{"id":1647,"date":"2017-04-02T20:17:45","date_gmt":"2017-04-02T13:17:45","guid":{"rendered":"http:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/?p=1647"},"modified":"2017-09-13T13:39:07","modified_gmt":"2017-09-13T06:39:07","slug":"sd-kelas-4-tema-8-1-5-daerah-tempat-tinggalku-sub-tema-1-lingkungan-tempat-tinggalku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/sd-kelas-4-tema-8-1-5-daerah-tempat-tinggalku-sub-tema-1-lingkungan-tempat-tinggalku\/","title":{"rendered":"SD Kelas 4 Tema 8.1.5 &#8211; Daerah Tempat Tinggalku &#8211; Sub.Tema 1 Lingkungan Tempat Tinggalku."},"content":{"rendered":"<button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca &amp; Dengarkan!<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"SD Kelas 4 Tema 8 - Daerah Tempat Tinggalku - Sub.Tema 1 Lingkungan Tempat Tinggalku. Pembelajaran 5. Keluarga besar Beni berasal dari Medan, Sumatra Utara. Namun, Ayah dan Ibu Beni merantau dan menetap di Jakarta. Ada juga paman Beni yang merantau ke Jambi. Paman Beni bernama Tagor. Tahukah kamu pulau Sumatra? Beni dan Keluarganya mengunjungi Paman Tagor. Paman Tagor tinggal di Jambi. Rumah Paman Tagor di lingkungan perkotaan. Meskipun di kota, lingkungan rumah Paman Tagor bersih dan asri. Masih banyak pohon di lingkungan tempat tinggal Paman Tagor. Paman Tagor tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Anak paman Tagor bernama Gultom dan Puspa. Amatilah gambar di atas. Identifikasilah keragaman karakteristik individu pada gambar di atas. Tuliskan hasilnya pada kolom berikut. Pada pembelajaran sebelumnya, kamu telah mempelajari tentang keragaman karakteristik individu. Kamu telah mempelajari karakteristik individu yang berupa keragaman fisik dan keragaman kegemaran di lingkungan keluarga. Sekarang, mari kita pelajari keragaman sifat individu? Apa saja sifat individu yang telah kamu ketahui? Amatilah gambar-gambar berikut. Beni senang berlibur di rumah Paman Tagor. Paman Tagor memiliki banyak koleksi buku. Buku-bukunya disimpan di perpustakaan. Beni sering di ajak oleh Gultom dan Puspa untuk membaca buku di perpustakaan rumahnya. Mereka sangat senang membaca buku cerita. Salah satu buku cerita yang mereka sukai berjudul Kisah Putri Tangguk. Tahukah kamu tentang cerita tersebut? Bacalah cerita berikut. Kisah Putri Tangguk. Putri Tangguk tinggal bersama suami dan ketujuh anaknya di daerah Jambi. Putri Tangguk memiliki sepetak sawah yang ditanami padi. Anehnya, setiap selesai panen, padinya selalu muncul dan siap untuk dipanen kembali. Bahkan, ketujuh lumbung Putri Tangguk hampir penuh untuk menampung hasil panennya. Saat panen terakhir, Putri Tangguk mengajak suami dan semua anaknya ke sawah. Mereka memasukkan hasil panen ke gerobak. \u201dPanen sudah selesai. Sepertinya, persediaan padi kita sudah cukup untuk beberapa bulan,\u201d kata Putri Tangguk. Kemudian, mereka mendorong gerobak bersama-sama. Di tengah perjalanan, Putri Tangguk jatuh terpeleset. \u201dAduuuuh...,\u201d teriak Putri Tangguk. \u201dHati-hati, Bu. Semalam hujan deras. Jalannya menjadi licin,\u201d kata suami Putri Tangguk sambil membantunya berdiri. \u201dGara-gara hujan, jalannya licin. Perjalanan ke rumah masih jauh, bisa-bisa aku terjatuh lagi,\u201d gerutu Putri Tangguk. Putri Tangguk mengambil padi dari gerobaknya. Kemudian, padi ditebar di jalan. Melihat perilaku ibunya, si anak sulung pun bertanya. \u201dApa yang Ibu lakukan? Mengapa Ibu membuang padi itu ke jalan?\u201d \u201dIbu tidak membuang padi. Padi ini Ibu gunakan sebagai pengganti pasir Ibu menebarnya agar jalan ini tidak licin lagi,\u201d jawab Putri Tangguk. \u201dIstriku, bukankah padi itu untuk kita makan? Tidak baik rasanya jika membuang-buang makanan,\u201d nasihat suami Putri Tangguk. Putri Tangguk tidak mengindahkan nasihat suaminya. Bahkan, Putri Tangguk membantahnya. \u201dMasa bodoh. Bukankah padi kita sudah banyak. Apa kau mau aku terjatuh lagi dan tulangku patah?\u201d bantah Putri Tangguk sambil terus menebar padi ke jalan. Setelah panen terakhir, Putri Tangguk tidak pernah kembali ke sawah. Ia berada di rumah untuk merawat ketujuh anaknya. Suatu malam anak bungsu Putri Tangguk merengek karena lapar. Akhirnya, Putri Tangguk ke dapur untuk mengambil nasi. Alangkah terkejutnya ketika ia mendapati pancinya kosong. \u201dMengapa panci ini kosong? Bukankah tadi masih tersisa sedikit nasi?\u201d tanya Putri Tangguk dalam hati. Karena si bungsu terus merengek, Putri Tangguk pun memutuskan untuk menanak nasi. Namun, Putri Tangguk kembali terkejut ketika mendapati beras yang ia simpan dalam kaleng juga menghilang. \u201dKe mana perginya beras itu? Aku ingat masih banyak beras di sini sebelumnya. Jangan-jangan ada orang yang mencurinya,\u201d kata Putri Tangguk. Kemudian, Putri Tangguk membujuk anak bungsunya untuk tidur. Besok ia berencana untuk menumbuk padi yang disimpan di lumbungnya. Pagi harinya Putri Tangguk terkejut mendengar teriakan suaminya. \u201dIstriku...istriku...cepat kemari,\u201d teriak suami Putri Tangguk. Putri Tangguk segera berlari menemui suaminya. Ia menghampiri suaminya yang berada di depan pintu lumbung. Ia pun bertanya kepada suaminya. \u201dAda apa suamiku?\u201d tanya Putri Tangguk dengan cemas. \u201dAku tidak tahu, istriku. Lumbung ini sudah kosong saat aku membukanya,\u201d jawab suami Putri Tangguk. Putri Tangguk dan suaminya bergegas memeriksa lumbung yang lain. Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati ketujuh lumbungnya telah kosong. Putri Tangguk pun menangis. \u201dApa yang terjadi padaku? Tadi malam nasi dan beras hilang. Sekarang padi di lumbung pun juga ikut menghilang,\u201d jerit Putri Tangguk. \u201dJangan cemas, istriku. Bukankah kita masih memiliki sawah. Besok kita ke sawah. Siapa tahu padinya telah menguning,\u201d hibur suami Putri Tangguk. Keesokkan paginya Putri Tangguk mengikuti suaminya ke sawah dengan cemas. Setibanya di sawah, tangis Putri Tangguk semakin keras karena mendapati sawahnya telah berubah menjadi semak belukar. Putri Tangguk menagis seharian. Bahkan, ia tidak mau pulang dan menunggui sawahnya hingga tertidur. Dalam mimpinya, Putri Tangguk didatangi segerombolan padi yang dapat berbicara. \u201dHai, Putri Tangguk. Inilah buah dari kesombonganmu. Masih ingatkah engkau ketika membuang kami ke jalan?\u201d tanya padi-padi itu. \u201dKau telah menghina kami. Kau telah menjadikan kami pasir untuk alas jalanmu. Kami ini dipanen untuk dimakan, bukan untuk dibuang sembarangan. Dengan membuang kami, berarti kamu tidak membutuhkan kami untuk makananmu,\u201d kata padi-padi itu lagi. Putri Tangguk hanya bisa diam dan tidak menjawab. Ia menyesali kebodohannya. Ia pun memohon maaf kepada padi-padi itu. \u201dTak bisakah kalian memafkanku? Aku telah menyesali perbuatanku,\u201d kata Putri Tangguk sambil menangis. \u201dSekarang kau dan keluargamu harus bekerja keras. Bersihkan sawah ini, bajaklah, lalu tanamlah kami kembali. Setelah tiga bulan, barulah kalian dapat memanen kami kembali,\u201d jawab padi-padi itu. Ketika Putri Tangguk ingin menjawab, ia tersentak bangun dari tidurnya. Putri Tangguk pun kembali pulang. Kemudian, ia menceritakan mimpinya kepada suaminya. Keesokan harinya keluarga Putri Tangguk bergotong royong membersihkan sawah dan menanam padi. Ia dan keluarganya merawat sawah dan menjaga padinya dengan baik. Mereka menunggu dengan sabar hingga padi yang mereka tanam siap dipanen. Putri Tangguk juga berjanji tidak akan menyia-nyiakan sebutir padi pun hasil panen dari sawahnya. Disadur dari Kisah Putri Tangguk, http:\/\/dongengceritarakyat.com\/cerita-rakyat-jambi-cerita-daerah-jambi-terbaik\/. Dalam sebuah cerita, terdapat tokoh yang bersifat baik hati. Tokoh seperti itu disebut tokoh protagonis. Ada pula tokoh yang bersifat jahat. Tokoh bersifat jahat disebut tokoh antagonis. Tahukah kamu siapa tokoh protagonis dan tokoh antagonis pada cerita di atas? Ayo, lakukan kegiatan berikut. Tokoh protagonis : tokoh yang bersifat baik hati. Tokoh antagonis : tokoh yang bersifat jahat. Jawablah pertanyaan berikut berdasarkan cerita berjudul Kisah Putri Tangguk di atas. 1. Apa jenis cerita fiksi berjudul Kisah Putri Tangguk? 2. Siapa saja tokoh dalam cerita berjudul Kisah Putri Tangguk? 3. Siapa tokoh utama dan tokoh tambahan dalam cerita di atas? 4.\u00a0Siapa tokoh protagonis dalam cerita di atas? Jelaskan alasanmu. 5. Siapa tokoh antagonis dalam cerita di atas? Jelaskan alasanmu. Saat sedang membaca, Gultom dan Puspa bercerita kepada Beni. Mereka menceritakan tentang kebiasaan ayah mereka. Paman Tagor dulu suka menggendong Gultom dan Puspa sambil menyanyikan lagu. Lagu yang dinyanyikan Paman Tagor berjudul \u201dInjit-Injit Semut\u201d. Lagu tersebut merupakan lagu dari Jambi. Tahukah kalian tentang lagu tersebut? Ayo, nyanyikan bersama- sama. Nyanyikan lagu \u201dInjit-Injit Semut\u201d bersama teman satu kelas. Perhatikan terlebih dahulu cara gurumu menyanyikan lagu tersebut dengan benar. Lagu Injit-injit Semut. LAGU INJIT-INJIT SEMUT. Jalan jalan ke Tanah Deli. Sungguh indah tempat tamasya. Kawan jangan bersedih. Mari nyanyi bersama sama. Kalau pergi ke Surabaya. Naik prahu dayung sendiri. Kalau hatimu sedih. Ya rugi diri sendiri. Naik prahu ke Pulau Sribu. Sungguh malang nasibku. Punya teman diambil orang. Ramai sungguh Bandar Jakarta. Tempat orang mengikat janji. Walau teman tak punya hati. Senang dapat bernyanyi. Reff : Injit injit semut. Siapa sakit naik diatas. Injit injit semut walau sakit. Jangan dilepas. Menyanyi dengan baik membutuhkan teknik seperti intonasi dan tempo. Intonasi merupakan cara bernyayi mencapai ketepatan bunyi tiap nada. Bunyi nada yang tepat akan menghasilkan suara yang tidak sumbang dan enak didengar. Untuk mendapatkan intonasi yang baik kamu dapat menyanyikan nada-nada berikut secara berulang tanpa mengandalkan otot-otot leher dan berteriak. Nada-nada tersebut dapat dinyanyikan dengan tempo lambat, sedang, dan cepat. Kecepatan lagu diukur dengan alat pengukur yang disebut Metronome Maelzel atau disingkat MM. Metronome Maelzel ini yang akan memberikan petunjuk seberapa cepat atau lambatnya lagu dinyanyikan. Sebagai contoh lagu \u201dTimang-Timang Anakku Sayang\u201d ditulis dengan tempo andante. Kecepatan\u00a0tempo andante 72-76 MM, artinya lagu harus dinyanyikan dalam kecepatan 72-76 ketukan yang tetap dalam waktu satu menit. MM 72-76 termasuk tempo sedang. Tempo lagu dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: a. tempo lambat, contoh lento = lambat (56-58 MM) ; b. tempo sedang, contoh andante = seperti orang berjalan (72-76 MM); c. tempo cepat, contoh allegro = cepat, hidup, dan riang (132-138 MM).\", \"Indonesian Female\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    \n<p>SD Kelas 4 Tema 8 &#8211; Daerah Tempat Tinggalku &#8211; Sub.Tema 1 Lingkungan Tempat Tinggalku.<br \/>\nPembelajaran 5.<\/p>\n<p>Keluarga besar Beni berasal dari Medan, Sumatra Utara. Namun, Ayah dan Ibu Beni merantau dan menetap di Jakarta. Ada juga paman Beni yang merantau ke Jambi. Paman Beni bernama Tagor. Tahukah kamu pulau Sumatra?<\/p>\n<p>Beni dan Keluarganya mengunjungi Paman Tagor. Paman Tagor tinggal di Jambi. Rumah Paman Tagor di lingkungan perkotaan. Meskipun di kota, lingkungan rumah Paman Tagor bersih dan asri. Masih banyak pohon di lingkungan tempat tinggal Paman Tagor.<\/p>\n<p>Paman Tagor tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Anak paman Tagor bernama Gultom dan Puspa.<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-1650\" src=\"http:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-content\/uploads\/2017\/04\/sd4-tema8-paman.jpg\" alt=\"\" width=\"742\" height=\"376\" srcset=\"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-content\/uploads\/2017\/04\/sd4-tema8-paman.jpg 742w, https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-content\/uploads\/2017\/04\/sd4-tema8-paman-300x152.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 742px) 100vw, 742px\" \/><\/p>\n<p>Amatilah gambar di atas. Identifikasilah keragaman karakteristik individu pada gambar di atas. Tuliskan hasilnya pada kolom berikut.<br \/>\nPada pembelajaran sebelumnya, kamu telah mempelajari tentang keragaman karakteristik individu. Kamu telah mempelajari karakteristik individu yang berupa keragaman fisik dan keragaman kegemaran di lingkungan keluarga. Sekarang, mari kita pelajari keragaman sifat individu? Apa saja sifat individu yang telah kamu ketahui? Amatilah gambar-gambar berikut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Beni senang berlibur di rumah Paman Tagor. Paman Tagor memiliki banyak koleksi buku. Buku-bukunya disimpan di perpustakaan. Beni sering di ajak oleh Gultom dan Puspa untuk membaca buku di perpustakaan rumahnya. Mereka sangat senang membaca buku cerita. Salah satu buku cerita yang mereka sukai berjudul Kisah Putri Tangguk. Tahukah kamu tentang cerita tersebut? Bacalah cerita berikut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kisah Putri Tangguk.<\/p>\n<p>Putri Tangguk tinggal bersama suami dan ketujuh anaknya di daerah Jambi. Putri Tangguk memiliki sepetak sawah yang ditanami padi. Anehnya, setiap selesai panen, padinya selalu muncul dan siap untuk dipanen kembali. Bahkan, ketujuh lumbung Putri Tangguk hampir penuh untuk menampung hasil panennya.<br \/>\nSaat panen terakhir, Putri Tangguk mengajak suami dan semua anaknya ke sawah. Mereka memasukkan hasil panen ke gerobak.<br \/>\n\u201dPanen sudah selesai. Sepertinya, persediaan padi kita sudah cukup untuk beberapa bulan,\u201d kata Putri Tangguk.<br \/>\nKemudian, mereka mendorong gerobak bersama-sama. Di tengah perjalanan, Putri Tangguk jatuh terpeleset.<br \/>\n\u201dAduuuuh&#8230;,\u201d teriak Putri Tangguk.<br \/>\n\u201dHati-hati, Bu. Semalam hujan deras. Jalannya menjadi licin,\u201d kata suami Putri Tangguk sambil membantunya berdiri.<br \/>\n\u201dGara-gara hujan, jalannya licin. Perjalanan ke rumah masih jauh, bisa-bisa aku terjatuh lagi,\u201d gerutu Putri Tangguk.<br \/>\nPutri Tangguk mengambil padi dari gerobaknya. Kemudian, padi ditebar di jalan. Melihat perilaku ibunya, si anak sulung pun bertanya.<br \/>\n\u201dApa yang Ibu lakukan? Mengapa Ibu membuang padi itu ke jalan?\u201d<br \/>\n\u201dIbu tidak membuang padi. Padi ini Ibu gunakan sebagai pengganti pasir Ibu menebarnya agar jalan ini tidak licin lagi,\u201d jawab Putri Tangguk.<\/p>\n<p>\u201dIstriku, bukankah padi itu untuk kita makan? Tidak baik rasanya jika membuang-buang makanan,\u201d nasihat suami Putri Tangguk.<br \/>\nPutri Tangguk tidak mengindahkan nasihat suaminya. Bahkan, Putri Tangguk membantahnya.<br \/>\n\u201dMasa bodoh. Bukankah padi kita sudah banyak. Apa kau mau aku terjatuh lagi dan tulangku patah?\u201d bantah Putri Tangguk sambil terus menebar padi ke jalan.<br \/>\nSetelah panen terakhir, Putri Tangguk tidak pernah kembali ke sawah. Ia berada di rumah untuk merawat ketujuh anaknya. Suatu malam anak bungsu Putri Tangguk merengek karena lapar. Akhirnya, Putri Tangguk ke dapur untuk mengambil nasi. Alangkah terkejutnya ketika ia mendapati pancinya kosong.<br \/>\n\u201dMengapa panci ini kosong? Bukankah tadi masih tersisa sedikit nasi?\u201d tanya Putri Tangguk dalam hati.<br \/>\nKarena si bungsu terus merengek, Putri Tangguk pun memutuskan untuk menanak nasi. Namun, Putri Tangguk kembali terkejut ketika mendapati beras yang ia simpan dalam kaleng juga menghilang.<br \/>\n\u201dKe mana perginya beras itu? Aku ingat masih banyak beras di sini sebelumnya. Jangan-jangan ada orang yang mencurinya,\u201d kata Putri Tangguk.<br \/>\nKemudian, Putri Tangguk membujuk anak bungsunya untuk tidur. Besok ia berencana untuk menumbuk padi yang disimpan di lumbungnya.<br \/>\nPagi harinya Putri Tangguk terkejut mendengar teriakan suaminya. \u201dIstriku&#8230;istriku&#8230;cepat kemari,\u201d teriak suami Putri Tangguk.<br \/>\nPutri Tangguk segera berlari menemui suaminya. Ia menghampiri suaminya yang berada di depan pintu lumbung. Ia pun bertanya kepada suaminya.<br \/>\n\u201dAda apa suamiku?\u201d tanya Putri Tangguk dengan cemas.<br \/>\n\u201dAku tidak tahu, istriku. Lumbung ini sudah kosong saat aku membukanya,\u201d jawab suami Putri Tangguk.<br \/>\nPutri Tangguk dan suaminya bergegas memeriksa lumbung yang lain. Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati ketujuh lumbungnya telah kosong. Putri Tangguk pun menangis.<br \/>\n\u201dApa yang terjadi padaku? Tadi malam nasi dan beras hilang. Sekarang padi di lumbung pun juga ikut menghilang,\u201d jerit Putri Tangguk.<\/p>\n<p>\u201dJangan cemas, istriku. Bukankah kita masih memiliki sawah. Besok kita ke sawah. Siapa tahu padinya telah menguning,\u201d hibur suami Putri Tangguk.<br \/>\nKeesokkan paginya Putri Tangguk mengikuti suaminya ke sawah dengan cemas. Setibanya di sawah, tangis Putri Tangguk semakin keras karena mendapati sawahnya telah berubah menjadi semak belukar.<br \/>\nPutri Tangguk menagis seharian. Bahkan, ia tidak mau pulang dan menunggui sawahnya hingga tertidur. Dalam mimpinya, Putri Tangguk didatangi segerombolan padi yang dapat berbicara.<br \/>\n\u201dHai, Putri Tangguk. Inilah buah dari kesombonganmu. Masih ingatkah engkau ketika membuang kami ke jalan?\u201d tanya padi-padi itu.<br \/>\n\u201dKau telah menghina kami. Kau telah menjadikan kami pasir untuk alas jalanmu. Kami ini dipanen untuk dimakan, bukan untuk dibuang sembarangan. Dengan membuang kami, berarti kamu tidak membutuhkan kami untuk makananmu,\u201d kata padi-padi itu lagi.<br \/>\nPutri Tangguk hanya bisa diam dan tidak menjawab. Ia menyesali kebodohannya. Ia pun memohon maaf kepada padi-padi itu.<br \/>\n\u201dTak bisakah kalian memafkanku? Aku telah menyesali perbuatanku,\u201d kata Putri Tangguk sambil menangis.<br \/>\n\u201dSekarang kau dan keluargamu harus bekerja keras. Bersihkan sawah ini, bajaklah, lalu tanamlah kami kembali. Setelah tiga bulan, barulah kalian dapat memanen kami kembali,\u201d jawab padi-padi itu.<br \/>\nKetika Putri Tangguk ingin menjawab, ia tersentak bangun dari tidurnya. Putri Tangguk pun kembali pulang. Kemudian, ia menceritakan mimpinya kepada suaminya. Keesokan harinya keluarga Putri Tangguk bergotong royong membersihkan sawah dan menanam padi. Ia dan keluarganya merawat sawah dan menjaga padinya dengan baik. Mereka menunggu dengan sabar hingga padi yang mereka tanam siap dipanen. Putri Tangguk juga berjanji tidak akan menyia-nyiakan sebutir padi pun hasil panen dari sawahnya.<\/p>\n<p>Disadur dari Kisah Putri Tangguk, http:\/\/dongengceritarakyat.com\/cerita-rakyat-jambi-cerita-daerah-jambi-terbaik\/.<\/p>\n<p>Dalam sebuah cerita, terdapat tokoh yang bersifat baik hati. Tokoh seperti itu disebut tokoh protagonis. Ada pula tokoh yang bersifat jahat. Tokoh bersifat jahat disebut tokoh antagonis. Tahukah kamu siapa tokoh protagonis dan tokoh antagonis pada cerita di atas? Ayo, lakukan kegiatan berikut.<\/p>\n<p>Tokoh protagonis : tokoh yang bersifat baik hati.<br \/>\nTokoh antagonis : tokoh yang bersifat jahat.<\/p>\n<p>Jawablah pertanyaan berikut berdasarkan cerita berjudul Kisah Putri Tangguk<br \/>\ndi atas.<br \/>\n1. Apa jenis cerita fiksi berjudul Kisah Putri Tangguk?<br \/>\n2. Siapa saja tokoh dalam cerita berjudul Kisah Putri Tangguk?<br \/>\n3. Siapa tokoh utama dan tokoh tambahan dalam cerita di atas?<br \/>\n4.\u00a0Siapa tokoh protagonis dalam cerita di atas? Jelaskan alasanmu.<br \/>\n5. Siapa tokoh antagonis dalam cerita di atas? Jelaskan alasanmu.<\/p>\n<p>Saat sedang membaca, Gultom dan Puspa bercerita kepada Beni. Mereka menceritakan tentang kebiasaan ayah mereka. Paman Tagor dulu suka menggendong Gultom dan Puspa sambil menyanyikan lagu. Lagu yang dinyanyikan Paman Tagor berjudul \u201dInjit-Injit Semut\u201d. Lagu tersebut merupakan lagu dari Jambi. Tahukah kalian tentang lagu tersebut? Ayo, nyanyikan bersama- sama.<\/p>\n<p>Nyanyikan lagu \u201dInjit-Injit Semut\u201d bersama teman satu kelas. Perhatikan terlebih dahulu cara gurumu menyanyikan lagu tersebut dengan benar.<\/p>\n<p>Lagu Injit-injit Semut.<\/p>\n<p><iframe src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/cHb6YMpxRZM\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><br \/>\n<img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-1656\" src=\"http:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-content\/uploads\/2017\/04\/lagu_injit_injit_semut_sumut2.png\" alt=\"\" width=\"580\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-content\/uploads\/2017\/04\/lagu_injit_injit_semut_sumut2.png 580w, https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-content\/uploads\/2017\/04\/lagu_injit_injit_semut_sumut2-300x207.png 300w\" sizes=\"(max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><\/p>\n<p>LAGU INJIT-INJIT SEMUT.<\/p>\n<p>Jalan jalan ke Tanah Deli.<br \/>\nSungguh indah tempat tamasya.<br \/>\nKawan jangan bersedih.<br \/>\nMari nyanyi bersama sama.<\/p>\n<p>Kalau pergi ke Surabaya.<br \/>\nNaik prahu dayung sendiri.<br \/>\nKalau hatimu sedih.<br \/>\nYa rugi diri sendiri.<\/p>\n<p>Naik prahu ke Pulau Sribu.<br \/>\nSungguh malang nasibku.<br \/>\nPunya teman diambil orang.<br \/>\nRamai sungguh Bandar Jakarta.<br \/>\nTempat orang mengikat janji.<br \/>\nWalau teman tak punya hati.<br \/>\nSenang dapat bernyanyi.<\/p>\n<p>Reff :<br \/>\nInjit injit semut.<br \/>\nSiapa sakit naik diatas.<br \/>\nInjit injit semut walau sakit.<br \/>\nJangan dilepas.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menyanyi dengan baik membutuhkan teknik seperti intonasi dan tempo. Intonasi merupakan cara bernyayi mencapai ketepatan bunyi tiap nada. Bunyi nada yang tepat akan menghasilkan suara yang tidak sumbang dan enak didengar. Untuk mendapatkan intonasi yang baik kamu dapat menyanyikan nada-nada berikut secara berulang tanpa mengandalkan otot-otot leher dan berteriak. Nada-nada tersebut dapat dinyanyikan dengan tempo lambat, sedang, dan cepat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kecepatan lagu diukur dengan alat pengukur yang disebut Metronome Maelzel atau disingkat MM. Metronome Maelzel ini yang akan memberikan petunjuk seberapa cepat atau lambatnya lagu dinyanyikan. Sebagai contoh lagu \u201dTimang-Timang Anakku Sayang\u201d ditulis dengan tempo andante. Kecepatan\u00a0tempo andante 72-76 MM, artinya lagu harus dinyanyikan dalam kecepatan 72-76 ketukan yang tetap dalam waktu satu menit. MM 72-76 termasuk tempo sedang.<br \/>\nTempo lagu dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:<br \/>\na. tempo lambat, contoh lento = lambat (56-58 MM) ;<br \/>\nb. tempo sedang, contoh andante = seperti orang berjalan (72-76 MM);<br \/>\nc. tempo cepat, contoh allegro = cepat, hidup, dan riang (132-138 MM).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SD Kelas 4 Tema 8 &#8211; Daerah Tempat Tinggalku &#8211; Sub.Tema 1 Lingkungan Tempat Tinggalku. Pembelajaran 5. Keluarga besar Beni berasal dari Medan, Sumatra Utara. Namun, Ayah dan Ibu Beni merantau dan menetap di Jakarta. Ada juga paman Beni yang merantau ke Jambi. Paman Beni bernama Tagor. Tahukah kamu pulau Sumatra? Beni dan Keluarganya mengunjungi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[65,110],"tags":[271,275,232,273,272,277,276,55,278,279,274],"class_list":["post-1647","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sd4","category-sd4-tema-8","tag-audiobook","tag-book","tag-budi-pekerti","tag-buku","tag-bukusuara","tag-free","tag-gratis","tag-katolik","tag-pelajaran","tag-sekolah","tag-suara"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1647","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1647"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1647\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1658,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1647\/revisions\/1658"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1647"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1647"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1647"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}