{"id":1316,"date":"2017-02-03T19:51:22","date_gmt":"2017-02-03T12:51:22","guid":{"rendered":"http:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/?p=1316"},"modified":"2017-09-13T13:43:36","modified_gmt":"2017-09-13T06:43:36","slug":"sd-kelas-4-tema-6-sub-tema-4-aku-cinta-membaca","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/sd-kelas-4-tema-6-sub-tema-4-aku-cinta-membaca\/","title":{"rendered":"SD Kelas 4 &#8211; Tema 6 &#8211; Sub Tema 4 &#8211; Aku Cinta Membaca"},"content":{"rendered":"<button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca &amp; Dengarkan!<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"SD Kelas 4 - Tema 6 - Sub Tema 4 - Aku Cinta Membaca. Aku Cinta Membaca Cintailah membaca, karena .... semakin banyak membaca, semakin banyak tempat yang kamu kunjungi, semakin sering membaca, semakin sering kamu berpetualang, semakin beragam bacaanmu, semakin beragam pula pengalaman yang kamu rasakan. Apa yang kamu baca akan membuatmu kaya, karena apa yang kamu baca akan mengisi dirimu dengan ilmu, menambah jiwamu dengan pengetahuan, dan membuka wawasan cakrawala benakmu, seluas-luasnya! Kakakku Dokter di Pedalaman Penulis: Diy Ara Di sebuah rumah di Semarang, Rara sudah duduk di dekat telepon rumah sejak pulang sekolah. Beberapa kali, ia menatap telepon, lalu berbisik, \u201cKak Dilan, Rara kangen.\u201d Sayangnya, telepon itu tetap tidak berdering. Rara menjadi kesal. \u201cAndai Rara punya kakak seperti kakaknya Sena. Seorang polisi hebat yang selalu mengantar Sena ke sekolah.\u201d \u201cKak Dilan dokter yang hebat, lho!\u201d seru Mama. \u201cDokter hebat harusnya ada di rumah sakit. Tidak di hutan seperti Kak Dilan,\u201d protes Rara. \u201cKak Dilan malahan tidak punya waktu, sudah sebulan Kak Dilan tidak menelepon.\u201d Mama mengusap rambut panjang Rara. \u201cKak Dilan pasti kangen Rara. Tetapi, Kak Dilan kan sekarang tinggal di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Tepatnya di Distrik Weime. Itu daerah pedalaman, tidak ada listrik, sinyal, wartel, dan fasilitas lainnya. Jadi, kalau mau menelepon kita, Kak Dilan harus pergi ke kota dulu.\u201d Tiba-tiba telepon berdering. Rara lekas mengangkat telepon itu. Suara Kak Dilan menyapa. Rara berteriak girang. \u201cKak Dilan harus pulang! Kalau tidak, Rara tidak mau ngomong sama Kakak lagi!\u201d \u201cRara jangan ngambek, dong! Kak Dilan kangen sekali suara imut Rara,\u201d bujuk Kak Dilan di sambungan telepon. \u201cKakak mau cerita. Hari ini, Kakak senang sekali, akhirnya Bonai tersenyum.\u201d \u201cSiapa itu Bonai?\u201d tanya Rara penasaran. \u201cBonai itu salah satu pasien Kakak. Dia terkena malaria. Syukurlah, sekarang ia sudah sembuh. Tempat yang Kakak tinggali ini banyak sekali penduduk yang meninggal karena malaria. Soalnya, jarak dari sini ke rumah sakit sangat jauh. Jadi, mereka telat ditangani,\u201d cerita Kak Dilan. \u201cKasihan sekali. Berarti Kakak harus jaga kesehatan. Kalau Kak Dilan sakit, nanti siapa yang mengobati mereka?\u201d \u201cEhm, Kakak minta maaf, ya karena Kakak tidak ada di samping Rara.\u201d Rara merasa bersalah. Seharusnya, ia mendukung Kak Dilan. Soalnya, menjadi dokter di pedalaman adalah tugas berat dan sangat mulia. \u201cTidak apa-apa, Kak. Rara paham sekarang. Dibandingkan Rara, penduduk di Weime lebih membutuhkan Kak Dilan. Kakak harus ada di samping mereka dan mengobati mereka sampai sembuh! Janji ya sama Rara!\u201d \u201cJanji! Doain Kakak, ya!\u201d \u201cPasti! Rara bangga sekali punya Kakak sehebat Kak Dilan!\u201d seru Rara semangat. \u201cKalau sudah dewasa nanti, Rara mau jadi dokter. Menyelamatkan nyawa orang lain dan membuat mereka tersenyum!\u201d \u201cKakak juga bangga sama Rara!\u201d kata Kak Dilan di ujung telepon sana. Pertanyaan Bacaan. 1. Apakah judul bacaan di atas? 2. Siapakah tokoh utama cerita di atas? 3. Apakah masalah pada cerita di atas? 4. Bagaimana penyelesaian masalah pada cerita di atas? 5. Apa pelajaran yang kamu dapatkan dari cerita di atas? Kebaikan Hati Pohon Jati Penulis: Heru Prasetyo Siang hari itu, di sebuah lokasi perbukitan di Pulau Jawa, Awan menurunkan air hujan yang dibawanya ke daratan. \u201cAh, leganya.\u201d Awan merasa senang, air yang sedari tadi dibawa sudah ditumpahkannya. \u201cHei, Awan. Kenapa kamu sembarang menurunkan hujan?\u201d protes Pohon Jati. Awan terkejut mendengar pohon jati memprotesnya. Padahal, selama ini, Pohon Jati selalu senang kalau awan menurunkan hujan. \u201cAku tidak kuat lagi. Sedari tadi, aku sudah lelah mengangkut hujan,\u201d sahut Awan. Namun, Pohon Jati tampak tidak senang mendengarnya. \u201cIya, tapi, kenapa kamu menurunkannya di sini? Lihatlah, tempat ini sudah penuh air!\u201d kata Pohon Jati marah. Awan melihat ke bawah. Memang benar, di sekitar Pohon Jati banyak terdapat genangan air. Pohon Jati masih merasa jengkel. \u201cBagaimana caranya agar aku tidak lagi digenangi air sebanyak ini?\u201d \u201cTenang saja, nanti pasti akan terserap oleh akarmu,\u201d jawab Awan singkat. \u201cItu tidak mungkin. Semua temanku sudah habis ditebangi manusia. Cuma tinggal aku satu-satunya pohon jati di sini,\u201d kata Pohon Jati tampak sedih. Awan pun berempati. \u201cAku turut sedih mendengarnya.\u201d \u201cLalu genangan air ini sebanyak ini bagaimana membuangnya?\u201d tanya Pohon Jati. \u201cGampang, kamu alirkan airnya ke bawah bukit sana,\u201d Awan memberi saran. \u201cAku tidak mau! Aku tidak mau membuat manusia yang berada di bawah bukit menjadi korban banjir,\u201d tukas Pohon Jati. \\\"Bukankah mereka sudah menebangi semua temanmu,\u201d ujar Awan. \u201cTapi, tidak semua dari mereka seperti itu. Anak-anak di bawah bukit sana, mereka sangat menyayangiku. Sudah beberapa hari ini mereka menanam banyak bibit pohon untuk temanku nanti. Mereka juga merawatku dengan baik,\u201d sahut Pohon Jati. Awan pun terenyuh mendengarnya. \u201cLalu sekarang apa yang akan kamu lakukan?\u201d tanya Awan. \u201cAku akan berusaha menahan genangan air yang banyak ini tetap di sini sebisaku,\u201d jawab Pohon Jati. Awan tidak menyangka Pohon Jati begitu baik hati. Akhirnya, Pohon Jati terus berusaha menyerap genangan air di sekitarnya sedikit demi sedikit dengan akarnya. Sore pun menjelang. Genangan air di sekitar Pohon Jati perlahan mulai surut. Tampak anak-anak mulai berdatangan ke atas bukit. Dari atas langit, Awan melihat sekumpulan anak-anak kembali menanami bibit-bibit pohon jati di area di mana dahulu banyak terdapat pohon jati, tetapi kini sudah ditebang. \u201cHei, ada genangan air. Ayo, kita main!\u201d Anak-anak tampak antusias bermain air di bawah Pohon Jati. Di wajah mereka tersirat keceriaan. Pohon Jati pun tersenyum bahagia melihat keceriaan anak-anak itu. Pertanyaan Bacaan. 1. Apakah judul bacaan di atas? 2. Siapakah tokoh utama cerita di atas? 3. Apa sajakah kegunaan pohon jati dalam kehidupan masyarakat? 4. Bagaimana cara melestarikan pohon jati? 5. Apa pelajaran yang kamu dapatkan dari cerita di atas? Laut Kita Penuh Harta Karun Penulis: Erlita Pratiwi Minggu pagi yang cerah. Nara bersama ayah dan Om Benny, teman ayah, naik perahu motor meninggalkan pelabuhan Tanjung Luar, Lombok Timur, menuju ke tengah laut lepas. Ayah Nara yang mengemudikan perahu motor itu menuju perahu besar yang berada di tengah laut. Sesampainya di perahu besar, Nara melihat teman-teman ayah membersihkan kerang mutiara. Kerang-kerang itu kemudian akan dikembalikan ke dalam laut. Bila sudah cukup umur, dipanen untuk diambil mutiara yang terdapat di dalam kerang. Nara memperhatikan kerang-kerang yang sedang dibersihkan. Lalu, ia memegang salah satunya. Sama sekali tidak terlihat ada sesuatu yang mahal di dalamnya. \u201cYang ini, mutiaranya sudah sebesar apa, Ayah?\u201d tanya Nara penasaran. \u201cHarus diperiksa dengan sinar X terlebih dahulu, Nara. Baru nanti bisa terlihat,\u201d kata ayahnya. Nara pun hanya manggut-manggut. \u201cTidak semua proses mutiara berhasil, Nara. Dengan bantuan sinar-X, kita bisa tahu kerang yang gagal,\u201d kata Om Benny menjelaskan. Om Benny lalu menunjuk kerang yang sedang dibersihkan. \u201cIni namanya Pinctada maxima. Jenis kerang ini menghasilkan mutiara berwarna keemasan. Kerang-kerang harus dibersihkan dari siput dan binatang lain yang menempel. Hewan-hewan itu akan mengisap makanan yang ada di dalam kerang. Nanti mutiaranya jadi tidak sempurna.\u201d Nara menyimak penjelasan Om Benny itu. \u201cPantas saja mutiara itu harganya mahal. Prosesnya sulit dan lama ya, Om,\u201d kata Nara. Om Benny mengangguk membenarkan. \u201cKamu tahu tidak, mutiara dari perairan Lombok sudah terkenal ke seluruh dunia, Nara. Dan faktanya, hampir 43 persen mutiara di dunia itu dihasilkan dari Indonesia,\u201d tiba-tiba Om Benny berkata lagi. \u201cWow, keren!\u201d Nara berseru kagum. \u201dIndonesia ternyata punya banyak harta karun di laut, ya, Om,\u201d kata Nara. \u201dIya, Nara. Bangsa kita memang kaya akan hasil laut. Bukan cuma mutiara, masih banyak kekayaan hasil laut lainnya, Nara. Tapi, sayangnya, potensi sumber daya kelautan Indonesia yang sangat besar itu sampai sekarang masih belum tergarap secara optimal, Nara,\u201d lanjut Om Benny dengan nada prihatin. \u201dOh, begitu ya, Om?\u201d Nara ikut merasa sedih mendengarnya. \u201cOleh karena itu, kamu belajar yang rajin, Nara! Supaya saat kamu besar nanti, kamu dan generasi muda penerus bangsa lainnya bisa mengolah kekayaan hasil laut Indonesia ini dengan baik. Bangsa kita nantinya bisa menjadi makmur,\u201d pesan Om Benny kemudian. \u201cSiap, Om!\u201d Nara membuat gerakan hormat dengan tangannya. Om Benny dan Ayah Nara pun tersenyum senang, melihat semangat Nara. Bangsa Indonesia memiliki sumber daya kelautan yang sangat kaya. Mari kita cintai dan jaga kekayaan laut Indonesia. Pertanyaan Bacaan. 1. Apakah judul bacaan di atas? 2. Siapakah tokoh utama cerita di atas? 3. Bagaimana kerang mutiara dimanfaatkan oleh manusia? 4. Usaha pelestarian apa saja yang perlu dilakukan untuk melestarikannya? 5. Apa pelajaran yang kamu dapatkan dari cerita di atas? Kemarau di Gunungkidul Penulis: Fransisca Emilia Dongeng Anak Terpilih Kategori Air Minum - Lomba Menulis Dongeng Anak KSAN 2015 Hari ini sekolah Elang libur. Elang ikut ayahnya yang akan meliput berita di Gunungkidul, Yogyakarta. Ayah Elang seorang wartawan. \u201cDi sana sering kekurangan air ya, Yah? Aku pernah baca di majalah,\u201d kata Elang. Ayah mengangguk. \u201cSebagian besar wilayah Gunungkidul merupakan pegunungan karst yang tersusun dari batuan kapur berpori. Akibatnya, air selalu merembes dan menghilang ke dalam tanah. Permukaannya kering, tapi jauh di bawah tanah kaya akan air.\u201d \u201cLihatlah sekitarmu, Elang,\u201d kata ayahnya lagi. Dari kaca mobil, Elang memandang sekelilingnya. Pohon-pohon meranggas dan rerumputan mengering. Saat memasuki perkampungan, yang terlihat hanya tanah cokelat yang pecah-pecah. Saat sampai tujuan, ayah memarkir mobil di depan balai desa. Tak jauh dari situ, kerumunan warga tengah mengantre di sekeliling mobil tangki air. Mereka membawa jeriken, ember, dan berbagai wadah untuk menampung air. Ayah lalu mewawancarai kepala desa dan beberapa warga. \u201cTelaga-telaga sudah mengering pada awal kemarau. Begitu pula bak-bak penampungan air dan kolam-kolam yang kami buat, hanya cukup untuk satu bulan,\u201d kata Pak Kepala Desa. Elang memandang kerumunan warga dengan sedih. Ia lalu melihat seorang gadis kecil yang baru selesai mengantre air. Jalannya terengah-engah. Elang mendekatinya. \u201cSini, aku bantu.\u201d Mata bulat gadis kecil itu berbinar. Elang lalu memperkenalkan dirinya. Gadis itu bernama Gendis. \u201cKenapa mengambil air sendiri?\u201d tanya Elang perlahan \u201cSimbah sedang membuat gaplek. Bapak dan simbok bekerja di Jakarta,\u201d jawab Gendis. \u201cAir ini untuk apa? Mandi?\u201d tanya Elang lagi. \u201cMusim kemarau begini aku jarang mandi. Beli air untuk minum dan masak saja.\u201d Elang tak menyangka kalau ada daerah yang mengalami kekeringan separah itu. \u201cHei, dari mana? Ayo pulang,\u201d kata ayah membuyarkan lamunan Elang. \u201cYah, bukankah kata Ayah di dalam tanah sana kaya air? Apa tidak bisa dimanfaatkan?\u201d tanya Elang. \u201cBisa. Tapi, dalamnya ratusan meter. Perlu biaya sangat besar. Pemerintah bekerja sama dengan Jerman sudah membangun bendungan di Gua Bribin. Airnya dipompa ke atas!\u201d \u201cTerus, kenapa masih kekurangan air?\u201d \u201cAirnya sudah bisa memenuhi kebutuhan warga di beberapa kecamatan. Tapi belum optimal. Mudah-mudahan dengan perkembangan teknologi, air bawah tanah bisa dimanfaatkan lebih baik. Dan Gunungkidul tidak kekurangan air lagi seperti sekarang.\u201d \u201dKita beruntung ya, Yah, tidak pernah kekurangan air,\u201d kata Elang kemudian. Ayahnya pun mengangguk. Perjalanan bersama ayah kali ini, sungguh memberikan pengalaman baru buat Elang. Pertanyaan Bacaan. 1. Apakah judul bacaan di atas? 2. Siapakah tokoh utama cerita di atas? 3. Pernahkah kalian melihat burung elang seperti yang ditokohkan dalam cerita di atas? Tahukah kalian bahwa burung elang adalah binatang yang dilindungi? Ayo kita cari informasi lebih rinci tentang burung elang. Buatlah sebuah kliping bersama temanmu: \u2022 Jenis burung elang yang ada di Indonesia \u2022 Cara pelestarian burung elang. \u2022 Tempat-tempat yang dikunjungi untuk melihat penangkaran burung elang 4. Apa pelajaran yang kamu dapatkan dari cerita di atas? Impian Bomu Penulis: Watiek Ideo dan DK Wardhani Hai, namaku Bomu. Aku adalah sebatang bambu di daerah Way Kambas, Sumatra. Aku tinggal bersama segerombol bambu lainnya. Teman kami, Angin, suka sekali menggoda dan bercanda bersama kami, para bambu. Tiba-tiba kudengar suara yang amat keras. Itu adalah para pohon besar di seberang. \u201cOh, sebentar lagi kita akan dibawa ke kota,\u201d kata Pohon Kampar. \u201cYa. Kudengar mereka akan menjadikan kita mebel-mebel mewah,\u201d ujar Pohon Meranti bangga. \u201cSeperti apa ya tinggal di kota?\u201d batinku. Sungguh, aku iri kepada mereka. Para manusia lebih membutuhkan pohon-pohon itu daripada sepotong bambu. Hari berganti hari. Pagi-pagi kudengar kehebohan di sawah seberang. Rupanya itu adalah anak-anak Way Kambas. \u201cGawat! Kata Ayahku, musim kemarau sudah datang!\u201d \u201cSawah-sawah akan kekeringan.\u201d \u201cKita akan kesulitan air bersih nanti.\u201d Suara-suara mereka terdengar khawatir. Keesokan hari, kulihat anak-anak Way Kambas datang lagi. Tapi kini, mereka ditemani para orangtua. Dan, hei, mereka berjalan ke arah kami para bambu! \u201cAyo, ayo! Ambil yang bagus bambunya\u201d \u201cIya. Biar kuat!\u201d Orang-orang mulai memotong kami para bambu. Rasanya sungguh geli. Aku sangat bahagia membayangkan apa yang akan terjadi. Kurasa mereka akan membawaku ke kota! Hore! Tubuhku bergoyang-goyang saat orang-orang itu mengusung para bambu ke sebuah sungai besar di ujung desa. Lho, kok ke sini? \u201cAyo, kita rakit sekarang!\u201d Tanpa dikomando, mereka berbagi tugas. Srek! Srek! Kras! Kras! Hei, apa yang terjadi? Dan, wow! Tubuhku tertali amat kencang bersama teman-temanku. Kulihat beberapa bambu lain tampak saling terhubung menjadi pipa-pipa panjang. \u201cAyo, kita coba sekarang!\u201d Tiba-tiba angin bertiup ke arahku. Perlahan, tubuhku berputar. Air pun masuk ke bumbung-bumbung tubuhku dan teman-temanku. Lalu, air itu tumpah ke sebuah wadah dan mengalir masuk ke pipa-pipa bambu. \u201cBerhasil!\u201d \u201cHore!\u201d \u201cAirnya masuk!\u201d Para petani dan anak-anak itu bersorak bahagia. Air itu mengalir ke sawah- sawah dan kolam penampungan di tengah desa. Kini, aku menjadi bagian dari kincir angin ini. Anak-anak Way Kambas bersemangat sekali menanami sekitar mata air dengan tunas-tunas muda. Mereka dan para orang dewasa bahu-membahu menahan tepian mata air dengan bebatuan. Tak boleh lagi ada yang menebang pohon sembarangan dan mengotori sumber air. Pertanyaan Bacaan. 1. Apakah judul bacaan di atas? 2. Siapakah tokoh utama cerita di atas? 3. Buatlah sebuah puisi yang terdiri atas paling sedikit 3 bait berdasarkan bacaan tersebut. Ingatlah selalu untuk memperhatikan rima setiap baitnya. Bacakanlah puisimu di depan kelas. 4. Bagaimana penyelesaian masalah pada cerita di atas? 5. Apa pelajaran yang kamu dapatkan dari cerita di atas?\", \"Indonesian Female\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    \n<p>SD Kelas 4 &#8211; Tema 6 &#8211; Sub Tema 4 &#8211; Aku Cinta Membaca.<\/p>\n<p>Aku Cinta Membaca<\/p>\n<p>Cintailah membaca, karena &#8230;. semakin banyak membaca,<br \/>\nsemakin banyak tempat yang kamu kunjungi, semakin sering membaca,<br \/>\nsemakin sering kamu berpetualang, semakin beragam bacaanmu, semakin beragam pula<br \/>\npengalaman yang kamu rasakan.<br \/>\nApa yang kamu baca akan membuatmu kaya, karena apa yang kamu baca akan mengisi dirimu dengan ilmu, menambah jiwamu dengan pengetahuan, dan membuka wawasan cakrawala benakmu, seluas-luasnya!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Kakakku Dokter di Pedalaman<\/strong><br \/>\n<strong>Penulis: Diy Ara<\/strong><br \/>\nDi sebuah rumah di Semarang, Rara sudah duduk di dekat telepon rumah sejak pulang sekolah. Beberapa kali, ia menatap telepon, lalu berbisik, \u201cKak Dilan, Rara kangen.\u201d Sayangnya, telepon itu tetap tidak berdering. Rara menjadi kesal.<br \/>\n\u201cAndai Rara punya kakak seperti kakaknya Sena. Seorang polisi hebat yang selalu mengantar Sena ke sekolah.\u201d<br \/>\n\u201cKak Dilan dokter yang hebat, lho!\u201d seru Mama.<br \/>\n\u201cDokter hebat harusnya ada di rumah sakit. Tidak di hutan seperti Kak Dilan,\u201d protes Rara. \u201cKak Dilan malahan tidak punya waktu, sudah sebulan Kak Dilan tidak menelepon.\u201d<br \/>\nMama mengusap rambut panjang Rara. \u201cKak Dilan pasti kangen Rara. Tetapi, Kak Dilan kan sekarang tinggal di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Tepatnya di Distrik Weime. Itu daerah pedalaman, tidak ada listrik, sinyal, wartel, dan fasilitas lainnya. Jadi, kalau mau menelepon kita, Kak Dilan harus pergi ke kota dulu.\u201d<br \/>\nTiba-tiba telepon berdering. Rara lekas mengangkat telepon itu. Suara Kak Dilan menyapa. Rara berteriak girang.<br \/>\n\u201cKak Dilan harus pulang! Kalau tidak, Rara tidak mau ngomong sama Kakak lagi!\u201d<br \/>\n\u201cRara jangan ngambek, dong! Kak Dilan kangen sekali suara imut Rara,\u201d bujuk Kak Dilan di sambungan telepon. \u201cKakak mau cerita. Hari ini, Kakak senang sekali, akhirnya Bonai tersenyum.\u201d \u201cSiapa itu Bonai?\u201d tanya Rara penasaran.<br \/>\n\u201cBonai itu salah satu pasien Kakak. Dia terkena malaria. Syukurlah, sekarang ia sudah sembuh. Tempat yang Kakak tinggali ini banyak sekali penduduk yang meninggal karena malaria. Soalnya, jarak dari sini ke rumah sakit sangat jauh. Jadi, mereka telat ditangani,\u201d cerita Kak Dilan.<br \/>\n\u201cKasihan sekali. Berarti Kakak harus jaga kesehatan. Kalau Kak Dilan sakit, nanti siapa yang mengobati mereka?\u201d<br \/>\n\u201cEhm, Kakak minta maaf, ya karena Kakak tidak ada di samping Rara.\u201d<br \/>\nRara merasa bersalah. Seharusnya, ia mendukung Kak Dilan. Soalnya, menjadi dokter di pedalaman adalah tugas berat dan sangat mulia. \u201cTidak apa-apa, Kak. Rara paham sekarang. Dibandingkan Rara, penduduk di Weime lebih membutuhkan Kak Dilan. Kakak harus ada di samping mereka dan mengobati mereka sampai sembuh! Janji ya sama Rara!\u201d<br \/>\n\u201cJanji! Doain Kakak, ya!\u201d<br \/>\n\u201cPasti! Rara bangga sekali punya Kakak sehebat Kak Dilan!\u201d seru Rara semangat. \u201cKalau sudah dewasa nanti, Rara mau jadi dokter. Menyelamatkan nyawa orang lain dan membuat mereka tersenyum!\u201d<br \/>\n\u201cKakak juga bangga sama Rara!\u201d kata Kak Dilan di ujung telepon sana.<br \/>\nPertanyaan Bacaan.<br \/>\n1. Apakah judul bacaan di atas?<br \/>\n2. Siapakah tokoh utama cerita di atas?<br \/>\n3. Apakah masalah pada cerita di atas?<br \/>\n4. Bagaimana penyelesaian masalah pada cerita di atas?<br \/>\n5. Apa pelajaran yang kamu dapatkan dari cerita di atas?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Kebaikan Hati Pohon Jati<\/strong><br \/>\n<strong>Penulis: Heru Prasetyo<\/strong><\/p>\n<p>Siang hari itu, di sebuah lokasi perbukitan di Pulau Jawa, Awan menurunkan air hujan yang dibawanya ke daratan.<br \/>\n\u201cAh, leganya.\u201d Awan merasa senang, air yang sedari tadi dibawa sudah ditumpahkannya.<br \/>\n\u201cHei, Awan. Kenapa kamu sembarang menurunkan hujan?\u201d protes Pohon Jati.<br \/>\nAwan terkejut mendengar pohon jati memprotesnya. Padahal, selama ini, Pohon Jati selalu senang kalau awan menurunkan hujan.<br \/>\n\u201cAku tidak kuat lagi. Sedari tadi, aku sudah lelah mengangkut hujan,\u201d sahut Awan.<br \/>\nNamun, Pohon Jati tampak tidak senang mendengarnya. \u201cIya, tapi, kenapa kamu menurunkannya di sini? Lihatlah, tempat ini sudah penuh air!\u201d kata Pohon Jati marah. Awan melihat ke bawah. Memang benar, di sekitar Pohon Jati banyak terdapat genangan air.<br \/>\nPohon Jati masih merasa jengkel. \u201cBagaimana caranya agar aku tidak lagi digenangi air sebanyak ini?\u201d<br \/>\n\u201cTenang saja, nanti pasti akan terserap oleh akarmu,\u201d jawab Awan singkat.<br \/>\n\u201cItu tidak mungkin. Semua temanku sudah habis ditebangi manusia. Cuma tinggal aku satu-satunya pohon jati di sini,\u201d kata Pohon Jati tampak sedih.<br \/>\nAwan pun berempati. \u201cAku turut sedih mendengarnya.\u201d<br \/>\n\u201cLalu genangan air ini sebanyak ini bagaimana membuangnya?\u201d tanya Pohon Jati.<br \/>\n\u201cGampang, kamu alirkan airnya ke bawah bukit sana,\u201d Awan memberi saran.<br \/>\n\u201cAku tidak mau! Aku tidak mau membuat manusia yang berada di bawah bukit menjadi korban banjir,\u201d tukas Pohon Jati.<br \/>\n&#8220;Bukankah mereka sudah menebangi semua temanmu,\u201d ujar Awan.<br \/>\n\u201cTapi, tidak semua dari mereka seperti itu. Anak-anak di bawah bukit sana, mereka sangat menyayangiku. Sudah beberapa hari ini mereka menanam banyak bibit pohon untuk temanku nanti. Mereka juga merawatku dengan baik,\u201d sahut Pohon Jati. Awan pun terenyuh mendengarnya.<br \/>\n\u201cLalu sekarang apa yang akan kamu lakukan?\u201d tanya Awan.<br \/>\n\u201cAku akan berusaha menahan genangan air yang banyak ini tetap di sini sebisaku,\u201d jawab Pohon Jati.<br \/>\nAwan tidak menyangka Pohon Jati begitu baik hati.<br \/>\nAkhirnya, Pohon Jati terus berusaha menyerap genangan air di sekitarnya sedikit demi sedikit dengan akarnya.<br \/>\nSore pun menjelang. Genangan air di sekitar Pohon Jati perlahan mulai surut. Tampak anak-anak mulai berdatangan ke atas bukit. Dari atas langit, Awan melihat sekumpulan anak-anak kembali menanami bibit-bibit pohon jati di area di mana dahulu banyak terdapat pohon jati, tetapi kini sudah ditebang.<br \/>\n\u201cHei, ada genangan air. Ayo, kita main!\u201d Anak-anak tampak antusias bermain air di bawah Pohon Jati. Di wajah mereka tersirat keceriaan. Pohon Jati pun tersenyum bahagia melihat keceriaan anak-anak itu.<\/p>\n<p>Pertanyaan Bacaan.<br \/>\n1. Apakah judul bacaan di atas?<br \/>\n2. Siapakah tokoh utama cerita di atas?<br \/>\n3. Apa sajakah kegunaan pohon jati dalam kehidupan masyarakat?<br \/>\n4. Bagaimana cara melestarikan pohon jati?<br \/>\n5. Apa pelajaran yang kamu dapatkan dari cerita di atas?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Laut Kita Penuh Harta Karun<\/strong><br \/>\n<strong>Penulis: Erlita Pratiwi<\/strong><br \/>\nMinggu pagi yang cerah. Nara bersama ayah dan Om Benny, teman ayah, naik perahu motor meninggalkan pelabuhan Tanjung Luar, Lombok Timur, menuju ke tengah laut lepas. Ayah Nara yang mengemudikan perahu motor itu menuju perahu besar yang berada di tengah laut.<br \/>\nSesampainya di perahu besar, Nara melihat teman-teman ayah membersihkan kerang mutiara. Kerang-kerang itu kemudian akan dikembalikan ke dalam laut. Bila sudah cukup umur, dipanen untuk diambil mutiara yang terdapat di dalam kerang.<br \/>\nNara memperhatikan kerang-kerang yang sedang dibersihkan. Lalu, ia memegang salah satunya. Sama sekali tidak terlihat ada sesuatu yang mahal di dalamnya.<br \/>\n\u201cYang ini, mutiaranya sudah sebesar apa, Ayah?\u201d tanya Nara penasaran.<br \/>\n\u201cHarus diperiksa dengan sinar X terlebih dahulu, Nara. Baru nanti bisa terlihat,\u201d kata ayahnya. Nara pun hanya manggut-manggut.<br \/>\n\u201cTidak semua proses mutiara berhasil, Nara. Dengan bantuan sinar-X, kita bisa tahu kerang yang gagal,\u201d kata Om Benny menjelaskan.<br \/>\nOm Benny lalu menunjuk kerang yang sedang dibersihkan. \u201cIni namanya Pinctada maxima. Jenis kerang ini menghasilkan mutiara berwarna keemasan. Kerang-kerang harus dibersihkan dari siput dan binatang lain yang menempel. Hewan-hewan itu akan mengisap makanan yang ada di dalam kerang. Nanti mutiaranya jadi tidak sempurna.\u201d<br \/>\nNara menyimak penjelasan Om Benny itu. \u201cPantas saja mutiara itu harganya mahal. Prosesnya sulit dan lama ya, Om,\u201d kata Nara.<br \/>\nOm Benny mengangguk membenarkan.<br \/>\n\u201cKamu tahu tidak, mutiara dari perairan Lombok sudah terkenal ke seluruh dunia, Nara. Dan faktanya, hampir 43 persen mutiara di dunia itu dihasilkan dari Indonesia,\u201d tiba-tiba Om Benny berkata lagi.<br \/>\n\u201cWow, keren!\u201d Nara berseru kagum. \u201dIndonesia ternyata punya banyak harta karun di laut, ya, Om,\u201d kata Nara.<br \/>\n\u201dIya, Nara. Bangsa kita memang kaya akan hasil laut. Bukan cuma mutiara, masih banyak kekayaan hasil laut lainnya, Nara. Tapi, sayangnya, potensi sumber daya kelautan Indonesia yang sangat besar itu sampai sekarang masih belum tergarap secara optimal, Nara,\u201d lanjut Om Benny dengan nada prihatin.<\/p>\n<p>\u201dOh, begitu ya, Om?\u201d Nara ikut merasa sedih mendengarnya.<br \/>\n\u201cOleh karena itu, kamu belajar yang rajin, Nara! Supaya saat kamu besar nanti, kamu dan generasi muda penerus bangsa lainnya bisa mengolah kekayaan hasil laut Indonesia ini dengan baik. Bangsa kita nantinya bisa menjadi makmur,\u201d pesan Om Benny kemudian.<br \/>\n\u201cSiap, Om!\u201d Nara membuat gerakan hormat dengan tangannya.<br \/>\nOm Benny dan Ayah Nara pun tersenyum senang, melihat semangat Nara.<br \/>\nBangsa Indonesia memiliki sumber daya kelautan yang sangat kaya. Mari kita cintai dan jaga kekayaan laut Indonesia.<br \/>\nPertanyaan Bacaan.<br \/>\n1. Apakah judul bacaan di atas?<br \/>\n2. Siapakah tokoh utama cerita di atas?<br \/>\n3. Bagaimana kerang mutiara dimanfaatkan oleh manusia?<br \/>\n4. Usaha pelestarian apa saja yang perlu dilakukan untuk melestarikannya?<br \/>\n5. Apa pelajaran yang kamu dapatkan dari cerita di atas?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Kemarau di Gunungkidul<\/strong><br \/>\n<strong>Penulis: Fransisca Emilia<\/strong><\/p>\n<p><strong>Dongeng Anak Terpilih Kategori Air Minum &#8211; Lomba Menulis Dongeng Anak KSAN 2015<\/strong><\/p>\n<p>Hari ini sekolah Elang libur. Elang ikut ayahnya yang akan meliput berita di Gunungkidul, Yogyakarta. Ayah Elang seorang wartawan.<br \/>\n\u201cDi sana sering kekurangan air ya, Yah? Aku pernah baca di majalah,\u201d kata Elang.<br \/>\nAyah mengangguk. \u201cSebagian besar wilayah Gunungkidul merupakan pegunungan karst yang tersusun dari batuan kapur berpori. Akibatnya, air selalu merembes dan menghilang ke dalam tanah. Permukaannya kering, tapi jauh di bawah tanah kaya akan air.\u201d \u201cLihatlah sekitarmu, Elang,\u201d kata ayahnya lagi.<br \/>\nDari kaca mobil, Elang memandang sekelilingnya. Pohon-pohon meranggas dan rerumputan mengering. Saat memasuki perkampungan, yang terlihat hanya tanah cokelat yang pecah-pecah.<br \/>\nSaat sampai tujuan, ayah memarkir mobil di depan balai desa. Tak jauh dari situ, kerumunan warga tengah mengantre di sekeliling mobil tangki air. Mereka membawa jeriken, ember, dan berbagai wadah untuk menampung air. Ayah lalu mewawancarai kepala desa dan beberapa warga.<br \/>\n\u201cTelaga-telaga sudah mengering pada awal kemarau. Begitu pula bak-bak penampungan air dan kolam-kolam yang kami buat, hanya cukup untuk satu bulan,\u201d kata Pak Kepala Desa.<br \/>\nElang memandang kerumunan warga dengan sedih. Ia lalu melihat seorang gadis kecil yang baru selesai mengantre air. Jalannya terengah-engah.<br \/>\nElang mendekatinya. \u201cSini, aku bantu.\u201d<br \/>\nMata bulat gadis kecil itu berbinar. Elang lalu memperkenalkan dirinya. Gadis itu bernama Gendis.<br \/>\n\u201cKenapa mengambil air sendiri?\u201d tanya Elang perlahan<br \/>\n\u201cSimbah sedang membuat gaplek. Bapak dan simbok bekerja di Jakarta,\u201d jawab Gendis.<br \/>\n\u201cAir ini untuk apa? Mandi?\u201d tanya Elang lagi.<br \/>\n\u201cMusim kemarau begini aku jarang mandi. Beli air untuk minum dan masak saja.\u201d<br \/>\nElang tak menyangka kalau ada daerah yang mengalami kekeringan separah itu.<br \/>\n\u201cHei, dari mana? Ayo pulang,\u201d kata ayah membuyarkan lamunan Elang.<br \/>\n\u201cYah, bukankah kata Ayah di dalam tanah sana kaya air? Apa tidak bisa dimanfaatkan?\u201d tanya Elang.<br \/>\n\u201cBisa. Tapi, dalamnya ratusan meter. Perlu biaya sangat besar. Pemerintah bekerja sama dengan Jerman sudah membangun bendungan di Gua Bribin. Airnya dipompa ke atas!\u201d<br \/>\n\u201cTerus, kenapa masih kekurangan air?\u201d<br \/>\n\u201cAirnya sudah bisa memenuhi kebutuhan warga di beberapa kecamatan. Tapi belum optimal. Mudah-mudahan dengan perkembangan teknologi, air bawah tanah bisa dimanfaatkan lebih baik. Dan Gunungkidul tidak kekurangan air lagi seperti sekarang.\u201d<br \/>\n\u201dKita beruntung ya, Yah, tidak pernah kekurangan air,\u201d kata Elang kemudian. Ayahnya pun mengangguk. Perjalanan bersama ayah kali ini, sungguh memberikan pengalaman baru buat Elang.<\/p>\n<p>Pertanyaan Bacaan.<br \/>\n1. Apakah judul bacaan di atas?<br \/>\n2. Siapakah tokoh utama cerita di atas?<br \/>\n3. Pernahkah kalian melihat burung elang seperti yang ditokohkan dalam cerita di atas? Tahukah kalian bahwa burung elang adalah binatang yang dilindungi? Ayo kita cari informasi lebih rinci tentang burung elang. Buatlah sebuah kliping bersama temanmu:<br \/>\n\u2022 Jenis burung elang yang ada di Indonesia<br \/>\n\u2022 Cara pelestarian burung elang.<br \/>\n\u2022 Tempat-tempat yang dikunjungi untuk melihat penangkaran burung elang<br \/>\n4. Apa pelajaran yang kamu dapatkan dari cerita di atas?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Impian Bomu<\/strong><br \/>\n<strong>Penulis: Watiek Ideo dan DK Wardhani<\/strong><\/p>\n<p>Hai, namaku Bomu. Aku adalah sebatang bambu di daerah Way Kambas, Sumatra. Aku tinggal bersama segerombol bambu lainnya. Teman kami, Angin, suka sekali menggoda dan bercanda bersama kami, para bambu.<br \/>\nTiba-tiba kudengar suara yang amat keras. Itu adalah para pohon besar di seberang.<br \/>\n\u201cOh, sebentar lagi kita akan dibawa ke kota,\u201d kata Pohon Kampar.<br \/>\n\u201cYa. Kudengar mereka akan menjadikan kita mebel-mebel mewah,\u201d ujar Pohon Meranti bangga.<br \/>\n\u201cSeperti apa ya tinggal di kota?\u201d batinku. Sungguh, aku iri kepada mereka. Para manusia lebih membutuhkan pohon-pohon itu daripada sepotong bambu.<br \/>\nHari berganti hari. Pagi-pagi kudengar kehebohan di sawah seberang. Rupanya itu adalah anak-anak Way Kambas. \u201cGawat! Kata Ayahku, musim kemarau sudah datang!\u201d<br \/>\n\u201cSawah-sawah akan kekeringan.\u201d<br \/>\n\u201cKita akan kesulitan air bersih nanti.\u201d Suara-suara mereka terdengar khawatir.<br \/>\nKeesokan hari, kulihat anak-anak Way Kambas datang lagi. Tapi kini, mereka ditemani para orangtua. Dan, hei, mereka berjalan ke arah kami para bambu!<br \/>\n\u201cAyo, ayo! Ambil yang bagus bambunya\u201d \u201cIya. Biar kuat!\u201d<br \/>\nOrang-orang mulai memotong kami para bambu. Rasanya sungguh geli. Aku sangat bahagia membayangkan apa yang akan terjadi. Kurasa mereka akan membawaku ke kota! Hore!<br \/>\nTubuhku bergoyang-goyang saat orang-orang itu mengusung para bambu ke sebuah sungai besar di ujung desa. Lho, kok ke sini?<br \/>\n\u201cAyo, kita rakit sekarang!\u201d Tanpa dikomando, mereka berbagi tugas. Srek! Srek! Kras! Kras! Hei, apa yang terjadi?<br \/>\nDan, wow! Tubuhku tertali amat kencang bersama teman-temanku. Kulihat beberapa bambu lain tampak saling terhubung menjadi pipa-pipa panjang.<br \/>\n\u201cAyo, kita coba sekarang!\u201d<br \/>\nTiba-tiba angin bertiup ke arahku. Perlahan, tubuhku berputar. Air pun masuk ke bumbung-bumbung tubuhku dan teman-temanku. Lalu, air itu tumpah ke sebuah wadah dan mengalir masuk ke pipa-pipa bambu.<br \/>\n\u201cBerhasil!\u201d \u201cHore!\u201d \u201cAirnya masuk!\u201d<br \/>\nPara petani dan anak-anak itu bersorak bahagia. Air itu mengalir ke sawah- sawah dan kolam penampungan di tengah desa.<br \/>\nKini, aku menjadi bagian dari kincir angin ini. Anak-anak Way Kambas bersemangat sekali menanami sekitar mata air dengan tunas-tunas muda. Mereka dan para orang dewasa bahu-membahu menahan tepian mata air dengan bebatuan. Tak boleh lagi ada yang menebang pohon sembarangan dan mengotori sumber air.<\/p>\n<p>Pertanyaan Bacaan.<br \/>\n1. Apakah judul bacaan di atas?<br \/>\n2. Siapakah tokoh utama cerita di atas?<br \/>\n3. Buatlah sebuah puisi yang terdiri atas paling sedikit 3 bait berdasarkan bacaan tersebut.<br \/>\nIngatlah selalu untuk memperhatikan rima setiap baitnya. Bacakanlah puisimu di depan kelas.<br \/>\n4. Bagaimana penyelesaian masalah pada cerita di atas?<br \/>\n5. Apa pelajaran yang kamu dapatkan dari cerita di atas?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SD Kelas 4 &#8211; Tema 6 &#8211; Sub Tema 4 &#8211; Aku Cinta Membaca. Aku Cinta Membaca Cintailah membaca, karena &#8230;. semakin banyak membaca, semakin banyak tempat yang kamu kunjungi, semakin sering membaca, semakin sering kamu berpetualang, semakin beragam bacaanmu, semakin beragam pula pengalaman yang kamu rasakan. Apa yang kamu baca akan membuatmu kaya, karena [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[108],"tags":[271,275,273,272,117,277,276,55,278,279,274],"class_list":["post-1316","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sd4-tema-6","tag-audiobook","tag-book","tag-buku","tag-bukusuara","tag-cinta-membaca","tag-free","tag-gratis","tag-katolik","tag-pelajaran","tag-sekolah","tag-suara"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1316","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1316"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1316\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1320,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1316\/revisions\/1320"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1316"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1316"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gretha.my.id\/audiobuku\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1316"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}