{"id":1351,"date":"2017-02-10T04:59:33","date_gmt":"2017-02-09T21:59:33","guid":{"rendered":"http:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/?p=1351"},"modified":"2017-09-13T13:43:12","modified_gmt":"2017-09-13T06:43:12","slug":"cinta-kepada-sesama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/cinta-kepada-sesama\/","title":{"rendered":"SD4.2.4. Agama Katolik : Masyarakat &#8211; Cinta Kepada Sesama."},"content":{"rendered":"<p><iframe width=\"560\" height=\"315\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/videoseries?list=PLsu7iFWN-AW6owvROGLwx7cVbAHgt00E0\" frameborder=\"0\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca &amp; Dengarkan!<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"SD4.2.4. Agama Katolik : Masyarakat -\u00a0Cinta Kepada Sesama. Melalui kisah \u201cOrang Samaria Yang Murah Hati\u201d (Luk 10:25- 37), Yesus mengajarkan bahwa sesama adalah mereka yang menunjukkanbelaskasih,khususnyamerekayangmembutuhkan pertolongan. Melalui kisah itu, Yesus menegaskan bahwa sesama kita adalah semua orang. Dengan demikian, bagi kita tidak ada orang lain atau orang asing, karena semua orang adalah sesama kita, semua orang saudara kita. Apabila kita memandang semua orang sebagai saudara, kita patut menunjukkan belas kasih kepada semua orang. Kita diajak untuk belajar mencintai dan peduli kepada siapa pun tanpa membedakan latar belakang suku, agama, kaya, miskin, dan sebagainya. Nyanyikanlah lagu berikut ini! Saling Cinta Ayah, ibu, saudara kami cinta Teman dan orang lain, kami cinta Kami saling membantu, kar\u2019na cinta Tolong siapa saja, kar\u2019na cinta Orang lain yang susah kami hibur Siapa saja susah, kami bantu Di dalam apa saja, kami rela Tolong siapa saja, kar\u2019na cinta (Sumber, Hatiku Penuh Nyanyian, KKI, 2003) 1. Kisah Seorang Petani Bacalah cerita di bawah ini! Petani yang Dermawan. Ada seorang petani tua yang berasal dari sebuah desa dan sangat kaya raya. Tanahnya berhektar- hektar, jagungnya selalu tumbuh subur dan buahnya sangat banyak. Panennya tak pernah gagal dan ia adalahsosokyangsangatdermawan. Ia selalu membagi-bagikan bibit jagung berkualitas baik kepada\u00a0tetangga-tetangganya untuk ditanam, dan ia tak pernah memungut bayaran. Suatu hari sebuah media massa datang untuk mewawancarai dirinya, pertanyaan demi pertanyaan ia jawab. Kemudian sampailah pada sebuah pertanyaan yang membuat si wartawan sempat kebingungan. \u201cMengapa Anda sering membagikan bibit jagung terbaik kepada tetangga Anda, Pak? Bukankah sangat mahal harganya? Apakah Anda tidak rugi?\u201d tanya si wartawan. Pak petani pun menjawab, \u201cApakah kamu tidak tahu, bahwa angin akan membawa serbuk sari dari satu pohon ke pohon lain. Jika serbuk sari jagung yang kualitasnya buruk membuahi jagung di ladangku, bagaimana aku bisa mendapat jagung dengan kualitas yang baik?\u201d Si wartawan termenung. Apa yang dilakukan pak tani sungguh luar biasa. Dengan uang yang dimilikinya, seharusnya ia bisa melakukan apa saja untuk tanamannya. Namun, ia memilih cara alami dengan menambahkan bibit kepedulian dan pupuk cinta di dalamnya. (Sumber : vemale.com. inspiring. Lentera). Jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini! \u2022 Mengapa Pak tani yang dikisahkan bisa menjadi orang yang kaya raya? \u2022 Manfaat apa yang diperoleh dengan membagi-bagikan benih jagung terbaik, baik bagi dirinya maupun sesamanya? \u2022 Apa pesan yang kamu pelajari dari kisah tersebut? \u2022 Orangyang bagaimanakahyang biasanyadipedulikan? Mengapa demikian? Pak tani di dalam kisah tersebut menjadi orang yang kaya raya karena hasil panennya selalu berlimpah. Hasil panen yang berlimpah itu dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Bunga jagung yang baik, akan menghasilkan jagung yang bermutu jika mendapat penyerbukan dari benih jagung yang baik pula. Maka ia tak sungkan untuk membagi-bagikan benih jagung kepada sesamanya. Dengan demikian selain bermanfaat bagi sesamanya, juga sangat menunjang panen yang berlimpah bagi dirinya. Kisah ini mengajarkan sikap peduli, sikap penuh cinta kepada sesama dan tidak mementingkan diri sendiri. Dengan sikap peduli kepada sesama, kita akan menuai cinta dan kepedulian dari sesama. Pada umumnya, orang lebih mempedulikan orang-orang yang mereka kenal dan memiliki kesamaan latar belakang. Misalnya kesamaan suku bangsa, kesamaan ras, kesamaan agama, atau kesamaan daerah asal. Sedangkan orang-orang yang tidak mereka kenal atau tidak memiliki kesamaan latar belakang, kerap kurang mereka pedulikan, karena dianggap orang asing dan tidak memberikan keuntungan. Pedulikah aku terhadap sesama yang membutuhkan bantuan? 2. Pesan Kitab Suci tentang Cinta pada Sesama Orang Samaria yang Murah Hati (Luk 10:25-37) Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya:\u201cGuru, apa yang harus kuperbuat untuk memperolehhidupyang kekal?\u201d Jawab Yesus kepadanya: \u201cApa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?\u201dJawab orang itu: \u201cKasihilah Tuhan, Al-lahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.\u201d Kata Yesus kepadanya: \u201cJawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.\u201d Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepadaYesus: \u201cDan siapakah sesamaku manusia?\u201dJawab Yesus: \u201cAdalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun- penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antaraketigaorangini, menurutpendapatmu, adalahsesamamanusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?\u201d Jawab orang itu: \u201cOrang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.\u201dKataYesuskepadanya:\u201cPergilah,danperbuatlahdemikian!\u201d Jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini! \u2022 Menurut kisah tersebut, apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? \u2022 Mengapa imam dan orang Lewi tidak disebut sebagai sesama? \u2022 Mengapa Orang Samaria disebut sesama bagi orang yang dirampok? \u2022 Bagaimana sikap kita terhadap sesama kita selama ini? \u2022 Apa yang dapat kita lakukan sehingga kita pantas disebut sebagai sesama bagi semua orang? Rangkuman. \u2022 Cinta kasih merupakan hukum yang terutama. Hal itu merupakan isi hukum Taurat, sebagaimana dikatakan oleh ahli Taurat dalam percakapan dengan Yesus. \u201cKasihilah Tuhan, Al-lahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri\u201d. (Luk 10: 27). Itu merupakan satu cara untuk memperoleh hidup yang kekal. \u2022 Ahli Taurat bertanya mengenai siapakah sesama manusia? Hal ini didasarkan pada pandangan Yahudi bahwa sesama adalah mereka yang sama-sama menjunjung adat istiadat Yahudi. Dia berharap Yesus memberi jawaban yang keliru, sehingga dapat dilaporkan kepada ahli Taurat lainnya dan ditangkap. Tetapi dengan mengisahkan orang Samaria yang murah hati, pertanyaan tersebut dijawab oleh dirinya sendiri. Sesama adalah orang yang telah menunjukkan belas kasihan. \u2022 Yesus mengajak ahli Taurat tersebut untuk menemukan pola yang baru, yaitu pola cinta kasih. Di dalam pola ini, sesama lebih luas dari sekedar mereka yang memegang adat istiadat dan agama, sesama adalah semua orang tanpa memandang agama, adat istiadat, suku bangsa atau status sosial lainnya. \u2022 Kesamaan sebagai manusia di hadapan Tuhan, menjadi dasar utama bagi kepedulian serta berbagi cinta kasih.\", \"Indonesian Female\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    \n<p>SD4.2.4. Agama Katolik : Masyarakat &#8211;\u00a0Cinta Kepada Sesama.<\/p>\n<p>Melalui kisah \u201cOrang Samaria Yang Murah Hati\u201d (Luk 10:25- 37), Yesus mengajarkan bahwa sesama adalah mereka yang menunjukkanbelaskasih,khususnyamerekayangmembutuhkan pertolongan. Melalui kisah itu, Yesus menegaskan bahwa sesama kita adalah semua orang. Dengan demikian, bagi kita tidak ada orang lain atau orang asing, karena semua orang adalah sesama kita, semua orang saudara kita. Apabila kita memandang semua orang sebagai saudara, kita patut menunjukkan belas kasih kepada semua orang. Kita diajak untuk belajar mencintai dan peduli kepada siapa pun tanpa membedakan latar belakang suku, agama, kaya, miskin, dan sebagainya.<br \/>\nNyanyikanlah lagu berikut ini!<\/p>\n<p>Saling Cinta<\/p>\n<p>Ayah, ibu, saudara kami cinta<br \/>\nTeman dan orang lain, kami cinta<br \/>\nKami saling membantu, kar\u2019na cinta<br \/>\nTolong siapa saja, kar\u2019na cinta<\/p>\n<p>Orang lain yang susah kami hibur<br \/>\nSiapa saja susah, kami bantu<br \/>\nDi dalam apa saja, kami rela<br \/>\nTolong siapa saja, kar\u2019na cinta<\/p>\n<p>(Sumber, Hatiku Penuh Nyanyian, KKI, 2003)<\/p>\n<p>1. Kisah Seorang Petani<br \/>\nBacalah cerita di bawah ini!<\/p>\n<p>Petani yang Dermawan.<\/p>\n<p>Ada seorang petani tua yang berasal dari sebuah desa dan sangat kaya raya. Tanahnya berhektar- hektar, jagungnya selalu tumbuh subur dan buahnya sangat banyak. Panennya tak pernah gagal dan ia adalahsosokyangsangatdermawan. Ia selalu membagi-bagikan bibit jagung berkualitas baik kepada\u00a0tetangga-tetangganya untuk ditanam, dan ia tak pernah memungut bayaran.<\/p>\n<p>Suatu hari sebuah media massa datang untuk mewawancarai dirinya, pertanyaan demi pertanyaan ia jawab. Kemudian sampailah pada sebuah pertanyaan yang membuat si wartawan sempat kebingungan. \u201cMengapa Anda sering membagikan bibit jagung terbaik kepada tetangga Anda, Pak? Bukankah sangat mahal harganya? Apakah Anda tidak rugi?\u201d tanya si wartawan.<\/p>\n<p>Pak petani pun menjawab, \u201cApakah kamu tidak tahu, bahwa angin akan membawa serbuk sari dari satu pohon ke pohon lain. Jika serbuk sari jagung yang kualitasnya buruk membuahi jagung di ladangku, bagaimana aku bisa mendapat jagung dengan kualitas yang baik?\u201d<\/p>\n<p>Si wartawan termenung. Apa yang dilakukan pak tani sungguh luar biasa. Dengan uang yang dimilikinya, seharusnya ia bisa melakukan apa saja untuk tanamannya. Namun, ia memilih cara alami dengan menambahkan bibit kepedulian dan pupuk cinta di dalamnya.<br \/>\n(Sumber : vemale.com. inspiring. Lentera).<\/p>\n<p>Jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!<br \/>\n\u2022 Mengapa Pak tani yang dikisahkan bisa menjadi orang yang kaya raya?<br \/>\n\u2022 Manfaat apa yang diperoleh dengan membagi-bagikan benih jagung terbaik, baik bagi dirinya maupun sesamanya?<br \/>\n\u2022 Apa pesan yang kamu pelajari dari kisah tersebut?<br \/>\n\u2022 Orangyang bagaimanakahyang biasanyadipedulikan? Mengapa demikian?<\/p>\n<p>Pak tani di dalam kisah tersebut menjadi orang yang kaya raya karena hasil panennya selalu berlimpah. Hasil panen yang berlimpah itu dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Bunga jagung yang baik, akan menghasilkan jagung yang bermutu jika mendapat penyerbukan dari benih jagung yang baik pula. Maka ia tak sungkan untuk membagi-bagikan benih jagung kepada sesamanya. Dengan demikian selain bermanfaat bagi sesamanya, juga sangat menunjang panen yang berlimpah bagi dirinya.<br \/>\nKisah ini mengajarkan sikap peduli, sikap penuh cinta kepada sesama dan tidak mementingkan diri sendiri. Dengan sikap peduli kepada sesama, kita akan menuai cinta dan kepedulian dari sesama.<br \/>\nPada umumnya, orang lebih mempedulikan orang-orang yang mereka kenal dan memiliki kesamaan latar belakang. Misalnya kesamaan suku bangsa, kesamaan ras, kesamaan agama, atau kesamaan daerah asal. Sedangkan orang-orang yang tidak mereka kenal atau tidak memiliki kesamaan latar belakang, kerap kurang mereka pedulikan, karena dianggap orang asing dan tidak memberikan keuntungan.<br \/>\nPedulikah aku terhadap sesama yang membutuhkan bantuan?<\/p>\n<p>2. Pesan Kitab Suci tentang Cinta pada Sesama<\/p>\n<p>Orang Samaria yang Murah Hati<br \/>\n(Luk 10:25-37)<\/p>\n<p>Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya:\u201cGuru, apa yang harus kuperbuat untuk memperolehhidupyang kekal?\u201d Jawab Yesus kepadanya: \u201cApa yang<\/p>\n<p>tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?\u201dJawab orang itu: \u201cKasihilah Tuhan, Al-lahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.\u201d Kata Yesus kepadanya: \u201cJawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.\u201d<\/p>\n<p>Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepadaYesus: \u201cDan siapakah sesamaku manusia?\u201dJawab Yesus: \u201cAdalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun- penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.<\/p>\n<p>Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.<\/p>\n<p>Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antaraketigaorangini, menurutpendapatmu, adalahsesamamanusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?\u201d<\/p>\n<p>Jawab orang itu: \u201cOrang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.\u201dKataYesuskepadanya:\u201cPergilah,danperbuatlahdemikian!\u201d<\/p>\n<p>Jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini!<br \/>\n\u2022 Menurut kisah tersebut, apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?<br \/>\n\u2022 Mengapa imam dan orang Lewi tidak disebut sebagai sesama?<br \/>\n\u2022 Mengapa Orang Samaria disebut sesama bagi orang yang dirampok?<br \/>\n\u2022 Bagaimana sikap kita terhadap sesama kita selama ini?<br \/>\n\u2022 Apa yang dapat kita lakukan sehingga kita pantas disebut sebagai sesama bagi semua orang?<\/p>\n<p>Rangkuman.<\/p>\n<p>\u2022 Cinta kasih merupakan hukum yang terutama. Hal itu merupakan isi hukum Taurat, sebagaimana dikatakan oleh ahli Taurat dalam percakapan dengan Yesus. \u201cKasihilah Tuhan, Al-lahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri\u201d. (Luk 10: 27). Itu merupakan satu cara untuk memperoleh hidup yang kekal.<br \/>\n\u2022 Ahli Taurat bertanya mengenai siapakah sesama manusia? Hal ini didasarkan pada pandangan Yahudi bahwa sesama adalah mereka yang sama-sama menjunjung adat istiadat Yahudi. Dia berharap Yesus memberi jawaban yang keliru, sehingga dapat dilaporkan kepada ahli Taurat lainnya dan ditangkap. Tetapi dengan mengisahkan orang Samaria yang murah hati, pertanyaan tersebut dijawab oleh dirinya sendiri. Sesama adalah orang yang telah menunjukkan belas kasihan.<br \/>\n\u2022 Yesus mengajak ahli Taurat tersebut untuk menemukan pola yang baru, yaitu pola cinta kasih. Di dalam pola ini, sesama lebih luas dari sekedar mereka yang memegang adat istiadat dan agama, sesama adalah semua orang tanpa memandang agama, adat istiadat, suku bangsa atau status sosial lainnya.<br \/>\n\u2022 Kesamaan sebagai manusia di hadapan Tuhan, menjadi dasar utama bagi kepedulian serta berbagi cinta kasih.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SD4.2.4. Agama Katolik : Masyarakat &#8211;\u00a0Cinta Kepada Sesama. Melalui kisah \u201cOrang Samaria Yang Murah Hati\u201d (Luk 10:25- 37), Yesus mengajarkan bahwa sesama adalah mereka yang menunjukkanbelaskasih,khususnyamerekayangmembutuhkan pertolongan. Melalui kisah itu, Yesus menegaskan bahwa sesama kita adalah semua orang. Dengan demikian, bagi kita tidak ada orang lain atau orang asing, karena semua orang adalah sesama kita, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[85],"tags":[54,271,275,273,272,277,276,55,71,120,278,279,274],"class_list":["post-1351","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sd4-agama-katolik","tag-agama","tag-audiobook","tag-book","tag-buku","tag-bukusuara","tag-free","tag-gratis","tag-katolik","tag-kelas-4","tag-masyarakat","tag-pelajaran","tag-sekolah","tag-suara"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1351","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1351"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1351\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1389,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1351\/revisions\/1389"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1351"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1351"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1351"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}