{"id":227,"date":"2016-05-01T10:03:59","date_gmt":"2016-05-01T03:03:59","guid":{"rendered":"http:\/\/akreditasi.web.id\/buku\/?p=227"},"modified":"2017-09-13T13:50:55","modified_gmt":"2017-09-13T06:50:55","slug":"sd3-k2-6-agama-katolik-kasih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/sd3-k2-6-agama-katolik-kasih\/","title":{"rendered":"SD3-K2.6-Agama Katolik &#8211; Kasih"},"content":{"rendered":"<button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca &amp; Dengarkan!<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"F. Kasih. Mari berdoa! Bapa yang Mahakasih, Engkau mengutus Putra-Mu, Yesus Kristus, agar kasih-Mu menjadi nyata dalam hidupku, dan semakin dikenal oleh banyak orang. Semoga karena kasih-Mu, aku mampu mengasihi Engkau dan mengasihi orang lain. Amin. Mari mendengar cerita! Pada suatu hari, Tuhan berjanji kepada seorang nyonya tua\u00a0bahwa dia akan mengunjunginya hari itu. Tentu, nyonya tua itu\u00a0sangat bangga. Dia membersihkan rumahnya dan menatanya\u00a0dengan rapi. Kemudian dia duduk dan menunggu kedatangan\u00a0Tuhan. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Dengan\u00a0tergesa-gesa, dia berlari ke arah pintu, dan dengan tak sabar\u00a0membuka pintu itu. Ternyata yang dilihatnya, hanyalah seorang\u00a0pengemis yang berdiri di luar. \u201cjangan datang hari ini, pergilah.\u00a0Saya sedang menunggu kedatangan Tuhan sebentar lagi,\u00a0saya tidak bisa repot-repot dengan kamu\u201d. Jadi dia mengusir\u00a0pengemis itu dan menutup pintu. Setelah beberapa saat, terdengar lagi ketukan di pintu. Kali\u00a0ini nyonya tua itu dengan lebih cepat membuka pintu. Tapi apa\u00a0yang dilihatnya? Hanya seorang tua yang miskin. \u201cSaya sedang\u00a0menunggu kedatangan Tuhan. Maaf, saya tidak bisa mengurusi\u00a0kamu lagi\u201d. Katanya sambil membanting pintu. Beberapa saat\u00a0kemudian, terdengar lagi ketukan di pintu. Dia membuka dan\u00a0ternyata yang berdiri di sana adalah seorang pengemis yang\u00a0lapar dan berpakaian compang camping, yang terus menerus\u00a0meminta sedikit roti dan ijin menginap. \u201cTinggalkan tempat ini.\u00a0Saya sedang menunggu Tuhan! Saya tidak bisa mengurusi kamu\u00a0sekarang\u201d. Pengemis itu lalu pergi, dan nyonya tua itu kembali\u00a0duduk. Sorepun tiba, tapi belum ada tanda-tanda bahwa Tuhan akan\u00a0datang. Nyonya tua itu mulai gelisah. Di manakah Tuhan? Dan\u00a0kapan Dia datang? Akhirnya malampun tiba nyonya tua itupun tertidur. Dalam\u00a0tidurnya ia bermimpi bahwa Tuhan telah datang padanya dan\u00a0berkata, \u201cAku datang kepadamu tiga kali hari ini dan kamu\u00a0mengusir Aku\u201d. (diambil dari Percikan Kisah-Kisah Anak Manusia, hal. 259-260) Jawablah pertanyaan - pertanyaan di bawah ini ! Apa yang menarik dari cerita di atas ? Mengapa Tuhan tidak datang ke rumah nyonya itu ? Bagaimana cara Tuhan mengunjungi kita ? Mari mendengar cerita! Santa Elisabeth. Elisabeth Hungaria adalah janda kudus mendiang Pangeran\u00a0Ludwig IV dari Turing. Sepeninggal suaminya, ia menjadi anggota\u00a0ordo ketiga Santo Fransiskus Asisi yang sangat aktif melayani\u00a0orang-orang miskin dengan kekayaannya. Di tanah Turing, di atas sebuah bukit berdirilah sebuah istana\u00a0yang sangat megah. Kebun luas yang subur mengelilingi istana\u00a0itu. Di sana-sini pintu gerbang terhias ukiran menunjukkan\u00a0jalan, bila hendak masuk atau keluar. Raja Ludwig hidup saleh, gagah berani, bijaksana, dan adil. Ia tidak pernah memandang\u00a0orang berpangkat, atau orang bawahan, terhadap pelayan, juga\u00a0pengemis. Permaisuri raja Ludwig bernama Elisabeth. Seperti raja Ludwig,\u00a0ratu Elisabeth juga seorang yang dermawan. Ia lebih suka bermain\u00a0di kebun, atau berdoa di Gereja, daripada berpestapora dan\u00a0berdansa di istana. Maka tidak mengherankan keduanya, terlebih\u00a0Elisabeth disayangi rakyat Turing. Orang-orang miskin memuji-muji\u00a0mereka. Orang-orang sakit mengharapkan kunjungan Sang\u00a0Putri yang ramah itu. Anak-anak bersuka hati bila berjumpa\u00a0dengannya.\u00a0Tetapi, diantara para bangsawan, ada yang tidak suka kepada\u00a0Elisabeth dan tidak setuju dengan sikapnya. \u201cMengapa Elisabeth\u00a0mau bergaul dengan orang-orang yang rendah? Itu tidak pantas\u00a0dilakukannya! Mengapa Elisabeth banyak memberi sedekah?\u00a0Nanti harta istana Turing habis semua! Elisabeth seorang\u00a0pemboros!\u201d Raja Ludwig selalu membela Elisabeth. \u201cBiarkanlah\u00a0permaisuriku begitu! Selama Elisabeth bersikap dermawan,\u00a0selama itu pula penghuni istana Turing tidak kekurangan!\u201d Raja\u00a0Andreas pun membenarkan perilaku Elisabet, dan menghibur\u00a0Sang Putri bila diancam Fitnah. Raja Andreas adalah Bapak dari\u00a0Elisabeth\u00a0Mengapa hanya kedua raja itu yang membela Elisabeth?\u00a0Rupanya hanya mereka berdua yang sudah menyaksikan tanda\u00a0dari surga. Pada suatu hari di musim gugur, ketika raja Ludwig\u00a0dan Raja Andreas sedang duduk-duduk di serambi istana, mereka\u00a0melihat Elisabeth di kebun. Putri itu baru keluar dari dapur. Ia\u00a0berjalan cepat-cepat ke pintu gerbang belakang istana, seraya\u00a0mengangkat gaunnya ke atas. Apa yang dibawa Elisabeth di\u00a0dalam gaunnya? Makanan untuk para pengemis yang sudah\u00a0menantinya. Raja Ludwig segera menghampiri Elisabeth dan bertanya,\u00a0\u201cApa yang kaubawa itu?\u201d Elisabeth terkejut dan dengan cepat\u00a0menjawab, \u201cHanya bunga mawar saja yang kubawa, Tuanku.\u201d\u00a0Elisabeth sendiri tidak mengerti mengapa mengucapkan kalimat itu. Seperti ilham ilahi kata-kata itu keluar dari mulutnya. Raja\u00a0Ludwig menarik baju Elisabeth dan bunga mawar segar dan\u00a0harum terserak di tanah. Mengertilah Raja Ludwig, inilah tanda\u00a0dari surga! Tuhan berkenan pada Elisabeth. Raja pun semakin sayang kepada permaisurinya itu. Kebahagiaan Raja Ludwig dan Elisabeth tidak berlangsung\u00a0lama. Raja Ludwig wafat akibat penyakit pes yang dideritanya\u00a0ketika ia berada di medan perang untuk menolong negri lain.\u00a0Tak lama setelah kepergiaan raja Ludwig, Elisabeth dan ketiga anaknya yang masih kecil diusir dari istana oleh para bangsawan\u00a0yang membencinya. Elisabeth pergi kepada rakyatnya dengan\u00a0harapan bisa tinggal di antara mereka. Tetapi rakyat takut\u00a0melanggar aturan dari istana. Mereka tidak boleh memberi\u00a0bantuan kepada Elisabeth dan anak-anaknya. Rakyat menolak\u00a0bahkan tidak mengakui Sang permaisuri. Meskipun kecewa dan\u00a0sedih, Elisabeth tetap sabar menerima semua ini. Ketika para bangsawan yang setia kepada Raja Ludwig kembali\u00a0dari medan perang, mengetahui bahwa Elisabeth diusir dari\u00a0istana, mereka sangat marah. Mereka mengirim utusan untuk\u00a0mencari dan membawa Elisabeth pulang ke istana. Dengan penuh\u00a0rendah hati Elisabeth menerima permohonan maaf para penghuni\u00a0istana. Demi ketenangan tanah Turing, ia pun bersedia kembali\u00a0ke istana. Namun setelah keadaan kembali tenang, dan anak-anaknya\u00a0telah mendapat tempat pendidikan yang baik, Elisabeth\u00a0pindah ke sebuah kota kecil. Di sana ia mendirikan sebuah rumah\u00a0sakit. Ia bekerja menjadi juru rawat di rumah sakit itu. Dengan\u00a0penuh kasih sayang Elisabeth merawat orang-orang yang sakit\u00a0di sana. Pakaian kebesarannya dilepaskan dan berganti dengan\u00a0jubah biarawati ordo ketiga Santo Fransiskus Asisi. Sang putri\u00a0menjadi miskin, mengabdi dengan penuh kasih bagi orang miskin\u00a0dan menderita, hingga ia meninggal di Marbug, Jerman, pada\u00a0tahun 1231. Kini Gereja Katolik merayakan pesta Santa Elisabeth\u00a0dari Hungaria setiap tanggal 17 November. (sumber: Iman Katolik.\u00a0Media informasi dan sarana katekese). Rangkuman! Setiap hari Tuhan datang mengunjungi kita. Tuhan datang melalui orang-orang di sekitar kita, orang-orang\u00a0yang memerlukan pertolongan kita, misalnya:\u00a0orang miskin, pengemis, orang yang disingkirkan, dan\u00a0orang cacat. Yesus sendiri mengatakan kepada kita, kalau kamu\u00a0melakukan segala sesuatu untuk salah seorang\u00a0dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah\u00a0melakukannya untuk Aku (Mateus 25:40). Elisabeth adalah seorang Putri yang biasa hidup dalam\u00a0kemewahan tetapi selalu dekat dengan rakyat kecil dan\u00a0miskin. Dengan penuh kasih sayang, Elisabeth memberi\u00a0makanan dan sedekah kepada mereka. Karena kasihnya kepada orang miskin dan menderita,\u00a0ia melepaskan segala kemewahan dan menjadi seorang\u00a0juru rawat di sebuah kota kecil.\", \"Indonesian Female\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    \n<p>F. Kasih.<\/p>\n<p><strong><em>Mari berdoa!<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Bapa yang Mahakasih,<br \/>\nEngkau mengutus Putra-Mu, Yesus Kristus,<br \/>\nagar kasih-Mu menjadi nyata dalam hidupku,<br \/>\ndan semakin dikenal oleh banyak orang.<br \/>\nSemoga karena kasih-Mu,<br \/>\naku mampu mengasihi Engkau<br \/>\ndan mengasihi orang lain. Amin.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><em><strong>Mari mendengar cerita!<\/strong><\/em><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada suatu hari, Tuhan berjanji kepada seorang nyonya tua\u00a0bahwa dia akan mengunjunginya hari itu. Tentu, nyonya tua itu\u00a0sangat bangga. Dia membersihkan rumahnya dan menatanya\u00a0dengan rapi. Kemudian dia duduk dan menunggu kedatangan\u00a0Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Dengan\u00a0tergesa-gesa, dia berlari ke arah pintu, dan dengan tak sabar\u00a0membuka pintu itu. Ternyata yang dilihatnya, hanyalah seorang\u00a0pengemis yang berdiri di luar. \u201cjangan datang hari ini, pergilah.\u00a0Saya sedang menunggu kedatangan Tuhan sebentar lagi,\u00a0saya tidak bisa repot-repot dengan kamu\u201d. Jadi dia mengusir\u00a0pengemis itu dan menutup pintu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah beberapa saat, terdengar lagi ketukan di pintu. Kali\u00a0ini nyonya tua itu dengan lebih cepat membuka pintu. Tapi apa\u00a0yang dilihatnya? Hanya seorang tua yang miskin. \u201cSaya sedang\u00a0menunggu kedatangan Tuhan. Maaf, saya tidak bisa mengurusi\u00a0kamu lagi\u201d. Katanya sambil membanting pintu. Beberapa saat\u00a0kemudian, terdengar lagi ketukan di pintu. Dia membuka dan\u00a0ternyata yang berdiri di sana adalah seorang pengemis yang\u00a0lapar dan berpakaian compang camping, yang terus menerus\u00a0meminta sedikit roti dan ijin menginap. \u201cTinggalkan tempat ini.\u00a0Saya sedang menunggu Tuhan! Saya tidak bisa mengurusi kamu\u00a0sekarang\u201d. Pengemis itu lalu pergi, dan nyonya tua itu kembali\u00a0duduk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sorepun tiba, tapi belum ada tanda-tanda bahwa Tuhan akan\u00a0datang. Nyonya tua itu mulai gelisah. Di manakah Tuhan? Dan\u00a0kapan Dia datang?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akhirnya malampun tiba nyonya tua itupun tertidur. Dalam\u00a0tidurnya ia bermimpi bahwa Tuhan telah datang padanya dan\u00a0berkata, \u201cAku datang kepadamu tiga kali hari ini dan kamu\u00a0mengusir Aku\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">(diambil dari Percikan Kisah-Kisah Anak Manusia, hal. 259-260)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jawablah pertanyaan &#8211; pertanyaan di bawah ini !<\/p>\n<ol>\n<li>Apa yang menarik dari cerita di atas ?<\/li>\n<li>Mengapa Tuhan tidak datang ke rumah nyonya itu ?<\/li>\n<li>Bagaimana cara Tuhan mengunjungi kita ?<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Mari mendengar cerita!<\/p>\n<p>Santa Elisabeth.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Elisabeth Hungaria adalah janda kudus mendiang Pangeran\u00a0Ludwig IV dari Turing. Sepeninggal suaminya, ia menjadi anggota\u00a0ordo ketiga Santo Fransiskus Asisi yang sangat aktif melayani\u00a0orang-orang miskin dengan kekayaannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di tanah Turing, di atas sebuah bukit berdirilah sebuah istana\u00a0yang sangat megah. Kebun luas yang subur mengelilingi istana\u00a0itu. Di sana-sini pintu gerbang terhias ukiran menunjukkan\u00a0jalan, bila hendak masuk atau keluar. Raja Ludwig hidup saleh,<br \/>\ngagah berani, bijaksana, dan adil. Ia tidak pernah memandang\u00a0orang berpangkat, atau orang bawahan, terhadap pelayan, juga\u00a0pengemis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Permaisuri raja Ludwig bernama Elisabeth. Seperti raja Ludwig,\u00a0ratu Elisabeth juga seorang yang dermawan. Ia lebih suka bermain\u00a0di kebun, atau berdoa di Gereja, daripada berpestapora dan\u00a0berdansa di istana. Maka tidak mengherankan keduanya, terlebih\u00a0Elisabeth disayangi rakyat Turing. Orang-orang miskin memuji-muji\u00a0mereka. Orang-orang sakit mengharapkan kunjungan Sang\u00a0Putri yang ramah itu. Anak-anak bersuka hati bila berjumpa\u00a0dengannya.\u00a0Tetapi, diantara para bangsawan, ada yang tidak suka kepada\u00a0Elisabeth dan tidak setuju dengan sikapnya. \u201cMengapa Elisabeth\u00a0mau bergaul dengan orang-orang yang rendah? Itu tidak pantas\u00a0dilakukannya! Mengapa Elisabeth banyak memberi sedekah?\u00a0Nanti harta istana Turing habis semua! Elisabeth seorang\u00a0pemboros!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Raja Ludwig selalu membela Elisabeth. \u201cBiarkanlah\u00a0permaisuriku begitu! Selama Elisabeth bersikap dermawan,\u00a0selama itu pula penghuni istana Turing tidak kekurangan!\u201d Raja\u00a0Andreas pun membenarkan perilaku Elisabet, dan menghibur\u00a0Sang Putri bila diancam Fitnah. Raja Andreas adalah Bapak dari\u00a0Elisabeth\u00a0Mengapa hanya kedua raja itu yang membela Elisabeth?\u00a0Rupanya hanya mereka berdua yang sudah menyaksikan tanda\u00a0dari surga. Pada suatu hari di musim gugur, ketika raja Ludwig\u00a0dan Raja Andreas sedang duduk-duduk di serambi istana, mereka\u00a0melihat Elisabeth di kebun. Putri itu baru keluar dari dapur. Ia\u00a0berjalan cepat-cepat ke pintu gerbang belakang istana, seraya\u00a0mengangkat gaunnya ke atas. Apa yang dibawa Elisabeth di\u00a0dalam gaunnya? Makanan untuk para pengemis yang sudah\u00a0menantinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Raja Ludwig segera menghampiri Elisabeth dan bertanya,\u00a0\u201cApa yang kaubawa itu?\u201d Elisabeth terkejut dan dengan cepat\u00a0menjawab, \u201cHanya bunga mawar saja yang kubawa, Tuanku.\u201d\u00a0Elisabeth sendiri tidak mengerti mengapa mengucapkan kalimat<br \/>\nitu. Seperti ilham ilahi kata-kata itu keluar dari mulutnya. Raja\u00a0Ludwig menarik baju Elisabeth dan bunga mawar segar dan\u00a0harum terserak di tanah. Mengertilah Raja Ludwig, inilah tanda\u00a0dari surga! Tuhan berkenan pada Elisabeth. Raja pun semakin<br \/>\nsayang kepada permaisurinya itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebahagiaan Raja Ludwig dan Elisabeth tidak berlangsung\u00a0lama. Raja Ludwig wafat akibat penyakit pes yang dideritanya\u00a0ketika ia berada di medan perang untuk menolong negri lain.\u00a0Tak lama setelah kepergiaan raja Ludwig, Elisabeth dan ketiga<br \/>\nanaknya yang masih kecil diusir dari istana oleh para bangsawan\u00a0yang membencinya. Elisabeth pergi kepada rakyatnya dengan\u00a0harapan bisa tinggal di antara mereka. Tetapi rakyat takut\u00a0melanggar aturan dari istana. Mereka tidak boleh memberi\u00a0bantuan kepada Elisabeth dan anak-anaknya. Rakyat menolak\u00a0bahkan tidak mengakui Sang permaisuri. Meskipun kecewa dan\u00a0sedih, Elisabeth tetap sabar menerima semua ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika para bangsawan yang setia kepada Raja Ludwig kembali\u00a0dari medan perang, mengetahui bahwa Elisabeth diusir dari\u00a0istana, mereka sangat marah. Mereka mengirim utusan untuk\u00a0mencari dan membawa Elisabeth pulang ke istana. Dengan penuh\u00a0rendah hati Elisabeth menerima permohonan maaf para penghuni\u00a0istana. Demi ketenangan tanah Turing, ia pun bersedia kembali\u00a0ke istana. Namun setelah keadaan kembali tenang, dan anak-anaknya\u00a0telah mendapat tempat pendidikan yang baik, Elisabeth\u00a0pindah ke sebuah kota kecil. Di sana ia mendirikan sebuah rumah\u00a0sakit. Ia bekerja menjadi juru rawat di rumah sakit itu. Dengan\u00a0penuh kasih sayang Elisabeth merawat orang-orang yang sakit\u00a0di sana. Pakaian kebesarannya dilepaskan dan berganti dengan\u00a0jubah biarawati ordo ketiga Santo Fransiskus Asisi. Sang putri\u00a0menjadi miskin, mengabdi dengan penuh kasih bagi orang miskin\u00a0dan menderita, hingga ia meninggal di Marbug, Jerman, pada\u00a0tahun 1231. Kini Gereja Katolik merayakan pesta Santa Elisabeth\u00a0dari Hungaria setiap tanggal 17 November.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(sumber: Iman Katolik.\u00a0Media informasi dan sarana katekese).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Rangkuman!<\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify;\">Setiap hari Tuhan datang mengunjungi kita.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Tuhan datang melalui orang-orang di sekitar kita, orang-orang\u00a0yang memerlukan pertolongan kita, misalnya:\u00a0orang miskin, pengemis, orang yang disingkirkan, dan\u00a0orang cacat.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Yesus sendiri mengatakan kepada kita, kalau kamu\u00a0melakukan segala sesuatu untuk salah seorang\u00a0dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah\u00a0melakukannya untuk Aku (Mateus 25:40).<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Elisabeth adalah seorang Putri yang biasa hidup dalam\u00a0kemewahan tetapi selalu dekat dengan rakyat kecil dan\u00a0miskin.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Dengan penuh kasih sayang, Elisabeth memberi\u00a0makanan dan sedekah kepada mereka.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Karena kasihnya kepada orang miskin dan menderita,\u00a0ia melepaskan segala kemewahan dan menjadi seorang\u00a0juru rawat di sebuah kota kecil.<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>F. Kasih. Mari berdoa! Bapa yang Mahakasih, Engkau mengutus Putra-Mu, Yesus Kristus, agar kasih-Mu menjadi nyata dalam hidupku, dan semakin dikenal oleh banyak orang. Semoga karena kasih-Mu, aku mampu mengasihi Engkau dan mengasihi orang lain. Amin. &nbsp; Mari mendengar cerita! Pada suatu hari, Tuhan berjanji kepada seorang nyonya tua\u00a0bahwa dia akan mengunjunginya hari itu. Tentu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,24],"tags":[271,275,273,272,277,276,30,55,278,279,31,274],"class_list":["post-227","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sd3","category-sd3-agama-katolik","tag-audiobook","tag-book","tag-buku","tag-bukusuara","tag-free","tag-gratis","tag-kasih","tag-katolik","tag-pelajaran","tag-sekolah","tag-st-elisabeth","tag-suara"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/227","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=227"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/227\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":233,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/227\/revisions\/233"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=227"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=227"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=227"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}