{"id":220,"date":"2016-05-01T09:26:19","date_gmt":"2016-05-01T02:26:19","guid":{"rendered":"http:\/\/akreditasi.web.id\/buku\/?p=220"},"modified":"2017-09-13T13:51:02","modified_gmt":"2017-09-13T06:51:02","slug":"sd3-k2-6-agama-katolik-harapan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/sd3-k2-6-agama-katolik-harapan\/","title":{"rendered":"SD3-K2.5-Agama Katolik- Harapan."},"content":{"rendered":"<button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca &amp; Dengarkan!<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"E. Harapan. Mari berdoa !\u00a0Doa agar kuat dalam pengharapan. Tuhan, Al-lah kami, dalam mengarungi hidup ini, kami\u00a0sering menemukan kegembiraan dan penderitaan;\u00a0hidup kami diwarnai suka dan duka.\u00a0Kegembiraan yang kami rasakan telah menumbuhkan\u00a0pengharapan di dalam hati. Tetapi kegagalan yang kami\u00a0jumpai dapat menimbulkan kekecewaan dan ketakutan.\u00a0Tuhan, tanamkanlah dalam hati kami pengharapan yang\u00a0teguh akan cinta kasih dan kebaikan-Mu; pengharapan\u00a0yang menjiwai seluruh hidup. (diambil dari Madah bakti no. 8 B) Mari mendengar cerita! Kisah Gadis Kecil Penjual Korek Api ! Malam itu gelap dan dingin sekali. Salju turun deras. Malam\u00a0terakhir tahun menjelang tahun baru. Dalam dingin dan gelap itu\u00a0seorang gadis kecil berjalan di sepanjang jalan. Ia tidak memakai\u00a0topi dan sepatu. Ia memakai sandal ketika meninggalkan rumah.\u00a0Sandal itu peninggalan ibunya dan sangat kebesaran. Ketika ia menyeberangi jalan, dua buah kereta lewat dengan sangat\u00a0cepat sehingga sandalnya terlepas dan hilang. Jadi ia terus berjalan dengan kaki telanjang yang sudah merah\u00a0dan biru karena kedinginan. Ia membawa banyak korek api dalam\u00a0saku celemek tua yang dipakainya, dan satu ikat korek api dalam\u00a0genggaman tangannya. Tak seorang pun membeli korek apinya\u00a0sepanjang hari itu. Sedikitpun ia tidak menerima uang. Ia terus\u00a0berjalan, gemetar karena kedinginan dan lapar. Sungguh malang\u00a0gadis kecil itu.\u00a0Serpihan-serpihan salju jatuh di rambut pirangnya yang\u00a0panjang, yang jatuh dengan ikal indah di lehernya, namun ia\u00a0tidak pernah memikirkannya. Yang terpikir olehnya adalah,\u00a0dari jendela-jendela yang dilewatinya ia melihat cahaya lilin\u00a0berkilauan dan tercium bau sedap angsa panggang, karena saat\u00a0itu malam tahun baru. Pada sudut di antara dua rumah, dimana satu rumah lebih\u00a0menonjol dari rumah yang satu lagi, gadis itu duduk dan\u00a0meringkukkan tubuhnya. Ia menarik kaki-kaki kecilnya lebih\u00a0mendekat ke tubuhnya, namun ia merasa makin lama makin\u00a0dingin. ia tak berani pulang karena tak satupun korek api pun\u00a0terjual dan tak dapat membawa pulang uang sedikitpun. Ayahnya\u00a0akan memukulnya dan di rumahnya juga dingin karena atap\u00a0rumah itu berlubang-lubang sehingga angin leluasa masuk. Tangan-tangan kecil itu hampir mati rasa karena kedinginan.\u00a0Oh! Sebatang korek api akan memberinya sedikit kehangatan\u00a0kalau saja ia beranikan diri membakar satu batang dari ikatan\u00a0itu dan menggesekkannya pada dinding. Ia menarik sebatang. \u201cRrrrssttt!\u201d lihat cahayanya, ia terbakar! Api kecil yang hangat dan\u00a0terang, seperti lilin, ia menangkupkan tangannya pada cahaya\u00a0itu, cahaya yang menyenangkan. Gadis kecil itu merasa seolah\u00a0ia duduk di depan tungku perapian besi yang besar dengan kaki\u00a0kuningan mengkilat dan hiasan kuningan di bagian atasnya.\u00a0Apinya membawa kehangatan yang menyenangkan. Gadis kecil\u00a0menjulurkan kakinya supaya hangat, namun api kecil itu padam,\u00a0dan tungku itu lenyap. Yang tertinggal hanya puntung korek api di\u00a0tangannya. Ia menggesekkan sebatang korek api lagi ke dinding, korek\u00a0itu menyala terang, dan pada tempat di dinding yang tertimpa\u00a0cahayanya, dinding menjadi tembus pandang dan ia dapat\u00a0melihat ke dalam ruangan di baliknya. Di atas meja terbentang\u00a0alas meja seputih salju, di atasnya alat-alat makan porselin yang\u00a0indah dan angsa panggang yang masih berasap dengan isi apel\u00a0dan plum kering. Angsa itu melompat dari piringnya, melenggaklenggok\u00a0di lantai dengan pisau dan garpu menancap di dadanya,\u00a0dan ketika ia tiba di depan gadis itu, korek api padam hanya meninggalkan tembok tebal yang dingin dan lembab di depannya.\u00a0Ia menyalakan sebatang korek api lagi. Kali ini ia duduk di bawah\u00a0pohon natal yang luar biasa indah. Pohon natal itu jauh lebih\u00a0besar dengan hiasan yang jauh lebih indah dari yang dilihatnya\u00a0dari pintu kaca di rumah pedagang kaya itu. Ribuan lampu menyala pada cabang-cabang pohon yang hijau,\u00a0dan gambar-gambar berwarna cerah seperti yang dilihatnya di\u00a0jendela toko seolah memandangnya dari atas. Ia menjulurkan\u00a0tangannya ke lampu-lampu itu dan korek api padam. Lampu-lampu\u00a0pohon natal itu naik makin tinggi dan tinggi, gadis itu\u00a0melihatnya seperti bintang-bintang di langit, dan satu jatuh,\u00a0membentuk jejak panjang seperti garis api. \u201cSeseorang baru meninggal!\u201d kata gadis kecil itu. Neneknya,\u00a0satu-satunya orang yang menyayanginya, yang sekarang sudah\u00a0tiada, mengatakan kepadanya, bila sebuah bintang jatuh, maka\u00a0satu jiwa naik ke surga. Ia menarik sebatang korek api lagi dan dalam cahayanya ia\u00a0melihat neneknya yang tua, begitu terang dan bercahaya, begitu\u00a0lembut dan penuh kasih.\u00a0\u201cNenek!\u201d jerit si kecil, \u201cOh, Nek, bawa aku bersamamu! Nenek\u00a0akan pergi bila korek api ini padam, nenek akan menghilang\u00a0seperti tungku yang hangat itu, seperti angsa panggang yang\u00a0lezat dan seperti pohon natal indah itu!\u201d Ia pun dengan cepat\u00a0menggesekkan seikat korek api ke dinding, karena ia ingin\u00a0menahan neneknya bersamanya. Dan cahaya korek api itu begitu\u00a0terang, lebih terang dari siang hari. Belum pernah ia melihat neneknya begitu cantik dan tinggi. Ia\u00a0menarik gadis kecil itu ke dalam pelukannya, dan mereka berdua\u00a0terbang tinggi, begitu tinggi, di mana tiada dingin, lapar atau\u00a0cemas, karena mereka sekarang bersama Tuhan\u00a0Namun di sudut itu, pada dini hari, duduk gadis kecil malang,\u00a0dengan pipi merona dan senyum di bibirnya, bersandar di dinding,\u00a0membeku kedinginan pada malam terakhir tahun lalu. Ia duduk\u00a0kaku dan dingin dengan korek apinya. Seikat sudah terbakar. \u201cIa\u00a0ingin menghangatkan dirinya,\u201d kata orang-orang. Tak seorang pun menduga bahwa ia telah melihat kejadian-kejadian\u00a0indah, tak seorang pun mengira bahwa bersama\u00a0neneknya ia telah memasuki kebahagiaan tahun baru. (Dongeng\u00a0sepanjang masa. Hans Christian Andersen). Latihan Soal ! Mengapa gadis penjual korek api itu kedinginan dan lapar? Apa yang dilakukannya untuk mengahatkan tubuhnya ? Apa harapan dari gadis penjual korek api? Mari mendengar cerita!\u00a0Santa Monika. Monika dilahirkan pada tahun 331 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara\u00a0dari keluarga Kristen yang taat. Leluhurnya bukan penduduk asli\u00a0Afrika, tetapi perantauan dari Fenisia. Monika dinikahkan dengan Patrisius, seorang pegawai tinggi\u00a0pemerintahan kota. Mereka dikaruniai 3 orang anak bernama: \u00a0Agustinus, Navigius dan Perpetua (yang kelak memimpin biara).\u00a0Patrisius seorang kafir. Ia bertabiat buruk, suka naik pitam dan sering\u00a0mentertawakan usaha keras Monika untuk mendidik Agustinus\u00a0menjadi pemuda Kristiani. Meskipun demikian, Monika tidak pernah\u00a0membantah ataupun bertengkar dengan suaminya.Tak henti-hentinya\u00a0ia berdoa agar suami dan puteranya segera bertobat dan\u00a0menerima Kristus. Pada tahun 371 Patrisius meninggal. Mendekati ajalnya ia\u00a0bertobat dan minta di baptis. Bahkan ibu Patrisius pun juga dibaptis.\u00a0Sementara itu, Agustinus belum juga mau menjadi seorang Kristen.\u00a0Meski tidak ada tanda-tanda bahwa doanya dikabulkan Tuhan,\u00a0Monika dengan setia tetap berdoa untuk Agustinus setiap kali berdoa\u00a0air matanya mengalir dari kedua matanya. Tuhan mendengarkan\u00a0keluh kesah Monika dan menguatkannya dengan suatu mimpi.\u00a0Dalam mimpinya, Monika melihat dirinya sendiri berada di atas\u00a0sebuah mistar dari kayu, kemudian datanglah seorang pemuda\u00a0yang berseri-seri dan bercahaya wajahnya. Pemuda itu bertanya, \u201cMengapa ibu bersedih? Apa yang menyebabkan ibu menangis\u00a0setiap hari?\u201d Monika menjawab bahwa ia sedih karena tidak tahan\u00a0melihat kebijaksanaan Agustinus, putranya. Maka pemuda itu\u00a0mengajak Monika untuk melihat dengan saksama. Segeralah terlihat\u00a0oleh Monika bahwa Agustinus ada bersamanya di atas mistar. Kata\u00a0pemuda itu, \u201cDi mana engkau berada, ia pun berada.\u201d Telah lama waktu berlalu sejak mimpinya itu, namun Agustinus\u00a0masih juga hidup dalam dosa. Oleh karena itu Monika terus datang\u00a0kepada Bapa Uskup memohon-mohon dan mendesak-desak\u00a0dengan air mata bercucuran supaya uskup mau menengok dan\u00a0menasehati Agustinus. Lama-kelamaan Uskup menjadi bosan dan kehilangan kesabarannya, sehingga ia berkata, \u201cPergilah, jangan\u00a0menggangguku; demi hidupmu tak mungkinlah binasa anakmu\u00a0sudah sekian banyak air mata yang keluar dari matamu!\u201d Monika\u00a0amat gembira sebab ia percaya pada apa yang dikatakan Bapa\u00a0Uskup bahwa Agustinus tidak mungkin binasa. Pada tahun 383 Agustinus bersama Alypius, sahabatnya, hendak\u00a0berangkat ke Roma dan Milan untuk mengajar. Monika tidak setuju\u00a0karena waktu itu Roma buruk peradabannya. Di pantai menjelang\u00a0keberangkatannya, Monika menawarkan hanya dua pilihan kepada\u00a0Agustinus: pulang dengannya atau Monika ikut dengan Agustinus ke\u00a0Italia. Dengan tipu dayanya Agustinus meninggalkan ibunya seorang diri di kapel Beato Cyprianus yang terletak di tepi pantai, sementara\u00a0ia dan Alypius berlayar ke Italia. Monika amat sedih, seorang diri ia menyusul Agustinus ke Italia.\u00a0Penderitaan berat ditanggungnya terutama karena kapal yang\u00a0ditumpanginya hampir karam karena badai. Tuhan menguatkan\u00a0Monika dengan janji-Nya bahwa ia akan bertemu dengan puteranya\u00a0sesampainya di Italia. Monika bersahabat baik dengan St. Ambrosius, Uskup kota Milan.\u00a0Agustinus mulai tertarik dengan khotbah dan ajaran-ajaran Uskup\u00a0Ambrosius hingga akhirnya Agustinus dibaptis.\u00a0Dua bulan kemudian, yaitu bulan Juni tahun 387 Agustinus,\u00a0Alypius & Monika berencana pulang kembali ke Tagaste, Afrika.\u00a0Dalam perjalanan pulang mereka singgah di Ostia, di dekat\u00a0muara sungai Tiber. Monika dan Agustinus mereka berdua berdiri\u00a0bersandar pada jendela rumah persinggahan mereka. Mereka\u00a0terlibat dalam pembicaraan yang sangat menarik mengenai seperti apa kiranya kehidupan para kudus di surga. Diliputi rasa bahagia\u00a0yang amat sangat Monika berkata kepada Agustinus, \u201cAnakku,\u00a0bagiku tidak ada lagi yang dapat memukauku dalam kehidupan ini.\u00a0Apa lagi yang dapat kuperbuat di dunia ini? Untuk apa aku di sini?\u00a0Entahlah, tak ada lagi yang kuharapkan dari dunia ini. Ada satu hal saja yang tadinya masih membuat aku ingin tinggal cukup lama\u00a0dalam kehidupan ini, yaitu melihat engkau menjadi Kristen Katolik\u00a0sebelum aku mati. Keinginanku sudah dikabulkan sevara berlimpah\u00a0dalam apa yang telah diberikan Allah kepadaku: kulihat kau sudah\u00a0sampai meremehkan kebahagiaan dunia ini dan menjadi hamba- Nya. Apa yang kuperbuat lagi di sini?\u201d Lima hari kemudian Monika jatuh sakit. Kepada kedua putranya,\u00a0Agustinus dan Navigius, Monika berpesan, \u201cYang kuminta kepada\u00a0kalian hanyalah supaya kalian memperingati aku di altar Tuhan\u00a0di mana saja kalian berada.\u201d Hanya supaya ia diingat di altar-Mu, itulah keinginannya. Sebab ia telah melayani altar itu tanpa\u00a0melewati satu hari pun. Pada hari yang kesembilan Monika wafat\u00a0dalam usia 56 tahun. Santa Monika dihormati sebagai pelindung\u00a0ibu rumah tangga. Pestanya dirayakan setiap tanggal 27 Agustus. Latihan Soal! Siapakah Santa Monika? Apa yang dilakukan ketika anak-anaknya berperilaku tidak baik? Apa yang dapat kita teladani dari Santa Monika? Rangkuman ! \u2022 Santa Monika berdoa selama 20 tahun, barulah ia\u00a0melihat Tuhan menjawab doanya. \u2022 Janganlah kita berputus asa , karena Tuhan\u00a0mempunyai rencana yang indah untuk hidup kita.\", \"Indonesian Female\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    \n<p>E. Harapan.<\/p>\n<p>Mari berdoa !\u00a0Doa agar kuat dalam pengharapan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tuhan, Al-lah kami, dalam mengarungi hidup ini, kami\u00a0sering menemukan kegembiraan dan penderitaan;\u00a0hidup kami diwarnai suka dan duka.\u00a0Kegembiraan yang kami rasakan telah menumbuhkan\u00a0pengharapan di dalam hati. Tetapi kegagalan yang kami\u00a0jumpai dapat menimbulkan kekecewaan dan ketakutan.\u00a0Tuhan, tanamkanlah dalam hati kami pengharapan yang\u00a0teguh akan cinta kasih dan kebaikan-Mu; pengharapan\u00a0yang menjiwai seluruh hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(diambil dari Madah bakti no. 8 B)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mari mendengar cerita! Kisah Gadis Kecil Penjual Korek Api !<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Malam itu gelap dan dingin sekali. Salju turun deras. Malam\u00a0terakhir tahun menjelang tahun baru. Dalam dingin dan gelap itu\u00a0seorang gadis kecil berjalan di sepanjang jalan. Ia tidak memakai\u00a0topi dan sepatu. Ia memakai sandal ketika meninggalkan rumah.\u00a0Sandal itu peninggalan ibunya dan sangat kebesaran. Ketika<br \/>\nia menyeberangi jalan, dua buah kereta lewat dengan sangat\u00a0cepat sehingga sandalnya terlepas dan hilang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi ia terus berjalan dengan kaki telanjang yang sudah merah\u00a0dan biru karena kedinginan. Ia membawa banyak korek api dalam\u00a0saku celemek tua yang dipakainya, dan satu ikat korek api dalam\u00a0genggaman tangannya. Tak seorang pun membeli korek apinya\u00a0sepanjang hari itu. Sedikitpun ia tidak menerima uang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia terus\u00a0berjalan, gemetar karena kedinginan dan lapar. Sungguh malang\u00a0gadis kecil itu.\u00a0Serpihan-serpihan salju jatuh di rambut pirangnya yang\u00a0panjang, yang jatuh dengan ikal indah di lehernya, namun ia\u00a0tidak pernah memikirkannya. Yang terpikir olehnya adalah,\u00a0dari jendela-jendela yang dilewatinya ia melihat cahaya lilin\u00a0berkilauan dan tercium bau sedap angsa panggang, karena saat\u00a0itu malam tahun baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada sudut di antara dua rumah, dimana satu rumah lebih\u00a0menonjol dari rumah yang satu lagi, gadis itu duduk dan\u00a0meringkukkan tubuhnya. Ia menarik kaki-kaki kecilnya lebih\u00a0mendekat ke tubuhnya, namun ia merasa makin lama makin\u00a0dingin. ia tak berani pulang karena tak satupun korek api pun\u00a0terjual dan tak dapat membawa pulang uang sedikitpun. Ayahnya\u00a0akan memukulnya dan di rumahnya juga dingin karena atap\u00a0rumah itu berlubang-lubang sehingga angin leluasa masuk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tangan-tangan kecil itu hampir mati rasa karena kedinginan.\u00a0Oh! Sebatang korek api akan memberinya sedikit kehangatan\u00a0kalau saja ia beranikan diri membakar satu batang dari ikatan\u00a0itu dan menggesekkannya pada dinding. Ia menarik sebatang.<br \/>\n\u201cRrrrssttt!\u201d lihat cahayanya, ia terbakar! Api kecil yang hangat dan\u00a0terang, seperti lilin, ia menangkupkan tangannya pada cahaya\u00a0itu, cahaya yang menyenangkan. Gadis kecil itu merasa seolah\u00a0ia duduk di depan tungku perapian besi yang besar dengan kaki\u00a0kuningan mengkilat dan hiasan kuningan di bagian atasnya.\u00a0Apinya membawa kehangatan yang menyenangkan. Gadis kecil\u00a0menjulurkan kakinya supaya hangat, namun api kecil itu padam,\u00a0dan tungku itu lenyap. Yang tertinggal hanya puntung korek api di\u00a0tangannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menggesekkan sebatang korek api lagi ke dinding, korek\u00a0itu menyala terang, dan pada tempat di dinding yang tertimpa\u00a0cahayanya, dinding menjadi tembus pandang dan ia dapat\u00a0melihat ke dalam ruangan di baliknya. Di atas meja terbentang\u00a0alas meja seputih salju, di atasnya alat-alat makan porselin yang\u00a0indah dan angsa panggang yang masih berasap dengan isi apel\u00a0dan plum kering. Angsa itu melompat dari piringnya, melenggaklenggok\u00a0di lantai dengan pisau dan garpu menancap di dadanya,\u00a0dan ketika ia tiba di depan gadis itu, korek api padam hanya<br \/>\nmeninggalkan tembok tebal yang dingin dan lembab di depannya.\u00a0Ia menyalakan sebatang korek api lagi. Kali ini ia duduk di bawah\u00a0pohon natal yang luar biasa indah. Pohon natal itu jauh lebih\u00a0besar dengan hiasan yang jauh lebih indah dari yang dilihatnya\u00a0dari pintu kaca di rumah pedagang kaya itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ribuan lampu menyala pada cabang-cabang pohon yang hijau,\u00a0dan gambar-gambar berwarna cerah seperti yang dilihatnya di\u00a0jendela toko seolah memandangnya dari atas. Ia menjulurkan\u00a0tangannya ke lampu-lampu itu dan korek api padam. Lampu-lampu\u00a0pohon natal itu naik makin tinggi dan tinggi, gadis itu\u00a0melihatnya seperti bintang-bintang di langit, dan satu jatuh,\u00a0membentuk jejak panjang seperti garis api.<br \/>\n\u201cSeseorang baru meninggal!\u201d kata gadis kecil itu. Neneknya,\u00a0satu-satunya orang yang menyayanginya, yang sekarang sudah\u00a0tiada, mengatakan kepadanya, bila sebuah bintang jatuh, maka\u00a0satu jiwa naik ke surga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menarik sebatang korek api lagi dan dalam cahayanya ia\u00a0melihat neneknya yang tua, begitu terang dan bercahaya, begitu\u00a0lembut dan penuh kasih.\u00a0\u201cNenek!\u201d jerit si kecil, \u201cOh, Nek, bawa aku bersamamu! Nenek\u00a0akan pergi bila korek api ini padam, nenek akan menghilang\u00a0seperti tungku yang hangat itu, seperti angsa panggang yang\u00a0lezat dan seperti pohon natal indah itu!\u201d Ia pun dengan cepat\u00a0menggesekkan seikat korek api ke dinding, karena ia ingin\u00a0menahan neneknya bersamanya. Dan cahaya korek api itu begitu\u00a0terang, lebih terang dari siang hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Belum pernah ia melihat neneknya begitu cantik dan tinggi. Ia\u00a0menarik gadis kecil itu ke dalam pelukannya, dan mereka berdua\u00a0terbang tinggi, begitu tinggi, di mana tiada dingin, lapar atau\u00a0cemas, karena mereka sekarang bersama Tuhan\u00a0Namun di sudut itu, pada dini hari, duduk gadis kecil malang,\u00a0dengan pipi merona dan senyum di bibirnya, bersandar di dinding,\u00a0membeku kedinginan pada malam terakhir tahun lalu. Ia duduk\u00a0kaku dan dingin dengan korek apinya. Seikat sudah terbakar. \u201cIa\u00a0ingin menghangatkan dirinya,\u201d kata orang-orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak seorang pun menduga bahwa ia telah melihat kejadian-kejadian\u00a0indah, tak seorang pun mengira bahwa bersama\u00a0neneknya ia telah memasuki kebahagiaan tahun baru. (Dongeng\u00a0sepanjang masa. Hans Christian Andersen).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Latihan Soal !<\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: justify;\">Mengapa gadis penjual korek api itu kedinginan dan lapar?<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Apa yang dilakukannya untuk mengahatkan tubuhnya ?<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Apa harapan dari gadis penjual korek api?<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Mari mendengar cerita!\u00a0Santa Monika.<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Monika dilahirkan pada tahun 331 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara\u00a0dari keluarga Kristen yang taat. Leluhurnya bukan penduduk asli\u00a0Afrika, tetapi perantauan dari Fenisia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Monika dinikahkan dengan Patrisius, seorang pegawai tinggi\u00a0pemerintahan kota. Mereka dikaruniai 3 orang anak bernama: \u00a0Agustinus, Navigius dan Perpetua (yang kelak memimpin biara).\u00a0Patrisius seorang kafir. Ia bertabiat buruk, suka naik pitam dan sering\u00a0mentertawakan usaha keras Monika untuk mendidik Agustinus\u00a0menjadi pemuda Kristiani. Meskipun demikian, Monika tidak pernah\u00a0membantah ataupun bertengkar dengan suaminya.Tak henti-hentinya\u00a0ia berdoa agar suami dan puteranya segera bertobat dan\u00a0menerima Kristus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahun 371 Patrisius meninggal. Mendekati ajalnya ia\u00a0bertobat dan minta di baptis. Bahkan ibu Patrisius pun juga dibaptis.\u00a0Sementara itu, Agustinus belum juga mau menjadi seorang Kristen.\u00a0Meski tidak ada tanda-tanda bahwa doanya dikabulkan Tuhan,\u00a0Monika dengan setia tetap berdoa untuk Agustinus setiap kali berdoa\u00a0air matanya mengalir dari kedua matanya. Tuhan mendengarkan\u00a0keluh kesah Monika dan menguatkannya dengan suatu mimpi.\u00a0Dalam mimpinya, Monika melihat dirinya sendiri berada di atas\u00a0sebuah mistar dari kayu, kemudian datanglah seorang pemuda\u00a0yang berseri-seri dan bercahaya wajahnya. Pemuda itu bertanya,<br \/>\n\u201cMengapa ibu bersedih? Apa yang menyebabkan ibu menangis\u00a0setiap hari?\u201d Monika menjawab bahwa ia sedih karena tidak tahan\u00a0melihat kebijaksanaan Agustinus, putranya. Maka pemuda itu\u00a0mengajak Monika untuk melihat dengan saksama. Segeralah terlihat\u00a0oleh Monika bahwa Agustinus ada bersamanya di atas mistar. Kata\u00a0pemuda itu, \u201cDi mana engkau berada, ia pun berada.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Telah lama waktu berlalu sejak mimpinya itu, namun Agustinus\u00a0masih juga hidup dalam dosa. Oleh karena itu Monika terus datang\u00a0kepada Bapa Uskup memohon-mohon dan mendesak-desak\u00a0dengan air mata bercucuran supaya uskup mau menengok dan\u00a0menasehati Agustinus. Lama-kelamaan Uskup menjadi bosan dan<br \/>\nkehilangan kesabarannya, sehingga ia berkata, \u201cPergilah, jangan\u00a0menggangguku; demi hidupmu tak mungkinlah binasa anakmu\u00a0sudah sekian banyak air mata yang keluar dari matamu!\u201d Monika\u00a0amat gembira sebab ia percaya pada apa yang dikatakan Bapa\u00a0Uskup bahwa Agustinus tidak mungkin binasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahun 383 Agustinus bersama Alypius, sahabatnya, hendak\u00a0berangkat ke Roma dan Milan untuk mengajar. Monika tidak setuju\u00a0karena waktu itu Roma buruk peradabannya. Di pantai menjelang\u00a0keberangkatannya, Monika menawarkan hanya dua pilihan kepada\u00a0Agustinus: pulang dengannya atau Monika ikut dengan Agustinus ke\u00a0Italia. Dengan tipu dayanya Agustinus meninggalkan ibunya seorang<br \/>\ndiri di kapel Beato Cyprianus yang terletak di tepi pantai, sementara\u00a0ia dan Alypius berlayar ke Italia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Monika amat sedih, seorang diri ia menyusul Agustinus ke Italia.\u00a0Penderitaan berat ditanggungnya terutama karena kapal yang\u00a0ditumpanginya hampir karam karena badai. Tuhan menguatkan\u00a0Monika dengan janji-Nya bahwa ia akan bertemu dengan puteranya\u00a0sesampainya di Italia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Monika bersahabat baik dengan St. Ambrosius, Uskup kota Milan.\u00a0Agustinus mulai tertarik dengan khotbah dan ajaran-ajaran Uskup\u00a0Ambrosius hingga akhirnya Agustinus dibaptis.\u00a0Dua bulan kemudian, yaitu bulan Juni tahun 387 Agustinus,\u00a0Alypius &amp; Monika berencana pulang kembali ke Tagaste, Afrika.\u00a0Dalam perjalanan pulang mereka singgah di Ostia, di dekat\u00a0muara sungai Tiber. Monika dan Agustinus mereka berdua berdiri\u00a0bersandar pada jendela rumah persinggahan mereka. Mereka\u00a0terlibat dalam pembicaraan yang sangat menarik mengenai seperti<br \/>\napa kiranya kehidupan para kudus di surga. Diliputi rasa bahagia\u00a0yang amat sangat Monika berkata kepada Agustinus, \u201cAnakku,\u00a0bagiku tidak ada lagi yang dapat memukauku dalam kehidupan ini.\u00a0Apa lagi yang dapat kuperbuat di dunia ini? Untuk apa aku di sini?\u00a0Entahlah, tak ada lagi yang kuharapkan dari dunia ini. Ada satu hal<br \/>\nsaja yang tadinya masih membuat aku ingin tinggal cukup lama\u00a0dalam kehidupan ini, yaitu melihat engkau menjadi Kristen Katolik\u00a0sebelum aku mati. Keinginanku sudah dikabulkan sevara berlimpah\u00a0dalam apa yang telah diberikan Allah kepadaku: kulihat kau sudah\u00a0sampai meremehkan kebahagiaan dunia ini dan menjadi hamba-<br \/>\nNya. Apa yang kuperbuat lagi di sini?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lima hari kemudian Monika jatuh sakit. Kepada kedua putranya,\u00a0Agustinus dan Navigius, Monika berpesan, \u201cYang kuminta kepada\u00a0kalian hanyalah supaya kalian memperingati aku di altar Tuhan\u00a0di mana saja kalian berada.\u201d Hanya supaya ia diingat di altar-Mu, itulah keinginannya. Sebab ia telah melayani altar itu tanpa\u00a0melewati satu hari pun. Pada hari yang kesembilan Monika wafat\u00a0dalam usia 56 tahun. Santa Monika dihormati sebagai pelindung\u00a0ibu rumah tangga. Pestanya dirayakan setiap tanggal 27 Agustus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Latihan Soal!<\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: justify;\">Siapakah Santa Monika?<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Apa yang dilakukan ketika anak-anaknya berperilaku tidak baik?<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Apa yang dapat kita teladani dari Santa Monika?<\/li>\n<\/ol>\n<p>Rangkuman !<\/p>\n<p>\u2022 Santa Monika berdoa selama 20 tahun, barulah ia\u00a0melihat Tuhan menjawab doanya.<br \/>\n\u2022 Janganlah kita berputus asa , karena Tuhan\u00a0mempunyai rencana yang indah untuk hidup kita.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>E. Harapan. Mari berdoa !\u00a0Doa agar kuat dalam pengharapan. Tuhan, Al-lah kami, dalam mengarungi hidup ini, kami\u00a0sering menemukan kegembiraan dan penderitaan;\u00a0hidup kami diwarnai suka dan duka.\u00a0Kegembiraan yang kami rasakan telah menumbuhkan\u00a0pengharapan di dalam hati. Tetapi kegagalan yang kami\u00a0jumpai dapat menimbulkan kekecewaan dan ketakutan.\u00a0Tuhan, tanamkanlah dalam hati kami pengharapan yang\u00a0teguh akan cinta kasih dan kebaikan-Mu; pengharapan\u00a0yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,24],"tags":[271,275,273,272,277,276,29,55,278,28,279,274],"class_list":["post-220","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sd3","category-sd3-agama-katolik","tag-audiobook","tag-book","tag-buku","tag-bukusuara","tag-free","tag-gratis","tag-harapan","tag-katolik","tag-pelajaran","tag-santa-monika","tag-sekolah","tag-suara"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=220"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":235,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/220\/revisions\/235"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=220"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=220"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=220"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}