Bab 6.3 – PERTOBATAN EKOLOGIS

Untuk Android :


Untuk PC :

Lanjutan Bab 6.

III.  PERTOBATAN   EKOLOGIS.

216. Harta kekayaan spiritualitas Kristen, hasil dua puluh abad pengalaman pribadi dan komunal, memberi sumbangan indah kepada upaya untuk memperbaharui kemanusiaan. Saya ingin menawarkan kepada umat kristiani suatu kerangka spiritualitas ekologis yang berakar dalam keyakinan iman kita, karena apa yang diajarkan Injil kepada kita, memiliki konsekuensi untuk cara kita berpikir, berperasaan, dan hidup. Yang penting bukanlah berbicara tentang ide-ide, tetapi terutama tentang motivasi yang lahir dari spiritualitas, dan menumbuhkan semangat pelestarian dunia. Tidak akan mungkin melibatkan diri dalam hal-hal besar hanya dengan doktrin, tanpa mistik yang mendorong kita,  atau  tanpa  “dorongan  batiniah  yang  mendorong, memotivasi, menyemangati dan memberikan makna ke- pada  kegiatan  individu  dan  komunal  kita”.   Kita  harus mengakui bahwa kita, orang Kristen, tidak selalu menyerap dan mengembangkan kekayaan yang Al-lah berikan kepada Gereja, di mana kehidupan rohani tidak terpisah dari tubuh kita sendiri, atau dari alam, atau dari realitas dunia ini, tetapi justru dihayati bersamanya dan di dalamnya, dalam persekutuan dengan semua yang mengelilingi kita.

217. “Padang  gurun   eksternal   di   dunia   sedang   me- luas, karena gurun-gurun internal telah menjadi begitu luas”    Karena  itu,  krisis  ekologi  merupakan  panggilan untuk pertobatan batin yang mendalam. Tetapi kita juga harus mengakui bahwa beberapa orang Kristen, yang berkomitmen dan berdoa, cenderung meremehkan ung- kapan kepedulian terhadap lingkungan, dengan alasan realisme dan pragmatisme. Orang lain tinggal pasif; mereka memilih untuk tidak mengubah kebiasaan mereka dan dengan demikian menjadi tidak konsisten. Jadi, apa yang mereka semua butuhkan adalah pertobatan ekologis, yang berarti membiarkan seluruh buah dari pertemuan mereka dengan Yesus Kristus berkembang dalam hubungan mereka dengan dunia di sekitar mereka. Menghayati panggilan untuk melindungi karya Al-lah adalah bagian penting dari kehidupan yang saleh; dan bukan sebuah opsi atau aspek sekunder dalam pengalaman kristiani.

218. Ketika mengingat teladan Santo Fransiskus dari Assisi, kita menjadi sadar bahwa hubungan yang sehat dengan penciptaan merupakan salah satu dimensi dari pertobatan manusia yang utuh. Ini berarti pula mengakui kesalahan kita, segala dosa, kejahatan atau kelalaian kita, dan bertobat dengan sepenuh hati, berubah dari dalam lubuk hati. Para Uskup Australia berbicara tentang pertobatan itu sebagai rekonsiliasi  dengan   dunia   ciptaan:   “Untuk   mencapai rekonsiliasi ini, kita harus memeriksa hidup kita dan mengakui bagaimana kita telah membawa kerugian kepada ciptaan Al-lah dengan tindakan kita dan kegagalan kita untuk bertindak. Kita perlu mengalami suatu pertobatan, perubahan hati”.

219. Namun,  untuk  menanggulangi  situasi  yang  begitu kompleks seperti yang dihadapi dunia saat ini, tidak cukup bahwa masing-masing individu memperbaiki diri. Individu sendirian dapat kehilangan kemampuan dan juga kebebasan mereka dalam usaha mengatasi pola pikir utilitarian, dan akhirnya jatuh korban pada konsumerisme  tanpa  etika  dan tanpa dimensi sosial atau ekologis. Masalah sosial harus diatasi oleh jaringan masyarakat dan tidak hanya oleh jumlah total kontribusi positif individual: “Tuntutan- tuntunan pekerjaan ini begitu besar sehingga tidak dapat diselesaikan oleh inisiatif individual, atau oleh sekumpulan pribadi-pribadi   yang dididik secara individualistik. Diperlukan  gabungan  kekuatan  dan  kesatuan  usaha”. Pertobatan ekologis yang diperlukan untuk menciptakan suatu dinamisme perubahan yang berkelanjutan, juga merupakan  pertobatan komunal.

220. Pertobatan ini menyiratkan berbagai sikap yang bersama-sama menumbuhkan semangat perlindungan yang murah hati dan penuh kelembutan. Pertama, menyiratkan rasa syukur dan kemurahan hati, artinya, dunia diakui sebagai hadiah yang diterima dari kasih Bapa, yang menimbulkan sikap spontan pengingkaran diri dan sikap kemurahan hati bahkan jika tidak ada yang melihat atau mengetahuinya:  “janganlah  diketahui  tangan  kirimu  apa yang diperbuat tangan kananmu. … maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”. (Matius 6:3-4). Pertobatan ini juga menyiratkan kesadaran yang penuh kasih bahwa kita tidak terputus dari makhluk lainnya, tetapi dengan seluruh jagat raya tergabung dalam sebuah persekutuan universal yang indah. Sebagai orang percaya, kita tidak melihat dunia dari luar tetapi dari dalam, sadar akan pertalian yang dengannya Bapa telah men- jalinkan kita dengan semua makhluk. Selain itu, dengan mengembangkan kemampuan khusus yang Al-lah berikan kepadanya, pertobatan ekologis mendorong orang beriman untuk mengembangkan semangat dan kreativitasnya, untuk menghadapi masalah dunia dengan menawarkan diri kepa- da Al-lah “sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan” (Roma 12:1). Kita tidak menganggap kele- bihan kita ini sebagai alasan untuk memegahkan diri atau mendominasi secara tak bertanggung jawab, tetapi sebagai kemampuan berbeda yang pada gilirannya meletakkan pada kita tanggung jawab besar yang lahir dari iman.

221. Berbagai keyakinan iman kita yang telah dikembang- kan di awal Ensiklik ini, membantu memperkaya makna pertobatan ini. Misalnya, kesadaran bahwa setiap makhluk mencerminkan sesuatu dari Al-lah dan membawa pesan untuk kita telaah; atau juga keyakinan bahwa Kristus telah mengenakan pada dirinya sendiri dunia materiil ini dan bahwa Ia sekarang, sebagai yang dibangkitkan, hadir dalam setiap makhluk, melingkupinya dengan kasih-sayang-Nya danmenembusinya dengancahaya-Nya; danjuga keyakinan bahwa Al-lah menciptakan dunia dengan menuliskan di dalamnya tata tertib dan dinamisme, dan manusia tidak berhak untuk mengabaikan hal itu. Kita membaca dalam Injil, apa yang dikatakan Yesus tentang burung, bahwa “tidak seekor pun  dari  padanya  dilupakan  Allah”  (Lukas 12:6). Apakah kita masih dapat menganiayanya atau meru- gikannya? Saya mengundang semua orang Kristen untuk mengungkapkan dengan jelas dimensi ini dari pertobatan mereka, dengan mengizinkan kekuatan dan terang rahmat yang telah diterima, meluas pula kepada hubungan mereka dengan makhluk lain dan dengan dunia di sekitar mereka. Demikian kita membangkitkan persaudaraan mulia dengan seluruh ciptaan, seperti yang dihayati oleh Fransiskus dari Assisi dengan begitu cemerlang.




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *