Bab 4.5 – KEADILAN ANTAR GENERASI

Untuk Android :

Untuk PC :

Lanjutan Bab 4.

5. KEADILAN  ANTAR GENERASI.

159. Konsep kesejahteraan umum juga meluas ke generasi mendatang. Krisis ekonomi global telah menunjukkan sangat jelas kerugian yang diakibatkan bila kita mengabai- kan nasib kita bersama yang juga menyangkut orang-orang yang datang sesudah kita. Kita tidak bisa lagi berbicara tentang pembangunan berkelanjutan tanpa solidaritas antargenerasi. Ketika kita memikirkan keadaan  dunia  yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang, kita mulai berpikir dengan cara yang berbeda, sadar bahwa dunia adalah hadiah yang telah kita terima secara gratis dan yang kita bagi dengan yang lain. Jika bumi diberikan kepada kita, kita tidak lagi dapat berpikir hanya menurut ukuran manfaat, efisiensi dan produktivitas untuk kepentingan pribadi. Kita berbicara tentang solidaritas antargenerasi bukan sebagai sikap opsional, tetapi sebagai soal mendasar keadilan, karena bumi yang kita terima juga milik mereka yang akan datang. Para Uskup Portugal telah mendesak kita agar  menanggung  tugas  keadilan  ini:  “Lingkungan  perlu ditempatkan dalam logika penerimaan. Lingkungan adalah pinjaman (utang) yang diterima setiap generasi dan harus diteruskan  kepada  generasi  berikut”.  Sebuah  ekologi integral memiliki visi yang luas itu.

160. Dunia macam apa yang ingin kita tinggalkan untuk mereka yang datang sesudah kita, anak-anak yang kini sedang dibesarkan? Masalah ini bukan hanya menyangkut lingkungan tersendiri, karena kita tidak bisa mendekati masalah ini secara fragmentaris. Ketika kita bertanya ten- tang dunia yang ingin kita tinggalkan, kita terutama ber- bicara tentang arahnya secara keseluruhan, maknanya, nilai-nilainya. Jika pertanyaan lebih mendasar ini tidak diajukan, saya tidak yakin bahwa kepedulian kita terhadap lingkungan akan menghasilkan sesuatu yang signifikan. Tetapi jika pertanyaan ini diajukan dengan keberanian, kita dapat langsung dibawa kepada pertanyaan-pertanyaan lain: mengapa kita berada di dunia ini, mengapa kita lahir dalam hidup ini, untuk apa kita berjuang dan kita bekerja, mengapa bumi ini membutuhkan kita? Oleh karena itu, tidak cukup untuk mengatakan bahwa kita harus peduli akan generasi mendatang. Kita harus menyadari bahwa apa yang dipertaruhkan adalah martabat kita sendiri. Kitalah, pertama-tama kita sendiri, yang berkepentingan untuk mewariskan planet yang layak huni kepada generasi selan- jutnya. Inilah tugas dramatis bagi diri kita sendiri, karena menyangkut makna perjalanan kita sendiri di dunia ini.

161. Ramalan-ramalan tentang malapetaka tidak boleh lagi diremehkan atau ditanggapi secara ironis. Kita barangkali akan meninggalkan terlalu banyak puing, padang gurun dan tempat sampah kepada generasi mendatang. Tingkat konsumsi, limbah, dan kerusakan lingkungan telah melam- paui kapasitas planet sedemikian rupa, sehingga gaya hidup kita saat ini, karena tak mungkin berkelanjutan, hanya dapat menyebabkan bencana, seperti sudah terjadi secara berkala di berbagai wilayah dunia. Mengurangi dampak dari ketimpangan saat ini tergantung pada apa yang akan kita lakukan dalam waktu dekat, lebih-lebih jika kita memikirkan tanggung jawab kita terhadap mereka yang harus menanggung akibat-akibat yang buruk.

168. Kesulitan untuk menghadapi secara serius tantang- an itu berkaitan dengan suatu kemerosotan etika dan budaya yang mengiringi kerusakan ekologis. Laki-laki dan perempuan dunia pasca-modern berisiko menjadi sangat individualis. Banyak masalah sosial terkait dengan sikap egois sekarang ini yang terfokus pada yang instan, dengan krisis ikatan keluarga dan masyarakat, dan dengan kesulitan untuk mengakui yang lain. Sering kali orang tua hidup dalam konsumerisme instan dan berlebihan, yang menyebabkan anak-anak mereka mengalami kesulitan yang semakin besar untuk mendapatkan rumah dan membangun sebuah keluarga. Selain itu, ketidakmampuan kita untuk serius memikirkan generasi mendatang terkait dengan ketidakmampuan kita untuk memperluas pemahaman kita tentang kepentingan saat ini dan memperhatikan orang- orang yang tetap dikucilkan dari pembangunan. Jangan kita hanya memikirkankaummiskinmasa depan, mari kita ingat kaum miskin sekarang ini, yang hidupnya di bumi tinggal beberapa tahun dan yang tidak dapat menunggu terus. Oleh karena itu, “selain solidaritas yang adil antargenerasi, perlu ditegaskan kembali kewajiban moral yang mendesak untuk membaharui solidaritas intra-generasi”.

 




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *