{"id":1349,"date":"2017-02-10T04:52:08","date_gmt":"2017-02-09T21:52:08","guid":{"rendered":"http:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/?p=1349"},"modified":"2017-09-13T13:43:16","modified_gmt":"2017-09-13T06:43:16","slug":"sd4-2-3-agama-katolik-masyarakat-hormat-kepada-orang-tua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/sd4-2-3-agama-katolik-masyarakat-hormat-kepada-orang-tua\/","title":{"rendered":"SD4.2.3. Agama Katolik : Masyarakat &#8211; Hormat kepada Orang Tua"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca &amp; Dengarkan!<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"SD4.2.3. Agama Katolik :\u00a0Masyarakat - Hormat kepada Orang Tua.\u00a0 Pada Pelajaran satu kita telah mempelajari mengenai manusia sebagai pribadi. Pribadi merupakan titik pangkal, sekaligus arah dari pelajaran agama yang kita pelajari. Sedangkan tema mengenai pribadi Yesus Kristus, telah kita pelajari sebagai sumber inspirasi dan teladan yang menerangi perkataan, sikap, pemikiran, serta tindakan di dalam kehidupan kita. Pada Pelajaran tiga ini, kita akan mempelajari arti hidup beriman. Tentu pelajaran ini merupakan kesinambungan dari tema-tema sebelumnya. Kesadaran diri peserta didik dan pertemuan dengan pribadi Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Al-lah di dalam pewartaan dan tindakan-Nya, diharapkan dapat menjadi dasar dalam membangun hidup beriman. Hidup beriman inilah yang akan terwujud di dalam kehidupan Gereja dan masyarakat. Pada bagian pertama dari pelajaran tiga ini kita akan membahas mengenai hidup beriman di dalam masyarakat, yang terurai di dalam tiga pelajaran berikut. A. Hormat kepada Orang Tua. B. Cinta kepada Sesama. C. Menghormati Hidup. A. Hormat kepada Orang Tua. Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu. Pada masa pencobaan engkau akan diingat oleh Tuhan, maka dosamu lenyap seperti air beku yang kena matahari. Serupa penghujat barang siapa meninggalkan bapanya, dan terkutuklah oleh Tuhan orang yang mengerasi ibunya (Sir 3:12-16). 1. Sebuah Cerita Rakyat tentang \u201cMalin Kundang\u201d Simaklah cerita atau drama di bawah ini! Pencerita : Pada zaman dahulu tinggalah sebuah keluarga sederhana di suatu desa kecil yang damai, tidak jauh dari pantai. Keluarga itu terdiri dari satu orang ibu dengan satu anak laki-laki bernama Malin Kundang yang sangat ia sayangi. Dengan penuh kasih sang ibu membesarkan anak semata wayangnya. Maklum suaminya telah lama meninggal dunia, ketika anak laki-lakinya masih bayi. Ayah Malin Kundang meninggal dunia karena sakit, beberapa bulan setelah membangun rumah sederhana tempat mereka tinggal.Pada suatu hari, terjadilah percakapan antara ibu dan Malin Kundang. Ibu : Malin anakku, ibu mau pergi mencari kayu bakar ke pinggiran hutan. Hati-hati ya di rumah?! Malin : Baik ibu. Pencerita : Sejak ibunya pergi ke hutan, Malin Kundang yang mulai beranjak remaja itu, keluar rumah menuju pantai. Ia tertarikdengankeramaiandipinggirpantaiyangkelihatan dari bukit di mana Malin Kundang tinggal. Sementara ibunya mencari kayu bakar, Malin Kundang melihat-lihat dan mengagumi kapal nan besar. Kapal tersebut datang sebulan satu kali untuk menurunkan barang-barang dari luar pulau, sekaligus menaikkan muatan dari wilayah di sekitar pantai. Malin pun berpikir di dalam hatinya. Malin : Amboi, betapa besar dan bagus kapal ini. Betapa senang jika saya dapat bekerja sebagai awak kapal. Saya bisa berlayar, bisa melihat kota-kota lain di luar pulau. Pencerita : Tidak terasa hari semakin sore, Malin pun pulang dengan berbagai keinginan di benaknya. Tiba di rumah, nampak ibunya sedang masak ubi di dapur, untuk makan malam mereka. Sungguh, ibu yang tidak pernah lelah. Sepulang mencari kayu bakar, ia menyiapkan makan, merebus air minum dan membereskan rumah tanpa lelah. Ia selalu berusaha dan berdoa agar anaknya bisa berhasil dan hidup berbahagia. Ketika sedang makan bersama, Malin Kundang mengungkapkan isi hatinya. Malin : Ibu, ketika ibu berangkat mencari kayu bakar ke hutan, saya pergi ke pantai. Di sana saya melihat kapal yang bagus dan besar. Bagaimana jika saya pergi merantau untuk mengadu nasib agar bisa hidup lebih baik. Ibu : Malin, anakku. Ibu tidak bisa melarang kamu untuk mencarihidupyanglebihbaik. Ibumengerti,karenasuatu saat kamu pun harus bisa menemukan kehidupan yang lebih baik. Ibu hanya bisa berdoa, semoga kamu bisa menemukannya. Sangat berat bagi ibu untuk berpisah denganmu, dan ibu pasti akan merasa kehilangan. Pencerita : Sejak saat itu, ibunya semakin giat untuk mencari kayu bakar dan ubi-ubian agar bisa menjual ke pasar, untuk menabung sehingga bisa memberi bekal bagi anaknya Malin Kundang.Beberapa bulan setelah itu, tibalah kapal yangbesardanbagusuntukmenurunkanbarang-barang dari luar pulau dan memuat barang-barang dagangan dari pulau tersebut.Malin Kundang berpamitan kepada ibunya dan berjanji untuk segera kembali kepada ibunya. Kepada Malin Kundang, ibu memberikan perhiasan, sejumlah uang dan bekal makanan. Ibu malin berpesan: Ibu : Malin, anakku, hati-hati dan jaga diri. Ibu selalu berdoa untukkeselamatandankeberhasilanmu. Danjikaberhasil, segeralahkembali,karenaibupastiselalumerindukanmu. Pencerita : Malin Kundang pun bergegas naik kapal. Dari kejauhan ibunya menatap dengan penuh haru, tapi hatinya tetap berdoa bagi keselamatan dan keberhasilan anak tercinta. Beberapasaatkemudian,kapalyangditumpangianaknya tidak tampak lagi. Ibu Malin Kundang pulang untuk mengisi hari-hari dalam kesendirian, dengan harapan dapat berkumpul lagi dengan anaknya dalam suasana bahagia.Bulan demi bulan, tahun demi tahun Ibu Malin Kundang terus menanti. Setiap malam ia selalu berdoa. Hingga pada suatu hari ia mendengar bahwa di pantai telah datang sebuah kapal besar dan mewah. Ibu yang mulai tua bergegas ke pantai dengan harapan dapat bertemu dengan Malin Kundang anak yang sangat ia cintai. Ibu menaiki tangga kapal, mencari dan terus mencari. Ia melihat seorang pemuda tampan dengan pakaian bagus, berdampingan dengan seorang wanita cantik. Wajah Ibu Malin Kundang menjadi ceria. Ia tahu betul bahwa pemuda itu adalah Malin Kundang. Ibu : Malin Anakku\u2026 Pencerita : Pemuda dan wanita itu menoleh. Sementara Ibu Malin Kundang menghampiri dan bergegas untuk memeluk anaknya. Ibu : Malin..., ibu bahagia bisa bertemu denganmu. Pencerita : Tanpa diduga, Malin Kundang telah berubah sikap. Ia merasa malu memiliki ibu yang tampak tua, berpakaian lusuhdanberbadankurus. Malinpunmembentakibunya. Malin : Apa...? Saya anakmu...? Saya tidak memiliki ibu seperti kamu. Kamu ini hanya pengemis yang mengaku sebagai ibu saya. Nih ada uang kecil, pergilah dan turun dari kapal saya. (sambil mendorong dan mengusir) Pencerita : Ibu Malin Kundang terjatuh. Kakinya tersandung kotak barang. Tapi luka di lututnya tidak ia rasakan, karena ia lebih merasakan sakit di dalam hatinya. Batinnya menjerit atas perlakuan anak yang dicintainya, yang selalu ia sebut didalamdoa-doanya,yangselaludirindukannya.Ternyata anak yang dicintainya, kini tidak mengakui dirinya sebagai ibunya, bahkan mengusir dan menyebutnya sebagai pengemis. Dengan perasaan tidak percaya, ibu Malin Kundang melihat anaknya memalingkan wajahnya dan bergegas masuk ke ruangan di dalam kapal. Ibu Malin Kundang pun diminta turun oleh awak kapal, karena kapal segera berlayar.Beberapa saat kemudian, hujan turun sangat deras. Petir menggelegar keras. Halilintar menyambar kapal besar itu, sehingga kapal terpecah dan karam. Semua penumpang mati tenggelam, termasuk Malin Kundang. (Bdk. Cerita Rakyat dari Sumatera Barat: Malin Kundang Anak Durhaka) Jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini! \u2022 Bagaimana perasaanmu setelah mendengar cerita tersebut? Jelaskan! Kecewa atas sikap Malin Kundang. \u2022 Apakah ibu Malin Kundang mengasihi anaknya? Jawab : Ya ; Tuliskan beberapa buktinya! ... \u2022 Apakah Malin Kundang menghormati dan menyayangi ibunya? awalnya ya, setelah sukses tidak. \u2022 Apa pesan yang kamu peroleh dari cerita tersebut? \u2022 Apakah selama ini kamu sudah menyayangi kedua orang tuamu? Bagaimana caranya? \u2022 Mengapa kita harus menyayangi kedua orang tua? 2. Sabda Tuhan tentang Menghormati Orang Tua Bacalah kutipan-kutipan Kitab Suci berikut ini! a. Firman Keempat (Ulangan 5:16) \u201cHormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu\u201d b. Kewajiban terhadap Orang Tua (Sirakh 3:12-16) \u201cAnakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kau maafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya.Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu. Pada masa pencobaan engkau akan diingat oleh Tuhan, maka dosamu lenyap seperti air beku yang kena matahari. Serupa penghujat barangsiapa meninggalkan bapanya, dan terkutuklah oleh Tuhan orang yang mengerasi ibunya\u201d. Jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini! \u2022 Apa kewajiban kita sebagai anak terhadap orang tua menurut Sir 3:12-16? \u2022 Jelaskan maksud Firman keempat \u201chormatilah ibu bapakmu\u201d (Ul 5:16)! \u2022 Sebutkan beberapa alasan anak perlu menghormati orang tua! \u2022 Sebutkan beberapa contoh perbuatan menghormati orang tua! \u2022 Sebutkan beberapa perbuatan yang akan kamu lakukan untuk menghormati dan menyayangi orang tua! Rangkuman Sikap dan kewajiban kita terhadap orang tua, antara lain : 1. Hormat kepada orang tua Hormat kepada orang tua tidak sama dengan takut kepada mereka. Sebagai anak yang mem- butuhk an bim- bingan, kita harus terbuka dan berani\u00a0mengatakan apa\u00a0yang perlu kita sampaikan. Tetapi sebagai bentuk hormat, kita harus berbicara secara sopan, rendah hati, tidak merendahkan, dan tidak menghina mereka. 2. Cinta terhadap orang tua Ada kalanya orang tua merasa lelah, sakit atau memerlukan bantuan, khususnya jika usia mereka semakin lanjut. Sikap cinta sebagai anak sungguh mereka perlukan. Kita perlu menemani mereka dengan senang hati, memberi perhatian, menolong, mendoakan, dan menunjukkan rasa terima kasih atas segala kebaikan mereka. 3. Taat kepada orang tua Kita percaya bahwa orang tua merupakan perpanjangan tangan Tuhan yang memiliki peran sebagai pemimpin di dalam keluarga. Sebagai pemimpin dan perpanjangan tangan Tuhan, orang tua pantas kita taati. Ketaatan kita terhadap orang tua, merupakan bukti bahwa kita mengakui kepemimpinan serta didikan kasih mereka. Tentu saja, ketaatan yang dimaksud, perlu disertai dengan sikap kritis dan akal sehat. 4. Membantu orang tua Tanpa mengingat atau mengharapkan imbalan, kita sepatutnya selalu bersedia untuk membantu dan menolong mereka, terutama ketika mereka berada didalam keadaan yang memerlukan bantuan. Misalnya ketika mereka sedang lelah, sakit, tidak berdaya atau merasa kesepian. Nyanyikan lagu berikut ini! Bunda (Ciptaan Melly Goeslaw) Kubuka album biru, Penuh debu dan usang Kupandangi semua gambar diri, Kecil bersih belum ternoda Pikirku pun melayang, Dahulu penuh kasih Teringat semua cerita orang, Tentang riwayatku Reff. Kata mereka diriku slalu dimanja Kata mereka diriku slalu ditimang Nada-nada yang indah, slalu terurai darinya Tangisan nakal dari bibirku, Takkan jadi deritanya Tangan halus dan suci, Tlah mengangkat diri ini Jiwa raga dan seluruh hidup, Rela dia berikan (Kembali ke reff.) Oh bunda ada dan tiada dirimu Kan selalu ada di dalam hatiku Tulislah sebuah doa untuk kedua orang tuamu! Doa untuk Orang Tua : Al-lah yang Maha Kasih aku mengucap syukur telah kau berikan orangtua yang sangat baik dan mencintaiku. Berikanlah mereka rahmad Mu sehingga senantiasa mendapatkan kegembiraan dan kebahagiaan dalam mendidik kami. Dan Ajarilah kami untuk senantiasa hormat, patuh dan mencintai mereka. Amin.\", \"Indonesian Female\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>SD4.2.3. Agama Katolik :\u00a0Masyarakat &#8211; Hormat kepada Orang Tua.\u00a0<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pada Pelajaran satu kita telah mempelajari mengenai manusia sebagai pribadi. Pribadi merupakan titik pangkal, sekaligus arah dari pelajaran agama yang kita pelajari. Sedangkan tema mengenai pribadi Yesus Kristus, telah kita pelajari sebagai sumber inspirasi dan teladan yang menerangi perkataan, sikap, pemikiran, serta tindakan di dalam kehidupan kita. Pada Pelajaran tiga ini, kita akan mempelajari arti hidup beriman. Tentu pelajaran ini merupakan kesinambungan dari tema-tema sebelumnya. Kesadaran diri peserta didik dan pertemuan dengan pribadi Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Al-lah di dalam pewartaan dan tindakan-Nya, diharapkan dapat menjadi dasar dalam membangun hidup beriman. Hidup beriman inilah yang akan terwujud di dalam kehidupan Gereja dan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pada bagian pertama dari pelajaran tiga ini kita akan membahas mengenai hidup beriman di dalam masyarakat, yang terurai di dalam tiga pelajaran berikut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">A. Hormat kepada Orang Tua.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> B. Cinta kepada Sesama.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> C. Menghormati Hidup.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>A. Hormat kepada Orang Tua.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu. Pada masa pencobaan engkau akan diingat oleh Tuhan, maka dosamu lenyap seperti air beku yang kena matahari. Serupa penghujat barang siapa meninggalkan bapanya, dan terkutuklah oleh Tuhan orang yang mengerasi ibunya (Sir 3:12-16).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">1. Sebuah Cerita Rakyat tentang \u201cMalin Kundang\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Simaklah cerita atau drama di bawah ini!<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Pencerita : Pada zaman dahulu tinggalah sebuah keluarga sederhana di suatu desa kecil yang damai, tidak jauh dari pantai. Keluarga itu terdiri dari satu orang ibu dengan satu anak laki-laki bernama Malin Kundang yang sangat ia sayangi. Dengan penuh kasih sang ibu membesarkan anak semata wayangnya. Maklum suaminya telah lama meninggal dunia, ketika anak laki-lakinya masih bayi. Ayah Malin Kundang meninggal dunia karena sakit, beberapa bulan setelah membangun rumah sederhana tempat mereka tinggal.Pada suatu hari, terjadilah percakapan antara ibu dan Malin Kundang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Ibu : Malin anakku, ibu mau pergi mencari kayu bakar ke pinggiran hutan. Hati-hati ya di rumah?!<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Malin : Baik ibu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pencerita : Sejak ibunya pergi ke hutan, Malin Kundang yang mulai beranjak remaja itu, keluar rumah menuju pantai. Ia tertarikdengankeramaiandipinggirpantaiyangkelihatan dari bukit di mana Malin Kundang tinggal. Sementara ibunya mencari kayu bakar, Malin Kundang melihat-lihat dan mengagumi kapal nan besar. Kapal tersebut datang sebulan satu kali untuk menurunkan barang-barang dari luar pulau, sekaligus menaikkan muatan dari wilayah di sekitar pantai. Malin pun berpikir di dalam hatinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Malin : Amboi, betapa besar dan bagus kapal ini. Betapa senang jika saya dapat bekerja sebagai awak kapal. Saya bisa berlayar, bisa melihat kota-kota lain di luar pulau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pencerita : Tidak terasa hari semakin sore, Malin pun pulang dengan berbagai keinginan di benaknya. Tiba di rumah, nampak ibunya sedang masak ubi di dapur, untuk makan malam mereka. Sungguh, ibu yang tidak pernah lelah. Sepulang mencari kayu bakar, ia menyiapkan makan, merebus air minum dan membereskan rumah tanpa lelah. Ia selalu berusaha dan berdoa agar anaknya bisa berhasil dan hidup berbahagia. Ketika sedang makan bersama, Malin Kundang mengungkapkan isi hatinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Malin : Ibu, ketika ibu berangkat mencari kayu bakar ke hutan, saya pergi ke pantai. Di sana saya melihat kapal yang bagus dan besar. Bagaimana jika saya pergi merantau untuk mengadu nasib agar bisa hidup lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Ibu : Malin, anakku. Ibu tidak bisa melarang kamu untuk mencarihidupyanglebihbaik. Ibumengerti,karenasuatu saat kamu pun harus bisa menemukan kehidupan yang lebih baik. Ibu hanya bisa berdoa, semoga kamu bisa menemukannya. Sangat berat bagi ibu untuk berpisah denganmu, dan ibu pasti akan merasa kehilangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pencerita : Sejak saat itu, ibunya semakin giat untuk mencari kayu bakar dan ubi-ubian agar bisa menjual ke pasar, untuk menabung sehingga bisa memberi bekal bagi anaknya Malin Kundang.Beberapa bulan setelah itu, tibalah kapal yangbesardanbagusuntukmenurunkanbarang-barang dari luar pulau dan memuat barang-barang dagangan dari pulau tersebut.Malin Kundang berpamitan kepada ibunya dan berjanji untuk segera kembali kepada ibunya. Kepada Malin Kundang, ibu memberikan perhiasan, sejumlah uang dan bekal makanan. Ibu malin berpesan:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Ibu : Malin, anakku, hati-hati dan jaga diri. Ibu selalu berdoa untukkeselamatandankeberhasilanmu. Danjikaberhasil, segeralahkembali,karenaibupastiselalumerindukanmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pencerita : Malin Kundang pun bergegas naik kapal. Dari kejauhan ibunya menatap dengan penuh haru, tapi hatinya tetap berdoa bagi keselamatan dan keberhasilan anak tercinta. Beberapasaatkemudian,kapalyangditumpangianaknya tidak tampak lagi. Ibu Malin Kundang pulang untuk mengisi hari-hari dalam kesendirian, dengan harapan dapat berkumpul lagi dengan anaknya dalam suasana bahagia.Bulan demi bulan, tahun demi tahun Ibu Malin Kundang terus menanti. Setiap malam ia selalu berdoa. Hingga pada suatu hari ia mendengar bahwa di pantai telah datang sebuah kapal besar dan mewah. Ibu yang mulai tua bergegas ke pantai dengan harapan dapat bertemu dengan Malin Kundang anak yang sangat ia cintai. Ibu menaiki tangga kapal, mencari dan terus mencari. Ia melihat seorang pemuda tampan dengan pakaian bagus, berdampingan dengan seorang wanita cantik. Wajah Ibu Malin Kundang menjadi ceria. Ia tahu betul bahwa pemuda itu adalah Malin Kundang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Ibu : Malin Anakku\u2026<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pencerita : Pemuda dan wanita itu menoleh. Sementara Ibu Malin Kundang menghampiri dan bergegas untuk memeluk anaknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Ibu : Malin&#8230;, ibu bahagia bisa bertemu denganmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pencerita : Tanpa diduga, Malin Kundang telah berubah sikap. Ia merasa malu memiliki ibu yang tampak tua, berpakaian lusuhdanberbadankurus. Malinpunmembentakibunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Malin : Apa&#8230;? Saya anakmu&#8230;? Saya tidak memiliki ibu seperti kamu. Kamu ini hanya pengemis yang mengaku sebagai ibu saya. Nih ada uang kecil, pergilah dan turun dari kapal saya. (sambil mendorong dan mengusir)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pencerita : Ibu Malin Kundang terjatuh. Kakinya tersandung kotak barang. Tapi luka di lututnya tidak ia rasakan, karena ia lebih merasakan sakit di dalam hatinya. Batinnya menjerit atas perlakuan anak yang dicintainya, yang selalu ia sebut didalamdoa-doanya,yangselaludirindukannya.Ternyata anak yang dicintainya, kini tidak mengakui dirinya sebagai ibunya, bahkan mengusir dan menyebutnya sebagai pengemis. Dengan perasaan tidak percaya, ibu Malin Kundang melihat anaknya memalingkan wajahnya dan bergegas masuk ke ruangan di dalam kapal. Ibu Malin Kundang pun diminta turun oleh awak kapal, karena kapal segera berlayar.Beberapa saat kemudian, hujan turun sangat deras. Petir menggelegar keras. Halilintar menyambar kapal besar itu, sehingga kapal terpecah dan karam. Semua penumpang mati tenggelam, termasuk Malin Kundang.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> (Bdk. Cerita Rakyat dari Sumatera Barat: Malin Kundang Anak Durhaka)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Bagaimana perasaanmu setelah mendengar cerita tersebut? Jelaskan! Kecewa atas sikap Malin Kundang.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Apakah ibu Malin Kundang mengasihi anaknya? Jawab : Ya ; Tuliskan beberapa buktinya! &#8230;<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Apakah Malin Kundang menghormati dan menyayangi ibunya? awalnya ya, setelah sukses tidak.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Apa pesan yang kamu peroleh dari cerita tersebut?<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Apakah selama ini kamu sudah menyayangi kedua orang tuamu? Bagaimana caranya?<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Mengapa kita harus menyayangi kedua orang tua?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">2. Sabda Tuhan tentang Menghormati Orang Tua<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Bacalah kutipan-kutipan Kitab Suci berikut ini!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">a. Firman Keempat (Ulangan 5:16)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">\u201cHormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">b. Kewajiban terhadap Orang Tua (Sirakh 3:12-16)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">\u201cAnakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kau maafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya.Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pada masa pencobaan engkau akan diingat oleh Tuhan, maka dosamu lenyap seperti air beku yang kena matahari. Serupa penghujat barangsiapa meninggalkan bapanya, dan terkutuklah oleh Tuhan orang yang mengerasi ibunya\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Apa kewajiban kita sebagai anak terhadap orang tua menurut Sir 3:12-16?<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Jelaskan maksud Firman keempat \u201chormatilah ibu bapakmu\u201d (Ul 5:16)!<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Sebutkan beberapa alasan anak perlu menghormati orang tua!<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Sebutkan beberapa contoh perbuatan menghormati orang tua!<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Sebutkan beberapa perbuatan yang akan kamu lakukan untuk menghormati dan menyayangi orang tua!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Rangkuman<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Sikap dan kewajiban kita terhadap orang tua, antara lain :<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 1. Hormat kepada orang tua<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Hormat kepada orang tua tidak sama dengan takut kepada mereka. Sebagai anak yang mem- butuhk an bim- bingan, kita harus terbuka dan berani\u00a0mengatakan apa\u00a0yang perlu kita sampaikan. Tetapi sebagai bentuk hormat, kita harus berbicara secara sopan, rendah hati, tidak merendahkan, dan tidak menghina mereka.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. Cinta terhadap orang tua<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Ada kalanya orang tua merasa lelah, sakit atau memerlukan bantuan, khususnya jika usia mereka semakin lanjut. Sikap cinta sebagai anak sungguh mereka perlukan. Kita perlu menemani mereka dengan senang hati, memberi perhatian, menolong, mendoakan, dan menunjukkan rasa terima kasih atas segala kebaikan mereka.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3. Taat kepada orang tua<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Kita percaya bahwa orang tua merupakan perpanjangan tangan Tuhan yang memiliki peran sebagai pemimpin di dalam keluarga. Sebagai pemimpin dan perpanjangan tangan Tuhan, orang tua pantas kita taati. Ketaatan kita terhadap orang tua, merupakan bukti bahwa kita mengakui kepemimpinan serta didikan kasih mereka. Tentu saja, ketaatan yang dimaksud, perlu disertai dengan sikap kritis dan akal sehat.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 4. Membantu orang tua<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Tanpa mengingat atau mengharapkan imbalan, kita sepatutnya selalu bersedia untuk membantu dan menolong mereka, terutama ketika mereka berada didalam keadaan yang memerlukan bantuan. Misalnya ketika mereka sedang lelah, sakit, tidak berdaya atau merasa kesepian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Nyanyikan lagu berikut ini!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Bunda<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> (Ciptaan Melly Goeslaw)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Kubuka album biru, Penuh debu dan usang<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Kupandangi semua gambar diri, Kecil bersih belum ternoda Pikirku pun melayang, Dahulu penuh kasih<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Teringat semua cerita orang, Tentang riwayatku<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Reff.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Kata mereka diriku slalu dimanja Kata mereka diriku slalu ditimang<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Nada-nada yang indah, slalu terurai darinya Tangisan nakal dari bibirku, Takkan jadi deritanya<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Tangan halus dan suci, Tlah mengangkat diri ini Jiwa raga dan seluruh hidup, Rela dia berikan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">(Kembali ke reff.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Oh bunda ada dan tiada dirimu Kan selalu ada di dalam hatiku<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Tulislah sebuah doa untuk kedua orang tuamu!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Doa untuk Orang Tua : Al-lah yang Maha Kasih aku mengucap syukur telah kau berikan orangtua yang sangat baik dan mencintaiku. Berikanlah mereka rahmad Mu sehingga senantiasa mendapatkan kegembiraan dan kebahagiaan dalam mendidik kami. Dan Ajarilah kami untuk senantiasa hormat, patuh dan mencintai mereka. Amin.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SD4.2.3. Agama Katolik :\u00a0Masyarakat &#8211; Hormat kepada Orang Tua.\u00a0 Pada Pelajaran satu kita telah mempelajari mengenai manusia sebagai pribadi. Pribadi merupakan titik pangkal, sekaligus arah dari pelajaran agama yang kita pelajari. Sedangkan tema mengenai pribadi Yesus Kristus, telah kita pelajari sebagai sumber inspirasi dan teladan yang menerangi perkataan, sikap, pemikiran, serta tindakan di dalam kehidupan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[271,275,273,272,277,276,55,278,279,274],"class_list":["post-1349","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-tak-berkategori","tag-audiobook","tag-book","tag-buku","tag-bukusuara","tag-free","tag-gratis","tag-katolik","tag-pelajaran","tag-sekolah","tag-suara"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1349","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1349"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1349\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1363,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1349\/revisions\/1363"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1349"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1349"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1349"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}