Bab 5.5 – AGAMA-AGAMA DALAM DIALOG DENGAN ILMU

Untuk Android :

Untuk PC :

Lanjutan Bab 5.

5. Agama-Agama Dalam Dialog Dengan Ilmu.

199. Tidak dapat diklaim bahwa ilmu pengetahuan empiris memberikan penjelasan lengkap tentang kehidupan, hakikat terdalam semua makhluk dan keseluruhan realitas. Klaim seperti itu akan berarti terlalu jauh melanggar batas-batas yang ditetapkan oleh metodologinya sendiri. Jika kita berpikir dalam ruang terbatas ilmu empiris itu, hilanglah rasa estetika, puisi, dan bahkan kemampuan akal budi untuk memahami makna dan tujuan segala sesuatu. Saya ingin  mengingatkan  bahwa  “naskah-naskah  keagamaan klasik dapat memberikan makna bagi segala zaman; memiliki kekuatan menggerakkan yang selalu membuka cakrawala baru. Apakah masuk akal dan dapat dimengerti mengesampingkan tulisan-tulisan tertentu semata-mata  karena  berasal  dari  konteks  keyakinan  agama?”. Sesungguhnya, naiflah berpikir bahwa prinsip-prinsip etika dapat disajikan dengan cara yang murni abstrak, terlepas dari konteks apapun. Fakta bahwa mereka telah muncul dalam bahasa agama, sama sekali tidak mengurangi nilai mereka dalam debat publik. Prinsip-prinsip etika yang dapat ditanggap akal budi, selalu dapat muncul kembali dengan cara yang berbeda dan dinyatakan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa agama.

200. Di sisi lain, seluruh solusi teknis yang diklaim oleh ilmu-ilmu, tidak akan mampu memecahkan masalah- masalah serius dunia jika umat manusia kehilangan kompasnya, jika kita melupakan motivasi utama yang memungkinkan kita untuk hidup bersama, berkorban, berbuat baik. Bagaimana pun juga, orang-orang beriman harus diundang untuk konsisten dengan iman mereka sendiri dan tidak menyangkalnya dengan tindakan mereka. Mereka harus diminta membuka diri lagi terhadap kasih karunia Al-lah dan menggali lebih dalam keyakinan mereka sendiri tentang cinta, keadilan dan perdamaian. Pemahaman keliru akan prinsip-prinsip kita sendiri kadang-kadang menyebabkan kita membenarkan perusakan alam, kekuasaan sewenang-wenang manusia atas dunia ciptaan, atau perang, ketidakadilan, dan kekerasan, tetapi sebagai orang beriman kita dapat mengakui bahwa dengan  demikian  kita tidak setia terhadap harta kebijaksanaan yang harus kita jaga. Keterbatasan budaya di pelbagai zaman sering mempengaruhi persepsi akan warisan etis  dan  spiritual ini, namun dengan terus-menerus kembali ke sumber- sumbernya, agama-agama akan mampu untuk menanggapi pelbagai kebutuhan saat ini dengan lebih baik.

201. Mayaritas penduduk planet ini menyatakan dirinya beriman; hal ini harus mendorong agama-agama untuk masuk ke dalam dialog dengan maksud melindungi alam, membela orang miskin, dan membangun jaringan persaudaraan yang saling menghormati. Sebuah dialog di antara pelbagai ilmu sendiri juga diperlukan karena masing-masing cenderung menutup diri dalam batas- batas bahasanya sendiri, dan spesialisasi mengarah ke isolasi dan pemutlakan bidang pengetahuannya sendiri. Hal ini menjadi halangan untuk secara efisien menghadapi masalah lingkungan. Dialog yang terbuka dan saling menghormati juga diperlukan di antara pelbagai gerakan ekologis, di mana konflik ideologis tidak absen. Parahnya krisis ekologi mengharuskan kita semua untuk memikirkan kesejahteraan umum dan bergerak maju di jalan dialog yang meminta kesabaran, disiplin diri, dan kemurahan hati, sementara selalu teringat bahwa “kenyataan lebih penting daripada gagasan”.




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *