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2695"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2695"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}